Anda di halaman 1dari 30

MIKROBIOLOGI INDUSTRI

DISUSUN OLEH :

ADINDA RAHMANITA P12345119002


FEBY MARYANA P12345119026
HANA ANGGITA P12345119034

KELAS 1 D III A
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA II


Jl. Hang Jebat III Blok F3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,
DKI Jakarta. 12120
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam yang berkat rahmat dan
karunia-Nya, memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan
makalah ini tepat waktu. Pada dasarnya, tujuan pembuatan makalah ini yang
berjudul “Mikrobiologi Industri” untuk memenuhi tugas mata kuliah
Mikrobiologi, serta untuk memperdalam mengenai materi tersebut.

Kami tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,
kami mengharapkan kritik serta saran dari dosen terkait dan pembaca untuk
makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik
lagi ataupun juga menjadi evaluasi agar kesalahan serupa tidak terjadi kembali di
kesempatan selanjutnya. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada
makalah ini kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya


kepada guru kami yang telah membimbing dalam menulis makalah ini serta
orangtua kami yang telah banyak memfasilitasi. Serta berterima kasih kepada para
anggota karna sudah berpartisipasi dan membantu dengan semangat dalam
pembuatan makalah ini sehingga pada akhirnya makalah ini terselesaikan sesuai
yang di harapkan.

Terakhir, kami selaku penyusun berharap dengan disusunnya makalah ini


dapat memberi manfaat dan wawasan ataupun referensi bagi banyak pihak.
Dengan penyampaian isi makalah yang singkat ini diharapkan dapat mudah
dipahami dan dapat membantu banyak pihak, terutama sesama mahasiswa/i
jurusan Kesehatan Lingkungan ataupun dari lainnya.

Jakarta, 3 Oktober 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………........... i
Daftar Isi……………………………...……………………………......…......... ii

BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang…………………………………………………….......... 1
1.2 Rumusan Masalah……………....……………………….………............ 1
1.3 Tujuan………………………………………....……............………....... 2

BAB II Pembahasan
2.1 Pengertian Mikrobiologi Industri .................................................................. 3
2.2 Mikroorganisme dalam Industri ....................................................................
2.2.1 Mikroorganisme dalam Industri Makanan .....................................
2.2.2 Mikroorganisme dalam Industri Minuman ....................................
2.2.3 Mikroorganisme dalam Industri Obat .............................................
2.3 Faktor yang Memengaruhi Mikroorganisme dalam Industri ........................
2.3.1 Faktor Abiotik ...............................................................................
2.3.2 Faktor-Faktor Biotik ......................................................................
2.4 Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Mikroorganisme dalam Industri ...

BAB III Penutup


3.1 Kesimpulan………………………………………………….......................
3.2 Saran……………………………………………………………….........…..

Daftar Pustaka………………………………………………......……......……….

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mikrobiologi adalah sebuah cabang dari ilmu biologi yang mempelajari
mikroorganisme. Objek kajiannya biasanya adalah semua makhluk hidup yang
perlu dilihat dengan mikroskop, khususnya bakteri, fungi, alga mikroskopik,
protozoa, dan Archaea. Virus sering juga dimasukkan walaupun sebenarnya tidak
sepenuhnya dapat dianggap sebagai makhluk hidup.Keseluruhan mikroorganisme
tersebut dapat memberi keuntungan ataupun kerugian.
Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan
baku, barang setengah jadi atau barang jadi menjadi barang yang bermutu tinggi
dalam penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan
industri. Dengan demikian, industri merupakan bagian dari proses produksi.
Mikroorganisme tidak selalu menimbulkan kerugian atau kerusakan.
Semakin berkembangnya zaman dan teknologi, semakin banyak penelitian dalam
bidang mikrobiologi yang kemudian menghasilkan banyak temuan-temuan baru
yang menemukan bahwa suatu mikroorganisme dapat dimanfaatkan dalam
pembuatan suatu produk industri yang bernilai ekonomis.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka disusunlah makalah ini yang
berjudul “Mikrobiologi Industri”.

1.2 Rumusan Masalah


1) Apakah yang dimaksud dengan Mikrobiologi Industri ?
2) Apa saja mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan
industri pangan dan pengobatan ?
3) Apa saja faktor yang dapat mempengaruhi mikroorganisme dalam
industri ?
4) Bagaimanakah kekurangan dan kelebihan penggunaan
mikroorganisme dalam kegiatan industri ?

1
1.3 Tujuan
1) Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan Mikrobiologi
Industri dan memahami konsep mikrobiologi industri.
2) Untuk mengetahui berbagai mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan
dalam kegiatan industri pangan dan pengobatan.
3) Untuk memahami faktor apa saja yang dapat mempengaruhi
mikroorganisme dalam industri.
4) Untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan penggunaan
mikroorganisme dalam kegiatan industri.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Mikrobiologi Industri


Mikrobiologi Industri adalah ilmu yang mempelajari pemanfaatan
mikroorganisme dalam proses atau kegiatan industri yang memproduksi suatu
produk yang bernilai ekonomis.
Jika mikroorganisme dari alam yang dibiakkan dapat dimanfaatkan dalam
penelitian yang menunjukkan pertumbuhan dan perkembangannya. Sedangkan
mikroorganisme industri merupakan organisme yang sengaja dipilih dengan
mempertimbangkan berbagai aspek sehingga akhirnya dapat membuat suatu
produk khusus. Mikroorganisme dalam kegiatan industri akan mampu merombak
bahan mentah lalu mengubahnya menjadi produk baru yang bermanfaat dan
bernilai jual.
Mikrobiologi industri juga mempelajari apa saja mikroorganisme yang
dapat dimanfaatkan untuk pembuatan suatu produk dan bagaimana karakteristik
serta kelebihan dan kekurangan mikroorganisme dalam pemanfaatannya bagi
suatu produk industri. Pemanfaatan mikroorganisme ini dapat dikategorikan juga
sebagai bioteknologi.

2.2 Mikroorganisme dalam Industri


Mikroorganisme tidak hanya bersifat merugikan, karena ada begitu banyak
mikroorganisme yang ternyata dapat memberi keuntungan dalam segi kesehatan
hingga segi ekonomis. Namun, tidak semua mikroorganisme dapat dimanfaatkan
dalam kegiatan industri. Pemanfaatan mikroorganisme dalam kegiatan industri
ditemukan dengan seiring berjalannya waktu dan banyaknya penelitian serta
pengembangan maupun teknologi dalam bidang mikrobiologi industri dan
pengkajian sifat dan karakteristik mikroorganisme.
Berikut beberapa jenis mikroorganisme dalam industri.

2.2.1 Mikroorganisme dalam Industri Makanan

3
Mikroorganisme dijadikan sebagai sumber makanan karena mikroorganisme
dapat tumbuh menjadi dua kali lipat juga massa mikroba minimal mengandung
40% protein, memiliki kandungan vitamin dan mineral yang tinggi. Beberapa
jenis mikroorganisme dalam produk makanan dan minuman adalah sebagai
berikut :
 Keju
Keju dadih sejati adalah massa susu fermentasi yang dipadatkan. Susu
biasanya dari sapi, namun susu kambing dan susu domba juga digunakan
sebagai bahan baku keju. Fermentasi dilakukan oleh bakteri yang
menghasilkan laktat dengan fermentasi laktosa (gula susu). Laktat
menghambat pertumbuhan organisme lain yang akan merusak makanan
atau menyebabkan penyakit. Dalam pembuatan keju, pada perlakuan awal,
2 spesies yang paling umum digunakan bakteri Lactobacillus casei dan
Streptococcus lactis.
Proses mengental selama pembuatan keju yang terjadi dalam kondisi
asam disebabkan oleh (asam laktat) laktat yang diekskresikan oleh bakteri.
Selama waktu pematangan keju, bakteri dalam dadih (curd) mati dan
dicerna oleh enzim mereka sendiri (suatu proses yang disebut dengan
otolisis). Ini mengeluarkan zat yang rasa keju. Bakteri yang menghasilkan
asam propionat bertanggung jawab atas rasa khas tersebut, dan karbon
dioksida bertanggung jawab atas ‘lubang-lubang’ yang terdapat pada keju.
 Mentega
Mentega atau disebut juga buttermilk dihasilkan dari susu skim atau
susu rendah lemak dengan bantuan bakteri asam laktat. Buttermilk
mempunyai karakteristik pada tekstur, rasa asam dan aroma. Tekstur
dihasilkan dari pemecahan dadih. Aroma dan rasa disebabkan oleh diasetil,
asetildehid dan produk metabolik lain dilepaskan oleh bakteri fermentasi.
Kultur yang digunakan untuk membuat buttermilk merupakan kultur asam
laktat yang terdiri dari Streptococcus cremoris, S.diacetylactis, dan
Leuconostoc cremoris. Jenis biakan bakteri pemula (starter culture)
berbeda diantara pabrikan (manufaktur) dan beberapa menggunakan

4
Lactobacillus bulgaricus untuk membuat butter milk Bulgaria. Produksi
asam dan pembentukan dadih dihasilkan oleh Streptococcus cremoris
sedangkan aroma dan rasa dihasilkan dari metabolisme dan multifikasi
oleh dua jenis bakteri yang lain yaitu : S.diacetylactis, dan Leuconostoc
cremoris
 Tempe
Tempe terbuat dari kedelai dengan bantuan jamur rhizopus sp.
Miselium dari kapang tersebut akan mengikat keping-keping biji kedelai
dan memfermentasikannya menjadi produk tempe. Jamur ini akan
mengubah protein kompleks kacang kedelai yang sukar dicerna menjadi
protein sederhana yang mudah dicerna. Proses fermentasi tersebut
menyebabkan terjadinya perubahan kimia pada protein, lemak, dan
karbohidrat
 Kecap
Kecap terbuat dari kacang kedelai berwarna hitam. Pada proses
fermentasi pembuatan kecap dengan menggunakan jamur aspergillus
wentii dan rhizopus sp. Jamur Aspergillus wentii dibiakkan pada kulit
gandum terlebih dahulu. Jamur Aspergillus wentii bersama-sama dengan
bakteri asam laktat yang tumbuh pada kedelai yang telah dimasak
menghancurkan campuran gandum. Kecap terbuat dari kacang kedelai
berwarna hitam. Setelah proses fermentasi karbohidrat berlangsung cukup
lama akhirnya akan dihasilkan produk kecap.

2.2.2 Mikroorganisme dalam Industri Minuman


 Yoghurt
Yoghurt merupakan minuman hasil kerjasama dengan
mikroorganisme. Tidak sembarangan mikroorganisme yang dapat
membantu proses pembuatan yogurt, terdapat dua bakteri utama yang
membantu proses fermentasi yogurt diantaranya adalan Streptococcus
thermophilus dan Lactobicillus bulgaricus. Pada dasarnya kerja kedua
bakteri ini yaitu menghasilkan asam laktat sehingga rasa dari yogurt

5
tersebut menjadi asam. Asam laktat ini dapat membantu menjaga
keseimbangan mikroflora pada usus. Tingkat keasaman yang dihasilkan
mampu menghambat bakteri penyebab penyakit yang pada umumnya tidak
tahan terhadap asam.
 Yakult
Yakult adalah minuman susu fermentasi, yang dibuat dengan cara
memfermentasi susu bubuk skim yang mengandung bakteri asam laktat
hidup Lactobacillus casei Shirota strain. Di dalam setiap botol Yakult
terdapat lebih dari 6,5 milyar bakteri L. Casei Shirota Strein yang mampu
melewati asam lambung dan cairan empedu sehingga dapat berperan
secara maksimal di dalam usus.
Proses pembuatan yakult adalah dengan cara memfermentasi
campuran susu bubuk skim dan glukosa menggunakan bakteri
Lactobacillus casei Shirota strain. Yakult dibuat dari bahan-bahan bakteri
Lactobacillus casei Shirota strain hidup, susu bubuk skim, sukrosa dan
glukosa, perisa, air, serta yakult ini tidak menggunakan bahan pengawet.

2.2.3 Mikroorganisme dalam Industri Obat


 Produksi Antibiotik
Menurut daya hambatnya terhadap mikroba, antibiotik digolongkan
menjadi bakteriostatik dan bakterisida. Bakteriostatik merupakan
antibiotik yang hanya mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme
sedangkan bakteriosida merupakan antibiotik yang dapat menyebabkan
kematian mikroorganisme.
Mikro organisme penghasil mikroba tersebar dalam berbagai
golongan, meliputi bakteri, actinomycetes, dan fungi. Dari ketiga golongan
tersebut, yang paling banyak menghasilkan antibiotik adalah golongan
actinomycetes, terutama Streptomyces yang mencapai 70% dari seluruh
antibiotik yang dihasilkan oleh mikro organisme. Disusul oleh fungi yang
mencapai 20% dan bakteri yang mencapai 10%.
 Produksi vaksin

6
Vaksin merupakan senyawa yang dihasilkan oleh suatu
mikroorganisme untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme
lain.Banyak ditemukan mikroorganisme yang mengandung substansi
dengan aktivitas antibiotik.Vaksin diproduksi oleh strain mutan patogen
virulen tanpa menghilangkan antigen yang diperlukan untuk menimbulkan
respons imun. Perkembangan bidang bioteknologi memungkinkan
produksi seluruh seluruh vaksin baru. Beberapa vaksin baru ini ditujukan
bagi target baru, dan beberapa lagi lebih efektif dan memiliki efek
samping lebih sedikit dibandingkan vaksin tradisional yang ada saat ini.
 Produksi vitamin dan Asama A mino
Vitamin merupakan faktor nutrisi esensial bagi manusia. Beberapa
vitamin dapat diproduksi melalui fermentasi mikroorganisme, dan
digunakan sebagai suplemen makanan. Misalnya vitamin B12 dapat
diproduksi sebagai produk samping pada fermentasi antibiotik oleh
Streptomyces. Vitamn B12 juga diperoleh dari fermentasi
Propionibacteriaum shermanii atau Paracoccus denitrificans.Riboflavin
dapat dihasilkan dari fermentasi berbagai macam mikrooganisme,
misalnya bakteri Clostridium dan fungi Eremothecium ashbyi atau Ashbya
gossypii.

2.3 Faktor yang Memengaruhi Mikroorganisme dalam Industri


Mikroorganisme yang dimanfaatkan dalam kegiatan industri tentunya
harus berkualitas baik dan terjaga maka dari itu harus diperhatikan pertumbuhan
dan perkembangan kehidupannya. Mikroorganisme memiliki karakteristik tertentu
sehingga pertumbuhan dan perkembangannya pun dipengaruhi oleh beberapa
faktor yang diantaranya adalah sebagai berikut.

2.3.1 Faktor Abiotik


Faktor abiotik adalah faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan yang
bersifat fisika dan kimia. Di antara faktor-faktor yang perlu di perhatikan

7
ialah suhu, pH, tekanan osmose, pengeringan, sinar gelombang pendek,
tegangan muka dan daya oligodinamik.
1) Suhu
Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya.
Suhu pertumbuhan suatu mikrobia dapat di bedakan dalam suhu
minimum, optimum dan maksimum. Berdasarkan atas perbedaan suhu
pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang psikhrofil, mesofil, dan
termofil. Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik
kematian termal (Thermal Death Point) dan waktu kematian termal
(Thermal Death Time) nya.
Daya tahan terhadap suhu itu tidak sama bagi tiap-tiap spesies. Ada
spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam
cairan medium pada suhu 60°C, sebaliknya, bakteri yang membentuk
spora seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap hidup setelah di
panasi dengan uap 100°C atau lebih selama kira-kira setengah jam. Untuk
sterilisali, maka syaratnya untuk membunuh setiap spesies untuk
membunuh setiap spesies bakteri ialah pemanasan selama 15 menit
dengan tekanan 15 pound serta suhu 121°C di dalam autoklaf.
Dalam cara menentukan daya tahan panas suatu spesies perlu di
perhatikan syarat-syarat sebagai berikut:
a) Berapa tinggi suhu.
b) Berapa lama spesies itu berada di dalam suhu tersebut.
c) Apakah pemanasan bakteri itu di lakukan di dalam keadaan kering
ataukah di dalam keadaan basah.
d) Beberapa pH dari medium tempat bakteri itu di panasi.
e) Sifat-sifat lain dari medium tempat bakteri itu di panasi.
Mengenai pengaruh basah dan kering ini dapat diterangkan sebagai
berikut. Di dalam keadaan basah, maka protein dari bakteri lebih cepat
menggumpal daripada di dalam keadaan kering, pada temperartur yang
sama. Berdasarkan ini, maka sterilisasi barang-barang gelas di dalam oven
kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121° C dan waktu

8
yang lebih lama daripada 15 menit. Sedikit perubahan pH menju ke asam
atau ke basa itu sangat berpengaruh kepada pemanasan. Berhubung dengan
ini, maka buah-buahan yang masam itu lebih mudah disterilisasikan
daripada sayur-sayur atau daging.
Untuk menentukan suhu maut bagi bakteri orang mengambil pedoman
sebagai berikut: Suhu maut (Thermal Death Point) ialah suhu yang
serendahrendahnya yang dapat membunuh bakteri yang berada di dalam
standard medium selama 10 menit. Ketentuan ini mencakup kelima syarat-
syarat tersebut diatas. Perlu diperhatikan kiranya, bahwa tidak semua
individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama pada suatu suhu tertentu.
Biasanya, individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain
terhadap suatu pemanasan, sehingga tepat jugalah bila kita katakan adanya
angka kematian pada suatu suhu (Thermal Death Rate). Sebaliknya jika
suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada perusahaan pengawetan
makanan atau dalam perusahaan susu, maka lamanya pemanasan
merupakan faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap dapatlah kita adakan
penentuan waktu maut (Thermal Death Rate). Biasanya standar suhu itu
diatas titik didih dan pemanasan setinggi ini perlu bagi pemusnahan
bakteri yang berspora. Umumnya bakteri lebih tahan suhu rendah daripada
suhu tinggi. Hanya beberapa spesies neiseria mati karena pendinginan
sampai 0° C dalam kedaan basah. Bakteri patogen yang bias hidup di
dalam tubuh hewan atau manusia dapat bertahan sampai beberapa bulan
pada suhu titik beku.
Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora, karena
spora sangat sedikit mengandung air. Pembekuan bakteri di dalam air lebih
cepat membunuh bakteri daripada kalau pembekuan itu di dalam buih,
buih tidak membeku sekeras air beku. Bahwa pembekuan air itu
menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi,
tentang efek yang lain misalnya secara kimia, kita belum tahu. Pembekuan
secara perlahan-lahan dalam suhu -16°C (es dicampur garam) lebih efektif
dari pada pembekuan secara mendadak dalam udara beku (-190° C). Juga

9
pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih efektif dari pada
pembekuan secara terusmenerus. Sebagai contoh, piaraan basil tipus mati
setelah dibekukan putus-putus dalam waktu 2 jam, sedang piaraan itu
dapat bertahan beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus.
Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi, maka seperti
halnya dengan mahluk-mahluk lain, mikrooganisme pun dapat bertahan di
dalam suatu batas-batas suhu tertentu. Batas-batas itu ialah suhu minimum
dan suhu maksimum, sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan hidup itu
disebut suhu optimum. Berdasarkan itu adalah tiga golongan bakteri, yaitu:
 Bakteri termofil (politermik), yaitu bakteri yang tumbuh dengan
baik sekali pada suhu setinggi 55° sampai 65°C, meskipun bakteri
ini juga dapat berbiak pada suhu lebih rendah atau lebih tinggi
daripada itu, yaitu dengan batas-batas 40°C sampai 80°C.
Golongan ini terutama terdapat didalam sumber air panas dan
tempat-tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55°C.
 Bakteri mesofil (mesotermik), yaitu bakteri yang hidup baik di
antara 5° dan 60°C, sedang suhu optimumnya ialah antara 25°
sampai 40°C, minimum 15°C dan maksimum di sekitar 55°C.
Umumnya hidup di dalam alat pencernaan, kadang-kadang ada
juga yang dapat hidup dengan baik pada suhu 40°C atau lebih.
 Bakteri psikrofil (oligotermik), yaitu bakteri yang dapat hidup di
antara 0° sampai 30°C, sedang suhu optimumnya antara 10°
sampai 20°C. Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-
tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan.
Pada tahun 1967 di Yellowstone Park di temukan bakteri yang hidup
dalam air yang panasnya 93-94° C dan pada tahun 1969 berapa spesies lagi
di tempat yang sama yang juga sangat termofil. Spesies-spesies itu di
tetapkan menjadi Thermus aquaticus, Bacillus caldolyticus dan Bacillus
caldotenax. Dalam praktek, batas-batas antara golongan-golongan itu
sukar di tentukan, juga di antara beberapa individu di dalam satu golongan
pun batas-batas suhu optimum itu sangat berbeda-beda. Bakteri termofil

10
agak menyulitkan pekerjaan pasteurisasi, karena pemanasan pada
pasteurisasi itu hanya sekitar 70° C saja, sedang pada suhu setinggi itu
spora-spora tidak mati. Spora bakteri termofil juga merepotkan perusahaan
pengawetan makanan. Selama bahan makanan di dalam kaleng itu di
simpan pada suhu yang rendah, spora-spora tidak akan tumbuh menjadi
bakteri. Akan tetapi, jika suhu sampai naik sedikit, besarlah bahaya akan
rusaknya makanan itu sebagai akibat dari pertumbuhan spora-spora
tersebut.
Sebaliknya, bakteri psikrofil dapat mengganggu makanan yang di
simpan terlalu lama di dalam lemari es. Golongan bakteri yang dapat hidup
pada bata-batas suhu yang sempit, misalnya, Gonococcus itu hanya dapat
hidup subur antara 30° C dan 40° C, jadi batas antara minimum dan
maksimum tidak terlampau besar, maka bakteri semacam itu kita sebut
stenotermik. Sebaliknya Escherichia coli tumbuh baik antara 8° C sampai
46° C, jadi beda antara minimum dan maksimum suhu di sini ada lebih
besar daripada yang di sebut di atas, maka Escherichia coli itu termasuk
golongan bakteri yang kita sebut euritermik. Pada umumnya dapat di
pastikan, bahwa suhu optimum itu lebih mendekati suhu maksimum
daripada suhu minimum.Hal ini nyata benar bagi Gonococcus dan
Escherichia coli, keduanya mempunyai optimum suhu 37 °C. Bakteri yang
dipliara di bawah suhu minimum atau sedikit di atas suhu maksimum itu
tidak segera mati, melainkan berada di dalam keadaan tidur (dormancy).
Suhu berpengaruh terhadap kinerja reaksi dalam mikroorganisme.
Kecepatan tumbuh pada suhu tinggi yang menurun tiba-tiba disebabkan
oleh denaturasi panas protein dan mungkin pula denaturasi struktur sel
seperti membran. Pada suhu maksimum untuk tumbuh maka reaksi yang
merusak menjadi sangat besar. Suhu itu biasanya hanya berapa derajat
lebih tinggi daripada suhu untuk kecepatan tumbuh maksimal, yang
dinamakan suhu optimum.
Dari pengaruh suhu pada kecepatan reaksi kimia, dapat diramalkan
bahwa semua bakteri dapat melanjutkan tumbuhnya (meskipun dengan

11
kecepatan yang makin lama makin lebih rendah) selama suhu diturunkan
sampai sistem itu membeku. Akan tetapi, kebanyakan bakteri berhenti
tumbuh pada suhu (suhu minimum untuk tumbuh ) jauh di atas titik beku
air. Setiap mikroorganisme mempunyai suhu yang tepat untuk
pertumbuhan, tetapi di bawah suhu ini pertumbuhan tidak terjadi betapa
pun lamanya masa inkubasi.
Nilai suhu kardinal menurut angka (minimum, optimum, dan
maksimum) dan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan, sangat
beragam pada bakteri. Beberapa bakteri yang diisolasi dari sumber air
panas dapat tumbuh pada suhu setinggi 95°C; yang diisolasi dari
lingkungan dingin, dapat tumbuh sampai suhu serendah –10°C jika
konsentrasi solut yang tinggi mencegah mediumnya menjadi beku.
Berdasarkan kisaran suhu untuk tumbuh, bakteri seringkali dibagi atas tiga
golongan besar: termofil, yang tumbuh pada suhu tinggi (diatas 55°C);
mesofil, yang tumbuh baik antara 20°C sampai 45°C dan psikrofil, yang
tumbuh baik pada 0°C.
Seperti juga dalam sistem klasifikasi biologis yang kerap kali benar,
terminologi ini menunjukan perbedaan yang lebih jelas di antara tipe-tipe
daripada yang di jumpai di alam. Klasifikasi reaksi suhu tiga pihak tidak
memperhitungkan seluruh variasi di antara bakteri berkenaan dengan
adanya perluasan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan.
Perbedaan dalam kisaran suhu di antara termofil kadang-kadang
dinyatakan dengan istilah stenotermofil (organisme yang tidak dapat
tumbuh di bawah 37 °C), dan euritermofil (organisme yang dapat tumbuh
di bawah 37 °C). psikrofil yang masih dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut
psikrofil fakultatif; dan yang tidak dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut
psikrofil obligat.
Garis dengan satu tanda panah menunjukkan batas suhu tumbuh untuk
paling sedikit satu galur spesies itu terdapat variasi di antara bermacam
galur beberapa spesies. Tanda dengan dua panah menunjukkan bahwa
pada batas suhu sebenarnya terletak di antara tanda panah tersebut. Garis

12
dengan titik-titik menunjukkan bahwa pertumbuhan minimum belum
ditentukan. Data yang menggambarkan kisaran suhu tumbuh berbagai
macam bakteri menunjukkan sifat termofil, mesofil, dan psikrofil yang
agak berubah-ubah.
Kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan itu berubah-ubah
seperti halnya suhu-suhu maksimum dan minimum. Kisaran suhu beberapa
bakteri kurang dari 10°C, sedangkan untuk lainnya dapat sampai 50°C.
Faktor yang menentukan batas suhu untuk tumbuh telah disingkapkan
oleh dua macam penelitian; perbandingan antara sifat organisme dengan
kisaran suhu yang sangat berbeda dan analisis sifat mutan yang peka
terhadap suhu, kisaran suhunya menjadi lebih sempit oleh perubahan satu
mutan. Ada dua macam mutan yang peka terhadap suhu; mutan peka
panas, dengan suhu tumbuh maksimum yang menurun dan mutan peka
dingin, dengan suhu tumbuh minimum yang menaik.
Studi mengenai kinetika denaturasi panas pada enzim dan struktur sel
yang berprotein (misalnya flagelum, ribosom) menunjukkan bahwa banyak
protein khusus pada bakteri termofil lebih tahan panas daripada protein
homolognya dari bakteri mesofil. Mungkin pula untuk mengira-ngirakan
ketahanan panas menyeluruh protein sel yang dapat larut, dengan
mengukur kecepatan protein di dalam ekstrak bakteri menjadi tidak larut
karena denaturasi panas pada beberapa suhu yang berbeda.Dengan jelas
menunjukkan bahwa pada hakekatnya semua protein bakteri termofilik
setelah perlakuan panas tetap pada tingkat asalnya yang sebenarnya
menghilangkan semua protein mesofil yang sekelompok. Karena itu
adaptasi mikroorganisme termofilik terhadap suhu di sekitarnya hanya
dapat dicapai dengan perubahan mutasional yang mempengaruhi struktur
utama kebanyakan (jika tidak semua) protein sel tersebut. Meskipun
adaptasi evalusionar yang menghasilkan termofil agaknya melibatkan
,mutasi yang meningkatkan ketahanan panas proteinnya , namun
kebanyakan mutasi yang berpengaruh pada struktur utama suatu protein
khusus ( misalnya enzin) mengurangi ketahanan panas protein tersebut,

13
walaupun banyak di antara mutasi ini mungkin berpengaruh sedikit atau
tidak sama sekali pada sifat-sifat katalitik. Akibatnya, dengan tidak adanya
seleksi tandingan oleh tantangan panas, maka suhu maksimum untuk
pertumbuhan mikroorganisme apa pun harus menurun secara berangsur-
angsur sebagai akibat mutasi acak yang berpengaruh pada struktur pertama
proteinnya. Kesimpulan ini ditunjang oleh pengamatan bahwa bakteri
psikrofilik yangdiisolasi dari air antartik mengandung sejumlah besar
protein yang luar biasa labilnya terhadap panas.
Pada suhu rendah, semua protein mengalami sedikit perubahan bentuk
yang dianggap berasal dari melemahnya ikatan hidrofobik yang memegang
peran penting dalam penentuan struktur tartier (berdimensi tiga). Semua
tipe ikatan lain pada protein menjadi lebih kuat bila suhu diturunkan.
Pentingnya bentuk yang tepat untuk fungsi sebenarnya protein alosterik
dan untuk perakitan sendiri protein ribosomal menjadi kedua kelas protein
ini teramat peka terhadap inaktivasi dingin. Oleh karen aitu, tidaklah
mengherankan bahwa mutasi yang menaikkan suhu minimum untuk
pertumbuhan biasanya terjadi di dalam gen yang menyandikan protein-
protein ini.
Susunan lipid pada hampir semua organisme, baik prokariota maupun
eukariota, berubah-ubah menurut suhu tumbuh. Bila suhu turun,
kandungan relatif asam lemak tidak jenuh didalam lipid selular meningkat.
Ilustrasi kejadian ini pada E. coli tampak pada perubahan dalam susunan
lemak ini adalah komponen penting daripada adaptasi suhu pada bakteri.
Titik cair lipid berhubungan langsung dengan asam lemak jenuh.
Akibatnya, derajat kejenuhan asam lemak pada lipid membran
menentukan derajat keadaan cairnya pada suhu tertentu. Karena fungsi
membran bergantung pada keadaan cair komponen lipid, dapatlah
dipahami bahwa pertumbuhan pada suhu rendah haruslah diikuti dengan
penambahan derajat ketidakjenuhan asam lemak.

2) Ph

14
Mikrobia dapat tumbuh baik pada daerah pH tertentu, misalnya untuk
bakteri pada pH 6,5 – 7,5; khamir pada pH 4,0 – 4,5 sedangkan jamur dan
aktinomisetes pada daerah pH yang luas. Setiap mikrobia mempunyai pH
minimum, optimum dan maksimum untuk pertumbuhanya. Berdasarkan
atas perbedaan daerah pH untuk pertumbuhanya dapat dibedakan mikrobia
yang asidofil, mesofil ( neutrofil ) dan alkalofil. Untuk menahan perubahan
dalam medium sering ditambahkan larutan bufer. pH optimum
pertumbuhan bagi kebanyakan bakteri antara 6,5 dan 7,5. Namun beberapa
spesies dapat tumbuh dalam keadaan sangat masam atau sangat alkalin,
bila bakteri di kuitivasi di dalam suatu medium yang mula-mula
disesuaikan pHnya misal 7 maka mungkin pH ini akan berubah sebagai
akibat adanya senyawa-senyawa asam atau basa yang dihasilkan selama
pertumbuhannya. Pergesaran pH ini dapat sedemikian besar sehingga
mengahambat pertumbuhan seterusnya organisme itu. Pergeseran pH dapat
dapat dicegah dengan menggunakan larutan penyangga dalam medium,
larutan penyangga adalah senyawa atau pasangan senyawa yang dapat
menahan perubahan pH.
Istilah pH pada suatu symbol untuk derajat keasaman atau alkanitas
suatu larutan; pH=log (1/[H+]) dengan [H+] sebagai konsentrasi ion
hydrogen. pH air suling ialah 7,0 (netral); cuka 2,25; sari tomat, 4,2; susu,
6,6; natrium bikarbonat (0,1N), 8,4; susu magnesia, 10,5.
Mikroorganisme yang asidofilik, yaitu jasad yang dapat tumbuh pada
pH antara 2,0-5,0.Mikroorganisme yang mesofilik (neutrofilik), yaitu jasad
yang dapat tumbuh pada pH antara 5,5-8,0.Mikroorganisme yang
alkalifilik, yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8,4-9,5
Suhu, lingkungan, gas dan pH adalah faktor-faktor fisik utama yang
harus dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum bagi
pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri. Beberapa kelompok bakteri
mempunyai persyaratan tambahan. Sebagai contoh, organisme
fotoautotrofik (fotosintetik) harus diberi sumber pencahayaan, karena
cahaya adalah sumber energinya. Pertumbuhan bakteri dapat dipengaruhi

15
oleh keadaan tekanan osmotik (tenaga atau tegangan yang terhimpun
ketika air berdifusi melalui suatu membran) atau tekanan hidrostatik
(tegangan zat alir). Bakteri tertentu yang disebut bakteri halofilik dan
dijumpai di air asin, wadah berisi garam, makanan yang diasin, air laut,
dan danau air asin, hanya tumbuh bila mediumnya mengandung
konsentrasi garam yang tinggi. Air laut mengandung 3,5 persen natrium
klorida; di danau air asin, konsentrasi natrium kloridanya dapat mencapai
25 persen. Mikroorganisme yang membutuhkan NaCl untuk
pertumbuhannya di sebut halofil obligat – mereka tidak akan tumbuh
kecuali bila konsentrasi garamnya tinggi, yang dapat tumbuh dalam larutan
natrium kloride tetapi tidak mensyaratkannya disebut halofil fakultatif –
mereka tumbuh dalam lingkungan berkonsentrasi garam tinggi atau
rendah. Ini menunjukkan adanya tanggapan terhadap tekanan osmotik.
Telah diisolasi bakteri dari parit-parit terdalam dilautan yang tekanan
hidrostatiknya mencapai ukuran ton meter persegi.

3) Kelembaban
Mikroorganisme mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada
umumnya untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban
yang tinggi diatas 85°C, sedangkan untuk jamur dan aktinomises
diperlukan kelembaban yang rendah dibawah 80°C. Kadar air bebas
didalam lautan (aw) merupakan nilai perbandingan antara tekanan uap air
larutan dengan tekanan uap air murni, atau 1/100 dari kelembaban relatif.
Nilai aw untuk bakteri pada umumnya terletak diantara 0,90 – 0,999
sedangkan untuk bakteri halofilik mendekati 0,75. Banyak
mikroorganisme yang tahan hidup didalam keadaan kering untuk waktu
yang lama seperti dalam bentuk spora, konidia, arthrospora, klamidospora
dan kista. Seperti halnya dalam pembekuan, proses pengeringan
protoplasma, menyebabkan kegiatan metaobolisme terhenti. Pengeringan
secara perlahan-lahan menyebabkan perusakan sel akibat pengaruh
tekanan osmosa dan pengaruh lainnya dengan naiknya kadar zat terlarut.

16
4) Tekanan osmosis
Pada umumnya mikrobia terhambat pertumbuhannya di dalam larutan
yang hipertonis. Karena sel-sel mikrobia dapat mengalami plasmolisa.
Didalam larutan yang hipotonis sel mengalami plasmoptisa yang dapat di
ikuti pecahnya sel. Beberapa mikrobia dapat menyesuaikan diri terhadap
tekanan osmose yang tinggi; tergantung pada larutanya dapat dibedakan
jasad osmofil dan halofil atau halodurik. Medium yang paling cocok bagi
kehidupan bakteri ialah medium yang isotonik terhadap isi sel bakteri. Jika
bakteri di tempatkan di dalam suatu larutan yang hipertonik terhadap isi
sel, maka bakteri akan mengalami plasmolisis. Larutan garam atau larutan
gula yang agak pekat mudah benar menyebabkan terjadinya plasmolisis
ini. Sebaliknya, bakteri yang ditempatkan di dalam air suling akan
kemasukan air sehingga dapat menyebabkan pecahnya bakteri, dengan
kata lain, bakteri dapat mengalami plasmoptisis. Berdasarkan inilah maka
pembuatan suspense bakteri dengan menggunakan air murni itu tidak kena,
yang digunakan seharusnyalah medium cair.Jika perubahan nilai osmosis
larutan medium tidak terjadi sekonyongkonyong, akan tetapi perlahan-
lahan sebagai akibat dari penguapan air, maka bakteri dapat menyesuaikan
diri, sehingga tidak terjadi plasmolisis secara mendadak.

5) Senyawa toksik
Ion-ion logam berat seperti Hg, Ag, Cu, Au, Zn, Li, dan Pb. Walaupun
pada kadar sangat rendah akan bersifat toksis terhadap mikroorganisme
karena ion-ion logam berat dapat bereaksi dengan gugusan senyawa sel.
Daya bunuh logam berat pada kadar rendah disebut daya ologodinamik.
Anion seperti sulfat tartratklorida, nitrat dan benzoat mempengaruhi
kegiatan fisiologi mikroorganisme. Karena adanya perbedaan sifat
fisiologi yang besar pada masing-masing mikroorganisme maka sifat
meracun dari anion tadi juga berbeda-beda. Sifat meracun alakali juga
berbeda-beda, tergantung pada jenis logamnya. Ada beberapa senyawa

17
asam organik seperti asam benzoat, asetat dan sorbet dapat digunakan
sebagai zat pengawet didalam industry bahan makanan. Sifat meracun ini
bukan disebabkan karena nilai pH, tetapi merupakan akibat langsung dari
molekul asam organik tersebut terhadap gugusan didalam sel.

6) Tegangan Muka
Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaannya akan
menyerupai membran yang elastis, sehingga dapat mempengaruhi
kehidupan mikroorganisme. Protoplasma mikroorganisme terdapat
didalam sel yang dilindungi dinding sel. Dengan adanya perubahan bahan
pada tegangan muka dinding sel, akan mempengaruhi permukaan
protoplasma, yang akibatnya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perubahan bentuk morfologinya. Bakteri yang hidup didalam alat
pencernaan dapat berkembangbiak didalam medium yang mempunyai
tegangan permukaan relatif rendah. Tetapi kebanyakan lebih menyukai
tegangan permukaan yang relatif tinggi.

7) Tekanan Hodrostatik dan Mekanik


Beberapa jenis mikroorganisme dapat hidup didalam samudra pasifik
dengan tekanan lebih dari 1208 kg tiap cm persegi, dan kelompok ini
disebut barofilik. Selain itu tekanan yang tinggi akan menyebabkan
meningkatnya beberapa reaksi kimia, sedang tekanan diatas 7500 kg tiap
cm persegi dapat menyebabkan denaturasi protein. Perubahan-perubahan
ini mempengaruhi proses biologi sel jasad hidup.

8) Kebasahan dan kekeringan


Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah, bahkan
dapat hidup di dalam air. Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak
dapat hidup subur; hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi
mereka. Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. Banyak
bakteri menemui ajalnya, jika kena udara kering. Meningococcus, yaitu

18
bakteri yang menyebabkan meningitis, itu mati dalam waktu kurang
daripada satu jam, jika digesekkan di atas kaca obyek. Sebaliknya,spora-
spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering.
Pada proses pengeringan, air akan menguap dari protoplasma.
Sehingga kegiatan metabolisme berhenti. Pengeringan dapat juga merusak
protoplasma dan mematikan sel. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan
dalam keadaan kering, misalnya mikrobia yang membentuk spora dan
dalam bentuk kista.
Bakteri yang ada dalam medium susu, gula, daging kering dapat
bertahan lebih lama daripada di dalam gesekan pada kaca obyek.
Demikian pula efek kekeringan kurang terasa, apabila bakteri berada di
dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering.
Pengeringan di dalam terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada
pengeringan di dalam gelap.Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau
suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-
beku.Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada
pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi
nitrogen. Oksidasi agaknya merupakan faktor-maut.

9) Sinar gelombang pendek


Sinar-sinar yang mempunyai panjang gelombang pendek (misalnya
sinar, sinar Ultra violet, sinar gama), mempunyai daya penetrasi yang
cukup besar terhadap mikribia. Sinar-sinar tersebut dapat menyebabkan
kematian. Perubahan genetik (mutasi) atau penghambatan pertumbuhan
mikrobia. Sinar-sinar tersebut banyak digunakan di dalam praktek
sterilisasi dan pengawetan bahan makanan. Kebanyakan bakteri tidak
dapat mengadakan fotosintesis, bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi
kehidupannya. Sinar yang nampak oleh mata kita, yaitu yang
bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ, tidak begitu berbahaya;
yang berbahaya ialah sinar yang lebih pendek gelombangnya, yaitu yang
bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m μ. Lampu air rasa banyak

19
memancarkan sinar bergelombang pendek ini. Lebih dekat, pengaruhnya
lebih buruk. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali, bakteri bahkan
dapat mati seketika, sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali
hanya pembiakannya sajalah yang terganggu. Spora-spora dan virus lebih
dapat bertahan terhadap sinar ultra-ungu. Sinar ultra-ungu biasa dipakai
untuk mensterilkan udara, air, plasma darah dan bermacam-macam bahan
lainya. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali
ketutupan benda-benda kecil, sehingga dapat terhindar dari pengaruh
penyinaran. Alangkah baiknya, jika kertas-kertas pembungkus makanan,
ruang-ruang penyimpan daging, ruang-ruang pertemuan, gedunggedung
bioskop dan sebagainya pada waktu-waktu tertentu dibersihkan dengan
penyinaran ultra-ungu. Sinar X dan sinar radium yang bergelombang lebih
pendek daripada sinar ultra-ungu juga dapat membunuh mikroorganisme,
akan tetapi memerlukan lebih banyak dosis daripada sinar ultra-ungu.
Bakteri yang disinari dengan sinar X kerap kali mengalami mutasi. Aliran
listrik tidak nampak berbahaya bagi kehidupan bakteri. Jika ada bakteri
yang mati karenanya, hal ini di sebabkan oleh panas atau oleh zat-zat yang
timbul di dalam medium sebagai akibat daripada arus listrik, seperti ozon
dan klor (chlor).

10) Daya oligodinamik


Ion-ion logam berat seperti Hg++ , Cu++ , Ag++ dan Pb++ pada kadar
yang sangat rendah bersifat toksis terhadap mikrobia. Karena ion-ion
tersebut dapat bereaksi dengan bagian-bagian penting dalam sel. Daya
bunuh logam-logam berat pada kadar yang sangat rendah ini di sebut daya
oligodinamik. Garam dari beberapa logam berat seperti air rasa dan perak
dalam jumlah yang kecil saja dapat membunuh bakteri, daya mana di sebut
oligodinamik. Hal ini mudah sekali di pertunjukkan dengan suatu
eksperimen. Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak
kulit, makan alatalat yang terbuat dari logam, dan lagipula mahal
harganya. Meskipun demikian, orang masih biasa menggunakan

20
merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Hanya untuk tubuh
manusia lazimnya kita pakai merkurokrom, metafen atau mertiolat.
Persenyawaan air rasa yang organic dapat pula dipergunakan untuk
membersihkan biji-bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur.
Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk menetesi selaput
lender, misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah
gonorhoea. Banyak juga orang yang mempergunakan persenyawaan perak
dan protein. Garam tembaga jarang dipakai sebagai bakterisida, akan tetapi
banyak digunakan untuk menyemprot tanamantanaman mematikan
tumbuhan ganggang dikolam-kolam renang.

11) Desinfektan
Pada umumnya bakteri muda itu kurang daya-tahannya terhadap
desinfektan daripada bakteri yang tua. Pekat encernya konsentrasi, lama
berada dibawah pengaruh desinfektan, merupakan faktor-faktor yang
masuk pertimbangan pula. Kenaikan suhu menambah daya desinfektan.
Selanjutnya, medium dapat juga menawar daya desinfektan. Susu, plasma
darah, dan zat-zat lain yang serupa protein sering melindungi bakteri
terhadap pengaruh desinfektan tertentu. Dalam menggunakan desinfektan
haruslah diperhatikan hal-hal tersebut dibawah ini. Apakah suatu
desinfektan tidak meracuni suatu jaringan, apakah ia tidak menyebabkan
rasa sakit, apakah ia tidak memakan logam, apakah ia dapat diminum,
apakah ia stabil, bagaimanakah baunya, bagaimanakah warnanya, apakah
ia mudah dihilangkan dari pakaian apabla desinfektan tersebut sampai
kena pakaian, dan apakah ia murah harganya. Faktor-faktor inilah yang
menyebabkan orang sulit untuk menilai suatu desinfektan. Zat-zat yang
dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas
garam-garam logam, fenol dan senyawa-senyawa lain yang sejenis,
formaldehida, alcohol, yodium, klor dan persenyawaan klor, zat warna,
detergen, sulfonamide, dan anti biotik.

21
2.3.2 Faktor-Faktor Biotik
Faktor-faktor biotik ialah faktor-faktor yang disebabkan jasad (mikrobia)
atau kegiatannya yang dapat mempengaruhi kegiatan (pertumbuhan) jasad
atau mikrobia lain. Faktor-faktor tersebut antara lain ialah adanya asosiasi
atau kehidupan bersama diantara jasad. Asosiasi dapat dalam bentuk
komensalisme, mutualisme, parasitisme, simbiose, sinergisme, antibiose dan
sintropisme.
1) Komensalisme, merupakan asosiasi yang sangat renggang, dimana salah
satu jenis mendapatkan keuntungan sedang lainnya tidak mendapat
keuntungan atau kerugian.
2) Mutualisme, merupakan bentuk assosiasi dimana masing-masing jenis
mendapat keuntungan. Sering simbiosis dipakai untuk menyatakan bentuk
assosiasi yang mutualistik, tetapi sekarang orang lebih banyak
menggunakan istilah mutualisme. Sebagai contoh mutualisme antara
bakteri Rhizobium dengan polong-polongan.
3) Parasitisme, merupakan bentuk assosiasi diantara parasit dengan jasad
inang. Jasad parasit yang obligat dapat merusak jasad inang dan pada
akhirnya memusnahkan. Keadaan ini akan dapat pula memusnahkan
(melenyapkan) parasitnya sendiri, karena jasad inang sebagai sumber
kehidupannya.
4) Simbiosis, merupakan asosiasi antara dua atau lebih jasad (mikrobia) di
mana satu jenis (spesies) di antara jasad yang berasosiasi tersebut
mendapat keuntungan, Sedangkan jasad yang lain mungkin mengalami
kerugian atau tidak, tergantung pada macamnya simbiose. Simbiose dapat
dibedakan tiga macam, ialah komensalisme, mutualisme, dan parasitisme.
5) Sinergisme, merupakan suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan
terjadinya suatu kemampuan untuk melakukan perubahan kimia tertentu
dalam suatu subtrat atau medium. Tanpa sinergisme masing-masing
mikkrobatidak mampu melakukan perubahan tersebut.
6) Antibiosis, disebut juga antagonisme atau amensalisme ialah suatu bentuk
asosiasi antara jasat (mikkroba) yang menyebabkan salah satu pihak

22
dalam asosiasi tersebut terbunuh. terhambat pertumbuhannya atau
mengalami gangguan-gangguan yang lain. Contohnya adanya
pembentukan toksindan sat-sat antibiotika oleh salah satu mikroorganisme
pada suatu asosiasi.
7) Sintropisme, disebut juga nutrisi bersama atau mutualnutrition ialah
bentuk asosiasi yang lebih komplek. Sebab biasanya terdiri atas berjenis-
jenis mikroorganisme yang satu dengan yang lainnyaakan saling
menstimulasi kegiatan {pertumbuhan}-nya misalnya mikrobia jenis
pertama akan menguraikan suatu subtrad yang hasilnya dapat digunakan
dan di uraikan oleh mikrobia jenis kedua dan yang hasil hasilnya dapat
digunakan oleh mikrobia jenis ketiga dan seterusnya yang hasil hasilnya
akhirnya dapat menstimulasi kegiatan mikrobia jenis pertama.

2.4 Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Mikroorganisme dalam


Industri
KELEBIHAN :
1. memiliki laju pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan
organisme tingkat tinggi, karena melewati waktu duplikasi 1 – 2 jam,
bahkan ada yang hanya ditempuh dalam waktu 20 menit atau kurang dari
satu hari.
2. tidak tergantung pada musim yang berlangsung, misalnya musim
penghujan dan musim kemarau, musim panas dan musim dingin, atau
musim semi dan musim gugur.
3. tidak menimbulkan masalah penanganan limbah.
KEKURANGAN :
1. mikroorganisme dapat menyebabkan penyakit bagi yang
mengkonsumsinya jika berlebihan, seperti penyakit diare.
2. mikroorganisme yg sulit dikendalikan akan menjadi suatu masalah baru
dimana dia akan berkembang biak lebih banyak dari yg diperlukan.

23
24
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Mikrobiologi industri merupakan suatu usaha memanfaatkan mikroba


sebagaikomponen untuk industri atau mengikut sertakan mikroba dalam proses,
yang bertujuanuntuk menghasil kan produk bernilai ekonomi dan bermanfaat.
Adapun kelebihan mikroorganisme sebagai bahan industri:
1. Mikroba tumbuh dengan cepat (dimana dalam waktu 20 – 30 menit
mikroba sudah dapat berkembang biak)
2. Tidak memerlukan lahan yang luas
3. Tidak dipengaruhi iklim, mudah dikendalikan
4. Secara genetic mikroba mudah dimodifikasi sesuai dengan kehendak
5. Mikroorganisme dapat tumbuh pada berbagai limbah yang memiliki nilai
ekonomirendah untuk diubah menjadi bahan dengan nilai ekonomi tinggi.
6. Dalam suatu reaksi, memang mesti harus menggunakan mikroba (tidak
dapat digantikanoleh zat kimia).

Adapun syarat-sarat mikroorganisme sebagai bahan industri:


1. Mempunyai produktifitas yang tinggi.
2. Berupa biakan murni yang telah diketahui sifat-sifatnya. Untuk menjaga
agar biakantetap murni dalam proses, maka kondisi lingkungan harus
dijaga steril.
3. Unggul. Pada kondisi fermentasi yang diberikan, mikroba harus mampu
menghasilkan perubahan-perubahan yang dikehendaki secara cepat dengan
produksi yang tinggi.
4. Stabil, Tidak mudah mengalami perubahan atau mutasi akibat perubahan
lingkungan.

25
5. Tidak pathogen, bagi manusia maupun binatang. Jika digunakan, mikroba
pathogenharus dijaga agar tidak menimbulkan akibat samping pada
lingkungan.

Contoh peran mikrobiologi industri, dalam industri pangan ada fermentasi tempe,
kombucha,nata de coco, dan yogurt. Dalam industri kimia ada industri asam
asetat, industri asam laktat,industri alkohol. Industri enzim, industri protein sel
tunggal. Industri produk kesehatanseperti, antibiotik, vaksin, insulin dan produk
darah.

3.2 Saran

1. Perlu perhatian yang lebih lagi dalam menjaga kebersihan makanan yang
kita makan, mengingat begitu sentral dan akibat apabila makanan tersebut
terdapat banyak mikroba yang dapat menyebabkan efek infeksi dan
keracunan makanan dalam tubuh kita. makanan sekali-kali jangan
dibiarkan berada pada suhu kamar yang akanme mungkinkan
mikroorganisme yang mengontaminasi berkembangbiak.
2. Perlunya penelitian-penelitian lebih lanjut tentang kehidupan
mikroorganisme yang bermanfaat dalam bidang menfermentasikan
makanan.

26
DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Mikrobiologi

https://id.wikipedia.org/wiki/Industri

Ali, Iqbal. 2008. Peran Mikroorganisme Dalam Kehidupan. (online).


http://iqbalali.com/2008/02/18/peran-mikroorganisme-dlm-kehidupan/ Diakses pada
tanggal 6 November 2014.

Aguskrisno. 2012. Pemanfaatan Mikroorganisme Bidang Pangan. (online) diakses pada


tanggal 6 November 2014.

http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2170350-peranan-
bakteri/#ixzz1d51HJchJ

http://www.scribd.com/doc/50896143/PERANAN-MIKROBIOLOGI-DI-BIDANG-FARMASI

27