Anda di halaman 1dari 11

BAYI PREMATUR

DISUSUN OLEH :

1. AJENG TRIANING RUM


2. ANNISA NABILA
3. ANNISYA YUSIKA PUTRI

DOSEN PEMBIMBING : ELITA VASRA, SST,M.Keb

POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG


PRODI DIII KEBIDANAN
2020
A. Pengertian
Bayi pematur adalah bayi yang dilahirkan dalam usia gestasi kurang dari 36
minggu. Secara fisiologis, kondisi bayi ini prematur adalah sebagian masih masih sebagai
janin dan sebagai bayi baru lahir. Bayi prematur yang dilahirkan dalam usia gestasi < 37
minggu mempunyai resiko tinggi terhadap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan
prematuritas, antra lain sindroma gangguan pernafasan idiopatik (penyakit membran
hialin), aspirasi pneumonia karena refleksi menelan dan batuk belum sempurna,
perdarahan spontan dalam ventrikel otak lateral, akibat anoksia otak (erat kaitannya
deangan gangguan pernafasan, hiperbilirubinemia, karena fungsi hati belum matang),
hipotermia.
Persalinan kurang bulan (preterm) adalah persalinan pada umur kehamilan 20-37
minggu dengan berat badan anak 500-2500 gram di hitung dari hari pertama haid terakhir
(ACOG, 1995). Badan kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa bayi prematur adalah
bayi yang lahir pada usia kehamilan 37 minggu atau kurang. Himpunan kedokteran
fetomaternal POGI di semarang tahun 2005 menetapkan bahwa persalinan preterm adalah
persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu.

B. Etiologi
1) Banyak kasus persalinan prematur sebagai akibat proses patogenik yang merupakan
mediator biokimia yang mempunyai dampak terjadinya kontraksi Rahim dan
perubahan serviks, yaitu:
a) Aktivasi aksis kelenjar hipotalamus-hipofisis-adrenal baik pada ibu maupun janin,
akibat stres pada ibu atau janin
b) Inflamasi desidua-koriamnion atau sistemik akibat infeksi asenden dari traktus
genitourinaria atau infeksi sistemik.
c) Perdarahan desidua
d) Peregangan uterus patologik
e) Kelainan pada uterus atau serviks
2) Kondisi selama kehamilan yang beresiko terjadinya persalinan preterm adalah:
a) Faktor janin dan plasenta
 Perdarahan trimester awal
 Perdarahan antepartum (plasenta previa, sulosio plasenta, vasa previa)
 Ketuban pecah dini (KPD)
 Pertumbuhan janin terhambat
 Cacat bawaan janin
 Kehamilan ganda atau gemeli
 Polihidramnion
b) Factor ibu
 Penyakit berat pada ibu
 Diabetes mellitus
 Preeklampsi atau hipertensi
 Infeksi saluran kemih / genital/ intra uterin
 Penyakit infeksi dengan demam
 Stress psikologik
 Kelainan bentuk uterus atau serviks
 Riwayat persalinan preterm atau abortus berulang
 Inkompetensi serviks (panjang serviks kurang dari 1 cm)
 Pemakaian obat narkotik
 Trauma
 Perokok berat
 Kelainan immunologi atau kelainan rhesus

C. Gambaran Klinis
Bayi prematur menunjukkan belum sempurnanya fungsi organ tubuh dengan keadaanya
lemah:
a. Fisik
1) Bayi kecil
2) Pergerakan kurang dan masih lemah
3) Kepala lebih besar dari pada badan
4) Berat badan <2500 gram
b. Kulit dan kelainan
1) Kulit tipis dan transparan
2) Lanugo banyak
3) Rambut halus dan tipis
4) Genetalia belum sempurna
c. Sistem syaraf
1) Refleks moro
2) Refleks menghisap, menelan, batuk belum sempurna
d. Sistem muskuliskeletal
1) Axifikasi tengkorak sedikit
2) Ubun-ubun dan satura lebar
3) Tulang rawan elastis kurang
4) Otot-otot masih hipotonik
5) Tungkai abduksi
6) Sndi lutut clan kaki fleksi
7) Kepala menghadap satu jurusan
e. Sistem pernapasan
1) Pernapasan belum teratur, sering apnue
2) Frekuensi nafas bervariasi

D. Tanda dan gejala persalinan prematur


1) Tanda-tanda dan gejala persalinan prematur sebagian besar sama dengan persalinan
normal.
2) Tanda-tandanya terkadang samar sehingga sulit untuk dikenali dan tak terduga.
a) Kontraksi setiap 10 menit atau lebih sering dalan satu jam (lima atau lebih
kontraksi Rahim dalam satu jam)
b) Kram seperti menstruasi yang di rasakan di perut bagian bawah yang terjadi terus-
menerus atau hilang timbul. Kram perut ini bisa terjadi dengan atau tanpa diare.
c) Nyeri punggung bawah yang tersa di bawah pinggang yang terjadi terus-menurus
atau hilang-timbul .
d) Tekanan panggul yang terasa seperti bayi mendorong ke bawah.
e) Cairan encer yang keluar dari vagina. Cairan vagina meningkat jumlahnya atau
berubah warna.
3) Jika ibu hamil merasa mengalami tanda-tanda dan gejala di atas, segeralah
menghubungi tenaga kesehatan terdekat.

E. Komplikasi Prematur
Seringkali komplikasi yang terjadi pada bayi prematur adalah yang berhubungan dengan
fungsi imatur dari sistem organ. Komplikasi-komplikasi yang bisa terjadi meliputi:
a. Paru-paru
Produksi surfaktan seringkali tidak memadai guna mencegah alveolar collapse dan
atelektasis, yang dapat terjadi Respitarory Distress Syndrome.
b. Neurologik
Bayi prematur beresiko memiliki masalah neurologic akut seperti, perdarahan
intracranial dan depresi perinatal. Penyebab utama kelainan neurologis pada bayi-bayi
baru lahir adalah enselopati iskemik hipoksik (EIH), disamping perdarahan
perventrikuler dan intraventrikular yang menyebabkan kelainan neurologis terutama
pada bayi preterm. Jejas pada otak yang terjadi pada masa perintal ini dikenal sebagai
penyebab utama gangguan neurologis berat dan terjadi dampaknya dalam jangka
panjang yang dikenal dengan Cerebral Palsy pada bayi dan anak. Manifestasi
preddominan yang dikaitkan dengan palsiserebral adalah gangguan gerak yang dapat
berupa karakter spastik, ataksik atau ateloid. Disfungsi motoric ini biasanya disertai
gangguan neurologic lainnya seperti retardasi mental, gangguan visual kortikal dan
kejang.
c. SSP (Susunan syraf pusat)
Disebabkan tidak memadainya koordinasi refleks menghisap dan menelan, bayi yang
lahir sebelum usia gestasi 34 minggu harus diberi makanan secara intravena atau
melalui sonde lambung. Immaturitas pusat pernafasan di batang otak mengakibatkan
apneic spells (apnea sentral).
d. Kardiovaskular
Gangguan yang sering dialami adalah hipotensi akibat hipovolemia, misalnya
kehilangan volume karena memang volumenya yang relative kecil atau gangguan
fungsi jantung dan vasodilatasi akibat sepsis. Kejadian PDA (patent ductus
arteriosus) sering terjadi dan dapat mengakibatkan terjadinya gagal jantung kongestif.
e. Infeksi
Akibat defisiensi respon imun seluler dan humoral, bayi preterm mempunyai resiko
terjadinya infeksi lebih besar dibandingkan bayi aterm.
f. Pengaturan suhu
Bayi prematur mempunyai luas permukaan tubuh yang besar dibandingkan rasio
masa tubuh, oleh karena itu ketika terpapar dengan suhu lingkungan di bawah netral,
dengan cepat akan kehilangan panas dan sulit untuk mempertahankan suhu tubuhnya
karena efek shivering pada prematur tidak ada
g. Saluran pencernaan (Gastrointestinal tract)
Belum sempurna sehingga tidak mampu menyerap ASI dengan baik. Pengosongan
lambung terlambat sehingga menimbulkan desistensi lambung dan usus.
h. Volume perut yang kecil dan reflek menghisap dan menelan yang masih immature
pada bayi prematur, pemberian makanan melalui masogastrik tube dapat terjadi
resiko aspirasi.
i. Ginjal
Fungsi ginjal pada bayi prematur masih immatur, sehingga batas konsentrasi dan
dilusi cairan urine kurang memadai seperti pada bayi normal.
j. Hiperbilirubinemia
Pada bayi prematur bisa berkembang hiperbilirubinemia lebih sering dibandingkan
dengan bayi aterm, dan kemicterus bisa terjadi pada level bilirubin serum paling
sedikit 17 mg/dl (170 umol/L) pada bayi kecil, bayi prematur yamg sakit.
k. Hipoglikemia
Hipoglikemia merupakan penyebab utama kerusakan otak pada periode perinatal.
Kadar glukosa darah kurang dari 20 mg/100cc pada bayi kurang bulan atau bayi
prematur diaggap menderita hipoglikemia.
l. Mata
Retrolental fibroplasia, kelainan ini timbul sebagai akibat pemberian oksigen yang
berlebihan pada bayi prematur yang umur kehamilannya kurang dari 34 minggu.
Tekanan oksigen yang tinggi dalam arteri akan merusak pembuluh darah retina yang
masih belum matang (immature)
m. Tendensi
Pembuluh darah masih rapuh, sehingga permeabilitasnya tinggi, yang memudahkan
terjadinya ekstravasasi cairan dan mudah terjadinya oeema. Terjadi gangguan
keseimbangan factor pembekuan darah sehingga terjadi perdarahan. Dalam keadaan
yang gawat.

F. Faktor – faktor yang mempengaruhi kematian bayi premature di Indonesia


1. Faktor lingkungan
 Tipe wilayah
Bayi premature yang lahir dari ibu yang tinggal di wilayah perkotaan memiliki
kecenderungan 1,572 kali untuk mengalami kematian dibandingkan dengan bayi
premature yang lahir dari ibu yang tinggal di wilayah perdesaan dengan asumsi
variabel penjelasan lainnya konstan
2. Faktor maternal
 Tipe kelahiran
Bayi premature yang lahir dengan tipe kelahiran kembar memiliki kecenderungan
3,3698 kali untuk mengalami kematian dibandingkan dengan bayi prematur yang
lahir dengan tipe kelahiran tunggal dengan asumsi variabel penjelas lainnya dalam
keadaan konstan
 Usia kehamilan
Bayi premature yang lahir pada usia kehamilan kurang dari 32 minggu memiliki
kecederungan 7,249 kali untuk mengalami kematian dibandingkan dengan bayi
prematur yang lahir pada usia kehamilan antara 32-36 minggu dengan asumsi
variabel penjelas lainnya konstan
3. Faktor masa persalinan
 Komplikasi persalinan
Bayi prematur yang lahir dari ibu yang mengalami komplikasi persalinan
memiliki kecederungan 2,0976 kali untuk mengalami kematian dibandingkan
dengan bayi prematur yang lahir dari ibu yang tidak mengalami komplikasi
persalinan dengan asumsi variabel penjelas lainnya konstan dengan proses
persalianan sesar dan lahir ditempat yang memiliki fasilitas kesehatan.

G. Sebab-sebab kematian bayi prematur:


Kematian perinatal sebagian besar (70%) terjadi akibat persalinan prematur, terutama
disebabkan oleh (Manuaba,2007):
1) Prematuritas alat vital.
2) Gangguan tumbuh kembang paru-paru sehingga tidak mampu beradaptasi dengan
dunia diluar kandungan
3) Perdarahan intrakranial
4) Kemungkinan infeksi karena daya tahan tubuh yang rendah
5) Gangguan adaptasi dengan nutrisi yang di berikan
6) Kegagalan dalam memberikan pertolongan adekuat di rumah sakit tersier

H. Penanganan pada persalinan preterm:


1) Penatalaksanaan medic kasus yang terjadi pada usia kehamilan belum cukup, dengan
adanya resiko persalinan preterm:
a) Infeksi
 Ditatlaksana dengan antibiotika spectrum luas dosis tinggi.
 Demam atau hiperpireksia ibu yang mungkin terjadi juga harus diobati, karena
hiperpireksia dapat berakibat buruk pada sirkulasi janin.
b) Kontraksi
 Kontraksi yang beresiko tinggi adalah kontraksi dengan frekuensi lebih dari 3-
4 kali per jam.
 Dalam 48 jam menjelang partus, kontraksi akan meningkat (his) sampai 2-4
kali setiap 10 menit dengan intensitas yang makin kuat, makin lama dan
makin sering.
 Pada kasus dengan kontraksi, dilakukan terapi tokolisis, dengan obat-obatan
beta-agonis (misalnya salbutamol, terbutalin), sambil terus mengawasi
keadaan ibu dan keadaan janin.
 Pengobtan diberikan dengan infus, kemudian dapat di lanjutkan dengan obat
oral bila pasien di pulangkan.
 Bila kontraksi hilang, pemberian tokolisis dapat dihentikan.
c) Pemicu pematangan paru janin:
 Untuk akselerasi pematangan paru janin, di berikan preparat kortikosteroid
(misalnya deksametason, betametason) yang akan menstimulasi produksi dan
sekresi surfaktan di paru janin.
 Ideal di berikan minimal selama 2x24 jam.
2) Metode yang digunakan untuk menghentikan kontraksi pada kehamlan preterm:
seperti yang di sebutkan sebelumnya upaya penhentian persalinan preterm sulit untuk
dilakukan dan sering tidak efektif, tindakan dan pengobatan yang sering tidak efektif.
Tindakan dan pengobatan yang sering dilakukan adalah:
a) Tirah baring
 Dengan menyuruh ibu berbaring lebih enak pada posisi tubuhnya.
 Keberhasilannya mungkin di sebebkan oleh perasaan tenteram pada dari ibu
b) Magnesium sulfat
 Peranan magnesium mungkin terletak pada sifat antagonisnya terhadap
kalsium.
 Untuk menhindari intoksikasi oleh magnesium sulfat maka harus di
perhatikan refleks patella tetap ada dan depresi respiratori.
ASUHAN KEBIDANAN
DAFTAR PUSTAKA

Maryunani, Anik & Eka Puspita Sari.2013. Asuhan Kegawat Daruratan Maternal dan Neonatal.

Jakarta Timur : CV Trans Info Media.

Lisnawati, Lilis.2013. Asuhan Kebidanan Terkini Kegawat Daruratan Maternal dan Neonatal.

Jakarta Timur : CV Trans Info Media

Darma Sari, Sagita.2017.Kehamilan,persalinan,bayi preterm dan post term disertai evidence

based.Palembang : NoerFikri