Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Transportasi memegang peranan penting dalam pelayanan suatu Rumah


Sakit. Bagian Transportasi adalah suatu unit dibawah bagian Fasilitas Umum
Rumah Sakit Khusus Bedah Halimun. Interaksi yang baik dan ideal antara
komponen–komponen transportasi (pasien, medis, barang, sarana dan
prasarana) membentuk suatu sistem transportasi yang efisien, efektif dan
berkualitas.
Dengan dilatarbelakangi hal tersebut di atas maka perlu dibuat Panduan
Pelayanan Ambulans.

B. TUJUAN PEDOMAN
1. Mengoptimalkan sarana pelayanan transportasi kesehatan gawat darurat
kepada pasien/korban.
2. Mengurangi angka kematian dan kecacatan penderita dengan kasus
gawat darurat medik/trauma.
3. Meningkatkan bentuk pelayanan transportasi rujukan Ambulans yang
profesional.

C. BATASAN OPERASIONAL
1. Mengantar pasien rujukan menetap dari Rumah Sakit Khusus Bedah
Halimun ke rumah sakit lain.
2. Mengantar pasien rujukan sementara untuk pemeriksaan/tindakan dari
Rumah Sakit Khusus Bedah Halimun ke rumah sakit lain.
3. Menjemput pasien dari rumah sakit lain ke Rumah Sakit Khusus Bedah
Halimun.
4. Mengantar pasien dari Rumah Sakit Khusus Bedah Halimun ke rumah
pasien.
5. Pelayanan ambulans on call yaitu penjemputan pasien dari rumah ke
Rumah Sakit Khusus Bedah Halimun.

1
6. Pelayanan ambulans pada acara event (seperti: MCU on site, acara
wedding, gathering, olahraga, konser musik, dll).
7. Pelayanan ambulans jenazah yang dikerjakan oleh Yayasan-yayasan
yang bekerjasama dengan pihak Rumah Sakit Khusus Bedah Halimun.
D. LANDASAN HUKUM

1. Undang–undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.


2. Undang–undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran.
3. Undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
4. Keputusan Menkes RI No. 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar
Pelayanan Minimal Rumah Sakit (SPMRS).
5. Kepmenkes No. 0152/YanMed/RSKS/1987 tentang standarisasi kendaraan
pelayanan medik.
6. Kepmenkes No. 143/Menkes-Kesos/SK/II/2001 tentang standarisasi
kendaraan pelayanan medik.
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualitas Sumber Daya Manusia

Staf Pendamping

Berdasarkan rekomendasi dari Guidelines for the Inter And Intrahospital


Transport Of Critically Ill Patients. Petugas yang mendampingi pasien yang tidak
stabil dalam transport pasien adalah dokter yang memiliki kompetensi dalam
evakuasi pasien. Sedangkan apabila pasien dalam kondisi stabil perawat yang
mempunyai kompetensi dapat bertindak sebagai pendamping pasien.
Kompetensi yang harus dimiliki oleh perawat pendamping paling tidak
mempunyai kemampuan dan ketrampilan dalam hal : terapi intravena,
manajemen aritmia dan basic trauma & cardiac life support. Paling tidak minimal
1 staf diperlukan sebagai pendamping pasien. Di bawah ini tabel yang
menunjukan keharusan dokter untuk mendampingi pasien saat transport bila
penilaian pasien termasuk kategori merah.

Tabel 1. Skor Kartu Penilaian Transport Pasien

SKOR KARTU PENILAIAN TRANSPORTASI PASIEN

Sistem Kriteria Hijau Merah


SSP GCS 13-15 <13
Fraktur Spinal Stabil Tidak Stabil
Kesadaran Tidak berubah Berubah
TIK Terkontrol Tidak Terkontrol
Kejang Terkontrol Tidak Terkontrol
Obat sedasi / Pelumpuh
Tidak Ya
otot
     
Jantung Nyeri dada Berkurang Bertambah
  Pacemaker Tidak ada Ada
  Tekanan Darah Stabil Tidak stabil
  Disritmia Stabil Tidak stabil
  Cairan Resusitasi Tidak Aktif
     
Respirasi RR 10-24 < 10 atau > 24
  <40% atau < 6 lt 40% atau > 6
  Oksigen /menit lt/menit
  Alat Jalan Nafas Tidak ada Ada
  Obstruksi jalan nafas Tidak ada Ada
  Ph > 7.30 < 7.30
Ventilator Tidak ada Ada

3
  PEEP Tidak ada Ada
       
Sal. cerna Abdomen Tertutup Terbuka
  Elektrolit Tidak mengancam Mengancam
       
Lain - lain Perdarahan Tidak Aktif
  jalur IV Terjamin Tidak terjamin
  WSD Ada tidak ada
  Isolasi Kontak Droplet / airborne

Petugas Transportasi Ambulans terdiri dari:


1. Satu pengemudi berkemampuan BHD dan mampu menggunakan radio
komunikasi (HT) dan HP.
Syarat pengemudi ambulans yang aman :
a. Sehat secara fisik dan mental.
b. Bisa mengemudi dibawah tekanan emosi.
c. Mempunyai keyakinan positif atas kemampuan diri sebagai seorang
pengemudi, tapi tidak terlalu percaya diri dengan menentang resiko.
d. Bersikap toleran dengan pengemudi lain.
e. Tidak dalam pengaruh obat-obatan yang dapat menimbulkan resiko
mengemudi.
f. Mempunyai surat izin pengemudi yang masih berlaku.
2. Satu perawat berkemampuan BTCLS atau PPGD.
3. Satu dokter berkemampuan ATLS/ACLS atau PPGD.

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Pengendara ambulans standby di IGD/pos kendaraan dan driver. Tenaga
medis (perawat) berasal dari tenaga di Instalasi Gawat Darurat atau tenaga
perawat ruangan. Sedangkan tenaga dokter adalah dokter jaga di IGD maupun
di ruangan.

C. PENGATURAN JAGA
1. Pengemudi/supir khusus ambulans gawat darurat
Tiga shift jaga yaitu :
Pagi : 1 Orang
Sore : 1 Orang
Malam : 1 Orang
2. Pengemudi/supir khusus ambulans transport
Harian : 1 Orang
3. Perawat IGD yang bertugas pada jam dinas tersebut atau perawat
ruangan.
4. Dokter jaga IGD atau yang bertugas di ruang rawat inap.

D. KOORDINASI DAN KOMUNIKASI


Dalam proses transport pasien harus ada koordinasi dan komunikasi
yang jelas antar pengirim dan penerima pasien. Pastikan pihak rumah sakit atau
unit penerima siap menerima pasien yang diantar. Pihak pengirim harus
memastikan pihak penerima telah siap menerima dan memberikan pelayanan
segera setelah pasien tiba ditujuan, sesuai dengan keperluan dan kepentingan.
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Gambaran Mobil Ambulans


Untuk menunjang pelayanan terhadap pasien, Rumah Sakit Khusus
Bedah Halimun saat ini memiliki 1 (satu) unit ambulans. Operasional ambulans
ini berada di bawah koordinasi IGD dan bagian layanan umum.
Adapun spesifikasi Mobil Ambulans adalah sebagai berikut:

1. Ambulans Gawat Darurat


Nama Polisi : B 1581 sgm
Merk/Type : Toyota Hiace
Jenis Model : Kendaraan Khusus Ambulans
Tahun Pembuatan : 2017
Tahun Perakitan :
Isi Silinder : 2.000 CC
Warna : Silver
Nomer rangka : MHXMF31JLEJ000678
Nomer mesin : D4CBO343228
Bahan bakar : Solar
Panjang : 5.125 m
Lebar : 1.920 m
Tinggi : 1.925 m
AC : Double Blower
Sistem Kemudi : Power Steering
Sumber Listrik : ADDC Dengan 2 buah stop Kontak
Pintu Belakang : Type Hatchback
Pintu Samping : Type Sliding
Kaca Film : 60% Pengemudi 80% Penumpang
Lantai : Plywood dilapisi Vinil hospital grade
Kursi Dokter : Standard
Tempat Duduk : Kapasitas 2 Penumpang

(NOTE : perlu disesuaikan dengan ambulans RSKBH)

6
B. Standar Fasilitas
Fasilitas & Sarana untuk Ambulans

1. Perlengkapan Ambulans
 AC
 Sirine
 Lampu rotator berwarna biru dan merah ditengah atas ambulans
 Sabuk pengaman
 Sumber listrik/stop kontak
 Lemari untuk alat medis
 Lampu ruangan
 Apar
2. Alat Pelindung Diri Petugas Kendaraan
 Sarung tangan
 Masker
 Apron
 Goggles

C. Peralatan dan Obat- Obatan


Peralatan dan obat-obatan harus dipersiapkan untuk memenuhi
kebutuhan dan mengurangi risiko yang dapat terjadi dalam proses pengiriman
pasien. Untuk persiapan obat dan alat perlu bekerjasama dengan pihak apotik.
Hal yang harus dipertimbangkan dalam penyediaan alat adalah: mudah dalam
penggunaan, ukuran, berat, battery, ketahanan, dan kemampuan alat dalam
menghadapi gangguan vibrasi, serta cuaca.

1. Peralatan Airway (emergency kit)


a. Oropharingeal airway (OPA) no. 4 (1 buah)
b. Endotracheal tube (ETT) no. 7.5 (1 buah)
c. Neck Collar no.2,3,4, @ 1 buah
d. Connector Suction 1 buah
e. Kanul suction dewasa dan anak 2 buah
f. Tongue spatel 1 box
g. Xylocain gel 2% 1 buah
h. Magil forcep 1 buah
i. Mouth gage 1 buah

2. Peralatan Breathing (emergency kit)


a. Bag valve mask
b. Oksigen kanul
c. RM (Rebreathing Mask)
d. NRM (Non Rebreathing Mask)
e. Stetoskop

3. Peralatan Sirkulasi (emergency kit)


a. Infus set 3 buah
b. IV Catheter no.20, 22, dan 24 @ 3 buah
c. Cairan infus (Ringer Laktat, Asering, NaCl)
d. Syringe/spuit ukuran 3, 5, 10, dan 20 mL @ 3 buah
e. Wing needle no.23 dan 25 @ 1 buah
f. Alcohol swab 10 buah
g. Band aid 5 buah
h. Folley catheter no.16 dan urine bag @ 1 buah
i. Verban gulung ukuran inchi 5 dan 10 @ 10 buah
j. Mitella 1 buah
k. Elastic verban 15 dan 7,5cm @ 1 buah
l. Elektroda 3 buah
m. Tensimeter 1 buah
n. Kassa steril 1 box
o. Handschoen disposible 1 box
p. Micropore 1 buah, Tourniquet 1 buah
q. Chloretil/Lidocaine spray 1 buah

4. Obat obatan emergensi (emergency kit)


a. Adrenalin/Epinefrin @ 10 amp
b. Sulfas atropine 0,25mg @ 12 amp
c. Dexamethasone/kalmetason 5mg @ 3 amp
d. Dextrose 40% @ 4 flc
e. Furosemide @ 2 amp
f. Dopamin 1 amp
g. Diazepam 2 amp
h. Bicnat 25cc 1 fls
i. ISDN 5mg 5 tab
j. Clopidogrel 4 tab
k. Thromboaspilet 2 tab

5. Obat-obatan untuk event (emergency kit)


1. Obat-Obatan Emergensi
2. Attapulgite 8 tab
3. Captopril 25mg 5tab
4. Chlorpheniramine maleat 5tab
5. Antasida 10 tab
6. Asam mefenamat 500mg 10 tab
7. Omeperazole 5 cap
8. Oralit 5 bks
9. Paracetamol 10 tab
10. Tetes mata antibiotik 1 btl
11. Krim luka bakar 1 tube
12. Betahistin mesilat 5 tab
14. Povidone iodine solution 1 btl
15. Alcohol 70% 1 btl.
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. Tata Laksana Transportasi Pasien

Dalam memenuhi kebutuhan transportasi ambulans gawat darurat


pasien, petugas yang menerima informasi melapor ke penanggung jawab
ambulans dan mengidentifikasi kebutuhan pasien, lalu berkoordinasi dengan
bagian transport dengan menyertakan form permohonan penggunaan ambulans.
Supervisor berkoordinasi dengan perawat IGD dan layanan transport untuk
penyediaan ambulans.
1. Untuk penjemputan pasien dari rumah, maka petugas yang menjemput
adalah petugas IGD dan dokter jaga IGD/ruangan bila dibutuhkan.
2. Untuk pemulangan pasien kerumah, maka perawat ruangan yang melakukan
pendampingan.
3. Untuk melakukan konsul/pemeriksaan ke rumah sakit lain, maka perawat
ruangan yang melakukan pendampingan.
4. Untuk melakukan transfer ke rumah sakit lain dengan kondisi pasien
memerlukan peralatan monitoring dan atau peralatan bantuan hidup selama
perjalanan, maka petugas IGD (Dokter dan perawat IGD) dan perawat
ruangan yang mendampingi. Tetapi bila pasien yang dirujuk tidak
memerlukan peralatan monitoring dan peralatan bantuan hidup maka
pendampingan dilakukan oleh perawat ruangan.
5. Bila ada permintaan untuk acara event maka yang bertugas adalah dokter
jaga IGD/dokter ruangan dan perawat IGD/Perawat ruangan yang sesuai
dengan persyaratan.
6. Bila diperlukan saat menjemput atau membawa pasien, ambulans dapat
menggunakan lampu rotator dan sirene dengan bijaksana.

Petugas driver mempersiapkan ambulans, perawat mempersiapkan


pasien yang akan dirujuk atau didampingi. Setelah ambulans siap, petugas
membawa pasien ke dalam ambulans dan memposisikan pasien duduk/tidur
(sesuai kondisi pasien) di dalam ambulans.

10
Untuk pasien yang memerlukan peralatan monitoring dan alat bantuan
hidup, petugas memasang peralatan tersebut sesuai dengan SPO masing-
masing alat.
Selama dalam perjalanan, petugas melakukan observasi keadaan pasien
(GCS, tanda vital) dan mendokumentasikannya di catatan perkembangan pasien
terintegrasi/form observasi pasien selama pendampingan. Bila terjadi kegawatan
selama perjalanan, perawat melakukan tindakan bantuan hidup dasar (BHD) di
dalam ambulans sesuai dengan SPO Bantuan Hidup Dasar. Pemberian obat-
obatan harus dikoordinasikan dengan dokter jaga IGD/Ruangan. Untuk pasien
yang dijemput dari rumah ke IGD, petugas yang menjemput melakukan serah
terima (Handover) dengan petugas IGD. Untuk pasien yang diantar ke rumah,
petugas yang mengantar menjelaskan secara umum perawatan selanjutnya.
Pada pasien yang dirujuk ke rumah sakit lain, perawat yang mengantar
melakukan serah terima (Handover) dengan petugas rumah sakit rujukan.
Untuk pasien yang dilakukan konsultasi/pemeriksaan ke rumah sakit luar,
petugas yang mengantar selalu mendampingi pasien dan tetap melakukan
observasi keadaan umumnya sampai konsultasi/pemeriksaan selesai dan pasien
dibawa kembali ke RSKB Halimun. Setelah proses pendampingan selesai
dilaksanakan, petugas yang mendampingi melapor ke penanggung jawab
ambulans. Semua penggunaan ambulans didokumentasikan dalam buku
pemakaian ambulans.

B. Tata Laksana Penjemputan/Pendampingan Pasien


1. Pemesan menghubungi bagian ambulans/emergensi/instalasi gawat
darurat.
2. Petugas ambulans emergensi/Instalasi Gawat Darurat harus menanyakan
secara jelas informasi mengenai :
a. Nama pasien
b. Nama pemesan
c. Keadaan/keluhan pasien
d. Nomor telepon yang bisa dihubungi
e. Alamat pasien
f. Apakah rumah pasien bisa dilalui ambulans
3. Bagian emergensi/Instalasi Gawat Darurat menginformasikan kepada
petugas kendaraan untuk mengadakan penjemputan ke rumah pasien.
4. Petugas Ambulans akan menulis di buku pesanan perjalanan.
5. Petugas kendaraan mempersiapkan peralatan untuk pasien bersama
perawat yang akan menjemput dan mempersiapkan keperluan ambulans.
6. Setelah siap untuk mengadakan penjemputan maka petugas ambulans
akan mencatat di buku perjalanan.
7. Petugas melaksanakan tugas sesuai prosedur.

C. Tata Laksana Sistem Informasi Pelayanan Pra Rumah Sakit


1. Dokter yang mendampingi pasien memberikan informasi mengenai kondisi
pasien yang akan dibawa kepada Dokter IGD di Rumah Sakit yang dituju.
2. Isi informasi mencakup :
- Keadaan umum (kesadaran dan tanda–tanda vital).
- Peralatan yang diperlukan di IGD (suction, monitor, defibrillator).
- Kemungkinan untuk dirawat di intensive care unit (ICU) dan hal-hal yang
diperlukan sesuai dengan laporan yang diterima dari petugas
ambulans.
BAB V
LOGISTIK

A. Administrasi Dan Pengelolaan


Dalam menunjang transportasi pasien dari Rumah Sakit Khusus Bedah
Halimun ke rumah sakit lain, dari rumah ke Rumah Sakit Khusus Bedah Halimun
atau sebaliknya dan permintaan ambulans untuk event agar berjalan dengan
baik, maka diperlukan pengelolaan administrasi yang baik dan sesuai dengan
prosedur yang ada.

B. Penyediaan Peralatan/Obat
Penyediaan peralatan medis dan obat-obatan semua disediakan oleh rumah
sakit melalui bagian farmasi sesuai dengan tarif ambulans yang berlaku di
Rumah Sakit Khusus Bedah Halimun. Apabila ada pemakaian alat dan obat yang
tidak sesuai tarif paket ambulans, maka pasien atau pihak pasien membayar
alat/obat tersebut secara tunai dan kuitansi akan diberikan setelah membayar di
kasir.

C. Pemeliharaan Dan Penyediaan Bahan Bakar


1. Pemeliharaan ambulans
Pemeliharaan ambulans dilakukan untuk menjaga kondisi ambulans dalam
keadaan baik dan siap pakai. Pemeliharaan tersebut meliputi:
a. Pemeriksaan kondisi ambulans pada posisi mesin mati
b. Pemeriksaan kondisi ambulans pada posisi mesin hidup
c. Pemeriksaan peralatan medis ambulans

2. Penyediaan bahan bakar


Pemeliharaan kendaraan meliputi juga pengisian bahan bakar ambulans yang
disediakan oleh rumah sakit.
Tata cara pengisian bahan bakar ambulans
a. Petugas ambulans/transport mengajukan anggaran untuk pembelian
bahan bakar, uang tol, biaya perbaikan, ke bagian keuangan. Untuk
pengisian bahan bakar, dikoordinasikan dengan petugas administrasi
dengan membawa buku pengisian bahan bakar yang sebelumnya sudah
dilakukan pengecekan terhadap bahan bakar.
b. Petugas ambulans/transport membeli bahan bakar di SPBU sesuai
dengan kebutuhan dan meminta struk asli pembelian.
c. Petugas ambulans menyerahkan struk pembelian bahan bakar ke bagian
administrasi transport untuk dipertanggungjawabkan.
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

A. Pengertian
Keselamatan Pasien (Patient Safety) adalah suatu sistem dimana rumah
sakit membuat asuhan pasien lebih aman untuk meminimalkan timbulnya resiko
dan mencegah terjadinya cedera akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

B. Pelaksanaan
Sistem keselamatan pasien
1. Ketepatan identifikasi pasien
Pasien yang akan menggunakan ambulans ataupun ambulans jenazah
diidentifikasi terlebih dahulu menggunakan identitas pasien yang
meliputi :
1. Nama
2. Tanggal lahir
2. Peningkatan Komunikasi efektif (SBAR: Situation, Background,
Assessment, Recomendation).
a. Petugas dari ruang perawatan/Instalansi gawat darurat
menginformasikan permintaan penggunaan ambulans kepada
petugas ambulans melalui telepon secara jelas.
b. Petugas ambulans mencatat permintaan ambulans pada buku
pesanan dan mengklarifikasi kembali kepada bagian yang akan
menggunakan ambulans pada waktu pengantaran atau
penjemputan.
c. Petugas administrasi/kasir ruang perawatan memberikan formulir
permintaan ambulans kepada keluarga pasien yang digunakan
untuk pembayaran administrasi ambulans. Setelah itu, formulir dan
bukti pembayaran diberikan kepada petugas ambulans.
3. Petugas ambulans bersama perawat menyiapkan peralatan yang akan
digunakan.

15
4. Pengendalian infeksi :
a. Cuci tangan sebelum dan sesudah bekerja untuk mencegah infeksi
silang.
b. Pemakaian alat pelindung diri untuk mencegah kontak dengan
darah dan cairan infeksi yang lain seperti masker, sarung tangan,
goggles dan apron jika dibutuhkan.
c. Pengelolaan jarum dan alat tajam lain untuk mencegah perlukaan.
d. Pembersihan ambulans setiap penggunaan pengantaran ataupun
penjemputan pasien.
e. Pengelolaan limbah rumah sakit dan sanitasi ruangan.

5. Mengurangi resiko pasien jatuh

a. Rumah sakit menyediakan peralatan kesehatan yang dapat


mengurangi resiko pasien jatuh pada saat pemindahan pasien ke
dalam ambulans, pada proses transfer maupun pemindahan pasien
dari ambulans.
b. Fasilitas Ambulans yang sudah dilengkapi dengan tempat untuk
meletakan Brankar Ambulans yang disebut dengan Landasan.
Landasan Brankar Ambulans berfungsi untuk mempermudah
Brankar Ambulans masuk dan keluar.
c. Brankar ambulans yang dilengkapi dengan sabuk pengaman.
d. Cara pemindahan pasien ke dalam ambulans maupun keluar
ambulans yang tepat dan menghindari resiko pasien jatuh.
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

A. PENDAHULUAN
Keselamatan dan kesehatan kerja di Rumah sakit dan lembaga medis
harus diperhatikan. Demikian pula pengelolaan faktor-faktor yang memiliki
potensi berbahaya yang ada di rumah sakit serta pengembangan keselamatan
dan kesehatan kerja yang harus dilaksanakan, seperti perlindungan yang baik
terhadap penyakit menular dan non menular secara medis, pengelolaan limbah,
penggunaan pelindung diri dan sebagainya. Selain pekerja medis, keselamatan
kerja dirumah sakit yang harus diperhatikan adalah segala komponen yang
berada dilingkungan rumah sakit termasuk bagian ambulans.

Menurut laporan The National Safety Council (Dewan Keamanan Nasional)


ada 41% dari petugas medis tidak hadir akibat penyakit dan keselamatan dan
jumlah ini jauh lebih besar dari petugas industry lainnya.

Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak yang melayani dan melakukan


kontak langsung dengan pasien dalam waktu 24 jam secara terus menerus
tentunya mempunyai resiko terpajan infeksi, oleh sebab itu tenaga kesehatan
wajib menjaga kesehatan dan keselamatan darinya dari resiko tertular penyakit
agar dapat bekerja maksimal.

B. TUJUAN
1. Mampu melakukan identifikasi resiko seperti faktor fisik serta biologis yang
berkaitan dengan ambulans rumah sakit.
2. Mampu mengupayakan kontrol terhadap faktor resiko tersebut.
3. Mampu mengembangkan pencegahan seperti menetapkan alat pelindung
diri yang diperlukan di ambulans.
4. Mampu mengembangkan program pemeriksaan kesehatan tenaga
ambulans.
5. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya
mempunyai resiko tinggi terinfeksi penyakit menular dilingkungan tempat
kerjanya, untuk menghindarkan paparan tersebut, setiap petugas harus
menerapkan prinsip “Universal Precaution”.

C. Syarat Pengemudi Ambulans Untuk Menjaga Keselamatan Kerja


1. Sehat secara fisik.
2. Sehat secara mental.
3. Dapat mengemudi dibawah tekanan.
4. Memiliki keyakinan positif atas kemampuan diri sebagai seorang
pengemudi tetapi juga harus waspada dengan menantang resiko.
5. Berikap toleran dengan pengemudi lain.
6. Tidak dalam pengaruh obat obatan berbahaya.
7. Mempunyai surat ijin mengemudi yang masih berlaku.
8. Memakai kacamata/lensa kontak jika diperlukan saat mengemudi.
9. Evaluasi kemampuan diri dalam menyetir berdasarkan respon diri terhadap
tekanan perorangan, penyakit, kelelahan dan mengantuk.

D. Aturan Ambulans Dijalan Raya

1. Pengemudi ambulans harus memiliki lisensi mengemudi yang sah dan


harus menyelesaikan program pelatihannya.
2. Hak-hak khusus memperbolehkan pengemudi ambulans untuk tidak
mematuhi peraturan ketika ambulans digunakan untuk respon emergensi
atau untuk transportasi pasien gawat darurat. Ketika ambulans tidak
dalam respon emergensi, maka peraturan yang berlaku bagi setiap
pengemudi kendaraan non-darurat, juga berlaku untuk ambulans.

3. Walaupun memiliki hak istimewa dalam keadaan darurat, hal tersebut


tidak menjadikan pengemudi ambulans kebal terhadap peraturan
terutama jika mengemudikan ambulans dengan ceroboh atau tidak
mempedulikan keselamatan orang lain.

4. Hak istimewa selama situasi darurat hanya berlaku jika pengemudi


menggunakan alat-alat peringatan (warning devices) dengan tata cara
yang diatur oleh peraturan.
5. Sebagian besar undang-undang memperbolehkan pengemudi kendaraan
emergensi untuk :
a. Memarkir kendaraannya di manapun, selama tidak merusak hak milik
atau membahayakan nyawa orang lain.
b. Melewati lampu merah dan tanda berhenti.

c. Melewati batas kecepatan maksimum yang diperbolehkan selama


tidak membahayakan nyawa dan hak milik orang lain.

d. Mendahului kendaraan lain di daerah larangan mendahului setelah


memberi sinyal yang tepat, memastikan jalurnya aman dan
menghindari hal-hal yang membahayakan nyawa dan harta benda.

e. Mengabaikan peraturan yang mengatur arah jalur dan aturan berbelok


ke arah tertentu, setelah memberi sinyal dan peringatan yang tepat.

E. Penggunaan Alat - Alat Peringatan

    Pengoperasian kendaraan emergensi yang aman dapat dicapai hanya


jika alat-alat peringatan dan sirine emergensi digunakan dengan tepat dan
dengan mengemudikan kendaraan secara hati-hati. 

1. Sirine
Sirine adalah alat peringatan audio yang paling banyak digunakan dalam
pratek ambulans dan juga paling sering disalahgunakan. Saat
menyalakan sirine, pertimbangkan efeknya yang bisa terjadi baik pada
pengendara bermotor lainnya, pasien dalam ambulans, maupun
pengemudi ambulans itu sendiri. Dibawah ini beberapa aturan
penggunaan sirine ambulans gawat darurat.
a. Menggunakan sirine secara bijak dan hanya ketika perlu. Sirine hanya
digunakan jika pengemudi dalam respon emergensi, Suara sirine
yang dinyalakan terus menerus dapat menambah rasa takut dan
cemas pasien, dan kondisi pasien dapat memburuk jika mulai timbul
stress.
b. Pengemudi kendaraan bermotor cenderung untuk tidak memberikan
jalan pada ambulans jika sirine terlalu sering dinyalakan. Hal ini
disebabkan karena beberapa pengemudi menganggap bahwa
ambulans seringkali menyalahgunakan sirine dalam keadaan non-
emergensi.

c. Selalu waspada meski sudah membunyikan sirine. Jangan pernah


beranggapan bahwa semua pengendara kendaraan bermotor akan
mendengar sinyal Anda. Adanya bangunan, pepohonan, dan semak
belukar, radiotape dalam mobil dapat menghalangi suara sirine.

d. Bersiap terhadap manuver aneh pengemudi lain, karena beberapa


pengemudi menjadi panik jika mendengar bunyi sirine.

e. Tidak berada di dekat kendaraan lain lalu membunyikan sirine tiba-


tiba. Hal ini dapat menyebabkan pengemudi lain menginjak rem
mendadak dan Anda tidak bisa berhenti tepat pada waktunya.
Gunakan klakson ketika Anda berada dekat dengan kendaraan di
depan Anda.

f. Tidak menggunakan sirine sembarangan dan jangan digunakan untuk


menakuti orang lain.

2. Klakson
Klakson adalah perlengkapan standar pada setiap ambulans. Pengemudi
yang berpengalaman menyadari bahwa penggunaan klakson dengan
bijak dapat membuka jalur lalu lintas secepat sirine. Petunjuk
penggunaan sirine diaplikasikan juga untuk penggunaan klakson.
3. Peralatan Peringatan Visual.
Dimanapun ambulans berada di jalan, siang ataupun malam, lampu
depan harus selalu dinyalakan. Hal ini dapat meningkatkan jarak pandang
kendaraan terhadap pengemudi lain. Ketika ambulans berada pada
keadaan emergensi untuk pasien dengan prioritas tinggi, baik dalam
perjalanan menuju lokasi kejadian maupun transportasi ke rumah sakit,
semua lampu emergensi harus digunakan. Kendaraan harus bisa terlihat
dari setiap sudut 360 derajat. 

F. Kecepatan Dan Keselamatan

Dalam mengemudikan ambulans perlu menjaga kecepatan dan keselamatan,


maka sangat perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Kecepatan yang berlebihan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya
tabrakan.
2. Kecepatan yang tinggi membutuhkan jarak yang lebih panjang untuk
berhenti, sehingga dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diharapkan.
Jika melintasi persimpangan dengan lampu peringatan, hindari menikung
tiba-tiba dan selalu menyalakan lampu penunjuk arah. Pastikan
pengemudi ambulans dan semua penumpang menggunakan sabuk
pengaman saat ambulans sedang berjalan.

3. Kecepatan ideal ambulans saat membawa pasien :


- Dijalan biasa : 40 km/jam
- Dijalan Tol : 60 - 80 km/jam
4. Kecepatan ideal ambulans saat tidak membawa pasien :
- Dijalan biasa : 60 km/jam
- Dijalan Tol : 80-100 km/jam

G. Mencari Jalan Alternatif

Jika diperkirakan bahwa ambulans akan terlambat mencapai lokasi pasien,


pengemudi ambulans harus mempertimbangkan sebuah jalur alternatif atau
meminta pengiriman ambulans lain. Beberapa tip untuk antisipasi adanya
kemacetan :

1. Perkirakan waktu-waktu di mana perubahan keadaan dapat


mempengaruhi kecepatan pengiriman.
2. Dapatkan peta detail wilayah pelayanan Anda. Kemudian tandai titik-titik
pada peta yang biasa timbul masalah lalu lintas seperti area sekolah,
jembatan, terowongan, persimpangan rel kereta api dan area-area
padat.

3. Tandai juga keadaan-keadaan lain yang bisa timbul sewaktu-waktu


seperti lokasi pembangunan dan perbaikan jalan ataupun adanya jalan
memutar yang panjang maupun pendek.

4. Gunakan warna yang berbeda, tandai jalur alternatif.

5. Gantung sebuah peta di pangkalan dan letakkan sebuah peta lain di


dalam ambulans. Sehingga jika Anda menghadapi wilayah yang
bermasalah, Anda akan dapat memilih jalur alternatif yang mampu
mengantarkan Anda ke tujuan dengan lebih cepat dan lebih aman.

H. Alat Pelindung Diri

1. Sarung tangan non steril dipakai saat petugas ambulans membantu


perawat memindahkan pasien dari dalam maupun keluar ambulans, dan
saat petugas membantu tenaga medis (perawat/dokter) dalam melakukan
tindakan terhadap pasien didalam ambulans.
2. Masker surgical dan N 95 untuk penyakit menular digunakan saat petugas
ambulans membantu perawat memindahkan pasien dari dalam maupun
keluar ambulans, dan saat petugas membantu tenaga medis dalam
melakukan tindakan terhadap pasien didalam ambulans.
3. Apron plastik disposible digunakan jika diperlukan oleh petugas ambulans
saat membantu perawat memindahkan pasien dari ataupun keluar
ambulans, dan saat petugas membantu tenaga medis dalam melakukan
tindakan terhadap pasien didalam ambulans.
4. Goggles digunakan jika diperlukan oleh petugas ambulans saat membantu
perawat yang berisiko terkena cairan tubuh pada mata.

I. Pemeriksaan Kesehatan Petugas Secara Berkala

Untuk menghindari resiko kecelakaan kerja maka petugas ambulans


harus dilakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala minimal 1 tahun,
meliputi pemeriksaan fisik dan laboratorium

J. Keselamatan Kerja Pada Saat Terjadi Kecelakaan

1. Rumah sakit memberikan perhatian terhadap keselamatan kerja petugas.

2. Rumah sakit mengatur prosedur berobat karyawan.

3. jika terjadi kecelakaan kerja dan mengakibatkan kerusakan peralatan maka


petugas membuat kronologi kejadian dan mengganti 25% dari kerusakan
tersebut.

K. Prinsip Keselamatan Kerja

Prinsip utama prosedur Universal Precaution dalam kaitan keselamatan


kerja adalah menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan
sterilisasi peralatan. Ketiga prinsip tesebut dijabarkan menjadi 5 (lima)
kegiatan pokok yaitu :

1. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang.


2. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna
mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksi yang lain.
3. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai.
4. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan.
5. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

A. INDIKATOR MUTU

Indikator KP Indikator Klinis Indikator management

Availability pelayanan ambulans

Response time

1 . Response time pelayanan ambulans call

Nama indikator Response time pelayanan ambulans call

Dimensi mutu Respon rumah sakit terhadap masyarakat

Tujuan Mengetahui response time pelayanan ambulans terhadap


masyarakat

Definisi operasional Waktu tunggu sejak telepon permintaan ambulans sampai


dengan ambulans siap penjemputan kurang dari 15 menit
Frekuensi Setiap bulan
pengumpulan data

Periode analisis 3 bulan sekali

Formulasi (Response time kurang dari 30 menit/seluruh permintaan)


x 100%

Target 90%

Sumber data Bagian Gawat Darurat

Standar 24 jam

Penanggung jawab Penanggung Jawab Ambulans (Koordinator Ambulans)


2. Ketersediaan Pelayanan Ambulans Rumah Sakit

Nama indikator Ketersediaan pelayanan ambulans rumah sakit

Dimensi mutu Respon rumah sakit terhadap pelayanan kebutuhan


ambulans didalam rumah sakit

Tujuan Mengetahui ketersediaan pelayanan ambulans


terhadap kebutuhan pasien

Definisi operasional Presentasi ketersediaan ambulans dalam satu periode


tertentu

Frekuensi Setiap bulan


pengumpulan data

Periode analisis 3 bulan sekali

target 90%

formulasi (angka ketersediaan ambulans/total permintaan


ambulans) x 100%

Sumber data Bagian kendaraan

Standar 24 jam

Penanggung jawab Penanggung jawab Ambulans (Koordinator Ambulans)

B. KALIBRASI ALAT
Kalibrasi alat medis yang ada di bagian ambulans setiap tahun oleh
Badan Pengawas Fasilitas Kesehatan Jakarta.

C. PEMELIHARAAN PERALATAN
1. Servis dilakukan pada:
- Peralatan ambulans yang rusak (dilakukan di bengkel yang telah
ditunjuk).
- Peralatan medis yang rusak.
2. Pengecekan kesiapan ambulans meliputi
- Radio komunikasi
- Lampu ( jarak jauh, jarak dekat, dalam, sen)
- Klakson
- Karet pembersih kaca
- Kaca spion
- Sabuk pengaman
- Ban (depan, belakang, serep)
- AC
- Solar/bensin
- Mesin (oli, rem, kopling, air radiator, accu)
- Badan (luar, dalam, atas, lantai dasar)
- Brankar
- Masker
- Sarung tangan
- Tempat sampah
- Tensimeter
- Suction
- Selang suction
- Ambu bag
- Bag valve mask
- Lampu tindakan

Rumah Sakit Khusus Bedah Halimun


Direktur,

dr. Briliantono M. Soenarwo


Sp.OT, FICS, MD, PhD, MBA