Anda di halaman 1dari 4

PERNYATAAN BERSAMA

Konsistensi Kebijakan Pertekstilan untuk Menjaga Pertumbuhan di Tengah


Pandemi Global

Kondisi industri tekstil dan produk tekstil (ITPT) dalam dua bulan terakhir mulai menunjukkan
kemajuan dimana tidak ada penambahan jumlah perusahaan yang tutup maupun mengurangi
karyawannya. Hal ini merupakan dampak positif implementasi bea masuk safeguard sementara
(BMTPS) dan penutupan sejumlah Pusat Logistik Berikat (PLB). Meski demikian, masih terdapat
pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah bersama asosiasi agar perbaikan
kinerja industri tercapai.

Sejumlah PLB tekstil masih beroperasi dengan basis izin PERMENDAG 77 2019 dimana aktivitas
tersebut kontraproduktif dengan upaya memajukan industri. Di tambah lagi, lemahnya
pengawasan terhadap barang masuk semakin memperparah situasi sebagaimana terpantau oleh
investigasi media nasional (lampiran 1). Untuk memelihara momentum perbaikan, kami
mendorong pemerintah secara tegas menghentikan arus barang TPT (HS 50-63) melalui PLB
dan segera merevisi PERMENDAG 77 2019.

Pengenaan BMTPS patut diapresiasi, akan tetapi implementasinya masih kurang efektif karena
adanya kebocoran. Di sisi lain, pelaku industri masih wait and see karena ragu atas komitmen
pemerintah untuk mem-permanen-kan safeguard (safeguard sementara berakhir pada Maret ini).
Pasar juga belum terstimulasi karena impor pakaian jadi mulai marak, sehingga tidak ada
penambahan permintaan yang berarti kain dan benang.

Kombinasi hal di atas membuat produsen belum berani meningkatkan utilisasi produksinya
sehingga utilisasi produksi masih terhenti pada kisaran 50% saja. Industri Kecil Menengah
(Konveksi) yang memproduksi pakaian jadi menjadi pihak paling terpukul karena impor
kembali terjadi di momentum menjelang Hari Raya yang merupakan periode penting penjualan
tahunan.

Kebijakan Antisipasi Wabah Corona

Terkait dengan pandemic global Corona, ITPT telah mengupayakan mitigasi penyebaran virus
sejak Februari 2020 hingga saat ini. Setiap orang wajib menggunakan masker, mengecek suhu
tubuh hingga meminimalisir interaksi dengan orang baru. Hingga saat ini kami masih bisa
menjalankan operasional produksi seperti biasa tanpa hambatan. Telah menjadi informasi publik
bahwa virus corona dapat disembuhkan dengan self-treatment sehingga kewaspadaan menjadi
kunci. Oleh karenanya, dengan persiapan yang tepat perekonomian dapat terus berjalan
dan bisa dijadikan momentum memberdayakan industri dalam negeri di tengah kelesuan
pasar global.

Selain kebijakan pemerintah menekan laju penyebaran virus yang patut diapresiasi, kami
mengusulkan agar kebijakan lanjutan harus seimbang antara mengukur dampak sosial dan
perekonomian. Kami berharap adanya sinergi terutama di sektor manufaktur yang merupakan
tulang punggung perekonomian. Sepanjang pelaku usaha melakukan mitigasi, kami memohon
agar pembatasan aktivitas tidak dilakukan karena justru akan membuat permasalahan baru di
kemudian hari.

Kami mengkritik keras langkah relaksasi impor sektor TPT yang diupayakan sejumlah pihak.
Fasilitas impor yang telah ada sudah mengganggu kestabilan rantai industri dimana terdapat
insentif yang mendorong aktivitas impor. Relaksasi justru akan memperburuk keadaan
perekonomian saat ini dimana turunnya konsumsi masyarakat memperkecil pasar domestic
sehingga jika dibanjiri impor akan menghantam keras produksi lokal.

Terkait hal tersebut, kami mengusulkan agar insentif diberikan kepada produsen dalam negeri
sebagai stimulus peningkatan aktivitas produksi yang secara langsung akan
menggerakkan rantai perekonomian. Insentif dapat berupa penghapusan PPN sementara dari
hulu ke hilir ITPT untuk mendorong peningkatan produksi dalam rangka memenuhi kebutuhan
dalam negeri.

Konsistensi Kebijakan

Selama 10 tahun terakhir ITPT nasional telah terbebani dengan kenaikan biaya produksi seperti
tarif listrik, gas, upah karyawan, biaya logistik dan pungutan lainnya serta regulasi lingkungan
hidup yang lebih ketat dari negara lain sehingga menambah beban biaya industri. Sayangnya
aturan tersebut hanya tajam ke dalam karena berbagai kebijakan dan fasilitas justru diberikan
untuk impor yang mendisrupsi produk lokal di pasar dalam negeri. Kondisi ini menyebabkan satu
per satu industri gugur dan berpindah menjadi importir dan pedagang sehingga mendistorsi
investasi baru di industri TPT.

Kami mengharapkan konsistensi kebijakan ekonomi dari pemerintah untuk tetap mendukung
industri dengan menjadikan pasar domestik sebagai jaminan pasar lokal. Secara paralel, upaya
peningkatan daya saing untuk meningkatkan efisiensi biaya harus terus dilakukan agar ITPT bisa
memberikan kontribusi berkelanjutan atas PDB nasional sekaligus dapat bersaing di pasar global.

Jakarta, 18 Maret 2020

Asosiasi Produsen Serat Asosiasi Pertekstilan Indonesia


Dan Benang Filamen Indonesia (API)
(APSyFI)
Jemmy Kartiwa Ketua BPN API :
Redma G. Wirawasta : 081386942607 0811200198
Prama Yudha Amdan : 08161680086 Chandra Setiawan Ketua API Jabar :
08152070707