Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tumbuhan Lamtoro Gung (Leucaena leucocephala ssp. Glabrata (Rose)


S. Zarate)

Tumbuhan lamtoro merupakan suatu jenis tumbuhan dari famili Fabaceae

yang berasal dari Amerika Tengah dan Meksiko. Sekarang, lamtoro sudah banyak

ditemukan di daerah tropis maupun subtropis seperti di kepulauan Karibia, Asia

Selatan, Asia Tenggara, dan di daerah pasifik termasuk New Guinea, Australia

dan Hawaii (Lim, 2012). Menurut Nurul & Deni (2016) lamtoro gung merupakan

tanaman yang dapat tumbuh dengan baik dan banyak ditemukan diberbagai

tempat di Indonesia. Dibuktikan dengan pemanfaatan yang telah dilakukan

masyarakat Indonesia sebagai pohon peneduh, pencegah erosi, sumber bahan

kayu serta sebagai bahan pakan ternak.

Tumbuhan lamtoro Leucaena leucocephala memiliki tiga subspesies yaitu

L. leucocephala ssp. leucocephala, L. leucocephala ssp. Glabrata (Rose) S.

Zarate, dan L. leucocephala ssp. ixtahuacana C. E. Hughes. Perbedaan subspesies

pertama dan subspesies kedua dapat diketahui dengan melihat ukuran dari kedua

subspesies tersebut. Subspesies kedua memiliki ukuran yang lebih besar baik dari

segi pohon, daun, bunga, maupun buah dibandingkan dengan subspesies pertama

atau L. leucocephala ssp. Leucocephala. Subspesies yang ketiga L. leucocephala

ssp. Ixtahuacana C. E. Hughes memiliki persebaran yang terbatas hanya di daerah

Meksiko (Pandey & Kumar, 2013).

Pengaruh Ekstrak Daun..., Andika Nursetiaji, FKIP UMP, 2018


6

2.1.1. Klasifikasi Tumbuhan Lamtoro Gung

Berikut merupakan klasifikasi tumbuhan lamtoro secara umum

berdasarkan informasi dari (Backer & van den Brink, 1965)

Kingdom : Plantae

Divisio : Magnoliophyta

Classis : Magnoliopsida

Ordo : Fabales

Famili : Fabaceae

Genus : Leucaena

Species : Leucaena leucocephala (Lamk.) de Wit.

Subspecies : L. leucocephala ssp. Glabrata (Rose) S. Zarate

2.1.2. Deskripsi Tumbuhan Lamtoro Gung

Tumbuhan lamtoro gung (Gambar 2.1) merupakan jenis tumbuhan perdu

pohon yang tingginya dapat mencapai 18 m. Tumbuhan tersebut tumbuh tegak

dengan sistem perakaran tunggang. Batang tumbuhan lamtoro gung berwarna

coklat kemerahan dengan cabang yang banyak. Daun tumbuhan tersebut memiliki

bentuk bangun memanjang, berwarna hijau dengan tipe majemuk menyirip ganda

dua (bipinatus) (Syarifudin, 2014).

Tipe bunga majemuk berupa bongkol (perbungaan capitulum) bertangkai

panjang yang berkumpul dalam malai berisi 2-6 bongkol. Tiap-tiap bongkol

tersusun dari 100-180 kuntum bunga membentuk bola berwarna putih atau

kekuningan berdiameter 12-21 mm. Buah polong berbentuk pita lurus, pipih tipis

dalam tandan. Setiap tandan buah bisa mencapai 20 – 30 buah polong dan dalam

Pengaruh Ekstrak Daun..., Andika Nursetiaji, FKIP UMP, 2018


satu polongnya dapat mencapai 15 – 30 biji. Biji berbentuk bulat telur terbalik,

pipih, berwarna hijau mengkilat ketika masih muda dan ketika sudah tua warna

menjadi coklat kehitaman (Hindrawati & Natalia, 2011).

Gambar 2.1. Tumbuhan Lamtoro Gung (Leucaena leucocephala ssp.


Glabrata) (Sumber : Dokumen Pribadi)

2.1.3. Kegunaan dan Kandungan Kimia Tumbuhan Lamtoro Gung

Masyarakat pada umumnya memanfaatkan tumbuhan lamtoro gung

sebagai pakan ternak, sumber kayu bakar, pencegah erosi, peneduh, dan sebagai

Pengaruh Ekstrak Daun..., Andika Nursetiaji, FKIP UMP, 2018


pupuk hijau karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan

(Manapode dkk.,). Selain penggunaan umum tersebut, lamtoro gung juga dapat

digunakan sebagai obat tradisional yaitu mengobati beberapa penyakit seperti

kencing manis, cacingan, bengkak (Oedem), radang ginjal, bisul, patah tulang,

abses paru, luka terpukul, insomnia, meluruhkan haid, dan meningkatkan gairah

seks (Hindrawati & Natalia, 2011).

Daun lamtoro gung mengandung zat aktif yang berupa alkaloid, saponin,

flavonoid, tanin, mimosin, dan leukanin (Syarifudin, 2014). Beberapa zat aktif

tersebut diketahui mampu menghambat dan menekan laju pertumbuhan mikroba

antara lain :

1. Flavonoid

Flavonoid merupakan senyawa polar yang umumnya mudah larut dalam

pelarut polar seperti etanol, metanol, butanol, aseton, dan lain-lain (Khunaifi,

2010). Flavonoid dalam tumbuhan terikat pada gula sebagai glikosida dan aglikon

flavonoid, gula yang terikat pada flavonoid mudah larut dalam air (Harborne,

1996). Flavonoid merupakan golongan terbesar dari senyawa fenol dan diketahui

bahwa senyawa fenol mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan

virus, bakteri, dan jamur. Khunaifi (2010) menambahkan bahwa senyawa-

senyawa flavonoid umumnya bersifat antioksidan dan banyak yang telah

digunakan sebagai salah satu komponen bahan baku obat-obatan.

2. Saponin

Robinson (1995) menyatakan bahwa saponin merupakan senyawa aktif

permukaan yang kuat menimbulkan busa jika dikocok dalam air. Saponin bekerja

Pengaruh Ekstrak Daun..., Andika Nursetiaji, FKIP UMP, 2018


sebagai antibakteri dengan mengganggu stabilitas membran bakteri sehingga

menyebabkan sel bakteri lisis, dan mengakibatkan keluarnya berbagai komponen

penting dari dalam sel bakteri yaitu protein, asam nukleat dan nukleotida

(Darsana, 2012).

3. Alkaloid

Alkaloid umumnya lebih bersifat anti herbivoral dibandingkan

antimikrobial karena bersifat toksik/ racun. Sebagian kecil alkaloid yang

mempunyai kemampuan sebagai zat antimikroba. Mekanisme yang diduga adalah

dengan cara mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri,

sehingga lapisan dinding sel tidak berbentuk secara utuh dan menyebabkan

kematian sel tersebut (Robinson, 1995). Alkaloid sering kali beracun bagi

manusia dan mempunyai banyak kegiatan fisiologis yang menonjol, oleh karena

hal tersebut alkaloid banyak berperan dalam bidang pengobatan (Harborne, 1996).

4. Tanin

Tanin memiliki aktivitas antibakteri, secara garis besar mekanismenya

adalah dengan merusak membran sel bakteri. Senyawa astringent tanin dapat

menginduksi pembentukan ikatan senyawa kompleks terhadap enzim atau substrat

mikroba dan pembentukan suatu ikatan kompleks tanin terhadap ion logam yang

dapat menambah daya toksisitas tanin itu sendiri (Akiyama & Iwatsuki, 2001).

Ajizah (2004) menjelaskan bahwa kemampuan aktivitas antibakteri senyawa tanin

adalah dengan cara mengkerutkan dinding sel atau membran sel sehingga

permeabilitas sel menjadi terganggu. Akibat terganggunya permeabilitas tersebut,

Pengaruh Ekstrak Daun..., Andika Nursetiaji, FKIP UMP, 2018


sel tidak dapat melakukan aktivitas hidup sehingga pertumbuhannya terhambat

atau bahkan mati.

2.2. Tinjauan Bakteri Uji

Bakteri yang akan diujikan terdiri dari dua jenis yaitu bakteri

Staphylococcus aureus (gram positif) dan bakteri Pseudomonas aeruginosa (gram

negatif). Kedua jenis bakteri tersebut dibedakan atas dasar jumlah atau kadar

senyawa yang terkandung di dalam dinding selnya. Salah satu cara paling umum

untuk membedakan kedua bakteri tersebut yaitu menggunakan tekhnik pewarnaan

diferensial yang disebut pewarnaan gram (Volk & Waller, 1993).

Perbedaan komposisi dan struktur dinding sel antara kedua bakteri tersebut

diyakini menyebabkan perbedaan kelompok bakteri gram positif dan bakteri gram

negatif dalam memberikan respon. Diding sel bakteri gram negatif mengandung

lipid, lemak atau substansi seperti lemak dengan kadar atau jumlah lebih tinggi

dibandingkan dengan yang terkandung dalam dinding sel bakteri gram positif.

Dinding sel bakteri gram negatif lebih tipis dan mengandung peptidoglikan jauh

lebih sedikit dengan ikatan silang yang kurang efektif dibandingkan dengan yang

dapat dijumpai pada dinding sel bakteri gram positif (Pelczar & Chan, 1986).

Adanya kandungan lemak yang tinggi dan peptidoglikan yang rendah pada

bakteri gram negatif, menyebabkan kompleks crystal violet-iodine mudah

diekstraksi oleh alkohol (alkohol-aseton) dan kemudian dapat menangkap

pewarna safranin. Sebaliknya, pada bakteri gram positif, kompleks cristal violet-

iodine akan semakin terperangkap di dalam sel setelah penambahan alohol

(alkohol-aseton). Hal tersebut terjadi karena sel mengalami dehidrasi sehingga

10

Pengaruh Ekstrak Daun..., Andika Nursetiaji, FKIP UMP, 2018


pori-pori sel menyempit dan kompleks warna tidak dapat keluar dari sel dan

penambahan safranin tidak dapat diserap oleh sel (Pelczar & Chan, 1986).

2.2.1. Bakteri Staphylococcus aureus

2.2.1.1. Klasifikasi Bakteri

Menurut Holt dkk., (1994), bakteri Staphylococcus aureus memiliki

klasifikasi sebagai berikut :

Divisio : Protophyta

Classis : Schizomycetes

Ordo : Eubacteriales

Familia : Micrococcaceae

Genus : Staphylococcus

Species : Staphylococcus aureus

2.2.1.2. Karakteristik Bakteri

Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang

berbentuk bulat (coccus) dengan diameter 0,5 – 1,5 μm dan tersusun dalam

kelompok yang tidak beraturan. Bakteri tersebut tidak membentuk spora dan tidak

bergerak. Sel-selnya terdapat dalam kelompok seperti buah anggur, akan tetapi

pada biakan cair mungkin terdapat secara terpisah (tunggal), berpasangan

berbentuk tetrad (jumlahnya 4 sel), dan berbentuk rantai. Koloni bakteri tersebut

berwarna abu-abu sampai kuning emas tua. Metabolisme bakteri S. aureus adalah

fakultatif anaerob (Harris dkk., 2002).

Bakteri S. aureus mudah tumbuh pada berbagai pembenihan dan

mempunyai metabolisme aktif, meragikan karbohidrat, serta menghasilkan

11

Pengaruh Ekstrak Daun..., Andika Nursetiaji, FKIP UMP, 2018


pigmen yang bervariasi dari putih hingga kuning tua. Bakteri tersebut dapat

tumbuh dengan baik pada suhu 37 oC, namun membentuk pigmen yang paling baik

pada suhu 20oC. Koloni pada pembenihan padat berbentuk bulat, halus, menonjol

dan berkilauan. Beberapa media yang dapat digunakan untuk penanaman S.

aureus antara lain Mueller Hinton Agar, Gliseril Monostearat Agar, Msa, dan

Nutrient Agar (Jawetz dkk., 1991).

S. aureus dapat tumbuh pada kisaran pH 4,0 – 9,8 dengan pH optimum

sekitar 7,0 – 7,5. Pertumbuhan pada pH 9,8 hanya mungkin bila substratnya

mempunyai komposisi yang baik untuk pertumbuhannya. Bakteri tersebut

membutuhkan asam nikotinat untuk tumbuh dan akan distimulir pertumbuhannya

dengan adanya tiamin. Pertumbuhan optimum diperlukan 11 asam amino. S.

aureus tidak dapat tumbuh pada media sintetik yang tidak mengandung asam

amino atau protein (Harris dkk., 2002). Menurut Jawetz dkk., (1996) S. aureus

relatif resisten terhadap pengeringan panas (mampu bertahan terhadap suhu 50 oC

selama 30 menit), dan terhadap natrium klorida 9% tetapi dengan mudah

dihambat oleh zat-zat kimia tertentu seperti heksaklorofen 3%.

2.2.1.3. Sifat Pathogenik Bakteri

Staphylococcus aureus memiliki sifat pathogenik dengan ciri khas infeksi

penahanan lokal. Infeksi tersebut antara lain, meningitis, endokarditis,

perikarditis, dan bisul. Infeksi yang disertai penanahan akan sembuh lebih cepat

bila nanah dikeluarkan. Infeksi lokal S. Aureus biasanya disertai peradangan yang

berlangsung hebat, terlokalisasi, dan nyeri yang mengalami penanahan sentral.

Infeksi S. Aureus juga dapat disebabkan oleh kontaminasi langsung pada luka,

12

Pengaruh Ekstrak Daun..., Andika Nursetiaji, FKIP UMP, 2018


misalnya pada infeksi luka pasca bedah, infeksi setelah trauma dan sebagainya

(Jawetz dkk., 1996).

2.2.2. Bakteri Pseudomonas aeruginosa

2.2.2.1. Klasifikasi bakteri

Klasifikasi bakteri Pseudomonas aeruginosa menurut Holt dkk., (1994),

sebagai berikut :

Divisio : Protophyta

Classis : Schizomycetes

Ordo : Pseudomonadales

Sub Ordo : Pseudomonadinae

Familia : Pseudomonadaceae

Genus : Pseudomonas

Species : Pseudomonas aeruginosa

2.2.2.2. Karakteristik bakteri

Pseudomonas aeruginosa tersebar luas di alam dan biasanya terdapat di

lingkungan yang lembab. Ciri khas P. aeruginosa bergerak dan berbentuk batang,

berukuran 0,6 x 2 μm. P.aeruginosa merupakan bakteri gram negatif dan terlihat

sebagai bakteri tunggal, berpasangan, dan kadang-kadang membentuk rantai yang

pendek, tumbuh baik pada suhu 37o C – 42oC. Bakteri P. aeruginosa adalah jenis

bakteri aerob obligat yang dapat tumbuh dengan mudah pada berbagai tekhnik

pembenihan biakan. Membentuk koloni halus bulat dengan warna berfluorensens

kehijauan. Semua spesies Pseudomonas dapat tumbuh baik dalam sample

13

Pengaruh Ekstrak Daun..., Andika Nursetiaji, FKIP UMP, 2018


nutrient agar dan dalam kebanyakan media selektif seperti Eosin Methylen Blue

(EMB), dan Mc Conkey Agar (Jawetz dkk., 1996).

2.2.2.3. Sifat Pathogenik Bakteri

Pseudomonas aeruginosa dapat menimbulkan infeksi pada luka dan luka

bakar, menimbulkan nanah hijau kebiruan, meningitis bila masuk bersama funksi

lumbal, dan infeksi saluran kemih bila masuk bersama kateter dan instrumen lain

atau dalam larutan untuk irigasi. Menyebabkan infeksi pada mata, yang

mengakibatkan kerusakan mata secara cepat, biasanya terjadi setelah terluka atau

operasi mata (Jawets dkk., 2001).

2.3. Penelitian Terdahulu

Berikut merupakan penelitian terdahulu atau penelitian yang relevan, yang

dijadikan sebagai dasar penelitian.

1. Mohammed dkk.,(2015) tentang aktivitas antioksidan dan antimikroba

senyawa flavonoid dari daun Leucaena leucocephala, menyatakan bahwa

ekstrak dan campuran beberapa jenis golongan flavonoid hasil isolasi daun

lamtoro gung mampu memberikan pengaruh antimikroba yang signifikan

terhadap bakteri gram negatif, pengaruh yang sedang terhadap bakteri gram

positif dan tidak aktif melawan fungi.

2. Aderibigbe dkk.,(2011) tentang kemampuan antimikroba dan sifat farmasi dari

minyak biji Leucaena leucocephala (Lam.) De Wit, menyatakan bahwa

kemampuan minyak biji lamtoro dalam menghambat pertumbuhan bakteri uji

(Staphylococcus aureus, Esherichia coli, Bacillus subtilis dan Pseudomonas

aeruginosa) dipengaruhi oleh tingkat konsentrasi minyak tersebut.

14

Pengaruh Ekstrak Daun..., Andika Nursetiaji, FKIP UMP, 2018