Anda di halaman 1dari 4

NAMA: NAILA CHANAN

KELOMPOK: 6
TUGAS MATERI KE: 1
NAMA PEMATERI: Ustadz Syafi’ul Anam, Lc Al-Hafizh

FIQIH MUNAKAHAT

Allah menjadikan di dunia ada sunnah-sunnah yang selalu terjaga terkait dengan al
anbiya' wal mursalin:
1. Allah mengutus nabi dan rasul sesuai tempat di mana dia diutus (kepada umatnya dan
menyesuaikan bahasa tempat dia di turunkan)
2. Selalu laki-laki yang diutus menjadi nabi dan rasul. Karena selain sebagai pemimpin umat,
nabi dan rasul juga mengalami kondisi yang berat. Laki-laki yang bisa mengatasi kondisi
tersebut
3. Setiap nabi dan rasul itu dari kalangan manusia biasa (dari syariat rasulullah tidak ada syariat
manusia sujud kepada manusia)
4. Setiap nabi dan rasul Allah jadikan berpasang-pasangan atau menikah.

‫َو ِم ْن ُك ِّل َش ْي ٍء َخلَ ْقنَا َز ْو َجنْي ِ لَ َعلَّ ُك ْم تَ َذ َّك ُرو َن‬


“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat
kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 59)

Nabi yahya tidak menikah {disepakati ulama}, nabi isa a.s tidak menikah {masih menjadi
perdebatan}
Menikah bukan hal yg biasa, tapi misi peradaban, karena Allah menjadikan semua
berpasangan. Saat seseorang menikah, maka dia telah berjalan di jalan nabi dan rasul

 DEFINISI
1. Ta’aruf
Ta’aruf [‫ ]التع==ارف‬secara bahasa dari kata ta’arafa – yata’arafu [‫]تع==ارف – يتع==ارف‬, yang
artinya saling mengenal. Kata ini ada dalam al-Quran, tepatnya di surat al-Hujurat
‫يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَ لَ ْقنَا ُك ْم ِم ْن َذ َك ٍر َوأُ ْنثَى َو َج َع ْلنَا ُك ْم ُشعُوبًا َوقَبَائِ َل لِتَ َعا َرفُوا‬
“Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan seorang
wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling
mengenal (li-ta’arofu) …” (QS. al-Hujurat: 13)
2. Khitbah
Khitbah merupakan laki-laki yang berjanji atau berazzam untuk menikahi seorang
wanita. Khitbah pasti taaruf, tapi taaruf belum tentu akhirnya khitbah.
3. Nadzar
Kondisi calon suami melihat calon istri. Nadzar (melihat) calon istri atau calon suami,
disyariatkan dalam islam. Agar tidak ada istilah menyesal di belakang, memastikan bahwa
mereka menikah karena saling mencintai. Diceritakan oleh al-Mughirah bin
Syu’bah radhiyallahu‘anhu, bahwa beliau hendak melamar seorang wanita. Kemudian
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi saran kepadanya,

‫ا ْنظُرْ إِلَ ْيهَا فَإِنَّهُ أَحْ َرى أَ ْن ي ُْؤ َد َم بَ ْينَ ُك َما‬


Lihat dulu calon istrimu, karena itu akan lebih bisa membuat kalian saling
mencintai. (Ahmad 18154, Turmudzi 1110 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

 ADAB TA’ARUF
1. Dalam fase taaruf, laki-laki dan perempuan tidak ada hubungan yang khusus karena
secara syar'i masih belum mahram.
2. Yang paling penting di awal adalah membenarkan niat. Karena menjadi tolak ukur untuk
fase selanjutnya. Apabila di awal niat nya baik, maka akan Allah mudahkan.
3. Satu dengan yang lain menukar biodata untuk mengetahui latar belakang masing-masing.
4. Ketika sudah taaruf, maka langsung nadzar tidak masalah. Seorang laki-laki hanya
diperbolehkan melihat dalam batas-batas yang syar'i, yaitu wajah dan telapak tangan.
5. Diperbolehkan calon suami memberikan hadiah (sebelum khitbah).

 ADAB KHITBAH
1. Khitbah belum bisa dikatakan pernikahan, jadi belum ada kebebasan disana. Masih
belum mahram.
2. Pada prinsipnya termasuk bagian dari seorang mengenal calon pasangan dan
keluarganya. Karena pernikahan bukan hanya menyatukan calon mempelai tapi juga
kedua keluarga.
3. Khitbah berbeda dari walimah. Khitbah tidak perlu diumumkan (hendaknya di
rahasiakan), sedangkan walimah hendaknya diumumkan.
4. Anjuran memulai dengan khitbah, agar tidak mengambil keputusan dengan tergesa gesa
(hanya secara dhohir).
5. Calon mempelai tidak boleh berkholwat.
6. Seorang yang taaruf tidak papa masuk biodata yang lain. Tapi kalau sudah khitbah, tidak
boleh ada khitbah lain yang masuk, kecuali sudah digagalkan khitbah yg pertama.
7. Ketika seseorang sudah khitbah, hadiah yang diberikan saat khitbah tidak boleh diminta
lagi/dikembalikan.
8. Seseorang yang sedang berada dalam masa iddah, calon suami tidak boleh langsung
menikahi (tidak boleh dikhitbah secara terang-terangan, kalau melalui sindiran boleh).
9. Harus menjaga rahasia, jagan sampai menimbulkan aib dari khitbah yang gagal.
10. Saat masa khitbah tidak boleh berbohong yang berkaitan dengan khitbah. Kalau sangat
rahasia jangan disampaikan, tapi kalau berkaitan dengan keberlangsungan kedepannya,
silahkan disampaikan

Islam agama yang moderat. Islam tidak membiarkan dalam sebuah keluarga terjadi
ketidaknyamanan. Islam memberikan jalan terakhir, yaitu talaq. Allah mengizinkan, tapi
membenci perbuatan tersebut. Hanya boleh diambil dalam kondisi yang sangat darurat.

 ADAB TALAQ
1. Jangan tergesa-gesa memutuskan perceraian, hendaknya melalui keputusan yang sangat
panjang dan melalui mediasi.
2. Talaq bisa dilakukan apabila istri atau suami benar-benar takut atau tidak bisa
menjalankan hukum Allah.
3. Tidak boleh bercerai dengan niat untuk menyakiti pasangan.
4. Cerai boleh dilakukan jika istri tidak taat pada suami (nusyuz).
5. Jika seorang istri tidak taat pada suami (nusyuz) jangan langsung diceraikan, tetapi
dicoba terlebih dahulu dengan cara: menasehati istri, pisah ranjang, dan memukul dengan
pukulan yang tidak menyakitkan. Pukulan tidak boleh dilakukan di wajah.
6. Seorang suami tidak boleh menjatuhkan talaq 3 langsung.
7. Harus ada saksi nya.
8. Tidak boleh melakukan talaq di tempat tertutup.
9. Saat suami mentalaq istri, ucapannya harus dengan niat yang menyengaja.
10. Tidak boleh menjatuhkan talaq saat istri sedang haid.
11. Talaq dengan cara yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
https://konsultasisyariah.com/30137-bagaimana-cara-taaruf.html
https://konsultasisyariah.com/26491-taaruf-sebelum-menikah.html