Anda di halaman 1dari 4

Amanatu Sak Diah 18706251039

Ilma Yullinda Rahmah 18706251035

RESUME MATERI PRESENTASI


METODE ANALISIS WACANA DAN ANALISIS WACANA KRITIS
oleh kelompok 7

Analisis wacana adalah suatu disiplin ilmu yang berusaha mengkaji penggunaan bahasa
yang nyata dalam komunikasi, lebih spesifiknya yaitu suatu unit bahasa yang lebih besar
daripada kalimat. Analisis wacana lazim digunakan untuk menemukan makna wacana yang
persis sama atau paling tidak sangat ketat dengan makna yang dimaksud oleh pembicara
dalam wacana lisan, atau oleh penulis dalam wacana tulis. Sedangkan analisis wacana kritis
atau critical discourse analiysis (CDA) adalah studi tentang teks, ujaran atau bicara, dan
gambar-gambar visual untuk menemukan atau mengungkapkan berbagai makna yang
dibagikan serta berkontribusi atau mewakili struktur-struktur sosial dan ideologi. Fairclough
(2010) menjelaskan bahwa CDA adalah analisis relasi dialektikal antara discourse dan objek
lain dalam relasi sosial, momen, dan relasi internal diskursus.
Akar analisis wacana kritis terletak dalam retorika, teks, linguistik, antropologi, filsafat,
psikologi sosial, ilmu kognitif, studi literasi, dan sosiolinguistik serta linguistik terapan dan
pragmatis. Adapun yang menjadi landasan analisis wacana kritis adalah teori wacana yang
digagas oleh Michel Foucault yang menyatakan bahwa analisis wacana kritis berbeda dengan
analisis wacana dalam hal tujuan politis dan sosial. Para ahli analisis wacana kritis terinspirasi
oleh beberapa pendahulu seperti Aliran Frankfrut dan Jurgen Habermas, Antonio Gramsci,
Michel Faucoult, Mikhail Bakhtin, Michael Halliday, Robert Hodge dan Gunther Kress.
Analisis wacana (atau yang juga disebut analisis wacana kritis) adalah pendekatan yang
relative baru dari sistematika pengetahuan yang timbul dari tradisi teori sosial dan analisis
linguistik yang kritis. Hal ini dikemukakan oleh Barker dan Galasinski 2001; Fairclough
1995; Gavey 1997; Gray 1999, dan Hardy 2002; Philips dan Jorgensen 2002; Titscher, Meyer,
Wodak dan Vetter 2000; Wodak dan Meyer 2001; Wood dan Kroger 2000. Untuk itu, di
dalam proses analisisnya, terdapat berbagai macam metode kajian wacana, diantaranya ada
metode menurut Fairclough dan Van Dijk.

Metode Kajian Wacana Fairclough


Analisis wacana milik Fairclough berusaha membangun suatu model yang menghubungkan
teks yang mikro dengan konteks masyarakat yang makro dengan cara mengkombinasikan
tradisi analisis tekstual dengan konteks masyarakat dan kondisi ekonomi-politik yang lebih
luas. Artinya, Fairclough tidak sekedar memahami wacana sebagai bentuk dari tindakan
seseorang menggunakan bahasa sebagai suatu tindakan pada dunia atau bentuk representasi
ketika melihat realitas, tetapi ia juga memahami adanya hubungan timbal balik antara wacana
dan struktur sosial (Eriyanto, 2015: 285-286).

Menurut Firclough ada empat dimensi analisis wacana kritis diantaranya: (i) analisis
struktural mikro sebagai teks. Sebuah teks bukan hanya menampilkan bagaimana suatu objek
digambarkan tetapi juga bagaimana hubungan antarobjek didefinisikan. Setiap teks dapat
diuraikan dan dianalisis dengan ketiga unsur: pertama, representasi yakni bagaimana
peristiwa, orang, kelompok, situasi, keadaan, atau apapun ditampilkan dan digambarkan
dalam teks. Kedua, relasi yakni bagaimana hubungan antara wartawan, khalayak, dan
partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam teks. Ketiga, identitas yakni bagaimana
identitas wartawan, khalayak, dan partisipan berita ditampilkan serta digambarkan dalam teks
(ii) analisis struktural mezzo sebagai praktik kewacanaan terkait dengan memaparkan tentang
pemproduksian dan pengkonsumsian teks. Proses produksi teks lebih mengarah pada si
pembuat teks tersebut. Proses ini melekat dengan pengalaman, pengetahuan, kebiasaan,
lingkungan sosial, kondisi, keadaan, konteks, dan sebagainya yang dekat pada diri atau dalam
si pembuat teks. Sedangkan konsumsi teks bergantung pada pengalaman, pengetahuan,
konteks sosial yang berbeda dari pembuat teks atau bergantung pada diri pembaca/penikmat.
dan (iii) analisis struktural makro sebagai praktik sosial. Praktik sosial (Sociocultiral practice)
berhubungan dengan konteks di luar teks. Fairclough membagi tiga level analisis pada
sociocultural practice: pertama, situasional yakni bagaimana teks diproduksi diantaranya
memperhatikan aspek situasional ketika teks tersebut diproduksi. Pada umumnya teks
dihasilkan dalam suatu kondisi atau suasana yang khas, unik, sehingga satu teks dengan yang
lain bisa jadi berbeda. Kedua, institusional yakni melihat bagaimana pengaruh institusi
organisasi dalam praktik produksi wacana. Institusi ini bisa berasal dalam diri media sendiri
atau dari kekuatan-kekuatan eksternal. Ketiga, sosial yakni lebih melihat pada aspek makro
seperti sistem politik, sistem ekonomi, atau sistem budaya masyarakat secara keseluruhan.

Metode Kajian Wacana Van Dijk


Dalam buku Eriyanto (2001: 225), Van Dijk melihat bagaimana struktur sosial,
dominasi, dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat dan bagaimana
kognisi/pikiran dan kesadaran membentuk dan berpengaruh terhadap teks tertentu. Wacana
oleh van Dijk digambarkan mempunyai tiga dimensi: teks, kognisi sosial, dan konteks sosial.
Inti analisis van Dijk adalah menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut ke dalam satu
kesatuan analisis. Dalam dimensi teks, yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan
strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial
dipelajari proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari wartawan.
Sedangkan aspek ketiga mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat
akan suatu masalah. Ketiga dimensi ini merupakan bagian yang integral dan dilakukan secara
bersama-sama dalam analisis Van Dijk.
Selanjutnya, Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas 3 tingkatan. Petama, struktur
makro, yang merupaka makna global/umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan
melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu berita. Kedua, superstruktur yaitu
struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka sutau teks, bagaimana bagian-bagian
teks tersusun kedalam berita secar utuh. Ketiga, struktur mikro, yaitu makna wacana yang
dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat, proposisi, anak kalimat,
paraphrase, dan gambar. Semua elemen tersebut merupakan suatu kesatuan, saling
berhubungan dan mendukung satu sama lainnya. Makna global dari suatu teks (tema)
didukung oleh kerangka teks, pada akhirnya pilihan kata dan kalimat yang dipakai.
Pertanyaan/tema pada level umum didukung oleh pilihan kata, kalimat atau retorika tertentu.
Proses ini membantu peneliti untuk mengamati bagaimana suatu teks terbangun oleh elemen-
elemen yang lebih kecil. Skema ini juga memberikan peta untuk mempelajari suatu teks. Kita
tidak cuma mengerti apa isi dari suatu teks berita, tetapi juga elemen yang membentuk teks
berita, kata, kalimat, paragraf, dan proposisi. Kita tidak hanya mengetahui apa yang diliput
oleh media, tetapi juga bagaimana media mengungkapkan peristiwa kedalam pilihan bahasa
tertentu dan bagaimana itu diungkapkan lewat retorika tertentu.

Contoh Analisis Wacana Kritis


Berdasarkan penelitian analisis wacana kritis yang dilakukan oleh Putra dan Triyono
(2018), analisis struktural mikro dalam pemberitaan tentang “Gerakan #2019GantiPresiden di
antara Ambiguitas Hukum dan Syahwat Politik” oleh Kompas.com, seperti yang telah
dijelaskan oleh kelompok 7, ditemukan tanda representasi tema dan tokoh yang terlibat dalam
pemberitaan kompas.com. Hal tersebut berupa diksi, penggunaan kalimat kausal, dan kutipan
langsung dari pendapat pengamat. Misalnya, pada paragraf dari baris pertama berita, seperti
menyulut konflik (berpotensi memicu konflik) yang memiliki sebab-akibat semantik,
mengartikan bahwa #2019GantiPresiden memiliki efek sosial dalam masyarakat. Selain itu,
adanya beberapa pernyataan dengan diksi yang bermakna negatif seperti, menyulut, menolak,
mencaci, dan mengancam sebagai kata kerja dari aksi yang dilakukan figur pertama dan
kedua. Menyulut dimaknai sebagai aksi yang dilakukan figur pertama yang bisa membuat
kerusuhan horizontal atau konflik di masyarakat. Menolak dimaknai sebagai aksi dari figur
kedua. Menolak diinterpretasikan sebagai dorongan dari figur kedua sebagai reaksi terhadap
#2019GantiPresiden. Mencaci dimaknai sebagai aksi menghina dan memfitnah pihak tertentu.
Mengancam dimaknai sebagai aksi berupa intensi atau rencana melakukan suatu yang
membahayakan pihak lain, hal ini dilakukan figur kedua. Diksi-diksi tersebut dilontarkan
figur kedua sebagai reaksi dari aksi figur pertama atau elit politik yang berkonflik.
Adapun pada analisis struktural mezzo dapat disimpulkan bahwa sebagai media,
Kompas.com adalah harian publik online yang cukup berpengaruh di masyarakat Indonesia.
Itu dibuktikan oleh Penghargaan Superbrands untuk Kategori Berita Online Terpercaya pada
tahun 2018. Oleh karena itu, seri produksi teks dalam Kompas.com tidak hanya berdiri
sendiri, tetapi juga kelembagaan yang melibatkan wartawan, editor, danlainnya. Realisasi teks
yang dihasilkan oleh Kompas.com khususnya dalam pemberitaan Gerakan
#2019GantiPresiden di antara Ambiguitas Hukum dan Syahwat Politik dianggap selaras
dengan tujuan yang dinyatakan, yaitu memberi berita aktual dan dapat diandalkan.
Dalam analisis struktural makro pemberitaan tersebut, tingkat situasional berupa konflik
horizontal yang terjadi di masyarakat yang secara langsung mempengaruhi kondisi dan situasi
sosial politik di Indonesia antara komunitas yang pro-pemerintah dan kontra-pemerintah yang
menghujat satu sama lain. Pada tingkat kelembagaan, pada penulisan teks berita “Gerakan
#2019GantiPresiden di antara Ambiguitas Hukum dan Syahwat Politik” hanya melibatkan
satu sumber, yaitu seorang ahli psikologi politik dari Universitas Indonesia (UI) Hamidi
Moeloek. Keberpihakan Kompas.com pada pemerintah dapat dilihat dari pendapat
narasumber dan secara tidak langsung Kompas.com memandu masyarakat ke internet untuk
memahami bahwa #2019GantiPresiden adalah upaya pengkhianatan. Karena itu, pendapat
pembaca diarahkan untuk memberikan citra positif kepada pemerintah dan nilai
#2019GantiPresiden.

REFERENSI
Eriyanto. 2009. Analisis Wacanaa: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.
Faiclough, N. (2010). Critical Discourse Analysis: the Critical Study of Language. London
and New York: Routledge.
Putra, H. P., & Triyono, S. (2018). Critical discourse analysis on kompas.com news: Gerakan
#2019gantipresiden. Jurnal Bahasa dan Sastra, 3(2), pp. 113-121.