Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan dunia usaha yang begitu pesat tidak terlepas dari Sumber
Daya Manusia. Karena manusia menjadi perencana, pelaku, dan penentu
terwujudnya tujuan organsasi. Perkembangan dunia usaha saat ini, menuntut
lembaga pendidikan untuk menciptakan tenaga-tenaga terampil yang diharapkan
dapat mengambil peran aktif dalam meningkatkan taraf hidup bangsa. Dalam
persaingan yang semakin pesat, menyadari bahwa sumber daya manusia
merupakan modal utama dalam suatu usaha, maka kualitas tenaga kerja harus
dikembangkan dengan baik.
Dunia Pendidikan berperan aktif dalam menciptakan tenaga kerja yang
berkompeten, bertanggung jawab dan propesional. Institut Teknologi Medan
merupakan pendidikan vokasi yang memfokuskan pada pengembangan sumber
daya manusia untuk menghasilkan tenaga kerja yang profesional dan
berkompeten. Untuk mencapai tujuan tersebut Institut Teknologi Medan
mewajibkan sseluruh mahasiswanya untuk melaksanakan Kerja Praktek (KP).
Tempat pelaksanaan kerja praktek ditentukan sendiri oleh mahasiswanya yang
melaksanakan kerja praktek.
Kerja praktek merupakan kegiatan penerapan ilmu, pengetahuan, teknologi
yang dipelajari selama mengikuti perkuliahann di Institut Teknologi Medan
khususnya jurusan teknik mesim. Kerja praktek menuntun mahasiswa kedalam
dunia kerja nyata yang diharapkan mahasiswa dapat bekerja secara efektif dan
efisien guna memberikan arah dan cara yang lebih baik dalam melakukan
pekerjaan. Kerja praktek ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan dan
etika pekerjaan.
Dalam melaksanakan kerja praktek, mahasiswa wajib memenuhi segala
ketentuan yang diberlakukan dalam program study dan perusahaan. Melalui kerja
praktek yang dilakukan, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman praktis dunia
kerja serta dapat melakukan pengkajian terhadap penerapan keilmuan dan teori
yang diperoleh mahasiswa selama proses pembelajaran di perguruan tinggi. Pada

1
kesempatan ini, penulis melaksanakan kerja praktek di PT Perkebunan Nusantara
II pabrik kelapa sawit, sawit sebrang yang dilaksanakan pada tanggal 8 juli 2019
sampai dengan 20 juli 2019.

1.2 Tujuan
Tujuan dilaksanakannya Kerja Praktek ini adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan pengetahuan, pengalaman, serta pengembangan sikap dan
memberikan suatu pemahaman mengenai aplikasi ilmu yang telah diperoleh
selama perkuliahan.
b. Mempelajari aspek penanganan bahan baku.
c. Mempelajari aspek teknologi proses CPO.
d. Mempelajari aspek manajemen lingkungan.
e. Menambah wawasan dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan kerja
pada suatu wilayah industri serta melatih kemampuan dalam menganalisis,
mengatasi masalah dan melakukan interaksi dengan stakeholder yang ada.

1.3 Tempat dan Waktu Pelaksanaan


Kerja Praktek telah dilaksanakan di PT. Perkebunan Nusantara II (PKS)
Sawit Seberang Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.Waktu pelaksanaan
Kerja Praktek ini dilaksanakan pada tanggal 8 juli 2019 sampai dengan 20 Juli
2019.

1.4 Metode
Metode Kerja Praktek yang telah dilaksanakan di PT Perkebunan
Nusantara II (PKS) Sawit Seberangadalah sebagai berikut :
a. Pengamatan di Lapangan
Kegiatan pengamatan dilapangan dilakukan dengan mengamati secara
langsung dengan mengutamakan pada pengamatan dalam aspek teknologi
proses dalam pengolahan CPO dan manajemen lingkungannya.

2
b. Wawancara
Wawancara dilakukan untuk mengumpulkan informasi dan data mengenai
permasalahan-permasalahan yang terjadi dilapangan dengan menanyakan
langsung kepada pihak yang terkait.
c. Praktek Langsung
Kegiatan ini dilakukan dengan ikut serta dalam kegiatan dilapangan untuk
melatih kemampuan dan memperoleh pengalaman kerja di industri kelapa
sawit serta mempelajari kesesuaian antara teori diperkuliahan dengan praktik
dilapangan mengenai aspek teknologi proses dan manajemen lingkungan.
d. Studi Pustaka
Kegiatan ini dilakukan dengan mencari referensi dan literatur yang berkaitan
dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan membandingkan dengan situasi
yang terjadi dilapangan selama dilakukan Praktek kerja Lapangan.

3
BAB II
TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Dan Perkembangan Perusahaan


PT. Perkebunan Nusantara II disingkat PTPN II, merupakan salah satu
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) perkebunan yang bergerak dalam bidang
usaha perkebunan, pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan. Kegiatan usaha
perseroan mencakup usaha budidaya dan pengolahan tanaman kelapa sawit dan
karet.Produk utamanya adalah Crude Palm Oil (CPO) dan Kernel.
Sejarah Perseroan diawali dengan proses pengambilalihan perusahaan
perusahaan perkebunan milik Belanda oleh Pemerintah Republik Indonesia pada
tahun 1958 yang dikenal sebagai proses nasionalisasi perusahaan perkebunan
asing menjadi Perseroan Perkebunan Negara (PPN). Unit usaha Sawit Seberang
didirikan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1923 dengan nama Verenigdee
Deli Mastgehappij (VDM), bergerak dalam pembudidayaan kelapa sawit.
Tahun 1927 pihak VDM membangun pabrik pengolahan kelapa sawit
(PKS) yang berada dalam naungan dan pengawasan PT. Perkebunan Nasional,
PKS Sawit Seberang telah beberapa kali melakukan perbaikan dan penambahan
kapastias yaitu 15 ton TBS diolah perjam menjadi 30 ton TBS per jam.Tahun
1962 diambil alih oleh pemerintah.
Perkebunan Negara (PPN) Sumatera Utara II. Tahun 1963, PPN Sumut II
diganti nama menjadi PPN Antan II. Tahun 1969 PPN Antan II dan PNP II
digabung menjadi PNP II. Tahun 1976 PNP II diubah menjadi bentuk Persero
dengan nama PT Perkebunan II (Persero). Tanggal 11 Maret 1996, PTP II dan
PTP IX digabung menjadi PTPN II.
Areal kebun Sawit Seberang adalah konsensi kebun Batang Serangan (Eks
Perusahaan Belanda) tanggal 10 Desember 1936 dengan No. LXV/R atas nama
Deli Mastgehappij, kemudian diberi Hak Guna Usaha (HGU) kepada Kebun
Sawit Seberang berdasarkan SK Menteri Agraria No. SK: 35 HGU tertanggal 10
Oktober 1958 seluas 14.896.11 Ha, terdiri dari:

4
1. Areal Tanaman : 8.236.98 Ha
2. Pembibitan : 16.26 Ha
3. Emplement/ Perusahaan : 298.90 Ha
4. Jalan/jurang/rawa-rawa : 407.54 Ha
5. Hutan Okupasi : 5.932.69 Ha
6. Erosi Sungai : 3.74 Ha

Gambar 1. PKS Sawit Seberang

2.1.1 Kegiatan Usaha


Kegiatan usaha PKS Sawit Seberang yaitu mengolah bahan baku TBS
(Tandan Buah Segar) menjadi minyak sawit dan inti sawit. Minyak dan inti
sawit dijual untuk local/dalam negri seperti ke PT.Musimas,PT.MNA,dan
sebagainya.

2.1.2. Sumber Bahan Baku


Seluruh TBS milik kebun PTPN II Sawit Seberang

2.2 Visi dan Misi Peruasahaan


2.2.1 Visi

5
“Dari peruasahaan perkebunan menjadi perusahaan multi usaha berdaya
saing tinggi“

2.2.2 Misi
“Mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya dan usaha, memberikan
konstribusi optimal, menjaga kelestarian dan pertambahan nilai“.

2.3 Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja ( SMK3 )


Pengawasan, pengendalian, dan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja PTP. Nusantara II menjamin terciptanya tempat kerja yang aman, efisien,
produktif, dan efektif di seluruh bagian dan unit-unit usaha dengan memenuhi
peraturan dan perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja secara
berkesinambungan dan terpelihara.
Pengawasan, pengendalian, dan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja dimaksud dilakukan dengan :
a. Meminimalisasi potensi bahaya dengan menjaga dan mempertahankan
sistem pengawasan dan perawatan kesiapan, lingkungan, dan tata cara
pelaksanaan kerja karyawan.
b. Memakai atau mempergunakan Alat Pelindung Diri (APD) di lokasi kerja
yang berpotensi menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
c. Memastikan bahwa sistem manajemen K3 dipatuhi dan dilaksanakan sesuai
kebijakan dan prosedur serta instruksi kerja yang telah ditetapkan.

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja memiliki beberapa


hal penting yang harus diketahui oleh semua stakeholder yang ada di PKS Sawit
Seberang diantaranya :
a. Pengelolaan sistem keselamatan dan kesehatan kerja kepada tamu
dilakukan oleh Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3)
dan Manajer Unit sebagai ketuanya.
b. Sistem izin kerja
c. Prosedur keadaan darurat. Jika lonceng darurat berbunyi maka seluruh
pekerja harus keluar menuju ke titik evakuasi.

6
d. Pelapor sumber bahaya atau cedera. Semua stakeholder yang mengetahui
adanya sumber bahaya harus melaporkan kepada P2K3.
e. Menyediakan kotak P3K.
f. Alat pelindung diri. Semua stakeholder maupun tamu yang memasuki
areal kerja pabrik harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

2.4. STRUKTUR ORGANISASI


Struktur Organisasi PTPN II (PKS)Sawit Seberang dapat dilihat pada
Lampiran 1. Pada PTPN II (PKS) Sawit Seberang, setiap stakeholder dalam
Struktur Organisasi mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Berikut adalah tugas dan tanggung jawab pada beberapa stakeholder dalam
struktur Organisasi di PTPN II (PKS) Sawit Seberang Sumatera Utara.

2.5. Sistem Manajemen Mutu (Iso 9001-2008) Dansistem Manajemen


Lingkungan (Iso 14001-2004)
Dalam upaya meningkatkan pengelolaan Perusahaan menjadi lebih baik,
maka Manajemen PT .Perkebunan Nusantara II(PKS) Sawit Seberang
memutuskan untuk menerapkan Sistem Manajemen Mutu dan Lingkungan secara
terintegrasi. Tujuan dari Sistem Manajemen Mutu (ISO 9001-2008) adalah untuk
menjamin produksi yang dihasilkan bermutu baik secara konsisten dan
memuaskan pelanggan. Audit dilakukan oleh pihak eksternal yang pertama tahun
2005 yaitu oleh PT TUV Nord Indonesia dan dilakuan re-sertifikasi setiap tahun.
Sedangkan tujuan dari Sistem Manajemen Lingkungan (ISO 14001-2004) adalah
untuk memenuhi misi pengembangan usaha perkebunan dan Industri hilir yang
berwawasan lingkungan. Audit juga dilakukan oleh PT TUV Nord
Indonesia.Sistem Manajemen Mutu dan Lingkungan adalah sistem Manajemen
Perusahaan yang dipakai sebagai acuan bagi semua aspek kegiatan dan diterapkan
mulai dari kegiatan penerimaan bahan baku, spare parts, proses pengolahan,
penanganan limbah, kepuasan pelanggan, dan pengelolaan lingkungan.
.

7
BAB III
PROSES PRODUKSI DAN SARANA

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) adalah salah satu jenis tanaman dari
famili palma yang mampu menghasilkan minyak nabati yang saat ini menjadi
sangat kompetitif di pasar Internasional. Jenis tanaman ini bukanlah satu-satunya
tanaman penghasil minyak nabati, namun terdapat juga tanaman penghasil minyak
nabati lain yang berpotensi tumbuh dengan baik di Indonesia seperti kelapa,
bunga matahari, kacang kedelai dan masih banyak lainnya. Dari sekian banyak
tanaman yang mengandung minyak, kelapa sawit merupakan tanaman yang paling
produktif menghasilkan rendemen minyak tertinggi terutama di Indonesia.
Tanaman industri ini menghasilkan minyak masak, minyak industri, maupun
bahan bakar biodiesel. Perkebunan dan pabrik pengolahannya mampu
menghasilkan keuntungan besar sehingga sangat berpotensi untuk dikembangkan.
Produk yang dihasilkan dari PKS (Pabrik Kelapa Sawit)berbentuk CPO (Crude
Palm Oil) dan Kernel Dari produk-produk ini terutama CPO dapat dihasilkan
menjadi produk-produk turunan seperti bahan bakar, margarin, sabun, kosmetik,
industri baja, industri farmasi, dan industri kulit.
CPO adalah hasil pengolahan bagian serabut (endocarp) tanaman kelapa
sawit dengan cara ekstraksi yang merupakan komoditas pertanian yang penting di
Indonesia. Untuk mendapatkan kualitas CPO yang baik, perlu diperhatikan
manajemen pasca panen dan teknologi proses mulai dari tahap penimbangan TBS
(Tandan Buah Segar) hingga pemutuan produk CPO yang dihasilkan. Proses
pemahaman dan pelaksanaan sesuai standar prosedur operasi yang akan dilakukan
juga sangat mempengaruhi kualitas dari CPO yang dihasilkan. Upaya dalam
penerapan operasiyang ramah lingkungan saat ini juga merupakan sesuatu hal
yang sangat penting untuk lebih melengkapi dalam sebuah sistem industri. Begitu
penting untuk mempelajari dan mengkaji mengenai perkebunan kelapa sawit
dalam hal aspek penanganan bahan baku, teknologi proses, pengawasan mutu, dan
manajemen lingkungan. Hal inilah yang melatarbelakangi Kerja Praktek ini
dilakukan.

8
Tandan buah segar yang telah dipanen akan diolah dalam PKS (Pabrik Kelapa
Sawit). Pengolahan tandan buah segar ini dimaksudkan untuk memperoleh
minyak sawit dari daging buah (Crude Palm Oil) dan inti (Kernel). Mutu dan
rendemen yang dihasilkan di PKS Sawit Seberang sangat dipengaruhi oleh
beberapa faktor penanganan bahan baku mulai dari pembibitan, pemuliaan
tanaman, pemanenan, dan pengangkutan. Oleh karena itu untuk mendapatkan
mutu minyak yang baik, maka harus diperhatikan hal-hal tersebut. Setelah
didapatkan hasil panen yang baik maka diperlukan proses pengolahan di Pabrik
Kelapa Sawit yang baik juga untuk menekan penurunan mutu dan kehilangan
(lossis) selama proses berlangsung. PKS Sawit Seberang memiliki kapasitas
produksi 27,5 Ton/jam. Skema pabrik kelapa sawit (PKS) Sawit Seberang dapat
dilihat pada Lampiran 2.

3.1. Stasiun Penerimaan Buah


Stasiun penerimaan TBS merupakan stasiun yang menerima TBS yang
diangkut oleh truk-truk pengangkut dari kebun milik Unit Usaha Sawit Seberang.
Stasiun penerimaan buah terdiri dari :

3.1.1. Stasiun Timbangan


Stasiun timbangan merupakan langkah awal sebelum melakukan proses
pengolahan TBS selanjutnya yang berfungsi sebagai tempat atau alat
penimbangan TBS yang dibawa ke pabrik, hasil produksi pabrik (minyak/inti
sawit),dan penimbangan barang lain yang terkait dengan aktivitas kebun seperti
penimbangan seluruh kernel dan TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) yang
akan dikirim keluar pabrik. Jembatan penimbangan yang terdapat di pabrik Unit
Usaha Sawit Seberang menggunakan tipe hybrid system dengan kapasitas 50 ton.
Jembatan ini memiliki panjang 12000 mm dan lebar 3000 mm. Ketelitian
pengukuran yang diizinkan sebesar 10 kg.

9
(a) (b)

Gambar 2. (a). Timbangan dan (b). Konstruksi load cell

Di setiap ujung timbangan terdapat load cell yang digunakan untuk


mengkonversi deviasi pergeseran platform akibat tekanan beban yang berbentuk
angka digital yang tertera pada indikator. Proses penimbangan menggunakan 2
sistem yaitu sistem digital dan sistem manual. Prinsip kerja sistem digital
menggunakan alat bantu komputer yang terhubung dengan sensor yang terdapat di
bawah daun timbangan. Hasil penimbangan akan muncul secara otomatis pada
layar komputer dan akan dihubungkan secara langsung ke kantor pusat dengan
menggunakan sistem LAN (Local Area Network).
Pada saat melakukan proses penimbangan, truk pengangkut TBS masuk ke
tempat penimbangan dan supir truk harus keluar dari truk. Sedangkan pada
penimbangan truk tangki CPO, sebelum melakukan penimbangan maka satpam
dan mandor melakukan pemeriksaan pada setiap truk tangki CPO. Kelengkapan
standar yakni satu unit ban cadangan, dongkrak dan kunci roda boleh tidak
diturunkan saat peni
mbangan, tetapi pengganjal ban dan lain-lain termasuk supir tidak boleh berada di
dalam truk. Hal ini dilakukan agar berat yang ditimbang tidak bertambah. Setiap
truk yang mengangkut TBS ke pabrik akan ditimbang sebagai bruto dan setelah
dikeluarkan TBS di loading ramp sebagai tarra. Buah yang tidak sesuai norma
Unit Usaha Sawit Seberang akan dimasukkan kembali ke dalam truk dan juga
akan dihitung sebagai tarra.

10
Netto = Bruto – Tarra

3.1.2. Stasiun Loading Ramp


TBS yang telah ditimbang selanjutnya akan dibawa ke loading ramp.
Loading ramp adalah tempat yang berfungsi untuk menampung TBS dari kebun
sebelum di proses, mempermudah pemasukan TBS ke dalam lori, dan mengurangi
kadar kotoran yang terdapat pada TBS. Sebelum TBS dimasukkan kedalam
loading ramp, TBS yang telah ditimbang dilakukan penyortasian terlebih dahulu.
Sortasi dilakukan dilantai atau veronloading ramp. Penyortasian TBS dilakukan
untuk mengetahui jumlah TBS mentah, TBS agak matang, TBS matang, dan TBS
yang sudah busuk yang sangat berpengaruh terhadap mutu dan produktivitas
CPO yang akan dihasilkan. Sortasi buah dilakukan sesuai dengan kriteria panen
yang terbagi atas beberapa fraksi yang telah dijelaskan sebelumnya. Untuk buah
yang kurang matang atau mentah ataupun yang terlalu matang dari kebun Unit
Usaha Sawit Seberang, akan dikembalikan ke afdeling untuk diberitahukan
kepada pemanen buah.

(a)

11
(b)
Gambar 3.(a). Loading ramp dan sortasi TBS (b). Konstruksi Loading ramp

TBS kemudian dimasukkan kedalam loading ramp. PKS Unit Usaha Sawit
Seberang memiliki 1 unit loading ramp. Untuk ketahanan kisi-kisi loading ramp,
bagian atas (tempat jatuhnya buah) sepanjang loading ramp dilapisi plat besi
dengan lebar 2 meter.
Hal ini disesuaikan dengan rata-rata jatuhnya buah dari bak truk ke
kompartemen ± 1.7 meter. Kemiringan lantai loading ramp 27 0 terhadap bidang
datar dan setiap pintu kompartemen menggunakan pintu tegak lurus (vertikal)
yang digerakkan oleh hidrolik untuk membuka atau menutup dengan power pack
penggerak sistem hidrolik 1 unit berdaya 7.5 HP.
TBS yang telah berada di dalam loading ramp selanjutnya akan
dimasukkan ke dalam lori. Lori adalah tempat untuk merebus TBS. Lori tersebut
terbuat dari plat besi yang berperforasi sebagai tempat keluarnya air, udara, dan
sebagai lubang penetrasi steam ke dalam buah pada saat buah direbus. Untuk
pemasukkan TBS ke dalam lori digunakan sistem FIFO (First In First Out),
dimana hal ini perlu dilakukan agar buah restan tidak terlalu banyak yang
menumpuk yang dapat meningkatkan asam lemak bebas pada buah. Ketika
pengisian TBS kedalam lori perlu diatur keseragaman isi lori dalam satu rebusan
berdasarkan kondisi buah (segar, restan, dan buah kecil) untuk memudahkan
penentuan holding time. Hal ini perlu dikoordinasikan kepada operator rebusan
agar operator rebusan dapat menentukan holding time buah yang akan direbus.
Pengisian lori juga harus penuh tetapi tidak boleh berlebihan karena dapat
merusak bibir rebusan. Selain itu pengaruh dari pengisian berlebihan
mengakibatkan brondolan akan berjatuhan di lantai rebusan sehingga menutup
saringan kondensat. Perawatan terhadap lori akan membantu kelancaran proses
pengolahan.

12
(a) (b)
Gambar 4. (a). Lori (b). Konstruksi Lori
3. 1. 3 . Stasiun Perebusan (Sterilizer)
Tandan Buah Segar (TBS) yang telah dimasukkan ke dalam lori akan
direbus dalam perebusan (sterilizer). Sebelum melakukan perebusan, lori yang
berisi tandan buah segar akan dipindahkan terlebih dahulu menggunakan transfer
carriage. Transfer carriage merupakan suatu rel yang berfungsi untuk
memindahkan jalur lori dari loading ramp menuju sterilizer yang dilengkapi
dengan kontrol panel serta 4 buah roda pada relnya dengan pergerakan kekiri dan
kekanan. PKS Sawit Seberang memiliki 2 unit transfer carriage dengan type
elektromotor yang berkapasitas 3 lori (7,5 ton TBS). Alat ini menggunakan tenaga
elektromotor dengan daya 20 HP, 15 KW, 27Amp, 380 Volt, dengan kecepatan
putaran 1500 rpm. Alat ini juga menggunakan tali dan kabel baja untuk menarik
lori.
Lori yang telah dipindahkan pada jalur perebusan, selanjutnya akan ditarik
dengan alat penarik (Capstand). Capstand merupakan alat yang digunakan untuk
menarik lori pada posisi yang diinginkan seperti menarik lori masuk kedalam
rebusan (sterilizer), dan mendekatkan lori pada housting crane.
Lori yang telah berada di depan perebusan kemudian ditarik dengan
capstand untuk dimasukkan ke dalam rebusan (sterilizer). Sterilizer merupakan
bejana uap bertekanan yang digunakan untuk merebus TBS dengan uap (steam).
Steam yang digunakan pada rebusan diinjeksi dari Back Pressure Vessel (BPV)
yang dihasilkan oleh boiler. Steam yang masuk ke dalam rebusan bertekanan 2,5-
2,8 kg/cm2 dengan suhu 130-140°C. Proses perebusan bertujuan untuk
mengurangi peningkatan asam lemak bebas, mempermudah proses pembrondolan
pada thresher, memaksimalkan lekangnya kernel pada biji, melunakkan daging
buah, menurunkan kadar air, dan sebagai supply bagi ketersediaan buah terebus
(cooking fruit bunch).
CFB (Cooking Fruit Bunch) merupakan ketersediaan buah terebus yang
menjadi kapasitas stasiun rebusan (ton/jam) dan dapat mempengaruhi stasiun
berikutnya. Untuk menentukan CFB maka harus menggunakan perhitungan
sebagai berikut :

13
n x K x 1 x 60
CFB=
S

Dimana : n = jumlah rebusan yang digunakan


K = kapasitas satu lori (kg)
l = jumlah lori dalam satu rebusan
s = siklus proses rebusan yang digunakan (menit)

Pabrik kelapa sawit Unit Sawit Seberang memiliki 3 unit rebusan dengan
kapasitas masing-masing rebusan 27,5 ton (berisi11 lori dengan kapasitas lori 2,5
ton TBS/lori). Siklus yang dibutuhkan untuk di ketel rebusan lebih kurang 90-120
menit. Maka untuk menghitung CFB atau kapasitas pabrik kelapa sawit Unit
Sawit Seberang di ketel rebusan dengan menggunakan tiga unit rebusan yaitu 2
buah rebusan x 2500 kg/lori x 11 lori x 60 / 120 menit dan menghasilkan
kapasitas 27.500 kg/jam. Ketel rebusanyang digunakan berbentuk silinder
berdiameter 2.8 m dengan panjang 33.6 m dengan sistem 2 pintu.
Rebusan harus dilengkapi dengan alat ukur (Manometer dan Termometer).
Tiga buah untuk Manometer dan cukup satu buah untuk termometer untuk
mempermudah pemeriksaan tekanan kerja dan suhu perebusan. Pemasangan
manometer harus dilengkapi dengan Syhpond yang dipasangkan pada pipa inlet
agar Manometer tidak cepat rusak.

14
(a)

(b)
Gambar 5. (a). Ketel rebusan dan (b). Konstruksi ketel rebusan

Proses sterilization dilakukan dengan sistem perebusan tiga puncak (triple


peak). Namun di PKS Sawit Seberang menggunakan sistem perebusan 2 puncak .
Sistem perebusan tiga puncak yaitu jumlah puncak yang terbentuk selama proses
perebusan ada tiga puncak akibat dari tindakan pemasukan uap, penahanan, dan
pembuangan uap selama proses perebusan satu siklus. Kebutuhan uap rebusan
yang digunakan untuk triple peak di Unit Sawit Seberang yaitu 260 kg uap/ton
TBS. Proses puncak pertama berlangsung selama 15 menit dengan kran blow up
ditutup dan kran pemasukan uap (steam inlet) dibuka selama 15 menit untuk
mencapai tekanan 1,5 kg/cm2 termasuk pembuangan udara pada awal pemanasan
steam dengan tetap membuka kran kondensat selama 3 menit. Kemudian kran
steam inlet ditutup, kran pembuangan kondensat dibuka terlebih dahulu 1 menit
kemudian kran steam outlet (blow up) dibuka dengan cepat untuk menurunkan
tekanan menjadi 0 kg/cm2.Selanjutnya kran kondensat dan kran steam outlet
ditutup kembali, kemudian kran steam inlet dibuka untuk puncak kedua.Puncak
pertama berguna untuk memberikan kejutan pada buah. Kadar air pada buah akan
keluar dan pada saat kran kondensat dibuka. Setelah itu, kran kondensat dan kran
steam outlet ditutup kembali, dan kran steam inlet dibuka untuk melanjutkan
proses puncak kedua. Pada puncak kedua operasionalnya sama dengan puncak I,
tetapi tanpa pembuangan udara. Tekanan uap pada puncak II adalah 2 kg/cm2.
Waktu yang diperlukan untuk menaikkan steam ± 15 menit dan untuk
pembuangan selama 3 menit. Kran kondensat dan kran steam outlet ditutup
kembali, kemudian kran steam inlet dibuka untuk puncak III.Puncak kedua
bertujuan untuk pelunakan buah dan pematangan.

15
Puncak ketiga berlangsung selama 60 menit, kran steam inlet dibuka penuh
untuk mencapai tekanan 2,8 kg/cm2 selama 15 menit. Kemudian puncak ketiga
ditahan (holding time) selama 45-90 menit. Selama holding time dilakukan
pembuangan kondensat sebanyak 4 kali sehingga tekanan menurun sampai 2,5
kg/cm2. Setelah selesai holding time, pembukaan kran dilakukan secara beturut
mulai dari kran pembuangan kondensat, kemudian kran steam outlet sehingga
tekanan turun menjadi 0 kg/cm2.Waktu yang dibutuhkan untuk penurunan steam ±
4 menit. Setelah tekanan dalam rebusan turun hingga 0 kg/cm 2, kran kontrol
steam dibuka untuk memastikan tekanan dalam rebusan benar-benar sudah 0
kg/cm2. Puncak ketiga bertujuan untuk menyempurnakan pelunakan buah dan
prekondisi biji dan inti biji akan lekang.
Tahapan dalam pembukaan kran dan kecepatan pembukaan steam sangat
menentukan keberhasilan pembuangan udara dalam rebusan atau tandan.
Pembuangan udara dalam rebusan dilakukan sebelum puncak pertama dengan
cara menutup kran steam outlet dan tetap membuka kran air akondensat pada saat
steam dimasukkan ke rebusan. Kran air kondensat baru ditutup bila steam telah
tampak keluar silencer. Pembuangan udara dalam tandan terjadi pada perebusan
puncak I dan II dengan cara melakukan kejutan (pembuangan steam) secepat
mungkin. Kejutan atau pembuangan steam yang dianggap baik dari 2,3-2,5
cm2/kg ke 0 cm2/kg adalah maksimum 2menit.

Tekanan uap
Puncak III (Holding time)
2,8
,0
2,3

1,5

15 30 100 Waktu perebusan ( T )


00 (menit)
00
5

16
Gambar 6.Grafik Sistem Perebusan Tiga Puncak (Triple Peak)

Pada stasiun perebusan ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain
tekanan rebusan < 2,8 kg/cm2, kandungan minyak dalam air kondensat yang lebih
tinggi dari norma, kandungan minyak dalam tandan kosong di atas norma,
brondolan lekat dalam tandan kosong di atas norma, ada air kondensat yang keluar
pada saat pintu rebusan dibuka atau mengeluarkan buah masak, buah terlalu lama
menunggu untuk dituang ke autofeeder (maksimum 3 lori per line sebelum keluar
buah masak berikutnya) dan jumlah buah di autofeeder terlalu banyak atau
menumpuk.
Waktu perebusan yang terlalu lama dan terlalu cepat akan mempengaruhi
warna minyak yang diperoleh terlalu tua sehingga sukar untuk dipadatkan, losses
minyak pada air rebusan yang bertambah, buah akan kurang masak, sehingga
brondolan sukar lepas dari tandan, proses pelumatan dalam digester tidak
sempurna sehingga sebagian daging buah tidak lepas dari biji yang
mengakibatkan lossis minyak pada ampas dan biji bertambah, dan nut yang
dihasilkan tidak bersih.
Ketel rebusan harus dilakukan perawatan dan pemeliharaan (maintenance)
agar operasi atau pengolahan tetap optimal. Di Unit Sawit Seberang, ketel
rebusan akan dilakukan perawatan dan pemeliharaan harian, mingguan, bulanan,
dan tahunan. Pemeliharaan harian yang dilakukan pada ketel rebusan yaitu berupa
pembersihan dan pelumasan packing pintu serta pemeriksaan dan perbaikan
terhadap pipa yang bocor dan plat aus. Pemeliharaan minguan biasanya dilakukan
dengan memeriksa dan memperbaiki sambungan rel di badan rebusan, melumasi
bearing pintu serta memperbaiki kran-kran yang bocor. Pemeliharaan bulanan
dilakukan dengan memeriksa dan memperbaiki atau mengganti packing pintu
yang sudah aus. Selain itu dilakukan juga perbaikan kran dan baut yang telah
longgar dan memperbaiki valve dan pengaturan kembali safety valve. Sedangkan
pemeliharaan tahunan dilakukan setiap empat kali setahun sesuai dengan
rekomendasi dari IPNKK dari Departemen Tenaga Kerja.

17
3.2. Stasiun Penebahan
Stasiun penebah berfungsi untuk memisahkan atau melepaskan brondolan
dari tandannya. TBS yang telah selesai direbus dari sterilizerakan ditarik keluar
menggunakan capstand. Lori-lori yang keluar dari rebusan diangkat
menggunakan hoisting crane dan dituangkan ke auto feeder dengan memutar lori
360˚. Penuangan TBS ke auto feeder membutuhkan waktu 5 menit per lori.
Hoisting crane juga menurunkan lori ke rel yang diinginkan (Penyusunan lori
pada rel loading ramp untuk mempermudah proses pengisian tandan buah sawit
ke dalam lori).
PKS Seberang memiliki 2 unit hoisting crane yang berkapasitas 5 ton/unit
dengan berat lori yang diangkut sebesar 2,5 ton. Satu unitnya berfungsi sebagai
cadangan.Hoisting crane terdiri dari beberapa bagian, yaitu rel hoisting crane
sebagai jalannya crane sewaktu dioperasikan dan tali baja berfungsi untuk
mengangkat lori. Alat ini memiliki tiga jenis elektomotor yaitu elektromotor naik
turundan dengan kapasitas 14 kw, 2560 rpm, 380 volt, dan dengan kecepatan 6
m/menit serta elektromotor maju mundur dengan kapasitas 5.7 kw, 2560 rpm, 400
V dengan kecepatan 9 m/s. Pemeriksaan wire rope yang teratur harus dilakukan
pada hoisting crane. Wire rope tidak ada boleh yang putus walaupun hanya satu
lilitan dan harus diganti segera agar kinerja pengolahan menjadi optimal.
Pemeliharaan pada hoisting crane seperti pemberian minyak pelumas pada wire
rope, roda jalan, breake motor dan limit switch (alat pengaman) dilakukan setiap
hari. Pemeriksaan akan kotoran-kotoran di control table dan control panel juga
harus dilakukan secara berkala (seminggu dua kali). Hoisting crane harus
dikemudikan oleh seorang operator yang telah mendapatkan pelatihan dan
sertifikat kemudi dari Depnaker.

Gambar 7. (a).Hoisting crane (b). Konstruksi hoisting crane

18
Auto feeder adalah alat yang digunakan untuk menampung buah dari lori
yang dituang hoisting crane dan mengatur pemasukan tandan buah ke dalam
thresher. Alat ini dilengkapi dengan daun pendorong (scraper bar) yang terbuat
dari rantai dan digerakkan oleh elektromotor melalui sprocket sehingga tandan
buah masuk ke dalam thresher.Autofeeder memiliki putaran maksimal 2 rpm yang
dioperasikan secara manual oleh operator. Kapasitas dari autofeeder yang
digunakan PKS PT. Perkebunan Nusantara IISawit Seberang adalah 27.5 ton
TBS/jam.

 Auto feeder

(a) (b)
Gambar 8. (a).Auto feeder (b). Konstruksi auto feeder pada stasiun penebah

Pengaturan buah yang masuk dari auto feeder ke thresher disesuaikan


dengan kapasitas thresher sehingga buah tidak terlalu banyak menumpuk dalam
thresher yang dapat mengakibatkan proses perontokan tidak sempurna. Thresher
adalah alat pemisah antara tandan dengan brondolan yang berbentuk drum dengan
diameter 1.9-2.0 meter, panjangnya 3-5 meter dan dindingnya berupa kisi-kisi
dengan jarak 50 mm. Dengan sudut-sudut yang ada dalam drum, tandan diputar
dan dibanting sehingga tandan menjadi kosong dan keluar ke tempat
penampungan tandan kosong (hopper empty bunch). Kecepatan putaran thresher
adalah 23 rpm.
Pada PKS Sawit Seberang, terdapat 2 unit thresher, yaitu thresher 1,
thresher 2. Pada thresher terdapat siku pengarah dan pisau cakar yang dipasang
sejajar dengan kisi thresher. Pisau cakar ini berfungsi untuk mencabik-cabik
tandan agar brondolan yang berada di dalam ikut membrondol. Cakar dibuat dari

19
besi siku atau besi T 150 mm, panjang 70 cm sebanyak 12 buah dan dipasang
secara seimbang pada kisi thresher. Sampah dan brondolan yang ada dalam
thresher dan lantai di bawahnya, dibersihkan tiap minggu pada saat pabrik tidak
beroperasi. Hal ini dimaksudkan agar sampah tidak terikut diolah. Alat ini
menggunakan elektromotor dengan kapasitas 14 HP, 11 kw, 21 Amp, 380 Volt,
1450 rpm, dengan putaran gear box 24 rpm.

 Thresher

Gambar 9. (a). Thresher (b). Bagian thresher

Thresher 1 digunakan untuk memipil atau memisahkan tandan dengan


brondolannya. Tandan yang keluar dari thresher 1 masuk ke bunch crusher
dengan menggunakan conveyor untuk meminimalkan lossis brondolan yang
kemungkinan masih terikut dalam tandan. Dari bunch crusher, tandan tersebut
diangkut ke thresher 2 untuk dipipil kembali. Brondolan hasil dari thresher 2
diangkut dengan fruit elevator ke digester. Fruit elevator berjumlah 2 unit.

20
 Bunch cruiser
 Fungsi :
Untuk memipil buah berondolan yang masih melekat pada tandan atau
tidak terlepas dari tandannya dan tersebut dipipil kembali ke Thresher

Gambar 10. bunch cruiser

 Hopper Tandan Kosong (Tangkos)

Gambar 11. Konstruksi empty bunch conveyor

Empty bunch conveyor berfungsi sebagai alat angkut janjangan atau tandan
kosong dari stasiun penebah ke hopper janjangan. Prinsip kerjanya adalah
janjangan kosong akan terdorong keluar dari thresher dan masuk ke horizontal
empty bunch conveyor dan kemudian inclined empty bunch conveyor. Janjangan
kosong kemudian dibawa ke hopper janjangan sebelum dibawa kembali ke

21
afdeling (sebagai pupuk untuk perkembangan tanaman kelapa sawit) dengan
menggunakan truk.
.
Di dalam PKS Unit Usaha Sawit Seberang pada stasiun penebahan juga
terdapat fruit conveyor dan fruit elevator. Ada dua jenis fruit conveyor yaitu
bottom fruit conveyor dan top fruit conveyor. Fungsi dari fruit conveyor adalah
untuk mengatur aliran (line) buah dari penebah (rotary drum) ke elevator buah
untuk diteruskan ke digester. Alat ini bertipe ulir dengan kapasitas 30 ton
TBS/jam dengan elektomotor berdaya gearbox 5.5 HP, 4 Kw, 6.6 Amp, 1450 rpm
dan kecepatan 18 m/menit. Fruit elevator berfungsi untuk mengangkut brondolan
dari fruit conveyor dan kemudian dibagikan ke distributingr conveyor pembagi.
PKS Unit Usaha Sawit Seberang memiliki fruit elevator bertipe rantai dengan

1
5
2
4

kapasitas 30 Ton TBS/jam dengan elektomotor gearbox 7.5 HP, 5.6 Kw, 11.6 mp,
dengan kecepatan putar 1440 rpm.

(a) (b)
Gambar 12. (a) Fruit Conveyor (b) Fruit elevator/Kontruksi

22
3.3. Stasiun Pressan
Brondolan sawit yang telah lepas dari tandan kemudian memasuki stasiun
kempa. Stasiun kempa adalah tempat untuk proses pemisahan minyak dari sabut
dan biji kelapa sawit. Pada stasiun ini terdapat dua proses utama, yaitu proses
digester dan pressing. Fungsi digester adalah untuk melepaskan daging buah dari
biji (noten) dan melumatkannya dengan cara menekan brondolan menggunakan
pisau pengaduk yang berputar sambil dipanaskan yang digerakkan oleh elektro
motor. Digester memiliki 6 tingkat pisau yang terdiri atas 5 tingkat pisau
pengaduk dan 1 tingkat pisau lempar pada bagian bawah.Letak pisau-pisau ini
dibuat bersilangan agar daya adukan cukup besar dan sempurna. Temperatur yang
digunakan dalam proses pelumatan adalah 90-95˚C dengan tekanan sebesar 3.5
kg/cm2.PKS Unit Usaha Sawit Seberang memiliki 3 unit digester yang memiliki
volume sebesar 3.2-3.5 m3 untuk tiap digester.Gear box yang digunakan dalam
digester menggunakan elektromotor dengan spesifikasi 30 HP, 22 Kw, 38.8 Amp,
380 Volt, 1470 rpm dan kecepatan digester 30
rpm. Sistem kerja pada digester awalnya buah
hasil penebahan akan diisi penuh sebanyak 75 %,
kemudian diputar
selama 15 menit dan line press dibuka. Dalam
silinder adukan buah sawit dilumat dengan pisau-
pisau pengaduk yang berputar pada poros
sehingga daging buah terlepas dari biji. Proses
pemisahan ini dibantu dengan penambahan air dilusi 15-20% terhadap buaholah.
Setelah buah dikempa kemudian akan menuju ke mesin pressing.

23
(a) (b)
Gambar 13. (a).Digester (b). Konstruksi digester

Keterangan:
1. Gear reducer 6. Steam mantel
2. Copling 7. Pipa injeksi uap
3. Buah masuk 8. Steam trap
4. Plat aluminium 9. Saluran masa kempa
5. Pipa uap masuk

Unit digesteryang digunakan di PKS Sawit Seberang terdiri dari beberapa


bagian yaitu gear reducer yang berfungsi untuk memperlambat putaran motor agar
sesuai dengan kecepatan putar poros digester yang diinginkan, copling berfungsi
sebagai penghubung dan pemutus hubungan dari motor penggerak, saluran buah
masuk yang berfungsi untuk memasukkan buah atau brondolan ke dalam digester,
plat alumunium berfungsi sebagai dinding digester, pipa uap masuk yang
berfungsi sebagai tempat pemasukan uap kedalam digester. Selain itu unit digester
juga memiliki pisau pengaduk yang berfungsi untuk mengaduk buah didalam
digester agar terlepas dari nutnya, steam mantel yang berfungsi sebagai dinding
pemanas didalam digester, pipa injeksi uap yang berfungsi untuk menginjeksikan
uap panas kedalam digester, saluran hasil kempa yang berfungsi sebagai saluran
untuk memasukkan hasil pelumatan kedalam screw press, dan steam trap yang
berfungsi untuk mengeluarkan sisa uap dari pemakaian di digester.

3.4. Stasiun Pemurnian Minyak (Klarifikasi)


Minyak kasar (Crude Oil) yang keluar dari screw press masih mengandung
kotoran-kotoran seperti pasir dan benda kasar lainnya. Oleh karena itu perlu
dilakukan pemurnian minyak untuk mengurangi kandungan yang tidak sesuai
dengan norma yang telah ditetapkan. Stasiun pemurnian minyak berfungsi untuk
memisahkan minyak dengan kotoran serta unsur-unsur yang mengurangi kualitas
minyak dan mengupayakan kehilangan minyak seminimal mungkin.Hal ini berarti
terdapat prinsip-prinsip perlakuan untuk memisahkan antara minyak dan non-

24
minyak. Agar pemisahan tersebut dapat terjadi dengan sempurna, maka proses
dilakukan secara bertahap mulai dari sand trap tank sampai ke vacuum dryer.

3.4.1. Proses Pemurnian Minyak


1. Oil Gutter
Crude oil gutter adalah alat yang berfungsi sebagai alat yang
mengantarkan minyak hasil kempa (minyak kasar) ke sand trap tank. Ujung oil
gutter berada tepat di bawah screw press. Bentuknya seperti talang yang
terhubung langsung dengan sand trap tank. Alat ini harus dibersihkan ketika
proses akan berjalan setiap harinya. Jika tidak dilakukan perawatan dan
pembersihan secara berkala (setiap hari), maka akan semakin banyak lumpur
bercampur minyak termasuk serabut-serabut yang terjatuh di lantai. Dan hal ini
cukup membuang waktu operator hanya untuk membersihkan lantai. Kotoran
yang berjatuhan di lantai pabrik ini akan dibawah ke bak basin secara manual oleh
pekerja dengan menggunakan gerobak beko.

Gambar 14. Crude oil gutter

2. Sand Trap Tank


Sand trap tank berfungsi untuk memisahkan pasir dari cairan minyak
kasar yang berasal dari screw press. Pasir yang masih terdapat di dalam minyak
kasar mempersulit proses pengambilan minyak. Pasir juga dapat nozzle dan
piringan (disc) pada sludge separator. Oleh karena itu pasir dipisahkan di awal
proses pemurnian. Minyak yang keluar dari screw press dialirkan oleh oil gutter

25
menuju sand trap tank. Di dalam sand trap tank, pasir dan bukan minyak padat
yang berat jenisnya lebih besar dari minyak akanmengendap di bagian bawahsand
trap tank. Pasir yang mengendap di bagian bawah akan dikeluarkan melalui blow
down setiap hari sebelum memulai proses. Kapasitassand trap tank adalah 10 m3
dengan prinsip kerja berdasarkan berat jenis.Sand trap tank yang digunakan di
PKS PT Perkebunan Nusantara II Unit Usaha Sawit Seberang bertipe silinder.

Di dalam sand trap tank terdapat sand trap chamber yang berfungsi
menampung pasir yang mengendap sebelum dibuang.Minyak yang berada di sand
traptank diberi uap dengan suhu 90-95˚C.Sand trap tank ini berdiameter 2200
mm. Bagian-bagian dari sand trap tank adalah badan sand trap tank, pipa minyak
masuk, blow down, dan pipa pengeluaran. Badan sand trap tank berfungsi sebagai
dinding sand trap tank, pipa pemasukan berfungsi sebagai saluran minyak masuk
ke dalam sand trap tank, blow down berfungsi sebagai saluran pengeluaran
kotoran pada sand trap tank, dan pipa pengeluaran berfungsi sebagai saluran
keluar minyak ke vibrating screen. Minyak yang keluar dari sand trap tankakan
dialirkan menuju ke vibrating screen.

3. Vibrating Screen
Vibrating screen atau juga biasa disebut dengan vibre separator berfungsi
untuk menyaring crude oil dari serabut-serabut yang lolos dari stasiun kempa
yang dapat menggangu proses pemisahan minyak. Bandul yang diikatkan pada
elektomotor menjadi sistem kontrol dari getaran pada alat ini. PKS Unit Usaha
Sawit Seberang memiliki dua unit vibrating screen dimana masing-masing dari
alat ini memiliki dua lapisan yaitu lapisan pertama yang berukuran 20 mesh dan
lapisan kedua yang berukuran 40 mesh.
Kotoran yang tidak bisa tersaring akan masuk ke dalam bottom fruit
conveyor untuk kembali diolah di dalam digester. Kapasitas dari vibrating screen
yang digunakan di PKS Unit Usaha Sawit Seberang adalah 27,5 ton TBS/jam.
Diameter dari vibrating screen adalah 1500 mm dan tinggi 660 mm. Vibrating
screen yang digunakan

26
hanya satu unit, satu unit lagi digunakan sebagai cadangan jika sewaktu-
waktu unit yang digunakan sedang mengalami perbaikan atau maintenance.
Perawatan dan pembersihan lantai di vibrating screen juga dilakukan setiap hari
sebelum memulai proses.

Gambar 16. (a). Vibrating screen


4. Crude Oil Tank
Crude oil tank adalah tangki penampung minyak kasar hasil saringan dari
vibrating screen yang berfungsi untuk menurunkan NOS (Non Oil Solid) dan
menambah panas. Pemanasandilakukan dengan menggunakan injeksi uap
langsung hingga mencapai suhu 90-950C. Crude oil tank memiliki panjang 3000
mm, lebar 1600 mm, dan tinggi 1200 mm. Alat yang juga dikenal dengan Bak RO
ini terdiri dari beberapa bagian diantaranya saluran pemasukan yang berfungsi
sebagai saluran untuk memasukkan minyak, talang minyak yang berfungsi untuk
saluran masuk minyak, badan tangki yang berfungsi sebagai dinding pada crude
oil tank, sekat yang berfungsi untuk memisahkan minyak dengan kotoran, dan
pompa minyak yang berfungsi untuk memompakan minyak menuju VCT
(Vertical Continious Tank).

27
(a) (b)
Gambar 17. (a). Crude oil tank (b). Konstruksi crude oil tank

5. Vertical Continious Tank (VCT)


Fungsi dari VCT adalah untuk memisahkan minyak, air dan kotoran
(NOS) secara gravitasi. Dimana minyak dengan berat jenis yang lebih ringan dari
1 akan berada pada lapisan atas dan air dengan berat jenis = 1 akan berada pada
lapisan tengah sedangkan NOS dengan berat jenis lebih besar dari 1 akan berada
pada lapisan bawah.
Fungsi Skimmer dalam VCT adalah untuk membantu mempercepat
pemisahan minyak dengan cara mengaduk dan memecahkan padatan serta
mendorong lapisan minyak dengan Sludge. Temperatur yang cukup (sekitar 90 -
95 derajat Celcius) akan memudahkan proses pemisahan ini. Prinsip kerja
didalam VCT dengan menggunakan prinsip keseimbangan antara larutan yang
berbeda jenis. Prinsip bejana berhubungan diterapkan dalam mekanisme kerja di
VCT.

28
Gambar 19. (a). Vertical continiouse tank (b). Konstruksi vertical continiouse tank

7.Sludge tank
Sludge tank berfungsi untuk menampung Sludge (lumpur) yang keluar dari
tangki pemisahan (CST). Sludge tank berbentuk kerucut yang berfungsi sebagai
pengendapan Sludge sekaligus tempat pembuangan benda padatan lainnya. Agar
pemisahan lumpur dengan minyak berlangsung baik maka suhu tangki harus
dijaga agar tetap tinggi (90-95 oC) . Pemanasan dilakukan dengan injeksi uap
melalui pipa yang berbentuk spiral ke dalam tangki dan diujung pipa dipasang
steam trap yang berfungsi untuk membuang uap air yang terkandung di dalam
pipa. Sludge tank berjumlah 1 unit dengan kapasitas 40 m3. Dari Sludge tank
selanjutnya Sludge dikirimke brush strainer untuk pengolahan lebih lanjut

(a) (b)
Gambar 20. (a). Sludge Tank (Tangki Pemisah Lumpur) (b). Konstruksi oil tank

8.Buffer Tank
Buffer Tank berfungsi untuk tempat penampungan sementara untuk
menstabilkan aliran Crude Oil yang akan diolah di Sludge separator dengan

29
memanfaatkan gaya grafitasi, karena posisi balancing tank berada di atas Sludge
Separator, sehingga tidak memerlukan pompa.

Gambar 21. Buffer Tank

9.Pemisah lumpur (Sludge Separator)


Sludge separator berfungsi untuk memisahkan dan mengambil minyak
yang masih terdapat pada Sludge. Cara kerjanya adalah dengan memakai gaya
sentrifugal, minyak yang mempunyai berat jenis yang lebih rendah dari sludge
bergerak maju menuju poros dan terdorong keluar melalui disk dan dikirim ke
CST dan banyak kandungan minyak yang terdorong ke CST adalah 5-9 %.
Selanjutnya cairan yang bowl lalu mempunyai berat jenis yang lebih berat dari
pada minyak akan terdorong ke bagian dinding keluar melalui nozzle, dan dikirim
ke bak fat - pit. Kapasitas Sludge separator adalah 7000 liter dengan kecepatan
putaran 5000-6000 rpm. Suhu Sludge yang masuk ke separator diupayakan tetap
tinggi (95-100 oC) untuk melancarkan proses pemisahan di separator maka
ditambahkan air panas dengan suhu 95-100 oC.

30
Gambar 22. (a) Pemisah lumpur (Sludge Separator) (b) Kontruksi

10. Tangki Minyak (Oil Tank)


Oil tank berfungsi untuk memanaskan dan memisahkan minyak dari benda
padatan yang melayang agar pemisahan minyak di oil purifier berlangsung dengan
baik. Oil tank berbentuk silinder dan bagian bawah berbentuk kerucut yang
berfungsi untuk tempat pengendapan kotoran/sampah dan benda padatan yang
melayang.
0 0
Untuk menjaga agar suhu di dalam tangki tetap tinggi (90 - 95 C)
maka bodi tanki dilapisi rockwool dan aluminium. Pemanasan dilakukan dengan
injeksi uap melalui pipa yang berbentuk spiral ke dalam tanki dan pada ujung
pipa steam dipasang steam trap yang berfungsi untuk membuang uap air yang
terkandung dalam pipa. Minyak yang dikutip oleh oil skimmer di CST dialirkan
ke Oil tank melalui pipa dan kerangan untuk mendapat pemanasan yang lebih
lanjut sebelum diolah di oil purifier, di dalam Oil tank minyak dipanaskan dengan
menginjeksikan uap melalui pipa pemanas sehingga suhu minyak pada posisi 90-
0
95 C. Selanjutnya dari oil tank, minyak diproses pemurnian pada oil purifier.

Gambar 23. Tangki Minyak (Oil Tank)

11. Oil Purifier


Jumlah oil purifier di PKS Unit Usaha Sawit Seberang ada 3 unit masing-
masing berkapasitas 5000 liter minyak/jam. Alat ini berfungsi untuk memisahkan
minyak dengan gaya sentrifugal dan prinsip perbedaan berat jenis dimana minyak
yang mempunyai berat jenis lebih kecil akan terdorong ke bagian poros sedangkan
kotoran dan air yang berat jenisnya lebih besar akan terdorong ke arah dinding.

31
Minyak yang dikeluarkan dari oil purifier mengandung batasan maksimum kadar
air sebesar 0.20-0.50% dan kadar kotoran 0.02%.Gear box motor pada oil purifier
berdaya 7.5 HP, 5.5 Kw, 11.2 Amp, 380/420 Volt, 1440 rpm, dan kecepatan 6000
rpm.
Kinerja dari oil purifier dipengaruhi oleh kontrol valve feeding, kondisi
gear pump,strainer, disc cleaner, kecepatan putar, dan back wash. Oil purifier
terdiri dari tiga bagian penting yaitu saluran masuk yang berfungsi sebagai saluran
pemasukan minyak ke dalam oil purifier, sudut-sudut yang berfungsi untuk
memisahkan minyak dari air dan kotor, dan pipa pengeluaran yang berfungsi
sebagai saluran pengeluaran minyak untuk dibawa ke vacuum dryer.

(a) (b)
Gambar 24. (a). Oil purifier (b). Konstruksi oil purifier

12. Vacuum Dryer


Vacuum dryer berfungsi untuk mengurangi kadar air dalam minyak
dengan cara penguapan hampa. Temperatur yang diberikan pada minyak
mencapai 90-95˚C. Hal ini dilakukanagar kadar air cepat menguap. Vacuum dryer
yang digunakan di PKS Unit Usaha Sawit Seberang berjumlah 1 unit dengan
kapasitas 8 m3/jam.

32
(a) (b)
Gambar 25. (a). Vacuum dryer (b). Konstruksi vacuum dryer

Tekanan hampa udara yang ada di alat ini adalah sebesar 0.8-1.0 kg/cm2.
Standar minyak yang keluar dari vacuum dryer ini memiliki batasan maksimum
kadar air sebesar 0.15% dan kadar kotoran 0.02%. Minyak yang telah bersih
keluar dari vacuum dryer dan selanjutnya dipompakan ke storage tank. Faktor-
faktor yang mempengaruhi operasi vacuum dryer adalah kebocoran-kebocoran
yang terdapat pada tabung vacuumdryer, kondisi nozzle, temperatur, dan pompa.

13. Storage Tank


Storage tank adalah tempat untuk menyimpan sementara minyak yang
dihasilkan sebelum didistribusikan ke tempat pengolahan lain dan pelabuhan.
Jumlah storage tank yang ada di PKS Unit Usaha Sawit Seberang adalah 2 unit
masing-masing berkapasitas 1500 dan 500 ton. Namun hanya satu yang
dioperasikan sedangkan satu unit lainnya stand by jika sewaktu-waktu sedang
pemeliharaan. Hal-hal yang perlu diperhatikan di tangki ini adalah kebersihan
tangki dimana storage tank harus dibersihkan secara rutin, suhu dijaga pada 40-
60˚C, dan kondisi steam coil harus diperiksa secara rutin karena
kebocoranmengakibatkan kadar air pada CPO naik. Daerah sekitar tangki
penyimpanan harus bebas dari air, rumput liar, dan kotoran. Karena hal tersebut
maka diperlukan pembersihan yang regular pada saluran pengeluaran dan
pemotongan rumput. Tangki penyimpanan yang digunakan di PKS Unit Usaha
Sawit Seberang ini dilengkapi dengan pemanas pipa uap dengan diameter 2 inci
dan 2 unit pompa minyak dengan kapasitas 30 dan 60 m 3/jam. Pompa minyak ini
yang akan digunakan untuk memompa minyak keluar dari storage tank melalui
pipa-pipa pada saat pengisian CPO ke dalam truk tangki. Sebelum pengisian CPO,
maka tangki truk harus diperiksa terlebih dahulu dari sisa-sisa minyak dan
peralatan lainnya di dalam truk yang dicatat oleh satpam.

33
Gambar 26. Storage tank

3.5. Stasiun Pabrik Biji


Campuran ampas atau serat (fibre) dan biji (nut) yang keluar dari screw
press diproses kembali untuk menghasilkan cangkang (shell) dan serat yang
digunakan sebagai bahan bakar boiler dan inti sawit (kernel) sebagai bahan baku
yang siap dipasarkan.

3.5.1. Cake Breaker Conveyor (CBC)


Ampas press yang keluar dari screw press terdiri dariampas serat dan biji
yang masih mengandung air yang tinggi dan berbentuk gumpalan (cake ). CBC
berfungsi untuk memecah dan menguraikan ampas kempa (fiber dan noten) yang
pada saat keluar dari pengempa masih berbentuk gumpalan menjadi bagian yang
telah terurai sekaligus membawanya ke separating column untuk
dipisahkan.Bagian-bagian dari CBC yaitu electromotor yang berfungsi untuk
menggerakan poros pada cake breaker conveyor, gear reducer yang berfungsi
untuk memperkecil putaran dari elektromotorke CBC sesuai dengan kecepatan
yang diinginkan, copling yang berfungsi untuk meneruskan putaran dari
elektromotorserta juga berfungsi penghubung dan pemutus putaran.Selain itu
CBC juga memiliki bagian yang biasa disebut dengan sirip. Sirip berfungsi untuk

34
memecah ampas yang masih berupa gumpalan. Kapasitas dari CBC yang terdapat
diPKS Unit Usaha Sawit Seberang 40 Ton TBS/jam dengan kecepatan 75 rpm.

Gambar 27. Cake breaker conveyor

3.5.2.Depericarper
Depericarper adalah suatu tromol tegak dan panjang yang di bagian
ujungnya terdapat blower pengisap serta fibre cyclone yang berfungsi
memisahkan serat dengan biji. Dari cake breaker conveyor, press cake jatuh di
depericarper, kemudian serat (fibre) terhisap ke fiber cyclonedan diangkat oleh
conveyor untuk bahan bakar boiler, sedangkan biji yang lebih berat jatuh ke nut
polishing drum.Depericarper memiliki bagian-bagian yaitu motor pengerak yang
berfungsi untuk menggerakkan polishing drum, ducting yang berfungsi untuk
mengatur aliran udara didalam depericarper, ventilator yang berfungsi sebagai
tempat ventilasi udara, fiber cyclone yang berfungsi memisahkan serat dari biji
dengan memanfaatkan perbedaan berat dalam kondisi hisapan pneumatic,
menghantarkan serat ke conveyor sebagai bahan bakar boiler, dan menghantarkan
biji masuk ke polishing drum. Kapasitas dari depericarper yang digunakan di PKS
Unit Usaha Sawit Seberang yaitu 27,5ton TBS/hari dengan fan yang berkapasitas
40.000 CFM air, tekanan statistik 200 mm wg, dan dengan motor penggerak 50
HP.

35
Gambar 28. Depericarper

3.5.3. Polishing Drum


Polishing drum adalah suatu drum yang berputar yang mempunyai plat-
plat pembawa yang dipasang miring pada dinding bagian dalam dan pada
porosnya. Fungsi dari nut polishing drum adalah membersihkan sisa serat yang
masih tersisa dari deripercarper. Pada ujung nut polishing drum terdapat lubang-
lubang penyaring sebagai tempat keluarnya biji yang kemudian jatuh ke conveyor
dan dibawa oleh nut elevator. Biji yang telah dipisahkan dari ampasnya masuk ke
dalam nut polishing drum dan karena putaran drum tersebut biji-biji akan di polish
untuk melepaskan serat-serat yang masih tinggal pada biji oleh plat-plat yang ada
pada dinding dan porosnya. Kecepatan putaran drum mencapai 26-28 rpm.

Gambar 29. Polishing drum

36
3.5.4. Transport Biji (Destroner)
Destroner adalah transport biji yang dipakai untuk mengangkat biji yang
berasal dari pemisahan biji dan ampas ke nutsilo. Alat ini terdiri dari kolom
pemisah, ducting, cyclone dan ujungnya dilengkapi dengan blower hisap. Sampah
atau serat dihisap ke cyclone destroner .Biji akan masuk ke silo melalui drum
pemisah.

Gambar 30. Transpor biji (Destroner)

3.5.5. Nut silo


Nut silo berfungsi untuk menyimpan sementara biji sebelum dipecah pada
unit pemecah. Selain itu nut silo juga difungsikan untuk menurunkan kadar air
dalam inti (hidrasi)dan pemberian panas melalui nut heater. Berkurangnya kadar
air dalam inti akan menyebabkan inti mengkerut dan akan mudah lekang dari
cangkang, sehingga diharapkan kadar kotoran dalam inti produksi akibat
banyaknya cangkang lekat pada inti akan berkurang.Bagian-bagian dari nut
siloterdiri dari saluran masuk biji yang berfungsi sebagai saluran untuk
memasukkan biji kedalam nut silo, blower yang berfungsi untuk menghembuskan
udara panas, heater yang berfungsi sebagai pemanas, saluran keluar biji yang
berfungsi untuk mengeluarkan biji dari nut silo menuju ke ripple mill. Kapasitas
dari nut silo yang digunakan di PKS Unit Usaha Sawit Seberang.

37
Gambar 31. Nut Silo
3.5.6. Ripple Mill
Ripple Mill berfungsi untuk memecahkan biji seefisien mungkin dengan
kerusakan kernel seminim mungkin. Ripple mill terdiri dari 2 bagian yaitu
rotaring rotor dan stationary plate.Rotary plate berbentuk batang rotor rod,
sedangkan stationary plate berbentuk melengkung dengan permukaan bergerigi.
Sebelum masuk ripple mill, biji yang jatuh dari nut siloakan diterima oleh
vibrating feeder. Vibrating feeder mengatur banyaknya biji yang akan masuk
ripple mill.Cara kerja dari ripple mill yaitu biji yang masuk ke ripple mill akan
ditekan oleh batang rotor rod yang berputar. Biji yang ditahan oleh stationary
platejuga akan ditekan oleh batang rotor rod. Akibat penekanan ini, maka biji
akan pecah. Kapasitas dari ripple mill yaitu 6-6.5 ton biji/jam dengan kecepatan
putaran 970 rpm. Ripple mill juga dilengkapi dengan elektromotor dengan
kapasitas 11 HP, 21.3 kw, 380-415 Volt, 1460 rpm dan dengan kecepatan 960
rpm.

Gambar 32. Ripple mill

38
3.5.7. LTDS (Light Tenera Dust Separation)
LTDS berfungsi untuk memisahkan cangkang dan inti serta membawa
cangkang untuk bahan bakar boiler. Sistem pemisahan yang dilakukan disini
adalah dengan menggunakan tenaga blower hisap dust separator dengan
adjustmen damper untuk menentukan kualitas output yang dikehendaki, sehingga
cangkang pecah yang mempunyai luas penampang lebih besar akan terhisap
keatas dan dialirkan ke boiler sedangkan inti yang terkutip dipompakan ke kernel
silo. Campuran inti dan cangkang yang tidak terpisah karena memiliki berat
hampir sama dialirkan ke clybat untuk dilakukan proses pemisahannya.LTDS
Terdiri dari banyak bagian-bagian diantaranya cyclone yang berfungsi untuk
menghisap campuran cangkang dan inti, fractiosting coloum yang berfungsi untuk
mengatur kecepatan udara dari blower, cracked mixture yang berfungsi untuk
tempat masuknya campuran cangkang dan inti, air lock yang berfungsi untuk
mengunci udara, serta separating coloum yang berfungsi sebagai saluran keluar
cangkang dari inti untuk diproses di clybat. Kapasitas dari LTDS yang digunakan
di PKS Unit Usaha Sawit Seberang sebesar 6 ton biji/jam. LTDS dilengkapi
dengan fan yang mempunyai tenaga gerak 40 HP, tekanan statis 520 mm wg, dan
kapasitas 11000 CFM.

Gambar 33. LTDS (Light Tenera Dust Separation)

39
3.5.8.Kernel Grading Drum
Kernel grading drum berfungsi untuk memisahkan kernel atas dua fraksi
yaitu fraksi kecil dan fraksi besar. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan
efisiensi kernel bermutu baik dan kernel pecah .Kernel grading drum memiliki
lubang-lubang grading yang dibuat sepanjang setengah drum untuk mengutip
kernel fraksi kecil dan ditempatkan pada hydrocyclone. Untuk kernel yang tidak
lolos pada lubang ini akan dikeluarkan dari ujung drum ke kernel silo fraksi besar.

3.5.9. Claybat
a. Sistem Claybat
- Tanah liat dapat tersuspensi dalam air dan memiliki berat jenis larutan
diatas satu, tergantung dari konsentrasi tanah liat yang di larutkan.
Larutan ini dapat digunakan untuk mamisahkan dua kelompok padatan
yang memiliki berat jenis (BJ) yang berbeda maka untuk memisahkan
inti dan cangkang (BJ) sehingga inti mengapung dan cangkang akan
tenggelam.
- Agar sifat suspensi tanah liat dapat stabil maka dilakukan pompa sirkulasi
agar tidak terjadi pengendapan tanah liat. Akibat pertambahan zat yang
tersuspensi seperti debu dari inti maka terjadi perobahan berat jenis
cairan sehingga efisiensi pemisahan akan menurun oleh sebab itu perlu
dilakukan kontrol setiap waktu secara terjadwal.

Gambar 34. Claybat

40
3.5.10.Kernel Silo
Kernel silo yang terdapat di PKS Sawit Seberang ada tiga buah dengan
ukuran masing-masing rata-rata panjang 2190 mm dengan lebar 1840 mm dan
tinggi 5020 mm dengan volume ±20 m 3. Total untuk empat unit yaitu ± 80 m 3.
Untuk pemanasan kernel silo dilengkapi dengan satu blower dan satu heater.
Kernel silo dipakai untuk mengeringkan inti yang berasal dari clybat sampai kadar
air sesuai dengan norma yang telah ditentukan. Di dalam kernel silo suhu pemanas
yang digunakan dibagi menjadi tiga bagian yaitu tingkat I atau di bagian bawah
dengan suhu 60-700C. Tingkat II atau di bagian tengah dengan suhu 50-60 0C.
Tingkat III atau yang paling atas dengan suhu 40-50 0C. Kernel silo juga
dilengkapi dengan shaking grade yang digunakan untuk pengaturan pengiriman
inti ke hopper inti dan blower pneumatic. Beberapa faktor yang mempengaruhi
kinerja dari kernel silo diantaranya temperatur, waktu, kualitas dan kuantitas,
kondisi dan kebersihan heater, suplai uap, kondisi blower, kebersihan kisi-kisi
dalam silo, dan sistem First in first out.

Gambar 35. Kernel silo

3.6. Stasiun Pendukung Proses Produksi


3.6.1. Stasiun Boiler
Boiler adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air
sampai terbentuk air panas atau steam. Pada tekanan tertentu steam kemudian
akan digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Sistem boiler terdiri
dari sistem air umpan, sistem steam dan sistem bahan bakar. Penggunaan steam
terbesar terutama pada stasiun perebusan.

41
Gambar 36. Boiler
Pada PKS Sawit Seberang, panas yang digunakan berasal dari pembakaran
cangkang dan serat (fibre). Perbandingan antara serat dan cangkang yang
digunakan adalah 3:1.Panas tersebut digunakan untuk memanaskan air untuk
kemudian menghasilkan uap. Uap tersebut digunakan sebagai pembangkit tenaga
listrik (melalui turbin uap) untuk keperluan proses produksi di pabrik. Jenis ketel
uap yang digunakan adalah ketel pipa air.Boiler yang digunakan di PKS Unit
Usaha Sawit Seberangbermerek Takuma dengan tipe N 600 dan Takuma dengan
type N 600 SA. Yang digunakan hanya satu boilerdan satu lagi stanbay. Serat dan
cangkang disalurkan melalui pipa yang berasal dari stasiun pengempaan menuju
ke ruang pembakaran.Di dalam saluran tersebut, terdapatair lock yang berfungsi
untuk membagi dua bahan bakar tersebut agar pembakaran lebih merata dan lebih
cepat di dalam ruang pembakaran. Standar air dalam boiler adalah memiliki pH
10.5-11.5, kadar silika kurang dari 150 ppm, dan TDS (Total Dissolve
Solid)kurang dari 1200 ppm. Kevacuman ruang bakar boiler adalah 5-10 mmHg.

1
9 2

4
8 6
7 5
3

Gambar. 37 Sistim Kerja


Boiler
42
Keterangan Gambar 50 :
1. Draft control 6. Air Compressor
2. Induced draft fan 7. Secondary forced draft fan
3. 2nd damper dust collector 8. Electric feed water pump
4. 1st damper dust collector 9. Steam driver feed water pump
5. Forced draft fan 10. Rotary feeder

Dalam PKS Unit Usaha Sawit Seberang terdapat 2unit boiler, tetapi hanya
satu saja yang dipakai, sedangkan yang lain digunakan sebagai cadangan (stand
by). Kapasitas uap boiler adalah 18 ton uap/jam, kapasitas air umpan 20 ton/jam,
dan kapasitas uap produksi 18-19 ton uap/jam. Pipa-pipa air (header) sebagai
tempat pemanasan air ketel yang dibuat sebanyak mungkin, sehingga penyerapan
panas lebih merata dengan efisiensi tinggi.Di dalam boiler terdiri dari dua ruang
pembakaran. Ruang pertamaberfungsi sebagai ruang pembakaran yang dihasilkan
dan dialirkan langsung melalui pipa air yang berada dalam ruangan dapur dimana
terdiri dari pipa-pipa air dari drum ke header samping kanan dan kiri. Dalam
ruang ini udara pembakaran ditiupkan oleh blower penghembus udara (forced
draft fan) melalui lubang-lubang kecil sekeliling dinding pembakaran dan melalui
kisi-kisi bagian bawah dapur (fire grates).
Ruang kedua merupakan ruang gas panas dari uap diterima dari hasil
pembakaran dari ruang pertama. Dalam ruang kedua ini sebagian besar dari panas
dari uap diterima oleh pipa-pipa drum atas ke drum bawah. Jumlah udara yang
diperlukan diatur melalui valve (air draft controller) yang dikendalikan oleh
panel.Sedangkan dalam ruang kedua gas panas dihisap oleh blower hisap
(induced draft fan) sehingga terjadi aliran panas dari ruang pertama ke ruang
kedua dapur pembakaran. Di dalam ruang kedua dipasang sekat-sekat sedemikian
rupa yang dapat memperpanjang permukaan yang dilalui gas panas tersebut dapat
memanasi seluruh bagian luar drum bawah.Drum atas berfungsi untuk tempat
pembentukan uap yang dilengkapi dengan sekat-sekat penahan butir-butir air
untuk memperkecil kemungkinan air terbawa oleh uap. Uap hasil penguapan
didalam drum atas belum dapat dipergunakan untuk turbin uap, oleh karena itu

43
harus dilakukan pamanasan uap lebih lanjut melalui pipa uap lanjutan
(superheater pipe) sehingga uap benar-benar kering dengan suhu 260-280oC.
Drum bawah berfungsi sebagai tempat pemanasan air ketel yang didalamnya.
Pada bagian dalam drum dipasang plat-plat pengumpul endapan lumpur untuk
memudahkan pembuangan keluar (blow down).Gas bekas setelah ruang
pembakaran kedua dihisap oleh blower hisap (Induced Drft Fan) melalui saringan
abu (dust collector) dibuang ke udara bebas melalui cerobongasap (chimney).
Pengaturan tekanan di dalam dapur dilakukan oleh corong keluar blower(exhaust)
dengan valve yang diatur secara otomatis oleh hidrolisis (furnace draft
controller).

Katup pengaman (safety valve) pada boiler bekerja untuk membuang uap
apabila tekanan melebihi tekanan yang telah ditentukan sesuai dengan penyetel
klep pada alat ini. Umumya katup pengaman tekanan uap basah (saturated steam)
diatur pada tekanan 21 kg/cm2, sedang pada katup pengaman uap kering diatur
pada tekanan 20,5 kg/cm2.Selain itu, juga terdapat gelas penduga (sight glass)
yang merupakan alat untuk melihat tinggi air didalam drum atas untuk
memudahkan pengontrolan dalam ketel selama operasi.Agar tidak terjadi
penyumbatan pada kran uap dan air pada alat ini, perlu dilakukan pengecekan air
dan uap secara periodik pada semua kran selama minimal 3 jam sekali. Gelas
penduga dilengkapi dengan alat pengontrolan air otomatis yang akan berbunyi
pada saat ketel kelebihan ataukekurangan air.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian ketel uap
(boiler) diantaranya yaitu menjaga ketinggian air di upper drum (60-70%),
melakukan pemeriksaan pada sistem otomatis dan peralatan pompa dalam
keadaan baik yang dapat dikontrol dengan gelas penduga, menjaga tekanan steam
pada tekanan kerja (18-20kg/cm2), melakukan pemeriksaan terhadap ruang bakar
agar bahan bakar tidak menumpuk dengan cara menyetel dumper IDF dan
mengorek kerak dari ruang bakar secara manual, melakukan blowdown sesuai
rekomendasi dari laboratorium setiap 3 jam sekali, dan melakukan pembersihan
pipa dengan shoot blower secara periodik.

44
Abu boiler pada tungku harus dikeluarkan secara bertahap (satu jam
sekali) dan abu ini harus dibuang pada tempat yang telah ditentukan. Boiler
mempunyai tekanan pada tungku, oleh karena itu kipas FD harus dihentikan
terlebih dahulu sebelum mengorek abu boiler keluar dari dapur boiler.
Pembersihan pada jelaga pipa juga harus dilakukan empat jam sekali.

3.6.2. Power Plant


a. Turbin Uap
Turbin uap merupakan alat untuk mengkonversikan energi dari steam
menjadi energi mekanis (putaran) untuk membangkitkan energi listrik melalui
alternator.Rangkaian pembangkit listrik tenaga uap terdiri dari 1 unit turbin uap, 1
unit gear box, dan 1 unit alternator.PKS Unit Usaha Sawit Seberang melakukan
sinkronisasi terhadap turbin uap dan diesel genset. Artinya, pada saat memulai
proses pengolahan, diesel dioperasikan terlebih dahulu. Kemudian jika
sinkronisasi berhasil, bebangenset diturunkan dan beban turbin uap
dinaikkan.Frekuensi dan voltase turbin adalah 50 Hz dan 380 volt.

Gambar 38. Turbin uap

Setiap turbin dilengkapi dengan katup keselamatan (safety valve) untuk


melindungi turbin dari kondisi pengoperasian yang tidak aman. Pada
pengoperasin turbin, katub turbin harus terbuka dengan mekanis pegas, dan
menutup katup pada tekanan tertentu agar turbin berhenti. Peralatan ini juga
berhubungan dengan overspeed, dimana jika putaran terlalu tinggi, maka plunger
akan tersambung dan akan memicu katup tertutup. Uap yang digunakan pada
turbin merupakan uap kering.

45
Dalam pengoperasian turbin uap perlu memperhatikan berbagai faktor
diantaranya yaitu melakukan pengontrolan tekanan uap yang masuk 16-21kg/cm2,
melakukan set frekuensi agar diperoleh daya listrik yang diharapkan, memeriksa
oil gear box, memberikan pelumas pada bearing shift,memeriksa temperatur oli
40-50˚C dan tekanan oli2-5 bar, dan memeriksa kebersihangenerator secara
periodik.Turbin uap memiliki beberapa alat pengaman yang menunjang
keselamatan bagi para pekerja pada saat pengoperasiannya. Alat pengaman yang
terdapat pada turbin adalah OTM (Overspeed Trip Mechanism), LOPT (Low Oil
Pressure Trip), ES (Emergency Switch), HTT (High Temperature Trip) dan
OTM(Overspeed Trip Mechanism)merupakan alat pendukung sistem untuk
kecepatan lebih yang terdiri dari sebuah baut eksentrik yang dilengkapi dengan
sebuah pegas yang diatur untuk bekerja pada 110-115% dari kecepatan normal.
Low oil pressure trip merupakan alat untuk mencegah bearing tergesek
oleh poros ketika sistem lubrikasi gagal. Kontak pengaman tekanan otomatis
mendeteksi setiap tekanan minyak yang turun dan membunyikan sirene untuk
menandai bahaya kepada operatoratau mengaktifkan katup solenoid yang
langsung menghentikan operasi turbin secara darurat dengan secepatnya menutup
control trip valve.Emergency switch yang terpasang di panel listrik merupakan
alat pengaman dalam kondisi darurat yang dapat digunakan oleh
operator.Penekananemergency switchakan mengaktifkan solenoid yang akan
menutup control trip valve.High temperature trip merupakan pengaman yang
digunakan untuk mencegah kebakaran atau rusak pada bearing akibat temperatur
oli melewati batas maksimum. Kontak pengamansecara otomatis akan mendeteksi
setiap kenaikan temperatur dan akan membunyikan sirene untuk menandai adanya
bahaya kepada operator atau mengaktifkan katup solenoid yang langsung
menghentikan operasi turbin dengan secepatnya menutup control trip valve.

b. Back Pressure Vessel (BPV)


Back pressure vessels berfungsi untuk mengumpulkan uap dari turbin
yang mempunyai tekanan 3 kg/cm2 dan akan didistribusikan kepada unit yang
membutuhkan uap. PKS Unit Usaha Sawit Seberang memiliki BPV (Back
Pressure Vessels) yang dilengkapi dengan Manometer, Termometer, dan bypass

46
yang dilengkapi dengan reducer valve. Alat ini adalah bejana tekanan yang
menampung exhaust system dari turbin uap untuk disalurkan ke stasiun-stasiun
pengolahan yang membutuhkan steam terutama pada stasiun perebusan. Suplai
utama steam berasal dari steam bekas turbinuap. Jika steam yang dibutuhkan tidak
mencukupi, dapat dibantu dengan mengalirkan uap langsung dari turbin yang
dikirim melalui pipa induk melalui kran bypass. Uap sisa dari turbin yang masuk
BPV akan dikonversi menjadi uap basah dengan cara menginjeksikan air.
Tekanan steam yang digunakan dalam proses pengolahan adalah 2.8-3.5 kg/cm 2.
Dalam pengoperasianback pressure vessel (BPV) perlu memperhatikan faktor-
faktor agar tidak terjadi kesalahan (kerusakan dan bahaya) diantaranya yaitu
menjaga tekanan BPV pada 2.8-3.0 kg/cm2, membuang uap jika tekanan melebihi
3 kg/cm2, dan mengatur distribusi steam agar semua proses pengolahan berjalan
lancar.

(a ) (b)
Gambar 39. (a) Back presseur vessels (b) Konstruksi back presseur vessels

Keterangan Gambar 52 (b) :


A. Uap untuk proses produksi F. Steam exhaust
B. Inlet dari turbin G. Tekanan uap di dalam BPV
C. Injeksi uap langsung dari ketel H. Suhu uap di dalam BPV
D. Outlet uap ke stasiun rebusan I. Outlet air kondensat
E. Outlet uap ke storage tank J. Tekanan uap ke stasiun rebusan

c. Diesel Genset

47
Genset (Generator Set) merupakan generator dengan dieselengine yang
berfungsi sebagai start awal proses dan juga pada saat tenaga yang dihasilkan dari
turbin tidak mencukupi untuk proses pengolahan. Jika turbin mampu digunakan
untuk proses pengolahan, maka diesel genset tidak perlu dioperasikan. Tetapi bila
beban lebih maka diesel gensetakan digunakan secara paralel dengan turbin uap.
Pada akhir pengolahan, diesel genset mulai dioperasikan kembali.Voltase pada
diesel genset harus dipastikan berada pada batas normal yaitu 380-400 volt.Pada
saat tenaga yang dihasilkan turbin berkurang, maka genset diparalelkan dengan
turbin.Genset juga diperlukan untuk menggantikan peran turbin pada saat pabrik
tidak mengolah. Dalam pengoperasian genset harus memperhatikan berbagai
faktor diantaranya melakukan pemeriksaan bahan bakar (solar) dan melakukan
pencucian tangki solar secara periodik, memperhatikan tekanan minyak dan
temperatur mesin, memeriksa ketinggianpelumas, memperhatikan getaran mesin
saat beroperasi, dan mengganti penyaring sesuai umur pemakaian.

d. Kontrol Panel
Kontrol panel adalah lemari pembangkit untuk mendistribusikan tenaga
listrik ke stasiun-stasiun di dalam pabrik dan peralatan lain yang menggunakan
listrik. Lemari ini dilengkapi dengan saklar-saklar pembagi ke stasiun-stasiun,
kapasitor, syncroizer, dan alat-alat ukur listrik.Faktor-faktor yang perlu
diperhatikan dalam pengoperasian kontrol panel adalah pada saat memasukkan
saklar utama, semua saklar pembagi dalam keadaan bebas. Apabila mesin akan
diparalelkan maka voltase frekuensi dari kedua mesin harus sama, kemudian
jarum synchronizer tepat pada angka nol dan lampu paralel padam. Posisi sebelum
saklar dimasukkan harus diperiksa agar saklar pembagi dalam keadaan bebas dan
alat ukur dalam keadaan baik.

48
BAB IV
PENGOLAHAN AIR DAN LIMBAH

4.1. Stasiun Pengolaahan Air


Air merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk mendukung proses
pengolahan di PKS Sawit Sebrang. Selain digunakan untuk keperluan proses, air
juga digunakan untuk keperluan :
1. Air domestik, yaitu: air yang digunakan diluar kegiatan pabrik ( kantor dan
perumahan )
2. Air proses, yaitu : air yang digunakan pada boiler untuk menghasilkan
steam dan untuk proses pengolahan

Beberapa bagian dari unit pengolahan di PKS Sawit Sebrang:


a. Pengendapan air
Sumber air pada PKS berasal dari sungai yang terletak ± 2 km dari lokasi
pabrik. Air dari sungai dipompakan kedalam bak pengendapan awal. Bak atau
kolam yang berfungsi untuk mengendapkan kotoran-kotoran yang terikut aliran
air. Bentuk kolam persegi panjang, pengendapan awal ini tanpa penambahan
bahan kimia, hanya berdasarkan gaya gravitasi sehingga partikel-partikel solid
yang mempunyai berat jenis yang lebih besar dari air akan turun kedasar kolam.
Bila endapan yang terkumulasi keran untuk blowdown yang terletak disamping
kolam. Pompa yang digunakan ada dua buah dengan kapasitas elektro motor 30-
35 ton/jam.
b. Claryfier
Air yang telah mengalami pengendapan awal di grif chamber selanjutnya di
krim ke clarifire untuk di injesikan dengan tawas dan soda kostik dari dosis pam
untuk mengkoalugasikan partikel – partikel kecil yang belum terendamkan di grit
chamber. Clayrfier berbentuk tabung vertikal dangan bagian bawahnya berbentuk
kerucut. Kapasitas sebenarnya 80 ton/jam dengan tinggi 10 meter . air umpan
masuk ke claryfier memlalui bagian bawah. Pada ujung pipa masuk diberi tudung

49
kerucut untuk mencegah tekanan baik dari air dalam claryfier juga dilengkapi
dengan kran pembuangan lumpur. Air dari clarifier ke bak reservoir.

c. Bak reservoir
Bak berfungsi untuk menampung air dari claryfier untuk dialirkan kembali
ke filters press. Bak reservoir merupakan bak beton yang tertutup dengan seng
dan berbentuk empat persegi panjang. Volume bak reservoir 60 m2.

d. Filter press / sand filter


Pada filter press air yang masuk mengandung padatan tersuspensi disaring
melalui pasir – pasir halus / pasir kwarsa. Partikel – Partikel padatan akan tertahan
dipermukaaan pasir. Untuk mempercepat laju penyaringan maka saringan ini
diberi tekanan sebesar 24 lb/¿2. Selanjutnya air keluar pada bagian bawah menuju
tower tank untuk disimpan sebelum dikirim kepengolahan selanjutnya. Filter press
mempunyai kapasitas 10 ton/jam dan jumlah 3 buah yang masing- masing
dilengkapi dengan sebuah barometer.

e. Water tower
Dari filteress press air akan di timbul di water tower yang merupakan tangki
silir dengan kapasitas 80m 2dengan tinggi 15 meter. Fungsi water tower adalah
untuk menimbun air yang telah dibersihkan dan untuk mengatur pendistrubusian
air.

f. Demineral plant
Air umpan yang akan dikirim ke boiler harus melalui deminaralisasi terlebih
dahulu. Pada unit ini terdiri dari kation exchanger dan anion exchanger dengan
tujuan membuang mineral - mineral logam yang terikut didalam air dengan
memgunakan ion exchanger resin.

Pada tangki katin exchanger berisi resin penukar ion amberlite IR 120 (NaOH)
yang berguna untuk mengikat unsur – unsur H 2 S O4 yang berguna mengikat sisa

50
asam seperti CL dan SO4 2. Air yang keluar dari silikat yang rendah. Kebutuhan
resin anion sekitar 50 Kg/2 hari dan kebutuhan resin kation sekitar 40 Kg/ 2 hari.

g. Deaerator Tank
Dearerator Tank adalah tangki pemanasan air umpan ketel yang berbentuk
drum yang dilengkapi dengan system injeksi terbuka, barometer dan thermometer.
Pada tangki ini juga menghasilkan ion – ion terlarut seperti O2 yang
menyebabkan korosi didalam boiler, suhu berkisar antara 80-85° C.

h. Feed Tank
Merupakan tangki penampungan air yang sudah di mineralisasi yaitu air
dipakai untuk ketel dengan kapasitas 115 ton/jam dan dilengkapi dengan gelas
level air/gelas penduga.

4.2 Pengolahan Limbah


Pada dasarnya pengolahan kelapa sawit merupakan proses untuk
memperoleh minyak dari buah kelapa sawit dengan proses perebusan, pemipihan,
pelumatan, pemisahan minyak dengan sludge, pemurnian, pengeringan dan
penimbunan limbah padat dan cair yang dapat mecemari lingkungan apabila
langsung dibuang. Unit pengolahan limbah PKS Sawit Sebrang bertujuan untuk
menaikan mutu buang limbah pabrik sehingga dapat dimanfaatkan kembali dan
menjaga agar limbah hasil proses tidak mencemari lingkungan sekitar terutama
yang berbentuk cairan.
 Karakteristik Limbah
Pembuangan air limbah sejak beroperasi, sebelum dibuang dilakukan
pengendapan dengan menggunakan :
 Bak fat pit
 Bak papan
 Kolam pengendapan
Standard mutu baku dibolehkan menurut MENLH (1995) yaitu BOD 100 ppm,
COD 350 ppm minyak dan lemak 25 ppm dan pH 6-9 dimana kualitas ini

51
umumnya melebihi baku mutu yang dibolehkan. Hal ini berarti limbah cair PKS
harus diproses lagi karna kolam tanah anaerobik tidak efektif dan efisien.

Lokasi pembuatan kolam air limbah disebelah timur pabrik dengan luas 5,6 Ha.
Proses yang akan dilakukan secara garis besar sebagai berikut :
 Pengurangan kadar minyak dari limbah PKS
 Penurunan suhu
 Netralisasi limbah PKS
 Pembiakan bakteri

Pengendalian dan Pengoperasian antara lain :


 Pengasaman dalam suasana anaerob
 Perombakan anaerob primer dan skunder
 Pematangan anaerob
 Perombakan secara falkutatif dan anaerob
 Pengurangan jumlah padat

Pengolahan atau penanganan limbah cair dari hasil pengolahan CPO di PKS Sawit
Sebrang dengan cara lain yaitu :
a) Pendinginan
Limbah cair yang harus dikutip minyak pada fatpit mempunyai karakteristik
bersifat asam dengan pH sekitar 4 - 4,5, dengan suhu 70 - 78° C. Sebelum limbah
dialirkan ke kolam pengasaman, suhu diturunkan menjadi 40 - 45° C agar bakteri
mesophilik dapat berkembang dengan baik.
b) Pengasaman
Setelah dari limbah kolam pendingin limbah akan mengalir pengasaman yang
lebih berfungsi sebagai pra kondisi bagi limbah sebelum masuk ke kolam
anaerobic. Pada kolam akan dirombak menjadi asam lemak yang mudah
menguap.
c) Resirkulasi

52
Resirkulasi dilakukan dengan mengalirkan cairan dari kolam anaerobic yang
terakhir kesaluran masuk kolam pengasaman yang bertujuan menaikan pH,
menmbah nutrisi bakteri dan membantu pendinginan.

d) Pembiakan bakteri
Bakteri yang digunakan dalam proses anaerobic pada awalnya dipelihara
dalam suatu tempat yang bertujuan untuk memulai pembiakan bakteri. Didalam
pembiakan awal perlu ditambahkan nutrisi yang merupakan sumber energy dalam
metabolisme bakteri seperti urea, phosphate, dan limbah yang telah diencerkan.
Setelah bakteri menunjukan pekembangan dengan indikasi timbulnya gelembung
gas, bakteri tersebut dimasukkan ke kolam pembiakan yang sebelumnya di isi
dengan limbah matang.
e) Proses anaerobic
Kolam pengasaman limbah akan mengalir ke kolam anaerobic primer. Dalam
kolam anaerobic, bakteri anaerobic yang aktif akan membentuk asam organik dan
gas karbon oksida. Selanjutnya bakteri akan mengubah asam organik menjadi
methana dan karbon dioksida.
f) Proses fakultatif
Proses yang terjadi dalam kolam ini adalah penonaktifan bakteri anaerobic.
Aktivitas ini dapat diketahui dengan pada permukaan kolam dan dijumpai scrum
dan cairan tanpa kehijauan.
g) Proses aerobic
Proses yag terjadi dalam kolam ini adalah proses aerobic, pada kolam ini
telah tumbuh ganggang dan mikroba heterotrop yang membentuk plok. Hal ini
merupakan proses penyediaan oksigen yang dibutuhkan mikroba.

53
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
- PKS Sawit Seberang adalah perusahaan yang bergerak dalam pengolahan
kelapa sawit menjadi CPO (Crude Palm Oil) dengan memiliki kapasitas
produksi 36,7 ton/jam.
- Bahan baku TBS (Tandan buah segar) berasal dari kebun PT Perkebunan
Nusantara II Unit Usaha Sawit Seberang.
- Faktor keberhasilan pengutipan minyak dipengaruhi oleh temperatur dan
air pengencer (delution)
- Limbah yang dihasilkan dari proses produksi berupa limbah padat, cair,
gas dan B3. Limbah padat yang dihasilkan berupa tandan kosong, serat
sawit, cngkang dan abu ketel uap (boiler).
- Cangkang dan serat kelapa sawit dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler.

5.2. Saran
- Mohon ditingkatkan program preventif maintenance dilakukan, banyak
kebocoran pada pipa, baik pipa steam maupun pipa minyak yang
menimbulkan kerugian.
- Semua alat dapat diperbaiki agar hasil produksi lebih maksimal.

54
- Alat pelindung diri (APD) para pekerja lebih diperhatikan untuk
menghindari kecelakaan kerja.

55