Anda di halaman 1dari 9

Psikis : Jurnal Psikologi Islami Vol. 4 No.

1 Juni 2018: 52-60

KEHARMONISAN KELUARGA DAN KENAKALAN REMAJA


PADA SISWA KELAS 9 MTS NEGERI 2 PALEMBANG

Desy Oktaviani, Lukmawati


Fakultas Psikologi, UIN Raden Fatah Palembang
dheassi_winter@yahoo.com, lukmawati_uin@radenfatah.ac.id

ABSTRACT
The goal of this research is for examine relationship between harmony family with delinquency
teenagers. The sample of this research is IX class of the MTs negeri 2 palembang consist of 173
Students. The methods used data using the Statistical Programme for Social Science (SPSS) versi
20.00 for windows to test the relationship between harmony of family and delinquency teenagers.
The result of Product Moment Correlation showed the number r= -0,598 with ρ = 0.000 where
(ρ<0.01), it can be concluded that there is a negative relationship which is significant between
harmony family and deliquency teenagers from IX class students of MTs Negeri 2 Palembang. The
Negative association shows that the higher that harmony family the lower is delinquency teenagers
vice verse lower is harmony family the increasingly high deliquency teenagers happened.

Keywords: Harmony Family, Deliquency Teengers

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara keharmonisan keluarga dengan kenakalan
remaja. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, ada hubungan antara keharmonisan keluarga
dengan kenakalan remaja pada siswa kelas IX Mts negeri 2 Palembang. Sampel dalam penelitian ini
adalah siswa-siswi kelas IX di MTs Negeri 2 palembang yang berjumlah 173 siswa. Metode analisis
data yang digunakan menggunakan program Statistical Programme for Social Science (SPSS) versi
20.00 for windows untuk menguji hubungan antara keharmonisan keluarga dengan kenakalan
remaja. Hasil korelasi product moment menunjukkan angka korelasi r = -0.598 dengan ρ = 0.000
dimana (ρ<0.01), maka dapat disimpulkan bahwa ada Hubungan Negatif Yang sangat Signifikan
Antara Keharmonisan Keluarga Dengan Kenakalan Remaja Pada Siswa Kelas IX Di MTS Negeri 2
Palembang. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi keharmonisan keluarga maka semakin
rendah kenakalan remaja begitu juga sebaliknya semakin rendah keharmonisan keluarga maka
semakin tinggi kenakalan remaja yang terjadi.

Kata Kunci: Keluarga, Kenakalan Remaja

PENDAHULUAN yang akan menjadi pemimpin dan pejuang


Selama rentang kehidupan manusia penerus bangsa.
banyak terjadi perubahan atau baik perubahan Masa remaja juga sering disebut
fisik maupun psikis yang dimulai sejak lahir sebagai periode peralihan dari masa anak-
sampai meninggal dunia. Semua fase anak menuju masa dewasa, hal ini disebabkan
perkembangan dan pertumbuhan manusia karena status individu tidaklah jelas dan
tersebut. Salah satu fase yang penting dan terdapat keraguan akan peran yang harus
menjadi pusat perhatian adalah fase remaja. dilakukan. Pada masa ini remaja bukan lagi
Dianggap penting karena kelak remaja inilah bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang
ISSN: 2502-728X
E-ISSN: 2549-6468
Desy Oktaviani, Lukmawati Keharmonisan Keluarga…|53

dewasa. Kalau remaja berperilaku seperti Kenakalan remaja ialah perilaku jahat
anak-anak, ia akan diajari untuk betindak (dursila), atau kejahatan/ kenakalan anak-anak
sesuai umurnya. Namun jika remaja muda; merupakan gejala sakit (patologis)
berperilaku seperti orang dewasa ia akan secara sosial pada anak-anak dan remaja yang
dicap sebagai anak yang dewasa sebelum disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian
waktunya (Hurlock & Elizabeth, 1980) sosial, sehingga mereka itu mengembangkan
Pada masa ini akan timbul berbagai bentuk tingkah laku yang menyimpang
kemungkinan seseorang akan berkembang. (Kartono, 2014).
Perkembangan yang meliputi aspek fisik dan Selanjutnya menurut Sumiati (2009)
psikis yang akan membawa atau kenakalan remaja adalah tingkah laku yang
menimbulkan dampak baik bagi remaja itu melampaui batas toleransi orang lain dan
sendiri, orang tua dan orang-orang sekitarnya. lingkungannya. Tindakan ini dapat
Pada tahap remaja seorang anak mulai merupakan perbuatan yang melanggar hak
berusaha untuk mencari jati diri dan remaja azasi menusia sampai melanggar hukum.
yang sehat fisik maupun sehat mental, yaitu Berdasarkan definisi diatas, dapat
remaja yang mampu menyelesaikan tugas- simpulkan bahwa kenakalan remaja adalah
tugas hidupnya dan mampu menghadapi suatu bentuk perilaku melanggar hukum baik
tantangan-tantangan baik yang berasal dari hukum sosial, budaya, dan hukum yang
dalam dirinya maupun dari luar dirinya. dilakukan oleh anak remaja.
Perubahan-perubahan kepribadian disini Jensen membagi kenakalan remaja
sangat cepat dan menimbulkan banyak menjadi empat bentuk, yaitu:
ketegangan. Pada masa transisi ini terjadi 1 Kenakalan yang menimbulkan korban
storm and stress yang ditandai dengan emosi fisik pada orang lain: perkelahian,
yang bergolak serta mempengaruhi daya pikir perkosaan, perampokan, pembunuhan,
dan perilakunya. dan lain-lain.
Selain itu masa remaja adalah masa 2 Kenakalan yang menimbulkan korban
yang paling tepat untuk mengembangkan materi: perusakan, pencurian,
keterampilan sehingga dalam usia yang relatif pencopetan, pemerasan, dan lain-lain.
muda dapat menjadi yang kreatif dan dinamis. 3 Kenakalan sosial yang tidak
Semua ini tentu saja tidak dapat dicapai menimbulkan korban dipihak orang
begitu saja akan tetapi melalui proses yang lain: pelacuran, penyalahgunaan obat,
cukup panjang dan penuh dengan hambatan, melakukan hubungan seks sebelum
tantangan, atau gangguan. Bila masa remaja menikah.
didukung perlakuan yang tepat (moril) dan 4 Kenakalan yang melawan status,
sarana prasarana (materil) yang baik, maka misalnya mengingkari status anak
remaja akan tumbuh dan berkembang dengan sebagai pelajar dengan cara membolos,
baik (Hurlock & Elizabeth, 1980). mengingkari status orang tua dengan
Namun jika kebutuhan tersebut tidak cara minggat dari rumah atau
terpenuhi tidak jarang beberapa remaja membantah perintah mereka dan
melakukan penyimpangan-penyimpangan sebagainya (dalam Sarlito, 2012).
yang melanggar norma, baik norma sosial,
agama, maupun hukum. Istilah yang biasa Sampai tahun 2011 ini kenakalan
digunakan untuk menyebutnya ialah remaja terus mengalami peningkatan, hal ini
kenakalan remaja atau Juvenile Delinquency. dapat diketahui dengan melakukan
pengamatan pada perilaku remaja di sekitar

ISSN: 2502-728X
E-ISSN: 2549-6468
54| Psikis : Jurnal Psikologi Islami Vol. 4 No. 1 Juni 2018

lingkungan kita, atau melalui media massa. berinisial L yang diadukan oleh bibi nya
Hampir setiap hari media cetak maupun karena suka mencuri dan berbohong kepada
elektronik memberitakan tentang perilaku bibinya. Kemudian kasus siswi berinisial A
kenakalan remaja. yang diketahui menyimpan foto dan video
Seperti kasus sejumlah siswa SMA di porno di telepon genggam.
Surabaya yang menggunakan Narkoba Selanjutnya siswa berinsial FA yang
(Liputan6, 2016). Lalu kasus lain terjadi di kabur dari rumah dan bergaul dengan
Bekasi, OV seorang pelajar tewas kelompok anak punk. Dan terakhir kasus
mengenaskan setelah terlibat, meninggal siswa berinsial E yang dilapokan berciuman
dengan satu luka tusuk yang mengenai dengan 4 teman lelakinya di lingkungan
jantung (Purba, 2017). Selanjutnya kasus sekolah. Kasus diatas adalah bentuk
yang terjadi di Kudus, sepasang remaja pelanggaran yang berat. Sedangkan untuk
tertangkap kamera sedang memadu kasih di pelanggaran ringan ada kasus siswa berinisial
dalam salah satu angkutan kota (angkot) di AK yang diadukan temannya ke guru BK
kabupaten kudus, Jawa Tengah (Saputra, karena ia dikenal anak yang egois, jahil,
2017). sombong, cerewet, dan pelit., lalu siswa
Kasus tersebut hanyalah sebagian inisial MT ia dilaporkan oleh guru-guru
kecil dari sekian banyak kasus kenakalan karena suka ribut dikelas dan suka
remaja yang terjadi di Indonesia. Hal ini mengganggu temannya. Dan yang terakhir
membuat semua orang terkhusus pada orang kasus siswa berinisial B, ia diadukan teman-
tua mencemaskan anaknya akan terseret ke temannya karena suka bersikap kasar.
dalam lingkaran kenakalan remaja. Diperkuat dengan hasil wawancara
Terkait hal di atas, permasalahan yang peneliti kepada guru BK MTS Negeri 2
terjadi di lingkungan MTs Negeri 2 Palembang. Menurut penuturan Guru BK
Palembang yang didapatkan oleh peneliti dari tersebut memang terjadi beberapa kenakalan-
hasil observasi dan dokumentasi kepada pihak kenakalan yang dilakukan oleh siswa, yang
sekolah terdapat beberapa kenakalan- paling sering terjadi adalah pertengkaran antar
kenakalan ringan hingga berat yang pernah siswa, ribut pada saat pelajaran berlangsung,
terjadi di lingkungan sekolah. Bentuk-bentuk jahil kepada teman, lalu jarang masuk sekolah
pelanggaran ringan yang terjadi seperti bolos tetapi tidak banyak yang melakukannya.
sekolah, ribut didalam kelas ketika kegiatan Kemudian pelanggaran kedisplinan
belajar mengajar berlangsung, jahil dengan yang sering terjadi adalah seragam yang tidak
teman yang terkadang menyebabkan rapi dengan atibut yang tidak lengkap, lalu
pertengkaran, berbohong, berpakaian tidak bersikap tidak sopan, yang terakhir berbicara
sesuai dengan aturan yang ditetapkan sekolah, kotor dan kasar, namun langsung ditegur oleh
berbicara kasar, tidak sopan kepada guru, dll. gurunya agar tidak menjadi kebiasaan dan
Sedangkan bentuk pelanggaran berat terus dilakukan. Untuk bentuk pelanggaran
yang terjadi adalah ngelem, mencuri, kabur yang berat seperti mencuri, ngelem, kabur
dari rumah, bergabung dengan kelompok dari rumah, merokok,dan lain-lain
anak punk, menyimpan video dan foto porno, berdasarkan dari hasil wawancara peneliti
berciuman dengan lawan jenis, merokok, dll. kepada pihak guru BK memang tidak terlalu
Beberapa contoh kasus-kasus pelanggaran sering terjadi.
berat yang pernah terjadi dan tercatat di buku Melihat fenomena yang terjadi di
kasus BK adalah kasus siswa yang berinisial sekolah tersebut membuat peneliti tertarik
MI yang ngelem diluar sekolah, lalu siswi untuk mengetahui apa yang menyebabkan hal
ISSN: 2502-728X
E-ISSN: 2549-6468
Desy Oktaviani, Lukmawati Keharmonisan Keluarga…|55

tersebut bisa terjadi. MTs Negeri 2 korban. Anak cenderung mengalami konflik-
Palembang adalah sekolah menengah pertama konflik internal, pemikiran kritis, perasaan
yang berbasis Islam sehingga pengajaran mudah tersinggung, cita-cita dan kemauan
disekolah pastilah menekankan pada aspek yang tinggi sukar dikerjakansehingga menjadi
akhlak dan bagaimana berperilaku yang baik frustasi, bahkan bias mengalami pergaulan
dan sesuai dengan ajaran agama Islam. yang tidak sehat. Ketidakharmonisan keluarga
Jika dilihat secara umum banyak dapat ditandai dengan tidak berfungsinya
faktor yang menyebabkan kenakalan remaja. orang tua sebagai figur tauladan bagi anak.
Faktor keluarga, lingkungan, dan sekolah Selain itu suasana keluarga yang
dapat mempengaruhinya. Jika dilihat lebih menimbulkan rasa tidak aman dan tidak
jauh lingkungan sosial yang berinterksi menyenangkan serta hubungan keluarga yang
pertama kali dengan anak adalah keluarganya. kurang baik dapat menimbulkan bahaya
Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan psikologis bagi setiap usia terutama pada
saudara. Kondisi yang terjadi didalam masa remaja.
keluarga dapat mempengaruhi apakah seorang Orang tua dari remaja nakal cenderung
anak akan tumbuh dengan baik atau tidak. memiliki aspirasi yang minim mengenai anak-
Menurut Ahmadi (2009) Keluarga adalah unit anaknya, menghindari keterlibatan keluarga
satuan masyarakat yang terkecil sekaligus dan kurangnya bimbingan orang tua terhadap
merupakan suatu kelompok kecil dalam remaja, sebaliknya, suasana keluarga yang
masyarakat. menimbulkan rasa aman dan menyenangkan
Kartono (2014) menyatakan secara akan menumbuhkan kepribadian yang wajar
umum dapat dinyatakan anak delinkuen dan begitu pula sebaliknya.
(nakal) pada umumya datang dari rumah Sehingga dapat diartikan
tangga dengan relasi manusiawi penuh keharmonisan keluarga adalah
konflik dan percekcokan, yang disharmonis keluargadimana anggota didalamnya bisa
atau tidak harmonis. Berdasarkan dari berhubungansecara serasi dan seimbang,
pendapat di atas, maka dapat diketahui bahwa saling memuaskankebutuhan anggota lainnya
salah satu faktor kenakalan remaja adalah serta memperoleh pemuasan atas segala
keharmonisan keluarga. kebutuhannya.
Menurut Setiono (2011) keharmonisan Aspek-aspek keluarga harmonis
keluarga adalah keadaan dimana interaksi menurut Hawari (2004) yaitu, menciptakan
antara anggota keluarga tidak terhambat, kehidupan beragama dalam keluarga,
kebutuhan anggota keluarga terpenuhi. Di mempunyai waktu bersama keluarga,
dalam Islam konsep keluarga harmonis sudah mempunyai komunikasi yang baik antar
dimuat oleh Allah SWT dalam QS. ar-Rum anggota keluarga, saling menghargai antar
(30): 21. sesama anggota keluarga, kualitas dan
Berdasarkan ayat di atas bisa dipahami kuantitas konflik yang minim, adanya
bahwa kehidupan rumah tangga yang hubungan atau ikatan yang erat antar anggota
harmonis menurut Islam, yaitu: Sakinah keluarga.
(assakinah), Mawadah (al-mawaddah), dan Banyak penelitian yang dilakukan oleh
Rahmah, yaitu rasa kasih dan sayang sehingga para ahli menemukan bahwa remaja yang
tercipta ketentraman di dalam keluarga. berasal dari keluarga yang penuh perhatian,
Ketidak harmonisan keluarga dan tidak hangat, dan harmonis mempunyai
sesuainya pola asuh yang diterapkan oleh kemampuan dalam menyesuaikan diri dan
orang tua berakibat anak yang menjadi
ISSN: 2502-728X
E-ISSN: 2549-6468
56| Psikis : Jurnal Psikologi Islami Vol. 4 No. 1 Juni 2018

sosialisasi yang baik dengan lingkungan dua variabel yang diteliti dalam penelitian ini,
sekitarnya. yaitu kerharmonisan keluarga dan kenakalan
Menurut Hawari (2004) salah satu remaja. Dalam penelitian ini kehamonisan
faktor penyebab timbulnya kenakalan remaja keluarga adalah keadaan interaksi antara
adalah tidak berfungsinya orangtua sebagai anggota keluarga tidak terhambat, kebutuhan
figur tauladan bagi anak. Selain itu, suasana anggota keluarga terpenuhi; dan khusus dari
keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman sudut pandang psikologi perkembangan,
dan tidak menyenangkan serta hubungan perkembangan kepribadian anggota keluarga
keluarga yang kurang baik dapat optimal, mengingat keluarga adalah
menimbulkan bahaya bagi setiap usia lingkungan pertama dan utama bagi anak
terutama pada masa remaja. untuk bekembang. Kenakalan remaja dalam
Penelitian lainnya oleh Ingram, penelitian ini didefinisikan sebagai perilaku
Patchin, Huebner, Mc (2015) Cluskey, dan jahat (dursila), atau kejahatan/kenakalan
Bynum menyatakan bahwa variabel-variabel anak-anak muda; merupakan gejala sakit
yang berasal dari keluarga secara tidak (patologis) secara sosial pada anak-anak dan
langsung berhubungan dengan perilaku remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk
kenakalan remaja serius. Penelitian dari pengabaian sosial, sehingga mereka itu
Muniriyanto dan Suharnan (2014) didapatkan mengembangkan bentuk tingkah laku yang
hasil bahwa ada hubungan yang signifikan menyimpang.
antara keharmonisan keluarga dengan Populasi dalam penelitian ini
kenakalan remaja. berjumlah 305 siswa yaitu, seluruh siswa
Jadi dari keluargalah semua itu kelas 9 Mts N 2 Palembang, dimana terdapat
berasal, apabila anak remaja dibesarkan dari 10 kelas. Karateristik populasi yang
keluarga yang utuh/tidak utuh (broken home) digunakan di dalam penelitian ini adalah:
maka perkembangan anaknya akan mengarah 1. Seluruh siswa-siswi kelas 9 MTs Negeri
kearah yang baik atau sebaliknya, Dalam 2 Palembang.
situasi saat ini, anak-anak belajar untuk 2. Individu yang beragama islam.
menghargai diri mereka sendiri dan orang 3. Individu Laki-laki dan perempuan,
lain, termasuk mengontrol tingkah laku berusia 13 sampai 15 tahun.
mereka, karena adanya perubahan struktur, 4. Individu yang bersedia menjadi
fungsi, dan sikap, maka orang tua tidak selalu responden penelitian.
dapat memenuhi kebutuhan anak. Pendapat Sampel diambil dengan menggunakan
yang lain juga menyebutkan Remaja yang probability sampling dengan teknik simple
hubungan keluarganya kurang baik juga dapat random sampling.Metode pengumpul data
mengembangkan hubungan yang tidak yang digunakan dalam penelitian ini
menyenangkan dengan orang-orang di luar berbentuk skala dengan model skala likert,
rumah. Berdasarkan uraian maka peneliti variabel terdiri dari 60 item pernyataan yang
tertarik untuk meneliti hubungan antara terbagi dalam bentuk pernyataan favorable
keharmonisan keluarga dengan kenakalan dan unfavorable. Untuk mengukur
remaja pada siswa kelas 9 MTs Negeri 2 keharmonisan keluarga peneliti membuat
palembang. instrumen alat ukur sendiri berdasarkan
aspek-aspek keharmonisan keluarga menurut
METODE PENELITIAN Dadang Hawari dan skala kenakalan remaja
Penelitian ini menggunakan jenis menggunakan bentuk-bentuk kenakalan
penelitian kuantitatif korelasional. Terdapat remaja menurut Jensen.
ISSN: 2502-728X
E-ISSN: 2549-6468
Desy Oktaviani, Lukmawati Keharmonisan Keluarga…|57

Dalam penelitian ini uji validitas yang sebanyak 125 orang siswa atau sebesar 72,4%
digunakan Corrected Item Total Correlation. sementara sisanya berada dalam kategori
Menurut Azwar (2017) kriteria penentuan tinggi dan rendah. Untuk kategorisasi tinggi
item skala itu valid, jika nilai rx≥ 0,30. Jika sebanyak 26 orang siswa atau sebanyak
nilai rx ≤ 0,30, maka item skala tersebut 15,2% dan untuk kategorisasi rendah
dinyatakan gugur (tidak valid). sebanyak 22 orang siswayaitu13%. Begitupun
Sedangkan uji reliabilitas dengan hasil kategorisasi kenakalan remaja diketahui
menggunakan teknik koefisien alpha bahwa sebagian besar siswa MTs Negeri 2
cronbach, yakni guna melihat hubungan Palembang memiliki perilaku kenakalan
antara dua variable. Reliabilitas dinyatakan remaja dalam kategori sedang, yaitu sebanyak
oleh koefisien reliabilitas yang angkanya 124 orang siswa atau sebesar 71,6%
berada rentang dari 0 sampai 1,00. Semakin sementara sisanya berada dalam kategorisasi
tinggi koefisien reabilitas mendekati angka tinggi dan rendah. Untuk kategorisasi tinggi
1,00 berarti rendah reliabilitasnya. Sedangkan sebanyak 27 orang siswa atau sebanyak 16%
metode analisis data dalam penelitian ini, dan untuk kategorisasi rendah sebanyak 22
dilakukan dalam dua tahap uji prasyaratan orang siswa atau sebanyak 12,7%.
dan uji hipotesis. Uji prasayarat meliputi: (1) Selanjutnya, untuk uji normalitas
Uji normalitas, dan (2) Uji linieritas. diperoleh sebagai berikut:
Uji normalitas yang digunakan dalam 1 Hasil uji normalitas terhadap variabel
penelitian ini adalah One Sample Kolmogorov keharmonisan keluarga memiliki nilai
Smirnov Z (KS-Z). Dengan ketentuan data signifikan sebesar 0.099. Berdasarkan
dinyatakan berdistribusi normal jika nilai data tersebut maka dapat dikatakan
signifikansi lebih besar dari 0,05. Lalu uji bahwa ρ=0.099> 0.05, sehingga dapat
linieritas dengan menggunakan curva dinyatakan bahwa data variabel
estimation.Data dinyatakan linier jika nilai keharmonisan keluarga berdistribusi
signifikansi lebih kecil dari 0,05 (Alhamdu, normal.
2016). Sementara uji hipotesis yang 2 Hasil uji normalitas terhadap variabel
digunakan dalam penelitian ini menggunakan kenakalan remaja memiliki nilai
analisis pearson product moment. Semua signifikan sebesar 0.127. Berdasarkan
analisis didalam penelitian ini menggunakan data tersebut maka dapat dikatakan
bantuan program Statistical Programme for bahwa ρ=0.127> 0.05, sehingga dapat
Social Science (SPSS) versi 20.00 for dinyatakan bahwa data variabel
windows. kenakalan remaja berdistribusi normal.

HASIL DAN PEMBAHASAN Sementara uji linieritas, nilai


Penelitian ini menggunakan analisis signifikan yang diperoleh adalah sebesar
pearson product moment yang dilakukan 0.000 dan R square sebesar 0.357. Hal ini
untuk mengetahui apakah ada hubungan berarti bahwa ρ < 0.05 dan dapat dikatakan
antara variabel keharmonisan keluarga antara variabel keharmonisan keluarga
dengan kenakalan remaja pada siswa kelas 9 dengan kenakalan remaja berhubungan secara
MTs Negeri 2 Palembang. linier.
Berdasarkan hasil kategorisasi Terakhir hasil dari uji hipotesis
diketahui bahwa sebagian besar siswa MTs menunjukkan bahwa besarnya koefisien
Negeri 2 Palembang memiliki keharmonisan korelasi antara variabel keharmonisan
keluarga dalam kategori sedang, yaitu keluarga dengan variabel kenakalan remaja -
ISSN: 2502-728X
E-ISSN: 2549-6468
58| Psikis : Jurnal Psikologi Islami Vol. 4 No. 1 Juni 2018

.598 dengan signifikansi hubungan kedua dalam taraf kategori tinggi. 125 subjek
variabel sebesar 0.000 dimana ρ< 0.01, maka dengan persentase 72,4% berada dalam taraf
hal ini menunjukkan bahwa keharmonisan kategori sedang. Sisanya 22 subjek dengan
keluarga memiliki hubungan negatif yang persentase 13% berada dalam taraf kategori
sangat signifikan dengan Kenakalan remaja rendah. Berdasarkan hasil perhitungan dapat
pada siswa-siswi Kelas IX MTs Negeri 2 disimpulkan bahwa kategorisasi skor variabel
Palembang. Hal ini dapat diartikan bahwa keharmonisan keluarga pada siswa-siswi
semakin tinggi keharmonisan keluarga maka kelas IX di MTs Negeri 2 Palembang berada
semakin rendah Kenakalan remaja begitu juga pada taraf sedang.
sebaliknya semakin rendah keharmonisan Keharmonisan keluarga adalah
keluarga maka semakin tinggi Kenakalan keadaan interaksi antara anggota keluarga
remaja.Dengan demikian hipotesis penelitian tidak terhambat, kebutuhan anggota keluarga
yang diajukan dapat diterima. terpenuhi; dan khusus dari sudut pandang
Hasil di atas sejalan dengan pendapat psikologi perkembangan, perkembangan
Hawari (2004) salah satu faktor penyebab kepribadian anggota keluarga optimal,
timbulnya kenakalan remaja adalah tidak mengingat keluarga adalah lingkungan
berfungsinya orang tua sebagai figur teladan pertama dan utama bagi anak untuk
bagi anak. Selain itu suasana keluarga yang bekembang (Setiono, 2011).
menimbulkan rasa tidak aman dan tidak Keharmonisan keluarga itu akan
menyenangkan serta hubungan keluarga yang terwujud apabila masing-masing unsur dalam
kurang baik dapat menimbulkan bahaya bagi keluarga itu dapat berfungsi dan berperan
setiap usia terutama pada masa remaja. sebagimana mestinya dan tetap berpegang
Lebih lanjut Yusuf (2012) teguh pada nilai- nilai agama kita, maka
mengemukakan faktor-faktor yang interaksi sosial yang harmonis antar unsur
mempengaruhi perilaku menyimpang pada dalam keluarga itu akan dapat diciptakan.
remaja adalah: Kelalaian orang tua dalam Ketidakharmonisan keluarga dan
mendidik anak (memberikan ajaran dan tidaksesuainya pola asuh yang diterapkan oleh
bimbingan tentang nilai-nilai agama), orang tua berakibat anak yang menjadi
perselisihan atau Konflik orang tua korban. Anak,cenderung mengalami konflik-
(antaranggota keluarga), perceraian orang tua, konflik internal, pemikiran kritis, perasaan
sikap perlakuan orang tua yang buruk mudah tersinggung,cita-cita dan kemauan
terhadap anak, kehidupan ekonomi keluarga yang tinggi sukar dikerjakan sehingga
yang morat-marit (miskin/fakir), penjualan menjadi frustasi, bahkan bisa mengalami
alat-alat kontrasepsi yang kurang terkontrol, pergaulan yang tidak sehat. Ketidak
Hidup menganggur, kurang dapat harmonisan keluarga dapat ditandai dengan
memanfaatkan waktu luang, diperjual tidak berfungsinya orang tua sebagai figur
belikannya minuman keras/ obat-obatan tauladan bagi anak. Selain itu suasana
terlarang secara bebas, Kehidupan moralitas keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman
masyarakat yang bobrok, peredaran film-film dan tidak menyenangkan serta hubungan
atau bacaan-bacaan porno, dan pergaulan keluarga yang kurang baik dapat
negatif (Samsu, 2012). menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap
Selanjutnya, berdasarkan perhitungan usia terutama pada masa remaja. Orang tua
kategorisasi skor variabel keharmonisan dari remaja nakal cenderung memiliki aspirasi
keluarga, dari 173 sampel penelitian didapat yang minim mengenai anak-anaknya,
26 subjek dengan persentase 15,2% berada menghindari keterlibatan keluarga dan
ISSN: 2502-728X
E-ISSN: 2549-6468
Desy Oktaviani, Lukmawati Keharmonisan Keluarga…|59

kurangnya bimbingan orang tua terhadap Azwar, S. (2017). Penyusunan Skala


remaja, sebaliknya, suasana keluarga yang Psikologi. Yogyakarta: Pustaka
menimbulkan rasa aman dan menyenangkan Pelajar.
akan menumbuhkan kepribadian yang wajar Hawari, D. (2004). Al-Qur’an: Ilmu
dan begitu pula sebaliknya. Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa.
Berdasarkan uraian di atas, maka Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa.
dapat dikatakan bahwa anak yang tumbuh dan Hurlock, & Elizabeth, B. (1980). Psikologi
berkembang di lingkungan keluarga Perkembangan: Suatu Pendekatan
harmonisan yang tinggi akan membuat anak Sepanjang Rentang Kehidupan (Edisi
mampu untuk melewati setiap konflik yang Kelima). Jakarta: Erlangga.
diamalami dengan bantuan dan dukungan dari Ingram, J. R., Patchin, J. W., Huebener, B.
keluarga, sehingga anak akan memiliki rasa M., McCluskey, J. D., & Bynum, T. S.
aman dan membuat anak tidak melakukan (2015). (2015).Parents, Friends, and
perbuatan yang melanggar norma. Sedangkan Serious Delinquency An Examination
anak yang tumbuh di lingkungan keluarga of Direct and Indirect Effects Among
yang tidak harmonisan akan menyebabkan At-Risk Early Adolescents. Criminal
anak melakukan tindakan yang melanggar Justice Review , 32.
normal karena ia memandang dunia sebagai Kartono, K. (2014). Patologi Sosial 2
tempat yang tidak aman. kenakalan Remaja. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
SIMPULAN Liputan6. (2016, Oktober 7). VIDEO: 6
Berdasarkan hasil analisis data Pelajar Ini Dimarahi Risma karena
penelitian menggunakan uji korelasi analisis Memakai Narkoba. Retrieved April
product moment menunjukkan angka korelasi 16, 2017, from Liputan 6:
r = -0.598; ρ = 0.000 atau ρ<0.01, dapat https://www.liputan6.com/news/read/2
disimpulkan bahwa ada hubungan negatif 620046/video-6-pelajar-ini-dimarahi-
yang sangat signifikan antara Keharmonisan risma-karena-memakai-narkoba
Keluarga dengan Kenakalan Remaja pada Muniriyanto, & Suharnan. (2014).
Siswa kelas IX di MTs Negeri 2 Palembang. Keharmonisan Keluarga, Konsep Diri
Hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi Dan Kenakalan Remaja. Psikologi
keharmonisan keluarga maka semakin rendah Indonesia Persona , 3.
kenakalan remaja begitu juga sebaliknya Purba, F. (2017, Maret 11). Tawuran
semakin rendah keharmonisan keluarga maka Antarpelajar, Satu Siswa SMP di
semakin tinggi kenakalan remaja yang Bekasi Tewas. Retrieved April 16,
terjadi.Dengan demikian hipotesis yang 2017, from Liputan 6:
diajukan sebelumnya diterima. https://www.liputan6.com/news/read/2
882958/tawuran-antarpelajar-satu-
DAFTAR PUSTAKA siswa-smp-di-bekasi-tewas
Ahmadi, A. (2009). Ilmu Sosial Dasar. S. L. (2012). Psikologi Perkembangan Anak
Jakarta: PT.Rineka Cipta. dan Remaja. Bandung: PT. Remaja
Alhamdu. (2016). Analisis Statistik Dengan Rosdakarya.
Program SPSS. Palembang: NoerFikri Saputra, G. (2017, April 11). Sepasang
Offset. Remaja di Kudus Asyik Pacaran di
Angkot Selasa. Retrieved April 16,
2017, from Semarang Pos:
ISSN: 2502-728X
E-ISSN: 2549-6468
60| Psikis : Jurnal Psikologi Islami Vol. 4 No. 1 Juni 2018

http://m.semarangpos.com/2017/04/11
/sepasang-remaja-di-kudus-asyik-
pacaran-di-angkot-808817
Sarlito, S. W. (2012). Psikologi Remaja.
Jakarta: Rajawali Pers.
Setiono, K. (2011). Psikologi Keluarga,
Bandung. Bandung: PT. Alumni.
Sumiati, D. (2009). Kesehatan Jiwa Remaja
dan Konseling. Jakarta: Trans Indo
Media.

ISSN: 2502-728X
E-ISSN: 2549-6468