Anda di halaman 1dari 31

DEFISIT NUTRISI

KEPERAWATAN DASAR I

DISUSUN OLEH :

NABILAH SALSABILA [04021281924113]

INSAN NIAH [04021381924060]

LISNA RAHMADANI [04021381924063]

YUYUN ANGGRAINI [04021381924067]

SEPHIA OKTAVIANI [04021381924075]

PANDU JANITRA SURYA [04021381924082]

AMALIA KHAIRANI [04021381924085]

DOSEN PEMBIMBING :

Nurna Ningsih, S.Kp., M.Kes

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya
berupa kesehatan, kesempatan serta pengetahuan kepada kami sehingga mampu menyelesaikan
laporan PJBL. Shalawat serta salam tercurah bagi Nabi Muhammad SAW serta para sahabat,
keluarga, dan pengikutnya. Kami sadar bahwa laporan PJBL jauh dari kata sempurna oleh karena
itu kami sangat menghargai segala kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan
dimasa yang akan datang. Semoga Allah SWT memberi balasan yang terbaik bagi orang yang
mencari dan berbagi ilmu dan semoga laporan PJBL ini bermanfaat bagi kita semua.

Indralaya, 1 Februari 2020

Kelompok 3

Daftar Isi
2
Kata Pengantar
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
Bab II Pembahasan
A. Prinsip Gizi Seimbang
1. Empat Pilar Gizi Seimbang
2. Gizi Seimbang Untuk Berbagai Kelompok
B. Bagaimana Memilih Diet yang Memadai

1. Bagaimana memilih diet yang Cukup

2. Panduan Piramida Makanan

3. Asupan makanan yang direkomendasikan dan asupan nutrisi yang direkomendasikan

4. Rekomendasi Diet
5. Label Makanan
C. Faktor yang Mempengaruhi Nutrisi
1. Faktor yang Mempengaruhi Nutrisi
2. Faktor Biologis yang Mempengaruhi Kebutuhan Nutrisi
3. Faktor Sosial Budaya dan Psikologis
4. Penurunan Asupan Makanan

D. Perawat sebagai Panutan


1. Daftar Periksa Penilaian
2. Data Diet
3. Data Medis Sosial Ekonomi
4. Data Antropometrik
5. Data Klinis
6. Data Biomedik
7. Informasi Pengajaran Nutrisi
8. Memantau Status Gizi
3
9. Mensimulasikan Nafsu Makan
10. Membantu Makan
11. Membutuhkan Nutrisi dalam Situasi yang Khusus
12. Membutuhkan Nutrisi Enteral
BAB III Kesimpulan
A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

4
Defisit nutrisi adalah asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah keadaaan dimana individu yang
mengalami kekurangan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolic (Wilkinson &
Lennox, 2005). Penyebab kondisi deficit nutrisi dapat ditimbulkan oleh beberapa situasi berikut,
antara lain : ketidakmampuan menelam makanan, ketidakmampuan mencerna makanan,
ketidakmampuan mengabsorpsi nutrient, peningkatan kebutuhan metabolism, faktor ekonomi
(misalnya, financial tidak memcukupi), faktor psikologis (misalnya, stress, keengganan untuk
makan). Tubuh kita membutuhkan sumber nutrisi dalam tubuh berasal dari dalam tubuh
sendiri,seperti glikogen yang terdapat dalam otot dan hati ataupun protein.protein dan lemak
dalam jaringan dan sumber lain yang berasal dari luar tubuh seperti yang sehari-hari dimakan
oleh manusia. Pemenuhan nutrisi pada anak sangat berguna dalam membantu proses tumbuh
kembang. Zat gizi yang penting bagi kesehatan adalah karbohidrat, protein, lemak,vitamin,
mineral, jumlah kalori yang di hasilkan nutrient.

B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan prinsip-prinsip gizi seimbang?
2. Bagaimana memilih diet yang cukup untuk tubuh?
3. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi nutrisi?
4. Bagaimana peran perawat sebagai panutan?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui prinsip-prinsip gizi seimbang
2. Untuk mengetahui bagaimana memilih diet yang cukup untuk tubuh
3. Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi nutrisi
4. Untuk mengetahui apa itu perawat sebagai panutan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Prinsip Gizi Seimbang

1. Empat Pilar Gizi Seimbang


5
Pedoman Gizi Seimbang yang telah diimplementasikan di Indonesia sejak tahun 1955
merupakan realisasi dari rekomendasi Konferensi Pangan Sedunia di Roma tahun 1992.
Pedoman tersebut menggantikan slogan “4 Sehat 5 Sempurna” yang telah diperkenalkan sejak
tahun 1952 namun sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK) dalam bidang gizi serta masalah dan tantangan yang dihadapi. Diyakini
dengan mengimplementasikan Pedoman Gizi Seimbang secara benar, semua masalah gizi dapat
diatasi.

Prinsip Gizi Seimbang terdiri dari 4 (empat) Pilar yang pada dasarnya merupakan
rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk
dengan memantau berat badan secara teratur.

Empat Pilar tersebut adalah:

a) Mengonsumsi keanekaragaman pangan


Tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung semua jenis zat gizi yang dibutuhkan
tubuh untuk menjamin pertumbuhan dan mempertahankan kesehatannya, kecuali Air Susu Ibu
(ASI) untuk bayi baru lahir sampai berusia 6 bulan. Contoh: nasi merupakan sumber utama
kalori, tetapi miskin vitamin dan mineral; sayuran dan buah-buahan pada umumnya kaya akan
vitamin, mineral dan serat, tetapi miskin kalori dan protein; ikan merupakan sumber utama
protein tetapi sedikit kalori. Khusus untuk bayi berusia 0-6 bulan, ASI merupakan makanan
tunggal yang sempurna. Hal ini disebabkan karena ASI dapat mencukupi kebutuhan untuk
tumbuh dan berkembang dengan optimal, serta sesuai dengan kondisi fisiologis pencernaan dan
fungsi lainnya dalam tubuh.
Apakah mengonsumsi makanan beragam tanpa memperhatikan jumlah dan proporsinya
sudah benar? Tentu tidak benar. Yang dimaksudkan beranekaragam dalam prinsip ini selain
keanekaragaman jenis pangan juga termasuk proporsi makanan yang seimbang, dalam jumlah
yang cukup, tidak berlebihan dan dilakukan secara teratur. Anjuran pola makan dalam beberapa
dekade terakhir telah memperhitungkan proporsi setiap kelompok pangan sesuai dengan
kebutuhan yang seharusnya. Contohnya, saat ini dianjurkan mengonsumsi lebih banyak sayuran
dan buah-buahan dibandingkan dengan anjuran sebelumnya. Demikian pula jumlah makanan
yang mengandung gula, garam dan lemak yang dapat meningkatkan resiko beberapa penyakit
tidak menular, dianjurkan untuk dikurangi. Akhir-akhir ini minum air dalam jumlah yang cukup
6
telah dimasukkan dalam komponen gizi seimbang oleh karena pentingnya air dalam proses
metabolisme dan dalam pencegahan dehidrasi.

b) Membiasakan perilaku hidup bersih


Penyakit infeksi merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi status gizi
seseorang secara langsung, terutama anakanak. Seseorang yang menderita penyakit infeksi
akan mengalami penurunan nafsu makan sehingga jumlah dan jenis zat gizi yang masuk ke
tubuh berkurang. Sebaliknya pada keadaan infeksi, tubuh membutuhkan zat gizi yang lebih
banyak untuk memenuhi peningkatan metabolisme pada orang yang menderita infeksi
terutama apabila disertai panas. Pada orang yang menderita penyakit diare, berarti
mengalami kehilangan zat gizi dan cairan secara langsung akan memperburuk kondisinya.
Demikian pula sebaliknya, seseorang yang menderita kurang gizi akan mempunyai risiko
terkena penyakit infeksi karena pada keadaan kurang gizi daya tahan tubuh seseorang
menurun, sehingga kuman penyakit lebih mudah masuk dan berkembang. Kedua hal
tersebut menunjukkan bahwa hubungan kurang gizi dan penyakit infeksi adalah hubungan
timbal balik.
Budaya perilaku hidup bersih akan menghindarkan seseorang dari keterpaparan terhadap
sumber infeksi. Contoh: 1) selalu mencuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir sebelum
makan, sebelum memberikan ASI, sebelum menyiapkan makanan dan minuman, dan setelah
buang air besar dan kecil, akan menghindarkan terkontaminasinya tangan dan makanan dari
kuman penyakit antara lain kuman penyakit typus dan disentri; 2) menutup makanan yang
disajikan akan menghindarkan makanan dihinggapi lalat dan binatang lainnya serta debu yang
membawa berbagai kuman penyakit; 3) selalu menutup mulut dan hidung bila bersin, agar tidak
menyebarkan kuman penyakit; dan 4) selalu menggunakan alas kaki agar terhindar dari penyakit
kecacingan.

3.Melakukan aktivitas fisik

Aktivitas fisik yang meliputi segala macam kegiatan tubuh termasuk olahraga merupakan
salah satu upaya untuk menyeimbangkan antara pengeluaran dan pemasukan zat gizi utamanya
sumber energi dalam tubuh. Aktivitas fisik memerlukan energi. Selain itu, aktivitas fisik juga
memperlancar sistem metabolisme di dalam tubuh termasuk metabolisme zat gizi. Oleh
7
karenanya, aktivitas fisik berperan dalam menyeimbangkan zat gizi yang keluar dari dan yang
masuk ke dalam tubuh.

4. Memantau Berat Badan (BB) secara teratur untuk mempertahankan berat badan normal
Bagi orang dewasa salah satu indikator yang menunjukkan bahwa telah terjadi
keseimbangan zat gizi di dalam tubuh adalah tercapainya berat badan yang normal, yaitu berat
badan yang sesuai untuk tinggi badannya. Indikator tersebut dikenal dengan Indeks Masa Tubuh
(IMT). Oleh karena itu, pemantauan BB normal merupakan hal yang harus menjadi bagian dari
‘Pola Hidup’ dengan ‘Gizi Seimbang’, sehingga dapat mencegah penyimpangan BB dari BB
normal, dan apabila terjadi penyimpangan dapat segera dilakukan langkah-langkah pencegahan
dan penanganannya. Bagi bayi dan balita indikator yang digunakan adalah perkembangan berat
badan sesuai dengan pertambahan umur. Pemantauannya dilakukan dengan menggunakan KMS
Yang dimaksud dengan berat badan normal adalah :
a. untuk orang dewasa jika IMT 18,5-25,0;
b. bagi anak Balita dengan menggunakan KMS dan berada di dalam pita hijau.

2. Gizi Seimbang untuk Berbagai Kelompok

1. Gizi Seimbang untuk ibu hamil


Ibu hamil membutuhkan zat gizi yang lebih banyak dibandingkan dengan keadaan tidak
hamil. Hal ini disebabkan karena selain untuk ibu zat gizi dibutuhkan bagi janin. Janin tumbuh
dengan mengambil zat-zat gizi dari makanan yang dikonsumsi oleh ibu dan dari simpanan zat
gizi yang berada di dalam tubuh ibu. Selama hamil seorang ibu harus menambah jumlah dan
jenis makanan yang dimakan untuk mencukupi kebutuhan pertumbuhan bayi dan kebutuhan ibu
yang sedang mengandung bayi serta untuk memproduksi ASI Oleh karena itu Gizi Seimbang
untuk ibu hamil harus memenuhi kebutuhan gizi untuk dirinya dan untuk pertumbuhan
sertaperkembangan janin. Prinsip pertama Gizi Seimbang yaitu mengonsumsi anekaragam
pangan secara seimbang jumlah dan proporsinya tetap diterapkan. Bila makanan ibu sehari-hari
tidak cukup mengandung zat gizi yang dibutuhkan, seperti sel lemak ibu sebagai sumber kalori;
zat besi dari simpanan di dalam tubuh ibu sebagai sumber zat besi janin/bayi, maka janin atau
bayi akan mengambil persediaan yang ada didalam tubuh ibu. Demikian juga beberapa zat gizi
tertentu tidak disimpan di dalam tubuh seperti vitamin C dan vitamin B yang banyak terdapat di

8
dalam sayuran dan buah-buahan. Sehubungan hal tersebut, ibu harus mempunyai status gizi yang
baik sebelumhamil dan mengonsumsi anekaragam pangan, baik proporsi maupun jumlahnya.
Kenyataannya di Indonesia masih banyak ibu yang saat hamil mempunyai status gizi kurang,
misalnya kurus dan menderita Anemia. Hal ini dapat disebabkan karena asupan makanannya
selama kehamilan tidak mencukupi untuk kebutuhan dirinya sendiri dan bayinya. Selain itu
kondisi ini dapat diperburuk oleh beban kerja ibu hamil yang biasanya sama atau lebih berat
dibandingkan dengan saat sebelum hamil. Akibatnya, bayi tidak mendapatkan zat gizi yang
dibutuhkan, sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya.
2. Gizi Seimbang untuk ibu menyusui
Gizi Seimbang untuk ibu menyusui harus memenuhi kebutuhan bagi dirinya dan untuk
pertumbuhan serta perkembangan bayi dan anak. Dengan demikian maka kebutuhan zat gizi ibu
menyusui lebih banyak dari kebutuhan zat gizi ibu yang tidak menyusui. Konsumsi pangannya
tetap harus beranekaragam dan seimbang dalam jumlah dan proporsinya. Selama menyusui, ibu
harus menambah jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi yaitu untuk mencukupi kebutuhan
ibu sendiri dan kebutuhan untuk memproduksi ASI. Bila makanan ibu sehari-hari tidak cukup
mengandung zat gizi yang dibutuhkan, misalnya sel lemak sebagai sumber energi dan zat besi
sebagai zat untuk pembentukkan sel darah merah, maka kebutuhan zat-zat tersebut dalam
produksi ASI untuk memenuhi kebutuhan bayi akan diambil dari persediaan yang ada didalam
tubuh ibu. Berbeda dengan sel lemak dan zat besi kebutuhan bayi akan vitamin B dan vitamin C
yang dipenuhi melalui produksi ASI tidak dapat diambil dari persediaan yang ada dalam tubuh
ibu, melainkan harus dipenuhi dari konsumsi pangan ibu setiap hari.

3. Gizi Seimbang untuk bayi usia 0-6 bulan


Gizi Seimbang untuk bayi usia 0-6 bulan cukup hanya dari ASI. ASI merupakan makanan
yang terbaik untuk bayi karena dapat memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan bayi sampai
usia 6 bulan, sesuai dengan perkembangan sistem pencernaannya, murah dan bersih. Oleh karena
itu setiap bayi harus memperoleh ASI Eksklusif yang berarti sampai usia 6 bulan hanya diberi
ASI saja.

4. Gizi Seimbang untuk bayi dan anak usia 6-24 bulan

9
Pada bayi dan anak usia 6-24 bulan, kebutuhan terhadap berbagai zat gizi semakin meningkat
dan tidak lagi dapat dipenuhi hanya dari ASI saja. Pada usia ini anak berada pada periode
pertumbuhan dan perkembangan cepat, mulai terpapar terhadap infeksi dan secara fisik mulai
aktif, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi harus terpenuhi dengan memperhitungkan aktivitas
bayi/anak dan keadaan infeksi. Agar mencapai Gizi Seimbang maka perlu ditambah dengan
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), sementara ASI tetap diberikan sampai bayi berusia 2
tahun. Pada usia 6 bulan, bayi mulai diperkenalkan kepada makanan lain, mula-mula dalam
bentuk lumat, makanan lembik dan selanjutnya beralih ke makanan keluarga saat bayi mulai
berusia 1 tahun. Ibu sebaiknya memahami bahwa pola pemberian makanan secara seimbang
pada usia dini akan berpengaruh terhadap selera makan anak selanjutnya. Sehingga pengenalan
makanan yang beranekaragam pada periode ini menjadi sangat penting. Secara bertahap, variasi
makanan untuk bayi usia 6-24 bulan semakin ditingkatkan, bayi mulai diberikan sayuran dan
buah-buahan, lauk pauk sumber protein hewani dan nabati, serta makanan pokok sebagai sumber
energi. Demikian pula jumlahnya ditambahkan secara bertahap dalam jumlah yang tidak
berlebihan dan dalam proporsi yang juga seimbang.

5. Gizi Seimbang untuk anak usia 2-5 tahun


Kebutuhan zat gizi anak pada usia 2-5 tahun meningkat karena masih berada pada masa
pertumbuhan cepat dan aktivitasnya semakin meningkat. Demikian juga anak sudah mempunyai
pilihan terhadap makanan yang disukai termasuk makanan jajanan. Oleh karena itu jumlah dan
variasi makanan harus mendapatkan perhatian secara khusus dari ibu atau pengasuh anak,
terutama dalam memenangkan pilihan anak agar memilih makanan yang bergizi seimbang.
Disamping itu anak pada usia ini sering keluar rumah sehingga mudah terkena penyakit infeksi
dan kecacingan, sehingga perilaku hidup bersih perlu dibiasakan untuk mencegahnya.

6. Gizi Seimbang untuk anak usia 6-9 tahun


Anak pada kelompok usia ini merupakan anak yang sudah memasuki masa sekolah dan
banyak bermain diluar, sehingga pengaruh kawan, tawaran makanan jajanan, aktivitas yang
tinggi dan keterpaparan terhadap sumber penyakit infeksi menjadi tinggi. Sebagian anak usia 6-9
tahun sudah mulai memasuki masa pertumbuhan cepat pra-pubertas, sehingga kebutuhan

10
terhadap zat gizi mulai meningkat secara bermakna. Oleh karena itu, pemberianmakanan bergizi
seimbang untuk anak pada kelompok usia ini harus mempertimbangkan kondisi-kondisi tersebut.

7. Gizi Seimbang untuk remaja usia 10-19 tahun (Pra-pubertas dan Pubertas)
Kelompok ini adalah kelompok usia peralihan dari anak-anak menjadi remaja muda sampai
dewasa. Kondisi penting yang berpengaruh terhadap kebutuhan zat gizi kelompok ini adalah
pertumbuhan cepat memasuki usia pubertas, kebiasaan jajan, menstruasi dan perhatian terhadap
penampilan fisik citra tubuh (body image) pada remaja puteri. Dengan demikian perhitungan
terhadap kebutuhan zat gizi pada kelompok ini harus memperhatikan kondisi-kondisi tersebut.
Khusus pada remaja puteri, perhatian harus lebih ditekankan terhadap persiapan mereka sebelum
menikah.

8. Gizi Seimbang untuk dewasa


Perilaku konsumsi pangan bergizi seimbang dapat terganggu oleh pola kegiatan kelompok
usia dewasa saat ini. Misalnya waktu kerja yang ketat, waktu di rumah yang singkat, ibu bekerja
diluar rumah, peningkatan risiko terpapar polusi dan makanan tidak aman, ketersediaan berbagai
makanan siap saji dan siap olah, dan ketidaktahuan tentang gizi, yang menyebabkan kelompok
usia ini cenderung beraktivitas ringan atau santai (sedentary life), yang salah satu akibatnya
adalah konsumsi pangan yang tidak seimbang dan tidak higienis. Oleh karena itu, perhatian
terhadap perilaku Gizi Seimbang perlu ditingkatkan untuk mencapai pola hidup sehat, aktif dan
produktif.

9. Gizi Seimbang untuk usia lanjut

Pada usia lanjut, khususnya usia di atas 60 tahun, terjadi berbagai perubahan dalam tubuh
yaitu mulai menurunnya fungsi berbagai organ dan jaringan tubuh. Perubahan tersebut meliputi
antara lain organ pengindra termasuk fungsi penciuman sehingga dapat menurunkan nafsu
makan; melemahnya sistem organ pencernaan sehingga saluran pencernaan menjadi lebih
sensitif terhadap makanan tertentu dan mengalami sembelit; gangguan pada gigi sehingga
mengganggu fungsi mengunyah; melemahnya kerja otot jantung; pada wanita memasuki masa
menopause dengan berbagai akibatnya; dan lain-lain. Hal tersebut menyebabkan kelompok usia

11
lanjut lebih rentan terhadap gangguan gizi dan berbagai penyakit, termasuk terlalu gemuk, terlalu
kurus, penyakit hipertensi, penyakit jantung, diabetes mellitus, osteoporosis, osteoartritis dll.
Oleh karena itu kebutuhan zat gizi dan pola konsumsi pangan pada kelompok usia lanjut agak
berbeda dibanding kelompok dewasa; Misalnya membatasi konsumsi gula, garam dan minyak,
serta tinggi purin. Sebaliknya lebih banyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan dalam
jumlah yang cukup.

B. Bagaimana Memilih Diet yang Memadai

1. Bagaimana memilih diet yang cukup


2. Panduan piramida makanan

Sumber: United States Department of Agriculture, 1992.

3. Asupan makanan yang direkomendasikan dan asupan nutrisi yang direkomendasikan


12
4. Rekomendasi diet

13
Chapter 12 - Global Food and Nutrition: World Food, Health and the Environment:
Practical Applications for Nutrition, Food Science and Culinary Professionals
Jacqueline B.Marcus, 2013

3. Label makanan

C. Faktor yang Mempengaruhi Nutrisi

1. Faktor yang Mempengaruhi Nutrisi

14
Meskipun kecukupan gizi merupakan pertimbangan penting dalam perencanaan diet, m
akanan dan kebiasaan seseorang mungkin memiliki dampak yang lebih besar pada asupan makan
an secara keseluruhan. kebiasaan makanan adalah produk dari banyak variabel yang berkembang,
seperti faktor fisik (misalnya, lokasi geografis, teknologi makanan dan pendapatan) faktor fisiol
ogis (misalnya, kesehatan, kelaparan, dan tahap perkembangan) dan faktor psikososial (budaya, a
gama, tradisi, pendidikan, politik, status sosial, ideologi makanan, dan keengganan yang dipelaja
ri) walaupun tidak statis, pengaruh tradisional konservatif, seperti budaya, wilayah geografis, dan
agama, memiliki efek menstabilkan pada kebiasaan makanan

2. Faktor Fisiologis yang Memengaruhi Kebutuhan Nutrisi


 Pertimbangan Perkembangan.

Sepanjang siklus hidup, nutrisi membutuhkan perubahan dalam kaitannya dengan grwo
th, perkembangan, aktivitas, dan perubahan yang berkaitan dengan usia dalam metabolisme dan
komposisi tubuh. periode pertumbuhan dan perkembangan yang intens, seperti selama masa bayi,
remaja, kehamilan dan lasi, menyebabkan peningkatan kebutuhan nutrisi. Nutrisi perlu distabilk
an selama masa dewasa, meskipun orang yang lebih tua mungkin membutuhkan lebih atau kuran
g dari beberapa nutrisnts. wanita yang lebih tua misalnya adalah kandidat untuk intervensi diet k
husus yang berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner, kanker payudara, dan
osteoporosis. yen (1994) menyarankan revaluasi diet berikut untuk melindungi populasi ini dari
penyakit kronis.
- kurangi asupan lemak makanan hingga 30% atau kurang
- makan 25 g serat setiap hari
- termasuk 5 hingga 9 porsi buah dan sayuran setiap hari (menekankan vitamin A & C)
- memastikan asupan 1000 hingga 1500 mg kalsium setiap hari
- gunakan alkohol dan kafein secukupnya

 seks.

Laki-laki memiliki persyaratan nutrisi yang agak berbeda yang terkait dengan perbedaa
n komposisi tubuh dan fungsi reproduksi wanita. massa otot mereka yang lebih besar diterjemah
kan menjadi kebutuhan kalori dan protein yang lebih tinggi (dan karena itu kebutuhan vitamin B

15
yang sedikit lebih tinggi yang memetabolisme kalori dan protein) karena lebih artifisial secara art
ifisial daripada jaringan adiposa, di mana wanita secara proporsional memiliki lebih banyak. wan
ita usia subur memiliki kebutuhan zat besi yang lebih tinggi terkait dengan menstruasi

3. Sosial budaya dan psikologis


 Agama

Perawat perlu menyadari pembatasan diet yang terkait dengan berbagai agama yang mungkin me
mengaruhi kebutuhan nutrisi klien. selama musim lenten. Katolik Roma misalnya, puasa di hari
Rabu dan Jumat yang baik selain tidak makan daging pada setiap hari Jumat, dan perawat dapat
merekomendasikan pilihan makanan alternatif atau pola makan. diet halal melarang asupan dagin
g babi dan kerang. perawat harus menjadi nurani dari afiliasi agama klien dan dampaknya pada r
ejimen nutrisinya. diet halal dan diet khusus lainnya tersedia di rumah sakit, panti jompo, panti jo
mpo, dan program seperti makanan beroda

 Ekonomi

kecukupan anggaran makanan mempengaruhi pilihan dan pola diet. meningkatnya biaya makana
n ditambah dengan daya beli yang terbatas dapat mengakibatkan penurunan kualitas gizi makana
n. banyak veriables memengaruhi jenis makanan yang dibeli. kreatif yang digunakan dari dolar
makanan berarti menggunakan harga satuan untuk menentukan biaya per penyajian (misalnya, m
enghitung harga satuan $ 0,39 per penyajian dengan produk serupa $ 0,42 per penyajian) memili
h makanan yang mengandung nutrisi yang cukup, dan membeli makanan musiman yang lebih ek
onomis dan dapat disiapkan dengan mudah di rumah. menghindari kenyamanan makanan dan ma
kanan yang dibeli di luar rumah menghemat dolar makanan
 Faktor psikososial

Makanan berperan ganda dalam kehidupan kebanyakan orang. selain memuaskan rasa lapar dan
menyediakan makanan gizi dapat menandakan perayaan, pertemuan sosial, atau hadiah. beberapa
orang menggunakan berbagai makanan untuk menunjukkan kepedulian atau untuk memberikan k
enyamanan dan kepastian saat stres atau ketidakbahagiaan.
 Faktor budaya

16
keanekaragaman gizi adalah umum di antara kelompok budaya atau etnis. variasi dan pilihannya
unik untuk masing-masing kelompok dan mewakili kepercayaan dan kebiasaan pribadi mereka. b
udaya menentukan apa yang dimakan, bagaimana disiapkan dan apa kombinasi makanan yang di
izinkan. variasi dalam pilihan makanan dalam suatu budaya juga tergantung pada tingkat pendap
atan dan ketersediaan makanan. cerrato (1993) menyebutkan perlunya memasukkan pilihan mak
anan "khusus budaya" dalam diet terapeutik apa pun untuk meningkatkan kepatuhan dengan mod
ifikasi diet yang ditentukan

4. Penurunan Asupan Makanan.


Asupan makanan dapat berkurang karena berbagai alasan. anoreksia atau kurang nafsu makan m
ungkin terkait dengan penyakit sistemik dan lokal, berbagai penyebab psikososial, seperti ketaku
tan, kecemasan dan depresi, rasa sakit dan gangguan kemampuan untuk mencium dan merasakan
atau mungkin terjadi sekunder akibat terapi obat atau perawatan medis. orang lain yang mengala
mi kesulitan mengunyah dan menelan mereka yang mengalami masalah pencernaan kronis atau
menjalani operasi tertentu dan mereka yang tidak cukup anggaran makanan.

D. Perawat sebagai Panutan

1. Daftar Periksa Penilaian

Saat sakit, status gizi yang baik dapat mengurangi risiko komplikasi ion dan
mempercepat waktu pemulihan. Sebaliknya, status gizi yang buruk dapat meningkatkan risiko
penyakit atau kematian. Sifat hubungan perawat-klien bertitik tolak perawat kesempatan untuk
memasukkan penilaian gizi dalam proses keperawatan, seperti aspek perawatan lainnya. Dalam
perawatan, penilaian gizi adalah pendekatan sistematis yang digunakan untuk mengidentifikasi
kebutuhan aktual atau potensial klien, misalnya mulate rencana untuk memenuhi necds, memulai
rencana atau menugaskan orang lain untuk mengimplementasikannya, dan mengevaluasi
dampaknya rencana tersebut. Dengan demikian, penilaian gizi adalah sesuai untuk semua klien,
meskipun tingkat penilaian mulai dari penyaringan sederhana hingga kompre-penilaian yang
mendalam, tergantung pada individu. Perawat dapat mengumpulkan data penilaian dosen melalui
anamnesis (diet dan data medis-sosial-ekonomi), penilaian fisik (data an-thropometric dan
klinis), dan data laboratorium. Sebuah kesadaran akan perubahan spefisik pada orang tua yang
17
mungkin memilih kembali keakuratan proses penilaian 1S nec-essary (sce menyertai hox).
Diskusi berlanjut di antara para ahli kesehatan tentang menentukan apa metode yang paling
elektif untuk menilai risiko mengembangkan komplikasi yang berkaitan dengan gizi.

Beberapa ahli gizi menyatakan bahwa penilaian fisik dan riwayat gizi yang buruk dapat
lebih akurat menentukan adanya malnutrisi dari serangkaian hasil tes ratory (Lutz & Przytulski,
1994). Williams (1994) mendukung penilaian nutrisi dasar yang dikenal sebagai pendekatan
ABCD. Strategi ini meliputi: Anthropo-metrik, tes Biokimia, pengamatan klinis, dan evaluasi
diet dan riwayat pribadi. Pada perawat peran peduli dan pertemuan pribadi mereka, terletak
untuk mengidentifikasi kebutuhan gizi dan menilai memantau risiko gizi.

2. Data Diet

Data diet dapat dikumpulkan dari klien atau keluarga dan dapat dievaluasi sesuai dengan
pendekatan kelompok makanan, pedoman diet, atau RDA (RNI di Kanada), tergantung pada
tujuan penilaian tersebut. Inisiatif penyaring nutrisi adalah proyek nasional dengan nutrisitocus
kesehatan rumah. Itu dirancang untuk dimasukkan serumpunan dan intervensi rutin untuk
meningkatkan perawatan, tersedia untuk orang dewasa tua (Penyaringan Nutrisiual for
Professionals Caring for Older Americans, 1992). Elemen-elemen dari data diet yaitu :

a) . Penilaian nutrisi

 24 jam penarikan makanan.

 frekuensi makanan.

 Riwayat diet.

b). Data Sosial-Ekonomi

 Cerita pribadi dan keluarga secara mendalam , termasuk saat ini dan masa lalu.

 Status kesehatan, riwayat sosial, dan riwayat keluarga.

c). Data Antropometrik

 Tinggi
18
 Bobot

 Berat badan ideal.

 Berat badan normal

 Lingkar otot bagian tengah.

 Indeks massa tubuh

d). Klinis Data

Amati tanda-tanda dan gejala malnutrisi

e). Data Biokimia

 kadar hemoglobin dan albumin dan hematokrit

 Jumlah limfosit total / total lymphocyte count (TLC)

 Pengujian kulit antigen

 Ekskresi kreatinin urin 24 jam

 Nitrogen urea urin

Alat yang dapat digunakan untuk dengan mudah mengidentifikasi klien yang berisiko
intervensi khusus disarankan tergantung pada skor individu klien. Ketika dikombinasikan
dengan metode lain untuk menilai status gizi, perawat lebih siap untuk mengoordinasikan
strategi terfokus untuk memerangi kekurangan gizi.

Metode Penarikan 24 jam. Cara termudah untuk mengumpulkan etary adalah dengan
mendapatkan penarikan 24 jam dari semua makanan dan meminum ukuran porsi klien yang
biasa, pola makan dan cemilan, waktu makan dan tempat makan. Karena metode ini bergantung
pada memori dan interpretasi ukuran porsi yang akurat, informasi tersebut mungkin tidak dapat
diandalkan.

19
Buku Diari Makanan. Kuesioner frekuensi makanan atau catatan harian makanan dapat
memberikan gambaran keseluruhan asupan nutrisi yang lebih baik karena klien mencatat semua
makanan dan minuman yang dikonsumsi dalam peroid tertentu, biasanya 3 hingga 7 hari.

Riwayat Diet. Pendekatan yang lebih komprehensif untuk penilaian diet adalah
mengambil riwayat diet lengkap. Selain penarikan makanan 24 jam dan catatan frekuensi
makanan, pertanyaan wawancara diarahkan untuk memberikan informasi tentang asupan dan
kebiasaan makanan di masa lalu dan saat ini. Contoh pertanyaan dimasukkan dalam kotak
terlampir. Temuan berikut ini dianggap sebagai faktor risiko diet untuk status gizi buruk :
a). Asupan makanan yang tidak memadai, diet jauh, berbagai intoleransi makanan atau
alergi.
b). penggunaan diet modifikasi yang tidak adekuat selama lebih dari 3 hari tanpa
suplementasi yang adekuat.
c). NPO dengan terapi IV sederhana selama lebih dari 3 hari
d). Pemberian makan tabung yang tidak memadai
e). kesulitan mengunyah atau menelan
f). Perubahan dalam rasa, bau, atau nafsu makan
Pertimbangan penilaian gizi untuk orang dewasa yang lebih tua
Data biokimia
a). Kadar albumin senum rendah (di bawah 3,5 mg / dL) mungkin merupakan
cerminan dari proses penuaan daripada faktor risiko gizi. Sintesis albumin menurun
dengan bertambahnya usia.
b). Kadar hemoglobin yang lebih rendah dari normal mungkin hanya mencerminkan
anemia yang diamati pada lansia orang sebagai bagian dari proses penuaan.
Data Antropometrik
a). Karena perubahan terkait usia dalam komposisi tubuh, pengukuran lipatan kulit
harus diambil dari beberapa situs tubuh.
Data Diet
a). Ingat dietay mungkin tidak akurat karena masalah penglihatan dan memori
b). Pertanyaan penggunaan suplemen Vitamin dan mineral
c). Kumpulkan informasi mengenai rejimen pengobatan untuk menilai interaksi
makanan-obat dan efek samping obat.
20
3. Data Medis-Sosial-Ekonomi
Faktor medis, sosial, dan ekonomi, serta pengaruh budaya dan psikologis, harus
dievaluasi dampaknya terhadap persyaratan gizi dan pilihan makanan.
Temuan-temuan berikut ini dianggap sebagai faktor risiko sosio-ekonomi medis untuk status gizi
buruk:
 Kondisi medis yang memerlukan asupan atau nutrisi-kanker, malabsorpsi, diare,
hipertiroidisme, infeksi berat, operasi baru-baru ini, pendarahan, cacat fisik atau mental,
luka atau patah multi-ple yang luas
 Demam persisten di atas 37 ° C (98,6 ° F) selama lebih dari 2 hari
 Penggunaan kronis obat-obatan yang mempengaruhi status gizi
 Penyalahgunaan alkohol
 Anggaran tood yang tidak dimensi tubuh.

4. Data Antropometrik

Pengukuran antropometrik digunakan untuk menentukan dimensi tubuh. Pada anak-anak,


pengukuran antropometri-digunakan untuk menilai tingkat pertumbuhan; pada orang dewasa,
mereka bisa berikan pengukuran tidak langsung protein dan lemak tubuh toko. Agar data
menjadi akurat dan 1cliable, peralatan dan prosedur yang standar harus digunakan dan data harus
dibandingkan dengan referensi yang sesuai standar untuk usia dan jenis kelamin klien. Tinggi
dan berat badan, pengukuran antropo-metrik yang paling umum, harus ditentukan saat klien
dirawat di fasilitas kesehatan dan periodic selanjutnya setelah itu. Seorang klien harus
dipertimbangkan skala setiap waktu dan pada waktu yang sama hari, lebih baik sebelum sarapan.
Berat harus dibandingkan dengan IBW dan berat badan biasa. Karena berat sebenarnya mungkin
meningkat jika klien mengalami edema, status hidrasi seharusnya dipertimbangkan. Meskipun
berat yang dilaporkan sendiri mungkin dicatat ketika berat aktual tidak dapat diperoleh, itu
sangat tidak akurat dan harus diperhatikan. Pengukuran antropometri yang mendalam mencakup
pengukuran lipatan kulit ceps, ukuran subkutan simpanan lemak neous lingkaran tengah, ukuran
massa otot rangka; dan otot-otot ketiak lingkar, ukuran massa otot rangka boh dan toko-toko
lemak. "Standar ketaatan telah menjadi penentu.

21
Di Kanada, Quetelet, atau massa tubuh, indeks dihitung sebagai:

BMI = weight (kg): height (m2)

Faktor risiko metrik untuk status gizi buruk:

 Berat 20% lebih besar atau 10% kurang dari


 Penurunan berat badan tidak disengaja baru-baru ini lebih besar dari 10% berat.
 Lingkar otot triceps atau lipatan kulit kurang dari 85% dari standar
 Ideal kekurangan gizi n diamati selama penilaian fisik.

5. Data klinis
Walaupun tanda dan gejala malnutrisi dapat diamati selama penilaian fisik , mereka
biasanya tidak muncul sampai malnutrisi berkembang. Selain itu, penyelidikan lebih lanjut
diperlukan untuk menentukan defisiensi abnormal, kemungkinan terkait dengan defisiensi
nutrisi, kemungkinan terkait defisiensi nutrisi, atau tidak terkait dengan status gizi.

6. Data Biomedik
Tes laboratorium, yang mengukur kadar nutrisi dan darah dalam darah atau fungsi
biokimiawi yang bergantung pada suplai nutrisi yang memadai, secara objektif dapat mendeteksi
masalah nutrisi pada tahap awal. Sebagian besar tes biokimia rutin mengukur status protein,
ukuran vitamin tubuh, mineral, dan status elemen juga tersedia.
Hemoglobin, protein pembawa oksigen dari sel darah merah dan hematokrik, volume
sel darah merah yang dikemas dengan sentrifugasi dalam volume darah tertentu, adalah ukuran
protein plasma yang juga digunakan untuk menilai status zat besi. Status protein juga dapat
ditentukan dengan mengukur kadar serum albumin dan transferin dan dengan jumlah limfosit
total. Jumlah limfosit total mencerminkan status kekebalan tubuh dan secara langsung
dipengaruhi oleh gangguan status gizi.
Diagnosis
a). Nutrisi yang Diubah sebagai Masalahnya
Nutrisi yang Diubah: Kurang dari kebutuhan tubuh, terkait dengan NPO, pemberian
susu tabung yang tidak memadai, penggunaan diet cairan bening yang berkepanjangan, berbagai
inteleransi atau alergi makanan, diet berlebihan, anoreksia, kesulitan mengunyah atau menelan,
22
mual, muntah, diare kronis, malabsorpsi, gangguan makan psikologis (anoreksia nervosa,
bulimia), alkoholisme, gangguan metabolisme dan endokrin, penggunaan suplemen yang tidak
tepat.
Nutrisi yang diubah: lebih dari kebutuhan tubuh, terkait dengan makan berlebih,
kekurangan aktivitas, gangguan metabolisme dan endokrin, penggunaan suplemen yang tidak
tepat.
Nutrisi yang Diubah: Risiko lebih dari kebutuhan tubuh, terkait dengan makan yang
tidak tepat, kehamilan dengan jarak dekat, gangguan metabolisme dan endokrin, penggunaan
suplemen yang tidak tepat.
b). Nutrisi yang Diubah sebagai Etiologi.
Masalah gizi dapat mempengaruhi area fungsi manusia yang lain. Dalam diagnosa
keperawatan berikut, masalah gizi adalah penyebab masalah lain.
Aktivitas toleransi tidak terkait dengan kekurangan kalori yang dikonsumsi, obesitas, anemia
defisiensi besi.
Perubahan pemeliharaan kesehatan terkait dengan kurangnya pengetahuan tentang
nutrisi yang cukup. Kecemasan terkait dengan obesitas sembelit terkait dengan kekurangan
cairan atau serat yang dikonsumsi diare terkait dengan makan berlebihan. asupan serat yang
berlebihan, asupan sorbitol yang berlebihan (gula alkohol). Defisit volume cairan terkait dengan
konsumsi cairan yang tidak memadai risiko untuk infeksi terkait dengan asupan kalori yang tidak
memadai, asupan protein yang tidak memadai.
Gangguan manajemen pemeliharaan rumah terkait dengan ketidakmampuan untuk
membeli, menyimpan, atau menyiapkan makanan keluarga.
Gangguan integritas kulit terkait dengan malnutrisi protein, defisiensi vitamin A.
Defisit Pengetahuan terkait dengan diet medis baru, informasi nutrisi yang salah, kurangnya
minat pada nutrisi, defisit intelektual ketidakpatuhan terhadap tatanan diet tertentu yang terkait
dengan kurangnya motivasi, informasi yang salah. Gangguan harga diri terkait dengan obesitas.
Gangguan pola tidur terkait asupan kafein berlebihan isolasi sosial terkait dengan obesitas.
c). Diagnosis Kesehatan.
Untuk klien yang memasukkan praktik nutrisi yang baik dalam rutinitas sehari-hari
mereka, diagnosis kesehatannya berpotensi untuk peningkatan kepatuhan dengan rejimen diet
rendah lemak.
23
Perencanaan : Hasil yang Diharapkan.
Hasil yang diharapkan berkembang dari masalah gizi aktual atau potensial yang
didiagnosis. Klien dapat melakukan hal sebagai berikut :
-a). Mencapai dan mempertahankan berat badan ideal
b). Konsumsilah makanan yang cukup tetapi tidak berlebihan dalam semua nutrisi
c). Makanlah berbagai makanan di masing-masing tiga atau lebih makanan
d). Ikuti diet modifikasi yang sesuai, bila perlu, untuk memulihkan kesehatan, menghindari
kekambuhan penyakit, dan mencegah atau menunda kemungkinan komplikasi
Implementasi (Perencanaan)
Memberikan makanan yang tepat dan memadai kepada klien adalah upaya tim yang
dilaksanakan dalam berbagai pengaturan: Pesanan diet ditulis oleh dokter, dikonfirmasi oleh ahli
gizi. dan sering dijelaskan kepada klien oleh perawat. Perawat juga mungkin bertanggung jawab
untuk menyaring klien di rumah yang beresiko gizi, mengamati asupan dan nafsu makan,
mengevaluasi toleransi klien, seperti
membujuk klien dengan makan. pemberian makanan enteral dan parenteral, berkonsultasi
dengan ahli gizi dan dokter ketika masalah diet muncul, menangani potensi reaksi obat-gizi,
memperoleh lebih banyak makanan atau makanan ringan untuk klien bila perlu, memantau
makanan yang dibawa oleh pengunjung, dan berpartisipasi dalam upaya pendidikan gizi.

7. Informasi Pengajaran Nutrisi

Peningkatan layanan kesehatan saat ini sedang berkembang dengan berfokus


menyediakan kualitas layanan yang tinggi. Profesional kesehatan ditantang untuk menyajikan
perubahan dalam meningkatkan proses pelayanan. Mencegah serta mengatasi malnutrisi dirumah
sakit berpotensiuntuk memaksimalkan kualitas perawatan. Malnutrisi menjadi masalah umum
selama perawatan dirumah sakit yang berdampak negatif terutama peningkatan biaya perawatan
yang dapat merugikan pasien. Penelitian melaporkan prevalensi tingkat internasional malnutrisi
rumah sakit sebanyak 19-60% angka kejadian.

Malnutrisi berdampak pada emosional dan fisik pasien, dampak fisik diantaranya
kegagalan fungsi imun, penyembuhan luka yang lama sedangkan dampak emosional yaitu
perawatan yang lama dapat meningkatnya biaya perawatan dan menjadi beban bagi
pasien(Wright- Myrie Donnete, 2013). Mengkonsumsi makanan yang tidak biasa dikonsumsi
24
membuat pasien stres dan tidak nyaman. Penyediaan makanan di rumah sakit sesuai standar
dengan pertimbangan keamanan pasien. Pasien kritis biasanya akan diberikan makanan dalam
bentuk cair melalui NGT. Pemberian makan dengan NGT tidak seperti proses makan pada
umumnya sebab, pasien tidak memasukan makanan melalui mulut, mengunyah dan menelan
makanannya. Pasien perlu beradaptasi dengan jenis makanan baru namun, kebutuhan nutrisi
pasien kritis tidak dapat ditunda.Perawatan, diet dan peran interdisipliner diantaranya dokter,
apoteker, ahli gizi dan perawat(Cong et al., 2015; Maree, 2011). Dukungan nutrisi merupakan
tugas penting dalam perawatan pasien kritis. Makna nutrisi tidak hanya sebatas makanan masuk
ke tubuh pasien. Tetapi, bagaimana makanan dapat memaksimalkan proses penyembuhan pasien.
perawat bertanggungjawab menyediakan akses masuknya makanan, memaksimalkan penyerapan
makanan sampai makanan dihantarkan ke sel tubuh. Perawat merupakan disiplin ilmu dengan
dasar pemikiran bahwa perawatan dilakukan secara komprehensif meliputi kebutuhan
bio,psiko,sosio,kultur,spiritual.Perawat memandang pasien merupakahan satu kesatuan untuh,
sebab perawat memiliki keyakinan bahwa kebutuhan bio,psiko,sosio,kultur,spiritual saling
mempengaruhi satu dengan lainnya. Perawat menggunakan pendekatan asuhan keperawatan
untuk mengatasi masalah nutrisi yang tertuang didalam diagnosis keperawatan.

Perawat memandang tiga dasar penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi pasien yaitu
(Marjory, 2018);

1). Kemampuan memasukan meliputi fungsi digesti mekanis seperti mengunyah dan
menelan;

2). Kemampuan mencerna meliputi fungsi enzim-enzim pencernaan didalam tubuh untuk
membantu pemecahan molekul nutrien menjadi lebih kecil agar bisa diserap oleh usus;

3). Kemampuan mengabsopsi yaitu dimulai dari penyerapan sampai menghantarkan zat nutrien
ke sel.

8. Memantau Status Gizi


Perawat sadar bahwa klien yang kekurangan gizi lebih mungkin mengalami
penyembuhan luka yang lebih lambat dan mengembangkan komplikasi.

25
Pencegahan kekurangan gizi dapat memiliki efek positif pada hasil klien. Di rumah sakit, masa
inap yang dipersingkat membatasi waktu yang tersedia untuk penyaringan dan intervensi nutrisi.
Klien sering sakit akut dan tidak tertarik atau tidak dapat menyerap dan mempertahankan
instruksi nutrisi apa pun.
Mungkin juga sulit untuk melibatkan anggota keluarga atau pengasuh yang
bertanggung jawab atas persiapan makanan
sesi pengajaran yang dijadwalkan. Dalam banyak situasi, perawat kesehatan di rumah memiliki
kesempatan untuk memiliki dampak signifikan pada kesehatan gizi. Instruksi bisa
disediakan dalam suasana santai yang memungkinkan wawasan tentang orientasi budaya klien
dan pola serta tradisi keluarga. Lingkungan ini juga mendorong modifikasi dan penyesuaian
dalam pendekatan perawat untuk instruksi gizi.

9. Mensimulasikan Nafsu Makan


Nyeri, penyakit, kegelisahan, dan obat-obatan dapat menyebabkan anoreksia dan
asupan yang buruk ketika berada di fasilitas perawatan kesehatan atau di rumah. Bagi klien yang
dirawat di rumah sakit, makanan dan makan mungkin memiliki makna yang jauh lebih besar.
Kehilangan kendali atas pilihan makanan, cara makanan disiapkan, kapan dan bagaimana
makanan disajikan, dan makan sendirian mungkin tidak banyak membantu mendorong makan
normal. Setiap upaya harus dilakukan untuk memastikan bahwa makanan yang tepat tidak hanya
disajikan tetapi juga dimakan.
Waktu dan perhatian tambahan yang diberikan perawat dan perawat ketika mendorong
seseorang untuk makan mungkin memiliki dampak positif pada asupan makanan (Yen, 1994).
Langkah-langkah berikut dapat membantu merangsang nafsu makan di lingkungan apa pun:
- Sajikan makanan kecil dan sering untuk menghindari membanjiri klien dengan makanan dalam
jumlah besar.
- Dapatkan preferensi makanan dan dorong makanan favorit dari rumah atau disiapkan saat di
rumah, jika memungkinkan.
- Berikan dorongan dan lingkungan makan yang menyenangkan.
- Pastikan baki klien terlihat menarik.
- Jadwalkan prosedur dan pengobatan pada saat-saat
mereka cenderung mengganggu nafsu makan.
26
- Kendalikan rasa sakit, mual, atau depresi dengan obat-obatan.
- Menawarkan alternatif untuk barang-barang yang tidak bisa atau tidak akan dimakan klien.
- Dorong atau sediakan kebersihan mulut yang baik.
- Buang kekacauan dari area tempat klien makan.
- Jaga agar area makan bebas dari bau menjengkelkan.

10. Membantu Makan

Di Indonesia, kasus malnutrisi banyak ditemukan pada pasien rawat inap di bangsal anak,
bedah, geriatri, luka bakar, dan penyakit dalam (Dwiyanti, 2004). Perawat diharapkan
mempunyai pengetahuan dan keterampilan terkini dalam memberikan perawatan yang sesuai
dengan kebutuhan pasien (Gordon & Watts, 2011). Menurut Yalcin (2013) perawat yang
melakukankegiatan penilaian gizi memiliki nilai pengetahuan yang lebih tinggi secara statistik
dan signifikan dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukan penilaian gizi. Menurut Kobe
(2006) dalam penelitiannya di Kenya menyatakan bahwa kinerja umum dari perawat pada aspek-
aspek tertentu dari pengetahuan, sikap dan praktek secara keseluruhan rendah.

Meskipun perawat mengetahui bahwa perawatan gizi adalah hal yang penting, tetapi
perawat sering mengalami kesulitan dalam memprioritaskannya di antara kegiatankeperawatan
yang lain, sebagai akibat dari kendala waktu dan tugas ganda yang dimiliki perawat. Akan tetapi
tanpa pengetahuan dasar gizi yang baik, perawat tidak dapat memberikan perawatan nutrisi yang
tepat . Oleh karena itu dipandang perlu dan tepat untuk mengetahui pengetahuan, sikap dan
praktek perawat dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi.

11. Membutuhkan Nutrisi Dalam Situasi yang Khusus

Memberikannya nutrisi dalam situasi secara khusus misalnya kepada ibu hamil yang
mengalami hiperemesis gravidrum. Hiperemesis Gravidarum adalah mual muntah yang berat
pada kehamilan yang sukar dikendalikan. Dalam kondisi ini menyebabkan komplikasi pada janin
yaitu berat badan lahir rendah, kelahiran prematur,dan abortus. Komplikasi HEG bukan hanya
terjadi pada janin namun juga pada ibu menyebabkan penurunan berat badan, dehidrasi, dan

27
kekurangan nutrisi. Oleh karena itu penatalaksanaan Hiperemesis Gravidarum penting dilakukan
dengan cara perubahan pola nutrisi, makan dengan porsi kecil, sedikit tapi sering, dalam keadaan
hangat dan bervariasi secara menarik. Penatalaksanaan bagi ibu hamil yang menga lami
hipermesis gravidrum bisa dengan menggunakan Prinsip penatalaksanaan hiperemesis
gravidarum meliputi pencegahan, mengurangi mual muntah, koreksi dehirasi dan
ketidakseimbangan elektrolit, pemberian vitamin dan kalori yang adekuat untuk
mempertahankan nutrisi (Setiawati and Ramadhian, 2016)

12. Membutuhkan Nutrisi Enteral

Pemberian makan secara oral adalah metode yang disukai dan efektif dari klien
Fedding. Metode terbaik berikutnya adalah rute enteral. Nutrisi enteral melibatkan melewati
tabung ke saluran pencernaan untuk memberikan formula yang mengandung nutrisi yang
memadai.
Nurtisi Enteral adalah terapi aktif yang melemahkan respons metabolism organism
terhadap srest dan memodulasi sistem kekebalan tubuh. Nutrisi enteral memberikan manfaat
berupa jumlah komplikasi infeksi yang lebih rendah dan komplikasi non-infeksi. Menurut
Gramlich et al (2001) nutrisi enteral dikaitkan dengan jumlah infeksi yang lebih rendah,
meskipun tidak ada perbedaan dalam hal moralitas, lama tinggal di rumah sakit atau lama
ventilasi mekanik.

Penyakit Nutrisi Enteral, yaitu :

1). Gagal Ginjal.

Dukungan nutrisi ditunjukkan untuk menjaga massa ramping dan cadangan energy,
menghindari malnutrisi, melemahkan respons inflamasi dan stress oksidatif dan
meninggkatkan fungsi endotel.

2). Gagal Hati dan Transplantasi

Pada pasien dengan transplantasi hati, dukungan nutrisi harus dimulai lebih awal setelah
prosedur transplantasi, lebih disukai rute enteral dan melalui transpyloric.

28
3). Operasi Perut

Pemberian makan enteral awal pasca operai efektif dan dapat ditoleransi dengan baik.
Pada pasien yang menjalanai operasi saluran gastrointestinal dengan anastomosis
proksimal, nutrisi enteral menggunakan kateter makan yang ditempatkan secara distal ke
anastomosis.

4). Banyak trauma

Pasien trauma sebelumnya adalah pasien yang sehat namun tibaa-tiba menderita agresi
parah. Oleh karena itu, dukungan nutrisi harus terpenuhi, Pemberian nutrisi enteral lebih
disukai pasien trauma dengan suplai protein yang disesuaikan dengan katabolisme pasien
dan ditambahkan dalam glutamine.

BAB 3
KESIMPULAN
A. Kesimpulan

29
Daftar Pustaka

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41


TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN GIZI SEIMBANG

Carol Taylor, Carol Lilis and Priscilla LeMore. FUNDAMENTALS OF NURSING.


Philadelphia-New Yourk. Edisi 3
PERBANDINGAN ENTERAL DAN PARENTERAL NUTRISI PADA PASIEN KRITIS :
A LITERATURE REVIEW Setianingsih, Anastasia Anna. Mahasiswa Magister Keperawatan,
Universitas Padjadjaran Bandung, Staff Dosen Keperawatan Kritis Universitas Padjadjaran
Bandung.
Siti Rofi’ah, Sri Widatiningsih, Arfiana.(2019). STUDI FENOMENOLOGI KEJADIAN
HIPEREMESISGRAVIDARUM PADA IBU HAMIL TRIMESTER I.Jurusan Kebidanan ;
Poltekkes Kemenkes Semarang Jl. Tirto Agung. Pedalangan. Banyumanik.Semarang

30
LIA ALVENIA.(2016). UPAYA PENINGKATAN KEBUTUHAN NUTRISI PADA
PASIEN HIPEREMESIS GRAVIDARUM DI RSU ASSALAM GEMOLONG

31