Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH TENTANG PENUAAN DALAM KONTEK

LINTAS BUDAYA

Diajukan guna memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan Gerontik Strata 1 Keperawatan di
STIKES Al-Irsyad Al-Islamiyyah Cilacap

Nama Kelompok :

Dwi Utami (108117006)


Erna Kuswatun Fitriani (118117008)
Mei Nur Annisa (108117030)
Muhammad Anton Sujarwo (108117027)
Listya Aminingrum (108117036)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP
MARET, 2020
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang banyak membawa
perubahan terhadap kehidupan manusia baik dalam hal perubahan pola hidup maupun tatanan
sosial termasuk dalam bidang kesehatan yang sering dihadapkan dalam suatu hal yang
berhubungan langsung dengan norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang
bermukim dalam suatu tempat tertentu.

Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting dalam mencapai
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan sosial budaya dalam masyarakat
merupakan suatu tanda bahwa masyarakat dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu
perubahan dalam proses berfikir. Perubahan sosial dan budaya bisa memberikan dampak
positif maupun negative.

Hubungan antara budaya dan kesehatan sangatlah erat hubungannya, sebagai salah satu
contoh suatu masyarakat desa yang sederhana dapat bertahan dengan cara pengobatan
tertentu sesuai dengan tradisi mereka. Kebudayaan atau kultur dapat membentuk kebiasaan
dan respons terhadap kesehatan dan penyakit dalam segala masyarakat tanpa memandang
tingkatannya. Karena itulah penting bagi tenaga kesehatan untuk tidak hanya
mempromosikan kesehatan, tapi juga membuat mereka mengerti tentang proses terjadinya
suatu penyakit dan bagaimana meluruskan keyakinan atau budaya yang dianut hubungannya
dengan kesehatan.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa definisi lansia ?

2. Bagaimana aspek sosial budaya yang berkaitan dengan pengaruh sosial budaya
pada pasien lansia ?

3. Bagaimana cara mengkaji tentang mata rantai antara kebudayaan dan kesehatan ?

4. Apa saja pengaruh sosial budaya terhadap kesehatan pada pasien lansia ?

5. Bagaimana cara mengkaji tentang kebudayaan dan perubahannya ?

6. Aspek sosial dan kultural apa saja yang mempengaruhi pelayanan kesehatan lansia ?

7. Apa saja konsep - konsep yang relevan dengan budaya ?


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Lansia

Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan
yang tak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh setiap individu. Pada tahap ini individu
mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun mental, khususnya kemunduran
dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya. Perubahan penampilan fisik
sebagian dari proses penuaan normal, seperti rambut yang mulai memutih, kerut-kerut
ketuaan di wajah, berkurangnya ketajaman panca indera, serta kemunduran daya tahan tubuh,
merupakan acaman bagi integritas orang usia lanjut. Belum lagi mereka harus berhadapan
dengan kehilangan-kehilangan peran diri, kedudukan sosial, serta perpisahan dengan orang-
orang yang dicintai. Semua hal tersebut menuntut kemampuan beradaptasi yang cukup besar
untuk dapat menyikapi secara bijak (Soejono, 2000). Penuaan merupakan proses normal
perubahan yang berhubungan dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut
sepanjang hidup. Usia tua adalah fase akhir dari rentangkehidupan.

Pengertian lansia (Lanjut Usia) adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang di
mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana di ketahui, ketika
manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan anak.
Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki
selanjutnya, yaitu usia lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapa orangnya,
tentu telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba
menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya (Darmojo, 2004).

Pengertian lansia (lanjut usia) menurut UU no 4 tahun 1965 adalah seseorang yang
mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya
sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000) sedangkan menuru UU
no.12 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah
mencapai usia diatas 60 tahun (Depsos, 1999). Usia lanjut adalah sesuatu yang harus
diterima sebagai suatu kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri
dengan proses penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).

Lansia (lanjut usia) adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas
(Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999). Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi
normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan
memperbaiki kerusakan yang terjadi (Constantinides, 1994).

Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam mendefinisikan
batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada
tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial
(BKKBN 1998).

Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan
secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin
rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan
terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Lansia

Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan
yang tak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh setiap individu. Pada tahap ini individu
mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun mental, khususnya kemunduran
dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya. Perubahan penampilan fisik
sebagian dari proses penuaan normal, seperti rambut yang mulai memutih, kerut-kerut
ketuaan di wajah, berkurangnya ketajaman panca indera, serta kemunduran daya tahan tubuh,
merupakan acaman bagi integritas orang usia lanjut. Belum lagi mereka harus berhadapan
dengan kehilangan-kehilangan peran diri, kedudukan sosial, serta perpisahan dengan orang-
orang yang dicintai. Semua hal tersebut menuntut kemampuan beradaptasi yang cukup besar
untuk dapat menyikapi secara bijak (Soejono, 2000). Penuaan merupakan proses normal
perubahan yang berhubungan dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut
sepanjang hidup. Usia tua adalah fase akhir dari rentangkehidupan.

Pengertian lansia (Lanjut Usia) adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang di
mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana di ketahui, ketika
manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan anak.
Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki
selanjutnya, yaitu usia lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapa orangnya,
tentu telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba
menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya (Darmojo, 2004).

Pengertian lansia (lanjut usia) menurut UU no 4 tahun 1965 adalah seseorang yang
mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya
sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000) sedangkan menuru UU
no.12 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah
mencapai usia diatas 60 tahun (Depsos, 1999). Usia lanjut adalah sesuatu yang harus
diterima sebagai suatu kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri
dengan proses penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).

Lansia (lanjut usia) adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas
(Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999). Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi
normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan
memperbaiki kerusakan yang terjadi (Constantinides, 1994).

Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam mendefinisikan
batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada
tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial
(BKKBN 1998).

Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan
secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin
rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan
terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
Dari aspek sosial, penduduk lanjut usia merupakan satu kelompok sosial sendiri. Di
negara Barat, penduduk lanjut usia menduduki strata sosial di bawah kaum muda. Hal ini
dilihat dari keterlibatan mereka terhadap sumber daya ekonomi, pengaruh terhadap
pengambilan keputuan serta luasnya hubungan sosial yang semakin menurun. Akan tetapi di
Indonesia penduduk lanjut usia menduduki kelas sosial yang tinggi yang harus dihormati
oleh warga muda (Suara Pembaharuan 14 Maret 1997).
Pengertian lansia (Lanjut Usia) adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang di
mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana di ketahui, ketika
manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan anak.
Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki
selanjutnya, yaitu usia lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapa orangnya,
tentu telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba
menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya (Darmojo, 2004).

Pengertian lansia (lanjut usia) menurut UU no 4 tahun 1965 adalah seseorang yang
mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya
sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000) sedangkan menuru UU
no.12 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah
mencapai usia diatas 60 tahun (Depsos, 1999). Usia lanjut adalah sesuatu yang harus
diterima sebagai suatu kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri
dengan proses penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).

Lansia (lanjut usia) adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas
(Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999). Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi
normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan
memperbaiki kerusakan yang terjadi (Constantinides, 1994).

Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam mendefinisikan
batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada
tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial
(BKKBN 1998).

Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan
secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin
rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan
terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.

Dari aspek sosial, penduduk lanjut usia merupakan satu kelompok sosial sendiri. Di
negara Barat, penduduk lanjut usia menduduki strata sosial di bawah kaum muda. Hal ini
dilihat dari keterlibatan mereka terhadap sumber daya ekonomi, pengaruh terhadap
pengambilan keputuan serta luasnya hubungan sosial yang semakin menurun. Akan tetapi di
Indonesia penduduk lanjut usia menduduki kelas sosial yang tinggi yang harus dihormati
oleh warga muda (Suara Pembaharuan 14 Maret 1997).
2.2 Pengertian Sosial

Sosial dapat berarti kemasyarakatan. Sosial adalah keadaan dimana terdapat kehadiran
orang lain. Kehadiran itu bisa nyata anda lihat dan anda rasakan, namun juga bisa hanya dalam
bentuk imajinasi. Setiap anda bertemu orang meskipun hanya melihat atau mendengarnya saja,
itu termasuk situasi sosial. Begitu juga ketika anda sedang menelpon, atau chatting (ngobrol)
melalui internet. Pun bahkan setiap kali anda membayangkan adanya orang lain, misalkan
melamunkan pacar, mengingat ibu bapa, menulis surat pada teman, membayangkan bermain
sepakbola bersama, mengenang tingkah laku buruk di depan orang, semuanya itu termasuk
sosial. Sekarang, coba anda ingat-ingat situasi dimana anda betul-betul sendirian.
Pada saat itu anda tidak sedang dalam pengaruh siapapun. Bisa dipastikan anda akan
mengalami kesulitan menemukan situasinya. Jadi, memang benar kata Aristoteles, sang filsuf
Yunani, tatkala mengatakan bahwa manusia adalah mahluk sosial, karena hampir semua aspek
kehidupan manusia berada dalam situasi sosial.

2.2.1 Interaksi Sosial


Interaksi sosial adalah keadaan dimana seseorang melakukan hubungan saling berbalas
respon dengan orang lain. Aktivitas interaksinya beragam, mulai dari saling melempar
senyum, saling melambaikan tangan dan berjabat tangan, mengobrol, sampai bersaing dalam
olahraga. Termasuk dalam interaksi sosial adalah chatting di internet dan bertelpon atau
saling sms karena ada balas respon antara minimal dua orang didalamnya.
Berdasarkan sifat interaksi antara pelakunya, interaksi sosial dibedakan menjadi dua,
yakni interaksi yang bersifat akrab atau pribadi dan interaksi yang bersifat non-personal atau
tidak akrab. Dalam interaksi sosial akrab terdapat derajat keakraban yang tinggi dan adanya
ikatan erat antar pelakunya. Hal itu mencakup interaksi antara orangtua dan anaknya yang
saling menyayangi, interaksi antara sepasang kekasih, interaksi antara suami dengan istri, atau
interaksi antar teman dekat dan saudara.
Sebagian besar interaksi sosial manusia adalah interaksi sosial tidak akrab. Umumnya
interaksi dalam situasi kerja adalah interaksi tidak akrab. Termasuk juga ketika anda mengobrol
dengan orang yang baru saja anda kenal, interaksi antar sesama penonton sepakbola di stadion,
interaksi dalam wawancara kerja, interaksi antara penjual dan pembeli, dan sebagainya.

2.1 Peran pada Lansia

Sama seperti orang berusia madya harus belajar untuk memainkan peranan baru
demikian juga dengan kaum lansia. Dalam kebudayaan dewasa ini, dimana efisiensi,
kekuatan, kecepatan dan kemenarikan bentuk fisik sangat dihargai, mengakibatkan orang
lansia sering dianggap tidak ada gunanya lagi. Karena mereka tidak dapat bersaing dengan
orang-orang yang lebih muda dalam berbagai bidang tertentu dimana kriteria nilai sangat
diperlukan, dan sikap sosial terhadap mereka tidak menyenangkan.
Lebih jauh lagi, orang lansia diharapkan untuk mengurangi peran aktifnya dalam
urusan masyarakat dan sosial. Demikian juga dengan dunia usaha dan profesionalisme.
Hal ini mengakibatkan pengurangan jumlah kegiatan yang dapat dilakukan oleh lansia,
dan karenanya perlu mengubah beberapa peran yang masih dilakukannya.

Karena sikap sosial yang tidak menyenangkan bagi kaum lansia, pujian yang mereka
hasilkan dihubungkan dengan peran usia tua bukan dengan keberhasilan mereka. Perasaan
tidak berguna dan tidak diperlukan lagi bagi lansia menumbuhkan perasaan rendah diri dan
kemarahan, yaitu suatu perasaan yang tidak menunjang proses penyesuaian sosial seseorang.

Sosial disini yang dimaksudkan adalah segala sesuatu yang dipakai sebagai acuan
dalam berinteraksi antar manusia dalam konteks masyarakat atau komuniti, sebagai acuan
berarti sosial bersifat abstrak yang berisi simbol-simbol berkaitan dengan pemahaman
terhadap lingkungan, dan berfungsi untuk mengatur tindakan-tindakan yang dimunculkan
oleh individu-individu sebagai anggota suatu masyarakat. Sehingga dengan demikian,
sosial haruslah mencakup lebih dari seorang individu yang terikat pada satu kesatuan
interaksi, karena lebih dari seorang individu berarti terdapat hak dan kewajiban dari
masing-masing individu yang saling berfungsi satu dengan lainnya.

2.1.1 Peran dalam Sosial Masyarakat

Sebagian besar tugas perkembangan usia lanjut lebih banyak berkaitan dengan
kehidupan pribadi seseorang daripada kehidupan orang lain. Orang tua diharapkan untuk
menyesuaiakan diri dengan menurunkan kekuatan, dan menurunnya kesehatan secara
bertahap. Hal ini sering diartikan sebagai perbaikan dan perubahan peran yang pernah
dilakukan didalam maupun diluar rumah. Mereka juga diharapkan untuk mencari kegiatan
untuk menganti tugas-tugas terdahulu yang menghabiskan sebagian besar waktu dikala masih
muda dahulu.

Bagi beberapa lansia berkewajiban mengikuti rapat yang meyangkut kegiatan sosial
dan kewajiban sebagai warga negara sangat sulit dilakukan karena kesehatan dan
pendapatan yang menurun setelah mereka pensiun. Akibat dari menurunnya kesehatan dan
pendapatan, maka mereka perlu menjadwalkan dan menyusun kembali pola hidup yang
sesuai dengan keadaan saat itu, yang berbeda dengan masa lalu.

2.2 Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat

Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan


sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya
badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan
sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan
selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih sanggup, agar
tidak merasa terasing atau diasingkan. Karena jika keterasingan terjadi akan semakin
menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan kadang-kadang terus muncul perilaku
regresi seperti
mudah menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna serta
merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain sehingga perilakunya seperti
anak kecil.

Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya lansia yang memiliki
keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran) masih sangat beruntung karena anggota
keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat umumnya ikut membantu
memelihara (care) dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak
punya keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang, atau punya pasangan hidup
namun tidak punya anak dan pasangannya sudah meninggal, apalagi hidup dalam perantauan
sendiri, seringkali menjadi terlantar.

2.3 Permasalahan Sosial terkait Kesejahteraan Lansia

Berbagai permasalahan sosial yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan Lanjut


Usia, antara lain sebagai berikut :

1. Permasalahan

1. Masih besarnya jumlah Lajut Usia yang berada dibawah garis kemiskinan.

2. Makin melemahnya nilai kekerabatan, sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut
kurang diperhatikan, dihargai dan dan dihormati, berhubung terjadi perkembangan
pola kehidupan keluarga yang secara fisik lebih mengarah pada bentuk keluarga kecil.

3. Lahirnya kelompok masyarakat industri, yang memiliki ciri kehidupan yang lebih
bertumpu kepada individu dan menjalankan kehidupan berdasarkan perhitungan
untung rugi, lugas dan efisien, yang secara tidak langsung merugikan kesejahteraan
lanjut usia.

4. Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia
dan masih terbatasnnya sarana pelayanan dan fasilitas khusus bagi lanjut usia
dengan berbagai bidang pelayanan pembinaan kesejahteraan lanjut usia.

5. Belum membudaya dam melembaganya kegiatan pembinaan kesejateraan lanjut usia

2. Permasalahan Khusus

Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (1998), berbagai permasalahan khusus yang
berkaitan dengan kesejahteraan lanjut usia adalah sebagai berikut:

1. Berlangsungnya proses menjadi tua, yang berakibat timbulnya masalah baik fisik,
mental maupun sosial. Mundurnya keadaan fisik yang menyebabkan penuaan
peran sosialnya dan dapat menjadikan mereka lebih tergantung kepada pihak lain.
2. Berkurangnya integrasi sosial Lanjut Usia, akibat produktivitas dan kegiatan
Lanjut Usia menurun. Hal ini berpengaruh negatif pada kondisi sosial psikologis
mereka yang merasa sudah tidak diperlukan lagi oleh masyarakat lingkungan
sekitarnya.

3. Rendahnya produktivitas kerja lanjut usia dibandingkan dengan tenaga kerja muda
dan tingkat pendidikan serta ketrampilan yang rendah, menyebabkan mereka tidak
dapat mengisi lowongan kerja yang ada, dan terpaksa menganggur.

4. Banyaknya lanjut usia yang miskin, terlantar dan cacat, sehingga diperlukan
bantuan dari berbagai pihak agar mereka tetap mandiri serta mempunyai
penghasilan cukup.

5. Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah kepada tatanan masyarakat


individualistik, sehingga Lanjut Usia kurang dihargai dan dihormati serta
mereka tersisih dari kehidupan masyarakat dan bisa menjadi terlantar.

6. Adanya dampak negatif dari proses pembangunan seperti dampak lingkungan, polusi
dan urbanisasiyang dapat mengganggu kesehatan fisik lanjut usia.

2.4 Konsep-konsep yang Relefan dengan Budaya

a. Holisme / Seutuhnya.

Antropologi percaya bahwa kebudayaan adalah fungsi yang terintegrasi seluruhnya


dengan bagian interelasi dan interdependensi. Demikian juga budaya lebih baik dipandang
dan dianalisa secara menyeluruh. Berbagai komponen dari budaya seperti politik, ekonomi,
agama, persaudaraan dan system kesehatan, melakukan fungsi yan terpisah tetapi kemudian
bercampur membentuk perbuatan yang menyeluruh. Jadi untuk mengetahui system dari
seseorang harus memandang masing-masing hubunganya dengan orang lain dan dari
keseluruhan kulturnya (Benedict, 1934).

Perubahan budaya biasanya mengundang tantangan – tantangan baru dan berbagai


masalah. Perubahan meliputi adaptasi kreatif dari perilaku yang terdahulu yang disebabkan
Karena bahasa, adapt, kepercayaa, sikap, tujuan, undang – undang, tradisi dank ode moral.
Pada saat yang terdahulu sudah keluar dari mode atau kurang bias diterima dan menjadi
sumber konflik yang potensial (Elling, ((1977).

b. Enkulturasi

Adalah proses mendapatkan pengetahuan dan menghayati nilai-nilai. Melalui proses ini
oran bias mendapatkan kompetensi dari budayanya sendiri. Anak-anak melihat orang tua
dan mengambil kesimpulan tentang peraturan demi perilaku. Pola- pola perilaku menyajikan
penjelasan untuk kejadian dalam penghidupan seperti, dilahirkan, maut, remaja, hamil,
membesarkan anak, sakit penyakit .
c. Etnosentris
Adalah suatu kepercayaan bahwa hanya sendiri yang terbaik. Sangat penting bagi
perawat untuk tidak berpendapat bahwa hanya caranya sendiri yang terbaik dan
menganggap ide orang lkain tidak diketahui atuau di pandang rendah.

d. Stereotip

Stereotip atau sesuatu yang bersifat statis / tetap merupakan kepercayaan yang
dibesar – besarkan dan gambaran yang dilukiskan dengan populer dalam media massa
dan ilmu kebangsaan. Sifat ini juga menyebabkan tidak bekembangnya pemikiran
seseorang.

e. Nilai – nilai Budaya

Sistem budaya mengandung berbagai orientasi nilai. Nilai merupakan bentuk


kepercayaan bagaimana seseorang harus berperilaku , kepercayaan adalah sesuatu
pertanyaan yang tujuannya berpegang kepada kebenaran tapi mungkin boleh atau tidak
boleh berlandaskan kenyataan empiris. Salah satu elemen yang paling penting terbangun
dalam budaya dan nilainya. Nilai ini bersama – sama memiliki budaya yang paling penting
terbangun dalam budaya dan nilainya. Nilai ini bersama memberikan stabilitas dan
keamanan budaya, menyajikan standart perilaku. Bila dua orang bersama – sama memiliki
budaya yang serupa dan pengalamanya cenderung serupa nilai – nilai mereka akan serupa ,
walaupun dua orang tersebut tidak mungkin pola nilai yang tetap serupa , namun mereka
cukup serupa untuk
mengenal kesamaan dan utuk mengidentifkasi” yang lain sama sepeti saya” (Gooenough,
1966) .

Konsep budaya menurut Linton adalah : suatu tatanan pola perilaku yang dipelajari,
diciptakan, serta ditularkan di antara suatu anggota masyarakat tertentu . Batasan budaya
menurut Koentjaraningrat adalah : keseluruhan system gagasan , tindakan dan Hasil
karyamanusia, dalam rangka kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan milik diri manusia
dengan belajar.Karakteristik budaya menurut TO. Ihromi adalah :

1. Budaya diciptakan dan ditransmisikan lewat proses belajar .

2. Budaya dimiliki bersama oleh sekelompok manusia dan merupakan pola


kelakuan umum.

3. Budaya merupakan mental blue print.

4. Penilaian terhadap budaya bersifat relatif . Budaya bersifat dinamis, adaptif dan
integratif.Pemahaman akan konsep budaya, membawa kita pada kesimpulan bahwa
gagasan, perasaan dan perilakumanusia dalam kehidupan sosialnya sangat
dipengaruhi oleh budaya yang berlaku di masyarakat. Demikianpula pergeseran
ataupun perubahan pada tatanan budaya dalam suatu masyarakat akan diiringi
denganperubahan perilaku dari individu yang hidup di dalamnya.Budaya tercipta
sebagai upaya manusia untuk beradaptasi terhadap masalah -masalah yang timbul dari
lingkungan hidupnya. Selanjutnya budaya mempengaruhi pembentukan dan
perkembangan kepribadian manusia dalam kelompoknya. Interaksi keduanya
membentuk suatu pola spesifik perilaku, proses pikir,emosi dan persepsi individu atau
kelompok dalam bereaksi terhadap tekanan-tekanan kehidupan. Dengan demikian
dapat dimengerti peranan budaya dalam masalah kesehatan jiwa.

2.5 Perbedaan Budaya

Sesungguhnya karena tradisi berbeda budaya dan peningkatan mobilitas dan memiliki
standart perilaku yang sama. Individu yang dibesarkan dalam kelompok seperti itu mengikuti
budaya oleh norma-norma yang menentukan jalan pikiran dan perilaku mereka .

a. Kolektifitas Etnis

Kelompok dengan asal yang umum, perasaan identitas dan memiliki standart perilaku
yang sama. Individu yang bedasarkan dalam kelompok seperti itu mengikuti budaya oleh
norma-norma yang menentukan jalan ikiran dan perilaku mereka ( Harwood, 1981 ) .

b. Shok Budaya

Salah satu sebab karena bekerja dengan individu yang latar belakang kulturnya berbeda.
Shock budaya sebagai perasaan yang tidak ada yang menolong ketidaknyamanan dan
kondisi disoirentasi yang dialami oleh orang luar yang berusaha beradaptasi secara
komprehensif atau secara efektif dengan kelompok yang berbeda akibat akibat paraktek
nilai-nilai dan kepercayaan.( Leininger, 1976). Perawat dapat mengurangi shock budaya
dengan mempelajari tentang perpedaan kelompok budaya dimana ia terlibat. Pemting untuk
perawat mengembangkan hormat kepada orang lain yang berbeda budaya sambil
menghargai perasaan dirinya. Praktik perawatan kesehatan memerlukan toleransi
kepercayaan yang bertentangan dengan perawat.

c. Pola Komunikasi

Kendala yang paling nyata timbul bila kedua orang berbicara dengan bahasa ang berbeda.
Kebiasaan berbahasa dari klien adalah salah satu cara untuk melihat isi dari budaya. Menurut
Kluckhohn,1972, bahwa tiap bahasa adalah merupakan jalan khusus untuk meneropong dan
interprestasi pengalaman tiap bahasa membuat tatanan seluruhnya dari asumsi yang tidak
disadari tetang dunia dan penghidupan. Kendala untuk komunkasi bisa saja terjadi walaupun
individu berbicara dengan bahasa yang sama. Perawat kadang kesulitan untuk menjelaskan
sesuatu dengan bahasa yang sederhana, bebas dari bahasa yang jlimet yang klien bisa
menagkap. Sangat penting untuk menentukan ahwa pesan kita bisa diterima dan dimengerti
maksudnya .

d. Jarak Pribadi dan Kontak

Jarak pribadi adalah ikatan yang tidak terlihat dan fleksibel. Pengertian tentang jarak
pribadi bagi perawat kesehatan masyarakat memungkinkan proses pengkajian dan
peningkatan interaksi perawat klien. Profesional kesehatan merasa bahwa mereka
mempunyai ijin
keseluruh daerah badan klien. Kontak yang dekat sering diperlukan perawat saat
pemeriksaan fisik, perawat hendaknya berusaha untuk mengurangi kecemasan dengan
mengenal kebutuhan individu akan jarak dan berbuat yang sesuai untuk melindungi hak
privasi.

e. Padangan Sosiokultural tentang Penyakit dan Sakit

Budaya mempengaruhi harapan dan persepsi orang mengenai gejala cra memberi etika
kepada penyakit, juga mempengaruhi bilamana, dan kepada siapa mereka harus
mengkomunikasikan masalah – masalah kesehatan dan berapa lama mereka berada dalam
pelayanan. Karena kesehatan dibentuk oleh faktor – faktor budaya, maka terdapat variasi dari
perilaku pelayanan kesehatan, status kesehatan, dan pola – pola sakit dan pelayanan didalam
dan diantara budaya yang berbeda – beda.

Perilaku pelayanan kesehatan merujuk kepada kegiatan-kegiatan sosial dan biologis


individu yang disertai penghormatan kepada mempertahankan akseptabilitas status
kesehatan atau perubahab kondisi yang tidak bisa diterima. Perilaku pelayanan kesehatan
dan status kesehatan saling keterkaitkan dan sistem kesehatan ( Elling, 1977 ).

2.6 Hubungan sosial budaya dengan lansia

Kebudayaan merupakan sikap hidup yang khas dari sekelompok individu yang dipelajari
secara turun temurun , tetapi sikap hidup ini ada kalanya malah mengundang resiko bagi
timbulnya suatu penyakit . Kebudayaan tidak dibatasi oleh suatu batasan tertentu yang sempit
, tetapi mempunyai struktur-struktur yang luas sesuai dengan perkembangan dari masyarakat
itu sendiri.

Kebudayaan yang dianut oleh masyarakat tertentu tidaklah kaku dan bisa untuk di
rubah, tantangannya adalah mampukah seorang perawat memberikan penjelasan dan
informasi yang rinci tentang pelayanan kesehatan asuhan keperawatan yang akan di berikan
kepada lansia .

Sikap budaya terhadap warga usia lanjut mempunyai implikasi yang dalam terhadap
kesejahteraan fisik maupun mental mereka. Pada masyarakat tradisional warga usia lanjut
ditempatkan pada kedudukan yang terhormat, sebagai Pinisepuh atau Ketua Adat dengan
tugas sosial tertentu sesuai adat istiadatnya, sehingga warga usia lanjut dalam masyarakat ini
masih terus memperlihatkan perhatian dan partisipasinya dalam masalah - masalah
kemasyarakatan. Hal ini secara tidak langsung berpengurah kondusif bagi pemeliharaan
kesehatan fisik maupun mental mereka.

Sebaliknya struktur kehidupan masyarakat modern sulit memberikan peran fungsional


pada warga usia lanjut,posisi mereka bergeser kepada sekedar peran formal, kehilangan
pengakuan akan kapasitas dan kemandiriannya. Keadaan ini menyebabkan warga usia lanjut
dalam masyarakat modern menjadi lebih rentan terhadap tema - tema kehilangan dalam
perjalanan hidupnya. Era globalisasi membawa konsekuensi pergeseran budaya yang cepat
dan terus – menerus , membuat nilai - nilai tradisional sulit beradaptasi. Warga usia lanjut
yang hidup pada masa sekarang,seolah-olah dituntut untuk mampu hidup dalam dua dunia
yakni :
kebudayaan masa lalu yang telah membentuk sebagian aspek dari kepribadian dan kekinian
yang menuntut adaptasi perilaku. Keadaan ini merupakan ancaman bagi integritas egonya,
dan potensial mencetuskan berbagai masalah kejiwaan .

2.7 Mata Rantai Antara Kebudayaan dan Kesehatan Lansia

Didalam masyarakat sederhana, kebiasaan hidup dan adat istiadat dibentuk untuk
mempertahankan hidup diri sendiri dan kelangsungan hidup suku mereka. Berbagai
kebiasaan dikaitkan dengan kehamilan, kelahiran, pemberian makanan bayi, yang bertujuan
supaya reproduksi berhasil, ibu dan bayi selamat. Dari sudut pandang modern ,tidak semua
kebiasaan itu baik. Ada beberapa yang kenyataannya malah merugikan.

Menjadi sakit memang tidak diharapkan oleh semua orang apalagi penyakit-penyakit
yang berat dan fatal. Masih banyak masyarakat yang tidak mengerti bagaimana penyakit itu
dapat menyerang seseorang. Ini dapat dilihat dari sikap mereka terhadap penyakit tersebut.
Ada kebiasaan dimana setiap orang sakit diisolasi dan dibiarkan saja. Kebiasaan ini ini
mungkin dapat mencegah penularan dari penyakit-penyakit infeksi seperti cacar dan TBC.

Bentuk pengobatan yang di berikan biasanya hanya berdasarkan anggapan mereka sendiri
tentang bagaimana penyakit itu timbul. Kalau mereka menganggap penyakit itu disebabkan
oleh hal-hal yang supranatural atau magis, maka digunakan pengobatan secara tradisional.
Pengobatan modern dipilih bila meraka duga penyebabnya adalah faktor ilmiah. Ini dapat
merupakan sumber konflik bagi tenaga kesehatan, bila ternyata pengobatan yang mereka pilih
berlawanan dengan pemikiran secara medis.

Didalam masyarakat industri modern iatrogenic disease merupakan problema. Budaya


menuntut merawat penderita di rumah sakit, pada hal rumah sakit itulah tempat ideal bagi
penyebaran kuman-kuman yang telah resisten terhadap anti biotika .

2. 10 Permasalahan Aspek Sosial Budaya

Menurut Setiabudhi (1999), permasalahan sosial budaya lansia secara umum yaitu masih besarnya
jumlah lansia yang berada di bawah garis kemiskinan, makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga
anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan, dihargai dan dihormati, berhubung terjadi
perkembangan pola kehidupan keluarga yang secara fisik lebih mengarah pada bentuk keluarga kecil,
akhirnya kelompok masyarakat industri yang memiliki ciri kehidupan yang lebih bertumpu kepada
individu dan menjalankan kehidupan berdasarkan perhitungan untung rugi, lugas dan efisien yang secara
tidak langsung merugikan kesejahteraan lansia, masih rendahnya kuantitas tenaga professional dalam
pelayanan lansia dan masih terbatasnya sarana pelayanan pembinaan kesejahteraan lansia, serta belum
membudayanya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia.
2.10.1 Kebudayaan dan Perubahannya

Tentu saja kebudayaan itu tidak statis , kecuali mungkin pada masyarakat pedalaman
yang terpencil . Hubungan antara kebudayaan dan kesehatan lansia biasanya dipelajari pada
masyarakat yang terisolasi dimana cara - cara hidup mereka tidak berubah selama beberapa
generasi , walaupun mereka merupakan sumber data - data biologis yang penting dan model
antropologi yang berguna , lebih penting lagi untuk memikirkan bagaimana mengubah
kebudayaan mereka itu. Pada Negara dunia ke 3 laju perkembangan ini cukup cepat, dengan
berkembangnya suatu masyarakat perkotaan dari masyarakat pedesaan. Ide-ide tradisional
yang turun temurun, sekarang telah di modifikasi dengan pengalaman-pengalaman dan ilmu
pengetahuan baru. Sikap terhadap penyakit pun banyak mengalami perubahan .Kaum muda
dari pedesaan meninggalkan lingkungan mereka menuju kekota. Akibatnya tradisi budaya
lama di desa makin tersisih. Meskipun lingkungan dari masyarakat kota modern dapat di
kontrol dengan tekhnologi, setiap individu didalamnya adalah subjek dari pada tuntutan ini,
tergantung dari kemampuannya untuk beradaptasi.

Problema dalam menganalisa perubahan kebudayaan apakah memberikan dampak


yang sangat besar sulit diukur, sebagai contoh kenaikan tekanan darah pada para penduduk
yang berimigrasi ke kota. Kenyataan ini tidak dapat di pungkiri . Bila mana budaya itu
berubah suatu adaptasi yang sukses tidak hanya tergantung pada Setiap masyarakat faktor
lingkungan dan biologis. Kemampuan untuk memodifikasi beberapa segi budaya juga
penting .
BAB III
PENUTUP
4.1. Kesimpulan

Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting dalam mencapai
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan sosial budaya dalam masyarakat
merupakan suatu tanda bahwa masyarakat dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu
perubahan dalam proses berfikir. Perubahan sosial dan budaya bisa memberikan dampak
positif maupun negatif.

Hubungan antara kebudayaan dan kesehatan pasien lansia biasanya dipelajari pada
masyarakat yang terisolasi dimana cara - cara hidup mereka tidak berubah selama beberapa
generasi, walaupun mereka merupakan sumber data-data bilogis yang penting dan model
antropologi yang berguna , lebih penting lagi untuk memikirkan bagaimana mengubah
kebudayaan mereka itu.
Perawat harus selalu menjaga hubungan yang efektif dengan masyarakat dengan
selalu mengadakan komunikasi efektif demi meningkatkan status kesehatan lansia dan
mendukung keberhasilan pemerintah dalam bidang kesehatan berbasis publik.
DAFTAR PUSTAKA

 Nugroho,Wahjudi. 1999. Keperawatan Gerontik.Edisi2.Jakarta;EGC.

 Royal College of Nursing (2006), Transcultural Nursing Care of Adult ; Section


One Understanding The Theoretical Basis of Transcultural Nursing Care Ditelusuri
tanggal 14 Oktober 2006.

 Stanley,Mickey. 2002. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. Jakarta; EGC.