Anda di halaman 1dari 23

PERIKATAN (YANG LAHIR DARI KONTRAK)

A. Pendahuluan
Dalam kajian secara teoritis pengertian kontrak adalah sama dengan
perjanjian obligatoir sebagaimana yang diatur di dalam Bab Kedua Buku III
KUH Perdata. Sedangkan di dalam praktiknya pengertian kontrak adalah
perjanjian yang dibuat secara tertulis. Sementara itu perjanjian yang dibuat
dalam bentuk tertulis itu sering disebut dengan istilah akta. Dengan demikian
pengertian kontrak, perjanjian dan akta pada prinsipnya adalah sama.
Dalam lalu lintas hukum khususnya dalam berinteraksi antara orang
yang satu dengan lainnya senantiasa diperlukan adanya kontrak / perjanjian /
akta, oleh karena kontrak itu mempunyai paling tidak 2 kegunaan yaitu :
pertama sebagai alat bukti adanya hubungan hukum antara orang yang satu
dengan lainnya, dan kedua, diperlukan untuk mengantisipasi adanya konflik
dikemudian hari.
Hukum perjanjian menganut sistem terbuka artinya bahwa setiap orang
boleh mengadakan perjanjian mengenai apa saja baik yang sudah ada
ketentuannya dalam undang-undang maupun yang belum ada ketentuannya,
asalkan tidak melanggar undang-undang, ketertiban umum dan kesusilaan.
Konsekuensi dari adanya sistem terbuka tersebut bahwa hukum perjanjian
bersifat sebagai hukum pelengkap, artinya pasal-pasal yang terdapat dalam
buku III KUH Perdata boleh dikesampingkan berlakunya manakala para pihak
telah membuat ketentuan sendiri. Sebaliknya apabila para pihak tidak
menentukan lain maka berlakulah ketentuan yang terdapat dalam buku III
KUH Perdata. Dikatakan sebagai hukum pelengkap karena pasal-pasal dari
hukum perjanjian itu dapat dikatakan melengkapi perjanjian-perjanjian yang
dibuat secara tidak lengkap.
Umumnya para pihak yang mengadakan suatu perjanjian tidak
mengatur secara terperinci semua persoalan yang bersangkutan dengan
perjanjian itu karena para pihak hanya menyetujui hal-hal yang pokok saja

1
dengan tidak memikirkan soal-soal lainnya. Di samping bersifat sebagai
hukum pelengkap, hukum perjanjian juga bersifat konsensuil artinya perjanjian
itu terjadi sejak saat terjadinya kata sepakat diantara para pihak mengenai
pokok perjanjian. Maka dalam hal ini perjanjian itu dapat dibuat secara lisan
saja dan dapat juga dalam bentuk tertulis.
Banyak aspek yang harus diperhatikan di dalam penyusunan kontrak,
tidak hanya dari aspek yuridis saja tetapi juga aspek-aspek yang lain berkaitan
dengan objeknya itu sendiri. Untuk aspek yuridis, sebelum dilakukan
penyusunan kontrak atau MoU terlebih dahulu harus diperhatikan hal-hal apa
saja yang mendasari dan berkaitan dengan penyusunan kontrak tersebut.
Tulisan ini mencoba memberikan gambaran mengenai dasar-dasar
penyusunan kontrak serta hal-hal yang perlu diperhatikan di dalam
penyusunan kontrak sehingga dapat melindungi hak dan kewajiban dari
masing-masing pihak yang membuatnya.

B. Perjanjian / Kontrak
1. Pengertian
Menurut pendapat lama, yang mendasarkan pada ketentuan Pasal
1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) “perjanjian adalah
suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebihmengikatkan dirinya
terhadap satu orang lain atau lebih”. Pendapat ini oleh para sarjana dianggap
kurang memuaskan karena:
a. kata “…perbuatan…” dapat meliputi perbuatan hukum dan perbuatan
biasa, padahal yang dimaksud adalah hanya perbuatan hukum;
b. kata “….mengikatkan dirinya terhadap…” hanya menggambarkan
perbuatan sepihak saja, pada hal yang dimaksud dalam perjanjian dengan
perbuatan adalah perbuatan yang timbal balik;
c. tidak ada pembatasan bahwa perjanjian yang diadakan itu hanya dalam
lapangan hukum harta kekayaan.
Oleh karena pengertian ini dianggap kurang memuaskan, maka
pendapat tersebut diperbaiki oleh para sarjana menjadi “perjanjian adalah

2
perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat
hukum”.
Secara teoritis ada hubungan antara perjanjian dengan perikatan.
Perikatan adalah suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih dalam
lapangan hukum harta kekayaan, dimana pihak yang satu berkewajiban untuk
memberikan prestasi kepada pihak lain dan pihak yang lain berhak atas
prestasi tersebut.
Dengan demikian suatu perjanjian mempunyai hubungan dengan
perikatan karena perjanjian itu menerbitkan perikatan. Dengan diadakan suatu
perjanjian maka akan menimbulkan hubungan hukum antara dua pihak yang
dinamakan perikatan, dimana pihak yang satu berhak menuntut suatu hal dan
pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan tersebut. Oleh karena
itu perjanjian merupakan salah satu sumber dari perikatan disamping sumber-
sumber lain.

2. Asas-asas Hukum Perjanjian


Asas hukum adalah suatu pikiran dasar yang bersifat umum yang
melatarbelakangi pembentukan hukum positif. Dengan demikian asas hukum
tersebut pada umumnya tidak tertuang di dalam peraturan yang kongkrit akan
tetapi hanyalah merupakan suatu hal yang menjiwai atau melatarbelakangi
pembentukannya. Hal ini disebabkan sifat dari asas tersebut adalah abstrak
dan umum. Adapun asas-asas yang terdapat dalam hukum perjanjian adalah
sebagai berikut:
a. Asas Konsensualisme.
Asas ini berhubungan dengan saat lahirnya suatu perjanjian, bahwa
perjanjian itu lahir sejak adanya consensus atau kata sepakat. Asas
konsensualisme dijumpai dalam pasal 1320 butir 1 jo pasal 1338 ayat (1) KUH
Perdata yang mengatakan bahwa “semua perjanjian yang dibuat secara sah
berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.
Berdasarkan kedua pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya

3
perjanjian telah lahir sejak saat tercapainya kesepakatan antara para pihak
yang mengadakan perjanjian.
Terhadap asas konsensualisme itu ada perkecualiannya yaitu pada
perjanjian formal dan perjanjian riil. Perjanjian yang pembuatannya
menggunakan formalitas tertentu disebut perjanjian formil seperti perjanjian
penghibahan yang berupa benda tak bergerak harus dengan akta notaris,
perjanjian perdamaian harus dengan bentuk tertulis.Di samping itu ada juga
pengecualian dari asas konsensualisme yaitu pada perjanjian riil. Dalam
perjanjian riil ini lahirnya perjanjian tidak pada saat adanya kata sepakat,
tetapi pada saat barang atau obyek diserahkan secara nyata, misalnya dalam
perjanjian penitipan.

b. Asas kebebasan berkontrak


Asas kebebasan berkontrak ini berkaitan dengan isi, bentuk dan jenis
dari perjanjian yang dibuat. Asas ini terdapat dalam pasal 1338 ayat (1) KUH
Perdata yang menyatakan bahwa “semua perjanjian yang dibuat secara sah
berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Asas
kebebasan berkontrak ini mengandung 5 makna yaitu:
1) Setiap orang bebas untuk mengadakan atau tidak mengadakan perjanjian;
2) Setiap orang bebas mengadakan perjanjian dengan siapapun;
3) Setiap orang bebas menentukan bentuk perjanjian yang dibuatnya;
4) Setiap orang bebas menentukan isi dan syarat –syarat perjanjian yang
dibuatnya;
5) Setiap orang bebas untuk mengadakan pilihan hukum, maksudnya bebas
untuk memilih pada hukum mana perjanjian yang dibuatnya akan tunduk.
Asas kebebasan berkontrak menyebabkan timbulnya berbagai macam
perjanjian dalam masyarakat sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh
masyarakat. Dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang pesat timbullah
perjanjian-perjanjian yang bentuk dan isinya sudah dibakukan serta dibuat
secara massal (standarisasi kontrak). Di dalam perjanjian-perjanjian standar
ini pihak lawan hanya tinggal disodori dan diminta persetujuan dari pihak

4
lawan dengan tidak mempunyai kebebasan untuk tawar-menawar. Adanya
kemajuan tersebut maka kebebasan berkontrak dibatasi dengan campur
tangan penguasa yang bertindak sebagai pelindung terhadap pihak yang
secara ekonomis lebih lemah kedudukannya, misalnya besarnya suku bunga
sudah ditentukan oleh pemerintah.

c. Asas pacta sunt servanda


Asas ini berhubungan dengan akibat suatu perjanjian dan diatur dalam
pasal 1338 ayat (1) dan (2) KUH perdata. Asas tersebut dapat disimpulkan
dari kata “… berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya”. Dengan asas ini berarti para pihak harus mentaati perjanjian
yang telah mereka buat seperti halnya mentaati undang-undang, artinya
apabila diantara para pihak ada yang melanggar perjanjian tersebut maka
pihak tersebut dianggap melanggar undang-undang, yang tentunya akan
dikenai sanksi hukum. Oleh karena itu akibat dari asas pacta sunt servanda
adalah perjanjian itu tidak dapat ditarik tanpa persetujuan pihak lain. Hal ini
disebutkan dalam pasal 1338 ayat (2) KUH Perdata yaitu “suatu perjanjian
tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau
karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.”

d. Asas itikad baik


Di dalam hukum perjanjian itikad baik itu mempunyai dua pengertian
yaitu:
1) Itikad baik dalam arti subyektif, yaitu kejujuran seseorang dalam
melakukan suatu perbuatan hukum yaitu apa yang terletak pada sikap
batin seseorang pada waktu diadakan perbuatan hukum.
2) Itikat baik dalam arti obyektif, yaitu bahwa pelaksanaan suatu perjanjian
harus didasarkan pada norma kepatutan dalam masyarakat. Dalam
pelaksanaan perjanjian tersebut harus tetap berjalan dengan
mengindahkan norma-norma kepatutan dan kesusilaan serta harus
berjalan diatas rel yang benar. Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata

5
memberikan suatu kekuasaan pada hakim untuk mengawasi
pelaksanaan perjanjian agar jangan sampai pelaksanaannya tersebut
melanggar norma-norma kepatutan dan keadilan. Kepatutan
dimaksudkan agar jangan sampai pemenuhan kepentingan salah satu
pihak terdesak tetapi harus ada keseimbangan antara berbagai
kepentingan pihak-pihak yang bersangkutan. Keadilan maksudnya bahwa
kepastian untuk mendapatkan apa yang sudah diperjanjikan dengan
memperhatikan norma-norma yang berlaku.

e. Asas kepribadian
Asas ini berhubungan dengan subyek yang terikat dalam suatu
perjanjian. Asas kepribadian dalam perjanjian ini dalam KUH Perdata diatur
dalam pasal 1340 ayat (1) yang menyatakan bahwa “Suatu perjanjian hanya
berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya.” Dengan demikian dapat
dibenarkan bahwa dalam suatu perjanjian tidak boleh menimbulkan hak dan
kewajiban terhadap pihak ketiga, juga tidak boleh mendatangkan keuntungan
atau kerugian pada pihak ketiga kecuali telah ditentukan lain oleh undang-
undang. Pernyataan ini diatur dalam pasal 1340 ayat (2) yang menyatakan
bahwa “suatu perjanjian tidak dapat membawa rugi kepada pihak-pihak
ketiga; tak dapat pihak-pihak ketiga mendapat manfaat karenanya, selain
dalam hal yang diatur dalam pasal 1317 KUH Perdata.

3. Syarat Sahnya Perjanjian


Syarat sahnya perjanjian di atur di dalam Pasal 1320 KUH Perdata
yang meliputi:
a. Sepakat mereka yang mengikatkan diri;
b. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian;
c. Suatu hal tertentu;
d. Suatu sebab yang halal.
Dari keempat syarat sahnya perjanjian tersebut, syarat pertama dan
kedua disebut sebagai syarat subjektif karena menyangkut keadaan

6
subjeknya, sedangkan syarat ketiga dan keempat disebut sebagai syarat
objektif karena menyangkut objek perjanjiannya. Terhadap syarat-syarat
tersebut apabila syarat subjektif yang tidak dipenuhi maka perjanjian dapat
dibatalkan artinya selama tidak ada pembatalan perjanjian dianggap sah,
sedangkan apabila syarat objektif yang tidak dipenuhi maka perjanjian batal
demi hukum artinya sejak semula dianggap tidak pernah ada. Untuk lebih
jelasnya berikut ini dijelaskan tentang syarat-syarat sahnya perjanjian
tersebut.

a. Sepakat mereka yang mengikatkan diri;


Sepakat merupakan pertemuan antara dua kehendak dimana kehendak
pihak yang satu saling mengisi dengan kehendak pihak yang lain. Sepakat
atau persesuaian kehendak diantara para pihak tersebut adalah mengenai
hal-hal pokok dalam perjanjian. Kata sepakat dari para pihak tersebut harus
dinyatakan dalam keadaan bebas artinya tidak ada cacad kehendak. Dalam
Hukum Perjanjian yang dimaksud dengan cacad kehendak adalah kekhilafan,
paksaan dan penipuan.
Kekhilafan menurut Pasal 1322 KUH Perdata dapat dibagi menjadi dua
yaitu kekhilafan mengenai orang yang diajak berjanji (error in persona) dan
kekhilafan mengenai hakekat barang (error in substantia). Terjadi error in
persona apabila salah satu pihak menganggap bahwa yang diajak berjanji itu
adalah orang yang diinginkan padahal sebenarnya bukan. Terjadi error in
substantia apabila salah satu pihak menganggap bahwa benda / barang itu
adalah seperti benda yang diinginkan padahal sebenarnya bukan.
Paksaan menurut Pasal 1324 ayat (1) KUH Perdata adalah suatu
perbuatan yang dapat menimbulkan rasa takut bagi orang yang berpikiran
sehat, juga menimbulkan ancaman bagi harta kekayaannya.
Penipuan menurut Pasal 1328 KUH Perdata dapat terjadi apabila salah
satu pihak dengan sengaja memberikan keterangan yang palsu atau tidak
benar disertai dengan tipu muslihat untuk membujuk pihak lawan agar
memberikan persetujuan.

7
Dalam perkembangannya ada sebab baru yang dapat dianggap
sebagai cacad kehendak yaitu penyalah gunaan keadaan (undue influence).
Hal ini terjadi apabila dalam suatu perjanjian salah satu pihak mempunyai
kelebihan dari yang lain, baik kelebihan ekonomis maupun kelebihan pisik.
Dalam hal ada kelebihan ekonomis, maka yang lemah akan mempunyai posisi
yang “bergantung” dari yang lain, sehingga untuk mendapatkan prestasi
tertentu yang sangat dibutuhkan ia terpaksa harus bersedia menerima janji-
janji dan klausula-klausula yang sangat merugikan bagi dirinya. Meskipun
demikian tidak semua perjanjian yang salah satu pihaknya berada dalam
keadaan ekonomi lebih kuat pasti mengandung unsur penyalah gunaan
keadaan. Sebagai pedoman ada beberapa ciri dari suatu perjanjian yang
mengandung unsur penyalah gunaan keadaan, yaitu:
1) pada saat menutup perjanjian salah satu pihak berada dalam keadaan
terjepit;
2) salah satu pihak dalam keadaan kesulitan keuangan yang mendesak;
3) karena adanya hubungan atasan dengan bawahan, hubungan majikan
dengan buruh, hubungan orang tua/wali dengan anak belum dewasa;
4) salah satu pihak pasien yang membutuhkan pertolongan dokter ahli;
5) adanya pelaksanaan prestasi yang tidak seimbang;
6) adanya kalusula eksenorasi untuk membebaskan tanggung jawab;
7) adanya kerugian yang sangat besar bagi salah satu pihak.

b. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian;


Pada asasnya setiap orang adalah cakap untuk membuat suatu
perjanjian, kecuali jika oleh undang-undang dinyatakan tidak cakap membuat
perjanjian (Pasal 1329 KUH Perdata). Mereka yang oleh undang-undang
dinyatakan tidak cakap membuat perjanjian, sebagai mana diatur oleh pasal
1330 KUH Perdata, adalah orang yang belum dewasa, mereka yang ditaruh
dibawah pengampuan, dan orang perempuan dalam hal-hal tertentu yang
ditetapkan oleh undang–undang.

8
Orang yang belum dewasa menurut pasal 330 KUH Perdata adalah
mereka yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah
melangsungkan perkawinan. Secara a contrario sudah dewasa berarti sudah
berumur 21 tahun atau sudah menikah. Selanjutnya menurut Pasal 433 KUH
Perdata setiap orang dewasa yang selalu dalam keadaan dungu, sakit otak
atau mata gelap harus ditaruh di bawah pengampuan, pun jika ia kadang-
kadang cakap mempergunakan pikirannya. Seorang dewasa boleh juga
ditaruh di bawah pengampuan karena keborosannya.
Seorang perempuan bersuami tidak boleh melakukan perbuatan hukum
tertentu tanpa izin dari suaminya (Pasal 108 dan 110 KUH Perdata).
Selanjutnya Pasal 31 ayat (1) UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan
menentukan bahwa: ”hak dan kedududkan istri adalah seimbang dengan hak
dan kedudukan suami dalam kehidupan dirumah tangga dan pergaulan hidup
bersama dalam masyarakat”. Kemudian ayat kedua menyebutkan bahwa:
“masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum”. Dengan
demikian pada saat sekarang seorang wanita yang telah bersuami boleh
melakukan perbuatan hukum tanpa harus mendapat ijin terlebih dahulu dari
suaminya.

c. Suatu hal tertentu


Suatu hal tertentu dalam suatu perjanjian adalah obyek dari perjanjian,
suatu pokok dimana perjanjian diadakan. Didalam suatu perjanjian obyek
perjanjian harus tertentu dan setidak tidaknya dapat ditentukan. Pokok
perjanjian ini tidak harus ditentukan secara individual tetapi cukup dapat
ditentukan menurut jenisnya. Hal ini menurut ketentuan pasal 1333 KUH
Perdata yang menyatakan bahwa: “Suatu perjanjian harus mempunyai
sebagai pokok suatu barang yang paling sedikit ditentukan jenisnya. Tidaklah
menjadi halangan bahwa jumlah barang tidak tentu, asal saja jumlah itu
kemudian dapat ditentukan atau dihitung”.
Dari pasal tersebut terkandung pengertian bahwa perjanjian atas suatu
barang yang baru akan ada itu diperbolehkan. Kemudian dalam Pasal 1334

9
ayat (1) KUH Perdata ditentukan bahwa: “Barang-barang yang baru akan ada
dikemudian hari dapat menjadi pokok suatu perjanjian”.
Selain syarat tersebut di atas, maka obyek perjanjian itu adalah barang-
barang dalam perdagangan, artinya barang-barang tersebut dapat
diperdagangkan dan diperalihkan secara bebas tanpa ada larangan dari
undang-undang, ketertiban umum dan kesusilaan.

d. Suatu sebab yang halal


Pembentuk undang-undang tidak memberikan definisi tentang suatu
sebab dalam pasal-pasal KUH Perdata. Menurut Yurisprudensi yang
dimaksud dengan “sebab“ adalah sesuatu yang akan dicapai oleh para pihak
dalam perjanjian atau sesuatu yang menjadi tujuan perjanjian. Dalam pasal
1336 KUH Perdata, disebutkan adanya perjanjian dengan macam sebab yaitu:
Perjanjian dengan sebab yang halal; Perjanjian dengan sebab yang palsu
atau terlarang; dan Perjanjian tanpa sebab.
Perjanjian dengan sebab yang halal maksudnya bahwa isi dari
perjanjian itu tidak boleh bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan,
dan ketertiban umum. Perjanjian dengan sebab yang palsu (terlarang)
termasuk dalam perngertian dalam sebab yang tidak halal. Suatu sebab
dikatakan palsu apabila sebab tersebut diadakan oleh para pihak untuk
menutupi atau menyelubungi sebab yang sebenarnya. Sedangkan sebab
yang terlarang maksudnya sebab yang bertentangan dengan undang-undang,
kesusilaan, dan ketertiban umum. Suatu perjanjian tanpa sebab dapat terjadi
apabila tujuan yang dimaksudkan oleh para pihak pada saat dibuatnya
perjanjian tidak akan tercapai.

4. Jenis-jenis Perjanjian
Untuk dapat mengetahui jenis-jenis perjanjian maka dapat dilakukan
dengan cara mengkategorisasikan semua perjanjian yang terdapat dalam
KUH Perdata. Ditinjau dari segi akibat hukum yang ditimbulkan dalam
perjanjian maka perjanjian dibedakan menjadi beberapa macam yaitu:

10
1) Perjanjian obligatoir, adalah perjanjian yang hanya menimbulkan hak dan
kewajiban diantara para pihak.
2) Perjanjian leberatoir, adalah perjanjian yang isinya bertujuan untuk
membebaskan para pihak dari suatu kewajiban hukum tertentu.
3) Perjanjian kekeluargaan, adalah perjanjian yang terdapat dalam lapangan
hukum keluarga, misalnya perjanjian kawin.
4) Perjanjian pembuktian, adalah perjanjian mengenai alat-alat bukti yang
akan berlaku diantara mereka.
5) Perjanjian kebendaan, adalah perjanjian yang bertujuan untuk mengalihkan
atau menimbulkan, mengubah atau menghapuskan hak-hak kebendaan.
Berdasarkan hak dan kewajiban yang ditimbulkan, maka perjanjian dibedakan
menjadi:
a) Perjanjian sepihak yaitu perjanjian yang menimbulkan kewajiban pada
satu puhak saja sedangkan pada pihak yang lain hanya terdapat hak
saja, misalnya perjanjian hibah.
b) Perjanjian timbal balik yaitu perjanjian yang menimbulkan hak dan
kewajiban diantara para pihak yang membuat perjanjian, misalnya
perjanjian jual beli.
Berdasarkan saat terbentuknya, perjanjian dibedakan menjadi:
a) Perjanjian Konsensuil, yaitu perjanjian yang terbentuknya setelah
adanya kata sepakat antara para pihak mengenai pokok perjanjian;
b) Perjanjian Formal, yaitu perjanjian yang terbentuknya diperlukan
formalitas tertentu yang ditentukan oleh UU, dengan demikian tanpa
adanya formalitas tertentu tersebut tidak ada perjanjian;
c) Perjanjian Riil, yaitu perjanjian yang terbentuknya diperlukan kata
sepakat dan diikuti penyerahan nyata benda yang menjadi objek
perjanjian, dengan demikian tanpa adanya penyerahan objek perjanjian
maka tidak akan ada perjanjian.
Berdasarkan nama dan tempat pengaturannya, perjanjian dibedakan menjadi:

11
a. Perjanjian Bernama, adalah perjanjian yang telah mempunyai nama
tertentu / khusus dan diatur di dalam KUH Perdata, KUHD dan
Peraturan Perundangan lainnya;
b. Perjanjian Tidak Bernama, adalah perjanjian yang tidak mempunyai
nama tertentu dan tidak diatur di dalam KUH Perdata yang juga sering
disebut dengan istilah Perjanjian Jenis Baru.

5. Wanprestasi dan akibatnya


Suatu perjanjian dapat terlaksana dengan baik apabila para pihak telah
memenuhi prestasinya masing-masing seperti yang telah diperjanjikan tanpa
ada pihak yang dirugikan. Tetapi adakalanya perjanjian tersebut tidak
terlaksana dengan baik karena adanya wanprestasi yang dilakukan oleh salah
satu pihak atau debitur. Wanprestasi adalah suatu keadaan yang dikarenakan
kesalahannya salah satu pihak tidak dapat memenuhi prestasi seperti yang
telah ditentukan dalam perjanjian. Adapun bentuk-bentuk dari wanprestasi
yaitu:
1) Tidak memenuhi prestasi sama sekali;
2) Memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya;
3) Memenuhi prestasi tetapi tidak sesuai dengan isi perjanjian.
Sejak kapan debitur telah wanprestasi dapat dilihat dari bentuk
prestasinya. Dalam hal bentuk prestasi berupa tidak berbuat sesuatu, yaitu
pada saat debitur berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan dalam perjanjian.
Untuk prestasi yang berupa memberikan sesuatu, yaitu apabila batas waktu
yang ditentukan dalam perjanjian telah dilewati. Apabila tidak ditentukan
mengenai batas waktunya maka untuk menyatakan debitur melakukan
wanprestasi, diperlukan adanya somasi. Somasi adalah pemberitahuan atau
pernyataan dari kreditur kepada debitur yang berisi ketentuan bahwa kreditur
menghendaki pemenuhan prestasi seketika atau dalam jangka waktu seperti
yang ditentukan dalam pemberitahuan itu.
Dalam perkembangannya, suatu somasi atau teguran terhadap debitur
yang melalaikan kewajibannya dapat dilakukan secara lisan akan tetapi

12
untuk mempermudah pembuktian dihadapan hakim apabila masalah tersebut
berlanjut ke pengadilan maka sebaiknya diberikan peringatan secara tertulis.
Menurut surat Edaran Mahkamah Agung No. 3 tahun 1963 wanprestasi yang
tanpa didahului somasi dimungkinkan karena dengan diterimanya turunan
surat gugat oleh tergugat yang bersangkutan dianggap sudah menerima
somasi karena sebelum sidang pengadilan, tergugat masih dapat
berprestasi.
Dalam keadaan tertentu somasi tidak diperlukan untuk menyatakan
bahwa seorang debitur melakukan wanprestasi yaitu dalam hal:
1) adanya ketentuan batas waktu dalam perjanjian (fataal termijn);
2) prestasi dalam perjanjian berupa tidak berbuat sesuatu;
3) debitur mengakui dirinya wanprestasi.
Apabila debitur melakukan wanprestasi maka ada beberapa sanksi
yang dapat dijatuhkan kepada debitur, yaitu:
1) Membayar kerugian yang diderita kreditur, disingkat ganti rugi.
2) Pembatalan perjanjian.
3) Peralihan resiko.
4) Membayar biaya perkara apabila sampai diperkarakan dimuka hakim.

6. Berakhirnya Perjanjian
Hapusnya perikatan berbeda dengan hapusnya perjanjian, karena
hapusnya perikatan sudah ditentukan di dalam Pasal 1381 KUH Perdata yang
menentukan bahwa perikatan hapus karena pembayaran, karena penawaran
pembayaran tunai diikuti penitipan, karena pembaharuan utang, karena
perjumpaan utang, karena percampuran utang, karena pembebasan utang,
karena musnahnya barang yang terutang, karena kebatalan atau pembatalan,
karena berlakunya syarat batal, dan karena lewatnya waktu. Selanjutnya ada
beberapa cara yang dapat mengakibatkan berakhir atau hapusnya perjanjian,
yaitu:
1) Ditentukan dalam perjanjian oleh para pihak.

13
Maksudnya bahwa perjanjian tersebut hapus apabila para pihak telah
menentukan saat berakhirnya perjanjian itu.
2) Undang-undang menentukan batas berlakunya suatu perjanjian.
Misalnya menurut pasal 1066 ayat (3) KUH Perdta yang menjelaskan
bahwa para ahli waris dapat mengadakan perjajian untuk selama waktu
tertentu (maksimal 5 tahun) supaya tidak melakukan pemecahan harta
warisan .
3) Terjadinya peristiwa tertentu yang disyaratkan dalam perjanjian.
Misalnya, jika salah satu pihak yang mengadakan perjanjian meninggal
dunia maka perjanjian tersebut akan hapus, hal ini dapat dilihat dalam
perjanjian pemberian kuasa (pasal 1813 KUH Perdata), perjanjian kerja
(pasal 1603 j KUH Perdata).
4) Pernyataan menghentikan perjanjian (opzegging).
Opzegging dapat dilakukan oleh kedua belah pihak atau salah satu pihak
dan terjadi pada perjanjian yang bersifat sementara seperti dalam
perjanjian kerja, perjanjian sewa menyewa.
5) Perjanjian hapus karena putusan hakim.

C. Macam-macam Akta Dalam Hukum Indonesia


Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa perjanjian yang dibuat
secara tertulis itu biasa disebut dengan istilah akta. Akta itu sendiri dapat
dibedakan menjadi akta otentik dan akta di bawah tangan.
1. Akta otentik, sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 1868 KUH
Perdata, adalah suatu akta yang di dalam bentuk yang ditentukan oleh
Undang-Undang, dibuat oleh atau dihadapan pejabat umum yang berkuasa
untuk itu di tempat dimana akta dibuatnya. Berdasarkan pengertian
tersebut, maka ciri dari suatu akta otentik adalah:
a. Dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh UU. Bentuk akta otentik
sudah ditentukan oleh UU harus terdiri dari Awal akta, Komparisi,
Premisse akta, Isi akta dan Akhir akta.

14
b. Dibuat oleh atau dihadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu.
Dibuat oleh Pejabat Umum artinya akta tersebut yang membuat adalah
Pejabat Umum yang bersangkutan dan aktanya disebut sebagai Akta
Pejabat. Dibuat dihadapan Pejabat Umum artinya akta itu yang
membuat adalah para pihak itu sendiri, sedangkan Pejabat Umum
hanya mengesahkan akta tersebut sebagai akta otentik dan akta yang
dibuat dihadapan Pejabat Umum disebut sebagai Akta Para Pihak.
c. Dibuat di dalam wilayah jabatannya, artinya akta itu dibuat oleh Pejabat
Umum di dalam wilayah kerjanya, sehingga apabila akta itu dibuat di
luar wilayah kerjanya maka keotentikannya akan hilang dan menjadi
akta di bawah tangan.

2. Akta di bawah tangan, adalah akta yang ditandatangani di bawah tangan,


surat registrasi, surat kerumahtanggaan dan surat-surat yang dibuat tanpa
perantaraan Pejabat Umum. Berdasarkan cara pembuatannya, ada dua
macam akta di bawah tangan yaitu:
a. Akta yang isinya disusun bersama oleh para pihak berdasarkan apa
yang disepakati oleh mereka bersama;
b. Akta di bawah tangan yang baik isi maupun formatnya telah dibakukan
oleh salah satu pihak, biasanya pihak yang kedudukan ekonominya
kuat. Ini biasa disebut dengan istilah Perjanjian Baku / Perjanjian
Standar.
Dalam praktik banyak kontrak yang dituangkan dalam bentuk perjanjian
standar, yang biasa disebut dengan istilah standar kontrak. Meskipun
demikian ada sebagian orang yang keberatan terhadap adanya perjanjian
standar ini karena alasan:
a. Dalam perjanjian standar perlindungan terbesar ada pada si penyusun
kontrak, sedangkan pihak lawan kurang terlindungi. Hal ini dapat terjadi
oleh karena penyusun kontrak dapat menentukan secara sepihak apa
yang dapat melindungi dirinya;

15
b. Banyak mengandung klausula eksonerasi, yaitu kalusula yang
membebaskan atau mengurangi tanggung jawab yang secara yuridis
berada pada si penyusun kontrak. Dengan memanfaatkan posisi
ekonomi yang lebih kuat, penyusun kontrak memasukkan klausula-
klausula yang mengurangi atau membebaskan tanggung jawabnya,
sementara bagi pihak lawannya hanya ada pilihan mengambil
perjanjian tersebut dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan atau
tidak sama sekali;
c. Menghilangkan atau mengurangi asas kebebasan berkontrak di dalam
penyusunan kontrak.
Akta otentik mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna tentang apa
yang tertulis di dalamnya. Dengan demikian tanggal, isi dan tandatangan
yang ada di dalamnya tidak dapat disangkal. Sedangkan akta di bawah
tangan mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna sepanjang diakui
oleh para pihak yang membuat perjanjian.

D. Bagian-bagian Akta Di Bawah Tangan/Kontrak


Dalam pembuatan akta / kontrak, para pihak harus senantiasa
memperhatikan bentuk dan isinya, sehingga apa yang dibuatnya itu dapat
melindungi dirinya di dalam pelaksanaan hak dan kewajiban yang timbul dari
kontrak tersebut. Suatu akta/kontrak dipisahkan menjadi beberapa bagian
sebagai berikut.

1. Judul Akta
Bagian ini akan memberikan gambaran pertama mengenai materi
pokok yang dirumuskan dalam perjanjian tersebut. Untuk perjanjian
bernama tidak ada masalah karena judul mengikuti judul yang ada di dalam
KUH Perdata seperti Perjanjian Jual Beli, Perjanjian Sewa Menyewa dan
sebagainya. Sedangkan untuk perjanjian tidak bernama (perjanjian jenis
baru) ditentukan sebagai berikut:

16
1) untuk perjanjian jenis baru campuran diberi judul gabungan dari unsur-
unsur perjanjian yang bercampur tersebut misalnya Perjanjian Sewa
Beli, atau diberi nama dari perjanjian yang paling dominan;
2) untuk perjanjian jenis baru mandiri, untuk yang sudah mempunyai
nama di dalam praktik maka diberi nama yang lazim digunakan di
dalam praktik, sedang untuk perjanjian yang sama sekali baru biasanya
diberi nama “Perjanjian Kerjasama”.

Contoh Judul :
Perjanjian Jual Beli
Perjanjian Sewa beli
Perjanjian Sewa Guna Usaha
Perjanjian Kerjasama Antara PT X Dengan PT Y

2. Awal / Permulaan Akta


Bagian awal akta ini berisi tentang penyebutan hari dan tanggal
dibuatnya akta. Dalam pembuatan akta kadang-kadang awal akta tidak
tampak karena para pihak menyebutkan tanggal dibuatnya akta pada akhir
perjanjian. Hal yang demikian itu boleh di dalam akta di bawah tangan,
tetapi untuk akta otentik penyebutan hari, tanggal dan nama pejabat umum
harus pada awal akta.

Contoh :
Pada hari ini Selasa, tanggal sembilan belas Agustus tahun dua
ribu tiga (19-8- 2003) ditandatangani perjanjian antara:

3. Komparisi / Penyebutan Para Pihak


Di dalam bagian ini disebutkan para pihak yang menandatangani
akta. Rumusannya harus teliti karena melalui penyebutan para pihak ini
dapat diketahui apakah syarat subjektif dalam penyusunan kontrak sudah

17
terpenuhi yaitu kecakapan para pihak. Oleh karena itu dalam penyebutan
para pihak harus disebutkan usia atau jabatan dari para pihak. Disamping
itu juga harus disebutkan pula apakah para pihak bertindak untuk dirinya
sendiri atau bertindak untuk dan atas nama orang lain.

Contoh : 1.

Perjanjian ini ditandatangani antara:


Nama : Tuan Surya
Umur : 52 Tahun
Pekerjaan : Pedagang
Alamat : Jalan Gatotkaca No. 10 Surabaya
Selanjutnya disebut Pihak Pertama

Dan

Nama : Tuan Wijaya


Pekerjaan : Guru SMU Negeri 10 Surabaya
Alamat : Jalan Nakula 20 Surabaya
Selanjutnya disebut Pihak Kedua

Contoh : 2.
Perjanjian ini ditandatangani antara:
Nama : Tuan Surya
Umur : 52 Tahun
Pekerjaan : Pedagang
Alamat : Jalan Gatotkaca No. 10 Surabaya
Dalam hal ini bertindak sebagai Bapak dan Wali menurut hukum
dari oleh karenanya untuk dan atas nama anak di bawah umur
bernama Suhartono, Selanjutnya disebut Pihak Pertama

18
Atau
Dalam hal ini bertindak berdasarkan surat kuasa di bawah tangan
bermeterai cukup, oleh karenanya bertindak untuk dan atas nama
Tuan Wahyu Widodo, alamat di Jalan Sadewa Nomor 50
Surabaya, Selanjutnya disebut Pihak Pertama
Dan
Nama : Tuan Wijaya
Jabatan : Direktur PT. Abadi Jaya
Alamat : Jalan Nakula 20 Surabaya
Dalam hal ini bertindak dalam jabatannya tersebut berdasarkan
Pasal 10 Anggaran Dasar PT. Abadi Jaya yang telah diumumkan
dalam Berita Negara RI tanggal 1 April 1999 No. 333, oleh karena
itu untuk dan atas nama serta sah mewakili PT. Abadi Jaya yang
berkedudukan di Surabaya tersebut, Selanjutnya disebut Pihak
Kedua

4. Premisse Akta
Bagian ini berisi dua hal, yaitu : 1. Berbagai ketentuan Undang-
Undang, dokumen atau fakta-fakta yang mendasari atau melatarbelakangi
pembuatan perjanjian; dan 2. Kesepakatan para pihak untuk membuat
perjanjian.

Contoh : 1.
Para pihak terlebih dahulu menerangkan:
1. Bahwa Tuan Surya / Pihak Pertama memerlukan ……
2. Bahwa Tuan Wijaya / Pihak Kedua bermaksud …….
3. Bahwa …………..
4. Bahwa …………..
Berdasar hal-hal tersebut di atas, para pihak sepakat untuk
mengadakan perjanjian jual beli dengan ketentuan sebagai berikut:

19
Contoh : 2.
Pihak Pertama dan Pihak Kedua masing-masing dalam
kedudukannya tersebut di atas, berdasarkan :
1. Pasal …. UU No. ………
2. Keppres No. ………..
3. Instruksi Presiden No. …………
4. Keputusan Menteri No. ..………
5. ………………………………….
Sepakat untuk mengikatkan diri dalam suatu perjanjian dengan
syarat-syarat sebagai berikut :

5. Isi Akta
Isi akta meliputi 3 hal, yaitu:
a. Esensialia
Esensialia merupakan objek pokok perjanjian, dari rumusan ini dapat
diketahui apakah perjanjian itu telah memenuhi syarat objektif atau
belum. Disini disebutkan barang atau jasa yang menjadi objek dari
perjanjian, harga atau kontraprestasi lainnya.

Contoh:
Dalam Perjanjian Jual Beli Esensialianya adalah penetapan
tentang Barang dan Harga.

b. Naturalia
Bagian dari perjanjian yang sebenarnya sudah diatur dalam UU (KUH
Perdata) sebagai hukum pelengkap, tetapi para pihak boleh
menyimpanginya dan mengatur sendiri di dalam perjanjian. Oleh karena
itu untuk perjanjian bernama Naturalia boleh disebut dalam perjanjian
boleh tidak disebutkan. Jika disebut yang berlaku yang disebutkan itu,
jika tidak disebut yang berlaku ketentuan dalam KUH Perdata. Tetapi

20
untuk perjanjian tidak bernama (jenis baru) tidak ada Naturalia karena
belum ada kodifikasinya. Sehingga untuk melindungi dirinya masing-
masing pihak dapat mengajukan syarat-syarat tertentu asalkan disetujui
oleh pihak lawannya.

Contoh :
Dalam Perjanjian Jual Beli, KUH Perdata telah mengatur tentang:
1) Hak dan kewajiban para pihak;
2) Wanprestasi dan akibat-akibatnya;
3) Overmacht dan risiko-risikonya.

c. Aksidentalia
Bagian yang ditambahkan oleh para pihak di dalam perjanjian asal saja
hal itu tidak dilarang oleh UU. Aksidentalia ini mengikat apabila
dinyatakan secara tegas di dalam perjanjian.

Contoh :
Sewa menyewa rumah artinya dalam keadaan kosong, oleh
karena itu apabila ingin menyewa rumah termasuk mebelair,
telepon dan sebagainya harus dengan tegas dinyatakan dalam
perjanjian.
Terhadap isi akta ini dapat pula ditambahkan mengenai:
1. Klausula Definisi;
2. Klausula tentang Tata Cara Pelaksanaan Kontrak;
3. Klausula tentang Alternatif Penyelesaian Kontrak.

6. Akhir Akta
Menyebutkan tujuan dibuatnya akta yaitu sebagai alat bukti dan
penandatanganan para pihak serta saksi-saksi apabila diperlukan adanya
saksi di dalam perjanjian.

21
Memenuhi ketentuan UU No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai
sebelum ditandatangani kontrak tersebut harus dibubuhi meterai sebesar
Rp. 6.000,-.

Contoh :
“Demikianlah sebagai bukti yang sah akta / perjanjian ini dibuat dan
ditandatangani pada hari, tanggal, bulan dan tahun yang telah
disebutkan pada awal akta, oleh para pihak dan saksi-saksi”.

Ditandatangani:

Pihak Pertama Pihak Kedua

Meterai
Tuan Surya Tuan Wijaya
Saksi-saksi: Rp 6000

Tuan Widodo
Nyonya Sumaryati

E. Penutup
Pada bagian akhir ini perlu disampaikan bahwa menyusun kontrak,
adalah menyusun undang-undang atau peraturan bagi diri kita sendiri. Oleh
karena itu selagi masih ada kesempatan sebaiknya apa yang akan
dirumuskan dalam isi kontrak itu benar-benar dapat melindungi diri kita
terhadap kemungkinan adanya perselisihan maupun gangguan dari pihak
ketiga.
Perlindungan itu dapat diciptakan dengan memperhatikan ketentuan-
ketentuan hukum positif yang sedang berlaku baik tertulis maupun tidak
tertulis serta hal-hal lain yang berkaitan erat dengan penyusunan kontrak

22
seperti terminologi, istilah, bahasa dan formalitas-formalitas lain yang
seharusnya ada pada setiap kontrak.
Akhirnya mudah-mudahan tulisan yang jauh dari sempurna ini dapat
dipergunakan sebagai materi pengganti perkuliahan tatap muka dan
bermanfaat bagi kita semua, Aamin.

Tugas :
1. Carilah contoh kontrak pengadaan barang atau jasa pemerintah. Cermati
dan analisis bagian kontrak tersebut yang berpotensi menimbulkan
persoalan hukum !
2. Cermati dan analisis ”Perjanjian Kemitraan” antara perusahaan aplikasi
dan driver online, kaitkan dengan asas-asas Hukum Perjanjian/Kontrak !.

23

Anda mungkin juga menyukai