Anda di halaman 1dari 6

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN GIZI

“Model Sajian Situasi”

Dosen :

DR. Ir I Komang Agusjaya Mataram, M.Kes

Oleh :

Ni Putu Mita Kritina Yanti P07131217051

SEMESTER VI B

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA

2020
BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan


prosedur sistematik dalam perorganisasian pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar tertentu. Model pembelajaran disusun berdasarkan berbagai prinsip atau teori
pengetahuan. Tujuan dari model pembelajaran adalah hasil belajar yang akan dicapai
langsung dan hasil belajar pengiring sebagai akibat prinsip belajar mengajar. Salah satu
ciri khas dari model pembelajaran adalah mempunyai dampak pembelajaran yaitu dalam
melaksanakan proses pembelajaran terlebih dahulu dikemukakan tujuan yang akan
dicapai dari proses pembelajaran tersebut, dampak pembelajaran adalah sejalan dalam
pencapaian tujuan pembelajaran tersebut dalam bentuk hasil belajar yang kooperatif,
efektif dan psikomotor jadi meski pembelajaran merupakan satu job pembelajaran yang
digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Meski pembelajaran akan memberikan
efek dalam pencapaian kemampuan peserta didik seperti kemampuan kooperatif, efektif,
dan psikomotor.
Pembelajaran di sekolah sekarang harus bervariasi agar bisa menarik perhatian
siswa untuk mengikuti proses pembelajaran dimana siswa dapat tertarik dengan model
pembelajaran yang digunakan oleh guru atau mentor.
Pembelajaran model situasi erat hubungannya dengan interaksi dengan sesama
manusia. Melalui pembelajaran ini diharapkan siswa bisa bergaul dan berinteraksi dengan
sesama orang lain serta bisa berkomunikasi dengan baik dengan manusia lain.
Pembelajaran ini dirasa sangat penting di mana bisa mempersiapkan siswa untuk terjun
langsung ke masyarakat serta bertekad mencapai tujuan berikutnya.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan Experiential Learning ?
2. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran sajian situasi
C. TUJUAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Experiential Learning
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan model pembelajaran sajian situasi
BAB 2

PEMBAHASAN

A. Experiential Learning

Model pembelajaraan Experiential Learning merupakan model pembelajaraan yang


memperhatikan dan menitik beratkan pada pengalaman yang akan dialami dan dipelajari
oleh peserta didik. Dengan terlibatnya langsung dalam proses belajar dan
menkontruksikan sendiri pengalaman - pengalaman yang di dapat sehingga menjadi suatu
pengetahuan.

Kolb (dalam Fahturrohman 2015: 129) mengusulkan bahwa experiential


learning mempunyai enam karakteristik utama, yaitu:

1. Belajar terbaik dipahami sebagai suatu proses, tidak dalam kaitannya dengan hasil
yang dicapai.
2. Belajar adalah suatu proses kontinu yang didasarkan pada pengalaman.
3. Belajar memerlukan resolusi konflik - konflik antara gaya - gaya yang berlawanan
dengan cara dialektis.
4. Belajar adalah proses yang holistik
5. Belajar melibatkan hubungan antara seseorang dan lingkungan.
6. Belajar adalah proses tentang menciptakan pengetahuan yang merupakan hasil dari
hubungan antara pengetahuan sosial dan pengetahuan pribadi.

Fathurrohman (2015: 130) menyatakan “Experiental learning  itu sendiri berisi


tiga aspek, yaitu pengetahuan (konsep, fakta dan informasi), aktivitas (penerapan dalam
kegiatan), dan refleksi (analisis dampak kegiatan terhadap perkembangan individu).
Ketiganya merupakan kontribusi penting dalam tercapainya tujuan pembelajaran”.
Ketiganya merupakan distribusi penting dalam tercapainya tujuan pembelajaraan.

Model Experiential Learning sebagai pembelajaran dapat dilihat sebagai sebuah


siklus yang terdiri dari dua rangkaian yang berbeda, memiliki daya tangkap dalam
pemahaman dan memiliki tujuan yang berkelanjutan. Bagaimanapun, kesemua itu harus
diintegrasikan dengan urutan untuk mempelajari apa yang terjadi. Daya tangkap dalam
memahami sesuatu sangat dipengaruhi oleh pengamatan yang dialami lewat pengalaman,
sementara tujuan yang berkelanjutan berhubungan dengan perubahan dari pengalaman.
Komponen-komponen tersebut harus saling berhubungan untuk memperoleh
pengetahuan.

Fathurrohman (2015: 132) “Pengalaman yang dilakukan sendirian tidak cukup


dijadikan pembelajaran, harus dilakukan secara terperinci dan perubahan yang dilakukan
sendiri tidak dapat mewakili yang dibutuhkan pembelajaran, untuk itu diperlukan
perubahan yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Model  Experiential Learning mencoba
menjelaskan mengapa pembelajaran lewat pendekatan pengalaman belajar berbeda dan
mampu mencapai tujuan. Hal ini dibuktikan oleh berkembangnya kecakapan yang cukup
baik yang dimiliki oleh beberapa individu setelah dibandingkan dengan individu lain”.

Fathurrohman (2015: 134) berpendapat bahwa “Pada dasarnya pembelajaran


model Epxriental learning ini sangat sederhana dimulai dengan
melakukan (do), refleksikan (reflect), dan kemudian penerapan (apply). Jika dielaborasi
lagi maka akan terdiri dari lima langkah, yaitu mulai dari proses
mengalami (experience), berbagi (share), analisis pengalaman
tersebut (procces), menarik kesimpulan (generalize), dan penerapan (apply)”.

B. Model Pembelajaran Sajian Situasi


Harley (1993) mendefinisikan situated learning atau pembelajaran sajian
situasi sebagai satu proses belajar yang mengarah pada upaya untuk memahami the
fusion point antara pengalaman – pengalaman belajar siswa yang telah dipunyai
dengan pengetahuan - pengetahuan bam yang secara substantive disusun atas dasar
collective agreement dari para praktisi yang berpengalaman yang tergabung dalam
satu komunitas keilmuan. Winn (1993) menambahkan bahwa situated learning terjadi
bila siswa berkesempatan untuk mengerjakan tugas-tugas belajar yang sifatnya
otentik, yang penyelesaiannya dilakukan dalam situasi kerja yang nyata. Ini artinya
proses belajar akan terjadi bila proses tersebut melibatkan unsure konteks atau
lingkungan yang benar-benar menjadi sasaran diterapkannya pengetahuan yang
dipelajari. Pengertian situated learning ini melibatkan beberapa unsur penting yaitu:
1. Setiap individu adalah unik.

Pengalaman-pengalaman belajar yang dibawa oleh masing-masing individu


sifatnya khas, dan pengalaman-pengalaman ini akan mempengaruhi bagaimana
mempersepsikan realitas belajar sebagai hal yang penting atau kurang penting.
2. Setiap sasaran yang ingin dicapai dalam proses belajar hams melibatkan unsur
lingkungan atau konteks yang sifatnya khusus.
Kekhususan ini menyebabkan proses belajar hams melibatkan segala unsur
yang terdapat dalam konteks tersebut. Karenanya dapat dikatakan bahwa dalam
proses belajar terdapat sam komunitas ilmu yang terdiri dati para ahli atau praktisi.
Komunitas ini mempunyai persyaratan-persyaratan khusus mengenai siapa saja yang
berhak untuk berparisipasi di dalamnya. Agar siswa bias berinteraksi dengan
komunitas ini, dalam menjalani proses belajarnya, dia harus diakui keberadaannya
sebagai salah satu partisipan yang sah. Karenanya, belajar dapat diartikan sebagai satu
proses untuk hidup dan berkembang dalam komunitas kemasyarakatan yang nyata.
Konsekuensinya, siswa dituntut untuk berprestasi yang sesuai dengan harapan atau
standard yang ditentukan oleh komunitas tersebut. Disini, proses trial and error saran
sekali tidak diharapkan untuk terjadi. Jadi, belajar akan terjadi bila siswa mampu
mentransformasikan dirinya sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam
komunitas yang dimasukin yaitu.
3. Evaluasi terhadap hasil belajar diarahkan pada pengukuran terhadap performa
yang secara nyata berhasil dicapai oleh siswa dalam proses interaksinya itu.
Implikasinya, pengetahuan sebagai hasil belajar tidaklah bersifat umum, yang
bisa berlaku pada semua situasi. Pengetahuan seharusnya bersifat khusus, yang
berlaku pada satu konteks tertentu, karena kolaborasi, misalnya, meng- .indikasikan
terjadinya interaksi yang intensif antara siswa dengan yang menjadi sumber
pengetahuan. Akibatnya, kurikulum pendidikan tidak cukup hanya menyajikan
materi-materi ilmu pengetahuan yang sifatnya generic kalau universal, tapi harus
mengarah pada terlibatnya siswa dalam komunitas atau konteks keilmuan yang
menjadi sasaran dari proses belajar tersebut. Ini sama halnya dengan proses belajar
bahasa. Belajar bahasa di kelas hanya memungkinkan siswa untuk menguasai hal-hal
yang sifatnya superfisial, yang tidak otentik. Belajar bahasa pada tempat bahasa itu
sehari-harinya digunakan, akan merangsang siswa untuk melakukan tugas-tugas yang
otentik, yang memungkinkan mereka untuk memahami dan menerapkan bahasa
tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA

Huda, Fakthan Amirul. 2019. Pengertian dan Langkah-langkah Model


PembelajaranBerbasisPengalaman (Experiental Learning). Diakses di
http://fatkhan.web.id/pengertian-dan-langkah-langkah-model-pembelajaran-berbasis-
pengalaman-experiental-learning/ ( 15 Februari 2019 )

Istarani.2012.58 Model PembelajaranInnovatif.Medan.MediaPersada

Wikipedia. 2020. Model Pembelajaran. diakses di


https://id.wikipedia.org/wiki/Model_pembelajaran ( 15 februari 2020 )