Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Media Tanam

Sebagai media tanam, tanah memiliki peran yang penting di bidang pertanian maupun
perkebunan. Sifat tanah yang menyebabkannya sering digunakan sebagai media tanam adalah
sebagai berikut.
a. Mahluk hidup di dalam tanah dapat membantu memecah materi sisa tumbuhan dan
bangkai hewan menjadi zat hara, yang kemudian diserap oleh akar tumbuhan.
b. Profil tanah
Jika tanah digali sampai kedalaman tertentu, pada penampung vertikalnya terdapat
gradasi warna yang membentuk lapisan-lapisan (horison) atau profil tanah.
• Horison A (top soil) adalah lapisan tanah paling atas yang paling sering dan paling
mudah dipengaruhi oleh faktor iklim dan faktor biologis. Pada lapisan ini sebagian
besar bahan organik terkumpul dan mengalami pembusukan.
• Horison B disebutkan juga dengan zona penumpukan ( illuvation zone ). Horizon
ini memiliki bahan organik yang lebih sedikit tetapi lebih banyak mengandung
unsur mineral daripada horizon A.
• Horizon C adalah zona batuan lapuk yang berasal dari batuan induk. (Hillel, 1982).
c. Warna tanah
Warna tanah adalah salah satu petunjuk sifat tanah. Perbedaan warna permukaan
tanah disebabkan oleh perbedaan kandungan bahan organik. Semakin gelap warna, maka
semakin tinggi kandungan bahan organiknya. Warna tanah di lapisan bawah yang
kandungan bahan organiknya rendah, dipengaruhi oleh jumlah kandungan dan senyawa
besi (Fe). Di daerah yang mempunyai sistem serapan air buruk, warna tanahnya abu-abu
karena ion besi di dalam tanah berbentuk Fe2+.
d. Tekstur tanah
Komponen mineral dalam tanah terdiri dari campuran partikel-partikel yang
berbeda ukurannya. Menurut ukuran partikelnya, komponen mineral dalam tanah
dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :
• Pasir, berukuran 50 mikron – 2 mm

• Pupuk kandang, berukuran 2-50 mikron

• Liat, berukuran dibawah 2 mikron (Hillel, 1982).

Tanah bertekstur pasir sangat mudah diolah, tanah jenis ini memiliki aerasi
(ketersediaan rongga udara) dan drainase (serapan air) yang baik, namun memiliki
luas permukaan yang kecil, sehingga kemampuan menyimpan air sangat rendah
dan tanahnya menjadi lebih cepat kering. Tekstur tanah sangat berpengaruh pada
proses pemupukan. Tanah bertekstur pasir memerlukan pupuk lebih besar karena
unsur hara yang tersedia pada tanah berpasir lebih rendah. Di samping itu,
aplikasi pemupukan juga berbeda karena pada tanah berpasir, pupuk tidak dapat
diberikan sekaligus karena akan segera hilang terbawa air atau menguap.
Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi
tanah karena dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk
penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang
tanaman. Sifatnya yang cepat kering akan memudahkan proses pengangkatan
bibit tanaman yang dianggap sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain.
Sementara bobot pasir yang cukup berat akan mempermudah tegaknya setek
batang. Selain itu, keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan dalam
penggunaan dan dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam.
Oleh karena memiliki pori-pori berukuran besar (pori-pori makro) maka pasir
menjadi mudah basah dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan
konsistensi (ketahanan terhadap proses pemisahan) pasir sangat kecil sehingga
mudah terkikis oleh air. Dengan demikian, media pasir lebih membutuhkan
pengairan dan pemupukan yang lebih intensif. Hal tersebut yang menyebabkan
pasir jarang digunakan sebagai media tanam secara tunggal. Penggunaan pasir
sebagai media tanam dapat dikombinasikan dengan campuran bahan anorganik
lain, seperti kerikil, batu-batuan, atau bahan organik yang disesuaikan dengan
jenis tanaman.
Pasir pantai atau pasir yang berasal dari daerah dengan salinitas tinggi adalah
jenis pasir yang harus dihindari untuk digunakan sebagai media tanam. Kadar
garam yang tinggi pada media tanam dapat menyebabkan tanaman mati.

2.2 Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan adalah proses pertambahan ukuran serta jumlah sel secara irreversible (tidak
dapat kembali ke bentuk semula). Dalam pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan bunga
sepatu ini, dasar teori yang digunakan adalah teori totipotensi yang ditulis oleh Schleiden dan
Schwann. Teori totipotensi menyatakan bahwa setiap sel memiliki kemampuan untuk
memperbanyak diri jika berada pada lingkungan yang sesuai.
Pertumbuhan pada tanaman terdapat tiga tahap, yaitu perkembangan, pertumbuhan primer,
dan pertumbuhan sekunder. Perkembangan dimulai dengan masuknya air kedalam biji dan
berakhir masa dormasi pada biji atau munculnya akar dan batang pertama kali. Kemudian,
tahap pertumbuhan primer merupakan pertumbuhan pada embiro, ujung batang, dan ujung
akar. Selanjutnya, tahap pertumbuhan sekunder merupakann aktivitas kambium yang
membentuk xilem sekunder dan floem sekunder.

2.3 Faktor yang memperngaruhi warna bunga sepatu

1. Warna dasar bunga berbeda karena setiap bunga memiliki pigmen yang disebut
anthocyanidines yang berbeda-beda tergantung jenis bunga. Selain itu ada pigmenpigmen
lain yang mempengaruhi seperti flavonoids, flavnols, dan klorofil.
2. Faktor lingkungan seperti sinar ultraviolet juga mempengaruhi. Warna bunga dapat
berubah di pagi hari dan di sore hari setelah ia terpapar sinar matahari.
3. Faktor geografis juga berpengaruh terhadap warna bunga. Seperti bunga yang tumbuh di
iklim dingin biasanya memiliki warna yang lebih cerah daripada bunga yang tumbuh di
daerah panas.
4. Faktor lainnya adalah proses penyerbukan oleh serangga seperti lebah, tawon, dan
kupukupu. Serbuk dari satu bunga ke bunga lain yang ditransfer serangga itu dapat
memberi perbedaan warna pada bunga.
2.4 Bunga Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)

Bunga sepatu adalah tanaman semak suku Malvaceae yang berasal dari Asia Timur dan banyak
ditanam sebagai tanaman hias di daerah tropis dan subtropis. Ciri-ciri bunga ini adalah bunga besar,
berwarna merah dan tidak berbau. Bunga dari berbagai kultivar dan hibrida dapat berupa bunga
tunggal (daun mahkota selapis) atau bunga ganda (daun mahkota berlapis) yang berwarna putih
hingga kuning, oranye hingga merah tua atau merah jambu. Bunga ini terdiri dari 5 helai daun
kelopak, yang dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx), sehingga terlihat seperti dua lapis
kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari 5 lembar atau lebih jika merupakan hibrida. Tangkai
putik berbentuk silinder panjang dikelilingi tangkai sari berbentuk oval yang bertaburan serbuk sari.
Biji terdapat di dalam buah berbentuk kapsul berbilik lima.

Pada umumnya tinggi tanaman sekitar 2 sampai 5 meter. Daun berbentuk bulat telur yang lebar atau
bulat telur yang sempit dengan ujung daun yang meruncing. Di daerah tropis atau di rumah kaca
tanaman berbunga sepanjang tahun, sedangkan di daerah subtropis berbunga mulai dari musim
panas hingga musim gugur. Bunga berbentuk trompet dengan diameter bunga sekitar 6 cm hingga
20 cm. Putik (pistillum) menjulur ke luar dari dasar bunga. Bunga bisa mekar menghadap ke atas,
ke bawah, atau menghadap ke samping. (Ayatul, 2013)

Manfaat dari bunga sepatu adalah sebagai tanaman hias karena bunganya yang cantik. Bunga sepatu
digunakan untuk menyemir sepatu di India dan sebagai bunga persembahan. Di Tiongkok, bunga
sepatu yang berwarna merah digunakan sebagai bahan pewarna makanan. Di Indonesia, daun dan
bunga digunakan dalam berbagai pengobatan tradisional. Bunga sepatu yang dikeringkan juga
diminum sebagai teh.

Pada dunia tumbuhan tanaman bunga sepatu termasuk klasifikasi tumbuhan sebagai berikut.

Kingdom: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Ordo: Malvales

Famili: Malvaceae

Genus: Hibiscus

Spesies: Hibiscus rosa-sinensis

(Ayatul, 2013)