Anda di halaman 1dari 7

PEMBAHASAN

 Kelembaban

Suhu dan kelembaban yang fluktuaktif cukup menguras energi bagi peternak guna
memberikan kondisi nyaman pada ayam. Kelembaban udara mencerminkan banyaknya air
yang terikat oleh udara. Semakin tinggi kelembaban maka kandungan air yang terikat
semakin tinggi. Tingkat kelembaban akan mempengaruhi suhu yang dirasakan oleh ayam.
Hal ini karena pengeluaran panas tubuh dilakukan secara evaporasi.

Perlu dipahami satu hal, bahwa suhu yang dirasakan oleh ayam (suhu efektif) bukan suhu
yang tertera pada termometer (suhu aktual). Saat kelembaban tinggi, suhu yang dirasakan
oleh ayam menjadi lebih tinggi dibandingkan suhu yang tertera pada termometer. Sebagai
contoh, saat kelembaban 70% dan suhu yang terbaca pada termometer adalah 29,4°C, maka
suhu efektif yang dirasakan oleh ayam adalah 31,6°C dengan kondisi kecepatan angin 0
m/detik

 
 

 Curah Hujan

Bagi kalangan peternak terutama peternak unggas, intensitas hujan yang tinggi ini
menimbulkan pesimisme akan adanya hasil ternak yang lebih bagus dari bulan-bulan
sebelumnya. Hal ini cukup beralasan karena berdasarkan pengalaman para peternak, pada
musim hujan akan banyak permasalahan yang akan timbul, diantaranya penyakit pada ternak,
kondisi lingkungan, kerusakan pakan akibat jamur dan berbagai masalah lainnya. Langkah
untuk mengatasi permasalahan ini bisa difokuskan pada sumber daya, pakan, dan manajemen.
Musim hujan harus kita hadapi dengan penuh persiapan. Perubahan lingkungan yang
terjadi saat musim hujan sudah cukup untuk membuat ayam stres. Untuk mencegah
terjadinya wabah penyakit dan penurunan produktivitas, peternak perlu melakukan
penyesuaian dan sedikit modifikasi terhadap manajemen pemeliharaan ketika musim hujan.
Berikut di antaranya:

a) Modifikasi manajemen kandang

Dalam hal ini peternak perlu memperbaiki kondisi kandang serta melakukan penanganan
feses, sekam, dan serangga dengan tepat agar tidak mempengaruhi kondisi ayam. Pada
musim hujan, datangnya angin kencang tidak bisa diperkirakan sebelumnya dan ketika
muncul tidak bisa kita hindari. Untuk itu, peternak perlu mengatur sistem buka tutup tirai
kandang dengan sigap. Jika terjadi hujan disertai angin kencang, bagian sisi tirai yang arah
anginnya menuju ke dalam kandang harus segera ditutup agar air hujan tidak tampias.
Bahkan jika perlu tirai di setiap sisi kandang ditutup sebagian. Meski begitu, tetap sediakan
celah ventilasi pada dinding kandang bagian atas dengan lebar 20 cm untuk pertukaran udara.
Ketika masa brooding, peternak juga bisa memasang tirai dua lapis (tirai luar dan dalam) agar
DOC tidak mengalami kedinginan ekstrim akibat angin.

Hal yang Harus dibenahi pada kandang :

1. Perbaiki atap kandang yang bocor untuk menghindari air hujan masuk ke kandang.
2. Lebarkan atap jika dirasa tampias air hujan masih mengenai ayam.
3. Lakukan pengerukan feses di kolong kandang tiap 3 hari sekali. Namun jika aktivitas ini
sulit dilakukan setiap 3 hari karena terkendala hujan deras, peternak perlu mengantisipasi
terbentuknya akumulasi amonia dalam feses dengan memberikan bahan pengendali
amonia pada ayam yaitu Ammotrol.
4. Setelah feses dikeruk, tanah di bawah kandang dibuat cembung. Kemudian dibuat
parit/selokan kecil di sekitar kandang untuk menampung air dari tumpukan feses
kemudian disalurkan ke tempat pembuangan limbah. Sistem ini akan mencegah
terbentuknya genangan air di bawah kandang, meminimalisir bau, dan membantu
mempercepat keringnya feses. Pastikan drainase parit tersebut lancar.
5. Sekam yang lembab dan basah harus segera diganti atau ditambah dengan sekam baru.
Namun sebelum ditambah sekam baru, sekam yang basah tadi sebaiknya ditaburi kapur
tohor terlebih dahulu untuk membunuh mikroba di dalamnya.
6. Jika sekam yang baru kita beli dalam kondisi lembap atau basah, sekam harus segera
ditebar di ruangan yang terlindung (kandang kosong) agar terkena angin dan mengering.
Setelah kering, sekam tersebut bisa disemprot dengan desinfektan (Formades) untuk
meminimalkan pertumbuhan penyakit, baru kemudian digunakan. Sekam yang disimpan
di gudang atau kandang kosong harus sering dibalik agar tidak lembap dan tidak
ditumbuhi jamur.
7. Tambahkan jumlah pemanas atau naikkan suhu pemanas pada periode brooding sehingga
suhu kandang sesuai dengan kebutuhan DOC. Ketika suhu kandang terlalu dingin, DOC
akan terlihat bergerombol di bawah pemanas, diam, meringkuk, dan malas bergerak untuk
makan maupun minum.
8. Tetap nyalakan lampu di siang hari jika kondisi kandang dan lingkungan mendung/gelap
agar konsumsi pakan tetap terkontrol.
9. Berantas lalat, nyamuk, dan serangga lainnya dengan insektisida. Untuk membasmi lalat
bisa menggunakan produk Larvatox, Flytox dan Delatrin.

b) Perlakuan terhadap air minum

Seperti disampaikan di awal bahwa masalah yang terjadi di musim hujan berkenaan
dengan penurunan kualitas air di antaranya fisik air menjadi keruh, bau, dan bercampur
partikel organik/lumpur, kadar Fe meningkat, pH asam, dan terkontaminasi mikroba patogen.
Penurunan kualitas air ini harus ditangani dengan memberi beberapa perlakuan seperti
filtrasi, penambahan bahan kimia, dan sanitasi dengan antiseptik/desinfektan.

1. Filtrasi

Filtrasi (penyaringan) sederhananya dilakukan menggunakan alat filter yang telah


dirancang khusus untuk menyaring partikel organik/material lumpur dan logam (zat besi, dll)
dalam air. Alat filtrasi ini bisa dipasang pada sumber air sebelum air tersebut masuk ke
penampungan air, atau dipasang ketika air keluar dari penampungan sebelum disalurkan ke
kandang.

2. Penambahan bahan kimia

Selain penyaringan, penambahan bahan kimia juga bisa dilakukan untuk memperbaiki
kualitas fisik air. Contohnya dengan penambahan tawas sebanyak 2,5 gram tiap 20 liter air
sebagai pengikat partikel dalam air, atau PAC (polyaluminium chloride) sebanyak 80 ppm
(80 mg/liter air) sebagai penjernih air. Sedangkan untuk menurunkan pH asam, peternak bisa
mencampur Netrabil ke dalam air minum.

3. Sanitasi

Sanitasi air minum di antaranya bisa dilakukan dengan cara pemberian antiseptik
(Desinsep/Antisep/Neo Antisep/Medisep) atau kaporit (12-20 gram tiap 1.000 liter air).
Sebagai usaha pengendalian kontaminasi mikroba patogen dan agar mikroba baik di usus
ayam tidak terganggu, program sanitasi air bisa dilakukan dengan sistem 3-2-3. Artinya 3
hari pemberian antiseptik, 2 hari air minum biasa dan 3 hari pemberian antiseptik lagi,
demikian seterusnya berselang-seling. Sanitasi air ini sebaiknya dilakukan sesudah
penyaringan/pengendapan agar antiseptik bekerja lebih efektif karena senyawa dalam
antiseptik mudah terpengaruh oleh partikel organik. Khusus air minum yang dicampur
dengan Desinsep/kaporit, setelah diendapkan minimal 8 jam baru bisa digunakan untuk
melarutkan obat/vitamin. Selain itu, jangan berikan air yang mengandung antiseptik selama
48 jam sebelum dan 24 jam sesudah vaksinasi karena virus vaksin akan rusak atau mati
apabila kontak dengan antiseptik.
c) Perlakuan terhadap pakan

Kualitas pakan harus tetap terjaga hingga dikonsumsi oleh ayam. Oleh karena itu, peternak
sebaiknya melakukan beberapa tindakan seperti:

1. Memastikan kadar air dalam pakan tidak lebih dari 14%. Jika terpaksa menerima bahan
baku dengan kadar air >14%, maka segera keringkan dengan alat pengering khusus
(oven) atau lakukan pengaturan stok agar bahan baku pakan bisa digunakan sesegera
mungkin. Jika perlu tambahkan mold inhibitor, seperti asam propionat untuk
menghambat pertumbuhan jamur.
2. Memastikan tidak ada karung pakan yang sobek untuk mencegah kontak antara pakan
dengan udara atau percikkan air.
3. Menerapkan sistem first in first out (FIFO: penggunaan berdasarkan tanggal kedatangan
bahan pakan) atau first expired first out (FEFO: penggunaan berdasarkan tanggal
kadaluarsa). Jadi, prioritaskan bahan baku pakan berusia lebih lama untuk digunakan
terlebih dahulu. Tetapi jika ada bahan baku berkualitas kurang baik dan tidak
memungkinkan disimpan lebih lama, dapat digunakan terlebih dahulu meskipun baru
datang.
4. Melakukan pembatasan masa penyimpanan pakan yaitu tidak melebihi 10 hari.
5. Mengondisikan gudang pakan cukup ventilasi, mendapatkan sinar matahari langsung,
tidak lembab, posisi lantai lebih tinggi dari permukaan tanah, dan terhindar dari debu.
6. Gunakan pallet kayu di bawah tumpukan pakan. Pilih kayu yang tidak mudah lapuk dan
sulit basah seperti kayu jati atau meranti. Usahakan pakan tidak menempel pada dinding
gudang. Berikan jarak minimal 50 cm dari dinding gudang.
7. Selain jamur, perhatikan pula adanya kutu, tikus, dan serangga. Hewan tersebut pun bisa
memakan dan merusak pakan sehingga kadar nutrisinya menurun serta berpotensi
menyebarkan penyakit.
8. Penambahan toxin binder (pengikat mikotoksin) ke dalam pakan. Contoh toxin binder
yang bisa digunakan karena aplikasinya mudah dan efektif mengikat mikotoksin adalah
Freetox.

d) Meningkatkan daya tahan tubuh ayam

Dalam hal ini kita perlu meningkatkan kekebalan tubuh ayam agar tahan terhadap kondisi
lapang. Tindakan yang dilakukan yaitu:

1. Pemberian multivitamin (Fortevit dan Vita Stress) dan imunostimulan (Imustim).


2. Melaksanakan program vaksinasi sesuai jadwal. Beri perhatian terhadap penyakit-
penyakit yang meningkat saat musim hujan seperti ND, AI, Gumboro, korisa dan IB.
3. Melaksanakan program deworming (pemberian obat cacing) rutin terutama di peternakan
ayam petelur yang memiliki masa hidup lebih lama. Beri obat cacing saat ayam berumur
1 bulan atau saat pindah ke kandang baterai. Pengulangan obat berdasarkan tipe kandang
dan jenis cacing yang akan dibasmi. Untuk kandang postal berikan tiap 1 bulan
sedangkan kandang baterai tiap 3 bulan. Menghadapi cacing gilik, deworming sebaiknya
diulang tiap 1-2 bulan, untuk cacing hati tiap 3-4 bulan sedangkan cacing pita tiap 1
bulan.
4. Melakukan program cleaning program (aplikasi antibiotik sebagai tindakan pencegahan).
Akan lebih efektif jika peternak juga memiliki data kejadian penyakit sehingga cleaning
program dapat benar-benar dilakukan sebelum penyakit terjadi.

 Kondisi Udara

Broiler modern dengan tingkat pertumbuhan yang sangat cepat sehingga menuntut kualitas
udara yang baik. Kualitas udara yang buruk menyebabkan potensi genetik ayam tidak dapat
tercapai secara maksimal.
Ventilasi adalah pergerakan udara yang memungkinkan terjadinya pertukaran udara kotor
dengan udara segar. Udara yang harus dibuang mengandung CO, CO2, NH3, kelembaban
tinggi dan temperatur panas. Udara yang kotor harus diganti dengan udara segar. Buruknya
dengan kualitas udara dapat dilihat dari kondisi litter dan pertumbuhan bulu ayam. Litter
yang cepat menggumpal dan pertumbuhan bulu yang kotor dan kusam menunjukkan kurang
baiknya manajemen ventilasi dan terlambatnya brooder.Pergerakan udara dapat
meningkatkan pengeluaran panas dalam kandang dengan cara konduksi dan evapori.
Efektifitass pergerakan udara dalam kandang tergantung pada umur ayam dan bulu yang
menutupi tubuhnya. Pergerakan udara dapat dibuat dengan menggunakan kipas sirkulasi yang
ditempatkan untuk meningkatkan kecepatan angin sesuai dengan level yang dibutuhkan oleh
ayam.
Cara menciptakan pergerakan udara dalam kandang dapat dibagi menjadi dua tipe, yakni:

1. Kipas sirkulasi untuk kandang tipe terbuka


2. Ventilasi sistem tunnel untuk kandang tertutup

Kipas dengan ukuran 36 inchi mampu menghasilkan 9.000 CFM, dapat menimbulkan
pergerakan udara dengan area seluas 5 x 15m. Ventilasi tunnel merupakan metode  yang
dapat digunakan untuk menjaga agar kebutuhan temperatur yang dibutuhkan oleh ayam
dimusim panas terpenuhi, tetapi hal ini hanya efektif jika didesain dan diatur secara benar.
Ventilasi tunnel bertujuan mengeluarkan udara panas di dalam kandang dengan
menggunakan kipas dengan kecepatan sebesar 400-500 FPM. Pergantian udara terjadi satu
kali tiap satu menit atau kurang.
Efek wind-chill yang disebabkan oleh udara berkecepatan tinggi (400-500 FPM) dapat
menurunkan temperatur efektif sebesar 10-12◦C.
 Intensitas Cahaya
a. Pencahayaan Ayam Broiler

Pencahayaan berfungsi untuk membantu memaksimalkan pertambahan berat badan


harian.Pencahayaan dalam kandang harus merata keseluruh bagian kandang. Untuk anak
ayam, berikan cahaya terang sebesar 20 lux. Setelah satu mingggu intensitas cahaya
dikurangi secara bertahap menjadi 5-10 lux.
Pencahayaan merupakan teknik manajemen yang penting dalam pemeliharaan ayam
broiler untuk meningkatkan pertumbuhan dan menekan kematian. Program pencahaayaan
yang dimakssud terdiri dari tiga aspek yaitu gelombang cahaya, intensitas cahaya, durasi dan
penyebaran cahaya.
Ayam yang mendapat cahaya 17 sampai 20 jam sehari semalam dengan intensitas
sekitar 5 - 10 lux akan memberikan efek performance yang lebih baik dibandingkan dengan
24 jam full mendapat cahaya. Dengan catatan selama 7 hari pertama ayam tetap mendapat
cahaya selama 23 jam pada intensitas minimal 20 lux.
Teknis praktis program pencahayaan dapat dilakukan dengan kondisi dan ketersediaan
peralatan di kandang. namun demikian program pencahayaan ini harus konsisten dilakukan
sejak awal masa pemeliharaan. Hal yang lebih penting lainnya adalah peternak harus
menyediakan timer otomatis yang disetting sedemikian rupa untuk memudahkan saat
menghidupkan dan mematikan lampu.
Contoh program pencahayaan untuk ayam broiler yang telah dimodifikasi terdiri dari 2 tipe
yaitu:
Program Lama Penyinaran sesuai dengan umur sampai bobot panen diatas 2 kg.
Umur Terang (jam) Gelap (jam)
0 24 0
1-4 23 1
5-7 15 9
8 - 22 16 8
23 - 28 18 6
29 - panen 23 1

Program Lama Penyinaran sesuai dengan umur dengan bobot panen 1 kg sampai 2 kg
 Umur  Terang (jam)  Gelap (jam)
 0  24  0
 1 - 4  23  1
 5 - 7  18  6
 8 - 22  19 5
 23 - Panen  23  1
Catatan: jika terdapat banyak kasus kelumpuhan maka program pencahayaan disesuaikan
dengan memperpendek masa gelap

b. Intensitas Cahaya

Pencahayaan secara tradisional hanya ada satu sistem, yaitu pencahayaan secara terus
menerus yang telah diterapkan oleh para petrnak broiler. Hal ini dilaksanakan untuk
memaksimalkan pertumbuhan berat badan harian. namun penelitian menunjukkan durasi dan
intensitas pencahayaan yang lebih pendek justru sangat berpengaruh positif terhadap
performance broiler. Hal ini erat hubungannya dengan imunitas ayam, karena pada fase gelap
hormon melatonin baru disekresikan. Hormon melatonin berfungsi untuk meningkatkan
imunitas.
Intensitas cahaya sebaiknya diturunkan secara bertahap sejak hari ke-7 dari 20 lux
menjadi 10 lux. Oleh karena itu intensitas cahaya harus merata ke seluruh bagian kandang.
Untuk menghitung kebutuhan lampu di dalam kandang dapat digunakan tabel di bawah ini:
Daya Watt Lampu Pijar Lampu Neon
20 170 830
25 230 1000
40 430 2600
80 730
100 1600
Formula ini digunakan untuk ketinggian bola lampu 2 meter di atas ayam. Perhitungan
sederhana adalah 1 watt/1,33 meter setara dengan 10 lux.
Intensitas cahaya   = 2 x B x lumen
                                W x L x H2
Keterangan:
B                          = jumlah bola lampu (pijar/neon)
w                          = lebar kandang
L                          = panjang kandang
H                          = tinggi knadang