Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air merupakan kebutuhan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia,


tanpa air tidak akan ada kehidupan di bumi. Karena pentingnya kebutuhan akan
air bersih, maka adalah hal wajar jika sektor air bersih mendapatkan prioritas
penanganan utama karena menyangkut kehidupan orang banyak.

Pelayanan air bersih di perkotaan harus difokuskan pada keseimbangan antara


daya beli masyarakat dengan biaya operasionalnya. Kondisi ini tentunya
menuntut perusahaan untuk lebih meningkatkan tarif harga air bersih.

Berdasarkan masalah tersebut, maka penelitian tentang Analisa kesediaan


masyarakat untuk membayar air bersih sangat penting untuk dilakukan.

1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa besar kemauan dan kemampuan
masyarakat untuk membayar air bersih di kota Jakarta

1
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disusun, maka penulis membuat rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Berapa banyak masyarakat yang berpenghasilan dibawah UMR mampu dan
mau untuk membayar air bersih ?
2. Berapa banyak masyarakat yang berpenghasilan diatas UMR mau dan
mampu untuk membayar air bersih ?

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori


Menurut Yuliana dkk. (2014) mengembangkan Contingent Valuation
Method (CVM) dan regresi logistic digunakan untuk menganalisis variabel –
variabel yang mempengaruhi kesediaan membayar masyarakat di Kelurahan
Bidaracina. Proses survei ini dilakukan dengan mengambil 110 rumah tangga
secara acak di kelurahan bidaracina. Lalu dihitung berapa banyak anggota
dalam setiap rumah tangga. Dan hasilnya hanya 76,5% yang mau untuk
membayar air bersih.

Umur ternyata berpengaruh terhadap kesediaan membayar masyarakat.


Semakin tinggi tingkat usia responden maka semakin besar pula
kecenderungan peluang responden untuk bersedia membayar. Hal tersebut
dikarenakan semakin tinggi tingkat usia responden maka kesadaran akan
lingkungan pun akan jauh lebih baik. (Amanda, 2009).

Menurut Herdiani (2009) ternyata status kepemilikan rumah


berhubungan dengan kesediaan membayar masyarakat. Apabila tempat
tinggal (rumah) yang ditempati oleh responden adalah milik sendiri, maka
responden akan lebih bersedia membayar biaya perbaikan lingkungan tempat
tinggalnya. Hal tersebut dikarenakan responden lebih merasa memiliki
terhadap lingkungan yang berada di sekitar tempat tinggalnya. Selain itu jika
milik sendiri, mereka cenderung akan lebih lama tinggal di rumah tersebut
dibandingkan dengan yang mengontrak sehingga tidak merasa keberatan jika

3
harus mengeluarkan biaya asalkan lingkungan tempat tinggalnya berada
dalam kondisi yang baik.

Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat


terhadap sumber daya alam yang umumnya digunakan secara bebas dan tidak
memerlukan biaya. Variabel ini dinilai berpengaruh karena umumnya
masyarakat dengan tingkat pendidikan lebih baik cenderung lebih memahami
nilai ekonomi dari sumber daya yang semakin lama semakin terbatas
jumlahnya dan menjadi barang ekonomi akibat kelangkaan yang terjadi.
Simanjuntak, 2009)

4
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN