Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH KEPERAWATAN MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN
IBU HAMIL POST PARTUM

DI BIMBING OLEH:

Retty Nirmala S, S.Kep., Ns., M.Kep

DI SUSUN OLEH:

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WILLIAM BOOTH


SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat TuhanYang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat serta karunia – Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini
bisa selesai pada waktunya.

Makalah ini berisi tentang Trend dan isu Kesehatan Reproduksi Wanita.. Diharapkan
makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Trend dan isu
Kesehatan Reproduksi Wanita. Dalam membuat makalah ini penulis mengucapkan
terimakasih kepada Ibu Retty Nirmala, S.Kep.,Ns.,M.Kep.

Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi
dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini. Dan mampu menjadi pengetahuan bagi pembacanya.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusun makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan senantiasa
memberkati segala usaha kita.

Surabaya, 7 Februari 2020

Penulis
DAFTAR ISI

COVER.....................................................................................i
KATA PENGANTAR..............................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................iii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang....................................................................1


1.2 Rumusan Masalah...............................................................1
1.3 Tujuan.................................................................................2

BAB II TELAAH JURNAL...................................................3

BAB III PEMBAHASAN.......................................................6

BAB IV PENUTUP.................................................................7

DAFTAR PUSTAKA..............................................................8
Bab 2

Konsep Teori

2.1. Pengertian
Masa nifas atau postpartum disebut juga puerperium yang berasal dari Bahasa
latin yaitu dari kata “puer” yang berarti bayi dan “parous” yang berarti melahirkan.
Masa nifas dimulai setelah placenta lahir dan berakhhir ketika alat-alat kandungan
kembali seperti keadaan sebelum hamil (anggraini, 2010)
Periode post partum adalah masa 6 minggu sejak bayi lahir sampai organ-
organ reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil. Periode ini kadang
disebut puerperium atau trimester ke-4 kehamilan. (Bobak, etal, 2004).
Masa nifas didefinisikan sebagai periode selama tepat setelah kelahiran namun
secara popular, diketahui istilah tersebut mencakup 6 minggu berikutnya saat terjadi
involusi kehamilan normal (Hugnes, 1972)

2.2. Klasifikasi Post Partum


Masa nifas dibagi menjadi 3 tahapan menurut bobag 2004 yaitu :
a. Peurperium Dini (Immediate Puerperium) = waktu 0 – 24 jam postpartum, yaitu
masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan.
b. Peurperium Intermedial (Early Puerperium) = waktu 1 – 7 hari post partum, yaitu
masa kepulihan menyeluruh dari organ-organ reproduksi selama kurang lebih 6 –
8 minggu.
c. Remote Peurperium (Later Peurperium) = waktu 1 – 6 minggu postpartum, yaitu
waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dalam keadaan sempurna
terutama ibu apabila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami
komplikasi.

2.3. Perubahan Fisiologis Masa PostPartum


Perubahan system reperoduksi masa nifas menurut bobak,etal 2005 yaitu :
a. Involusi uterus
pengerutan uterus merupakan suatu proses kembalinya uterus ke keadaan
sebelum hamil
b. Tempat Placenta
segera setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan, kontriksi vascular dan
thrombosis menurunkan tempat plasenta ke suatu area yang meninggi dan
bernodul tidak teratur.
c. Serviks (mulut Rahim)
serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. 18 jam setelah
pascapartum, serviks memendek dan konsistensinya menjadi padat dan kembali ke
bentuk semula.
d. Lochea
Pada awal masa nifas, peluruhan jaringan desidua menyebabkan keluarnya
discharge vagina dalam jumlah bervariasi. Secara mikroskopis, lochea terdiri atas
eritrosit, serpihan desidua, sel-sel epitel dan bakteri. Loche terdiri dari lochea
lubra atau merah (Kruenta) mengandung darah dan debris desidua.
e. Perubahan vulva, vagina dan perinium
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar
selama proses melahirkan bayi, dan dalam hari pertama sesudah proses tersebut,
kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan
vagina kembali ke keadaan tidak hamil, segera setelah melahirkan, perinium
menjadi kendur karena sebelumnya terenggang oleh tekanan kepala bayi yang
bergerak maju.
Perubahan pada perinium pasca melahirkan terjadi pada saat perinium
mengalami robekan, pada postnatal hari ke-5, perinium sudah mendapatkan
kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur daripada keadaan
sebelum melahirkan (marni, 2012)

2.4. Etiologi
Penyebab persalinan belum pasti diketahui, namun beberapa teori
menghubungkan dengan factor hormonal, struktur Rahim, sirkulasi Rahim, pengaruh
tekanan pada saraf dan nutrisi.(Hafifah, 2011)
a. Teori plasenta menjadi tua
Turunnya kadar hormone esterogen dan progesteron menyebabkan kekejangan
pembuluh darah yang menimbulkan kontraksi Rahim.
b. Teori penurunan hormone
Satu sampai dua minggu sebelum partus mulai, terjadi penurunan hormon
progesterone dan esterogen. Fungsi progesteron sebagai penenang otot polos
Rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his
bila progesterone turun.
c. Teori iritasi mekanik
Dibelakang serviks terlibat ganglion servikale (fleksus franterrhauss). Bila
ganglion digeser dan ditekan misalnya oleh kepala janin akan timbul kontraksi
uterus.
d. Teori distensi Rahim
Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemik otot Rahim
sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenta.
e. Induksi partus
Dapat pula ditimbulkan dengan jalan ganggang laminaria yang dimasukkan
kanalis servikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhausser, ammniotomi
pemecahan ketuban.

2.5. Manifestasi Klinis


2.5.1. Tanda permulaan persalinan
Pada permulaan persalinan terjadi beberapa minggu sebelum persalinan, dapat terjadi
tanda-tanda sebagai berikut :
a. Perut keliatan lebih melebar, fundus uteri turun
b. Perasaan sering kencing karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah
janin.
c. Lightening atau setting yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama
pada primigravida.
d. Serviks menjadi lembek, mulai mendatar karena terdapat kontraksi otot Rahim.
e. Terjadi pengeluaran lender, dimana lender menutup serviks dilepaskan dan bias
bercampur darah (Bloodyshow)

2.5.2. Tanda-tanda postpartus


Menurut Hafifah 2011 post partus ditandai oleh :
a. System reproduksi uterus ditandai dengan kembalinya uterus ke kondisi normal
setelah hamil.
b. Siklus menstruasi akan mengalami perubahan saat ibu mulai menyusui
c. Serviks setelah lahir akan mengalami oedema, bentuk distensi untuk beberapa
hari, struktur interna akan kembali 2 minggu.
d. Vagina Nampak berubah kembali pada 3 minggu
e. Payudara akan embesar karena vaskuralisasi dan engorgemen (bengkak karena
peningkatan prilakti)
f. Perinium akan terdapat robekan jika dilakukan episiotomy yang akan terjadi
masa penyembuhan selama 2 minggu.

2.6. Patofisiologi
Dalam masa post partum atau masa nifas, alat-alat genetalia interna maupun
eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil.
perubahan alat genetal ini dalam keseluruhannya disebut “involusi”.
Disamping involusi terjadi perubahan-perubahan penting lain yakni memokonsentrasi
dan timbulnya laktasi yang terakhir ini karena pengaruh hormon laktogen darikelenjar
hipofisis terhadap kelenjar-kelenjar mamae.Otot-otot uterus berkontraksi segera post
psrtum, pembuluh-pembuluh darah yang ada antara nyaman otot-otot uretus akan
terjepit. Proses ini akan menghentikan pendarahan setelah plasenta lahir. Perubahan-
perubahan yang terdapat pada serviks ialah segera post partum bentuk serviks agak
menganga seperti corong, bentuk inidisebabkan oleh korpus uteri terbentuk semacam
cincin. Peruabahan-perubahan yang terdapat pada endometrium ialah timbulnya
trombosis, degenerasi dan nekrosis ditempat implantasi plasenta pada hari pertama
endometrium yang kira-kira setebal 2-5 mm itu mempunyai permukaan yang kasar
akibat pelepasan desidua dan selaput janin regenerasi endometrium terjadi dari sisa-
sisa sel desidua basalis yang memakai waktu 2 sampai 3 minggu. Ligamen-ligamen
dan diafragma pelvis serta fasia yang merenggang sewaktu kehamilan dan pertu
setelah janin lahir berangsur-angsur kembali seperti sedia kala.
Pencegahan Primer pada Ibu Post Partum
Tindakan pencegahan tidak saja dilakukan sewaktu bersalin namun sudah dimulai
sejak ibu hamil yaitu dengan cara melakukan antenatal care yang baik.
Pengawasan antenatal
Pengawasan antenatal memberikan manfaat dengan ditemukannya berbagai kelaianan dini,
sehingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah dalam pertolongan
persalinannya. Kunjungan pelayanan antenatal bagi ibu hamil paling sedikit 4 kali kunjungan
dengan distribusi sekali pada trimester I, sekali pada trimester II dan dua kali pada trimester
III.
Hal – hal yang harus diawasi pada antenatal care adalah sebagai berikut:
a. Peningkatan berat badan ibu
b. Pemenuhan nutrisi
c. Fungsi organ-organ tubuh
d. Pertumbuhan dan prkembangan janin
e. Jumlah dan letak janin
f. Persiapan persalinan
g. Keadaan jalan lahir
h. Persiapan laktasi
i. Imunisasi
j. Persiapan psikologis ibu

Semua ibu hamil harus didorong untuk mempersiapkan kelahiran dan kesiagaan
terhadap komplikasi dan agar melahirkan dengan bantuan seorang dokter/bidan/perawat,
yang dapat memberikan perawatan pencegahan primer postpartum. Semua ibu harus dipantau
secara dekat setelah melahirkan untuk mengetahui jika ada tanda-tanda masalah yang tidak
normal dan para pemberi perawatan harus mampu dan dapat menjamin akses ke tindakan
penyelamatan hidup jika diperlukan.

Sebagian besar kasus kelainan pada postpartum terjadi selama persalinan kala III.
Untuk itu dilakukan pencegahan dengan manajemen aktif kala III. Manajemen aktif
persalinan kala III terdiri dari intervensi yang direncanakan untuk mempercepat pelepasan
plasenta dengan meningkatkan kontraksi Rahim dan untuk mencegah terjadinya masalah
seperti pendarahan pada postpartum dengan menghindari atonia uteri.
Manajemen Aktif Kala III

Manajemen aktif persalinan kala III terdiri atas intervensi yang direncanakan untuk
mempercepat pelepasan plasenta dengan meningkatkan kontraksi rahim dan untuk mencegah
perdarahan pasca persalinan dengan menghindari atonia uteri, komponennya adalah (Shane,
2002) :

a. Memberikan obat uterotonika (untuk kontraksi rahim) dalam waktu dua menit
setelah kelahiran bayi

Penyuntikan obat uterotonika segera setelah melahirkan bayi adalah salah satu intervensi
paling penting yang digunakan untuk mencegah perdarahan pasca persalinan. Obat
uterotonika yang paling umum digunakan adalah oxytocin yang terbukti sangat efektif dalam
mengurangi kasus perdarahan pasca persalinan dan persalinan lama. Syntometrine (campuran
ergometrine dan oxytocin) ternyata lebih efektif dari oxytocin saja. Namun, syntometrine
dikaitkan dengan lebih banyak efek samping seperti sakit kepala, mual, muntah, dan tekanan
darah tinggi. Prostaglandin juga efektif untuk mengendalikan perdarahan, tetapi secara umum
lebih mahal dan memiliki bebagai efek samping termasuk diarrhea, muntah dan sakit perut.

b. Menjepit dan memotong tali pusat segera setelah melahirkan

Pada manajemen aktif persalinan kala III, tali pusat segera dijepit dan dipotong setelah
persalinan, untuk memungkinkan intervensi manajemen aktif lain. Penjepitan segera dapat
mengurangi jumlah darah plasenta yang dialirkan pada bayi yang baru lahir. Diperkirakan
penjepitan tali pusat secara dini dapat mencegah 20% sampai 50% darah janin mengalir dari
plasenta ke bayi. Berkurangnya aliran darah mengakibatkan tingkat hematokrit dan
hemoglobin yang lebih rendah pada bayi baru lahir, dan dapat mempunyai pengaruh anemia
zat besi pada pertumbuhan bayi. Satu kemungkinan manfaat bagi bayi pada penjepitan dini
adalah potensi berkurangnya penularan penyakit dari darah pada kelahiran seperti HIV.

c. Melakukan penegangan tali pusat terkendali sambil secara bersamaan melakukan


tekanan terhadap rahim melalui perut

Penegangan tali pusat terkendali mencakup menarik tali pusat ke bawah dengan sangat hati-
hati begitu rahim telah berkontraksi, sambil secara bersamaan memberikan tekanan ke atas
pada rahim dengan mendorong perut sedikit di atas tulang pinggang. Dengan melakukannya
hanya selama kontraksi rahim, maka mendorong tali pusat secara hati-hati ini membantu
plasenta untuk keluar. Tegangan pada tali pusat harus dihentikan setelah 30 atau 40 detik bila
plasenta tidak turun, tetapi tegangan dapat diusahakan lagi pada kontraksi rahim yang berikut.

Daftar Pustaka:

Smith, J. R., Brennan, B. G., 2004, Postpartum Hemorrhage, http://www.emedicine.com

Rahmi. Karakteristik Penderita Perdarahan Postpartum Yang Datang ke RSU Dr. Pringadi

Medan Tahun 2004-2008. FKM Universitas Sumatera Utara. 2009 hal 1-99

Supono. Ilmu Kebidanan Bab Fisiologi. Palembang: Bagian Departemen Obstetri dan

Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, 2004.