Anda di halaman 1dari 10

LINGKUNGAN BISNIS DAN HUKUM KOMERSIAL

(SENGKETA PERTANAHAN)

Kelompok II
Sinthya Natalia Sinay
Astri Nuraini
Eno Sriwulandari Makati

Prof. Dr. Indra Bastian, MBA., Ak.,CA

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI
KELAS A
2020
SENGKETA PERTANAHAN

Sengketa atau dalam bahasa inggris disebut dispute adalah pertentangan atau konflik
yang terjadi antara individu-individu atau kelompok-kelompok yang mempunyai hubungan atau
kepentingan yang sama atas objek kepemilikan, yang menimbulkan akibat hukum antara satu
dengan yang lain. Selain itu sengketa juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang
ditimbulkan oleh dua orang atau lebih yang dicirikan oleh beberapa tanda pertentangan secara
terang-terangan.
Menurut Chomzah (2003:14), sengketa adalah pertentangan antara dua pihak atau lebih yang
berawal dari persepsi yang berbeda tentang suatu kepentingan atau hak milik yang dapat
menimbulkan akibat hukum bagi keduanya. Sengketa tanah adalah sengketa yang timbul karena
adanya konflik kepentingan atas tanah.

Jenis-jenis Sengketa 
Terdapat dua jenis sengketa, yaitu sebagai berikut:
a. Konflik Interest
Konflik interest terjadi manakala dua orang yang memiliki keinginan yang sama terhadap satu
obyek yang dianggap bernilai. Konflik kepentingan timbul jika dua pihak merebutkan satu objek.

b. Klaim Kebenaran
Klaim kebenaran di satu pihak dan menganggap pihak lain bersalah. Konflik karena klaim
kebenaran diletakkan dalam terminologi benar atau salah. Argumen klaim ini akan didasarkan
pada terminologi kebenaran, bukan kepentingan, norma-norma dan hukum. Konflik kepentingan
lebih kompromis penyelesaiannya dibanding konflik karena klaim kebenaran.

Tahap-tahap Terjadinya Sengketa 


Terjadinya sengketa biasanya ditandai dengan tahapan sebagai berikut:
1. Tahap pra-konflik atau tahap keluhan, yang mengacu kepada keadaan atau kondisi
yang oleh seseorang atau suatu kelompok dipersepsikan sebagai hal yang tidak adil dan
alasan-alasan atau dasar-dasar dari adanya perasaan itu. Pelanggaran terhadap rasa
keadilan itu dapat bersifat nyata atau imajinasi saja. Yang terpenting pihak itu merasakan
haknya dilanggar atau diperlakukan dengan salah.
2. Tahap Konflik (conflict), ditandai dengan keadaan dimana pihak yang merasa haknya
dilanggar memilih jalan konfrontasi, melemparkan tuduhan kepada pihak pelanggar
haknya atau memberitahukan kepada pihak lawannya tentang keluhan itu. Pada tahap ini
kedua belah pihak sadar mengenai adanya perselisihan pandangan antar mereka. 
3. Tahap Sengketa (dispute), dapat terjadi karena konflik mengalami eskalasi berhubung
karena adanya konflik itu dikemukakan secara umum. Suatu sengketa hanya terjadi bila
pihak yang mempunyai keluhan telah meningkatkan perselisihan pendapat dari
pendekatan menjadi hal yang memasuki bidang publik. Hal ini dilakukan secara sengaja
dan aktif dengan maksud supaya ada sesuatu tindakan mengenai tuntutan yang
diinginkan.

Penyebab Terjadinya Sengketa


Menurut Rahmadi (2011:8), terdapat enam teori penyebab terjadinya sengketa di masyarakat,
yaitu:
a. Teori Hubungan masyarakat 
Teori hubungan masyarakat, menitikberatkan adanya ketidakpercayaan dan rivalisasi kelompok
dalam masyarakat. Para penganut teori ini memberikan solusi-solusi terhadap konflik-konflik
yang timbul dengan cara peningkatan komunikasi dan saling pengertian antara kelompok-
kelompok yang mengalami konflik, serta pengembangan toleransi agar masyarakat lebih bisa
saling menerima keberagaman dalam masyarakat.
b. Teori Negosiasi prinsip 
Teori negosiasi prinsip menjelaskan bahwa konflik terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan
diantara para pihak. Para penganjur teori ini berpendapat bahwa agar sebuah konflik dapat
diselesaikan, maka pelaku harus mampu memisahkan perasaan pribadinya dengan masalah-
masalah dan mampu melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan dan bukan pada posisi yang
sudah tetap.
c. Teori kesalahpahaman antar budaya 
Teori kesalahpahaman antar budaya menjelaskan bahwa konflik terjadi karena ketidakcocokan
dalam berkomunikasi diantara orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda. Untuk itu,
diperlukan dialog antara orang-orang yang mengalami konflik guna mengenal dan memahami
budaya masyarakat lainnya, mengurangi stereotip yang mereka miliki terhadap pihak lain.

d.. Teori transformasi 


Teori ini menjelaskan bahwa konflik dapat terjadi karena adanya masalah-masalah
ketidaksetaraan dan ketidakadilan serta kesenjangan yang terwujud dalam berbagai aspek
kehidupan masyarakat baik sosial, ekonomi maupun politik. Penganut teori ini berpendapat
bahwa penyelesaian konflik dapat dilakukan melalui beberapa upaya seperti perubahan struktur
dan kerangka kerja yang menyebabkan ketidaksetaraan, peningkatan hubungan, dan sikap jangka
panjang para pihak yang mengalami konflik, serta pengembangan proses-proses dan sistem
untuk mewujudkan pemberdayaan, keadilan, rekonsiliasi dan pengakuan keberadaan masing-
masing.
e. Teori transformasi 
Teori ini menjelaskan bahwa konflik dapat terjadi karena adanya masalah-masalah
ketidaksetaraan dan ketidakadilan serta kesenjangan yang terwujud dalam berbagai aspek
kehidupan masyarakat baik sosial, ekonomi maupun politik. Penganut teori ini berpendapat
bahwa penyelesaian konflik dapat dilakukan melalui beberapa upaya seperti perubahan struktur
dan kerangka kerja yang menyebabkan ketidaksetaraan, peningkatan hubungan, dan sikap jangka
panjang para pihak yang mengalami konflik, serta pengembangan proses-proses dan sistem
untuk mewujudkan pemberdayaan, keadilan, rekonsiliasi dan pengakuan keberadaan masing-
masing.
f. Teori kebutuhan atau kepentingan manusia 
Pada intinya, teori ini mengungkapkan bahwa konflik dapat terjadi karena kebutuhan atau
kepentingan manusia tidak dapat terpenuhi/terhalangi atau merasa dihalangi oleh orang/ pihak
lain. Kebutuhan dan kepentingan manusia dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu substantif,
prosedural, dan psikologis. Kepentingan substantif (substantive) berkaitan dengan kebutuhan
manusia yang yang berhubungan dengan kebendaan seperti uang, sandang, pangan,
papan/rumah, dan kekayaan. Kepentingan prosedural (procedural) berkaitan dengan tata dalam
pergaulan masyarakat, sedangkan kepentingan psikologis (psychological) berhubungan dengan
non-materiil atau bukan kebendaan seperti penghargaan dan empati.
Penyelesaian Sengketa
Pada dasarnya pilihan penyelesaian sengketa dapat dilakukan dengan 2 (dua) proses.
Proses penyelesaian sengketa melalui litigasi di dalam pengadilan, kemudian berkembang proses
penyelesaian sengketa melalui kerja sama (kooperatif) di luar pengadilan. Proses litigasi
menghasilkan kesepakatan yang bersifat adversial yang belum mampu merangkul kepentingan
bersama, cenderung menimbulkan masalah baru, lambat dalam penyelesaiannya. Sebaliknya,
melalui proses di luar pengadilan menghasilkan kesepakatan kesepakatan yang bersifat “win-win
solution”, dihindari dari kelambatan proses penyelesaian yang diakibatkan karena hal prosedural
dan administratif, menyelesaikan komprehensif dalam kebersamaan dan tetap menjaga hubungan
baik.
Penggunaan pranata penyelesaian sengketa diluar pengadilan tersebut kemudian
diterapkan di Negara Indonesia yang di buatkan melaui Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999
tentang Arbitrase Dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, telah menyediakan beberapa pranata
pilihan penyelesaian sengketa (PPS) secara damai yang dapat ditempuh para pihak untuk
menyelesaikan sengketa atau beda pendapat perdata mereka, apakah pendayagunaan pranata
konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli. Pilihan penyelesaian sengketa
(PPS) di luar pengadilan hanya dapat ditempuh bila para pihak menyepakati penyelesaiannya
melaui pranata pilihan penyelesaian sengketa (PPS).

Sedangkan menurut Nader dan Todd Jr (1978:9), terdapat tujuh cara penyelesaian sengketa
dalam masyarakat, yaitu:
1. Lumpingit (membiarkan saja), oleh pihak yang merasakan perlakuan tidak adil, gagal
dalam mengupayakan tuntutannya. Dia mengambil keputusan untuk mengabaikan saja
masalahnya atau isu-isu yang menimbulkan tuntutannya dan dia meneruskan hubungan-
hubungannya dengan pihak yang dirasakan merugikannya. 
2. Avoidance (mengelak), yaitu pihak yang merasa dirugikan, memilih untuk mengurangi
hubungan-hubungan dengan pihak yang merugikannya atau untuk sama sekali
menghentikan hubungan tersebut, misalkan dalam hubungan bisnis hal serupa bisa saja
terjadi. Dengan mengelak, maka masalah yang menimbulkan keluhan dielakkan saja. 
3. Coercion (paksaan), pihak yang satu memaksakan pemecahan kepada pihak lain, ini
bersifat unilateral. Tindakan yang bersifat memaksakan atau ancaman untuk
menggunakan kekerasan, pada umumnya mengurangi kemungkinan penyelesaian secara
damai. 
4. Negotiation (perundingan), kedua belah pihak yang berhadapan merupakan para
pengambil keputusan. Pemecahan masalah yang dihadapi dilakukan oleh mereka berdua,
mereka sepakat tanpa adanya pihak yang ketiga yang mencampurinya. Kedua belah pihak
berupaya untuk saling menyakinkan, jadi mereka membuat aturan mereka sendiri dan
tidak memecahkannya dengan bertitik tolak dari aturan-aturan yang ada. 
5. Mediation (mediasi), pihak ketiga yang membantu kedua belah pihak yang berselisih
pendapat untuk menemukan kesepakatan. Pihak ketiga ini dapat ditentukan oleh kedua
belah pihak yang bersengketa, atau ditunjukkan oleh pihak yang berwenang untuk itu. 
6. Arbitration (Arbitrase), yaitu dua belah pihak yang bersengketa sepakat untuk meminta
perantara kepada pihak ketiga, arbitrator dan sejak semula telah setuju bahwa mereka
akan menerima keputusan dari arbitrator tersebut. 
7. Adjudication (peradilan), yaitu pihak ketiga yang mempunyai wewenang untuk
mencampuri pemecahan masalah, lepas dari keinginan para pihak yang bersengketa.
Pihak ketiga itu juga berhak membuat keputusan dan menegakkan keputusan itu artinya
pihak ketiga berupaya bahwa keputusan itu dilaksanakan.

Contoh sengketa tanah


Kasus sengketa ini diambil dari Kantor Pertanahan Kota Ambon, sengketa yang terjadi
adalah penyerobotan lahan/tanah milik keluarga Hukom (pelapor) dengan Saudara Agusthinus
Djabumir (terlapor) berdasarkan surat yang dilayangkan ke Kantor Pertanahan Kota Ambon pada
tanggal 15 Oktober 2019.

Objek Sengketa Pertanahan:


Objek sengketa merupakan Sertipikat Hak Milik Nomor: 1033/urimessing atas nama Agusthinus
Djabumir (Terlapor) dengan luas 890 M2 dan berada dalam tanah yang dikuasai oleh Carel
Hukom (Pelapor).

Kronologis sengketa :
1. Bahwa menurut Carel Hukom Cs. Merasa bahwa tanah tersebut merupakan milik
keluarga Hukom, dan merasa tidak pernah menjualnya kepada Agustinus Djabumir.
2. Bahwa Carel Hukom dalam surat yang dilayangkan ke Kantor Pertanahan Kota Ambon
juga memohon untuk memfasilitasi untuk mediasi dan meninjau ulang kepemilikan yang
bersangkutan.

Perkembangan penyelesaian sengketa dan konflik ialah bahwa Kantor Pertanahan Kota Ambon
telah melaksanakan mediasi dengan mengundang para pihak yang bersengketa sesuai dengan
pelayanan Kantor Pertanahan Kota Ambon.
1. Pelaksanaan Mediasi I tanggal 21 Oktober 2019, bahwa telah dilaksanakannya mediasi
bagi para pihak atas objek sengketa Sertipikat Hak Milik Nomor: 1033 dalam mediasi
yang terjadi hanya dihadiri oleh satu pihak saja yaitu Carel Hukom.
2. Dalam hasil mediasi pihak Carel Hukom menyatakan keberatan atas hasil mediasi yang
diselenggarakan pada hari tersebut karena pihak Saudara Agusthinus Djabumir dan sesuai
dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) agar dilakukan Mediasi ke 2 (dua).
3. Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan tanggal 29 Oktober 2019, bahwa dalam
pemeriksaan lapangan hanya dihadiri oleh pihak Carel Hukom (Pelapor) yang pada saat
pemeriksaan lokasi berlangsung hanya melihat lokasi sengketa dan memberikan arahan
untuk dilakukan mediasi yang ke 2 (dua) yang akan diberitahukan melalui surat
undangan.
4. Pelaksanaan Mediasi II tanggal 06 November 2019, bahwa telah dilaksanakan mediasi
bagi para pihak atas objek sengketa Sertipikat Hak Milik Nomor: 1033, dalam mediasi
dihadiri oleh para pihak dan Kepala Seksi Infrastruktur Pertanahan Kota Ambon. Hasil
mediasi pihak Carel Hukom (Pelapor) dengan Pihak Agusthinus Djabumir (Terlapor)
telah sepakat untuk melakukan pemisahaan atas Sertipikat Hak Milik Nomor
1033/urimessing.

Tahap Sengketa Melaui Perjanjian Perdamaian Sengketa


Penyelesaian sengketa melalui jalur mediasi pada kasus penyerobotan tanah/lahan milik keluarga
Hukom (pihak pertama) yang dilakukan oleh Saudara Agusthinus Djabumir (pihak kedua).
Bahwa para pihak sepakat untuk melakukan perdamaian dan mengakhiri sengketa,
kesalahpahaman, serta permasalahan hukum yang timbul diantara para pihak dengan tuntas dan
sempurna yang dituang ke dalam Perjanjian Perdamaian Sengketa, dengan tetap tunduk kepada
ketentuan hukum yang berlaku serta berdasarkan hak-hak maupun kewenangan yang dimiliki
oleh para pihak dalam pasal-pasal berikut:
Pasal 1

Perjanjian Perdamaian ini bertujuan untuk mengakhiri sengketa, kesalahpahaman dan/atau


permasalahan hukum antara Para Pihak dan mengatur hak serta kewajiban yang telah disepakati
Para Pihak.

Pasal 2

1. Para Pihak menyadari bahwa perdamaian adalah jalan yang terbaik dalam menyelesaikan
permasalahan hukum yang timbul agar jangan sampai permasalahan tersebut berlarut-larut,
dan Para Pihak sepakat bahwa perdamaian merupakan win-win solution sehingga tidak ada di
antara Para Pihak yang merasa benar ataupun salah, menang ataupun kalah.

2. Bahwa Sdr. Agusthinus Djabumir bersedia dengan rela hati untuk mengurangi luasan seluas
290 M2 pada Sertipikat Hak Milik Nomor : 1033/Desa Urimessing yang luasnya 890 M2
menjadi 600 M2.

3. Bahwa Para Pihak akan bersama-sama mengurus proses pengurangan luasan 290 M2 dari
Sertipikat Hak Milik Nomor : 1033/Desa Urimessing pada Notaris dengan cara menghibabkan
kepada Pihak Pertama (Keluarga Hukom) dan selanjutnya dilakukan pemisahan pada Kantor
Pertanahan Kota Ambon.

4. Bahwa Para Pihak telah bersepakat seluruh biaya permohonan pemisahan bidang SHM
1033/Desa Urimessing akan ditanggung oleh Pihak Pertama (Keluarga Hukom).

Pasal 3

1. Para Pihak dengan ini menyatakan, bahwa dengan telah dilaksanakannya seluruh ketentuan
yang telah disepakati dalam Perjanjian Perdamaian Sengketa ini, maka setiap dan seluruh
sengketa, kesalah pahaman dan/atau permasalahan hukum yang terjadi di antara Para Pihak
dinyatakan selesai.

2. Bahwa Para Pihak juga menjamin, terhadap sengketa dan proses penyelesaiannya tersebut di
atas tidak akan saling melakukan tuntutan hukum, baik melalui tuntutan pidana maupun
gugatan perdata di kemudian hari.

Kesimpulan dari Sengketa tanah yang ditangani oleh Kantor Pertanahan Kota Ambon terhadap
Pihak Carel Hukom (Pelapor) dengan Agusthinus Djabumir (Terlapor) telah dilakukan tahap
Mediasi I, Mediasi II, Pemeriksaan Lapangan dan Perjanjian Perdamain Sengketa.