Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS ASPEK ERGONOMIS

PADA FASILITAS LABORATORIUM KOMPUTER


SMP POMOSDA TANJUNGANOM NGANJUK

ABASTRAK: aspek ergonomis dari design kursi belajar terkait dengan dimensi-dimensi yang
meliputi, stabilitas produk, mudah di naik turunkan, penyangga punggung, fungsional ukuran
alas tempat duduk dan bahan material. Penelitian ini untuk mengetahui gambaran penerapan
aspek ergonomis pada perancangan kursi laboratorium komputer di SMP Pondok Modern
Sumber Daya At’Taqwa ( SMP POMOSDA). Rancangan penelitian meliputi responden penelitian
sebanyak 50 siswa.

KATA KUNCI:

Ergonomis, perancangna kursi, laboratorium komputer smp pomosda

Pendahuluan

Penerapan factor ergonomi sangat penting untuk dilakukan, utamanya pada sector industri
maupun jasa, yaitu dalam pengaturan sikap, tata cara , sikap, dan pererncanaan alat kerja yang
tepat. Masalah yang ditimbulkan dari factor tidak ergonomis mempunyai dampak yang buruk
pada orang, yang akan menyebabkan gangguan secara fisik maupun psikologi. Gangguan ini
biasanya meyebabkan pekerjaan atau aktifitas dimana terjadi ketidak sesuaian dengan tubuh,
dengan kapasitas fisik tubuh seseorang.

Faktor gangguan spefisik tersebut antara lain disebabkan oleh gerakan yang berulang-
ulang, mengangkat bebab berat, pengerahan tenaga yang berlebihan, kontrak stress, gerakan
tubuh yang janggal dan akibat terjadi dapat terjadi nyeri pinggang, linu pada bagian
pergelangan tangan, nyeri dibagian pinggang, bahkan dapat menyebabakn trauma pada tulang
belakang yang berakibat fatal seperti kelumpuhan.

Lingkungan laboratorium computer SMP POMOSDA tidak lepas dari praktek. Proses belajar
mengajar di Laboratorium Komputer SMP POMOSDA ini terdiri dari sekitar 30% teori dan 70%
praktek. Berdasarkan keadaan tersebut maka kebutuhan akan sarana prasarana untuk praktek
sangat tinggi. Dari pelajaran praktek tersebut para siswa melakukanya dengan duduk, jika
duduk dalam waktu yang lama maka akan mengakibatkan dampak keluhan yang di alami para
siswa seperti kelelahan ataupun nyeri punggung. Salah satu penyebabnya yaitu faktor kursi
yang digunakan kurang argonomis salah posisi duduk ataupun waktu yang terlalu lama saat
duduk.

Pelajaran praktek memanfaatkan sistem teknologi informasi sehingga menggunakan


perangkat komputer. Pekerjaan komputer merupakan pekerjaan yang memerlukan
konsentrasi, yang dilakukan dalam keadaan kondisi duduk dan merupakan pekerjaan yang
monoton. Pekrjaan ini merupakan pekerjaan yang membutuhkan perangkat tkhnologi
informasi yang ergonomis, seperti design kursi dan jarak pandang dari mata ke monitor
komputer, posisi duduk saat praktik komputer, kuran meja praktek dan ketebalan monitor
Komputer.

POKOK MASALAH

Bagaimana penerapan aspek ergonomi pada analisis fasilitas kursi di Laboratorium


Komputer di Sekolah Menengah Pertama Pondok Modern Sumber Daya At’Taqwa ?

METODE

Metode yang digunakan dalam metode ini menggunakan metode penelitian deskriptif
kualitatif. Lokasi penelitian adalah Laboratorium Komputer SMP POMOSDA Tanjunganom
Nganjuk. Dalam penelitian ini, skala yang digunakan untuk variable design kursi pada
laboratorium komputer SMP POMOSDA menggunakan skala interval yang di indikasikan
dengan penggunaan skala likert untuk setiap jawaban atas setiap pertanyaan yang ada pada
kuisioner.

LANDASAN TEORI

1. Ergonomi merupakan dasar ilmu yang penerepanya berusaha untuk


menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya,
dengan tujuan tercapainya produktifitas dan efesiensi yang setingi-tingginya
melalui pemanfaatan faktor manusia seoptimal-optimalnya.
Sasaran ergonomi adalah seluruh tenaga kerja, baik dari sektor modern
maupun dari sektor tradisional dan informal. Pada sektor modern pada bentuk
pengaturan sikap, tata cara dan perencanaan yang tepat sebagai syarat penting
bagi efesiensi dan produktifitas kerja yang tinggi. Sementara itu pada sektor
tradsional pekerjaan dilakukan dengan tangan, menggunakan peralatan,
dengan sikap-sikap badan dan cara-cara kerja yang secara ergonomis yang
secara ergonomis bisa diperbaiki. Peralatan kerja dan mesin dalam industri –
industri masih banyak yang didatangkan dari luar negri dan perlu penyesuaian
sepelurnya dengan bentuk dan ttubuh tenaga kerja di Indonesia pada
umumnya.
Berdasarkan pada uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan
aspek ergonomis merupakan usha untuk menyerasikan pekerjaan dan
lingkungan terhadap orang atau sebaliknya, dengan tujuan tercapainya
produktifitas dan efesiensi yang tinggi melalui pemanfaatan faktor manusia
seoptimal-optimalnya.

2. DESIGN KURSI KERJA


Aspek ergonomis dalam suatu proses rancang bangun fasilitas kerja murupakan
faktor penting dalam menunjangn peningkatan pelayanan jasa produksi,
terutama dalam proses perancangan ruang dan fasilitas akomodasi. Dari
pengalaman penerapan aspek ergonomis dari berbagai bidang pekerjaan telah
terbukti kenaikan produktifitas. Produktifitas yang optimal tidak akan tercapai
jika penerapan ergonomi dalam berbagai aktivitas tidak dijalankan, bahakan
akan menyebakab banyak masalah bagi tenaga kerja.
Perlunya memperhatikan faktor ergonomis dalam prsoses rancang bangun
fasilitas pada era sekarang ini murapakan sesutau yang tidak ditawar-tawar lagi.
Dalam rangka untuk mendapatkan sesuatu perancangan yang optimum dari
suatu ruang dan fasilitas akomodasi maka hal-hal yang harus diperhatikan
adlah faktor-faktor seprti panjang dari suatu dimensi tubuh manusia baik dalam
posisi satis maupun dinamis.
Hal-hal yang perlu dipertimbngkan adalah berat badan, pusat masa dari
suatu bagian tubuh manusia, bentuk tubuh dan jarak pergerakan untuk
melingkar dari tangan dan kaki. Selain itu, harus didapat pula data yang sesuai
tubuh manusia. Pengukuran tersebut mempermudah untuk didapat jika
diaplikasikan pada data perseorangan. Akan tetapi semakin banyak jumlah
manusia yang diukur dimensi tubuhnya maka kan semakin kelihatan variasi
tubuh yang satu dengan tubuh lainya baik keseluruhan maupun bagian
tubuhnya.
Tempat duduk selayaknya dapat mudah diatur (adjustable). Untuk kursi
kantor yang biasa, diharapkan telapak kaki terletak pada permukaan lantai, dan
tinggi duduk dapat diatur sedemikian rupa sehingga tidak ada tekanan pada
bagian bawah paha. Ukuran-ukuran kursi seharusnya didasarkan pada ukuran-
ukuran yang sesuai. Penyesuaian tinggi dan posisi sandaran punggung sangat
diharpakan dalam pemilihan ukuran yang telah ditetapkan dan jangkauan untuk
penyesuain tinggi tempat duduk, harusnya dibedakan menjadi dua kategori
kursi untuk bekerja untuk kursi rendah atukah kursi tinggi.
Untuk kursi rendah, digunakan pada bangku dan meja. Tujuanya adalah
membiarkan kaki istirahat langsung diatas lantai agar mengurangi tekanan pada
sisi bagian bawah paha kebanyakan dari berat badan dipindahakan melalui
tulang menonjol pada bagian pantat. Sedangkan sebagian berat dari kaki
ditopang oleh seluruh kaki.
Suatu berat yang minimum seharusnya bisa diatasi oleh sebagian dalam dari
paha karena tekanan ini akan menghentikan aliran darah dan menyebabkan
kaki kesemutan. Terlalu rendahnya tempat duduk , dapat menimbulkan
masalah-maslah pada tulang belakang. Ukuran tubuh akan membentuk dasar
tinggi tempat duduk yang jaraknya dari tumit kaki kepermukaan yang lebih
rendah dari paha samping lutut dengan tekukan sudut 90 derajat. Ketebalan sol
sepatu dapat ditambahkan ke definisi tinggi memeberikan suatu tempat yang
tinggi pada posisi duduk yang maksimum. Untuk menghindari tekanan pada
paha diharapkan tinggi tempat duduk tersebut lebih rendah bebera sentimeter
dari paha.
Kursi tinggi dengan ketinggian tempat duduk yang dapat diatur, diharapkan
dapat menyangga badan bagian atas sedemikian rupa sehingga tinggi siku
berada dibeberapa sentimeter diatas pekerjaan, ukuran yang biasaya adalah
jarak vertikal dari titik terendah dari tekukan siku sampai permukaan untuk
duduk horisontal. Problem utama dari kursi ini adalah terbatasnya gerak untuk
lutut. Design ulang untuk kursi yang memiliki ruang untuk lutut lebih
diinginkan. Jelasnya, sandaran kaki merupakan bagian yang paling penting dari
suatu kursi yang tinggi, tanpa sandaran tersebut, beban kaki bagian bawah akan
dipindahkan pada sisi dalam dari lipat paha.
Untuk memberikan keleluasan ruang posisi, sandaran kaki dibuat pada
kerangka bangku tersebut.
Sandaran kaki selayaknya dapat diatur untuk tinggi yang tidak tergantung pada
tinggi tempat duduk untuk panjang kaki yang lebih rendah.
Setelah ketinggian kursi didapat, selanjutnya menentukan ketinggian meja
kerja yang sesuai dan konsisten dengan ruang yang diperlukan untuk paha dan
lutut. Jika meja di design tetap (tidak di naik turunkan) maka design kursi
hendaklah bisa dinaik turunkan sesuai dengan ketinggian meja, sehingga perlu
adanya sandaran kaki.
Perancangan kursi kerja hendaknya dikaitkan dengan jenis pekerjaan, posisi
tubuh yang diakibatkan gaya yang dibutuhkan dalam bekerja, arah pandangan
mata dan kebutuhan akan perlunya merubah posisi. Kursi untuk kerja dengan
posisi didesign dengan metode floor-up yaitu dengan berawal dari permukaan
lantai, untuk menghindari tekanan bawah paha.
Penggunaan kursi rendah ataukah tinggi, disesuaikan dengan kebutuhan.