Anda di halaman 1dari 4

TOKOH ILMUAN ISLAM PADA

MASA KEJAYAAN ISLAM


AL-FARABI
ILMUAN BIDANG FILSAFAT ISLAM

Kelompok:
1. Nabila Fawaz D.P. (25)
2. Sahira Ayunani (33)
AL-FARABI

Al-Farabi (872-(50), nama lengkapnya adalah Abu Ali Al-Husen Ibnu Tarkhan Ibnu
Uzlag Al-Farabi. Beliau lahir di Farab Transoxania 872 M dan wafat di Damasyik tahun 950 M.
Al-Farabi oleh orang-orang latin abad tengah dijuluki dengan Abu Nashr (Abunaser),
sedangkan julukan Al-Farabi diambil dari nama kota Farab, tempat ia dilahirkan. Beliau
seorang keturunan Turki yang ayahnya pernah menjadi panglima perang pada masa Dinasti
Samani.

Sejak dini, Al-Farabi dikenal sebagai anak yang suka belajar dan juga rajin serta ia
memiliki kemampuan untuk menguasai berbagai bahasa, antara lain bahasa Iran, Turkestan, dan
Kurdistan. Bahkan menurut Munawir Sjadzali, Al-Farabi dapat berbicara dalam tujuh puluh
macam bahasa; tetapi yang ia kuasai dengan aktif, hanya empat bahasa: Arab, Persia, Turki, dan
Kurdi.
Di usia muda, Al-Farabi hijrah ke Baghdad yang pada waktu itu merupakan pusat ilmu
pengetahuan. Di Baghdad ia belajar kepada Abu Bakar Al-Saraj untuk mempelajari kaidah
bahasa Arab, dan kepada Abu Bisyr Mattius ibnu Yunus (seorang kristen) untuk belajar logika
dan filsafat. Selanjutnya ia hijrah ke Harran yang merupakan pusat kebudayaan Yunani di Asia
Kecil dan belajar kepada Yuhanna ibnu Jailan. Kemudian, ia kembali ke Baghdad untuk
memperdalam filsafat.
Al-Farabi mendapat predikat Guru Kedua, karena ialah orang pertama yang memasukkan
ilmu logika ke dalam kebudayaan Arab. Selanjutnya ia pindah ke Damaskus, di sana ia
berkenalan dengan Saif Ad-Daulah Al-Hamdani, Sultan Dinasti Hamdan di Alleppo. Akhirnya
Al-Farabi diberi kedudukan menjadi ulama istana. Ia hidup sederhana dan mengguinakan gajinya
untuk beramal dan dibagikan kepada fakir miskin di Alleppo dan Damaskus. Al-Farabi wafat
pada usia 80 tahun di Alleppo tahun 950 M.

KARYA-KARYA AL-FARABI:
1. Al-Jam’u baina Ra’yay Al-Hakimain Aflathun wa Aristhu;
2. Tahqiq Ghardh Aristhu fi Kitab ma Ba’da Ath-Thabi’ah;
3. Syarah Risalah Zainun Al-Kabir Al-Yunani;
4. At-Ta’liqat;
5. Risalah fima Yajibu Ma’rifat Qabla Ta’allumi al-Falsafah;
6. Kitab Tahshil As-Sa’adah;
7. Risalah fi Itsbat Al-Mufaraqah;
8. ‘Uyun Al-Masa‘il;
9. Ara’ Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah;
10. Ihsa Al-Ulum wa At-Ta’rif bi Aghradita

Filsafat Al-Farabi
Al-Farabi memiliki beberapa substansi pemikiran di antaranya:
1. Pemaduan Filsafat
Dalam pemikirannya Al-Farabi berusaha untuk memadukan beberapa aliran filsafat yang
berkembang sebelumnya terutama pemikiran Plato, Aristoteles, dan Plotinus, juga antara agama
dan filsafat. Oleh karenanya dalam hal akhlak dan politik ia dipengaruhi oleh Plato, dalam logika
dan fisika ia dipengaruhi oleh Aristoteles, sedangkan dalam metafisika ia dipengaruhi oleh
Plotinus.

2. Metafisika
Diantara pemikiran filsafat Al-Farabi yang terkenal adalah penjelasannya tentang emansi
(Alfaid), yaitu teori yang mengajarkan tentang proses urut-urutan kejadian suatu wujud yang
mungkin (alam makhluk) dari zat yang wajib al wujud (tuhan). Menurutnya tuhan adalah bukan
pikiran yang berupa benda.

3. Tiga Jiwa
Adapun tentang jiwa, Al-Farabi dipengaruhi oleh filsafat Plato. Jiwa manusia menurut Al-Farabi,
memiliki 3 daya:
a. Daya gerak berupa makan, memelihara, dan berkembang biak
b. Daya mengetahui beruoa merasa dan imajinasi
c. Daya berpikir berupa akal praktis dan akal teoretis

4. Psikologi dan Pengetahuan Kenabian


Dalam pengobatan tentang jiwa manusia, Al-Farabi menarik pada garis dasar Aristotelian, yang
diinformasika oleh komentar-komentar dari para pemikir kemudian yunani.

5. Filsafat Kenegaraan
Dalam filsafat kenegaraan, Al-Farabi membedakan menjadi 5 macam:
a. Negara Utama yaitu negara yang pendudujnya dalam kebahagiaan
b. Negara orang-orang bodoh yaitu negara-negara yang penduduknya tidak kenal kebahagiaan
c. Negara orang-orang fasik, yakni negara yang penduduknya mengenal kebahagiaan
d. Negara yang berubah-ubah yaitu negara yang semula mempunyai pikiran dan pendapat seperti
yang dimiliki negara utama, tetapi kemudian mengalami kerusakan
e. Negara sesat yakni negara yang penduduknya mempunyai konsepsi penikiran yang slaah
tentang tuhan dan akal fa'al

6. Filsafat praktis
Dalan karyanya, Tahshil Al-Faadah, Al-Farabi memperlihatkan keidentikan real konseptual dari
gagasan para filsuf, ahli hukum dan imam, dan mengklaim bahwa keragaman label religius dan
filosofis hanyalah mencerminkan penekanan yang berbeda atas aspek-aspek tertentu dari realitas
yang sama.

7. Logika dan Filsafat Bahasa


Salah satu pokok karya Al-Farabi adalah menguraikan antara logika filsafat dengan tata bahasa
umum.