Anda di halaman 1dari 29

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA PASIEN

NEONATAL “BRONKOPNEUMONIA”

Oleh:

Rifayati Khasanah 0117027

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DIAN HUSADA MOJOKERTO


2020
Lembar Pernyataan

Dengan ini kami menyatakan bahwa:

Kami mempunyai copy dari makalah ini yang bisa kami reproduksi jika
makalah yang dikumpulkan hilang atau rusak

Makalah ini adalah hasil karya kami sendiri dan bukan merupakan karya
orang lain kecuali yang telah ditulis kan dalam referensi, serta tidak ada
seorangpun yang membuatkan makalah ini untuk kami.

Jika dikemudian hari terbukti adanya ketidakjujuran akademik, kami


bersedia mendapatkan sangsi sesuai peraturan yang berlaku.

Nama Nim Tanda Taangan


Mahasiswa
Rifayati Khasanah 0117027

Mojokerto, 23 februari 2020

FORMAT PENILAIAN MAKALAH:

i
No Aspek yang dinilai Bobot Nilai Kriteria penilaian
-Mak
s
1 Pendahuluan 2% 2 Menjelaskan topik, tujuan, dan
deskripsi singkat makalah
Supervisial, tidak spesifik
Sangat spesifik dan relevan
2 Laporan analisis 5% 5 Laporan lugas dan ringkas serta
masalah lengkap
Intervensi 16% 16 Penjelasan teori konsep dasar
keperawatan yang keperawatan/fisiologi/patofisiologi
diusulkan terkait
Analisis peran perawat dalam
intervensi serta kaitan intervensi
dengan proses keperawatan
Pengalaman atau realita di klinik
dan gap
Literature review
Ide logis dan rasional
Analisa kritis rencana aplikasi ide
atau hasil pembahasan
Literatur yang digunakan terkini
dan berkualitas serta extensif
Kesimpulan 2% 2 Menyimpulkan makalah dan
menuliskan refleksi atas kritik
jurnal
Pengurangan nilai -7,5% -7,5 Nilai akan mendapatkan
pengurangan jika kriteria berikut
masuk tidak terpenuhi:
Jumlah halaman< 10 atau lebih dari
20 halaman (batas toleransi 5%)
Tidak mengikuti aturan penulisan
referensi dengan benar
Penulisan bahasa Indonesia yang
baik dan benar, termasuk tanda
baca
NILAI MAKSIMAL 25

Komentar Fasilitator:

....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
.....................................................................................................

Presentasi Kelompok (5%)

No ASPEK YANG DINILAI PROSENTASE


1 Kemampuan mengemukakan intirasi makalah 1
2 Kemampuan menggunakan media & IT 1
3 Kontribusi yang bermanfaat bagi kelompok 1
4 Kemampuan berdiskusi (responsive, analitis) 2

Soft skill yang dinilai selama diskusi: team work, berpikir kritis,
komunikasi

Komentar Fasilitator:

....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
.......................................................................................................................

Penilaian mahasiswa lain: (nilai maksimum 10) iii

No POINT PENILAIAN ASPEK YANG DINILAI PROSENTASE


Aktif bertanya 10%
Aktif memberikan ide/pendapat 10%

Inovatif dan kreatif dalam


1 Selama proses diskusi memberikan pendapat.
(50%) Kemampuan analitik dalam 30%
mengajukan pertanyaan dan
memberikan solusi
Ringkas dan padat 20%
Isi resume 20%
2 Resume (50%)
Simpulan & saran 10%
TOTAL NILAI MAKSIMUM 10

iv

iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan
hidayah-nya penulis dapat menyelesaikan makalah Keperawatan Gawat Darurat
“ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA PASIEN
NEONATAL “BRONKOPNEUMONIA”dalam makalah ini, penulis tidak lepas
dari bantuan berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dosen pembimbing yang telah sabar dan telaten membimbing kami


2. Orang tua yang selalu mendukung dan memotivasi kami dalam belajar
3. Teman-teman kelas 3A tingkat 3 yang selalu memberikan kritik dan
sarannya
4. Semua pihak yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu
Penulis menyadari, makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai
pihak demi sempurnanya makalah. Semoga makalah ini dapat bermanfaat baik
bagi penulis maupun bagi pembaca.

Mojokerto, 23 Februari 2020

penulis

v
DAFTAR ISI

Cover

Lembar
Pernyataan....................................................................................................i

Format Penilaian......................................................................................................ii

Kata Pengantar.........................................................................................................v

Daftar isi..................................................................................................................vi

BAB I Pendahuluan.................................................................................................1

Latar Belakang.........................................................................................................1

Rumusan Masalah....................................................................................................1

Tujuan......................................................................................................................1

BAB II Pembahasan................................................................................................2

Konsep Bronkopneumonia......................................................................................2

BAB III Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada neonatal


Bronkopneumonia..................................................................................................11

BAB IV Penutup....................................................................................................20

Simpulan................................................................................................................20

Saran......................................................................................................................20

Daftar Pustaka.......................................................................................................21

vi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu
peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai
bronkiolus dan juga mengenai alveolus di sekitarnya, yang sering menimpa
anak-anak dan balita, Bronkopneumonia lebih sering merupakan infeksi
sekunder terhadap berbagai keadaan yang melemahkan daya tahan tubuh
tetapi bisa juga sebagai infeksi primer yang biasanya kita jumpai pada anak
anak dan orang dewasa.
Bronkopneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang
melibatkan bronkus atau bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk bercak-
bercak (patchy distribution). Pneumonia merupakan penyakit peradangan
akut pada paru yang disebabkan oleh infeksi. Diperkirakan hampir seperlima
kematian anak di seluruh dunia, lebih kurang dua juta anak balita, meninggal
setiap tahun akibat pneumonia, sebagian besar terjadi di Asia Tenggara dan
negara-negara berkembang. Menurut survei kesehatan nasional (SKN) tahun
2011, sebanyak 28,2% kematian bayi dan 20,2% kematian balita di Indonesia
disebabkan oleh penyakit sistem pernafasan, terutama pneumonia.
2.1 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Definisi Bronkopneumonia.
2. Bagaimana Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Neonatal
Bronkopneumonia.
3.1 Tujuan
1. Untuk mengetahui Definisi Bronkopneumonia
2. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Neonatal
Bronkopneumonia.

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Bronkopneumonia
2.1.1 Definisi Bronkopneumonia
Bronkopneumonia adalah suatu infeksi saluran pernafasan akut bagian
bawah dari parenkim paru yang melibatkan bronkus atau bronkiolus dan
juga mengenai alveolus di sekitarnya. Pneumonia adalah suatu peradangan
alveoli atau pada parenchyma paru yang terjadi pada anak. (Astuti, 2010).
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru,
distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius,
alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan
gangguan pertukaran gas setempat. (Zul, 2001)
Bronkopneumonia digunakan unutk menggambarkan pneumonia
yang mempunyai pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih
area terlokalisasi didalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang
berdekatan di sekitarnya. Pada bronkopneumonia terjadi konsolidasi area
berbercak. (Smeltzer,2001).
Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu
merupakan peradangan pada parenkim paru yang melibatkan bronkus atau
bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk bercak-bercak (patchy
distribution). Konsolidasi bercak berpusat disekitar bronkus yang
mengalami peradangan multifokal dan biasanya bersifat bilateral
2.1.2 Anatomi dan Fisiologi
Organ pernapasan berguna bagi transportasi gas-gas dimana organ-
organ persarafan tersebut dibedakan menjadi bagian dimana udara
mengalir yaitu rongga hidung, pharink, larink, trachea, dan bagian
paruparu yang berfungsi melakukan pertukaran gas-gas antara udara dan
darah (Ngastiyah,2005).

2
Gambar 1 anatomy dan Fisiologi Pernafasan
1. Hidung
Merupakan saluran udara yang pertama mempeunyai dua lubang
(cavum nasi). Di pisahkan oleh septum nasi dan di dalamnya terdapat
rambut yang berguan untuk menyaring udara, debu dan kotoran yang
masuk dan sebagai pembunuh kuman.
2. Faring
Merupakan pemisah antara pernafasan dan jalan makanan.
Terdapat di bawah tengkorak, di belakang rongga hidung dan mulut
sebelah depan ruas tulang leher.
3. Laring ( Pangkal Tengorokan)
Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan
suara terletak di depan bagian faring sampai ketinggian veterbra
servikalis dan masuk ke dalam trakea bawah. Laring dapat di tutut oleh
sebuah empang yang di sebut epiglotis yang berfungsi untuk menutupi
laring saat menelan makanan.
4. Trakea (Tenggorokan)
Merupakan lanjutan dari laring lingkarang yang berupa cincin
tulang rawan yang di ikat oleh jaringan fibrosa dan melengkapi lingkaran
di belakang trakea.
5. Bronkus
Bronkus merupakan bentuk percabangan atau kelanjutan dari
trakea yang terdiri atas dua percabangan kanan dan kiri. Bagian kanan
lebih pendek dan lebar yang daripada bagian kiri yang memiliki tiga

3
lobus atas, tengah, dan bawah, sedangkan bronkus kiri lebih panjang dari
bagian kanan yang berjalan dari lobus atas dan bawah.
6. Paru-paru
Paru merupakan organ utama dalam sistem pernapasan. Paru
terletak dalam rongga toraks setinggi tulang selangka sampai dengan
diafragma. Paru terdiri atas beberapa lobus yang diselaputi oleh pleura
parietalis danpleura viseralis, serta dilindungi oleh cairan pleura yang
berisi cairan surfaktan. Paru kanan terdiri dari tiga lobus dan paru kiri
dua lobus. Paru sebagai alat pernapasan terdiri atas dua bagian, yaitu paru
kanan dan kiri. Pada bagian tengah organ ini terdapat organ jantung
beserta pembuluh darah yang berbentuk yang bagian puncak disebut
apeks. Paru memiliki jaringan yang bersifat elastis berpori, serta
berfungsi sebagi tempat pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida
yang dinamakan alveolus.

Gambar 2 anatomy dan fisiology paru-paru


2.1.3 Etiologi
Penyebab Bronkopneumonia di akibatkan oleh penyebaran seperti:
1. Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut.
Organisme gram posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan
streptococcus pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus
influenza, klebsiella pneumonia dan P. Aeruginosa.

4
2. Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi
droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama
pneumonia virus.
3. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar
melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya
ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos.
4. Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC).
Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves,
2001).
2.2.3 Patofisiologi
Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya
disebabkan oleh virus penyebab Bronkopneumonia yang masuk ke saluran
pernafasan sehingga terjadi peradangan bronkus dan alveolus. Inflamasi
bronkus ini ditandai dengan adanya penumpukan sekret, sehingga terjadi
demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual.
Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka komplikasi
yang terjadi adalah kolaps alveoli, fibrosis, emfisema dan atelektasis.
Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas,
dan napas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan
penurunan produksi surfaktan sebagai pelumas yang berpungsi untuk
melembabkan rongga fleura. Emfisema ( tertimbunnya cairan atau pus
dalam rongga paru ) adalah tindak lanjut dari pembedahan.
Atelektasis mengakibatkan peningkatan frekuensi napas,
hipoksemia, acidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan
kelelahan yang akan mengakibatkan terjadinya gagal napas.

5
2.2.4 Pathway Neonatal Bronkopneumonia

2.2.5 Klasifikasi Neonatal Bronkopneumonia


Pneumonia berat ditandai dengan adanya batuk atau (juga disertai)
kesukaran bernapas, napas sesak atau penarikan dinding dada sebelah
bawah ke dalam pada anak usia 2 bulan sampai anak usia kurang dari 5
tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga pneumonia sangat berat
dengan gejala batuk, kesukaran bernapas disertai gejala sianosis sentral

6
dan tidak dapat minum. Sementara untuk anak di bawah 2 bulan,
pneumonia berat ditandai dengan frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali
per menit atau lebih atau (juga disertai) penarikan kuat pada dinding dada
sebelah bawah. Selain itu beberapa klasifikasi pneumonia dari berberapa
penyebab yaitu:
1. Pneumonia oleh Bakteri
Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siap sajadari bayi
sampai usia lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling
umum adalah Streptococcus pneumonia sudah ada di kerongkongan
manusia sehat. Begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua, atau
malnutrisi, bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan
kerusakan. Seluruh jaringan paru dipenuhi cairan dan infeksi dengan cepat
menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Pasien yang terinfeksi
pneumonia akan panas tinggi, berkeringat, napas terengah-engah, dan
denyut jantungnya meningkat cepat. Bibir dan kuku mungkin membiru
karena tubuh kekurangan oksigen. Pada kasus yang ekstrem, pasien akan
mengigil, gigi bergemeletuk, sakit dada, dan kalau batuk mengeluarkan
lendir berwarna hijau. Sebelum terlambat, penyakit ini masih bisa diobati.
Bahkan untuk pencegahanvaksinnya pun sudah tersedia.
2. Pneumonia oleh Virus
Setengah dari kejadian pneuimonia diperkirakan disebabkan oleh
virus. Saat ini makin banyak saja virus yang berhasil diidentifikasi. Meski
virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas
terutama pada anak-anak gangguan ini bisa memicu pneumonia.
Untunglah, sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh
dalam waktu singkat. Namun, bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus
influenza, gangguan bisa berat dan kadang menyebabkan kematian. Virus
yang menginfeksi paru akan berkembang biak walaupun tak terlihat
jaringan paru dipenuhi cairan. Gejala pneumonia oleh virus sama saja
dengan influenza yaitu demam, batuk kering, sakit kepala, ngilu di seluruh
tubuh. Dan letih lesu selam 12-136 jam, napas menjadi sesak, batuk makin
hebat dan menghasilkan sejumlah lendir. Demam tinggi kadang membuat
bibir menjadi biru.
3. Pneumonia Mikoplasma
Pneumonia jenis ini berbeda gejala dan tanda-tanda fisiknya bila
dibandingkan dengan pneumonia pada umumnya. Karena itu, pneumonia
yang diduga disebabkan oleh virus yang belum ditemukan ini sering juga
disebut pneumonia yang tidak tipikal (Atypical Pneumonia). Mikoplasma
tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri, meski mamiliki
karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan biasanya berderajat
ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala usia.
Tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka
kematian sangat rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati.
Gejala yang paling sering adalah batuk berat, namun dengan sedikit lendir.
Demam dan menggigil hanya muncul di awal, dan pada beberapa pasien
bisa mual dan muntah. Rasa lemah baru hilang dalam waktu lama.
4. Pneumonia Jenis Lain
Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii pnumonia
(PCP) yang diduga disebabkan oleh jamur, PCP biasanya menjadi tanda
awal serangan penyakit pada pengidap HIV/AIDS.
PCP bisa diobati pada banyak kasus. Bisa saja penyakit ini muncul
lagi beberapa bulan kemudian, namun pengobatan yang baik akan
mencegah atau menundah kekambuhan. Pneumonia lain yang lebih jarang
disebabkan oleh masuknya makanan, cairan,gas,debu maupun jamur.
Rickettsia juga masuk golongan antara virus dan bakteri menyebabkan
demam Rocky Mountain, demam Q, tipus, dan psittacosis. Penyakit-
penyakit ini juga mengganggu fungsi paru, namun pneumonia tuberkolosis
alias TBC adalah infeksi paru paling berbahaya kecuali diobati sejak dini.
2.2.6 Tanda dan Gejala Neonatal Bronkopneumonia
Bronchopneumonia biasanya didahului oleh infeksi traktus
respiratori bagian atas selama beberapa hari suhu tubuh dapat naik sangat
mendadak sampai 39 – 40 C dan kadang disertai kejang karena demam yang
tinggi. Anak sangat gelisah , dispnea pernapasan cepat dan dangkal disertai
pernapasan cuping hidung serta sianosis sekitar hidung dan mulut, kadang-
kadang disertai muntah dan diare. Batuk biasanya tidak ditemukan pada
permulaan penyakit tetapi setelah beberapa hari mula-mula kering kemudian
menjadi produktif (Ngastiyah, 2005).
Pada stadium permulaan sukar dibuat diagnosis
denganpemeriksaan fisik tetapi dengan adanya nafas dangkal dan cepat
pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut dapat
diduga adanya pneumonia. Hasil pemeriksan fisik tergantung luas daerah
auskultasi yang terkena, pada perkusi sering tidak ditemukan kelainan dan
pada auskultasi mungkin hanya terdengar ronchi basah nyaring halus atau
sedang (Ngastiyah, 2005).
2.2.7 Penatalaksanaan
1. Pemberian oksigen
Terapi yang diberikan pada pasien O2, terapi cairan, O2 diberikan
sebesar 1 lt/menit. Berdasarkan pedoman pelayanan medis World Health
Organization (WHO), pasien dengan saturasi oksigen 92%.10 Pada kasus
ini saturasi oksigen pasien hanya 90% (sudah dengan penggunaan O2)
2. Terapi nebulisasi
menggunakan sabutamol Terapi nebulisasi bertujuan untuk
mengurangi sesak akibat penyempitan jalan nafas atau bronkospasme
akibat hipersekresi mukus.
3. Terapi cairan
Cairan yang diberikan pada pasien ini yaitu infus D5 ¼ N. Hal ini
sesuai dengan kebutuhan Cairan ini diberikan sebagai pengganti kebutuhan
kalori yang tidak bisa didapatkan oleh pasien bronkopneumonia secara
oral.
4. Terapi Farmakologi
Agen antipiretik yang diberikan kepada pasien ini adalah
paracetamol. Indikasi pemberian paracetamol pada pasien ini adalah
adanya peningkatan suhu mencapai 38°C serta untuk menjaga kenyamanan
pasien dan mengontrol batuk
5. Mengontrol Suhu Tubuh
Pasien dengan Bronchopneumonia akan mengalami kenaikan suhu,
maka dari itu harus dikontrol suhu setiap jam dan di lakukan kompres di
barengi dengan pemberian obat penurun demam dan setelah di lakukan
kurang lebi 3 jam harus di cek suhu kembali.
2.2.8 Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan Darah lengkap dan Kimia darah
Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan nilai yang bermakna pada
9
jumlah leukosit (leukositosis) melebihi nilai normal (nilai normal normal
4800-10.800/ul). Hal ini menujukkan adanya infeksi akut . Pada
pemeriksaan kimia darah jika hasilnya melebihi nilai normal. (nilai normal
140 mg/dl). Hal ini mengindikasikan mengalami hipoglikemia.
2. Pada pemeriksaan rontgen thorak
Didapatkan Gambaran infiltrat merupakan gambaran terperangkapnya
udara pada bronkus karena tidak adanya pertukaran pada bronkus.
Gambaran infiltrat ini merupakan gambaran khas pada bronkopneumoni

Gambar 3 perbedaan paru-paru normal dan


Bronkopneumonia

2.2.9 Penyulit/ Komplikasi


1. Infeksi aliran darah
Infeksi aliran darah atau bakteremia terjadi akibat adanya bakteri yang
masuk ke dalam aliran darah dan menyebarkan infeksi ke organ-organ
lain. Bakteremia berpotensi menyebabkan gagal berfungsinya banyak organ.
2. Abses paru atau paru bernanah
Abses paru dapat ditangani dengan antibiotik, namun terkadang juga
membutuhkan tindakan medis untuk membuang nanahnya.
3. Efusi pleura
Kondisi di mana cairan memenuhi ruang yang menyelimuti paru-paru.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Konsep Asuhan Keperawatan
Menurut krisanty, (2009) pengkajiandan diagnose secara teoritis yaitu: 10
3.1.1 Pengkajian
A. Pengkajian primer
Pengkajian yang dilakukan untuk menentukan masalah yang mengancam
nyawa, harus mengkaji dengan cepat apa yang terjadi di lokasi kejadian.
Paramedik mungkin harus melihat. Apabila sudah ditemukan luka tikaman, luka
trauma benda lainnya, maka harus segera ditangani, penilaian awal dilakukan
prosedur ABC jika ada indikasi, jika korban tidak berespon, maka segera buka
dan bersihkan jalan napas.
1. Airway
Adanya peradangan akut pada paru sehingga Batuk yang awalnya kering
kemudian menjadi produktif dengan dahak disertai pilek namun dahak
tersebut sulit untuk dikeluarkan
2. Breathing
Sesak napas, retraksi dada, sulit bernapas, pernapasan cuping hidung,
ronki, wheezing, takipnea, batuk produktif atau non produktif, pergerakan
dada asimetris, pernapasan tidak teratur/ireguler, kemungkinan friction rub,
perkusi redup pada daerah terjadinya konsolidasi, ada sputum/sekret. 
3. Circulation
Adanya Takikardi, penampilan terlihat pucat dan lemas suhu meningkat.
B. Pengkajian Sekunder
1. Keluhan Utama
Biasanya pasien dengan pneumonia datang dengan keluhan sesak nafas,
iramanya cepat, pada anak biasanya rewel, pergerakan dada yang abnormal.
2. Riwayat Kesehatan
a. Kesehatan sekarang
Bagaimana jalannya penyakit saat ini bisa dilihat dari lamanya
sakit, kualitas dan kuantitas batuk, seringnya serangan, waktunya
serangan, dan lain-lain, sebagai gambaran tingkat keparahan sakit yang
sedang dialami, dan sebagai penentuan jenis tindakan yang dapat diberikan
kepada klien.
b. Kesehatan dahulu
11
Penggambaran faktor resiko / pencetus kondisi saat ini yang
mungkin berhubungan, seperti riwayat penyakit ISPA lainnya, status
nutrisi, penyakit menular lain yang pernah diderita, dan lain-lain.
c. Kesehatan keluarga
Apakah pernah ada anggota keluarga yang menderita penyakit
serupa, curigai adanya infeksi antar manusia.
d. Riwayat penyakit keturunan
Yang berkaitan dengan keluhan utama, dan perilaku keluarga
terhadap sakit apabila kemungkinan pernah mengalami kondisi serupa
sebelumnya.
e. Imunisasi
Anak yang tidak mendapatkan imunisasi beresiko tinggi untuk
mendapat penyakit infeksi saluran pernapasan atas atau bawah karena
system pertahanan tubuh yang tidak cukup kuat untuk melawan infeksi
sekunder. Imunisasi yang dianjurkan sesuai dengan pemberian imunisasi
nasional yaitu BCG (pada usia 0-11 bulan), DPT I-III (pada usia 2-11
bulan), polio I-IV (pada usia 2-11 bulan), hepatitis B I-III (pada usia 0-9
bulan), dan campak (pada usia 9-11 bulan).
3.1.2 Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan persistem.
1. kesadaran :komposmentis
2. Sistem kardiovaskuler : Takikardi, iritability.
3. Sistem pernapasan
Sesak napas, retraksi dada, melaporkan anak sulit bernapas,
pernapasan cuping hidung, ronki, wheezing, takipnea, batuk produktif
atau non produktif, pergerakan dada asimetris, pernapasan tidak
teratur/ireguler, kemungkinan friction rub, perkusi redup pada daerah
terjadinya konsolidasi, ada sputum/sekret.

4. Sistem pencernaan.
Biasanya Anak malas minum atau makan, muntah, berat badan
12
menurun, lemah. Pada orang tua yang dengan tipe keluarga anak
pertama, mungkin belum memahami tentang tujuan dan cara pemberian
makanan/cairan personde.
5. Sistem eliminasi.
Anak atau bayi menderita diare, atau dehidrasi, orang tua mungkin
belum memahami alasan anak menderita diare sampai terjadi dehidrasi
(ringan sampai berat).
6. Sistem saraf.
Adanya Demam, kejang, sakit kepala yang ditandai dengan
menangis terus pada anak-anak atau malas minum, ubun-ubun cekung.
7. Sistem lokomotor/muskuloskeletal.
Tonus otot menurun, lemah secara umum,
8. Sistem endokrin.
Tidak ada kelainan
9. Sistem integumen.
Turgor kulit menurun, membran mukosa kering, sianosis, pucat,
akral hangat, kulit kering
10. Sistem penginderaan.
Tidak ada kelainan.
3.1.3 Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan
sekret.
2. Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan peradangan pada
bronkus dan alveolus.
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan distensi abdomen.
13
3.1.3 Intervensi
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Kriteria &
Hasil
1 Bersihan Tujuan: Observasi: 1. Sputum
jalan nafas Jalan nafas 1. Monitoring berkurang
tidak efektif menjadi efektif frekuensi, setelah di
berhubungan dan sekret irama, berikan terapi.
dengan berkurang. kedalaman dan 2. Membran
peningkatan Kh: upaya napas. mukosa
sekret. 1. Sputum 2. Monitor pola lembab,
berwarna napas. turgor kulit
hijau 3. Monitor batuk baik,
menurun efektif. 3. Pengisian
2. Napas 4. Monitor adanya kapiler
cuping produksi cepat,tanda
hidung sputum. vital stabil
menurun. 5. Palpasi
3. Demam kesimemtrisan
menurun. ekspansi paru.
4. Kemerahan 6. Auskultasi
menurun. bunyi napas.
5. Kultur 7. Monitor
darah saturasi
membaik. oksigen.
6. Leukosit 8. Monitor AGD.
membaik. 9. Monitor hasil
x-ray.
Terapeutik
1. Atur interval
pemantauan
respirasi sesuai
kondisi pasien.

14
2. Dokumentasika
n hasil
pemantauan.
Edukasi
1. Jelaskan tujuan
dan prosedur
pemantauan.
2. Informasikan
hasil
pemantauan,
jika perlu.
2 Gangguan Tujuan: Observasi 1. Menunjukkan
Pertukaran Oksigenasi/ 1. Monitoring perbaikan
Gas eliminasi kecepatan ventilasi dan
berhubungan karbondioksida aliran oksigen. oksigenasi
dengan pada 2. Monitoring jaringan
peradangan membram posisi alat dengan GDA
pada bronkus elveolus terapi oksigen. dalam rentang
dan alveolus. kapiler dalam 3. Monitoring normal dan
batas nornal. aliran oksigen tak ada gejala
Kh: secara periodik distress
1. Gelisah dan pastikan pernafasan.
menurun. fraksi yang 2. Berpartisipasi
2. Napas diberikan pada tindakan
cuping cukup. untuk
hidung 4. Monitoring memaksimalk
menurun. efektifitas an oksigen.
3. Takikardia terapi oksigen
membaik. (mis, oksimetri,
4. Pola napas analisa gas
membaik. darah ), jika
perlu.
5. Monitoring 15
tingkat
kecemasan
akibat terapi
oksigen.
6. Monitoring
intregitas
mukosa hidung
akibat
pemasangan
oksigen.
Terapeutik
1. Bersihkan
sekret pada
mulut, hidung,
dan trakea, jika
perlu.
2. Pertahankan
kepatenan jalan
napas.
3. Gunakan
pengkat
oksigen sesuai
dengan tingkat
mobilitas
pasien.
Edukasi
1. Ajarkan pasien
dan keluarga
cara
menggunakan
oksigen di
rumah. 16
Kolaborasi
1. Kolaborasi
penentuan dosis
oksige.
2. Penggunaan
oksigen saat
aktivitas dan/
atau tidur.
3 Nutrisi kurang Tujuan: Observasi
dari kebutuhan Pemenuhan 1. Identifikasi
berhubungan nutrisi status nutrisi.
dengan mencukupi 2. Identifikasi
distensi kebutuhan. kebutuhan
abdomen. Kh: kalori dan jenis
1. Keinginan nutrien.
makan 3. Monitor asupan
membaik. makan.
2. Asupan 4. Monitor berat
cairan badan.
membaik. 5. Monitor hasil
3. Asupan pemeriksaan
nutrisi laboratorium.
membaik. Terapeutik
1. Lakukan oral
hyegiene
sebelum
makan.
2. Sajikan
makanan
semenarik
mungkin.
3. Memberikan
makanan tinggi 17
serat untuk
mencegah
konstipasi.
4. Berikan
makanan tinggi
protein dan
tinggi kalori.
Edukasi
1. Anjurkan posisi
duduk jika
mampu.
2. Ajarkan diet
yang
diprogramkan.
Kolaborasi
1. Kolaborasi
pemberian
medikasi
sebelum makan
(mis, pereda
nyeri,
antiemetik).
Jika perlu
2. Kolaborasi
dengan ahli gizi
untuk
menentukan
jumlah kalori
dari jenis
nurien yang di
butuhkan, jika 18
perlu.
3.1.4 Implementasi
Implementasi adalah melaksanakan strategi dan kegiatan sesuai dengan
rencana keperawatan.Dalam melaksanakan implementasi seorang perawat harus
mempunyai kemampuan kognitif.Proses implementasi mencakup pengkajian
ulang kondisi klien.Memvalidasi rencana keperawatan yang telah
disusun,menentukan kebutuhan yang tepat untuk memerikan
bbantuan,melaksanakan strategi keperawatan dan mengkomunikasikan kegiatan
aik dalam bentuk lisan maupun tulisan.Di dalam melaksanakan asuhan
keperawatan,khususnya pada klien post partum.Dalam memberikan asuhan
keperawatan,perawat harus mampu bekerja sama dengan klien,keluarga serta
anggota tim kesehatan yang terkait,sehingga asuhan keperawatan yang diberikan
dapat optimal dan komprehensif.
3.1.5 Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang bertujuan untuk
menilai hasil akhir dari seluruh tindakan keperawatan yang telah
dilakukan.Evaluasi pada ibu post partum meliputi:dimulainya ikatan
keluarga,berkurangnya nyeri,terpenuhi kebutuhan psikologi,mengekspresikan
harapan diri yang positif,komplikasi tercegah/teratasi,bebas dari infeksi,pola
eliminasi optimal,mengungkapkan pemahaman tentang perubahan
fisiologis,dipahami kebutuhan pasca partum.(Doenges,2005

BAB IV
PENUTUP
Simpulan 19

Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu merupakan


peradangan pada parenkim paru yang melibatkan bronkus atau bronkiolus yang
berupa distribusi berbentuk bercak-bercak (patchy distribution). Selain itu ada
beberapa macam Bronkopneumonia beserta peneyabnya seperti Pneumonia oleh
Bakteri, Pneumonia oleh Virus, Pneumonia Mikoplasma, Pneumonia Jenis Lain
maka dari itu tanda dan gejala yang biasa muncul pada Bronkopneumonia ini
yang sering muncul seperti sesak nafas, Tanda-tanda vital meningkat.
Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini akan membantu teman-teman
dalam mengetahui bagaimana asuhan keperawatan kegawat daruratan pada pasien
Neonatal “Bronkopneumonia” jika penulisa masih banyak yang kurang dalam
menulis makalah ini mohon di maklumi kritik dan saran yang membangun dapat
membantu penulis untuk mensempurnakan.

20
DAFTAR PUSTAKA
http://www.pdpersi.co.id/content/news.php?mid=5&nid=866&catid=9 dikasess
pada 23 02-2020 05.55
http://repo.stikesicmejbg.ac.id/230/1/Revita%20Budi%20Anggraeni%20KTI
%20%20141210032.pdf diakses pada tanggal 23-02-2020

https://www.scribd.com/doc/119062464/Askep-Pneumonia-Igd diakses pada


tanggal 23-02-2020.
http://irmaasusil.wordpress.com/tag/dokumentasi-pasien-dewasa-di-ugd/diakses
pada tanggal 22-02-2020
Devi anakardian, K .(2017)Anatomi fisiologi dan biokimia keperawatan,
yogyakarta ; pustakabarupress
PPNI (2016). Standart diagnosis keperawatan indonesia; Ed1-jakarta: DPP
PPNI,2016.
PPNI (2018). Standrat intervensi keperawatan; definisi dan tindakan
keperawatan ,ED 1. Jakarta –DPP PPNI.
PPNI (2018). Standart luaran keperawatan indonesia; definisi dan kriteria hasil
keperawatan Ed1. Jakarta;DPP PPNI.