Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN HASIL WAWANCARA ILMUWAN PSIKOLOGI

Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester Gasal


Matakuliah Kode Etik Psikologi
Dosen Pengampu : Jayaning Sila Astuti S.Psi.,M.Psi., Psikolog

Disusun Oleh :
Kelompok 8
Eka Apriliyah (190541100013)
Nor Sofiyatun (190541100021)
Ahmad Dedi Ramang S. (190541100023)
Nur Lailatul Rohmah (190541100034)

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
2019
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT, atas segala
limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga makalah ini dapat terselesaikanya
laporan hasil wawancara Ilmuwan Psikologi mengenai kode etik psikologi.
Adapun penulisan laporan ini bertujuan untuk memenuhi tugas akhir semester
ganjil matakuliah kode etik psikologi. Pada penulisan laporan ini, permasalahn
telah disusun dari informasi sumber yang sesuai , oleh karena itu, terselesaikannya
makalah ini tak terlepas dari berbagai sumber yang mendukung juga karena
adanya dukungan dan bantuan dari berbagai pihak terkait.
Sehubungan dengan hal tersebut, dengan ketulusan hati mengucapkan
terimakasih kepada :
1. Bapak Zaenal Abidin, M.Si. Selaku dosen Psikologi matakuliah Filsafat Ilmu
dan Logika Universitas Trunjoyo Madura yang menjadi narasumber dalm
pembahasan laporan ini.
2. Ibu Jayaning Sila Astuti S.Psi.,M.Psi., Psikolog Selaku dosen pengampu
matakuliah Kode Etik Psikologi sekaligus dosen pembimbing dalam
pembuatan laporan ini.
3. Temn-teman kelompok 8 Kode Etik Psikologi yang turut andil dalam
pembuatan laporan.
4. Serta pihak-pihak yang tak bisa disebutkan namanya yang turut membantu
terselesaikannya laporan hasil wawancara ini.
Semoga amal baik mereka mendapatkan balasan dari Allah SWT dengan balasan
yang berlipat ganda.
Dalam menyusun laporan hsail wawancara ini, sangat disadari banyaknya
kekurangan yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu, kritik dan saran dari
berbagai pihak sangat dibutuhkan agar selanjutnya laporan ini lebih baik lagi dan
bisa bermanfaat untuk orang banyak. Akhirnya semoga laporan ini dapat
bermanfaat untuk semua orang khususnya untuk para pembaca.
Bangkalan, 14 November 2019

Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kegiatan wawancara ini merupakan bentuk dari tugas akhir semster gasal
matakuliah kode etik psikologi, yang bertujuan untuk memperoleh informasi
dari narasumber tentang Hubungan Antar Manusia yang tercantum dalam
buku kode etik psikologi bab IV.Wawancara ini membahas mengenai riwayat
narasumber yang merupakan dosen Psikologi sekaligus Ilmuwan Psikologi
yang kini tengah melanjutnya pendidikan S3 dibidang Psikologi Industri dan
Organisasi, juga berisi beberapa informasi mengenai bagaimana pentingnya
informed consent, penghindaran terhadap eksploitas dan dampak buruknya
serta bagaimana perbedaan antara layanan psikologi kepada organisasi dan
individu juga pengalihan dan penghentian layanan psikologi.

1.2 Maksud dan Tujuan


1. Memenuhi tugas akhir semester 1 Kode etik psikologi
2. Mengenal dan mengetahui dosen sekaligus ilmuwan psikologi yang ada di
Universitas Trunojoyo Madura
3. Mengetahui bagaimana peran serta tanggung jawan ilmuwan psikologi
terhadap kode etik psikologi
4. Mengetahui bagaimana peran informed consent sebelum penelitian
5. Mengetahui bagaimana perbedaan layanan psikologi terhadap organisasi
dan indutri
6. Mengetahui tentang eksploitasi dan bagaimana dampknya terhadap
layanan psikologi
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Kode Etik Psikologi

Kode etik psikologi merupakan ketentuan tertulis yang diharapkan


menjadi pedoman dalm bersikap dan berprilaku, serta pegangan teguh seluruh
Psikolog dan kelompok ilmuwn psikologi, dlm menjalankn aktivits profesinya
sesuai dengn kompetensi dn kewenangan masing-masing, guna menciptakan
kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera. Kode etik psikologi juga
merupakan hasil refleksi etis yang selalu lentur dalam mengakomodasikan dan
beradaptasi terhadap dinamika kehidupan masyarakat, sehingga nilai-nilai yang
terkandung didalamnya selalu mengacu pada kemuktahiran. Agar kepercayaan
masyarakat semakin menguat dalam menghargai profesi psikologi, maka
diperlukan kepastian jaminan perwujudan dari upaya peningkatan
kesejahteraan psikologi bagi seluruh umat manusia, yang tata nilainya dibuat
oleh komunitas psikologi.

Untuk maksud dan tujuan tersebut maka Himpunan Psikologi Indonesia


sebagai satu-satunya wadah komunitas psikologi di Indonesia, telah
menghimpun nilai-nilai moral yang hakiki dalam bentuk Kode Etik Psikologi
Indonesia yang difugsikn sebagai standar pengaturan diri (self regultion) bagi
Psikolog dan Ilmuwan Psikologi, dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat. Kode Etik Psikologi Indonesia, pada hakikatnya merupakan
kristalisasi di nilai moral yang bersifat universal, sehingga penyusunanya juga
memperhatikan kesepkatan International. Oleh karena itu, kandungan Kode
Etik ini tidk bertentangan dengan Kode Etik Orgnisasi Psikologi dari beberapa
negara. Dibuatnya buku Kode Etik Psikologi Indonesia merupakan hsil kongres
XI Himpsi 2010, sebagai pengganti Kode Etik hasil kongres VIII tahun 2000.

Kode Etik Psikologi Indonesia ini disusun secara terperinci sehingga sudah
merupakan satu kesatuan untuk dijadikan Pedoman Pelaksanaan Kegiatan
Profesional bagi Psikolog dan Ilmuwan Psikologi. Keberadaannya Kode etik
Psikologi Indonesia sudah mulai dirintis sejak Kongres I Ikatan Sarjana
Psikologi Indonesia tahun 1979, dan dievaluasi nilai kegunaannya sesuai
dengan perkembangan tuntutan kehidupan masyarakat Indonesia, melalui
Kongres II, III, IV, V, VI, VII Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia dan Kongres
VIII, IX, X dan XI Himpunan Psikologi Indonesia.
Kode etik oleh HIMPSI tahun 2010 terdiri dari total 14 BAB dan 80 pasal yang
menjadi dasar pelaksanaan praktik psikologi di Indonesia  Kode etik dibuat
sebagai garis batas yang mngatur setiap tindakan pada profesi.

2.2 Pelanggaran Kode Etik Psikologi


Aturan-aturan mengenai hak dan kewajiban Psikolog dan Ilmuwan
Psikologi tersebut juga sudah diatur secara jelas dalam kode etik Psikologi
Indonesia. Dalam kode etik Psikologi Indonesia juga dijelaskan tentang apa itu
jasa Psikologi, praktik Psikologi, pengguna jasa Psikologi, batasan keilmuan
Psikologi, tanggung jawab, dan juga aturan-aturan yang lain berkenaan dengan
profesionalitas mereka.
Namun, dalam kenyataanya, terkadang tidak semua Psikolog atau seorang
Ilmuwan Psikologi mematuhi kode etik tersebut. Pelanggaran terhadap kode
etik tersebut tentunya mempengaruhi profesionalitas kerja seorang psikolog
atau ilmuwan psikologi. Dalam Ethical Satandards of The American
Counselling Association (Gladding,2007) disebutkan bahwa seorang konselor
atau psikolog mempunyai tanggung jawab untuk membaca, memahami, dan
mengikuti kode etik dan standard kerja. Sedangkan di Indonesia sendiri, dalam
kode etiknya juga sudah diatur mengenai pelanggaran terhadap kode etik.
Yaitu dalam pasal 17 yang menyatakan bahwa “Setiap penyalahgunaan
wewenang di bidang keahlian psikologi dan setiap pelanggaran terhadap Kode
Etik Psikologi Indonesia dapat dikenakan sanksi organisasi oleh aparat
organisasi yang berwenang sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga Himpunan Psikologi Indonesia dan Pedoman
Pelaksanaan Kode Etik Psikologi Indonesia” (Kode Etik Psikologi
Indonesia,2000).
Namun, dalam kenyataannya, banyak ditemukan pelanggaran terhadap kode
etik yang dilakukan oleh seorang psikolog atatu ilmuwan psikologi. Salah
satunya adalah tentang malpraktek psikologi. Malpraktek merupakan praktek
psikologi yang jelek, salah dan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang
seharusnya dilakukan. Atau dapat juga dikatakan sebagai penyimpangan
terhadap praktek psikologi. Waringah (2011) dalam kuliahnya menjelaskan
bahwa sebab-sebab terjadinya malpraktek antara lain adalah penyimpangan alat
yang digunakan; penyimpangan prosedur yang digunakan; penyimpangan
penggunaan data atau hasil tes psikologi untuk keperluan pribadi; penyipangan
tujuan tes psikologis, penyimpangan hubungan konselor dan klien;
penyimpangan hak atau karya cipta alat-alat tes psikologis; penyimpangan
publikasi; penyimpangan dalam hubungan profesional; dan penyimpangan-
penyimpangan lain yang tidak sesuai dengan kode etik Psikologi Indonesia.
Namun, dalam kenyataannya, banyak ditemukan pelanggaran terhadap kode
etik yang dilakukan oleh seorang psikolog atatu ilmuwan psikologi. Salah
satunya adalah tentang malpraktek psikologi. Malpraktek merupakan praktek
psikologi yang jelek, salah dan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang
seharusnya dilakukan. Atau dapat juga dikatakan sebagai penyimpangan
terhadap praktek psikologi. Waringah (2011) dalam kuliahnya menjelaskan
bahwa sebab-sebab terjadinya malpraktek antara lain adalah penyimpangan alat
yang digunakan; penyimpangan prosedur yang digunakan; penyimpangan
penggunaan data atau hasil tes psikologi untuk keperluan pribadi; penyipangan
tujuan tes psikologis, penyimpangan hubungan konselor dan klien;
penyimpangan hak atau karya cipta alat-alat tes psikologis; penyimpangan
publikasi; penyimpangan dalam hubungan profesional; dan penyimpangan-
penyimpangan lain yang tidak sesuai dengan kode etik Psikologi Indonesia.
Salah satu contoh penyimpangan tersebut adalah adanya mahasiswa S1 yang
membuka praktek konseling. Menurut hasil survey dalam APA’s Annual
Convention tahun 2011 hmenemukan bahwa lebih dari 150
mahasiswa lulusan S1 psikologi telah melakukan layanan konseling on line.
Baik melalui Mysapce, Facebook, atau LinkedIn. Meskipun konseling tersebut
dilakukan secara on line namun hal itu tetap menyalahi kode etik Psikologi.
Selain itu, pelaksanaan konseling psikologi secara online juga dapat melanggar
hak privasi klien.
Di Indonesia sendiri, ketentuan mengenai hal tersebut telah diatur dalam
Pedoman Umum pasal 1 poin a dan b. Dalam kedua poin tersebut dijelaskan
bahwa yang seorang ilmuwan psikologi (lulusan S1 Psikologi) hanya berhak
memberikan jasa pelayanan psikologi dan tidak berwengan melakukan praktik
psikologi. Praktik tersebut termasuk memberikan memberikan jasa dan praktik
kepada masyarakat dalam pemecahan masalah psikologis yang bersifat
individual maupun kelompok dengan menerapkan prinsip psikodiagnostik.
Termasuk dalam pengertian praktik psikologi tersebut adalah terapan prinsip
psikologi yang berkaitan dengan melakukan kegiatan diagnosis, prognosis,
konseling, dan psikoterapi (Kode Etik Psikologi Indonesia,2000).
Contoh pelanggaran lain yang sering dilakukan oleh seornag peneliti atau
ilmuwan psikologi adalah penyimpangan publikasi. Yaitu salah satunya
tentang pengakuan hasil karya atau tulisan orang lain sebagai tulisan pribadi
atau disebut juga plagiat. Plagiarisme, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
diartikan sebagai tindakan/perbuatan yang mengambil, menyalin,
menduplikasi, dan sebagainya, karya oran lain dan menjadikannya karya
sendiri tanpa sepengatahuan atau izin sang pemiliknya. Untuk itu tindakan ini
digolongkan sebagai tindakan pidana, yaitu pencurian terhadap hasil karya/
kekayaan intelektual milik orang lain.
2.3 Bab IV Hubungan Manusia.

Pasal 18 Eksploitasi
Pasal 20 Informed Consent
Pasal 21 Layanan psikologi kepada dan/atau melalui organisasi
Pasal 22 pengalihan dan pemberhentian layanan psikologi
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di Kantin Kampus Universitas Trunojoyo
Madura, Jl. Raya Telang, Perumahan Telang Inda, Telang, Kamal, Kabupaten
Bangkalan.
3.2 Waktu Penelitian
Penelitian mengenai wawancara Kode Etik Psikologi Indonesia kepada dosen
Psikologi sekaligus Ilmuwan Psikologi ini dilakukan pada hari rabu tanggal 13
November 2019 tepat pukul 08.10 WIB.
3.3 Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Ini menggunakan metode
pendekatan dengan menggunakan suatu gambaran yang dibentuk sebagai hasil
analisa suatu permasalahan. Menurut Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007),
penelitian kualitatif didefinisikan sebagai sebuah prosedur penelitian yang
menghasilkandata deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-
orang dan perilaku yang diamati. Moleong menjelaskan dalam pendekatan
kualitatif deskripsif,data yang dikumpulkan adalah data yang berupa kata-kata,
gambar dan bukan angka-angka. Data tersebut bisa diperoleh dari hasil
wawancara,catatan pangan, video, foto, dan dokumentasi pribadi. Hasil
penelitian ini berupa informasi dri narasumber.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian hasil wawancara ini, teknik pengumpulan data menggunakan
wawancara semi terstruktur dimana sebelum wawancara sudah disiapkan
pertanyaan sebelumnya yang kemudian diajukan pertanyaan kepada
narasumber. Namun pada pelaksanaanya disesuaikan dengan keadaan
narasumber dalam artian pertanyaan bisa sewaktu-waktu berubah atau
pertanyaan tidak ada dalam panduan wawancara yang disusun sebelumnya.
BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN
4.1 Pelaksanaan Kegiatan
Waktu Kegiatan : Rabu, 13 November 2019
Tempat Kegiatan : Kantin kampus Universitas Trunojoyo Madura
Narasumber : Zaenal Abidin, M.Si
Daftar Riwayat :
- Nama Lengkap Zaenal Abidin, M.Si.
- TTL Malang, 05 Agustus 1974
- Alamat Perum. Graha Laksana 3. Blok H-4 Karang
Widoro, Dau Malang
- Pendidikan S1 UIN Malang
S2 Untag Jurusan PIO
S3 Unair PIO (sekarang)
4.2 Hasil
1. Perlunya melakukan informed consent
2. Solusi pada saat mendapat kendala saat melakukan informed consent
3. Penghentian layanan Psikologi
4. Eksploitasi
5. Dampak buruk eksploitasi bila dibiarkan
6. Pemberian layanan Psikologi oleh orang yang tidak berwenang

4.3 Pembahasan
1. Selama bapak melakukan penelitian, apakah bapak selalu menggunakan
informed consent kepada partisipan ?
Jawab : Informed consent itu persetujuan partisipan sebelum dilakukan
proses penelitian. Itu juga merupakan suatu hal yang penting, meskipun
saya bukan seorang psikologi yang faham betul mengenai kode etik
psikologi, tapi kalau bisa harus ada kontrak antar psikolog dan client /
prtisipan penelitian agar berjalan dengan baik dan tidak berhenti ditengah
jalan. Saya pribadi juga akan mewajibkan adanya kontrak yang disebut
sebagai informed consent ini.
2. Bagaimana jika pratisipan penelitian tidak bisa membaca dan menulis
atau memiliki kekurangan seperti tunawicara. Apa yang akan bapak
lakukan jika berhadapan dengan hal tersebut ?
Jawab: Ya jangan dijadikan informent ,yang bisa dijadikan penelitian
adalah yang bisa memberikan informasi. Untuk yang tidak bisa membaca
dan menulis kita bisa sebutkan item – itemnya lalu sesuaikan dengan
jawabanya, dan pertanyanpun harus dipahami klient. Tetapi bila pada
saat itu kita membutuhkanya sebagai subjek dalam penelitian, maka kita
bisa menggunakan metode lain yang sesuai untuk etap isa melakukan
informed consent seperti melalui rekaman suara.
3. Pernahkah bapak menemuhi penghentian layanan psikologi?
Jawab: itu tidak baik,karena sudah ada kontrak sebelumnya. Apalagi
yang memutuskan adalah psikolog nya. Kecuali jika psikolog tersebut
memberikan rekomendasi pada psikolog lain, mungkin dikarenakan
psikolog sakit,keluar kota atau hal penting lainnya.
4. Apa perbedaan antara penanganan antara organisasi dengan individu?
Jawab: yang dibutuhkan apa dulu, semua tergantung pada prinsipnya.
Siapa yang ingin diwawancarai. Tergantung pada fokusnya, sebenernya
sama saja.
5. Apakah bapak pernah menemui eksploitasi?
Jawab: Pasti ada, antara klient dan terapis kalau bisa saling menjaga
rahasia. Apalagi namanya disebut, tapi jika hanya inisial gapapa.
Prinsipnya kerahasiaan.
6. mengapa eksploitasi dilarang?
Jawab:karena secara hukum kan dilarang, termasuk pada pencemaran
nama baik.Tidak akan ada orang yang rahasinya mau di eksploitasikan
baik oleh psikolog ataupun ilmuwan psikologi.
7. Bagaimana tanggapan bapak mengenai pemberian layanan terhadap orang
yang dibidang keahliannya atau bukan kewenangannya. Dan bagaimana
caranya untuk menghenyikan hal tersebut agar tidak terjadi ?
Jawab : ya kita kembali kepada kode etik psikologi , hukuman pada
psilog yang melanggar kode etik adalah dimarjinalkan oleh
komunitasnya. Tapi, misalnya bukan psikolog, namun dia memiliki
kompetesi pada bidabang pkologi menurut saya boleh boleh saja. Harus
memiliki sertifikat di bidabg tersebut. Dan pastinya ada hukuman moral
dan sosial bagi pelanggar.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN