Anda di halaman 1dari 1

Selamat pagi.

Selamat mendapat berkat-Nya yang pasti.

Bilangan 6:22-27

Tuhan berfirman kepada Musa: “Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus
kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: Tuhan memberkati engkau dan
melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih
karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati
mereka.”

Teks ini pasti sangat kaya untuk di ekspose apalagi jika dilakukan eksegese dengan cermat.
Karena teks ini adalah ucapan berkat yang sarat dengan jaminan bagi mereka yang percaya pada-
Nya. Tapi ada dua hal yang penting kita bisa amati saat ini, yaitu: pertama, penggunaan nama
'Tuhan' berulang laki. Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa Tuhanlah yang dapat melakukan
apapun bagi umat-Nya. Kedua, perhatikan pada kata 'berkat' itu sendiri pada konteksnya. Ucapan
dalam teks itu menegaskan kehadiran Tuhan bersama bangsa Israel juga kita sebagai umat
'cangkokan' saat ini. Kalau kita menginginkan atau mengucapkan berkat Tuhan ini untuk 'jadi kaya
raya, enteng jodoh, senang dan mati masuk surga' maka kita sudah salah arah. Kita bukan
mengarahkan pandangan kita pada Tuhan namun pada berkat yang kita mau dapat.

Hal ketiga adalah di ayat terakhir soal 'meletakkan' nama-Ku atas orang Israel. Nama Tuhan yang
diletakkan di atas umatnya menunjukkan Tuhan menjadi pemilik segala sesuatu dan umatnya perlu
mengikuti kehendak-Nya. Berkat rohani dari Tuhan mengikuti seiring kita menjadikan Tuhan
sebagai pemilik segala sesuatu dan menjadi taat pada-Nya. Kita tidak sedang mengambil
keuntungan berkat-Nya sementara kita tidak menempatkan Dia di tempat utama dalam hidup kita.
Kita tidak merasakan ataupun mengalami perlindungan, kedekatan dan damai sejahtera tanpa
hidup yang menempatkan-Nya sebagai yang utama. Kita yang meminta 'dalam nama Yesus'
apakah menempatkan berkat karena apa yang kita inginkan atau apa yang Ia kehendaki dalam
hidup kita? Apakah kita menempatkan Yesus sebagai yang utama dalam hidup kita? Karena kita
bisa saja menggunakan dan menyebut nama-Nya namun orientasi kita bukan pada diri-Nya. Itu
sebabnya kita tidak lagi merasakan perlindungan-Nya karena kita sibuk melindungi apa yang
menjadi 'milik' kita. Kita tidak lagi merasakan kedekatan dengan Tuhan yang mengubah relasi kita
dengan sesama namun sebaliknya kita merasakan kedekatan dengan sesama yang menggantinya.
Kita mudah saja setuju 'surga dibawah telapak kaki ibu' dan ketik kata 'Amin' di FB kita saat
menemukan foto yang menyentuh kemanusiaan kita namun disaat yang berbeda tidak bertindak
sesuai dengan FirmanNya. Kita menyebut 'dalam nama Yesus' namun sulit memiliki damai
sejahtera karena kita sedang menyusahkan diri sendiri dengan berbagai perkara yang tidak ada
hubungannya denganNya. Apakah sesungguhnya berkat-Nya bagi kita?

#lebihdarisegalanya