Anda di halaman 1dari 6

GIZI DAN ILMU GIZI

 GIZI berasal dari kata nutrition (Inggris) dan gidza


(Arab), yang berarti makanan.
 Ilmu Gizi = mempelajari segala sesuatu tentang
makanan dan hubungannya dengan kesehatan tubuh
secara optimal.
WHO  proses yang terjadi pada organisme hidup untuk
mengambil dan mengolah zat-zat padat dan cair dari
makanan yang diperlukan untuk memelihara kehidupan,
pertumbuhan, berfungsinya organ tubuh, dan menghasilkan
energi.
ZAT GIZI
 zat-zat yang diperoleh dari bahan makanan yang
mempunyai nilai sangat penting untuk melakukan
fungsinya, yaitu
 menghasilkan energi (KH, L)
 membangun dan memelihara jaringan (P)
 mengatur proses kehidupan (VIT, MINERAL)
 Zat gizi, selain terdapat di dalam makanan juga
ditemukan di dalam tubuh manusia, seperti energi,
protein, lemak, vitamin, mineral, dan karbohidrat.
ZAT GIZI
- MAKRO
- PROTEIN, LEMAK, KH
- MIKRO
- MINERAL
MINERAL MAKRO = Na, Cl, Ca, K, P, S, Mg
MINERAL MIKRO = Fe, I, Zink, Se, Cu, Mn,Cr, Co
- Vitamin
Vit larut air = B DAN C
VIT LARUT LEMAK = A, D, E, K
MASALAH GIZI
 GIZI KURANG – INFEKSI DAN DEFISIENSI
 KVA
 KEP
• KWASHIORKOR ; KRG PROTEIN
• MARASMUS ; KRG ENERGI
• MARASMUS KWASHIORKOR – GZ BURUK
 ANEMIA
 GAKI
 GIZI LEBIH – DEGENERATIF
VIT LARUT AIR
 VIT B1 = TIAMIN
 VIT B2 = RIBOFLAVIN
 VIT B3 = NIASIN
 VIT B5 = ASAM PANTOTENAT
 VIT B6 = PIRIDOKSIN
 VIT B7 = BIOTIN
 VIT B9 = ASAM FOLAT
 VIT B12 = SIANOKOBALAMIN
ANGKA KECUKUPAN GIZI
 suatu kecukupan rata-rata zat gizi setiap hari bagi hampir
setiap orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran
tubuh dan aktivitas tubuh untuk mencegah terjadinya
defisiensi maupun kelebihan gizi.
KEGUNAAN ANGKA KECUKUPAN GIZI
 Menilai kecukupan gizi yang telah dicapai melalui
konsumsi makanan bagi masyarakat tertentu yang diketahui
dari hasil survei konsumsi.
 Menghitung pemberian makanan tambahan (PMT) pada
anak balita, anak sekolah, ibu hamil, dan perencanaan
makanan institusi.
 Merencanakan penyediaan makanan tingkat
regional/nasional
 Sebagai patokan label gizi makanan kemasan
 Sebagai bahan pendidikan gizi
STATUS GIZI
 BERAT BADAN
 TINGGI BADAN
 IMT = BB / TB X TB (m)
 BB = 45 KG
 TB = 153 CM
 IMT = 45 / 1,53 X 1,53 = 23, 41
 KLASIFIKASI
KURANG = <18.5
NORMAL = 18,5 – 24,9
OVERWEIGHT = 25 – 27
OBESITAS = > 27
 STATUS GIZI ANAK = GRAFIK DI BUKU KIA
 STATUS GIZI DEWASA, LANSIA = IMT
 STATUS GIZI IBU HAMIL = LILA
 NORMAL >= 23.5 CM
 KURANG < 23.5 CM
SEJARAH ILMU GIZI
 Perkembangan Ilmu Gizi di Dunia
raja di negara Babilonia (Raja Nebukadnezar) suatu saat
mengangkat 4 orang pemuda ksatria sebagai prajurit perang.
Pada awal pengangkatan tersebut mereka harus melalui masa
karantina. Menu makanan sehari-hari yang disajikan bagi 4
pemuda tersebut adalah daging dan anggur, tetapi keempat
pemuda tersebut menolaknya, mereka lebih memilih menu
berupa kacang-kacangan dan air putih. Ternyata setelah uji
ketangkasan di antara para prajurit, keempat pemuda tersebut
lebih tangkas dan gagah dibandingkan dengan prajurit yang lain.
Diduga hal tersebut akibat konsumsi makanan sehari-hari yang
berbeda. Sejak saat itu dikenal filosofi bahwa MAKANAN
YANG BAIK AKAN MEMBERIKAN KEKUATAN
JASMANI YANG SEMPURNA.
 Pada jaman Yunani (460 – 377 Sebelum Masehi)
Hipocrates, yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran
berhasil mengobati dan menyembuhkan penderita rabun
senja dengan cara diberi makanan ekstrak hati hewan.
Sedangkan pada abad ke-16 seorang ahli Francis Bacon
(1561 – 1626) berhasil mengeluarkan doktrin “makan yang
diatur dengan baik dapat memperpanjang umur”. Pada
tahun 1747 james Lind merupakan orang pertama yang
melakukan eksperimen tentang gizi, yaitu mencoba khasiat
air jeruk untuk menyembuhkan penyakit skorbut.
 Seorang ahli yang dikenal dengan Bapak Ilmu Gizi Dunia
adalah Antoine Laurent lavoisier (1743 – 1794) ;
sedangkan ahli yang dinobatkan sebagai Bapak Ilmu Gizi
di Amerika Serikat adalah Wilbur Atwater (1844 –
1907).
 Tahun 1897 Dr. Eijkman melakukan suatu percobaan
dengan memberi makan burung dara dengan sisa makanan
narapidana yang menderita radang syaraf (polioneuritis).
Ahli lain dari negara Jepang yang juga melakukan
percobaan adalah Dr. Takaki yang mencoba mengganti
menu hidangan yang biasa diberikan kepada para awak
kapal yang menunjukkan gejala radang syaraf, dengan
hidangan yang dibuat dari bahan pokok barley (sejenis
gandum). Gejala penyakit berangsur-angsur hilang setelah
awak kapal mengkonsumsi hidangan tersebut.