Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi
Sindrom Guillain barre (GBS) merupakan kumpulan gejala kelemahan pada anggota
gerak dan kadang kadang dengan sedikit kesemutan pada lengan atau tungkai, disertai
menurunnya refleks. Sindrom Guillain Barre (GBS) atau dikenali sebagai acute
inflammatory demyelinating polyradicuklopathy (AIDP), merupakan jenis neuropati akut
yang paling umum dan dapat terjadi pada semua golongan usia. Kasus ini banyak
disebabkan oleh serangan autoimun pada myelin saraf-saraf motor yang kebanyakan
dipicu oleh infeksi.
Sidroma Guillain Barre (GBS) mmpunyai karakteristik yaitu disfungsi saraf cranial dan
perifer dengan onset akut. Infeksi virus pada saluran pernafasan ataupun pencernaaan .
imunisasi, atau tindakan bedah biasanya seringkali terjadi 5 hari sampai 4 minggu sebelum
terjadinnya gejala neurologis. Gejala dan tanda SGB termasuk kelemahan secara simetris
yang cepat dan progresif, hilangnya reflek tendon, diplegia wajah, parese otot orofaring
dan otot pernafasan, dan terganggunya sensasi pada pada tangan dan kaki terjadi
perburukan kondisi dalam beberapa hari hingga 3 minggu, diikuti periode stabil dan
perbaikan secara bertahap menjadi kembali normal atsau mendekati fungsi normal
2.2 Etiologi
Pada sebagian besar kejadian SGB, terdapat riwayat infeksi yang mendahului
beberapa minggu sebelumnya. Infeksi pada saluran pernafasan dan saluran pencernaan
adalah yang paling sering ditemui. Infeksi yang disebabkan oleh virus, yaitu
Campylobacter Jejuni, Cytomegalovirus, dan Epstein-Barr Virus
2.2.1 Trauma primer
Terjadi karena benturan langsung atau tidak langsung ( akselerasi dan diselerasi )
2.2.2 Trauma sekunder
Trjadi akibat dari trauma saraf ( melalui, akson ) yang meluas, hipertensi
intracranial, hipoksia, hiperkapnea, atau hipotensi siskemik.
2.3 Patofisiologi
Cidera kepala dapat terjadi karena benturan benda keras, cidera kulit kepala, tulang
kepala, jaringan otak, baik terpisah maupun seluruhnya. Cidera bervariasi dari luka kulit
yang sederhana sampai gagar otak, luka terbuka dari tengkorak, disertai kerusakan otak,
cidera pada otak, bisa berasal dari trauma langsung maupun tidak langsung pada kepala.
Trauma tak langsung disebabkan karena tingginya tahanan atau kekuatan yang merobek
terkena pada kepala akibat menarik leher. Trauma langsung bila kepala langsung terbuka,
semua itu akibat terjadinya akselerasi, deselarasi, dan pembentukan rongga,
dilepaskannya gas merusak jaringan syaraf. Trauma langsung juga menyebabkan rotasi
tengkorak dan goresan, atau tekanan. Cidera yang terjadi waktu benturan mungkin keran
memar pada permukaan otak, laserasi substansia alba, cidera robekan, atau hemorarghi.
Sebagai akibat, cidera sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan auto regulsi serebral
dikurangi atau tidak ada pada area cidera, konsekuensinya meliputi hyperemia
( peningkatan volume darah, peningkatan permeabilitas kapiler, serta vasodilatasi arterial,
tekanan intracranial.

Pengaruh umum cidera kepala juga bisa menyebabkan kram, adanya penumpukan cairan
yang berlebihan pada jaringan otak, edema otak akan menyebabkan peningkatan tekanan
intracranial yang dapat menyebabkan herniasi dan penekanan pada batang otak, trauma
pada kepala menyebabkan tengkorak beserta isinya bergetar, kerusakan yang terjadi
tergantung pada besarnya getaran makin besar getaran makin besar kerusakan yang
timbul, getaran dan benturan akan diteruskan menuju Galia Aponeurotika sehingga
banyak energi yang diserap oleh perlindungan otak, hal itu menyebabkan pembuluh darah
robek sehingga akan menyebabkan haematoma epidural, subdural maupun intracranial,
perdarahan tersebut juga akan mempengaruhi pada sirkulasi darah ke otak menurun
sehingga suplai oksigen berkurang dan terjadi hipoksia jaringan akan menyebabkan
edema cerebral. Akibat dari haematoma diatas akan menyebabkan distorsi pada otak,
karena isi otak terdorong kearah yang berlawanan yang berakibat pada kenaikan TIK
(Tekanan Intracranial) merangsang kelenjar pitultary dan streroid adrenal sehingga
sekresi asam lambung meningkat akibatnya timbul rasa mual dan muntah dan anoreksia
sehingga masukan nutrisi kurang.
2.4 Manifestasi klinik
1. Cedera kepala berat :
2. GCS 3-8
3. Penurunan derajat kesadaran
4. Tanda neurologis vocal : kontusio serebral, laserasi, atau hematoma intracranial.
2.5 Komplikasi
1. Kebocoran cairan serebrospinal : dapat disebabkan oleh rusaknya leptomeningen dan
terjadi pada 2-6% pasien dengan cidera kepala tertutup. Kebocoran ini berhenti
spontan dengan elevasi kepala setelah beberapa hari pada 85% pasien. Drainase
lumbal dapat mempercepat proses ini. Walaupun pasien ini memiliki resiko
meningitis yang meningkat, pemberian antibiotic prifilaksis masih kontropersial.
Otorea atau rinorea cairan serebrospinal yang menetap atau meningitis berulang
merupakan indikasi untuk operasi reparative.
2. Fistel karotis-kevernosus ditandai dengan oleh trias gejala : eksoflalmos, kemosis,
dan bruti orbita, dapat timbul segera atau beberapa hari setelah cedera. Angiografi
diperlukan untuk konfirmasi diagnosis dan terapi dengan oklusit ablon endovascular
merupakan cara yang paling efektif dan dapat mencegah hilangnya penglihatan yang
permanen.
3. Diabetes insipidus dapat disebabkan oleh kerusakan traumatic pada tangkai hipofisis,
menyebabkan penghentian sekresi hormone antidiuretic. Pasien mengsekresikan
sejumlah besar volume urin encer menimbulkan hipermatremia dan deplesi volume.
4. Kejang pasca truma dapat terjadi segera (dalam 24 jam pertama) dini (minggu
pertama) atau lanjut (setelah satu minggu ). Keang segera tidak merupakana
predisposisi untuk kejang lanjut, kejanag dini menunjukkan resiko yang meningkat
untuk kejang lanjut, dan pasien ini harus dipertahankan dengan antikonvulsan.
2.6 Penatalaksanaan
2.6.1 Pedoman resusitasi dan penilaian awal :
1. Menilai jalan napas : bersihan jalan napas dari debris dan muntahan, lepaskan gigi
palsu, pertahankan tulang servikal segaris dengan memasang colar servikal,
pasang guedle bila dapat di leher. Jika cidera orofasial mengganggu jalan napas
maka pasien harus di inkjubasi.
2. Nilai pernapasan : tentukan apakah pasien bernapas spontan atau tidak. Jika tidak,
beri oksigen melalui masker oksigen. Jika pasien bernapas sepontan, selidiki dan
atasi cidera dada berat seperti pneumothoraks tensif, hemopneumotoraks. Pasang
oksimeter nadi jika tersedia dengan tujuan menjaga saturasi oksigen minimum
95%. Jika jalan napas pasien tidak terselidiki abhkan terancam atau memperoleh
oksigen yang adekuat (PaO2>95 mmHg da PaCO2<40 mmHfg serta saturasi
O2>95%) atau muntah maka pasien harus di intubasi serta di ventilasi oleh ahli
anastesi.
3. Menilai sirkulasi : otak yang rusak tidak mentorerir hipotensi hentikan semua
perdarahan dengan menekan arterinya. Perhatikan secara khusus adanya cidera
intra abdomen atau dada ukur dan catat denyut jantung dan tekanan darah pasang
nalat pemantauan dan ekg bila tersedia. Pasang jalur IV yang besar ambil darah
vena untuk pemeriksaan darah koloid. Sedangkan larutan kristaloid (dekstrosa/
dekstrosa dala salin ) menimbulkan eksaserbasi edema otak pasca cidera kepala
keadaan hipotensi, hipoksia dan hiperkapnia memperburuk cidera kepala.
4. Obati kejang : kejang konvulsif dapat terjadi setelah cidera kepala dan harus di
obati. Mula-mula berikan diazepam 10mg intravena perlahan lahan dan dapat
diulangi sampai berikan IV perlahan lahan dengan kecepatan tidak melebihi
50mg/menit.
5. Menilai tingkat keparahan : cidera kepala berat.
- Skor GCS 3-8 (koma)
- Penurunan derajat kesadaran secara progresif
- Tanda neurologis fokal
- Cidera kepala penetrasi / teraba fraktur depresi cranium
2.6.2 Penatalaksanaan khusus
Pentalaksanaan cedera kepal berat dilakukan perawatan intensif. Walaupun
sedikit sekali yang dapat dilakukan untuk kerusakan primer akibat cidera, tetapi
setidaknya dapat mengurangi kerusakan sekunder akibat hipoksia, hipotensi, atau
tekanan intracranial yang meningkat.
1. Penilaian ulang jalan napas dan ventilasi : umunya pasien dengan strupor atau
coma (derajat kesadaran menurun) harus dintubasi untuk proteksi jalan napas.
2. Monitor tekanan darah : jika pasien memperlihatkan tanda ketidakstabilan
dinamik terganggu pada cidera kepala akut, maka tekanan arteri rata-rata harus
dipertahankan untuk menghindari hipotensi dan hipertensi.
3. Penatalaksanaan cairan : hanya larutan isotonis yang diberikan kepada pasien
cidera kepala.
4. Nutrisi ; cidera kepala berat menimbulkan respon hipermetabolik dan katabolisme
dengan keperluan 50-100% lebih tinggi dari normal. Pemberian makanan melalui
NGT harus diberikan sesegera mungkin.
5. Temperature badan : demam mengeksaserbasi ciera otak harus diobati secara
agresif dengan asetaminofen atau komprs dingin. Pengobatan penyebab
(antibiotic) diberikan bila perlu.
6. Anti kejang : vention 15-20 mg/kg bb bolus intravena, kemudian 300mg/hari
intravena mengurangi frekuensi kejang pasaca trauma dini.
7. Ct Scan lanjutan : umunya scan otak lanjutan harus dilakukan 24 jam setelah
cedera awal pada pasien dengan pendarahan intracranial untuk menilai perdarahan
yang progresif atau yang timbul belakangan.
2.7 Pemeriksaan penunjang
1. XRay tengkorak
Untuk mengetahui adanya fraktur pada tengkorak
2. CT Scan
Mengidentifikasi adanya hemoragic, ukuran vetrikuker, infark pada jaringan mati.
3. MRI
Gunanya sebagai pengidentaan yang mempergunakan gelombang elektromagnetik
4. Pemeriksaan Laboratorium
Kimia darah mengetahui ketidakseimbangan elektrolit
5. Pemeriksaan Analisa Gas Darah
Menunjukkan efektifitas dari pertukaran gas dan usaha pernafasan
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1. Identitas klien dan keluarga (penanggung jawab) : nama, umur, jenis kelamin,
agama, suku bangsa, golongan darah, penghasilan, dan alamat.
2. Riwayat kesehatan : waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian,
status kesadaran saat kejadian, pertolongan yang diberikan segera setelah
kejadian.
3. Riwayat penyakit dahulu : harus diketahui baik yang berhubungan dengan
system pernapasan amaupun penyakit system sistemik lainnya, demikian pula
riwayat penyakit keluarga terutama yang mempunyai penyakit menular.
4. Pemeriksaan fisik head to toe :
a) System respirasi : sauar nafas, pola nafas, penilaian ulang jalan nafas dan
ventilasi, umunya pasien dengan strupor atau coma harus diintubasi untuk
proteksi jalan nafas.
b) Kardiovaskuler : pengaruh perdarahan organ atau pengaruh PTIK
(Peningkatan Tekanan Intra Kranial). Monitor tekanan darah : jika pasien
memperlibatkan tanda ketidakstabilan dinamik pemantauan paling baik
dilakukan dengan kateter arteri. Karena autoregulasi sering terganggu
pada cidera kepala akut, maka tekanan arteri rata-rata harus dipertahankan
untuk menghindari hipotensi dan hipertensi.
c) System saraf : kesadaran klien ( nilai GCS )
d) Fungsi safar kranila : trauma yang mengenai/ meluas ke batang otak akan
melibatkan penurunan fungsi saraf cranial.
e) Fungsi sensori-motorik : adakah kelumpuhan, rasa baal, nyeri, gangguan
diskriminasi suhu, anestesi, hipertesia, hiperalgesia, riwayat kejang.
f) System pencernaan : bagaimana sensori adanya makanan di mulut, reflex
menelan, kemampuan mengunyah, adanya reflex batuk, mudah tersedat.
Jika pasien sadar tanyakan pola makan.
g) System urologi : retensi urine, konstipasim inkontinensia.
h) Kemampuan bergerak : kerusakan area motorik, hemiparesis/ plegia,
gangguan gerak volunteer, ROM, kekuatan otot.
i) Kemampuan berkomunikasi : kerusakan pada hemisfer dominan, disgafia
atau afasia akibat kerusakan saraf hipoglosus dan saraf fasialis.
j) Psikososial : ini penting untuk mengetahui dukunagn yang didapat pasien
dan keluarga.
3.2 Diagnose keperawatan
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan trauma.
2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi jalan
nafas.
3. Risiko aspirasi berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran.
4. Risiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, perdarahan cerebral.
5. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi, neurovascular.
3.3 Perencanaan

NO DIAGNOSA NOC NIC


1. Ketidakefektifan NOC: NIC:
perfusi jaringan Perfusi jaringan: cerebral. Monitor tekanan intracranial.
cerebral berhubungan Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor status neurologis
dengan trauma. keperawatan selama 3x 2. Monitor intake dan
24jam perfusi jaringan output
serebral klien tidak ada 3. Monitor tekanan darah ke
masalah dengan criteria otak
hasil : 4. Monitor tingkat CO2 dan
1. Muntah pertahankan dalam
1 2 3 4 5 parameter yang
2. Demam ditentukan
1 2 3 4 5 5. Periksa klien terkait
3. Kognisi terganggu adanya tanda kaku kuduk
1 2 3 4 5 6. Sesuaikan kepala tempat
4. Penurunan tingkat tidur untuk
kesadaran mengoptimalkan perfusi
1 2 3 4 5 jaringan serebral
5. Reflex saraf terganggu 7. Berikan informasi kepada
1 2 3 4 5 keluarga/ orang penting
lainnya
8. Beritahu dokter untuk
peningkatan TIK yang
tidak bereaksi sesuai
peraturan perawatan
9. Kolaborasi dengan tim
dokter dalam pemberian
obat
10. Monitor jumlah, nilai,
dan karakteristik
pengeluaran cairan
serebrospinal (CSF)
2. Ketidakefektifan NOC: Status Pernapasan: NIC: Manajemen jalan nafas.
bersihan jalan nafas Kepatenan jalan nafas. 1. Monitor status
berhubungan dengan pernapasan dan
obstruksi jalan nafas. Setelah dilakukan tindakan oksigenasi
keperawatan 3x24 jam 2. Buka jalan nafas dengan
status pernapasan klien teknik chin lift atau jaw
tidak terganggu dengan thrust
criteria hasil : 3. Identifikasi kebutuhan
1. Suara nafas tambahan actual/ potensial untuk
1 2 3 4 5 memasukkan alat
2. Pernapasan cuping membuka jalan nafas
hidung 4. Masukkan alat
1 2 3 4 5 nasopharyngeal airway
3. Akumulasi sputum (NPA) atau oropharingeal
1 2 3 4 5 airway (OPA)
4. Frekuensi pernapasan 5. Posisikan klien untuk
1 2 3 4 5 memaksimalkan ventilasi
5. Respirasi agonal 6. Lakukan penyedotan
1 2 3 4 5 melalui endotrakea dan
nasotrakea
7. Kelola nebulizer
ultrasonic
8. Posisikan untuk
meringankan sesak nafas
9. Aukultasi suara nafas,
catat area yang
ventilasinya menurun
atau tidak ada dan adanya
sauar tambahan
10. Edukasi keluarga klien
tentang kesehatan klien
11. Kolaborasi dengan tim
dokter dalam pemberian
obat
3. Risiko aspirasi NOC: Status neurologi NIC: Moniotor neurologi.
berhubu-ngan dengan kesadaran. 1. Monitor tingkat
penurunan tingkat Setelah dilakukan tindakan kesadaran
kesadaran. keperawatan 3x24 jam 2. Monitor tingkat orientasi
tingkat kesadaran klien 3. Monitor kecenderungan
semakin membaik dengan GCS
criteria hasil : 4. Monitor tanda-tanda
1. Stupor vital: suhu, tekanan
1 2 3 4 5 darah, denyut nadi dan
2. Koma respirasi
1 2 3 4 5 5. Monitor status
3. Aktivitas kejang pernapasan: nilai ABG,
1 2 3 4 5 tingkat oksimetri,
4. Buka mata terhadap kedalaman dan usaha
stimulus eksternal bernafas
1 2 3 4 5 6. Tingkatkan frekuensi
5. Orientasi kognitif pemantauan neurologis
1 2 3 4 5 yang sesuai
7. Beri jarak kegiatan
perawatan yang
diperlukan yang bisa
meningkatkan tekanan
intracranial
8. Monitor reflex kornea
9. Monitor parameter
hemodinamik invasive
yang sesuai
10. Kolaborasi dengan dokter
mengenai perubahan
kondisi pasien
4. Risiko infeksi NOC: Keparahan infeksi. NIC: Konrol infeksi
berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan 1. Pakai sarung tangan steril
trauma jaringan, keperawatan 3x24 jam dengan tepat
perdarahan cerebral tingkat keparahan infeksi 2. Cuci tangan sebelum dan
dapat teratasi dengan sesudah perawatan pada
criteria hasil : pasien
1. Cairan (luka) berbau 3. Monitor suhu tubuh
busuk 4. Pastikan penanganan
1 2 3 4 5 aseptic dari semua
2. Kolonisasi kultur area saluran IV
luka 5. Pastikan perawatan luka
1 2 3 4 5 yang tepat
3. Drainase purulen 6. Dorong untuk intake
1 2 3 4 5 cairan yang sesuai
4. Nyeri 7. Berikan terapi antibiotic
1 2 3 4 5 yang sesuai
5. Ketidakstabilan suhu 8. Tingkatkan nutrisi intake
1 2 3 4 5 yang tepat
9. Ajarkan pasien dan
keluarga mengenai
bagaimana menghindari
infeksi
10. Anjurkan pasien untuk
meminum antibiotic
seperti yang diresepkan
5. Pola nafas tidak NOC: NIC: Terapi oksigen
efektif berhubungan Status pernafasan: Ventilasi. 1. Pertahankan kepatenan
dengan hipoventilasi, jalan nafas
neurovascular Setelah dilakukan tindakan 2. Monitor aliran oksigen
keperawatan 3x24 jam 3. Amati tanda-tanda
diharapkan klien dapat hipoventilasi induksi
menerima inspirasi/ oksigen
ekspirasi ventilasi yang 4. Monitor efektifitas terapi
adekuat dengan criteria hasil oksigen (misalnya
: tekanan oksimetri,ABGs)
1. Irama pernafasan dengan tepat
1 2 3 4 5 5. Monitor kecemasan
2. Frekuensi pernafasan pasien yang berkaitan
1 2 3 4 5 dengan kebutuhan
3. Gangguan ekspirasi mendapatkan terapi
1 2 3 4 5 oksigen
4. Kedalaman inspirasi 6. Kolaborasi dengan
1 2 3 4 5 tenaga kesehatan lain
dalam penanganan terapi
oksigen pasien
5. Suara perkusi nafas 7. Pantau adanya tanda-
1 2 3 4 5 tanda keracunan oksigen
dan kejadian atelektasis
8. Monitor peralatan
oksigen untuk
memastikan bahwa alat
tersebut tidak
mengganggu upaya
pasien untuk bernapas
9. Monitor tanda-tanda vital
yang tepat
10. Pastikan penggantian
masker oksigen/ kanul
nasal setiap kali
perangkat digantani