Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

ASKEP TRAUMA ABDOMEN

KELOMPOK 5 :

Chrisanty Werung 17061059

Ni Wayan Santika Yanti 17061009

Prisca Eunike Umboh 17061017

Eunike Kelanit 17061142

Ni luh Sri Indah Juliani 17061018

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS KATOLIK DELA SALLE


MANADO

T/A 2020-2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada TUHAN yang mahakuasa, karena hanya dengan segala
rahmat-Nyalah akhirnya kami bisa menyusun makalah ini tepat pada waktunya.

Kami selaku penyusun berharap semoga makalah yang telah kami susun ini bisa memberikan
banyak manfaat serta menambah pengetahuan bagi pembaca.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan yang membutuhkan
perbaikan, sehingga kami sangat mengharapkan masukan serta kritikan dari para pembaca.

Manado, 17 februari 2020


DAFTAR ISI

KATA PENGATAR …………………………………………

DAFTAR ISI ………………………………………………….

BAB I PENDAHULUAN……………………………………

A. Latar Belakang……………………………………………

a. Rumusan masalah……………………………………….
b. Tujuan penulisan………………………………………

B. Tujuan Penulisan……………………………………………

BAB II PEMBAHASAN ……………………………………

A. Askep Teoritis……………………………………………,

B. Diagnosa Keperawat………………………………………...

C. Rencana Asuhan Keperawatan……………………………

BAB III PENUTUP …………………………………………

A. Kesimpulan………………………………………………….

B. Saran………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Abdomen adalah sebuah rongga besar yang dilingkupi oleh otot-otot perut pada bagian
fentral dan lateral, serta adanya kolumna spinalis disebelah dorsal. Bagian atas abdomen
perbatasan dengan tulang iga atau costae. Cavitas abdominalis berbatasan dengan cavitas
thoraks atau rongga dada melalui otot diafragma dan sebelah bawah dengan cavitas pelvis
atau rongga panggul.
Antara cavitas abdominalis dan cavitas pelvis dibatasi dengan membrane serosa
yang dikenal dengan sebagai peritoneum parietalis. Membrane ini juga membungkus
organ yang ada di abdomen dan menjadi peritoneum visceralis. Pada vertebrata, didalam
abdomen terdapat berbagai system organ, seperti sebagian besar organ system
pencernaan, dan system perkemihan. Berikut adalah organ yang dapat ditemukan
diabdomen, komponen dari saluran cerna: lambung(gaster), usus halus, usus
besar(colon), caecum, umbay cacing appendix.,organ pelengkap dari saluran cerna
seperti: hati(hepar), kantung empedu, dan pancreas; organ saluran kemih seperti:
ginjal,ureter, dan kandung kemih(vesical urinaria): organ lain seperti limpa(lien).
Istilah trauma abdomen atau gawat abdomen menggambarkan keadaan klinik
akibat kegawatan dirongga abdomen yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri
sebagian keluhan utama. Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering
berupa tindakan beda, misalnya pada obstruksi, perforasi atau perdarahan, infeksi,
obstruksi atau stangulasi jalan cerna dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan
kontaminasi rongga perut oleh isi saluran cerna peritonitis. Evaluasi awal sangat
bermanfaat tetapi terkadang cukup sulit karena adanya jejas yang tidak jelas pada area
lain yang tidak terkait. Jejas pada abdomen dapat disebabkan oleh trauma tumpul atau
trauma tajam.pada trauma tumpul dengan velisitas rendah(misalnya akibat tinju) biasanya
menimbulkan kerusakan satu organ. Sedangkan trauma tumpul velositas tinggi sering
menimbulkan kerusakan organ multiple. Aktivitas dalam kehidupan sehari-hari
memungkinkan seseorang terkena injury yang bisa saja merusak kebutuhan integritas
kulit,selama ini kita hanya mungkin mengenal luka robek atau luka sayatan saja namun
ternyata diluar itu masih banyak lagi luka atau trauma yang terjadi pada daerah abdomen
insiden trauma abdomen meningkat dari tahun ketahun. Mortalitas biasanya lebih tinggi
pada trauma tumpul abdomen daripada trauma tusuk. Walaupun teknik baru diagnostic
lebih banyak dipakai, misalnya computed tomografi, na un trauma tumpul abdomen
masih merupakan tantangan bagi ahli klinik. Diagnosa dini diperlukan untuk pengelolaan
secara optimal. Trauma abdomen pada 25 % penderita multi- trauma gejala dan tanda
yang ditimbulkannya kadang-kadang lambat sehingga memerlukan tingkat kewaspadaan
yang tinggi untuk dapat menetapkan diagnostic.

B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana askep tentang trauma abdomen
C. Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui dan lebih memahami tentang askep trauma abdomen.
BAB II

PEMBAHASAN

A. ASKEP TEORI

1. Pengkajian

Dasar pemeriksaan fisik ‘head to toe’ harus dilakukan dengan singkat tetapi menyeluru
dari bagian kepala keujung kaki :

A. Kepala

wajah, kulit kepala dan tulang tengkorak, mata, telinga, dan mulut.

Temuan yang dianggap kritis :

Pupil tidak simetris, midriasis tidak ada respon, terhadap cahaya. Patah tulang tengkorak,
robekan/laserasi ada kulit kepala. Darah muntahan/kotoran didalam mulut, cairan
serebrospinal ditelinga atau dihidung

b. Leher :

lihat bagian depan, trakea, vena jugularis, otot-otot leher bagian belakang.

Temuan diangga kritis :

Distensi vena jugularis, deviasi trakea, emfisema kulit.

c. Dada
lihat tampilan fisik, tulang rusuk, penggunaan otot-otot aksesoris, pergerakan dada, suara
paru.

temuan yang diangga kritis :

luka terbuka, suara paru hilang atau melemah, gerakan dada sangat lemah, dengan pola
nafas yang tidak adekuat.

d. Abdomen

memar ada abdomen dan tamak semakin tegang, lakukan auskultasi dan palpasi dan
perkusi ada abdomen. Temuan yang dianggap kritis ditemukannya penurunan bising
usus, nyeri tekan pada abdomen bunyi dullness.

e. Pelvis

daerah pubik, stabilitas, pelvis, krepitasi, dan nyeri tekan. Temuan yang dianggap kritis :

pelvis yang lunak, nyeri tekan dan tidak stabil serta pembengkakan didaerah pubik.

f. Ekstremitas

ditemukan fraktur terbuka difemur dextra dan luka laserasi pada tangan. Anggota gerak
atas dan bawah denyut nadi, fungus motoric, fungsi sensorik. Temuan yang diangga kritis
nyeri, melemah dan menghilangnya denyut nadi, menurun atau menghilangnya fungsi
sensorik dan motoric.

Pemeriksaan fisik difokuskan pada daerah abodomen :

Inspeksi : fraktur terbuka difemur dextra, luka laserasi ada wajah dan tangan, memar ada
abdomen, perut semakin menengang.

Auskultasi : bising usus

Perkusi : kekakuan dan spasme ada perut karena akumulasi darah atau cairan.
B. Diagnosa keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan
2. Nyeri berhubungan dengan adanya trauma abdomen atau luka penetrasi abdomen.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan, tidak adekuatnya
pertahanan tubuh
4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan fisik
5. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang kurang.

C. Rencana Asuhan Keerawatan

No Diagnosa Tujuan dan intervensi Rasional


Keperawatan kriteria hasil
1 Kekurangan Setelah 1.     Kaji tanda-tanda 1.     untuk
. volume dilakukan vital. mengidentifikas
cairan b/d tindakan i defisit volume
perdarahan keperawatan cairan.
1x24 jam,
volume cairan 2.     Pantau cairan
tidak 2.     mengidentifikas
parenteral dengan
mengalami i keadaan
elektrolit,
kekurangan. perdarahan,
antibiotik dan
serta Penurunan
vitamin
sirkulasi volume
KH: cairan
menyebabkan
1. Intake dan
kekeringan
output
mukosa dan
seimbang
pemekatan urin.
2.    Turgor
Deteksi dini
kulit baik
3.  Perdaraha memungkinkan
n (-) terapi
pergantian
cairan segera.

3.     Kaji tetesan
infus.
3.     awasi tetesan
untuk
mengidentifikas
i kebutuhan
4.     Kolaborasi :
cairan.
Berikan cairan
parenteral sesuai 4.     cara parenteral

indikasi. membantu
memenuhi
kebutuhan
nuitrisi tubuh.

5.     Cairan parenteral
( IV line ) sesuai
5.     Mengganti
dengan umur
cairan dan
elektrolit secara
adekuat dan
cepat.

6.     Pemberian
tranfusi darah.
6.     menggantikan
darah yang
keluar.
2 Nyeri b/d Setelah 1. Kaji 1. Mengetahui
. adanya dilakukan karakteristik tingkat
trauma tindakan nyeri nyeri klien.
abdomen atau keperawatan
luka penetrasi 1x24 jam,
abdomen. Nyeri klien
teratasi. 2. Beri posisi 2.  Mengurngi
semi fowler. kontraksi
abdomen
KH:

1. Skala
nyeri 0
2. Ekspresi 3.  Membantu
3. Anjurkan
tenang. mengurangi
tehnik
rasa nyeri
manajemen
dengan
nyeri seperti
mengalihka
istraksi
n perhatian
lingkungan
yang
nyaman

4. dapat
4. Managemant
memberika
lingkungan
n rasa
yang nyaman.
nyaman
klien

5. Kolaborasi pe 5.    analgetik
mberian membantu
analgetik mengurangi rasa
sesuai nyeri.
indikasi.

3 Resiko Setelah 1.     Kaji tanda-tanda 1.     Mengidentifika


. infeksi b/d dilakukan infeksi. si adanya resiko
tindakan tindakan infeksi lebih
pembedahan, keperawatan dini.
tidak 1x24 jam,
adekuatnya infeksi tidak
pertahanan terjadi. 2.     Keadaan luka
2.     Kaji keadaan yang diketahui
tubuh.
luka. lebih awal dapat
KH: mengurangi
resiko        
1. Tanda-
infeksi.
tanda
infeksi (-)
2. Leukosit 3.    Kaji tanda-tanda
3.     Suhu tubuh
5000- vital.
naik dapat di
10.000
indikasikan
mm3
adanya proses
infeksi.

4.     Menurunkan
4.    Lakukan  cuci
resiko terjadinya
tangan sebelum kontaminasi
kntak dengan mikroorganisme
pasien. .

5.    Lakukan 5.     Dengan
pencukuran pada pencukuran
area operasi klien terhindar
(perut kanan dari infeksi post
bawah operasi

6.    Perawatan luka 6.     Teknik aseptik


dengan prinsip dapat
sterilisasi. menurunkan
resiko infeksi
nosokomial

7.     Antibiotik
7.    Kolaborasi mencegah
pemberian adanya infeksi
antibiotik bakteri dari luar.

4 Gangguan Setelah 1.     Kaji kemampuan 1.     identifikasi


. mobilitas dilakukan pasien untuk kemampuan
fisik tindakan bergerak. klien dalam
berhubungan keperawatan mobilisasi.
dengan 1x24
kelemahan jam, diharapka
fisik n dapat 2.     meminimalisir
2.     Dekatkan
bergerak pergerakan kien.
peralatan yang
bebas. dibutuhkan
pasien.
KH:

1. Memperta 3.     Berikan latihan


hankan gerak aktif pasif.
3.     melatih otot-
mobilitas
otot klien.
optimal

4.     Bantu kebutuhan
pasien.
4.     membantu
dalam
mengatasi
kebutuhan dasar
5.     Kolaborasi klien.
dengan ahli
5.     terapi
fisioterapi.
fisioterapi dapat
memulihkan
kondisi klien.

5 Gangguan Setelah 1.    Ajarkan dan 1.     Keletihan


. nutrisi kurang dilakukan bantu klien untuk berlanjut

dari tindakan istirahat sebelum menurunkan


keinginan untuk
kebutuhan keperawatan makan
makan.
tubuh b/d 1x24 jam,
intake yang nutrisi klien
2.     Adanya
kurang. terpenuhi. 2.    Awasi
pembesaran hepar
pemasukan
KH: dapat menekan
diet/jumlah
saluran gastro
1. Nafsu kalori, tawarkan
intestinal dan
makan makan sedikit menurunkan
meningka tapi sering dan kapasitasnya.
2.  BB tawarkan pagi
Meningka paling sering.
t
3.  Klien
tidak 3.    Pertahankan
hygiene mulut 3.     Akumulasi
lemah
yang baik partikel makanan
di mulut dapat
sebelum makan
menambah baru
dan sesudah
dan rasa tak sedap
makan .
yang menurunkan
nafsu makan.

4.    Anjurkan makan
pada posisi duduk
4.     Menurunkan
tegak. rasa penuh pada
abdomen dan
dapat
meningkatkan
pemasukan.

5.    Berikan diit
tinggi kalori, 5.     Glukosa
rendah lemak dalam karbohidrat
cukup efektif
untuk pemenuhan
energi, sedangkan
lemak sulit untuk
diserap/dimetabol
isme sehingga
akan membebani
hepar.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berapa trauma tumpul dan tembus
serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja. Prioritas keperawatan tertuju pada
menghentikan perdarahan, menghilangkan/mengurangi nyeri, menghilangkan cemas
pasien, mencegah komplikasi dan memberikan informasi tentang penyakit dan kebutuhan
pasien. Prinsip-prinsip pengkajian pada tauma abdomen harus berdasarkan A(Airway),
B(Breathing), C(Circulation).

B. SARAN
Dalam pembuatan makalah ini juga penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah
masih terdapat banyak kesalahan, kekurangan serta kejanggalan baik dalam penulisan
maupun dalam pengonsepan materi. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran yang membangun agar kedepan lebih baik dan penuli berharap kepada semua
pembaca mahasiswa khususnya, untuk lebih ditingkatkan dalam pembuatana makalah
yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth (2015). Buku ajar keperawatan medical bedah vol 2. Ed. 8. EGC: Jakarta.

Herdman, T Heather, dkk (2015). Diagnosis keperawatan: definisi dan klasifikasi. Edisi 10.
Jakarta: EGC

Nurrarif, A. (2015). Aplikasi asuhan keerawatan berdasarkan diagnosa medis dan nic noc jilid
3. Yogyakarta: MediAction