Anda di halaman 1dari 27

BAB 1

KONSEP PENYAKIT

A. DEFINISI

Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding
rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut (Nettina, 2001 : 253).
Hernia adalah suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu rongga melalui lubang
(Oswari, 2000 : 216).
Mansjoer (2000) menyatakan, hernia merupakan suatu penonjolan isi perut dari
rongga yang normal melalui lubang kongenital atau didapat.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa hernia adalah ketidaknormalan
tubuh berupa tonjolan yang disebabkan karena kelemahan pada dinding otot abdomen,
dapat congenital maupun aquisita.

B. ETIOLOGI

1. Kongenital
Terjadi sejak lahir adanya defek pada suatu dinding rongga.
2. Didapat (akquisita)
Hernia ini didapat oleh suatu sebab yaitu umur, obesitas, kelemahan umum, lansia,
tekanan intra abdominal yang tinggi dan dalam waktu yang lama misalnya batuk kronis,
gangguan proses kencing, kehamilan, mengejan saat miksi, mengejan saat defekasi,
pekerjaan mengangkat benda berat (Mansjoer, Arif : 2000 : 314).

C. KLASIFIKASI

1. Berdasarkan terjadinya :
a. Hernia bawaan atau congenital
Hernia yang terdapat pada waktu lahir.
b. Hernia dapatan atau akuisita
Hernia yang disebabkan oleh pengangkatan benda berat atau strain atau cedera
berat.
2. Menurut letaknya
a. Hernia Diafragma
Herniasi struktur abdomen atau retroeritoneum ke dalam rongga dada.
b. Hernia Inguinal
Hernia lengkung usus ke dalam kanalis inguinalis.

1
c. Hernia Umbilikal
Sejenis hernia abdominalis dengan sebagian usus menonjol di umbilikus dan
ditutupi oleh kulit dan jaringan subkutan.
d. Hernia Femoral
Hernia gelung usus ke dalam kanalis femoralis.
e. Hernia Epigastrika
Hernia abdominalis melalui linea alba diatas umbilikus.
f. Hernia Lumbalis
Herniasi omentum atau usus di daerah pinggang melalui ruang lesshaft atau segitiga
lumbal.

3. Menurut sifatnya
a. Hernia Reponibel
Isi hernia dapat keluar masuk usus, keluar jika berdiri atau mengejan dan masuk lagi
jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala abstruksi
usus.
b. Hernia Irreponibel
Bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga. Ini biasanya
disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritonium kantong hernia.
c. Hernia Inkarserata
Isi kantong tertangkap tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai akibatnya
yang berupa gangguan pasage. Dapat juga diartikan hernia irreponible yang sudah
disertai dengan gejala ileus yaitu tidak dapat flatus. Jadi pada keadaan ini terjadi
obstruksi jalan makan.
d. Hernia Strangulata
Hernia irreponible dengan gangguan vaskulerisasi mulai dari bendungan sampai
nekrosis.
4. Hernia menurut terlihat atau tidaknya
a. Hernia Externa
Hernia yang menonjol keluar malalui dinding perut, pinggang atau perineum.
b. Hernia Interna
Tonjolan usus tanpa kantong hernia melalui suatu lubang dalam rongga perut seperti
foramen winslow, ressesus retrosekalis atau defek dapatan pada mesinterium.
Umpamanya setelah anatomi usus. (Syamsuhidayat, 1998:701)

2
D. PATOFISIOLOGI
Terjadinya hernia disebabkan oleh dua faktor yang pertama adalah faktor kongenital
yaitu kegagalan penutupan prosesus vaginalis pada waktu kehamilan yang dapat
menyebabkan masuknya isi rongga pertu melalui kanalis inguinalis, faktor yang kedua
adalah faktor yang dapat seperti hamil, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat dan
faktor usia, masuknya isi rongga perut melalui kanal ingunalis, jika cukup panjang maka
akan menonjol keluar dari anulus ingunalis ekstermus. Apabila hernia ini berlanjut tonjolan
akan sampai ke skrotum karena kanal inguinalis berisi tali sperma pada laki-laki, sehingga
menyebakan hernia.
Hernia ada yang dapat kembali secara spontan maupun manual juga ada yang tidak
dapat kembali secara spontan ataupun manual akibat terjadi perlengketan antara isi hernia
dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali.
Keadaan ini akan mengakibatkan kesulitan untuk berjalan atau berpindah sehingga
aktivitas akan terganggu. Jika terjadi penekanan terhadap cincin hernia maka isi hernia akan
mencekik sehingga terjadi hernia strangulate yang akan menimbulkan gejala illeus yaitu
gejala abstruksi usus sehingga menyebabkan peredaran darah terganggu yang akan
menyebabkan kurangnya suplai oksigen yang bisa menyebabkan Iskemik. Isi hernia ini akan
menjadi nekrosis. Kalau kantong hernia terdiri atas usus dapat terjadi perforasi yang akhirnya
dapat menimbulkan abses lokal atau prioritas jika terjadi hubungan dengan rongga perut.
Obstruksi usus juga menyebabkan penurunan peristaltik usus yang bisa menyebabkan
konstipasi. Pada keadaan strangulate akan timbul gejala illeus yaitu perut kembung, muntah
dan obstipasi pada strangulasi nyeri yang timbul lebih berat dan kontinyu, daerah benjolan
menjadi merah. (Manjoer, Arif, 2000 : 314 –315, Syamsuhidayat, 2002).

3
4
F. MANIFESTASI KLINIS
Pada umumnya, tanda dan gejala yang muncul pada anak dengan kasus hernia adalah
sebagai berikut :
1. Tampak benjolan di lipat paha.
2. Bila isinya terjepit akan menimbulkan perasaan sakit di tempat itu disertai perasaan
mual.
3. Bila terjadi hernia inguinalis stragulata perasaan sakit akan bertambah hebat serta kulit
di atasnya menjadi merah dan panas.
4. Hernia femoralis kecil mungkin berisi dinding kandung kencing sehingga
menimbulkan gejala sakit kencing (disuria) disertai hematuria (kencing darah)
disamping benjolan di bawah sela paha.
5. Hernia diafragmatika menimbulkan perasaan sakit di daerah perut disertai sasak nafas.
6. Bila pasien mengejan atas batuk maka benjolan hernia akan bertambah besar. (Oswari,
2000 : 218)

G. PENATALAKSANAAN
1. Dengan resposisi secara manual.
2. Dengan memakai sabuk hernia untuk penderita yang tidak memerlukan tindakan
bedah.

3. Herniografi (bedah perbaikan hernia) Adalah di seksi dari kantung hernia dan di
kembalikan pada susunan semua pada cavum abdomen.
4. Hernioplash adalah perbaikan pada jaringan yang lemah sehingga menguatkan dengan
kawat jalinan baju / tascia.
Pemberian analgesik pada hernia yang menyebabkan nyeri.

5
BAB 2
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Identitas Klien :
Hernia bisa terjadi pada anak, dewasa yang melakukan aktifitas berlebihan , melakukan
pengangkatan benda berat, yang terjadi pada anak usia 2-5 tahun.
2. Keluhan utama :
Nyeri dan ada benjolan di inguinal.
3. Riwayat penyakit sekarang :
Klien mengeluh nyeri, ada benjolan ,mual muntah.
4. Riwayat penyakit sebelumnya :
Wawancara di tunjukan untuk mengetahui penyakit yang di derita klien.
5. Riwayat psiko,sosio, dan spiritual :
Klien masih berhubungan dengan temannya dan bermain seperti biasanya, klien masih
dapat berkomunikasi dengan orang tuanya. Bagaimana dukungan keluarga dalam
keperawatan agar membantu dalam proses penyembuhan.

6. ADL
 Nutrisi.
Klien mengalami mual muntah.
 Aktivitas/istirahat
Gejala :
Sebelum MRS:
Pasien sering melakukan aktivitas yang berlebihan, sering melompat, ataupun terjatuh
dari ketinggian.
Sesudah MRS:
Membutuhkan papan/matras yang keras saat tidur.
Penurunan rentang gerak dan ekstremitas pada salah satu bagian  tubuh.
Tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.
Tanda :
Atrofi otot pada bagian tubuh yang terkena.
Gangguan dalam berjalan.
 Eliminasi.
Gejala :

6
Konstipasi, mengalami kesulitan dalam defekasi.
Adanya retensi urine.
 Istirahat tidur.
Penurunan kualitas tidur.
 Personal Higiane.
Penurunan kebersihan diri , ketergantungan.
 Integritas Ego
Gejala : ketakutan akan timbulnya paralisis, ansietas, masalah pekerjaan finansial
keluarga
Tanda :  tampak cemas, depresi, menghindar dari keluarga/orang terdekat
 Kenyamanan
Gejala : nyeri seperti tertusuk pisau, yang akan semakin memburuk dengan adanya
batuk, bersin, defekasi, nyeri yang tidak ada hentinya, nyeri yang menjalar ke kaki,
bokong, bahu/lengan, kaku pada leher.(Doenges, 1999 : 320-321)
7. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Lemah.
TTV =   TD : Normal / hipertensi (n: 120/80 mmHg).
              Suhu : Hipotermi (n: 36 o C- 37 o C).
              Nadi : Tachicardi (n: 80-120 x/mnt).
              RR : Normal / meningkat (n: 30-60 x/mnt).
 Kepala dan leher
Inspeksi : Ekspansi wajah menyeringai, merintih, menahan sakit.
Rambut : Lurus/keriting, distribusi merata/tidak, warna, Ketombe, kerontokan
Mata : Simetris / tidak, pupil isokhor, skelara merah muda, konjunctiva tdk anemis
Hidung : Terdapat mukus / tidak, pernafasan cuping hidung.
Telinga : Simetris, terdapat mukus / tidak,.
Bibir : Lembab,tidak ada stomatitis.
Palpasi : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan limfe pada leher.
 Dada :
Inspeksi   : Simetris,tidak terdapat tarikan otot bantu pernafasan
Palpasi      : Denyutan jantung teraba cepat, badan terasa panas, nyeri tekan(-)
Perkusi     : Jantung : Dullness
Auskultasi : Suara nafas normal.
 Abdomen
Inspeksi   : terdapat benjolan ingunalis
Palpasi     : Teraba massa, terdapat nyeri tekan pada daerah inguinalis
Perkusi     : dullnes
Auskultasi : Terdengar bising usus.(n= <5 per menit)

7
 Ekstremitas
Atas : simetris, tidak ada odem
Bawah : simetris, tidak ada odem

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
 Pre Op
1. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah
dan anoreksia
3. Ansietas berhubungan dengan defisiensi pengetahuan
 Pasca Op
1. Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan
2. Gangguan intregitas kulit berhubungan dengan luka insisi
3. Resiko infeksi berhubungan dengan invasi kuman
4. Konstipasi berhubungan dengan penurunan fungsi usus

8
C. INTERVENSI
Pre op
Dx. 1 : Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan nyeri
berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil :
 Dapat mengetahui tentang penyebab nyeri.
 Berpartisipasi dalam aktivitas/perilaku mengurangi nyeri.
 Menyatakan nyeri hilang/ terkontrol.
 Nyeri berkurang skala 1-2, menunjukkan dengan menurunnya ketegangan dan rileks,
TTV ( TD : 110/70-120/80 mmHg, N: 60-100x/menit, RR:16-24x/menit, S:36,5-37,5
‘C )
Intervensi :
1. Identifikasi karakteristik, lokasi, lama  nyeri (dengan skala 0-10).
Rasional : Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan penting untuk
memilih intervensi yang efektif.
2. Anjurkan klien istirahat ditempat  tidur.
Rasional : Istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri.
3. Atur posisi pasien senyaman mungkin.
Rasional : Posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta
mengurangi nyeri.
4. Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam.
Rasional : Relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman.
5. Kolaborasi untuk pemberian analgetik
Rasional : Analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih
nyaman.

Dx. 2 : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah
dan anoreksia
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkannutrisi pasien
terpenuhi.
Kriteria hasil :
 Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan lengkap.
 Mendemonstrasikan pemeliharaan/kemajuan peningkatan berat badan sesuai tujuan.
 Menyatakan kondisi tubuh membaik.

9
 Tidak mengalami tanda-tanda malnutrisi, dengan nilai laboratorium dalam
rentang  normal, berat badan meningkat, albumin (n:11.000-16.000gr/dl), turgor kulit
(n:<2 detik).
Intervensi :
1. Kaji kemampuan pasien untuk mengunyah, menelan, batuk, dan mengatasi sekresi.
Rasional : Faktor ini menentukan pemilihan terhadap jenis makanan sehingga pasien harus
terlindung dari aspirasi.
2. Timbang berat badan sesuai indikasi.
Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi
3. Jaga keamanan saat memberikan makan pada pasien.
Rasional : Menurunkan resiko regurgitasi dan terjadinya aspirasi
4. Berikan makan dalam jumlah kecil dan dalam waktu yang sering dengan teratur.
Rasional : Meningkatkan proses pencernaan dan toleransi pasien terhadap nutisi yang
diberikan dan dapat meningkatkan kerjasama pasien saat makan.
5. Tingkatkan kenyamanan, lingkungan yang santai termasuk sosialisasi saat makan.
Anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai pasien.
Rasional : Meskipun proses pemulihan pasien memerlukan bantuan makan dan
menggunakan alat bantu, sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat
meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makan.
6. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian nutrisi terhadap pasien.
Rasional : Merupakan sumber yang efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan kalori/nutrisi
tergantung pada usia, berat badan, ukuran tubuh, keadaan penyakit sekarang.

Dx. 3 : Ansietas berhubungan dengan defisiensi pengetahuan


Tujuan : mengurangi ansietas
Kriteria Hasil :
 Klien tidak menampakkan tanda-tanda gelisah
 Klien terlihat tenang
Intervensi :
1. Dengarkan dgn cermat apa yg dikatakan klien tentang penyakit dan tindakannya
Rasional : mendengar memungkinkan deteksi dan koreksi mengenai kesalahpahaman dan
kesalahan informasi
2. Berikan penjelasan singkat ttg organisme penyebab; sasarn penaganan; jadwal tindak
lanjut
Rasional : pengetahuan ttg diagnosa spesifik dan tindaka dapat meningkatkan kepatuhan
3. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya dan berdiskusi.
Rasional : pertanyaan klien menandakan masalah yg perlu diklarifikasi.

10
Pasca Op
Dx. 1 : Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan
Tujuan : Menunjukkan nyeri berkurang atau hilang.
Kriteria hasil : Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang, Pasien
dapat beristirahat dengan tenang.
Intervensi :
a. Kaji nyeri, catat lokasi intensitas (Skala 0-10)
Rasional : Membantu mengevaluasi derajat ketidaknyamanan dan keefektifan analgesic
atau dapat menyatakan terjadinya komplikasi.
b. Pantau tanda-tanda vital
Rasional : Respons autoromik meliputi perubahan pada TD, nasi dan pernafasan yang
berhubungan dengan keluhan / penghilangan nyeri.
c. Dorong Ambulasi diri
Rasional : Meningkatkan normalisasi fungsi organ contoh merangsang peristaltik dan
kelancaran flaktus.
d. Ajarkan teknik relaksasi dan Distraksi
Rasional : Meningkatkan istirahat, memusatkan kembali perhatian dapat meningkatkan
koping.
e. Kolaborasi Pemberian Obat Alagetik
Rasional : Memberikan penurunan nyeri hebat

Dx. 2 : Gangguan intregitas kulit berhubungan dengan luka insisi


Tujuan : Gangguan integritas kulit tidak terjadi.
Kriteria hasil : Menunjukkan penyembuhan luka cepat dan menunjukkan perilaku atau teknik
untuk meningkatkan penyembuhan, mencegah komplikasi.
Intervensi :
a. Lihat semua insisi.
Rasional : mencegah komplikasi
b. Evaluasi proses penyembuhan.
Rasional : mengetahui peningkatan penyembuhan.
c. Kaji ulang penyembuhan terhadap pasien
Rasional : menunjukkan penyembuhan luka.
d. Catat adanya distensi dan auskultasi peristaltik usus
Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltic usus merupakan tanda bahwa
fungsi defekasi hilang.

Dx. 3 : Resiko infeksi berhubungan dengan invasi kuman


Tujuan : Tidak terjadi infeksi

11
Kriteria Hasil : Tanda vital dalam batas normal, luka kering tidak ada pus.
Intervensi :
a. Pantau tanda-tanda vital
Rasional : Suhu malam hari memucak yang kembali ke normal pada pagi
hari adalah karakteristik infeksi.
b. Observasi penyatuan luka, karakter drainase, adanya inflamasi
Rasional : Perkembangan infeksi dapat memperlambat pemulihan
c. Pertahankan keperawatan luka aseptic
Rasional : Lindungi pasien dari kontaminasi selama pengantian
d. Pertahankan balutan kering
Rasional : Balutan basah bertindak sebagai sumbu penyerapan kontaminasi.
e. Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan sesuai indikasi
Rasional : Diberikan untuk mengatasi nyeri-nyeri.

Dx. 4 : Konstipasi berhubungan dengan peurunan peristaltik usus


Tujuan : Klien mempunyai pola eliminasi fekal yang normal
Kriteria hasil : mampu buang air besar dan bising usus normal.
Intervensi
a. Observasi adanya distensi, nyeri, dan pembatasan pasien dalam melakukan mobilisasi.
Sarankan klien untuk melakukan mobilisasi secara dini.
Rasional: gerak fisik miring kanan/kiri merangsang eliminasi usus dengan memperbaiki
tonus otot abdomen dan merangsang nafsu makan dan peristaltic usus.
b. Sarankan untuk makan makanan tinggi serat segera setelah peristaltic aktif kembali.
Rasional: diit seimbang tinggi serat merangsang peristaltic.
c. Sarankan klien minum banyak sesuai anjuran dokter.
Rasional: minum yang cukup perlu untuk mempertahankan pola BAB dan meningkatkan
konsistensi feses.

12
BAB 3
KASUS

Tn. B mengeluh nyeri di daerah inguinal dan ada benjolan di sana. Awalnya benjolan itu
dapat kembali masuk ke dalam. Namun benjolan itu akan muncul lagi terutama ketika Tn. B
sedang batuk atau bersin. Saat ini benjolan tersebut tidak dapat kembali masuk meskipun sudah
direposisi. Dokter mendiagnosis Tn. B mengalami hernia inguinalis.

I. IDENTITAS
1. Identitas Pasien
Nama : Tn. B
Umur : 55 tahun
No Reg : 054347
Jenis Kelamin : Laki-laki
Golongan Darah :-
Agama : Islam
Pekerjaan : Tani
Alamat : Tugurejo, Slahung, Ponorogo
Suku Bangsa : Indonesia
Pendidikan : SD
Diagnosa Medis : Hernia Inguinalis

2. Identitas Penanggung Jawab


Nama : Tn. S
Umur : 33 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Tani
Alamat : Tugurejo, Slahung, Ponorogo
Hubungan dengan Pasien : Anak Kandung

II. KELUHAN UTAMA


1. Keluhan Utama Saat MRS
Klien mengeluh nyeri didaerah inguinal dan terdapat benjolan disana

13
2. Keluhan Utama Saat Pengkajian
Saat dilakukan pengkajian keluarga klien mengatakan klien merasakan nyeri dan
benjolan tidak dapat kembali walau sudah dilakukan reposisi
III. DIAGNOSA MEDIS
Hernia Inguinalis

IV. RIWAYAT KESEHATAN

1. Riwayat Penyakit Sekarang


Klien mengatakan dia merasakan nyeri pada daerah inguinal dan terdapat benjolan.
Awalnya benjolan itu dapat kembali masuk ke dalam. Namun benjolan itu akan muncul
lagi terutama ketika Tn. B sedang batuk atau bersin. Saat ini benjolan tersebut tidak dapat
kembali masuk meskipun sudah direposisi.

2. Riwayat Kesehatan Yang Lalu


Keluarga klien mengatakan klien sering kerja berat.

3. Riwayat Kesehatan Keluarga


Keluarga klien mengatakan bahwa tidak ada anggota keluarganya yang menderita
penyakit yang sama dengannya.
V. RIWAYAT KEPERAWATAN KLIEN

1. Pola Aktifitas Sehari-hari (ADL)


 Nutrisi.
Klien mengalami mual muntah.
 Aktivitas/istirahat
Gejala :
Sebelum MRS:
Pasien sering melakukan aktivitas yang berlebihan, sering melompat, ataupun
terjatuh dari ketinggian.
Sesudah MRS:
Penurunan rentang gerak dan ekstremitas pada salah satu bagian  tubuh.
Tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.
Tanda :
Atrofi otot pada bagian tubuh yang terkena.
Gangguan dalam berjalan.
 Eliminasi.

14
Gejala :
Konstipasi, mengalami kesulitan dalam defekasi.
Adanya retensi urine.
 Istirahat tidur.
Penurunan kualitas tidur.
 Personal Higiane.
Penurunan kebersihan diri , ketergantungan.
 Integritas Ego
Gejala : ketakutan akan timbulnya paralisis, ansietas, masalah pekerjaan finansial
keluarga
Tanda :  tampak cemas, depresi, menghindar dari keluarga/orang terdekat
 Kenyamanan
Gejala : nyeri seperti tertusuk pisau, yang akan semakin memburuk dengan adanya
batuk, bersin, defekasi, nyeri yang tidak ada hentinya, nyeri yang menjalar ke kaki,
bokong, bahu/lengan, kaku pada leher.(

VI. PEMERIKSAAN FISIK


A. Keadaan Umum
Pasien tampak baik hanya anggota badan sebelah kiri mengalami kelemahan otot.
GCS E: 4, V:5, M:6
Kesadaran : Compos Mentis

B. Pemeriksaan Tanda-tanda Vital


SAAT SEBELUM SAKIT SAAT PENGKAJIAN
TD : 120/80 mmHg TD : 130/80 mmHg
S : 36’ C S : 36,4’ C
N : 75x/menit N : 80x/menit
RR : 20x/menit RR : 20x/menit

C. Pemeriksaan Wajah
Mata : bersih, tidak ada sekret
Hidung : tidak ada nyeri tekan, bersih, tidak ada polip.
Mukosa mulut : lembab
Lidah : lembab
Gigi : kurang terawat (belum sikat gigi selama di RS).

D. Pemeriksaan Kepala Dan Leher

15
Kepala : bersih, tidak ada luka, tidak ada nyeri tekan.
Leher : Inspeksi : leher simetris, tidak ada peradangan, tidak ada massa
Palpasi : tidak ada pembesaran vena jugularis.

E. Pemeriksaan Thoraks/dada
 Paru
Thorak : normal chest
Inspeksi : bentuk dada simetris, tidak ada retraksi intercostae, tidak sianosis
Palpasi : getaran normal
Perkusi : sonor
Auskultasi : suara nafas = vesikuler, tidak ada suara tambahan
 Jantung
Inspeksi : ictus cordis= di ICS 4,5
Palpasi : pulsasi teraba di ICS 4,5 mid klavikula sinistra
Perkusi : pekak
Auskultasi : suara jantung 1 dan suara jantung 2 tunggal.

F. Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : terdapat benjolan inguinalis
Auskultasi : BU = 6x/menit
Palpasi : Teraba massa, dan terdapat nyeri tekan pada daerah inguinal
Perkusi : dullness

G. Pemeriksaan Ektremitas
Inspeksi : tidak terdapat edema
Palpasi : tidak terdapat edema

Kekuatan otot :

5 4

5 4

16
ANALISA DATA

Nama : Tn. B
Umur : 55 tahun
No. Reg. : 054347

PRE OP
Tanggal/Jam
Kelompok Data Masalah/Problem Penyebab/Etiologi

01/02/2016 DS: Nyeri akut Pekerjaan berat,


10.00 Klien merasakan nyeri angkat berat
didaerah inguinal
DO: Penignkatan tekanan
Klien Nampak melindungi P: Terdapat intraabdominal
bagian inguinal benjolan didaerah
Klien Nampak menyeringai inguinall Fasia abdomen tidak
menahan mampu menahan
KU: Baik Q: Pasien nampak
GCS: E:4, V:5, M:6 menyeringai Fasia abdomen
TTV: menahan rasa nyeri. terkoyak
TD : 130/80 mmH Seperti tertusuk
S : 36,4’ C Hernia inguinal
N : 80x/menit R : berada di daerah
RR : 20x/menit inguinal Peningkatan isi
Kekuatan otot: abdomen(usus)
S : skala nyeri 6 memasuki kantong
5 4 hernia
T: nyeri muncul
5 4 saat batuk dan Peningkatan tekanan
bersin
Edema

Penekanan pembulluh
darah

Iskemia

DS: Klien menanyakan Kerusakan jaringan

17
kapan dilakukan operasi dan
bagaimana prosedurnya Nyeri akut

DO: Klien nampak tegang


dan takut Pekerjaan berat, angkat
01/02/2016 berat
KU: Baik
10.00
GCS: E:4, V:5, M:6
Penignkatan tekanan
TTV:
intraabdominal
TD : 130/80 mmH
S : 36,4’ C
Fasia abdomen tidak
N : 80x/menit
mampu menahan
RR : 20x/menit
Kekuatan otot:
Fasia abdomen
5 4
terkoyak

5 4
Hernia inguinal

Perubahan status
kesehatan

Kurang terpapar
pengetahuan
ansietas
Defisiensi pengetahuan

ansietas

18
POST OP

Tanggal/Jam
Kelompok Data Masalah/Problem Penyebab/Etiologi

03/02/2016 DS: Nyeri Pekerjaan berat,


10.00 klien mengatakan sedikit angkat berat
nyeri pada bekas operasi
DO: Penignkatan tekanan
Klien tampak menyerinagi intraabdominal
menahan sakit pada bekas
operasi Fasia abdomen tidak
KU: Baik mampu menahan
GCS: E:4, V:5, M:6
TTV: Fasia abdomen
TD : 130/90 mmH terkoyak
S : 36,6’ C
N : 80x/menit Hernia inguinal
RR : 20x/menit
Kekuatan otot: Pembedahan

5 4 Adanya luka insisi

5 4 Diskotinuitas jaringan

nyeri
DS:
03/02/2016 Resiko infeksi Pekerjaan berat, angkat
DO: terdapat luka insisi
10.00 bedah berat

KU: Baik
Penignkatan tekanan
GCS: E:4, V:5, M:6
intraabdominal
TTV:
TD : 130/80 mmH
Fasia abdomen tidak
S : 36,4’ C
mampu menahan
N : 80x/menit
RR : 20x/menit
Fasia abdomen

19
terkoyak

Hernia inguinal

Pembedahan

Adanya luka insisi

Perawatan luka yg
kurang

Invasi kuman

Resiko infeksi

DS:
03/02/2016 Gangguan intrgitas Pekerjaan berat, angkat
DO: terdapat luka insisi
10.00 kulit berat
bedah

KU: Baik
Penignkatan tekanan
GCS: E:4, V:5, M:6
intraabdominal
TTV:
TD : 130/80 mmH Fasia abdomen tidak
S : 36,4’ C mampu menahan
N : 80x/menit
RR : 20x/menit Fasia abdomen
terkoyak

Hernia inguinal

Pembedahan

Adanya luka insisi

Gangguan intrgitas
20
kulit

B. Diagnosa Keperawatan

 Pre Op
4. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan
5. Ansietas berhubungan dengan defisiensi pengetahuan
 Pasca Op
5. Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan
6. Gangguan intregitas kulit berhubungan dengan luka insisi
7. Resiko infeksi berhubungan dengan invasi kuman

C. Intervensi
Dx. 1 : Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan nyeri
berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil :
 Dapat mengetahui tentang penyebab nyeri.
 Berpartisipasi dalam aktivitas/perilaku mengurangi nyeri.
 Menyatakan nyeri hilang/ terkontrol.
 Nyeri berkurang skala 1-2, menunjukkan dengan menurunnya ketegangan dan rileks,
TTV (n:160/80 mmHg)
Intervensi :
6. Identifikasi karakteristik, lokasi, lama  nyeri (dengan skala 0-10).
Rasional : Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan penting untuk
memilih intervensi yang efektif.
7. Anjurkan klien istirahat ditempat  tidur.
Rasional : Istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri.

21
8. Atur posisi pasien senyaman mungkin.
Rasional : Posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta
mengurangi nyeri.
9. Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam.
Rasional : Relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman.
10. Kolaborasi untuk pemberian analgetik
Rasional : Analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih
nyaman.

Dx. 2 : Ansietas berhubungan dengan defisiensi pengetahuan


Tujuan : mengurangi ansietas
Kriteria Hasil :
 Klien tidak menampakkan tanda-tanda gelisah
 Klien terlihat tenang
Intervensi :
4. Dengarkan dgn cermat apa yg dikatakan klien tentang penyakit dan tindakannya
Rasional : mendengar memungkinkan deteksi dan koreksi mengenai kesalahpahaman
dan kesalahan informasi
5. Berikan penjelasan singkat ttg organisme penyebab; sasarn penaganan; jadwal tindak
lanjut
Rasional : pengetahuan ttg diagnosa spesifik dan tindaka dapat meningkatkan kepatuhan
6. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya dan berdiskusi.
Rasional : pertanyaan klien menandakan masalah yg perlu diklarifikasi.

Pasca Op
Dx. 1 : Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan
Tujuan : Menunjukkan nyeri berkurang atau hilang.
Kriteria hasil : Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang, Pasien
dapat beristirahat dengan tenang.
Intervensi :
f. Kaji nyeri, catat lokasi intensitas (Skala 0-10)
Rasional : Membantu mengevaluasi derajat ketidaknyamanan dan keefektifan
analgesic atau dapat menyatakan terjadinya komplikasi.
g. Pantau tanda-tanda vital

22
Rasional : Respons autoromik meliputi perubahan pada TD, nasi dan pernafasan
yang berhubungan dengan keluhan / penghilangan nyeri.
h. Dorong Ambulasi diri
Rasional : Meningkatkan normalisasi fungsi organ contoh merangsang peristaltik
dan kelancaran flaktus.
i. Ajarkan teknik relaksasi dan Distraksi
Rasional : Meningkatkan istirahat, memusatkan kembali perhatian dapat
meningkatkan koping.
j. Kolaborasi Pemberian Obat Alagetik
Rasional : Memberikan penurunan nyeri hebat

Dx. 2 : Gangguan intregitas kulit berhubungan dengan luka insisi


Tujuan : Gangguan integritas kulit tidak terjadi.
Kriteria hasil : Menunjukkan penyembuhan luka cepat dan menunjukkan perilaku atau
teknik untuk meningkatkan penyembuhan, mencegah komplikasi.
Intervensi :
a. Lihat semua insisi.
Rasional : mencegah komplikasi
b. Evaluasi proses penyembuhan.
Rasional : mengetahui peningkatan penyembuhan.
c. Kaji ulang penyembuhan terhadap pasien
Rasional : menunjukkan penyembuhan luka.
d. Catat adanya distensi dan auskultasi peristaltik usus
Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltic usus merupakan tanda bahwa
fungsi defekasi hilang.

Dx. 3 : Resiko infeksi berhubungan dengan invasi kuman


Tujuan : Tidak terjadi infeksi
Kriteria Hasil : Tanda vital dalam batas normal, luka kering tidak ada pus.
Intervensi :
a. Pantau tanda-tanda vital
Rasional : Suhu malam hari memucak yang kembali ke normal pada pagi
hari adalah karakteristik infeksi.
b. Observasi penyatuan luka, karakter drainase, adanya inflamasi

23
Rasional : Perkembangan infeksi dapat memperlambat pemulihan
c. Pertahankan keperawatan luka aseptic
Rasional : Lindungi pasien dari kontaminasi selama pengantian
d. Pertahankan balutan kering
Rasional : Balutan basah bertindak sebagai sumbu penyerapan kontaminasi.
e. Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan sesuai indikasi
Rasional : Diberikan untuk mengatasi nyeri-nyeri.

24
D. Evaluasi

Pre Op
TGL NO.DX SOAP TTD

5/2/2 1 S : klien mengatakan nyeri diatas selangkangan bagian kiri


016
O : klien terlihat menyeringai menahan sakit

A : nyeri akut

P : hentikan intervensi

5/02/ 2
2016 S : klien mengatkan takut dan cemas

O : wajah klien tegang, klien tampak membaca doa

A : cemas teratasi

P : hentikan intervensi

POST Op
TGL NO.DX SOAP TTD

5/2/2 1 S : klien mengatakan bagian inguinalnya nyeri


016
O : klien beberapa kali melihat bagian inguinal yang dioperasi

A : intervensi tercapai sebagian

P : lanjutkan intervensi perawatan luka setiap hari

5/02/ 2 S:-
2016
O : terdapat luka bekas jahitan di inguinal.

A : masalah belum teratasi

P : lanjutkan intervensi

Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan daerah luka

5/02/ 3 S: -
2016
O: terdapat luka bekas insisi

25
A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi

26
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan

pendokumentasian pasien, ed.3. EGC, Jakarta.

Mansjoer, Arief, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta: EGC

Nettina, S.M, 2001, Pedoman Praktik Keperawatan, EGC. Jakarta Oswari, E. 2000, Bedah

dan Perawatannya, FKUI. Jakarta.

Oswari, E. 2000. Bedah dan Perawatannya. Jakarta : FKUI.

Syamsuhidayat, et.al. 2002. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.

27