Anda di halaman 1dari 12

TEORI TRANSFORMASI STRUKTURAL DAN PERUBAHAN MODEL

STRUKTURAL

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Pembangunan

Dosen Pengampu:

Dr. Sukidin, M.Pd.


Novita Nurul Islami, S.Pd., M.Pd.

Disusun Oleh:
1. Olivia Salsabila /180210301066
2. Dewi Fatimah /180210301081
3. Serly Puspita Sari /180210301082
4. Zanisa Nadia Ditananda /180210301086
Kelas B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga pembuatan makalah mata kuliah
Ekonomi Pembangunan dapat terselesaikan. Shalawat serta salam semoga selalu
tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.
Terima kasih kami ucapkan kepada pihak-pihak yang membantu akan
terselesainya makalah ini. Makalah ini disusun dengan tujuan untuk menambah
wawasan bagi para pembaca terkait teori transformasi struktural dan model
perubahan struktural.
Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca. Makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun sangat berguna bagi makalah
ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih.

Jember, 02 September 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR...................................................................................... i

DAFTAR ISI.................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang...................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 1

1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................. 1

1.4 Manfaat Penulisan................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................. 2

2.1 Definisi perubahan struktural dan landasan teori Lewis ..................... 2

2.2 Struktural dan Pola Pembangunan Srruktural....................................... 5

2.3 Implikasi Teori Pembangunan Pada Perubahan Struktural.................. 6

BAB III PENUTUP.......................................................................................... 8

3.1 Kesimpulan........................................................................................... 8

3.2 Saran..................................................................................................... 8

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 9

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tujuan pembangunan adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam
suatu negara. Guna meningkatkan kesejahtaeraan, suatu negara melakukan perubahan
struktural yang memusatkan perhatiannya pada mekanisme yang sekiranya
memungkinkan negara-negara yang masih terbelakang untuk mentransformasikan
struktur perekonomian dalam negeri meraka dari pola perekonomian pertanian
tradisonal menuju perekonomian yang lebih modern.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, meliputi:
1. Apa definisi perubahan struktural dan landasan teori lewis?
2. Bagaimana struktural dan pola pembangunan struktural?
3. Bagaimana implikasi teori pembangunan pada perubahan struktural?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan makalah ini untuk menjelaskan, yakni:
1. Desinisi perubahan srtuktural dan landasan teori lewis
2. Struktural dan pola pembangunan landasan teori lewis
3. Implikasi teori pembangunan pada pembangunan struktural

1.4 Manfaat Penulisan


Berdasarkan uraian tersebut, diharapkan pembaca dapat memiliki pengetahuan
mengenai teori transformasi dan perubahan struktural.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Teori Transformasi Struktural

Teori transformasi struktural merupakan teori yang berfokus pada mekanisme yang
diterapkan oleh negara-negara terbelakang yang awal mulanya menekankan pertanian
subsisten tradisional menjadi perekonomian yang lebih modern lebih berorientasi perkotaan,
serta industri manufaktur dan jasa yang lebih beragam. Hal itu dilakukan untuk mengubah
struktur perekonomian domestik mereka. Teori ini menggunakan pendekatan teori neoklasik
tentang harga dan alokasi sumber daya serta ekonometrik modern untuk mendeskripsikan
bagaimana proses transformasi terjadi. Terdapat 2 contoh model terkenal dari pendekatan
perubahan struktural yaitu “surplus tenaga kerja dua-sektor“ model teoretis dari W. Arthur
Lewis dan “pola pembangunan” analisis empiris dari Hollis B. Chennery dan kawan-kawan.

2.2 Teori Pembangunan Lewis

 Model Dasar
Pada model Lewis, perekonomian terbelakang terdiri dari 2 sektor yaitu pertama,
sektor subsisten pedesaan yang tradisional dan kelebihan penduduk yang
mempunnyai ciri-ciri produktivitas marginal tenaga kerja yang sama dengan nol yang
digolongan Lewis sebagai surplus tenaga kerja, karena tenaga kerjanya diambil dari
sektor pertanian tradisional tanpa mengakibatkan kerugian output apapun. Yang
kedua yaitu sektor industri modern perkotaan yang sangat produktif sebagai sektor
penampung tranfer tenaga kerja dari sektor subsisten secara berangsur-angsur. Fokus
utama dari model Lewis adalah proses pengalihan tenaga kerja, pertumbuhan output
dan penyerapan tenaga kerja pada sektor modern. Transfer tenaga kerja dan
pertumbuhan lapangan kerja terjadi karena perluasan output yang dihasilkan dari
sektor modern. Cepat nya perluasan yang terjadi ditentukan oleh tingkat invetasi
industri dan akumulasi modal sektoor modern. Investasi tersebut karena jumlah
keuntungan sektor modern melebihi upah, dengan asumsi bahwa pemilik modal
menginvestasikan kembali semua keuntungan mereka. Lewis mengasumsi bahwa
upah pada sektor industri modern tidak berubah yang ditentukan sebagai jumlah
bayaran diatas rata-rata tingkat upah di sektor pertanian tradisional. Dengan begitu,
kurva penawaran tenaga kerja pedesaan ke sektor modern dipandang elastis
sempurna.

2
Model pertama Lewis mengasumsi bahwa tingkat transfer tenaga kerja dan penciptaan
lapangan kerja di sektor modern berbanding proporsional dengan tingkat akumulasi
sektor modern. Semakin cepat laju akumulasi modal maka semakin cepat pula
pertumbuhan sektor modern sehingga menyebabkan semakin banyak lapangan kerja
yang tersedia. Model kedua yaitu surplus tenaga kerja terdapat di wilaya pedesaan
sedangakan lapangan kerja terdapat di wilayah perkotaan. Model Lewis yang ketiga
yaitu pasar tenaga kerja sektor modern yang kompetitif akan menjamin
keberlangsungan eksistensi tingkat upah riil di pedesaan yang konstan hingga keadaan
ketika surplus tenaga kerja pedesaan habis terserap. Lewis berasumsi bahwa tingkat
upah di perkotaan lebih tinggi dari pendapatan rata-rata di pedesaan sehingga pemberi
kerja di sektor modern dapat mempekerjakan sebanyak mungkin surplus tenaga kerja
yang dapat mereka lakukan tanpa menaikkan upah.
 Kritik Terhadap Model Lewis
Walaupun model pembangunan Lewis ini terlihat tampak sederhana, namun terdapat
4 asumsi dasar yang tidak sesuai dengan realitas perekonomian di kebanyakan negara
berkembang saat ini.
1. Model Lewis mengasumsi bahwa tingkat transfer tenaga kerja dan penciptaan
lapangan kerja di sektor modern berbanding proposional dengan tingkat
akumulasi model di sektor modern. Semakin cepat tingkat akumulasi modal di
sektor modern, semakin cepat pula pertumbuhan sektor modern, dan semakin
cepat pula tingkat penciptaan lapangan kerja. Tetapi, bagaimana jika laba tersebut
diinvestasikan kembali ke peralatan modal yang lebih canggih dan bukan untuk
penyerapan tenaga kerja seperti yang diasumsikan dalam model Lewis?
Gambar 3.2 menunjukkan kurva permintaan tenaga kerja tidak bergeser ke arah
luar tetapi menyilang. Kurva permintaan D2(KM2) tersebut menunjukkan
kemiringan yang lebih besar dari D2(KM1) untuk menunjukkan bahwa
kenyataannya tambahan stok modal digunakan untuk peningkatan teknik
penghematan tenaga kerja, dimana KM2membutuhkan jauh lebih sedikit tenaga
kerja di banding teknologi KM1.

3
2. Asumsi kedua dari model Lewis adalah gagasan bahwa surplus tenaga kerja
terdapat di wilayah perdesaan sedangkan lapangan kerja di wilayah perkotaan
penuh. Dari buku yang dibaca, hasil terkahir penelitian paling akhir menunjukkan
tidak banyak surplus tenaga kerja yang ada di perdesaan, kecuali ada pengecualian
dalam kaitannya dengan musim dan geografi. Tetapi pakar-pakar mengasumsi
bahwa model Lewis tentang surplus tenaga kerja diperdesaan tidak benar.
3. Asumsi ketiga dari Lewis adalah gagasan bahwa pasar tenaga kerja sektor modern
yang kompetitif akan menjamin keberlangsungan eksistensi upah riil di perdesaan
yang konstan, hingga tercapainya keadaan ketika persediaan surplus tenaga kerja
diperdesaan telah habis terserap. Sebalum tahun 1980an, keistimewaan yang
menonjol dari pasar tenaga kerja perkotaan dan penentuan upah disebagian besar
negara berkembang merupakan kecenderungan untuk upah naik secara besar dari
waktu ke waktu dalam kaitannya dengan rata-rata pendapatan di perdesaaa,
bahkan ketiga peningkatan jumlah pengangguran di sektor modern dan rendahnya
produktivitas marjinal di sektor pertanian rendah. Perusahaan akan meniadakan
faktor-faktor kompetitif seperti daya tawar serikat pekerja, tingkat gaji pegawai
negeri, dan praktik penerimaan tenaga kerja dalam pasar tenaga kerja sektor
modern di negara-negara berkembang.
4. Kritik yang keempat adalah gagasan tentang tingkat hasil yang semakin menurun
dalam sektor industri modern. Berbanding terbalik, banyak bukti menunjukkan
sektor industri modern mengalami tingkat hasil yang semakin meningkat sehingga
menimbulkan masalah khusus dalam perumusan kebijakan pembangunan.

4
2.2 Perubahan struktural dan Pola Pembangunan

Menurut model Lewis, meningkatknya tabungan san investasi dipandang para analis
pola pembangunan sebagai syarat perlu tetapi tidak cukup bagi pertumbuhan ekonomi.
Dibutuhkan beberapa aspek lain untuk mebingkatkan pertumbuhan ekonomi. Yang pertama
adalah perdagangan interasional, dengan melakukan ekspor barang ke luar negeri , maka
pendapatan nasional akan semakin meningkat, produksi juga akan bertambah. Selain itu,
transformasi produksi juga dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Semakin
banyak melakukan transformasi produk yang didukung oleh aspek-apek yang memadai
seperti tenaga kerja, modal, informasi yang cukup, dan mesin maka akan menghasilkan
output yang berkualitas sehingga akan berpengaruh terhadap penawaran. Aspek lain yang
perlu diperhatikan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah faktor sosio-ekonomi
seperti melakukan urbanisasi, serta pertumbuhan dan distribusi penduduk di suatu negara.

Para analis perubahan struktural empiris menekankan kendala domestik dan


internasional terhadap pembangunan. Kendala domestik ekonomi yang dimaksud adalah
dukungan sumber daya suatu negara, luas wilayah, jumlah penduduk serta kebijakan dan
tujuan pemerintah. Sedangkan kendala internasional terhadap pembangunan adalah akses ke
modal eksternal, teknologi dan perdagangan internasional yang masih tertinggal jauh.
Apabila negara berkembang memiliki modal yang cukup, tekologi dan mesin yang memadai,
serta mampu memproduksi barang ekspor maka rentang skala ketertinggalan yang terjadi
mungkin tidak akan terlalu besar dengan negara maju.

Salah satu pakar model perubahan struktural yang terkenal yaitu Hollis B. Chenery dan
rejan-rekannya melakukan studi pola pembangunan pada beberapa negara bekembang dunia
Ketiga selama kurun waktu pasca Perang Dunia kedua dimana mereka memiliki nilai
pendapatan nasional yang berbeda. Tujuan studi terbut ialah guna menyelidiki karakteristik-
karakteristik yang sekiranya berpengaruh besar terhadap proses pembangunan negara-negara
berkembang.

Terdapat karakteristik yang berbeda pada negara tersebut, yaitu pergeseran dari
produksi pertanian ke produksi industri, perubahan permintaan konsumen drai yang berfokus
pada makanan dan kepeeluan dasar ke permintaan barang manufaktur dan jasa yang beragam,
pertumbuhan kota dan industri perkotaan ketika masyarakat berpindah dari pertanian dan
kota-kota kecil serta menurunnya pertumbuhan penduduk karena orang tua lebih menekankan

5
pada pendidikan daripada kuantitas anak. Dalam pembangunan tersebut mula-mula
pertumbuhan penduduk meningkat lalu menurun.

Kekurangan yang sampai saat ini masih tetap berlanjut adalah negara berkembang selalu
memperhatikan pola daripada teori. Dengan memperhatikan pola-pola yang terjadi pada
negara maju yang menerapkan salah satu kebijakan seperti penurunan jumlah tenaga kerja
pertanian seiring waktu yang dilakukan di beberapa negara maju. Padahal hal tersebut akan
menambah jumlah pengangguran yang ada di negara berkembang.

Setiap pola pembangunan dapat dibaurkan oleh pola negara lain, namun harus
dipertimbangkan secara matang apakah kebijakan yang terdapat pada negara negara maju
tersebut tepat diterapkan pada negara berkembang. Apabila kebijakan tersebut layak untuk
diterapkan, maka akan mendapatkan hasil yang sesuai. Namun sebaliknya, apabila kebijakan
tersebut tidak layak untuk diterapkan malah akan menimbulkan dampak negatif bagi negara
tersebut.

2.3 Implikasi teori pembangunan pada perubahan struktural

Hipotesis utama dari model perubahan struktural adalah bahwa pembangunan adalah
suatu proses pertumbuhan dan perubahan yang dapat diamati. Adapun faktor – faktor yang
mempengaruhi kelancaran proses pembangunan pada umuumnya adalah jumlah dan jenis
sumber dayaa alam yang dimiliki masing – masing negara, ketetapan rangkaian kebijakan
dan sasaran yang ditetapkan oleh pemerintah setempat, tersedianya modal dan tekhnologi dari
luar serta kondisi lingkungan perdagangan internasional.

Jadi secara singkatnya, proses perubuhan struktural mengarah pada kesimpulan bahwa
langkah dan pola pembangunan dapat berbeda karena faktor – faktor domestik maupun
internasional, dan banyak diantaranya yang berada di luar jangkauan kendali negara – negara
berkembang. Para ekonom yang menganut model perubahan struktural pembangunan itu
sama – sama meyakini adanya pola- pola tertentu dalam proses pembanguna di hampir semua
negara. Pola – pola ini dipengaruhi bukan hanya oleh pemerintah negara berkembang sendiri,
akan tetapi juga oleh kebijakan – kebijaka perdaganga internasional dan bantuan dari negara
– negara maju.

Dengan demikian, para analisis perubahan struktural tersebut pada dasrnya merasa optimis
bahwa ramuan kebijakan ekonomi yang benar akan memberikan pola pertumbuhan ekonomi
yang menguntungkan secara berkesinambungan. Sebaliknya, aliran pemikiran

6
ketergantungan internasioal tidak berharap banyak, bahkan dalam banyak hal sangat
pesimistis tentang kerja sama internasional dalam konteks pembangunan seperti itu.
pendekatan ketergantungan bahka cenderung curiga bahwa kaum strukturalis berusaha
dengan berbagai cara mengalihkan perhatian masyarakat internasional dari faktor rill
perekonomian global yang mereka yakini cenderung mempertahankan dan melestarikan
kemiskinan negara – negara di dunia

7
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Teori transformasi struktural merupakan teori yang berfokus pada mekanisme yang
diterapkan oleh negara-negara terbelakang yang awal mulanya menekankan pertanian
subsisten tradisional menjadi perekonomian yang lebih modern lebih berorientasi perkotaan,
serta industri manufaktur dan jasa yang lebih beragam. Menurut model Lewis,
meningkatknya tabungan investasi dipandang para analis pola pembangunan sebagai syarat
perlu tetapi tidak cukup bagi pertumbuhan ekonomi. Dibutuhkan beberapa aspek lain untuk
mebingkatkan pertumbuhan ekonomi. Yang pertama adalah perdagangan interasional, dengan
melakukan ekspor barang ke luar negeri , maka pendapatan nasional akan semakin
meningkat, produksi juga akan bertambah. Selain itu, transformasi produksi juga dapat
membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Semakin banyak melakukan transformasi
produk yang didukung oleh aspek-apek yang memadai seperti tenaga kerja, modal, informasi
yang cukup, dan mesin maka akan menghasilkan output yang berkualitas sehingga akan
berpengaruh terhadap penawaran. Aspek lain yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi adalah faktor sosio-ekonomi seperti melakukan urbanisasi, serta
pertumbuhan dan distribusi penduduk di suatu negara. proses perubuhan struktural mengarah
pada kesimpulan bahwa langkah dan pola pembangunan dapat berbeda karena faktor – faktor
domestik maupun internasional, dan banyak diantaranya yang berada di luar jangkauan
kendali negara – negara berkembang.

3.2 Saran

Adanaya teori transformasi dan perubahan struktural diharapkan dapat digunanakan


dan diterapkan oleh negara-negara berkembang guna meningkatkan kesejahteraan
masyarakatnya. Salah satunya dengan meningkatkan perdagangan internasional melalui
ekspor dan impor ke luar negeri.

8
DAFTAR PUSTAKA

Todaro, MP, Smith, C Stephen. 2011. Pembangunan Ekonomi edisi kesebelas jilid 1.
Jakarta:Erlangga.
Todaro, P Micheal. 2010. Pembangunan Ekonomi Edisi Kesembilan Jilid 1. Jakarta:Erlangga
Todaro, P Micheal. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga Edisi Ketujuh Jilid 1.
Jakarta:Erlangga.