Anda di halaman 1dari 15

RULE OF LAW DAN HAK ASASI MANUSIA

Disusun oleh:
Kelompok 4
Indira Lutfiah Khoirunnisa (1815644057)
Ni Komang Ayu Purnamasari (1815644093)
Natalia Laylah Fajar Gita (1815644141)
Ni Made Ayu Chintya Dewi (1815644189)

PROGRAM STUDI D4 AKUNTANSI MANAJERIAL


JURUSAN AKUNTANSI
POLITEKNIK NEGERI BALI
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “Rule of Law dan
Hak Asasi Manusia” ini. Karya tulis ini dibuat guna mengetahui lebih banyak mengenai
pengertian rule of law dan HAM hingga perkembangan HAM di Indonesia saat ini.
Penulis mengucapakan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
karya tulis ini dapat di selesaikan sesuai dengan waktunya.
Terlepas dari semua itu, penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasa yang penulis gunakan. Oleh karena
itu, dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
penulis dapat memperbaiki karya tulis ini. Semoga karya tulis ini bisa memberikan
informasi yang berguna dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan
ketrampilan bagi kita semua.

Jimbaran, April 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................1
A. Latar Belakang........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................2
C. Tujuan Penelitian....................................................................................................2
D. Manfaat Penelitian..................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................3
A. Pengertian Rule of Law dan HAM..........................................................................3
B. Penjabaran HAM dalam UUD 1945.......................................................................4
C. Implementasi Perlindungan HAM di Indonesia.....................................................6
D. Kasus-kasus HAM di Indonesia.............................................................................7
E. Perkembangan Perlindungan HAM di Indonesia saat ini.......................................9
BAB III PENUTUP.........................................................................................................11
A. Kesimpulan...........................................................................................................11
B. Saran.....................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pasal 1 ayat (3) Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar (UUD) 1945
menegaskan bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas negara hukum (the rule of law).
Pakar ilmu sosial, Franz-Magnis Suseno (1990), melihat bahwa perlindungan HAM
adalah salah satu elemen dari the rule of law, selain hukum yang adil. Kita bisa melacak
akar prinsip the rule of law dari putusan-putusan pengadilan internasional seperti
Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) Eropa dan Komite HAM Perserikatan Bangsa-
Bangsa (PBB), untuk mengetahui pembahasan antara the rule of law dan Hak Asasi
Manusia. Pembukaan UUD 1945 menyatakan terbentuknya Negara adalah untuk
“melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan
berdasar atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia”. Dinyatakan bahwa untuk itu, UUD 1945 harus mengandung ketentuan yang
“mewajibkan Pemerintah dan penyelenggara Negara untuk memelihara budi pekerti
kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur.” UUD
1945 selanjutnya menegaskan bahwa “Negara Indonesia berdasar atas hukum
(rechsstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (Machtstaat). Hak asasi manusia
(HAM) merupakan hak-hak yang diakui secara universal sebagai hak-hak yang melekat
pada manusia karena hakekat dan kodrat kelahiran manusia itu sebagai manusia.
Dikatakan ‘universal’ karena hak-hak ini dinyatakan sebagai bagian dari kemanusiaan
setiap sosok manusia, tak peduli apapun warna kulitnya, jenis kelaminnya, usianya, latar
belakang kultural dan pula agama atau kepercayaan spiritualitasnya. Sementara itu
dikatakan ‘melekat’ atau ‘inheren’ karena hak-hak itu dimiliki sesiapapun yang manusia
berkat kodrat kelahirannya sebagai manusia dan bukan karena pemberian oleh suatu
organisasi kekuasaan manapun. Karena dikatakan ‘melekat’ itu pulalah maka pada
dasarnya hak-hak ini tidak sesaatpun boleh dirampas atau dicabut. Dari uraian
pendahuluan di atas, penulis melihat penting dan menariknya wawasan tentang HAM
dan rule of law. Oleh sebab itu, penulis berusaha menjabarkan pembahasannya dalam
bentuk makalah ini untuk menambah wawasan kita.

1
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, dapat dirumuskan
permasalahan:
1. Apa yang dimaksud dengan rule of law dan HAM?
2. Bagaimana penjabaran HAM dalam UUD 1945?
3. Bagaimana impelementasi perlindungan HAM di Indonesia?
4. Apa saja contoh kasus HAM di Indonesia?
5. Bagaimana perkembangan perlindungan HAM di Indonesia saat ini?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini, yaitu:
1. Mengetahui pengertian dari rule of law dan HAM.
2. Mengetahui penjabaran HAM dalam UUD 1945.
3. Mengetahui implementasi perlindungan HAM di Indonesia
4. Mengetahui kasus HAM yang terjadi di Indonesia.
5. Mendalami perkembangan perlindungan HAM di Indonesia saat ini.
D. Manfaat Penelitian
Adapun yang menjadi manfaat dalam penelitian ini, yaitu:
1. Memberikan informasi mengenai Pancasila dalam konteks sejarah perjuangan
Bangsa Indonesia.
2. Sebagai sarana untuk mengembangkan pengetahuan ataupun wawasan dari
penulisan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Rule of Law dan HAM


1. Rule of law
Rule of law adalah prinsip hukum yang menyatakan bahwa hukum harus
memerintah sebuah negara dan bukan keputusan pejabat-pejabat secara
individual. Prinsip tersebut biasanya merujuk kepada pengaruh dan
otoritas hukum dalam masyarakat, terutama sebagai pengatur perilaku, termasuk
perilaku para pejabat pemerintah.
Rule of law dilatarbelakangi oleh adanya gagasan untuk melakukan
pembatasan kekuasaan pemerintah negara. Sarana yang dipilih untuk maksud
tersebut yaitu Demokrasi Konstitusional. Perumusan yuridis dari Demokrasi
Konstutisional adalah konsepsi negara hukum.
Konsepsi negara hukum mengandung pengertian bahwa negara memberikan
perlindungan hukum bagi warga negara melalui pelembagaan peradilan yang
bebas dan tidak memihak juga penjamin hak asasi manusia. Menurut Moh.
Mahfud MD, istilah rechtsstaaat dan the rule of law yang diterjemahkan menjadi
negara hukum pada hakikatnya mempunyai makna yang berbeda.
Adapun rule of law mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
a. Adanya jaminan perlindungan terhadap HAM
b. Adanya supremasi hukum dalam penyelenggaraan pemerintah
c. Adanya pemisahaan dan pembagian kekuasaan Negara
d. Adanya lembaga peradilan yang bebas dan mandiri.
2. Hak Asasi Manusia (HAM)
HAM merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati
dan fundamental sebagai suatu anugerah Tuhan yang harus dihormati,
dijaga dan dilindungi oleh setiap individu, masyarakat atau negara. Dengan
demikian hakikat penghormatan dan perlindungan terhadap HAM ialah
menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi
keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta
keseimbangan antara kepentingan perseorangan dan kepentingan umum.5

3
Upaya menghormati, melindungi, dan menjunjung tinggi HAM, menjadi
kewajiban dan tanggung jawab bersama antara individu, pemerintah, bahkan
negara. Jadi dalam memenuhi dan menuntut hak tidak terlepas dari
pemenuhan kewajiban yang harus dilaksanakan. Begitu juga dalam
memenuhi kepentingan perseorangan tidak boleh merusak kepentingan
orang banyak (kepentingan umum). Karena itu pemenuhan, perlindungan
dan penghormatan terhadap HAM harus diikuti dengan kewajiban asas
manusia dan tanggung jawab asasi manusia dalam kehidupan pribadi,
bermasyarakat, dan bernegara.
E. Penjabaran HAM dalam UUD 1945
Hak-hak asasi manusia sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan pandangan
filosofis tentang manusia yang melatarbelakanginya. Menurut Pancasila sebagai dasar
dari bangsa Indonesia hakikat manusia adalah tersusun atas jiwa dan raga, kedudukan
kodrat sebagai makhluk Tuhan dan makhluk pribadi, adapun sifat kodratnya sebagai
mahluk individu dan makhluk sosial. Dalam pengertian inilah maka hak-hak asasi
manusia tidak dapat dipisahkan dengan hakikat kodrat manusia tersebut.
Konseksuensinya dalam realisasinya maka hak asasi manusia senantiasa memilik
hubungan yang korelatif dengan wajib asasi manusia karena sifat kodrat manusia sebaga
individu dan mahluk sosial.
Dalam rentangan berdirinya bangsa dan negara Indonesia telah lebih dulu
dirumuskan dari Deklarasi Universal hak-hak asasi manusia PBB , karena Pembukaan
UUD 1945 dan pasasl-pasalnya diundangkan pada tanggal 18 Agustus 1945 , adapun
Deklarasi PBB pada tahun 1948. Hal itu merupakan fakta pada dunia bahwa bangsa
Indonesia sebelum tercapainya pernyataan hak-hak asasi manusia sedunia oleh PBB,
telah mengangkat hak-hak asasi manusia dan melindunginya dalam kehidupan
bernegara yang tertuang dalam UUD 1945. Hal ini juga telah ditekankan oleh para
pendiri negara, misalnya pernyataan Moh. Hatta dalam sidang BPUPKI sebagai
berikut :
“Walaupun yang dibentuk itu Negara kekeluargaan, tetapi masih perlu
ditetapkan beberapa hak dari warga Negara agar jangan sampai timbul negara
kekuasaan (Machsstaat atau negara penindas)”.

4
Deklarasi bangsa Indonesia pada prinsipnya termuat dalam naskah Pembukaan
UUD 1945, dan Pembukaan UUD 1945 inilah yang merupakan sumber normativ bagi
hukum positif Indonesia terutama penjabaran dalam pasal pasal UUD 1945.
Dalam Pembukaan UUD 1945 alinea kesatu dinyatakan bahwa “Kemerdekaan
ialah hak segala bangsa”. Dalam pernyataan tersebut terkandung pengakuan secara
yuridis hak asasi manusia tentang kemerdekaan sebagaimana tercantum dalam
Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia PBB pasal I.
Dasar filosofi hak-hak asasi manusia tersebut bukanlah kebebasan individualis,
malainkan menempatkan manusia dalam hubungannya dengan bangsa (makhluk sosial)
sehingga hak asasi manusia tidak dapat dipisahkan dengan kewajiban asasi manusia
.Kata-kata berikutnya adalah pada alinea ketiga Pembukaan UUD 1945, sebagai berikut:
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh
keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat
Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.
Penyataan tentang “ atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…” mengandung
arti bahwa dalam deklarasi bangsa Indonesia terkandung pengakuan manusia yang
berketuhanan Yang Maha Esa, dan diteruskan dengan kata “…supaya berkehidupan
kebangsaan yang bebas…” dalam pengertian bangsa maka bangsa Indonesia mengakui
hak-hak asasi manusia untuk memeluk agama sebagaimana tercantum dalam Deklarasi
Universal Hak-hak Asasi Manusia PBB pasal 18, dan dalam pasal UUD 1945
dijabarkan dalam pasal 29 ayat (2) yaitu negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut
agamanya dan kepercayaannya itu.
Melalui Pembukaan UUD 1945 dinyatakan dalam alinea empat bahwa Negara
Indonesia sebagai suatu persekutuan bersama bertujuan untuk melindungi warganya
terutama dalam kaitannya dengan perlindungan hak-hak asasinya. Adapun tujuan negara
yang merupakan tujuan yang tidak pernah berakhir (never ending goal) adalah sebagai
berikut :
a. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
b. Untuk memajukan kesejahteraan umum.
c. Mencerdaskan kehidupan bangsa.

5
d. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Tujuan Negara Indonesia sebagai negara hukum yang bersifat formal maupun
material tersebut mengandung konsekuensi bahwa negara berkewajiban untuk
melindungi seluruh warganya dengan suatu undang-undang terutama untuk melindungi
hak-hak asasi manusia demi untuk kesejahteraan hidup bersama.
Berdasarkan pada tujuan Negara sebagai terkandung dalam Pembukaan UUD
1945 tersebut, Negara Indonesia menjamin dan melindungi hak-hak asasi manusia pada
warganya terutama dalam kaitannya dengan kesejahteraan hidupnya baik jasmaniah
maupun rohaniah, antaralain berkaitan dengan hak-hak asasi di bidang politik, ekonomi,
sosial, kebudayaan, pendidikan, dan agama. 
F. Implementasi Perlindungan HAM di Indonesia
Dalam perjalanan sejarah kenegaraan Indonesia pelaksanaan perlindungan
terhadap hak-hak asasi manusisa di Indonesia mengalami kemajuan, antara lain sejak
kekuasaan rezim Soeharto telah dibentuk KOMNAS HAM walaupun pada kenyataan
pelaksanaannya tidak optimal.
Dalam proses reformasi dewasa ini terutama akan perlindungan hak-hak asasi
manusia semakin kuat bahkan merupakan tema sentral. Oleh karena itu jaminan hak hak
asasi manusia sebagaimana terkandung dalam UUD 1945 menjadi semakin efektif
terutama dengan diwujudkannya UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Dalam Konsiderans dan Ketentuan Umum pasal I dijelaskan bahwa hak asasi
manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaban manusia
sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, dan merupakan anugerahNya yang wajib
dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap
orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
Selain hak asasi manusia, didalam UU No. 39 Tahun 1999 juga terkandung
Kewajiban Dasar Manusia, yaitu seperangkat kewajiban yang apa bila tidak
dilaksanakan maka tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya hak asasi manusia.
UU No. 39 Tahun 1999 tersebut terdiri atas 105 pasal yang meliputi macam hukum
asasi, perlindungan hak asasi, pembatasan terhadap kewenangan pemerintah serta
KOMNAS HAM yang merupakan lembaga pelaksana atas perlindungan hak-hak asasi
manusia. Hak-hak asasi manusia tersebut meliputi hak untuk hidup, hak berkeluarga dan

6
melanjutkan keturunan, hak mengembangkan diri, hak atas kesejahteraan, hak turut
serta dalam pemerintahan, hak wanita dan hak anak-anak.
Demi tegaknya asasi setiap orang maka diatur pula kewajiban dasar manusia,
antaralain kewajiban menghormati hak asasi orang lain, dan konsekuensinya setiap
orang harus tunduk kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu juga
diatur kewajiban dan tanggung jawab pemerintah untuk menghormati, melindungi,
menegakan, serta memajukan hak-hak asasi manusia tersebut yang diatur dalam
peraturan perundang-undangan dan hukum internasional yang diterima oleh negara
Republik Indonesia.
Dengan diundangkannya UU No. 39 Tahun 1999 tersebut bangsa Indonesia telah
masuk pada era baru terutama dalam menegakan masyarakat yang demokratis yang
melindungi hak-hak asasi manusia. Namun demikian sering pelaksanaannya mengalami
kendala yaitu dilema antara penegakan hukum dengan kebebasan sehingga kalau tidak
konsisiten maka akan merugikan bangsa Indonesia sendiri, konseksuensinya pengaturan
atas jaminan hak–hak asasi manusia tersebut harus di ikuti dengan pelaksanaan serta
jaminan hukum yang memadai. Untuk lebih rinci atas pelaksanaan dan penegakan hak-
hak asasi manusia tersebut diatur dalam UU No. 9 Tahun 1999.
Satu kasus yang cukup penting bagi bangsa Indonesia dalam menegakan hak-hak
asasi manusia adalah dengan dilaksanakannya Pengadilan Ad Hoc atas pelanggar hak-
hak asasi manusia di Jakarta dan atas pelanggaran hak-hak asasi manusia di Timor
Timur. Hal ini menunjukan kepada masyarakat internasional bahwa bangsa Indonesia
memiliki komitmen atas penegakan hak-hak asasi manusia. Memang pelaksanaan
Pengadilan Ad Hoc atas pelanggaran hak-hak asasi manusia di Timor Timur tersebut
penuh dengan kepentingan kepentingan politik, disatu pihak pelaksanaan pengadilan Ad
Hoc terssebut atas desakan PBB yang taruhannya adalah nasib dan kredibilitas bangsa
Indonesia dimata internasional dan dilain pihak perbenturan kepentingan antara
penegakan hak-hak asasi manusia dengan kepentingan nasional serta nasionalisme
sebagai bangsa Indonesia yang dalam kenyataannya mereka-mereka yang dituduh telah
melanggar HAM berat di Timor Timur pada hakikatnya berjuang demi kepentingan
bangsa dan negara.

7
G. Kasus-kasus HAM di Indonesia
Pelanggaran HAM adalah tindakan mengambil atau merenggut hal-hak orang lain
dengan paksa.  Kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia sudah ada sejak dulu,
mulai era setelah kemerdekaan, era Orde Lama, era Orde Baru dan juga setelah
reformasi. Berikut adalah beberapa contoh kasus pelanggaran HAM yang terjadi di
Indonesia.
a. Tragedi Bom Bali
Peristiwa bom bali terjadi pada tahun 2002. Sebuah bom diledakkan di
kawasan Legian Kuta, Bali oleh sekelompok jaringan teroris. Akibatnya
ratusan korban meninggal dunia dan ratusan lain luka-luka, baik warga lokal
atau pun turis mancanegara. Aksi bom bali menjadi salah satu aksi terorisme
terbesar yang pernah terjadi di Indonesia dan tragedi ini diberitakan di seluruh
dunia.
b. Kasus Pemberontakan GAM
Pelanggaran HAM di Aceh ini terjadi sejak tahun 1976. Pemberontakan di
Aceh dikobarkan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang bertujuan untuk
memperoleh kemerdekaan dari Indonesia. Gerakan ini pertama dibentuk pada
tanggal 4 Desember 1976. Konflik antara pemerintah dan GAM yang
diakibatkan perbedaan keinginan ini telah berlangsung sejak tahun 1976. Total
puluhan ribu korban tewas akibat konflik ini.
c. Kasus Pengkhianatan G 30S/PKI
Peristiwa Gerakan 30 September PKI (G 30S/PKI) adalah peristiwa
pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan menculik dan
membunuh beberapa perwira dan jenderal militer pada tanggal 30 September
1965. PKI menculik dan membantai 10 perwira jenderal dan mayatnya dibuang
di sumur lubang buaya. Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi kelam dalam
sejarah bangsa Indonesia. PKI kemudian ditetapkan sebagai partai terlarang
karena dianggap melakukan pemberontakan dan pengkhianatan terhadap
negara.
d. Kasus Pembunuhan Engeline Megawe
Peristiwa kekerasan terhadap anak perempuan berusia delapan tahun yang
terjadi di Kota Denpasar, Bali pada tanggal 16 Mei 2015. Peristiwa ini menjadi

8
popular dalam berbagai media di Indonesia yang diawali dengan pengumuman
kehilangan anak. Sidang perdana kasus pembuhunan Engeline digelar pada tanggal
22 Oktober 2015, pada sidang tersebut jaksa menyebutkan jika Margriet menyuruh
Agus Tay untuk menguburkan jasad Engeline dengan iming-iming uang, Margriet pula
yang menyuruh Agus untuk menyalakan rokok dan menyundutkannya ke tubuh
Engeline, dan hal tersebut sesuai dengan hasil visum RSUP Sanglah Denpasar. Dalam
persidangan tersebut jaksa mengungkapkan bahwa tanggaal 16 Mei 2015, Margriet
memukuli Engeline berkali kali pada bagian wajah dengan tangan kosong hingga
hidung dan telinga Engeline mengeluarkan darah. Pembunuhan Engeline kemudian
direncanakan dengan maksud untuk menghilangkan jejak. Sementara dalam
persidangan tersebut Margriet menolak tuduhan jaksa yang menyatakan bahwa
dirinya yang telah membunuh Engeline, margriet menyatakan bahwa dirinya
menyayangi Engeline sebagaimana layaknya anaknya.

H. Perkembangan Perlindungan HAM di Indonesia saat ini


Pergantian rezim pemerintahan pada tahan 1998 memberikan dampak yang sangat
besar pada pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Pada saat ini mulai
dilakukan pengkajian terhadap beberapa kebijakan pemerintah orde baru yang
beralwanan dengan pemjuan dan perlindungan HAM. Selanjutnya dilakukan
penyusunan peraturan perundang – undangan yang berkaitan dengan pemberlakuan
HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan kemasyarakatan di Indonesia. Hasil dari
pengkajian tersebut menunjukkan banyaknya norma dan ketentuan hukum nasional
khususnya yang terkait dengan penegakan HAM diadopsi dari hukum dan instrumen
Internasional dalam bidang HAM.
Strategi penegakan HAM pada periode ini dilakukan melalui dua tahap yaitu
tahap status penentuan dan tahap penataan aturan secara konsisten. pada tahap
penentuan telah ditetapkan beberapa penentuan perundang – undangan tentang HAM
seperti amandemen konstitusi Negara ( Undang – undang Dasar 1945 ), ketetapan MPR
( TAP MPR ), Undang – undang (UU), peraturan pemerintah dan ketentuan perundang
– undangam lainnya.
Penyelesaian kasus pelanggaran HAM di Indonesia tengah disorot oleh dunia
internasional. Desakan, tawaran bantuan teknis maupun kritikan telah dilontarkan oleh

9
pihak luar,negara dan badan-badan internasional. Desakan terkuat tertuju pada
percepatan penyelesaian kasus pelanggaran HAM Timtim.
Hak Asasi Manusia sebenarnya bukan istilah baru di Indonesia, masalah ini telah
tercantum dalam UUD 1945, dan secara tegas diatur sejak era reformasi bergulir.
Produk Hukum yang mengaturnya diantaranya Tap MPR No. XVII/MPR/1998 tentang
Hak Asasi Manusia, Pencantuman dalam Amandemen II UUD 1945, UU No. 39 Tahun
1999 tentang Hak Asasi Manusia, dan UU No.26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak
Asasi Manusia.
Walaupun UUD 1945 telah mengaturnya, namun kesadaran akan pentingnya
penegakan HAM tumbuh di saat tumbangnya rezim otoriter. Masa transisi saat ini, telah
memberikan ruang gerak yang lebih luas kepada para pejuang HAM. Komnas HAM
telah dibentuk dimasa pemerintahan Soeharto, namun dalam era reformasi ini kiprahnya
terlihat lebih maksimal.
Banyak permasalahan muncul dalam proses penegakan HAM saat ini.
Permasalahan itu timbul disebabkan oleh Pengetahuan dan pengalaman yang terbatas
tentang HAM, baik pada Lembaga-lembaga Negara, maupun masyarakat. Pengetahuan
yang terbatas menyebabkan pembentukan dan pelaksanaan peraturan perundangan
menjadi kurang dapat menjamin keadilan dan kepastian hukum. Intepretasi yang
berbeda-beda terhadap peraturan perundangan menjadi topik sehari-hari.
Perbedaan intpretasi peraturan tertulis menimbulkan polemik tentang proses
penegakan HAM. Polemik yang berkembang berkisar pada beberapa masalah,
diantaranya: Keabsahan pembentukan KPP HAM, Kewenangan memaksa KPP HAM
dalam memanggil saksi dan tersangka, Penetapan Jaksa dan Hakim ad hoc yang
independen dan penolakan intervensi pihak asing dalam proses pengakan HAM.

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dijabarkan, dapat ditarik kesimpulan:
1. Rule of Law adalah suatu legalisme literal, maka Rule of Law, mengandung
gagasan bahwa keadilan dapat dilayani melalui pembuatan system peraturan
dan prosedur yang sengaja bersifat obyektif, tidak memihak, tidak personal,
dan otonom.
2. Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia, sesuai
dengan kodratnya. Hak asasi manusia meliputi hak hidup, hak kemerdekaan
atau kebebasan, hak milik dan hak-hak dasar lain yang melekat pada diri
pribadi manusia dan tidak dapat di ganggu gugat oleh orang lain.
3. Pergantian rezim pemerintahan pada tahan 1998 memberikan dampak yang
sangat besar pada pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Pada saat
ini mulai dilakukan pengkajian terhadap beberapa kebijakan pemerintah orde
baru yang beralwanan dengan pemjuan dan perlindungan HAM. Selanjutnya
dilakukan penyusunan peraturan perundang – undangan yang berkaitan
dengan pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan
kemasyarakatan di Indonesia. Hasil dari pengkajian tersebut menunjukkan
banyaknya norma dan ketentuan hukum nasional khususnya yang terkait
dengan penegakan HAM diadopsi dari hukum dan instrumen Internasional
dalam bidang HAM.

11
I. Saran
Perbanyaklah membaca dan mencari informasi yang valid, entah itu dari buku
maupun internet, tentang negara tercinta kita, Indonesia. Hal itu dapat menjadi salah
satu bentuk usaha kita untuk menunjukkan rasa cinta dan bangga kepada tanah air kita.

DAFTAR PUSTAKA

Kaelan dan Achmad Zubaidi. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta:


Paradigma.
https://id.wikipedia.org/wiki/Rule_of_law
https://www.zonareferensi.com/contoh-kasus-pelanggaran-ham-di-indonesia/
https://wonkdermayu.wordpress.com/artikel/penjabaran-hak-azasi-manusia-dalam-uud-
1945/

12