Anda di halaman 1dari 3

1.

Paradigma

Paradigma adalah sekumpulan asumsi-asumsi dasar yang bersama-sama memberi definisi atau
menetapkan bagaimana caranya memberi konsep, studi mengumpulkan dan mengintrospeksikan
data, bahkan memikirkan tentang fakta maupun pokokk persoalan khusus.

1. Paradigma biologis
Memandang bahwa tingkah laku abnormal disebabkan oleh proses tubuh yang
menyimpang atau kerusakan orgaik, sehingga lebih memusatkan pada faktor-faktor
genetis dan biokimia.

Breen dan Maher menyatakan bahwa perilaku menyimpang adalah patologis dan
diklasifikasikan berdasarkan simptom, klasifikasi disebut diagnosis, sedangkan proses
yang dirancang untuk mengubah perilaku adalah terapi dan diterapkan pada pasien di
RSJ. Jika perilaku menyimpang berhenti, barulah pasien sembuh.

2. Paradigma psikodinamika

Teori psikodinamika adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan
kepribadian. Teori ini di dasarkan pada asumsi bahwa prilaku berasal dari gerakan dan
interaksi dalam fikiran manusia, kemudian pikiran merangsang prilaku dan keduanya
saling mempengaruhi dan di pengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Setiap tindakan kita
merupakan hasil interaksi dan pergerakan dalam fikiran kita.

Kunci utama untuk memahami manusia menurut paradigma psikodinamika adalah


mengenali semua sumber terjadinya prilaku, baik itu berupa dorongan yang di disadari
maupun yang tidak di sadari. Teori psikodinamika berangkat dari dua asumsi dasar.
Pertama, manusia adalah bagian dari dunia binatang. Kedua, manusia adalah bagian dari
sistem energi.

3. Paradigma behavioristik

Behaviorisme adalah teori yang berlandaskan pada prinsip stimulus-respon. Menurut


teori ini seluruh perilaku manusia muncul karena rangsangan eksternal. Tokoh yang
berkontribusi pada teori ini di antaranya adalah Ivan Pavlov. Dengan menggunakan teori
itu sebagai dasar pengelolaan kegiatan pembelajaran, peran utama pendidik sebagai
faktor eksternal harus memberikan rangsangan kepada siswa agar siswa mampu
merespon dengan baik serta meningkatkan perhatian atas apa yang harus dipelajarinya.
Guru juga berperan agar respon yang siswa berikan diarahkan pada prilaku yang guru
harapkan.

Tidak semua pakar sependapat dengan teori itu. Alasannya, respon dalam teori
behaviorisme hanya berlaku pada hewan. Secara faktual kekuatan pada diri manusia tidak
sesederhana itu. Manusia sebagai makhluk yang berakal dapat menunjukkan tingkat
aktivitas yang jauh lebih sempurna. Manusia dapat mengembangkan aktivitas pikirannya
jauh lebih kompleks. Manusia tidak hanya dapat merespon, namun dapat
mengembangkan potensi pikirannya tanpa ada stimulus dari luar dirinya sekalipun.
Manusia menunjukan kelebihannya sebagai konsekuensi dari proses berpikir atas akal
yang dimilikinya.

Sekali pun prilaku siswa menunjukan kompleksitasnya, namun perubahan perilaku siswa
dapat diamati terutama dari hasil belajarnya. Pandangan seperti ini muncul dari pihak
yang pro kognitivisme. Penganut kognitivisme mengibaratkan pikiran manusia seperti
komputer; mendapat input informasi, memproses informasi, dan menghasilkan outcomes
tertentu. Alur sistem ini selanjutnya dijadikan landasan dalam meningkatkan mutu
belajar.

Para ahli dari kelompok kognitif pada dasarnya berargumen bahwa “kotak gelap”
otak manusia itu harus dibuka dan dipahami. Para pembelajar dipandang sebagai prosesor
informasi dalam komputer. Oleh karena itu terdapat beberapa kata kunci dalam usaha
memahami kecakapan berpikir seperti : skema, pengolahan informasi, manipulasi simbol,
pemetaan informasi, penafsiran informasi, dan mental model.

Studi kognitivisme berfokus pada kegiatan batin atau mental, membuka kotak
gelap pikiran manusia agar dapat memahami bagaimana orang belajar. Proses mental
seperti berpikir, mengingat, mengetahui, memahami, memecahkan masalah perlu
dicermati dengan teliti. Pengetahuan dapat dipahami sebagai skema atau konstruksi
simbol-simbol mental. Belajar dipandang sebagai proses perubahan pada pikiran siswa.

4. Paradigma Kognitif
Menitik beratkan pada bagaimana orang menyesuaikan perhatian, bagaimana menyusun
pengalamannya, bagaimana pengertiannya terhadap hal yang ditangkap serta bagaimana
mengubah stimuli lingkungan kedalam informasi yang berguna, sehingga interpretasi
irasional merupakan faktor utama dalam abnormalitas.

5. Paradigma Phenomenologis (eksitential/humanistik)