Anda di halaman 1dari 13

SEJARAH KODIFIKASI HADITS

Kodifikasi hadits atau pembukaan hadits merupakan salah satu hal penting dalam
pembelajaran ilmu hadits. Jika dilihat dari sejarahnya, kodifikasi haditst ini memiliki
beberapa versi. Para pakar sejarah memiliki argumentasi berbeda-beda. Ada ulama
pakar sejarah yang mengatakan, saat Rasulullah masih ada, penulisan hadits
dilarang. Para sahabat diarahkan fokus pada penulisan Al-Qur’an. Dengan alasan,
khawatir dengan Al-Qur’an. Ada yang mengatakan penulisan hadits baru dimulai
pada masa sahabat. Ada pula yang mengatakan bahwa penulisan hadits secara resmi
dimulai pada abad ke-2 Hijriyah.

Menurut Hasbi Ash-Shiddiqi, sejarah kodifikasi haditst dibagi menjadi tujuh


periodesasi. Masa wahyu dan pembentukan masyarakat (ashr wahy wa al-taqwim)
(tahun 13 SH-11 H); periode pembatasan dan penyelidikan hadits (ashr tatsbut wa
al-iklal min al-riwayah) (tahun 12 H-40 H); periode penyebaran hadits ke berbagai
wilayah (ashr intisyar riwayat ila al-amshar) (tahun 41 H- akhir abad I H); periode
penulisan dan pembukuan hadits secara resmi (ashr al-kitabat wa al-tadwin) (awal
abad II H-akhir); periode pemurnian, penyehatan, dan penyempurnaan (ashr tajrid
wa altashih wa al-tanqih) (awal abad III H-akhir); periode pemeliharaan, penertiban,
dan penghimpunan (ashr tahdzib wa al-tartib wa al-istidrak wa al-jam’u) (abad IV
H hingga jatuhnya Baghdad pada 656 H); periode pensyarahan, penghimpunan, dan
pentakhrijan (al-syarh, wa al-jam’u wa takhrij) (tahun 656 H sampai sekarang).1

Sejarah kajian hadits dari masa ke masa mengalamai perkembangan yang sangat
signifikan. Mulanya, kajian hadits dari lisan ke lisan berkembang menjadi tulisan.
Perubahan tersebut tak lain sebagai bentuk kekhawatiran akan hilangnya hadits-
hadits Rasulullah. Perkembangan hadits mencapai puncaknya ketika memasuki
periode tabi’in, tepatnya pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada saat itu,
hadits resmi dikodifikasi guna menanggulangi tersebarnya hadits-hadits palsu yang
dipelopori para pelaku bid’ah.

1
Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqy, “Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits”. (Semarang: Pustaka Rizki
Putra, 2009), hlm. 30.
Setelah hadits dikodifikasi, perkembanganya menjadi sangat pesat. Antara lain
dengan lahirnya kitab-kitab hadits hingga muncul term-term keilmuwan hadits yang
berorientasi sebagai penyeleksi hadits (kritik sanad hadits). Muncul pula kitab-kitab
syarh hadits sebagai penjelas hadits-hadits Rasulullah SAW. Hingga periode
selanjutnya, kajian hadits beralih tidak hanya berkutat pada kritik sanad melainkan
sudah memasuki kritik terhadap matan. Bahkan, seiring dengan perkembangan
zaman yang sudah memasuki era digital, hadits mulai di kemas di dalamnya guna
menghadirkan pengkajian hadits dengan lebih mudah.

Makalah ini mencoba mengulas sejarah di balik penulisan hadits sehingga bisa
terlihat lebih runut. Bermula dari kontradiksi perekaman hadits pada masa
Rasulullah dan sahabat, masa tabi’in, hingga hadits-hadits tersebut terkodifikasikan
dalam bentuk yang sistematis dan terbukukan dalam bab-bab yang beraturan hingga
memunculkan beberapa metodologi dalam pengumpulannya. Di dalam makalan ini
juga akan diulas secara singkat beberapa sistematika penulisan hadits. Mulai dari
pelarangan penulisan hadits pada masa Rasullah hingga hadits terkodifikasikan
secara rapi seperti yang kita baca saat ini.

A. Pada Masa Rasulullah

Sejarah Perkembangan hadits pada periode pertama dimulai pada masa Ashr al-
Wahy wa al-Takwin. Masa ini merupakan waktu ketika wahyu turun ke Rasulullah
SAW. Pada masa ini, pusat studi hadits masih berpusat kepada Rasulullah. Sebab,
masa ini merupakan masa ketika Rasulullah SAW masih ada.2

Selama masa ini, Rasulullah adalah sentral dalam masyarakat Muslim. Rasulullah
menjadi figur utama dalam pemecah persolan yang dihadapi umat. Para sahabat
belajar memahami apa dan bagaimana itu agama Islam secara menyeluruh perkataan
(qaul), perbuatan (fi’il), maupun persetujuan Rasulullah (taqrir).

2
Idris, Studi Hadits (Jakarta:Kencana 2010), hlm. 32.
Karena Al-Qur’an tidak menjelaskan secara detail tentang sebagian besar praktik
ibadah keseharian dan kebanyakan hanya menerangkan hal-hal yang bersifat global,
maka diperlukan adanya penjelasan dari Rasulullah yang memerinci dan
menafsirkan keglobalan tersebut. Penjelasan, perinciaan, dan penafsiran Rasulullah
terhadap keglobalan Al-Qur’an itulah hadits. Karena Al-Qur’an turun secara
berangsur-angsur, maka dapat dipastikan bahwa hadits pun terbentuk secara
berangsur-angsur pula.

Pada masa ini, tidak ada instruksi penulisan secara khusus. Namun, beberapa
sahabat mempunyai inisiatif sendiri. Bahkan, di beberapa keterangan, penulisan
haditst pada masa Rasulullah ini justru dilarang karena kekhawatiran akan
bercampur dengan penulisan Al-Qur’an. Seperti yang terdapat dalam haditst berikut:

“Janganlah kamu sekalian menulis—apa yang kamu dengar dariku—selain dari Al-
Qur’an. Barang siapa yang telah menulis selain dari Al-Qur’an, maka hapuskanlah.”
(HR Muslim, al-Darimi dan Ahmad Ibn Hanbal).

Walaupun demikian, para sahabat tetap memberikan perhatian khusus terhadapa


haditst. Memang para sahabat telah mengetahui bahwa di samping wahyu dari Allah
(Al-Qur’an), sebagai pedoman ajaran Islam yang utama, juga ada pedoman ajaran
Islam berikutnya yang juga menjadi tuntunan dan tolok ukur kehidupan mereka,
yaitu hadits Rasulullah.

Di sampang itu, ayat-ayat Al-Qur‟an sendiri banyak memerintahkan umat Islam,


dalam hal ini para sahabat, untuk mentaati dan mengikuti Rasulullah sampai kepada
segala pola perilaku kesehariannya. Sebab, Rasulullah adalah orang yang benar-
benar mempunyai akhlak luhur dan menjadi suri tauladan bagi umatnya. Tidak
hanya sampai di situ, Al-Qur’an pun memerintahkan umat Islam untuk menuntut
ilmu. Al-Qur’an menyatakan bahwa Islam membedakan orang yang berilmu dan
yang tidak berilmu, yaitu dengan menempatkan orang yang berilmu lebih tinggi
beberapa derajat. Oleh karena itulah, kabilah-kabilah yang bertempat tinggal jauh
dari Madinah selalu mengutus salah seorang anggotanya pergi mendatangi majlis
Rasulullah untuk mempelajari ajaran-ajaran Islam. Setelah pulang kembali ke
kabilahnya masing-masing, utusan itu mengajarkannya ke anggota kabilahnya.
Bahkan ada juga sebagian sahabat—secara individu—yang sengaja mendatangi
Rasulullah dari tempat-tempat yang jauh, hanya untuk menanyakan sesuatu hukum
syar’i.

Tradisi menulis dan mencatat hadits telah terjadi pada masa Rasulullah. Para sahabat
menerima hadits dari majelis Rasulullah dan mencatat apa yang dikatakan
Rasulullah. Pada masa ini, materi hadits yang sahabat catat masih terbatas. Hal ini
disebabkan sedikitnya jumlah sahabat yang pandai menulis, dan kekuatan hafalan
serta kecerdasan mereka sudah dapat diandalkan, sehingga mereka tidak perlu
menulis hadits. Di samping itu, perhatian mereka masih banyak yang bertumpu pada
pemeliharaan Al-Qur’an, sehingga catatan-catatan hadits masih tersebar pada
sahifah sahabat. 3

Salah satu catatan yang terkenal pada masa Rasulullah adalah al-Sahifah al-
Sadiqah, yang ditulis oleh Abdullah ibn Amr ibn Ash dari sumber Rasulullah
sendiri.4 Sahifah ini adalah salah satu bukti sejarah bahwa pada masa Rasulullah
sebenarnya telah ada penulisan hadits.

Cara para sahabat dalam menerima hadits dari Rasulullah berbeda-beda. Kadang
kala dengan cara berhadapan secara langsung (musyafahah), kadangkala dengan
cara menyaksikan (musyahadah) perbuatan atau taqrir Rasulullah, dan kadangkala
hanya dengan mendengar dari sahabat lain yang mengetahui secara langsung dari
Rasulullah.

Pegangan para sahabat dalam menerima hadits dari Rasul adalah dengan kekuatan
hafalan mereka. Hal ini karena para sahabat yang pandai menulis masih sangat
sedikit jumlahnya. Meski demikian, keorisinalan hadits tetap terjaga karena bangsa
Arab pada saat itu mempuntai kekuatan hafalan yang luar biasa. Merupakan hal
yang mudah bagi mereka untuk menghafal hadits-hadits yang datang dari Rasul.

3
M.M Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya. 2018
4
M.M Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya. 2018
Menurut Muhammad Mustafa Azami, para sahabat dalam mempelajari hadits tetap
menggunakan tiga metode, walaupun metode hafalan yang paling banyak
dipergunakan. Pertama, dengan hafalan. Para sahabat biasa mendengarkan setiap
pengajaran Rasul—yang kebanyakan diadakan di masjid. Setelah selesai, mereka
biasanya menghafalkan apa yang telah disampaikan Rasul. Sebagaimana perkataan
Malik Ibn Anas yang terdapat dalam al-Jami’ fi Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami’
karya al-Khatib al-Baghdadi: “Kami, para sahabat yang berjumlah sekitar 60 orang
duduk bersama Rasulullah SAW. Beliau mengajar kami hadits, dan setelah beliau
pergi untuk suatu keperluan, kami semua berusaha menghafal kembali apa yang
telah disampaikan Rasulullah. Sehingga ketika kami bubar hadits-hadits yang telah
disampaikan beliau sudah tertanam dalam hati kami”.5

Kedua, dengan tulisan. Artinya, ketika para sahabat menerima hadits Rasulullah,
mereka langsung menuliskannya. Namun, hal ini hanya dilakukan oleh sebagian
kecil sahabat yang pandai menulis. Ketiga, dengan praktik secara langsung. Para
sahabat langsung mempraktikkan apa yang telah disampaikan oleh Rasul. Begitu
pula terhadap apa yang telah mereka hafal dan mereka tulis, langsung dipraktikkan.
Karena mereka mengetahui benar bahwa dalam Islam ilmu itu untuk diamalkan.

Para ulama memasukkan masa ini ke periode kedua atau disebut juga (ashr tatsbut
wa al-iklal min al-riwayah). Karena, pada masa ini perhatian para sahabat masih
terfokus pada pemeliharaan dan penyebaran Al-Qu’ran, maka pernyataan hadits
belum berkembang. Oleh karena itu, para ulama menganggap sebagai masa ini
menunjukkan adanya pembatasan periwayatan (al-tasabbut wa al-iqlal min al-
riwayah).6

B. Haditst setelah Rasulullah Wafat


Periodesasi hadsit pada masa ini masuk pada periode ketiga. Disebut juga ashr
intisyar riwayat ila al-amshar. Karena pada masa ini Rasulullah telah wafat, maka
para sahabat sudah tidak bisa lagi mendengar sabda Rasulullah Muhammad SAW,
serta menyaksikan perbuatan-perbuatan Rasulullah Muhammad SAW yang pada

5
M.M Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya. 2018
6
Munzier Suparto, Ilmu Hadits (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 79)
dasarnya bermuatan ajaran ilahi. Sehingga informasi hadits hanya bisa diketahui
melalui informasi dari sahabat yang lainnya.
Masa setelah Rasulullah wafat juga berlanjut pada masa Khulafaur Rasyidin.
Perkembangan hadits pada masa ini masih terbatas. Karena para sahabat pada masa
ini masih fokus pada penyebaran Al-Qur’an. Masa ini disebut juga sebagai al-
tatsabut wa al-iqlal min riwayah.

Meskipun pada masa ini perhatian sahabat masih terpusat pada penyebaran Al-
Qur’an, namun para sahabat tetap memperketat dalam penerimaan hadits. Hal ini
karena para sahabat sangat berhati-hati agar tidak terjadinya kekeliruan periwayatan
hadits dengan Al-Qur’an.

Kehati-hatian dalam penerimaan haditst ini bisa kita cermati pada masa Khalifah
Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Pada masa Abu Bakar, kegiatan periwayatan
hadits di kalangan umat Islam masih terbatas. Hal ini dapat dimengerti, karena pada
masa pemerintahan Abu bakar tersebut, umat Islam dihadapkan pada berbagai
ancaman dan kekacauan yang membahayakan pemerintah dan Negara yang memicu
beberapa pertikaian yang mengorbankan nyawa para sahabat penghafal khususnya
penghafal Al-Qur’an. Sehingga khalifah Abu Bakar lebih fokus pada penghimpunan
Al-Qur’an daripada hadits.

Dengan demikian, periwayatan hadits pada masa Abu Bakar dapat dikatakan belum
merupakan kegiatan yang menonjol di kalangan umat Islam. Walaupun demikian,
dapat dikatakan bahwa sikap umat Islam dalam periwayatan hadits tampak tidak
jauh berbeda dengan sikap Abu Bakar, yakni sangat hati-hati. Sikap hati-hati ini
antara lain terlihat pada pemeriksaan hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat.

Demikian juga pada masa Umar bin Khattab. Periwatan pada masa ini sangat hati-
hati. Bahkan dalam sebuah riwayat dikisahkan Khalifah Umar menekankan kepada
para sahabat agar tidak memperbanyak periwayatan hadits di masyarakat.
Alasannya, agar masyarakat tidak terganggu konsentrasinya untuk membaca dan
mendalami Al-Qur’an.7

Kebijakan Umar melarang sahabat memperbanyak periwayatan hadits sesungguhnya


tidaklah berarti bahwa Umar sama sekali melarang para sahabat meriwayatkan
hadits. Larangan Umar tidak tertuju kepada periwayatan itu sendiri. Tetapi
dimaksudkan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam periwayatan hadits dan agar
perhatian masyarakat terhadap Al-Qur’an tidak terganggu.

Pada masa Ustman bin Affan dan Ali Abi Thalib pun tidak jauh berbeda. Keduanya
juga sangat hati-hati dalam periwayatan haditst. Meskipun tidak setegas pada masa
Umar bin Khattab. Yang sedikit berbeda pada Ali bin Abi Thalib, beliau tidak hanya
banyak meriwayatkan haditst dalam bentuk lisan, tapi juga tulisan atau disebut juga
sahifah.
Sahifah Ali Bin Abi Tholib ini banyak dituturkan diberbagai sumber, salah satunya
dari Abu al-Tufail. Kata Abu al-Tufail, “Ketika Ali ditanya apakah Rosululloh SAW
memberikan sesuatu yang khusus untuk beliau, Ali menjawab, “Tidak ada, kecuali
yang terdapat pada sarung pedangku ini”. Beliau lalu mengeluarkan sahifah yang
berisi tulisan “Allah melaknat orang yang menyembah hewan bukan karena
Allah…”8

Dari uraian di atas dapatlah dinyatakan, bahwa kebijakan Khulafaur Rasyidun


tentang periwayatan hadits adalah sebagai berikut. Pertama, seluruh khalifah
sependapat tentang pentingnya sikap hati-hati dalam periwayatan hadits. Kedua,
larangan memperbanyak periwayatan hadits, terutama yang ditekankan oleh khalifah
Umar bin Khattab. Tujuan pokoknya ialah agar periwayat bersikap selektif dalam
meriwayatkan hadits dan agar masyarakat tidak dipalingkan perhatiannya dari Al-
Qur’an. Ketiga, penghadiran saksi atau pengucapan sumpah bagi periwayat hadits
merupakan salah satu cara untuk meneliti riwayat hadits. Periwayat yang dinilai
7
Abu Abdullah Muhammad ibn Yazid ibn Majah, Sunan Ibn Majah dalam Luthfi Maulana,
“PERIODESASI PERKEMBANGAN STUDI HADITS (Dari Tradisi Lisan/Tulisan Hingga berbasis
Digital)”, Jurnal Esensia, Vol 17, No. 1, April 2016. Hal. 114
8
M.M Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya. 2018. Hal. 180.
memiliki kredibilitas yang tinggi tidak dibebani kewajiban mengajukan saksi atau
sumpah. Keempat, masing-masing khalifah telah meriwayatkan hadits. Riwayat
hadits yang disampaikan oleh ketiga khalifah yang pertama mayoritas dalam bentuk
lisan, adapula Ali yang meriwayatkan hadits secara tulisan, di samping secara lisan.

C. Pada Masa Tbabi’in


Pada masa pasca Khulafaur Rasyidin, hadits sudah berkembang ke beberapa wilayah
kekuasaan Islam. Seperti Madinah, Mekkah, Kufah, Basrah, Syam hingga Mesir.
Para tabi’in sudah mulai gencar untuk memeperluas hadits di beberapa tempat
sehingga penyebaran hadits pada masa ini sudah sangat signifikan.

Bahkan, pada masa ini, puncaknya terjadi pada masa Umar bin Abdul Aziz (99-101
H) pada masa dinasti Abbasiyyah. Masa ini merupakan masa pengkodifikasian
hadits. Latar belakang Umar bin Abdul Aziz dalam mengkodifikasi hadits
disebabkan rasa kekhawatiran beliau akan hilangnya hadits. Sebab, pada masa itu
keadaan para generasi penerus tidak menaruh perhatian besar terhadap hadits serta
seiring dengan semakin banyaknya sahabat Rasulullah yang wafat.

Ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai khalifah pada tahun 99 H,
dia memerintahkan para ulama hadits untuk mencari hadits Rasulullah. Umar sangat
waspada dan sadar, bahwa para perawi yang mengumpulkan hadits dalam
ingatannya semakin sedikit jumlahnya, karena meninggal dunia. Beliau khawatir
apabila tidak segera dikumpulkan dan dibukukan dalam buku-buku hadits dari para
perawinya, mungkin hadits-hadits itu akan lenyap bersama lenyapnya para
penghapalnya. Maka, tergeraklah dalam hatinya untuk mengumpulkan hadits-hadits
Rasulullah dari para penghapal yang masih hidup.

Pada tahun 100 H, Khalifah Umar bin Abdul Azis memerintahkah Gubernur
Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm, agar membukukan hadits-
hadits Rasulullah yang terdapat pada para penghafal. Selain itu, pada masa itu juga
sudah banyak berita yang diada-adakan oleh pelaku bid’ah seperti Khawarij,
Rafidhah, dan Syi’ah. Bahkan pada saat itu sudah mulai bermunculan hadits-hadits
palsu sehingga Umar bin Abdul Azizi mengkhawatirkan hilangnya hadits-hadits
Rasulullah SAW. Seruan Umar bin Abdul Aziz akan kodifikasi hadits mendapatkan
respons dan antusias umat Islam dan dari para ulama hadits. Sehingga pada masa itu
hadits dapat berhasil dikodifikasikan.9

Khalifah Umar ibn Abdul Aziz menginstruksikan kepada qadhi-nya di Madinah


yaitu Abu Bakar ibn Hajm yang menjadi guru Ma'mar, al-Lais, al-Auza'i, Malik ibn
Anas, Ibn Ishaq, dan Ibn Abi Dzi'bin supaya membukukan hadits Rasulullah yang
terdapat pada penghapal wanita yang terkenal ; Amrah bint Rahman ibn Saad
Zurarah ibn 'Ades, seorang ahli fiqh murid dari Aisyah ra. Ada pun bunyi surat
tersebut: “Perhatikanlah apa yang dapat diperoleh dari hadis Rasul lalu tulislah.
karena aku takut akan lenyap ilmu disebabkan meninggalnya ulama dan jangan
diterima selain hadis Rasul SAW dan hendaklah disebarluaskan ilmu dan diadakan
majelis-majelis ilmu supaya orang yang tidak mengetahuinya dapat mengetahuinya,
maka sesungguhnya ilmu itu dirahasiakan.”10

Kitab hadits yang ditulis oleh Ibn Hazm merupakan kitab hadits pertama. Ditulis
atas perintah kepala Negara. Namun kitab hadits itu tidak membukukan seluruh
peredaran hadits yang ada di Madinah. Ada pun yang membukukan seluruh hadits
yang ada di Madinah adalah Muhammad ibn Muslim ibn Shihab al-Zuhri, seorang
ulama yang ternama di masanya.11 Pendapat ini juga dipertegas oleh Imam Malik,
bahwa yang pertama menulis Hadist ialah Muhammad ibn Muslim ibn Shihab al-
Zuhri.12

9
Idris, Studi Hadits, hlm. 45-47.
10
Nabia Abbots, Studies in Arabic Literary Papyri 11 dalam Saifuddin Zuhri Qudsy, UMAR BIN
ABDUL AZIZ DAN SEMANGAT PENULISAN HADIS, Jurnal ESENSIA Vol. XIV No. 2 Oktober
2013. Hlm. 270.
11
Muhammad 'Ajjaj al-Khatibi, al-Sunnah Qbl al-Tadwin, dalam Lukman Zain MS, Sejarah Hadis
Pada Masa Permulaan dan Penghimpunannya, Jurnal al-Afka, Vol. 2 No. 01 Juni 2014. Hlm. 20

12
M.M Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya. 2018. Hlm. 107.
Setelah Hadits selesai dikodifikasikan sejak abad ke II di bawah kepemimpinan
khalifah Umar bin Abdul Aziz, para ulama berupaya mengembangkan studi hadits
dengan pola penyeleksian hadits, sehingga pada masa abad ke III menjelang abad ke
IV hijriah, mulailah bermunculan beragam kitab hadits yang begitu luar biasa,
seperti kitab Shahih al-Bukhori karya Imam Bukhori, Shahih Muslim karya Imam
Muslim, dan beberapa kitab sunan, seperti Sunan Abu Dawud, Sunan al-Tirmidzi,
Sunan al-Nasa’i, Sunan ad-Darimi, Sunan Said Ibnu alManshur. Masa ini
merupakan masa kesungguhan dalam penyaringan hadits, dimana para ulama
berhasil memisahkan hadits-hadits dhaif dari yang shahih dan hadits-hadits yang
mauquf dan Maqthu’ dari yang Marfu’.13

Abad ketiga ini merupakan masa yang sangat subur dan produktif dalam penulisan
kitab-kitab hadist. Sistim penyusunannya juga lebih baik dari masa-masa
sebelumnya. Bahkan buku-buku yang ditulis pada masa sebelumnya digabungkan
dengan buku-buku yang ditulis pada masa itu.14

D. Al-Hadits dari Fatwa – Fatwa (Abad Ke – III)


Di permulaan abad ketiga para ahli hadis berusaha menyisihkan Al-Hadis dari
fatwa-fatwa sahabat dan tabi’in. mereka berusaha membukukan Hadis rasullah
semata-mata. Unutk tujuan mulia ini mereka mulai menyusun kitab-kitab musnad
yang bersih daro fatwa-fatwa. Bangunlah ulama-ulama hadis seperti, Musa Al-
Abasy, Musaddad Al-Bashry, Asad bin musa dan Nu’aim bin Hammd Al-Kaza’iy
menyusun kitab-kitab musna, kemudian menyusul Imam Ahmad Bin Hambal dan
lainnya.

Karena adanya beberapa kelemahan- kitab-kitab hadis tersebut. Bergeraklah ulama-


ulama ahli hadist pada pertengahan abad ke – III untuk menyelamatkannya.

13
Idris, Studi Hadits, hlm., 49.
14
M.M Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya. 2018
E. Mengisnadkan Hadis Muttaqaddimin (Abad Ke – IV )

Kalau abad pertama, kedua dan ketiga., hadist berturut-turut mengalami masa
periwayatan, penulisan dan penyaringan dari fatwa-fatwa para sahabat dan tabi’in,
dan Hadist yang telah didewankan oleh ulama muttaqadimin (dari abad ke – 1
sampai abad ke – IIII) tersebut mengalami sasaran baru, yakni dihafal dan
diselidiki sanadnya oleh ulama Muta-akhirin. Pada abad ke-IV ini merupakan abad
pemisah antara ulama Muttaqadimin yang dalam menyusun kitab hadits mereka
berusaha sendiri menemui para sahabat atau tabi’in penghafadh hadits dan kemudian
meneliti sendiri, dengan ulama Muttakhirin.

Kitab-kitab yang Mashyur hasil karya Ulama abad ke-Iv antara lain:
1 Mu’jamu’l-Kabir
2 Mu’jamu’l-Ausath dan
3 Mu’jamu’sh-Shaghir, ketiga-tiganya adalah karya Imam Sulaiman bin
Ahmad At-Thabrany (meninggal tahun 360 H)
4 Sunan Ad-Daruquthny, karya imam Abdul Hasan ‘ Ali bin Umar bii Ahmad
Ad-Daruquthny (306- 385 H)
5 Shahih Abi Auwanah, karya abu auwanah ya’qub bin Is-haq bin Ibrahim Al-
Asfarayiny (meninggal tahun 354 H )
6 Shahih Ibnu Khudzaimah, karya Ibnu Khudzaimah Muhammad bin Is-haq
(meninggal tahun 316 H)

F. Mengklasifikasikan dan Mensistematiskan ( Abad Ke – V )

Usaha ulama ahli Hadis pada abad V dan seterusnya adalah ditunjukan untuk
mengklasifikaikan Al-Hadis dengan mengpimpun hadishadis yang sejenis
kandungannya tau sejenis sifat-sifat isinya dalam suatu kitab hadis. Di samping itu
mereka pada me-syarah-kan (menguraikan dengan luas) dan meng-ikhtishar-kan
(meringkas) kitab-kitab hadis yang telah disusun oleh ulama yang mendahuluinya.
Ole karena itu denga demikian lahirlah kitab-kitab hadis hukum, seperti:
1. Sunanu’l-Kubra, karya Abu bakar Ahmad bin Husain’Ali Al-Baihaqy (384-
458)
2. Muntaqa’l-Akbar, karya kitab Majdudin Al-Harrany (Wafat tahun 625 H)
3. Muntaqa’l-akhbar, Nailu’l-Authar, sebagai syarah kitab Muntaqa’l-Akh-bar,
karya Muhhamad bin Ali As-Syaukany15

Kemudian, Sepeninggal periode khalifah Abasiyyah ke XVII Al-Mu’tashim (w. 656


H). Periode hadits dimasa tersebut dinamakan ‘Ashr al- Syarh wa alJami’ wa Al-
Takhrij wa Al-Bahts, periodesasi hadits memasuki masa pensyarahan,
penghimpunan, pentakhrijan, dan pembahasan.16

Usaha-usaha yang ditempuh oleh ulama-ulama dalam masa yang ketujuh ini ialah
menerbitkan isi kitab-kitab hadis, menyaring dan menyusun kitab-kitab takhrij,
membuat kitab-kitab jami’ yang umum, kitab-kitab yang mengumpulkan hadis
hukum, mentakhrijkan hadis-hadis yang terdapat dalam beberapa kitab,
mentakhrijkan hadis-hadis yang terkenal dalam masyarakat, mensyarahi dan
meringkas kitab yang sudah ada sebelumnya, serta menyusun kitab Athraf.17

Kegiatan ulama hadis pada masa ini berkenaan dengan upaya mensyarahi kitab-kitab
hadits yang sudah ada, menghimpun dan mengumpulkan hadis-hadis dalam kitab-
kitab yang sudah ada, mentakhrij hadis-hadis dalam kitab tertentu, dan membahas
kandungan kitab-kitab hadits. Dengan demikian masa perkembangan hadis ini
melewati dua fase sejarah perkembangan Islam, yakni fase pertengahan dan
modern.18

15
Rahman. Fatchur, Ihktisar Mushthalahu’l Hadits (Bandung: Alma’arif, 1974)
16
Zeid B. Smeer, Ulumul Hadis Pengantar Studi Hadis Praktis (Malang: UIN Malang Press, 2008),
hlm. 28.
17
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Semarang: PT.
Pustaka Rizki Putra, 1999), hlm. 105
18
Idri, Studi Hadis, hlm. 51-52.
Pengkajian hadits tidak berhenti sampai abad ini saja dan terus masih terus berlanjut
hingga sekarang. Namun pengkajiaannya lebih kepada studi keilmuan hadits.