Anda di halaman 1dari 24

KEPERAWATAN ATM

TENTANG
SARS (Severe Acute Respiratory Sindrome)

Di susun oleh :

Evelin Venesya Saweri

Hesti Elvina

Melius

Fakultas kedokteran

Jurusan Keperawatan

Program Studi Ilmu Keperawatan

Universitas Cenderawasih

2019/2020

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sebab atas segala rahmat, karunia, serta taufik
dan hidayah-Nya, makalah Keperawatan ATM tentang “ SARS (Severe Acute Respiratory
Sindrome) dapat selesai tepat pada waktunya.

Tidak lupa pula Kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah ini yang
telah membimbing dan memberikan tanggung jawab ini kepada kami .

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan
memberikan edukasi kepada kita semua. Kami juga yakin bahwa makalah ini jauh dari kata
sempurna maka dari itu Kami masih membutuhkan kritik serta saran dari pembaca, untuk
menjadikan makalah ini lebih baik ke depannya.

Jayapura, Februari 2020

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................................3
BAB I....................................................................................................................................................5
PENDAHULUAN.................................................................................................................................5
1.1 Latar Belakang Masalah........................................................................................................5
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................................................5
1.3 Tujuan....................................................................................................................................5
BAB II...................................................................................................................................................6
TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................................................6
2. 1  Pengertian..............................................................................................................................6
2.2 Etiologi..................................................................................................................................6
2.3 Patofisiologi...........................................................................................................................7
2.4 PATHWAY...........................................................................................................................8
2.5 Tanda Dan Gejala..................................................................................................................9
2.6 Pemeriksaan Penunjang.........................................................................................................9
2.7 Penatalaksanaan...................................................................................................................10
2.8 Komplikasi..........................................................................................................................10
BAB III................................................................................................................................................12
ASUHAN KEPERAWATAN.............................................................................................................12
3.1 Pengkajian...........................................................................................................................12
3.2 Pemeriksaan Diagnostik......................................................................................................13
3.3 Diagnosa Keperawatan........................................................................................................13
3.4 Rencana Keperawatan..........................................................................................................14
BAB IV...............................................................................................................................................24
PENUTUP...........................................................................................................................................24
4.1 Kesimpulan................................................................................................................................24
4.2 Saran.....................................................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................25

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


SARS itu singkatan dari Severe Acute Respiratory Syndrome atau Corona Virus
Pneumonia (CVP), suspek (suspect case) terjadi pada seseorang setelah 1 Februari 2003
lalu. Wabah penyakit gangguan pernapasan misterius ini terus melanda kawasan Asia dan
sekitarnya terus memakan korban korban. Seorang pasien di Hongkong menjadi korban
tewas keenam di wilayah administrative.

1.2 Rumusan Masalah


1. Mengetahui definisi penyakit SARS?
2. Mengetahui etiologi penyakit SARS?
3. Menjelaskan patofisiologi penykit SARS?
4. Mengetahui Pathway SARS?
5. Mengetahui tanda dan gejala penyakit SARS?
6. Mengetahui pemeriksaan diagnostik pada penyakit SARS?
7. Mengetahui penatalaksanaan pada penyakit SARS?
8. Mengetahui komplikasi pada penyakit SARS?
9. Mengetahui diagnosa keperawatan yang muncul pada penyakit SARS?
10. Mengetahui perencanaan keperawatan pada penyakit SARS?

1.3 Tujuan
Tujuan dan maksud dari pembutan makalah ini, adalah kami bermaksud membahas
dan berbagi pengetahuan  tentang  ”Penyakit SARS” seperti yang tertera pada rumusan
masalah di atas. Kami bertujuan & berharap semoga makalah ini dapat menjadi referensi dan
berguna bagi para pembaca.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1  Pengertian
SARS (severe acute respiratory syndrome) adalah sekumpulan gejala sakit pernapasan
yang mendadak dan berat atau disebut juga penyakit infeksi saluran pernafasan yang
disebabkan oleh virus Corona Family Paramyxovirus.

SARS (severe acute respiratory syndrome) adalah suatu jenis kegagalan paru-paru
dengan berbagai kelainan yang berbeda, yang menyebabkan terjadinya pengumpulan cairan
di paru-paru (edema paru).

2.2 Etiologi
Etiologi SARS masih dipelajari. Pada 7 April 2003, WHO mengumumkan kesepakatan
bahwa coronavirus yang baru teridentifikasi adalah mayoritas agen penyebab SARS.
Coronavirus berasal dari kata “Corona” yang berasal dari bahasa Latin yang artinya
“crown” atau mahkota. Ini sesuai dengan bentuk Coronavirus itu sendiri yang kalau
dilihat dengan mikroskop nampak seperti mahkota.
Penyebabnya lain bisa karena penyakit apapun, yang secara langsung ataupun tidak
langsung yang melukai paru-paru, diantaranya :
1.     Pneumonia
2.     Tekanan darah yang sangat rendah (syok)
3.     Terhirupnya makanan ke dalam paru (menghirup muntahan dari lambung)
4.     Beberapa transfusi darah
5.     Kerusakan paru-paru karena menghirup oksigen konsentrasi tinggi
6.     Emboli paru
7.     Cedera pada dada
8.     Overdosis obat seperti heroin, metadon, propoksifen atau aspirin
9.     Trauma hebat
10.  Transfusi darah (terutama dalam jumlah yang sangat banyak). 

5
2.3 Patofisiologi
Penyebab penyakit SARS disebabkan oleh coronavirus (family paramoxyviridae) yang
pada pemeriksaan dengan mikroskop electron. Virus ini stabil pada tinja dan urine pada suhu
kamar selama 1-2 hari dan dapat bertahan lebih dari 4 hari pada penderita diare. Seperti virus
lain, corona menyebar lewat udara, masuk melalui saluran pernapasan, lalu bersarang di paru-
paru. Lalu berinkubasi dalam paru-paru selama 2-10 hari yang kemudian menyebabkan paru-
paru akan meradang sehingga bernapas menjadi sulit. Metode penularannya melalui udara
serta kontak langsung dengan pasien atau terkena cairan pasien. Misalnya terkena ludah
(droplet) saat pasien bersin dan batuk. Dan kemungkinan juga melalui pakaian dan alat-alat
yang terkontaminasi.
Cara penularan : SARS ditularkan melalui kontak dekat, misalnya pada waktu merawat
penderita, tinggal satu rumah dengan penderita atau kontak langsung dengan secret atau
cairan tubuh dari penderita suspect atau probable. Penularan melalui udara, misalnya
penyebaran udara, ventilasi, dalam satu kendaraan atau dalam satu gedung diperkirakan tidak
terjadi, asal tidak kontak langsung berhadapan dengan penderita SARS. Untuk sementara,
masa menular adalah mulai saat terdapat demam atau tanda-tanda gangguan pernafasan
hingga penyakitnya dinyatakan sembuh.
Masa penularan berlangsung kurang dari 21 hari. Petugas kesehatan yang kontak langsung
dengan penderita mempunyai risiko paling tinggi tertular, lebih-lebih pada petugas yang
melakukan tindakan pada sistem pernafasan seperti melakukan intubasi atau nebulasi.

6
2.4 PATHWAY Kurang Informasi
Tinja, droplet, udara
Reaksi pertahanan (terkontaminasi coronaV)
Kurang pengetahuan
1. Batuk
2. Bersin
Kontak/invasi saluran
pernapasan
Cemas

Masuk saluran
pernapasan
bawah

keluar Masuk
Aktifan antibody

Antigen Reaksi
Proses reflikasi antibody inflamasi
cepat

Pelepasan Suhu tubuh


mediator
Proses radang
kimia

Metabolisme Resiko
meningkat kekurangan
cairan
Sekresi mukus

Inefektifitas bersihan jalan nafas

Tidak seimbang suplai O2 Intoleransi

7
2.5 Tanda Dan Gejala

Suhu badan lebih dari 38oC, ditambah batuk, sulit bernapas, dan napas pendek-
pendek. Jika sudah terjadi gejala-gejala itu dan pernah berkontak dekat dengan pasien
penyakit ini, orang bisa disebut suspect SARS. Kalau setelah di rontgen terlihat ada
pneumonia (radang paru-paru) atau terjadi gagal pernapasan, orang itu bisa disebut probable
SARS atau bisa diduga terkena SARS.

Gejala lainnya sakit kepala, otot terasa kaku, diare yang tak kunjung henti, timbul
bintik-bintik merah pada kulit, dan badan lemas beberapa hari. Ini semua adalah gejala yang
kasat mata bisa dirasakan langsung oleh orang yang diduga menderita SARS itu. Tapi gejala
itu tidak cukup kuat jika belum ada kontak langsung dengan pasien. Tetap diperlukan
pemeriksaan medis sebelum seseorang disimpulkan terkena penyakit ini. Paru-parunya
mengalami radang, limfositnya menurun, trombositnya mungkin juga menurun. Kalau sudah
berat, oksigen dalam darah menurun dan enzim hati akan meningkat. Ini semua gejala yang
bisa dilihat dengan alat medis. Tapi semua gejala itu masih bisa berubah. Penelitian terus
dilangsungkan sampai sekarang.

2.6 Pemeriksaan Penunjang

1)     Pemeriksaan radiologis : air bronchogram : Streptococcus pneumonia.


2)     Pada pemeriksaan fisik : dengan menggunakan stetoskop, terdengar bunyi pernafasan
abnormal (seperti ronki atau wheezing). Tekanan darah seringkali rendah dan kulit, bibir
serta kuku penderita tampak kebiruan (sianosis, karena kekurangan oksigen).
3)     Pemeriksaan yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis SARS :
a. Rontgen dada (menunjukkan adanya penimbunan cairan di tempat yang seharusnya
terisi udara)
b. Gas darah arteri
c. Hitung jenis darah dan kimia darah
d. Bronkoskopi. 
4)     Pemeriksaan Laboratorium : Leukosit.
5)     Pemeriksaan Bakteriologis  :  sputum, darah, aspirasi nasotrakeal atau transtrakeal,
aspirasi jarum transtorakal, torakosentesis, bronskoskopi, biopsy
6)     Test DNA sequencing bagi coronavirus yang dapat diperoleh hasilnya dalam 8 jam
dan sangat akurat. Test yang lama hanya mampu mendeteksi antibody.

8
2.7 Penatalaksanaan

1. Terapi supportif umum : meningkatkan daya tahan tubuh berupa nutrisi yang adekuat,
pemberian multivitamin dan lain-lain.
-          Terapi oksigen
-          Humidifikasi dengan nebulizer
-          Fisioterapi dada
-          Pengaturan cairan
-          Pemberian kortokosteroid pada fase sepsis berat
-          Obat inotropik
-          Ventilasi mekanis
-          Drainase empiema
-          Bila terdapat gagal nafas, diberikan nutrisi dengan kalori cukup

2. Terapi antibiotik
            Agen anti-bakteri secara rutin diresepkan untuk SARS karena menyajikan fitur non-
spesifik dan cepat tes laboratorium yang dapat diandalkan untuk mendiagnosis SARS-cov
virus dalam beberapa hari pertama infeksi belum tersedia. Antibiotik empiris yang sesuai
dengan demikian diperlukan untuk menutupi terhadap patogen pernafasan Common per
nasional atau pedoman pengobatan lokal bagi masyarakat-diperoleh atau nosokomial
pneumonia.
            Setelah mengesampingkan patogen lain, terapi antibiotik dapat ditarik. Selain efek
antibakteri mereka, beberapa antibiotik immunomodulatory dikenal memiliki sifat, khususnya
quinolones dan makrolid. Efeknya pada kursus SARS adalah belum ditentukan.
            SARS dapat hadir dengan spektrum keparahan penyakit. Sebagian kecil pasien
dengan penyakit ringan pulih baik bentuk khusus tanpa pengobatan atau terapi antibiotik saja.
Antibiotik :
-          Idealnya berdasarkan jenis kuman penyebab
-          Utama ditujukan pada S.pneumonia, H.Influensa dan S.Aureus

2.8 Komplikasi
1.        Abses paru
2.        Efusi pleural

9
3.        Empisema
4.        Gagal nafas
5.        Perikarditis
6.        Meningitis
7.        Atelektasis
8.        Hipotensi
9.        Delirium
10.    Asidosis metabolic
11.    Dehidrasi

10
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas pasien

Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, keyakinan, pekerjaan, status perkawinan,


dan alamat.

3.1.2 Riwayat kesehatan

sejak kapan, semakin memburuknya kondisi / kelumpuhan, upaya yang dilakukan


selama menderita penyakit.

3.1.3 Pengkajian fisik


B1:
Inspeksi : Sesak, batuk, nyeri dada, penggunaan otot bantu pernafasaan,
pernafasaan diafragma dan perut meningkat, pernafasan cuping hidung, pola
nafas cepat dan dangkal, retraksi otot bantu pernafasan, RR > 30x/menit.

Palpasi : fremitus vokal menurun.

Perkusi : suara perkusi redup sampai pekak.

Auskultasi: Ronkhi basah, suara napas bronkial.


B2:
Sianosis, nadi > 100x/menit, CRT > 3 detik, BGA menunujukkan hipoksemia, S1
dan S2 tunggal.
B3:
Nyeri kepala, terjadi penurunan kesadaran.
B4:
Terkadang produksi urine menurun
B5:

11
Mual, muntah, diare, bising usus meningkat, nafsu makan menurun.
B6:
Nyeri otot, kelemahan pada otot.

3.2 Pemeriksaan Diagnostik


1)    Pemeriksaan radiologis : air bronchogram : Streptococcus pneumonia.
2)    Pada pemeriksaan fisik : dengan menggunakan stetoskop, terdengar bunyi
pernafasan abnormal (seperti ronki atau wheezing). Tekanan darah seringkali rendah dan
kulit, bibir serta kuku penderita tampak kebiruan (sianosis, karena kekurangan oksigen).
3)   Pemeriksaan yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis SARS :
a. Rontgen dada (menunjukkan adanya penimbunan cairan di tempat yang seharusnya
terisi udara)
b. Gas darah arteri
c. Hitung jenis darah dan kimia darah
d. Bronkoskopi. 
4)     Pemeriksaan Laboratorium : Leukosit.
5)     Pemeriksaan Bakteriologis  :  sputum, darah, aspirasi nasotrakeal atau transtrakeal,
aspirasi jarum transtorakal, torakosentesis, bronskoskopi, biopsy
6)     Test DNA sequencing bagi coronavirus yang dapat diperoleh hasilnya dalam 8 jam
dan sangat akurat. Test yang lama hanya mampu mendeteksi antibody.

3.3 Diagnosa Keperawatan

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi dan obstruksi
jalan nafas.
2. Defisit volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, takipneu,
demam.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan pemasukan berhubungan dengan faktor biologis.
4. Nyeri berhubungan dengan agen injury biologi (kerusakan organ)
5. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi (RR >24x/menit) atau
hipoventilasi (RR <16x/menit).

3.4 Rencana Keperawatan


N Diagnosa keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

12
o
1 Bersihan jalan nafas tidak NOC : NIC :
efektif berhubungan
a. Respiratory status : Airway suction
dengan inflamasi dan
Ventilation
obstruksi jalan nafas.
a. Pastikan kebutuhan
b. Respiratory status :
oral atau tracheal
Airway patency
suctioning
b. Auskultasi suara
nafas sebelum dan
Kriteria Hasil :
sesudah suctioning.
c. Informasikan pada
a. Mendemonstrasikan
klien dan keluarga
batuk efektif dan
tentang suctioning
suara nafas yang
d. Minta klien nafas
bersih, tidak ada
dalam sebelum
sianosis dan dyspneu
suction dilakukan.
b. Menunjukkan jalan
e. Berikan O2 dengan
nafas yang paten
menggunakan nasal
c. Mampu
untuk memfasilitasi
mengidentifikasikan
suksion nasotrakeal
dan mencegah factor
f. Gunakan alat yang
yang dapat
steril setiap
menghambat jalan
melakukan tindakan
nafas
g. Anjurkan pasien
untuk istirahat dan
napas dalam setelah
kateter dikeluarkan
dari nasotrakeal
h. Monitor status
oksigen pasien
i. Ajarkan keluarga
bagaimana cara
melakukan suksion

13
j. Hentikan suksion dan
berikan oksigen
apabila pasien
menunjukkan
bradikardi,
peningkatan saturasi
O2, dan lain-lain.

Airway Management

a. Buka jalan nafas,


guanakan teknik chin
lift atau jaw thrust
bila perlu
b. Posisikan pasien
untuk
memaksimalkan
ventilasi
c. Identifikasi pasien
perlunya pemasangan
alat jalan nafas
buatan
d. Lakukan fisioterapi
dada jika perlu
e. Auskultasi suara
nafas, catat adanya
suara tambahan
f. Kolaborasi pemberian
bronkodilator bila
perlu
g. Atur intake untuk
cairan

14
mengoptimalkan
keseimbangan.
h. Monitor respirasi dan
status O2

2 Defisit Volume cairan NOC: Fluid management


berhubungan dengan
a. Fluid balance a. Pertahankan catatan
intake oral tidak adekuat,
b. Hydration intake dan output
takipneu, demam
c. Nutritional Status : yang akurat
Food and Fluid b. Monitor status hidrasi
Intake ( kelembaban
membran mukosa,
nadi adekuat, tekanan
darah ortostatik ), jika
Kriteria Hasil :
diperlukan
a. Mempertahankan c. Monitor vital sign
urine output sesuai d. Monitor masukan
dengan usia dan BB, makanan / cairan dan
BJ urine normal, HT hitung intake kalori
normal harian
b. Tekanan darah, nadi, e. Lakukan terapi IV
suhu tubuh dalam f. Monitor status nutrisi
batas normal g. Berikan cairan
c. Tidak ada tanda h. Dorong masukan oral
tanda dehidrasi, i. Berikan penggantian
Elastisitas turgor nesogatrik sesuai
kulit baik, membran output
mukosa lembab, j. Dorong keluarga
tidak ada rasa haus untuk membantu
yang berlebihan pasien makan
k. Kolaborasi dokter
jika tanda cairan

15
berlebih muncul
meburuk
l. Atur kemungkinan
tranfusi
m. Persiapan untuk
tranfusi

3. Ketidakseimbangan NOC : NIC:


nutrisi kurang dari Status nutrisi, setelah Eating disorder manajemen
kebutuhan tubuh diberikan penjelasan dan
a. Tentukan
berhubungan dengan perawatan kebutuhan
kebutuhan kalori
ketidakmampuan nutrisi pasien terpenuhi
harian
pemasukan berhubungan dengan kriteria hasil :
b. Ajarkan klien dan
dengan faktor biologis
a. Pemasukan nutrisi keluarga tentang
(sesak nafas).
yang adekuat pentingnya nutrient
b. Pasien mampu c. Monitoring TTV
menghabiskan diet dan nilai 
yang dihidangkan Laboratorium
c. Tidak ada tanda- d. Monitor intake dan
tanda malnutrisi output
d. Nilai laboratorim, e. Pertahankan
protein total 8-8 gr kepatenan
%, Albumin 3.5-5.4 pemberian nutrisi
gr%, Globulin 1.8- parenteral
3.6 gr%, HB tidak f. Pertimbangkan
kurang dari 10 gr % nutrisi enteral
e. Membran mukosa g. Pantau adanya
dan konjungtiva Komplikasi GI
tidak pucat

Terapi gizi

a. Monitor masukan

16
makanan atau
minuman dan
hitung kalori
harian secara tepat
b. Kolaborasi ahli
gizi
c. Pastikan dapat diet
TKTP (tinggi
kalori tinggi
protein)
d. Berikan perawatan
mulut
e. Pantau hasil
labioratoriun
protein, albumin,
globulin, HB
f. Jauhkan benda-
benda yang tidak
enak untuk
dipandang seperti
urinal, kotak
drainase, bebat dan
pispot
g. Sajikan makanan
hangat dengan
variasi yang
menarik

17
4 Intoleransi aktivitas NOC : NIC :
berhubungan dengan Activity Therapy
a. Energy
isolasi respiratory. a. Kolaborasikan
conservation
dengan Tenaga
b. Self Care : ADLs
Rehabilitasi Medik
dalam
Kriteria Hasil :
merencanakan
a. Berpartisipasi program terapi yang
dalam aktivitas fisik tepat.
tanpa disertai b. Bantu klien untuk
peningkatan mengidentifikasi
tekanan darah, nadi aktivitas yang
dan RR mampu dilakukan
b. Mampu melakukan c. Bantu untuk
aktivitas sehari hari memilih aktivitas
(ADLs) secara konsisten yang
mandiri sesuai dengan
kemampuan fisik,
psikologi dan social
d. Bantu untuk
mengidentifikasi
dan mendapatkan
sumber yang
diperlukan untuk
aktivitas yang
diinginkan
e. Bantu untuk
mendapatkan alat
bantuan aktivitas
seperti kursi roda,
krek
f. Bantu untuk
mengidentifikasi

18
aktivitas yang
disukai
g. Bantu klien untuk
membuat jadwal
latihan diwaktu
luang
h. Bantu
pasien/keluarga
untuk
mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas
i. Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
j. Monitor respon
fisik, emosi, social
dan spiritual

Energy Management

a. Observasi adanya
pembatasan klien
dalam melakukan
aktivitas
b. Dorong anal untuk
mengungkapkan
perasaan terhadap
keterbatasan
c. Kaji adanya factor
yang menyebabkan
kelelahan

19
d. Monitor nutrisi  dan
sumber energi
e. Monitor pasien
akan adanya
kelelahan fisik dan
emosi secara
berlebihan
f. Monitor respon
kardiovaskuler 
terhadap aktivitas
g. Monitor pola tidur
dan lamanya
tidur/istirahat
pasien

5 Defisit pengetahuan NOC : NIC :


berhubungan dengan Teaching : disease Process
a. Knowledge :
perawatan
disease process a. Berikan penilaian
b. Knowledge : tentang tingkat
health Behavior pengetahuan pasien
tentang proses
Kriteria Hasil :
penyakit yang

20
spesifik
a. Pasien dan keluarga
b. Jelaskan patofisiologi
menyatakan
dari penyakit dan
pemahaman tentang
bagaimana hal ini
penyakit, kondisi,
berhubungan dengan
prognosis dan
anatomi dan fisiologi,
program pengobatan
dengan cara yang
b. Pasien dan keluarga
tepat.
mampu
c. Gambarkan tanda dan
melaksanakan
gejala yang biasa
prosedur yang
muncul pada
dijelaskan secara
penyakit, dengan cara
benar
yang tepat
c. Pasien dan keluarga
d. Gambarkan proses
mampu menjelaskan
penyakit, dengan cara
kembali apa yang
yang tepat
dijelaskan
e. Identifikasi
perawat/tim
kemungkinan
kesehatan lainnya
penyebab, dengna
cara yang tepat
f. Sediakan informasi
pada pasien tentang
kondisi, dengan cara
yang tepat
g. Hindari harapan yang
kosong
h. Diskusikan
perubahan gaya hidup
yang mungkin
diperlukan untuk
mencegah komplikasi
di masa yang akan
datang dan atau

21
proses pengontrolan
penyakit
i. Diskusikan pilihan
terapi atau
penanganan
j. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second
opinion dengan cara
yang tepat atau
diindikasikan
k. Eksplorasi
kemungkinan sumber
atau dukungan,
dengan cara yang
tepat
l. Instruksikan pasien
mengenai tanda dan
gejala untuk
melaporkan pada
pemberi perawatan
kesehatan.

22
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
SARS (severe acute respiratory syndrome) adalah sekumpulan gejala sakit
pernapasan yang mendadak dan berat atau disebut juga penyakit infeksi saluran
pernafasan yang disebabkan oleh virus Corona Family Paramyxovirus.
SARS (severe acute respiratory syndrome) adalah suatu jenis kegagalan paru-paru
dengan berbagai kelainan yang berbeda, yang menyebabkan terjadinya pengumpulan
cairan di paru-paru (edema paru).

4.2 Saran
Kita sebagai mahasiswa Perawat di harapkan mengerti dan memahami tentang
Asuhan Keperawatan pada Klien SARS, dan kami mohon kritikannya bagi pembaca
Asuhan Keperawatan yang kami buat agar bisa membangun makalah ini dengan lebih
baik lagi.

23
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 volume 3,
EGC, Jakarta

Jong, W, 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC Jakarta

Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II Edisi Ketiga. 1999. Media
Aesculapius : Jakarta. 

Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II Edisi Ketiga. 1999. Media
Aesculapius : Jakarta.

http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=63

http://dhewynerz.blogspot.com/2009/11/askep-sars.html

24