LAPORAN

KAJIAN KEBIJAKAN PERENCANAAN TENAGA KESEHATAN

DIREKTORAT KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT DEPUTI BIDANG SUMBER DAYA MANUSIA DAN KEBUDAYAAN BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL 2005

Tim Peneliti dan Penyusun Rekomendasi: Dedi M. Masykur Riyadi, Arum Atmawikarta; Dadang Rizki Ratman, Taufik Hanafi, Yosi Diani Tresna, Sularsono, Destri Handayani, Pungkas Bahjuri Ali, Khabib Mualim, Penulis Buku: Pungkas Bahjuri Ali, Dadang Rizki Ratman, Sularsono Tim Pendukung: Nurlaily Aprilianti; Erna Rosita Dikeluarkan oleh: Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas); Tahun 2005

2

PENGANTAR

Dokumen ini merupakan laporan kajian tentang Kebijakan Perencanaan Tenaga Kesehatan, yang dilakukan pada tahun 2005 di 7 propinsi dan meliputi 32 kabupaten/kota. Kajian ini dilakukan oleh Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas. Kajian ini dilakukan karena Bappenas memerlukan masukan tentang kebijakan tenaga kesehatan. Dengan mengetahui proses perencaaan kebutuhan, pendidikan dan pelatihan serta pendayagunaan tenaga kesehatan, diharapkan dapat memberikan masukan bagi Bappenas dan atau instansi pemerintah lainnya dalam mempertajam penyusunan kebijakan pembangunan kesehatan khususnya di bidang ketenagaan kesehatan di masa mendatang. Kami mengucapkan terimakasih kepada para nara sumber yaitu Bapak Abdurachman (Kepala Pusbangkes Depkes), Dedi Ruswendi (Kepala Biro Kepegawaian Depkes), Setiawan Soeparan (Kepala Pusdikanakes Depkes), dan Bapak Untung Suseno (Kepala Purat Perencanaan Tenaga Kesehatan Depkes) beserta staf, serta seluruh pihak yang telah membantu pengumpulan data. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada responden dan pihak-pihak yang membantu kami dalam memperoleh data, yaitu Depkes Pusat, Dinas Kesehatan di 7 propinsi, Dinas Kesehatan di 32 kabupaten/kota, Bappeda, Kepala Puskesmas dan seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas dan jaringannya. Laporan kajian ini masih jauh dari sempurna. Namun dari analisis yang dilakukan, sudah dirumuskan beberapa kesimpulan dan rekomendasi yang dapat digunakan untuk perbaikan kebijakan perencanaan tenaga kesehatan di masa yang akan datang. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk lebih menyempurnakan laporan kajian ini. Terima kasih.

Jakarta, Desember 2005 Tim Peneliti

3

PENGANTAR Kualitas pelayanan publik sangat ditentukan oleh sistem dan tenaga pelayanan. Ketenagaan pelayanan seringkali menghadapi kendala dalam hal jumlah, sebaran, mutu dan kualifikasi, sistem pengembangan karir, dan kesejahteraan tenaga pelaksana pelayanan. Permasalahan yang muncul dalam tataran mikro operasional memunculkan persepsi rendahnya kualitas pelayanan, yang berawal dari kesenjangan antara aturan dan standar yang ada dengan pelaksanaan pelayanan yang tidak dapat menerapkannya. Pemahaman terhadap kedaaan nyata yang dihadapi di lapangan sangat penting untuk menelaah kembali landasan kebijakan, aturan, dan standar untuk meningkatkjan kualitas pelayanan. Laporan ini menyampaikan hasil kajian mirko ketenagaan dalam pelayanan kesehatan publik di tingkat kabupaten/kota, kecamatan dan di unit pelayanan kesehatan masyarakat terdepan, puskesmas. Hasil kajian ini dipandang penting sebagai sumber informasi bagi pengambil keputusan untuk memahami permasalahan, mengatasinya dan sebagai sumber pembelajaran bagi pengambil keuputusan lainnya. Kajian menunjukkan antara lain terdapatnya kesenjangan (gap) antara kebijakan ketenagaan pemerintah pusat dengan implementasinya di daerah dan telaahan terhadap ragam upaya pemerintah kabupaten/kota mengatasi persoalan ketenagaan pelayanan publik yang mereka hadapi. Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, sudah pada tempatnya bila melihat ketenagaan pelayanan dalam kerangka keterkaitan sistem kesehatan nasional, sistem pendidikan nasional dan sistem lainnya. Pengelolaan ketenagaan kesehatan harus dilakukan dengan mempertimbangkan kaitannya dengan sistem pendidikan dan ketenagakerjaan secara menyeluruh. Sangat mungkin bahwa ketenagaan kesehatan yang dilaporkan pada buku ini merupakan gambaran persoalan serupa dalam ketenagaan di bidang lain sehingga jawaban pemecahan persoalan harus diupayakan secara menyeluruh terutama melalui telaahan di bidang ketenagakerjaan dan pendidikan. Semoga diagnosis yang dilakukan melalui kajian ini tepat dan dapat ditindaklanjuti dengan resep dan rekomendasi yang tepat pula. Diharapkan laporan kajian ini dapat menjadi masukan dan bahan berguna untuk pengembangan kebijakan implementatif dalam penagagan ketenagaan untuk meningkatkan pelayanan publik. Masukan dan saran perbaikan perbaikan kami nantikan. Terimakasih. Jakarta, Desember 2005 Deputi Men PPN Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan

Dedi M. Masykur Riyadi

4

ABSTRAK Kajian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan terutama di Puskesmas dan jaringannya, kebijakan perencanaan, pengadaan, penempatan dan pelatihan tenaga kesehatan beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kajian menggunakan desain cross sectional dan dilakukan di 7 propinsi, mencakup 32 kabupaten/kota dengan responden dinas kesehatan, kepala puskesmas dan tenaga kesehatan puskesmas. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, diskusi, FGD dan survei. Analisa univariate dilakukan untuk mengetahui kecenderungan sebaran dan statistik deskriptif. Secara umum perencanaan dilakukan untuk hampir semua jenis tenaga, walaupun lebih dari separuh kab/kota tidak menerapkan pedoman perencanaan yang ditetapkan, dengan alasan utama kurangnya sosialisasi. Kekurangan tenaga terjadi pada semua jenis tenaga kesehatan, dengan persentase tertinggi pada epidemiolog, teknis medis, rontgen, penyuluh kesehatan masyarakat dan dokter spesialis. Masalah utama ketenagaan adalah terbatasnya formasi dan kemampuan pendanaan, serta proses pengadaan dan penempatan yang kurang memuaskan. Ketenagaan di daerah tertinggal dan terpencil ditandai dengan rasio tenaga kesehatan per puskesmas yang lebih kecil, jangkauan desa terpencil yang lebih luas, dan proporsi pegawai PNS yang lebih sedikit, dukungan pustu dan polindes yang lebih sedikit, harapan terhadap insentif yang sangat tinggi, serta rencana kepindahan yang lebih tinggi. Jenis insentif yang paling diharapkan oleh petugas Puskesmas adalah gaji/tunjangan yang lebih baik, peningkatan karir, dan penyediaan fasilitas. Dalam hal perencanaan, kajian merekomendasikan sosialisasi yang lebih intensif tentang metode perencanaan. Dalam hal pengadaan, kebijakan nasional pengadaan dokter di Puskesmas yang masih banyak yang kosong perlu mendapat prioritas. Untuk meningkatkan tenaga kesehatan di kecamatan terpencil, perlu diperhatikan masalah insentif, fasilitas serta kemudahan karir. Peran serta pemda dalam ketenagaan kesehatan di Puskesmas lebih ditingkatkan lagi terutama pemberian insentif yang lebih baik, sehingga tenaga kesehatan di Puskesmas dapat bekerja lebih baik dan merasa betah bekerja di daerah.

5

.............................................................................................................................................................................................................................10 Tujuan dan Output ........................................................................................................................ Kesimpulan ....................................................................................................................................6 DAFTAR TABEL .....................................40 Distribusi Tenaga Kesehatan di Puskesmas di Kapasitas Fiskal Daerah ........................10 A.......................................................................... PENDAHULUAN ..............................23 A......... D.......................9 BAB I..............................................16 BAB III................. KEBIJAKAN UMUM KETENAGAAN KESEHATAN DI INONESIA.. Definisi Tenaga Kesehatan............ C..................................................................................................................................... E.......................5 DAFTAR ISI................... B..................................................................................................................... D.....................................................................................................................................................................................................................45 Pembinaan Karir Tenaga Kesehatan............................................................................. B...........................................................................................................................................................15 Ruang Lingkup Kegiatan .....52 A...........................................................................................55 6 .......................................18 Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan ...............................DAFTAR ISI PENGANTAR ... C.............................................................. G...52 Rekomendasi..............................11 Perumusan Masalah dan Pertanyaan Kajian........................................................... E...............23 Kebijakan Tenaga Kesehatan.. F.......................30 Distribusi Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Di Wilayah Tertinggal........ B.................................................... RUANG LINGKUP DAN METODOLOGI.................................................................53 DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ...................................................................................................................................................................................................................................20 BAB IV.......................................................3 ABSTRAK ......................13 BAB II....................................19 PendayagunaanTenaga Kesehatan ..........49 Peran Puskesmas Bagi Penduduk Miskin..................................................................18 A..................... Tempat dan Waktu Kajian ..................................................50 BAB V........................................................................................................................................................................................................................................... B................................47 Tanggapan Masyarakat........................................ C.......................... B........................................................................ ...........................15 Sampel dan Variabel Kajian....................................... D................................................................................7 DAFTAR SINGKATAN ................................ C................................15 Desain Kajian.........................................................11 Kerangka Konsep..............................18 Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan............................................................................... Latar Belakang .................................................................................................................................. D.......... HASIL DAN PEMBAHASAN............................................15 A......................... Kondisi Umum Tenaga Kesehatan Di Tingkat Nasional.........................15 Pengumpulan dan Analisa Data .......................

...............................5 Tabel 4................41 kab/kota tertinggal dan tidak tertinggal Tabel 4.....7 Tabel 4...47 Tabel 4...3 Tabel 4.20 Alasan Pindah Tenaga Kesehatan Puskesmas .........43 di Kecamatan Terpencil dan Tidak terpencil Tabel 4.............42 kecamatan terpencil dan tidak terpencil Tabel 4...16 Persentase tenaga kesehatan yang mengharapkan insentif ..................................1 Tabel 4.11 Perbandingan rasio tenaga kesehatan puskesmas menurut kategori ...16 Tenaga Kesehatan Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan Berdasarkan Kelompok .34 Lokasi kajian Masalah Utama Dalam Pengadaan Nakes di Kabupaten Tertinggal ......8 Tabel 4.......19 Persepsi Responden Tentang Latar Belakang Pendidikan ...............34 Antara usulan dengan ketersediaan Tenaga Kesehatan Kebutuhan dan Ketersediaan Tenaga Kesehatan di Kabupaten ......13 Persentase tenaga kesehatan Puskesmas yang mempunyai rencana.........36 Jenis kemampuan dan kompetensi profesi tenaga kesehatan ...........................19 Jenis Tenaga Kesehatan di Indonesia Tahun 2005 Jenis tenaga kesehatan dan rasio terhadap penduduk ....9 Daftar Lokasi (Sampel) Kajian Kebijakan Perencanaan ...........................15 Insentif yang diterima tenaga kesehatan dari Pemda menurut kapasitas................17 Alasan Rencana Kepindahan Tenaga Kesehatan di Puskesmas ..........................1 Tabel 3...46 fiskal daerah Tabel 4.....31 Persentase Kabupaten Kota yang merasakan Kesenjangan ....46 Tabel 4.........4 Tabel 4.....................2 Tabel 4.............24 Jenis...................................10 Perbandingan rasio tenaga kesehatan per puskesmas menurut kategori ........48 Jabatan Kepala Puskesmas Tabel 4....................1 Tabel 4.......................23 dibandingkan dengan sasaran Indonesia Sehat 2010 Rasio Tenaga Kesehatan Di Berbagai Negara.........................21 Insentif Yang Paling Banyak Diharapkan oleh Responden dari Pemda..28 Jumlah Staf Puskesmas Menurut Beban Kerja........47 Tabel 4...18 Frekwensi Pelatihan Yang Pernah Diikuti Responden............. Jumlah dan Rasio Ketenagaan Puskesmas Tahun 2004 (Nasional.....DAFTAR TABEL Tabel 2...35 dan Tak Tertinggal Kriteria Penempatan tenaga kesehatan di lokasi kajian................46 dan jenis insentif yang diharapkan Tabel 4.............39 Tabel 4.....................................48 7 .....14 Ketersediaan tenaga Puskesmas di daerah menurut kapasitas.......12 Perbandingan rata-rata distribusi tenaga dan fasilitas kesehatan .....45 pindah dan alasan kepindahannya Tabel 4.....................................41 Tabel 4..6 Tabel 4...........................

...........................................8 Hambatan Utama Dalam Perencanaan Kebutuhan ..1 Kerangka Sistem Kesehatan Nasional..........26 Gambar 4........4 Penyebaran Bidan per propinsi Tahun 2003-2004 ........12 Gambar 1.....................29 Gambar 4.....12 Gambar 4.....33 Tenaga Kesehatan di Daerah Penelitian yang telah menggunakan pedoman Gambar 4.3 Penyebaran Perawat per propinsi Tahun 2003-2004.............................26 Gambar 4........25 Gambar 4......10.............32 daerah kajian Gambar 4.....25 Gambar 4.........9 Persepsi Responden tentang ketersediaan tenaga kesehatan di Puskesmas .....2 Penyebaran Dokter Umum per propinsi Tahun 2003-2004.................................DAFTAR GAMBAR Gambar 1.............5 Rasio Dokter Umum Puskesmas dan RS per 100......000 penduduk..36 Gambar 4....................2 Kerangka konsep kajian................44 dan jenis insentif yang diharapkan menurut keterpencilan kecamatan 8 ...............24 Gambar 4................ ................................6 Rasio Dokter Umum terhadap Puskesmas menurut propinsi ........1 Penyebaran Dokter Spesialis per propinsi Tahun 2003-2004..........Persentase tenaga kesehatan yang mengharapkan peningkatan insentif ....................7 Alasan tidak dilaksanakannya SK Menkes No...... 81 Tahun 2004 pada ......

DAFTAR SINGKATAN AKABA AKB AKI ASKES BKD BPS CPNS DRG DSP GAKY INPRES IDI IBI ISFI JPSBK KESLING KIA KS MDGs PDGI PERSAGI PERMENKES PKPS-BBM PNS PPNI POLTEKES POLINDES POSYANDU PTT PUSKESMAS PUSTU RPJM RS SDKI SKM SKN SKRT SMAK SMF SPK SPRG SPSS SUSENAS WHO WISN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Angka Kematian Balita Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Asuransi Kesehatan Badan Kepegawaian Daerah Badan Pusat Statistik Calon Pegawai Negeri Sipil Dokter Gigi Daftar Susunan Pegawai Gangguan Akibat Kurang Yodium Instruksi Presiden Ikatan Dokter Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan Kesehatan Lingkungan Kesehatan Ibu dan Anak Kartu Sehat Millenium Development Goals Persatuan Dokter Gigi Indonesia Persatuan Ahli Gizi Indonesia Peraturan Menteri Kesehatan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Pegawai Negeri Sipil Persatuan Perawat Nasional Indonesia Politeknik Kesehatan Pondok Bersalin Desa Pos Pelayanan Terpadu Pegawai Tidak Tetap Pusat Kesehatan Msyarakat Puskesmas Pembantu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rumah Sakit Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Sarjana Kesehatan Masyarakat Sistem Kesehatan Nasional Survei Kesehatan Rumah Tangga Sekolah Menengah Analis Kimia Sekolah Menengah Farmasi Sekolah Perawat Kesehatan Sekolah Pengatur Rawat Gigi Statistic Programme for the Social Science Survai Sosial Ekonomi Nasional World Health Organization Work Load Indicator Staff Need 9 .

dan angka kematian ibu (AKI) melahirkan menurun dari 450 per 100. 2004). dan prevalensi GAKY pada anak sekolah sebesar 11. angka kematian balita (AKABA) menurun dari 216 per 1. (4) menghentikan penyebaran penyakit HIV/AIDS. telah menurun dari 37. Dalam system kesehatan itu sendiri. dan sosial). Indikator kesehatan dan gizi yang telah dicapai selama ini masih jauh dari sasaran yang telah ditargetkan dalam Millennium Development Goals (MDGs).000 kelahiran hidup (2002-2003). PENDAHULUAN A. dan pelayanan kesehatan. Berbagai faktor atau determinan yang mempengaruhi derajat kesehatan antara lain adalah lingkungan (fisik. Walaupun telah menunjukan berbagai perbaikan.000 kelahiran hidup (1960) menjadi 35 per 1. Selain itu. dan (6) meningkatkan akses terhadap obat esensial (Bappenas. faktor genetis.000 kelahiran hidup (2002-2003). dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal yang ditandai oleh penduduknya berperilaku sehat dan dalam lingkungan sehat. Hal ini dapat dilihat dari berbagai indikator kesehatan masyarakat antara lain meningkatnya umur harapan hidup. (2) mengurangi dua per tiga angka kematian bayi dan angka kematian balita. Beberapa target MDG yang ingin dicapai pada akhir tahun 2015. menurunnya angka kematian ibu melahirkan. menurut Sistem Kesehatan Nasional (Depkes. Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran. kota-desa.1 persen (2003).BAB I.6 persen. dan tingkat sosial ekonomi. status kesehatan dan gizi masyarakat Indonesia masih tertinggal. Derajat kesehatan masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu menunjukkan perbaikan. Usia harapan hidup meningkat dari 45 (1967b) menjadi 66. angka kematian bayi (AKB) menurun dari 128 per 1.5 persen tahun 1989 menjadi 25. serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia (Indonesia Sehat 2010).3 persen dan balita yang kurus (wasting) sebesar 16. paling tidak terdapat enam subsistem yang turut menentukan 10 . kemauan. Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan anak balita yang pendek (stunting) sekitar 34. Prevalensi gizi kurang (underweight) pada balita. malaria dan penyakit menular lainnya. perilaku dan gaya hidup.2 tahun (2001). 2002). (5) mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air bersih yang aman dan sanitasi dasar.000 kelahiran hidup (2002-2003). MDG merupakan suatu kesepakatan global. menurunnya angka kematian bayi dan anak balita. jika dibandingkan dengan negaranegara tetangga. (3) mengurangi tiga per empat angka kematian ibu.8 persen tahun 2002. biologik. dan menurunnya prevalesi gizi kurang pada anak balita. sebagai “benchmarks” untuk mengukur perkembangan dalam pencapaian Deklarasi Millenium 2000. Prevalensi anemia gizi besi pada ibu hamil masih tinggi yaitu sekitar 45 persen (2003).000 kelahiran hidup (1986) menjadi 307 per 100. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata.000 kelahiran hidup (1960) menjadi 46 per 1. yang mempunyai pengaruh langsung pada derajat kesehatan di Indonesia antara lain adalah: (1) mengurangi prevalensi gizi kurang dan meningkatkan konsumsi kalori. terjadi disparitas yang cukup mencolok antar wilayah.

C. terdistribusi secara adil. pemberdayaan masyarakat. pembiayaan kesehatan. 11 . 2004). Dalam subsistem SDM kesehatan. yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melakukan upaya kesehatan. serta termanfaatkan secara berhasil-guna dan berdayaguna. Tujuan dan Output Tujuan utama kajian ini adalah untuk mengetahui jumlah.kinerja sistem kesehatan nasional yaitu subsistem upaya kesehatan. obat dan perbekalan kesehatan. Keluaran (output) kajian kebijakan perencanaan bidang kesehatan antara lain meliputi: (1) Tersedianya profil tenaga kesehatan terutama di Puskesmas berdasarkan wilayah geografis dan sosial ekonomi. dan manajemen kesehatan. untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya (Depkes. sistem ekonomi. dan manajemen kesehatan. Sistem kesehatan terdiri dari 6 subsistem yang satu sama lain saling berkaitan yaitu subsistem upaya kesehatan. Sistem kesehatan dipengaruhi oleh berbagai sistem lain di luar sistem kesehatan seperti sistem pendidikan. mutu dan penyebaran tenaga kesehatan terutama di Puskesmas dan jaringannya serta faktor-faktor yang mempengaruhinya dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat termasuk penduduk miskin. B. Subsistem SDM kesehatan bertujuan pada tersedianya tenaga kesehatan yang bermutu secara mencukupi. tenaga kesehatan merupakan unsure utama yang mendukung subsistem kesehatan lainnya. mutu dan penyebaran ketenagaan kesehatan di Puskemas dan jaringannya sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan. pembiayaan kesehatan. Derajat kesehatan masyarakat ditentukan sistem kesehatan yang dilaksanakan. sistem lingkungan dan sebagainya. dan (2) Tersusunnya rekomendasi kebijakan jumlah. sumber daya manusia (SDM) kesehatan. obat dan perbekalan kesehatan. Yang dimaksud dengan tenaga kesehatan adalah semua orang yang bekerja secara aktif dan profesional di bidang kesehatan. pemberdayaan masyarakat. sumberdaya manusia (SDM) kesehatan. dibawah ini digambarkan kerangka keterkaitan berbagai subsitem dalam SKN. Kerangka Konsep Untuk memberi gambaran secara ringkas tentang peran subsistem tenaga kesehatan dalam sistem kesehatan nasional (SKN).

Distribusi merata .2 dibawah ini dijelaskan kerangka konsep kajian.Pelatihan .Rekrutmen & Penempatan .1 Kerangka Sistem Kesehatan Nasional • Status Kesehatan • Responsiveness Subsistem Upaya Kesehatan Subsistem SDM Kesehatan Pemberdayaan Masyarakat Sumberdaya Obat dan Perbekalan Kesehatan Manajemen Kesehatan Output Tingkat Kesehatan Responsiveness Pembiayaan Kesehatan Distribusi Biaya Adaptasi dari SKN 2004 Dalam kajian fokus pembahasan akan diarahkan terhadap subsistem SDM kesehatan. serta pendayagunaan kesehatan. bahasan akan lebih diarahkan pada ketenagaan di Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dasar pada strata pertama.Terdapat tiga unsur pokok dalam subsistem SDM kesehatan yaitu perencanaan.Kompetensi kurang . pendidikan dan pelatihan.Sistem Insentif Kondisi yang diharapkan .Pengembangan profesi belum baik Kebijakan Kab/Kota: .Pendayagunaan Kondisi saat ini .2 Kerangka Konsep Kajian Kebijakan Depkes: .Diklat .Jumlah belum memadai .Pengembangan profesi berjalan dengan baik Pelayanan Kesehatan Lebih Baik Faktor Lingkungan Strategis Desentralisasi Geografis Kemampuan Fiskal Status Kesehatan Meningkat 12 .Proses Perencanaan .Berkualitas/Kompeten .Jumlah & Jenis tenaga terpenuhi . Gambar 1.Perencanaan .Outcome Gambar 1. Karena luasnya ruang lingkup ketenagaan.Distribusi tidak merata . Pada Gambar 1.

dokter gizi. Terdapat tiga fungsi utama puskesmas yaitu sebagai: (1) pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan. (2) pusat pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. terendah di Maluku (7. Sebagian besar tenaga dokter (69%) bekerja disektor pemerintah. Pada tahun 2003 sekitar 10. puskesmas merupakan ujung tombak penyelenggara pelayanan kesehatan strata pertama. menunjukkan fasilitas kesehatan yang relatif banyak dimanfaatkan penduduk untuk berobat jalan adalah Puskesmas/Pustu (37.39%) dan praktek petugas kesehatan(18. rata-rata jumlah dokter per 100. Kompetensi tenaga kesehatan belum sesuai dengan kompetensi yang diharapakan apalagi jika dibandingkan dengan standar internasional. dan kualitasnya meningkat serta pengembangan profesi yang tertata. Dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.26 %). terendah di Provinsi Maluku (17. Pengembangan organisasi profesi di bidang kesehatan sebagai mitra pemerintah dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kesehatan belum berjalan dengan baik. registrasi dan lisensi belum berjalan dengan baik.8). Penduduk perdesaan lebih banyak memanfaatkan 13 .5). (Depkes. distibusi. pendidikan dan pelatihan.2% masyarakat yang bertempat tinggal di Pulau Jawa dan Bali menyatakan tidak/kurang puas terhadap pelayanan rawat jalan yang diselenggarakan oleh rumah sakit pemerintah. Begitu pula halnya dengan tenaga perawat dan bidan. dan (3) pusat pelayanan tingkat dasar. kemampuan fiskal daerah dan keaadaan geografis suatu wialayh cakupan. Sistem penghargaan dan sanksi.3.000 penduduk. Puskesmas bertanggung jawab atas masalah kesehatan di wilayah kerjanya. D. Jika kebijakan dan implementasi berjalan dengan baik maka diharapkan berbagai permasalah kesehatan. Perumusan Masalah dan Pertanyaan Kajian Jumlah tenaga kesehatan di Indonesia masih belum mencukupi. Keadaan ini perlu diperbaiki antara lain melalui perumusan kebijakan ketenagaan kesehatan yang meliputi perencanaan kebutuhan tenaga. teutama berkaitan dengan jumlah dan jenisnya yan mencukupi. sedangkan tertinggi di DKI (70. Sekitar dua per tiga dari jumlah provinsi mempunyai rasio dokter dibawah rata-rata nasional. kompetensi tenaga yang kurang memadai dan pengembangan profesi yang masih belum sesuai harapan.6 % Puskesmas tidak memiliki tenaga dokter. Jumlah tenaga kesehatan belum mencapai jumlah yang diinginkan.Ketenagaan kesehatan nasional saat ini menghadapi berbagai masalah kecukupan.0).5 dan sekitar 60-70% dokter tersebut bertugas di Pulau Jawa. sistem sertifikasi. pendidikan dan pelatihan serta pendayagunaan tenaga. peningkatan karier. praktek dokter (24.000 penduduk di Indonesia adalah 15.000 penduduk di Indonesia sebesar 32. Rata-rata bidan per 100. 2005) Kebijakan penempatan tenaga kesehatan dengan sistem pegawai tidak tetap (PTT) yang dilaksanakan pada tahun 90-an belum mampu menempatkan tenaga kesehatan (dokter umum. menemukan sekitar 23. mutu dan pengembangan profesi. Dalam implementasinya kebijakan tersebut dipengaruhi baik secara positif maupun negatif oleh lingkungan strategis antara lain pelaksanaan desentralisasi. misalnya. Susenas 2004. distribusinya kurang merata.51%). Dampak dari kebijakan yang diharapkan adalah pelayanan kesehatan yang lebih baik. distribusi semakin baik. Berdasarkan Health System Performance Assessment 2004. Susenas 2001. yang pada akhirnya akan memperbaiki status kesehatan masyarakat. Sedangkan rasio perawat dengan penduduk adalah 108 per 100. dan bidan) secara merata terutama di daerah terpencil.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2004-2009 (RI. dan 3) pengembangan jaminan kesehatan bagi penduduk miskin. bagamiana kebijakan perencanaan tenaga kesehatan dalam upaya untuk menjawab pemasalahan di atas.40%). dan praktek petugas kesehatan (23. pelayanan yang diperoleh juga krang optimal karena banyaknya Puskesmas yang kekurangan tenaga kesehatan. Bagaimana mutu tenaga kesehatan yang tersedia? 4. sebagian besar pengguna Puskesmas adalah penduduk miskin. Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap pelayanan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas? 7. Bagaimana ketersediaan tenaga kesehatan di Puskesmas dan jaringannya? 3. Faktor-faktor apa yang menjadi penghambat dan pendukung dalam pelaksanaan tugas tenaga kesehatan di Puskesmas? 14 . Bagaimana pembinaan karir tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas? 6. kajian diharapkan dapat menjawab beberapa pertanyaan berikut: 1. maka perlu dikaji.42%) (BPS. Dengan melihat berbagai permasalahan ketenagaan kesehatan tersebut. Bagaimana kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam hal ketenagaan kesehatan di Puskesmas? 2. Khusunya. Sebagai implikasinya. Bagaimana peran Puskesmas dalam pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin? 8. Puskesmas yang berada di daerah tertinggal sering mengalami kekurangan berbagai jenis tenaga. selain kemampuan masyarakat yang kurang karena kemiskinan.Puskesmas/Pustu (42. 2004). sedangkan pengguna Rumah Sakit adalah penduduk mampu. Pada umumnya. 2004) kebijakan pembangunan kesehatan diarahkan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Bagaimana distribusi tenaga kesehatan di Puskesmas di wilayah tertinggal dan terpencil? 5. Paling tidak terdapat tiga kebijakan RPJM yang fokusnya berkaitan dengan peningkatan pelayanan di Puskesmas dan ketenagaan kesehatan upaya yaitu: 1) peningkatan jumlah jaringan dan kualitas Puskesmas. 2) peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga medis.

Pengumpulan data tentang persepsi masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas. 4. 8. 7. dan DI Yogyakarta. 2. RUANG LINGKUP DAN METODOLOGI A. Tempat dan Waktu Kajian Kajian dilaksanakan di 7 provinsi. sedangkan kawasan timur diwakili oleh Provinsi Sulawesi Selatan. puskesmas. dan 88 puskesmas. Ruang Lingkup Kegiatan Kajian ini difokuskan untuk ketenagaan kesehatan di Puskesmas dan jaringannya. Pengumpulan data tentang peran Puskesmas dalam pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin. Diskusi dan seminar tentang kebijakan ketenagaan kesehatan. pendidikan dan pelatihan dan pendayagunaan tenaga kesehatan dengan sampel kajian di beberapa provinsi. mencakup 32 kabupaten/kota. yaitu dengan memotret keadaan ketenagaan kesehatan dari segi perencanaan kebutuhan. 5. dengan persiapan salama 2 bulan. Selanjutnya di setiap Kabupaten/Kota terpilih secara proporsional dipilih sejumlah Puskesmas yang menggambarkan daerah perkotaan dan daerah perdesaan Untuk melakukan kajian ini dilaksanakan beberapa kegiatan sebagai berikut: 1. Mempelajari pembinaan karir bagi tenaga kesehatan di Puskesmas yang dilaksanakan saat ini. B. D. dan 9. pelaksanaan pengumpulan dan analisis data 5 bulan. Pengumpulan data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ketenagaan kesehatan di Puskesmas. 6. dan tenaga kesehatan. Sampel dan Variabel Kajian Pemilihan sampel provinsi kajian dipilih secara purposif dengan memperhatikan karakterisik wilayah yaitu yang sering dibagi ke dalam wilayah barat dan wilayah timur. Melakukan analisis data dan menyusun laporan penelitian. Pada setiap propinsi di ambil beberapa Kabupaten/Kota berdasarkan tingkat kemajuannya. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat dan Papua. 15 . distribusi dan kualitas. Kawasan barat diwakili oleh Provinsi Jawa Barat. Desain Kajian Disain kajian adalah cross sectional.BAB II. kabupaten. Kajian dilaksanakan selama 8 bulan pada tahun 2005. C. Focus Group Discussion (FGD). dan Wilayah Timur. Sumatera Barat. Kajian dilakukan di 7 propinsi terpilih yang ditentukan berdasarkan katagorisasi rasio tenaga kesehatan dan penduduk di Puskesmas serta mewakili karakteristik wilayah Indonesia bagian Barat. 3. dan penyusunan laporan 1 bulan. Diseminasi hasil penelitian melalui seminar dan workshop. Pengumpulan data ketenagaan kesehatan di Puskesmas meliputi jumlah.

Selain itu dikumpulkan pula kebutuhan dan ketersediaan tenaga. Jawa Tengah 4. Didasarkan atas kemampuan fiskal. dan pendayagunaan tenaga kesehatan. dan sistem insentif yang digunakan serta minat untuk bertugas di daerah. yaitu 8 kabupaten tertinggal dan 24 kab/kota tidak tertinggal. Kab/Kota Kriteria Wilayah tertinggal Tak tertinggal Kapasitas Fiskal tinggi sedang rendah Dinkes Jumlah Responden Kapala Puskesmas Tenaga Kesehatan No. Kepala Puskesmas sebanyak 84 orang. kapasitas fiskal sedang 9 kab/kota dan kapasitas fiskal rendah 21 kab/kota. Data sekunder berupa data dan informasi dari berbagai lietartur yang berasal dari Buku Profil Kesehatan (Indonesia.Pemilihan Kabupaten/Kota juga dilaksanakan secara purposif dengan memperhatikan kapasitas fiskal dan dan ketertinggalan wilayah. Kabupaten). Keseluruhan jumlah responden kajian ini adalah sebanyak 319 responden. kewenangan penempatan tenaga. antara lain: unit kerja penyusun rencana. yaitu kapasitas fiskal tinggi 2 Kab/kota. kriteria penentuan lokasi penempatan tenaga. Selain itu dilakukan nara sumber yang kompeten dalam kebijakan SDM Kesehatan antara lain Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. E. jenis tenaga. proses pengajuan kebutuhan. koordinasi penyusunan rencana. jenis pelatihan yang dilaksanakan. masalah yang dihadapi dalam pengadaan tenaga. NTB 3. Sulawesi Selatan 2. serta bukubuku lain yang relevan.1 Daftar Lokasi (Sampel) Kajian Kebijakan Perencanaan Tenaga Kesehatan Jml. periode penyusunan rencana. Propinsi a. pendidikan dan pelatihan. sistem informasi untuk penyususan rencana. BPS (Kabupaten Dalam Angka. Sumatera Barat 2. metoda penyusunan rencana. rekrutmen tenaga di daerah. Menurut katagori daerah. Provinsi. DIY 3 12 5 3 1 2 1 2 2 10 4 1 0 0 1 0 1 4 0 0 2 8 4 3 1 10 8 2 11 13 17 10 40 43 67 22 b. Kepala Biro 16 . hambatan yang ditemui. dan tenaga kesehatan di puskesmas sebanyak 193 orang. Kawasan Timur 1. pelatihan tenaga. dasar penyusunan rencana. Papua JUMLAH 3 3 3 32 0 2 0 8 3 1 3 24 0 0 1 2 1 1 2 9 2 2 0 21 8 10 3 42 15 13 5 84 10 6 5 193 Dalam kajian ini dikumpulkan dan dianalisis berbagai variabel penting dari ketiga unsur pokok subsistem SDM kesehatan yaitu perencanaan kebutuhan. Susenas). Sedangkan yang menjadi responden terdiri dari staf Dinas Kesehatan Popinsi dan Kabupaten/Kota sebanyak 42 orang. Pengumpulan dan Analisa Data Data yang dikumpulkan meliputi data sekunder dan data primer. Tabel 2. sumber pembiayaan untuk pelatihan tenaga. Jawa Barat 3. Kawasan Barat 1.

Data primer dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan diskusi dengan responden Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Data yang masuk dari lapangan diverifikasi kelengkapan dan konsistensinya. Bappenas. pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan dan pendayagunaan tenaga kesehatan. Kepala Puskesmas. 17 . Data primer yang dikumpulkan meliputi data dan infomasi yang berkaitan dengan perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan. Hasil analisis data selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel dan gambar. Analisis univariate dilakukan terhadap setiap variabel yang dikumpulkan untuk mengetahui kecenderungan sebarannya dan untuk memperoleh statistik deskriptif. Pengelolaan data dilakukan di Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat. Selanjutnya data di entri kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS. dan tenaga kesehatan yang bertugas di puskesmas.Kepegawaian. Analisis hubungan antar variabel digunakan analisis deskriptif yaitu dengan membandingkan kebijakan yang ada dengan kenyataan yang terjadi pada saat kebijakan tersebut diimplementasikan. dan Kepala Pusat Perencanaan Tenaga Kesehatan. Kepala Pusat Pengembangan Kebijakan Kesehatan.

81/Menkes/SK/I/2004 Tahun 2004 (Depkes. 2004) antara lain mengatur tentang pedoman penyusunan perencanaan sumberdaya kesehatan di tingkat provinsi. 1. KEBIJAKAN UMUM KETENAGAAN KESEHATAN DI INONESIA A. dan pendayagunaan tenaga kesehatan. Definisi Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan adalah semua orang yang bekerja secara aktif dan profesional di bidang kesehatan. baik yang memiliki pendidikan formal kesehatan maupun tidak. yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang didasarkan atas epidemiologi penyakit utama yang ada pada masyarakat. serta jenis dan jumlah yang sesuai.32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan. Kepmenkes No. Dalam Peraturan Pemerintah ini dinyatakan antar lain bahwa pengadaan dan penempatan tenaga kesehatan dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan yang merata bagi masyarakat. telah diterbitkan beberapa Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes).850/Menkes/SK/XII/2000 Tahun 2000 (Depkes. Perencanaan nasional tenaga kesehatan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Perencanaan tenaga kesehatan diatur melalui PP No.BAB III. pendidikan dan pelatihan. pendidikan dan pelatihan. Sebagai turunan dari PP tersebut. Dalam hal perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan terdapat empat metoda penyusunan yang dapat digunakan yaitu. yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang didasarkan pada standar/rasio terhadap nilai tertentu. yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang didasarkan atas permintaan akibat beban pelayanan kesehatan. Pada Kepmenkes tersebut disediakan pula menu tentang metode perencanaan tenaga kesehatan untuk dipilih sesuai dengan kemauan dan kemampuan. 2. B. serta rumah sakit. Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan Yang dimaksud dengan perencanaan tenaga kesehatan adalah upaya penetapan jenis. yaitu tatanan yang menghimpun berbagai upaya perencanaan. Health Service Demand. 2004). tenaga kesehatan merupakan pokok dari subsistem SDM kesehatan. Dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN). sarana kesehatan. Unsur utama dari subsistem ini adalah perencanaan. yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melakukan upaya kesehatan. 2004) antara lain mengatur tentang kebijakan perencanaan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kemampuan para perencanan pemerintah. dan kualifikasi tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Kepmenkes No. Health Service Target Method yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang didasarkan atas sarana pelayanan kesehatan yang ditetapkan. serta pendayagunaan kesehatan secara terpadu dan saling mendukung. 4. dan Rumah Sakit. Perencanaan nasional tenaga kesehatan disusun dengan memperhatikan jenis pelayanan yang dibutuhkan. kabupaten/kota. masyarakat dan semua profesi disemua tingkatan. jumlah. Health Need Method.(Depkes. misalnya Puskesmas. 18 . 3. Ratios Method.

Jumlah Institusi pendidikan tenaga kesehatan seluruhnya 846 terdiri atas 199 Politeknik Kesehatan (Poltekes) dan 647 non Poltekes. dengan jumlah tempat tidur RS. Gizi 5. Kefarmasiaan. Analis Kesehatan. di India 1: 2000. dan mutu dan penyebarannya masih belum memadai. jenis.5 3 Keterapian Fisik 10. Contoh. yaitu dengan cara membagi nilai proyeksi dengan rasio. Membuat proyeksi nilai tersebut kedalam sasaran/ target tertentu. dengan Puskesmas.32 Tahun 1996 dan Kepmenkes No. di Indonesia. Sekolah Pengatur Rawat Gigi. Teknik Gigi. Terapi Wicara. 2004) terdapat enam kelompok pendidikan tenaga kesehatan yaitu: 1. dan Kardiovaksuler. C. Okupasi Terapi. misalnya rasio tenaga kesehatan dengan penduduk. Beberapa jenis tenaga kesehatan masih tergolong langka. 3.1 dibawah ini.3 73 3. Perekam dan Informatika Kesehatan. ratio tenaga kesehatan: tempat tidur di RS.6 457 64. Kebidanan. Teknik Elektro Medik.1 20 Kesehatan Masyarakat 1. misalnya 1:5000.9 19 10.1 Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan Berdasarkan Kelompok Jenis Tenaga Kesehatan di Indonesia Tahun 2005 Poltekes Non Poltekes Jumlah % Jumlah % 70. Tabel 3. Depkes.0 18 Keteknisan Medis Jumlah 199 100 647 100 Sumber: Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Keteknisan Medis meliputi SMAK. Keperawatan yang meliputi Sekolah Perawat Kesehatan. meliputi Sekolah Menengah Farmasi. Keterapian Fisik meliputi Fisioterapi. 2.5 7 Kefarmasian 2.7 11 11. di Amerika 1:500 (Suseno. Ortotik Prostetik. Pendidikan Teknologi Transfusi Darah.6 17 1. 2005) Dari analisis perencanaan kebutuhan tenaga. Akupuntur 6. Berdasarkan PP No. dan Kesehatan Gigi 2. dalam arti kebutuhannya besar tetapi jumlah tenaganya kurang karena jumlah institusi pendidikannya terbatas dan kurang diminati. Menentukan/memperkirakan rasio terhadap suatu nilai. 2005 Kelompok 19 .1192 Tahun 2004 (Depkes. Teknik Radiologi. Distribusi institusi pendidikan tenaga kesehatan berdasarkan kelompok jenis tenaga kesehatan dapat dilihat pada Tabel 3.6 23 Gizi 2. kualifikasi. secara umum dapat dikatakan tenaga kesehatan di Indonesia baik dari segi jumlah. Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan Pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan adalah upaya pengadaan tenaga kesehatan sesuai jenis. 2004).8 70 9. Keperawatan.3 128 Keperawatan 11. Beberapa jenis tenaga kesehatan yang baru masih diperlukan pengaturannya. Analis Farmasi 3. Menghitung perkiraan.Dalam prakteknya di Departemen Kesehatan lebih banyak menggunakan Ratios Method dengan proses perhitungan sebagai berikut: 1. jumlah dan kualifikasi yang telah direncanakan serta peningkatan kemampuan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan (Depkes. Kesehatan Masyarakat (Kesehatan Lingkungan) 4.

Selanjutnya. 2.387 peserta didik poltekes. Beberapa permasalahan klasik dalam pendayagunaan tenaga kesehatan antara lain: 20 . Setiap tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya juga berkewajiban untuk mematuhi standar profesi tenaga kesehatan. 4. telah berdampak terhadap penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan oleh berbagai instansi diluar Depdiknas termasuk Departemen Kesehatan. 2005) D. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah belum sepadan dengan penyelenggaraan oleh swasta 6. Kemampuan produksi belum sejalan dengan daya serap tenaga lulusan 3. Dalam PP ini dinyatakan bahwa tenaga kesehatan dihasilkan melalui pendidikan di bidang kesehatan. dan bagian terbesar (511) adalah milik swasta. pembinaan. 102 milik pemerintah daerah.Menurut kepemilikannya. 3. Memiliki bekal kemampuan dalam berhubungan dengan orang lain Bekerja dengan benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik Sanggup menggunakan wewenang secara arif dan bijaksana. pelaksana dan penggerak pembangunan. Meningkatkan mutu lulusan pendidikan tenaga kesehatan 2. Izin penyelenggaraan pendidikan profesional dikeluarkan bersama oleh Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan Nasional. Peningkatan mutu institusi pendidikan tenaga kesehatan diatur pada PP yang sama. PendayagunaanTenaga Kesehatan Pendayagunaan tenaga kesehatan adalah upaya pemerataan. dan Mampu berperan aktif sebagai perencana. Lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan di bidang kesehatan bisa pemerintah atau masyarakat. 32 institusi milik pemerintah pusat. Dalam hal peningkatan mutu lulusan tenaga kesehatan acuannya adalah PP No. Meningkatkan mutu institusi pendidikan tenaga kesehatan 3. Penetapan UU No. Pada tahun 2005 jumlah peserta didik seluruhnya sebanyak 146. Produksi lulusan belum sesuai dengan mutu yang diinginkan oleh pengguna 4. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. izin penyelenggaraan pendidikan akademik dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. (Soeparan. Perencanan kebutuhan tenaga kesehatan dengan produksi lulusan yang dihasilkan belum serasi 2. Perundangan antara yang dikeluarkan oleh Depkes dan Depdiknas belum selaras. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dirumuskan empat strategi dasar yaitu: 1.833 non Poltekes. Meningkatkan kemitraan dan kemandirian institusi pendidikan tenaga kesehatan. 34 milik TNI. dan pengawasan tenaga kesehatan. Beberapa isu yang perlu mendapat perhatian dalam pendidikan tenaga kesehatan antara lain: 1. Tujuan yang ingin dicapai oleh institusi pendidikan tenaga kesehatan adalah menghasilkan tenaga kesehatan yang profesional dengan karakteristik sebagai berikut: 1.220 orang terdiri dari 36. Penyelenggaraan pendidikan di bidang kesehatan harus dilaksanakan berdasarkan izin sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. Kebijakan dan pengelolaan antara Poltekes dan Non Poltekses belum sinkron 5. dan 109. 32 Tahun 1996 yang menetapkan bahwa tenaga kesehatan wajib memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang kesehatan yang dinyatakan dengan ijazah dari lembaga pendidikan.

3. Kebijakan ini berpotensi menimbulkan permasalahan kompensasi gaji yang tidak cukup menarik dan peminatan cenderung ke provinsi yang besar dan kaya (misalnya Jabar. 1170. 6. Periode 1992-2002 ditetapkan kebijakan zero growth personel.A/Menkes/Per/SK/VIII/1999. tahun kelulusan dan lamanya menunggu dalam antrian 5. DI Yogyakarta. Provinsi-provinsi di kawasan timur Indonesia pada umumnya kurang peminat karena adanya alternatif pilihan di provinsi lain. Kurang serasinya antara kemampuan produksi dengan pendayagunaan Penyebaran tenaga kesehatan yang kurang merata Kompetensi tenaga kesehatan kurang sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan Pengembangan karir kurang berjalan dengan baik Standar profesi tenaga kesehatan belum terumuskan dengan lengkap Sistem penghargaan dan sanksi tidak berjalan dengan semestinya. Dalam periode ini telah diangkat sebanyak 30. 4. Daftar tunggu PTT untuk provinsi favorit terlalu lama Usia menjadi penghambat untuk melanjutkan pendidikan ke dokter spesialis Terjadi kelambatan pembayaran gaji Besarnya gaji tidak signifikan jika dibandingkan dengan dokter PNS Adanya persyaratan jabatan sebagai Kepala Puskesmas Ada anggapan melanggar hak azasi masusia (HAM) karena dianggap sebagai kerja paksa.057 orang. Dalah hal penempatan dokter spesialis. domisili. 3. tetapi bersifat sukarela Tidak lagi memberlakukan kebijakan antrian/daftar tunggu Semua provinsi terbuka untuk pelaksanaan PTT sesuai kebutuhan Rekrutmen. Pada perode mulai tahun 2005 pengangkatan dokter dan dokter gigi PTT mempunyai ciri sebagai berikut: Bukan merupakan suatu kewajiban. 4. Jateng. Kepulauan Riau. 2. Dengan demikian hampir tidak ada pengangkatan tenaga dokter baru. tenaga medis harus melaksanakan kewajiban sebagai tenaga Inpres. Masa bakti dokter PTT selama 2 sampai 3 tahun. sampai dengan Desember 2004 jumlah dokter spesialis (PNS) di seluruh wilayah Indonesia sebanyak 11. Pada periode ini berhasil diangkat sekitar 8. Pada periode tahun 1974-1992. 21 . diangkat sebagai PNS dengan golongan kepangkatan III A atau dapat ditugaskan sebagai tenaga medis di ABRI. 2. 4.1. Jumlah dokter spesialis yang bertugas di RS milik 1. Sebagai gantinya pengangkatan tenaga medis dilakukan melalui program pegawai tidak tetap (PTT) yang didasarkan atas Permenkes No. Pada tahun 2002 terjadi beberapa permasalahan dalam penempatan dokter PTT yaitu: 1. Masa bakti untuk PNS Inpres selama 5 tahun di Jawa. Jumlah RS vertikal dan Daerah sebanyak 420 RS. Dalam hal pendayagunaan dan penempatan tenaga dokter tercatat paling tidak tiga periode perkenmbangan kebijakan. 6. dan Kaltim). dan 3 tahun di luar Jawa. 2. 5.300 tenaga dokter dan dokter gigi dengan menggunakan formasi Inpres dan hampir semua Puskesmas terisi oleh tenaga dokter. 3. seleksi administratif berdasarkan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif).866 dokter gigi yang tersebar di seluruh tanah air. 5.653 dokter dan 7. Pengurangan lama masa bakti bagi daerah yang kurang diminati seperti daerah terpencil dan daerah pemekaran. Diprioritaskan bagi dokter dan dokter gigi yang belum melaksanakan masa bakti 6. Dokter pasca PTT dapat diangkat kembali untuk provinsi yang kebutuhannya belum terpenuhi 7.

Sejak diterapkannya otonomi daerah. Seperti halnya dengan dokter. Pada masa mendatang. sedangkan pemberian lisensi dilakukan oleh pemerintah. sebagai tenaga yang diharapkan berperan dalam penurunan angka kematian bayi dan kematian ibu melahirkan. uji kompetensi dilakukan oleh setiap organisasi profesi.470 orang. Dengan adanya pengurangan masa bakti bagi dokter spesialis bagi daerah tertentu. registrasi. 22 . registrasi dilakukan oleh komite registrasi tenaga kesehatn. dan pemberian lisensi. Sertifikasi dilakukan oleh institusi pendidikan. Beberapa permasalahan yang berkaitan dengan Bidan PTT antara lain pada umumnya mereka berharap dapat diangkat sebagai PNS (peningkatan status).Pemerintah sebanyak 7. Pada akhir tahun 1999 diberlakukan kebijakan penundaan masa bakti bagi dokter spesialis yang langsung diterima pendidikan spesialis. penempatan dokter spesialis harus terlebih dulu ditawarkan melalui pejabat pembina kepegawaian (PP No.9 Tahun 2003). (Ruswendi. kompensasi gaji relatif tidak memadai. Sampai saat ini baru profesi kedokteran yang sudah memiliki UU Praktik Kedokteran. Pengaturan ini memerlukan dukungan peraturan perundangan yang kuat. Sampai dengan bulan April 2005 keberadaan Bidan PTT di seluruh tanah air sebanyak 32. pengangkatan tenaga bidan menggunakan sistem PTT dengan karakteristik kebijakan sebagai berikut: 1.868 orang. Rata-rata produksi dan penempatan tenaga dokter spesialis per tahun sebanyak 509 orang. Tenaga kesehatan lainnya yang cukup penting adalah bidan. dan besaran gaji antara daerah terpencil dengan sangat terpencil relatif kecil sehingga tidak menarik. 2005) Pembinaan dan pengawasan praktik profesi tenaga kesehatan belum terlaksana dengan baik. 2. pembinaan dan pengawasan tersebut dilakukan melalui sertifikasi. Penugasan selama 3 tahun di daerah biasa dan 2 tahun di daerah terpencil Penugasan dapat diperpanjang dua kali di desa yang sama dan dimungkinkan untuk diangkat kembali sebagai bidan PTT sesuai kebutuhan. misalnya di provinsi NAD cukup menarik minat untuk bertugas di daerah. berarti kurang dari 50 % dari jumlah desa. terdapat kekurangan sebanyak 3. uji kompetensi.461 orang.

6 27.1 menunjukkan rasio jenis tenaga kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit pada tahun 2004 dengan kondisi yang ingin dicapai pada tahun 2010 untuk beberapa jenis tenaga kesehatan Tabel 4.785 115.BAB IV. Jumlah ini masih belum mencukupi untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal.56 3. tenaga kesehatan (SDM Kesehatan) dapat diidentifikasikan belum mencukupi. Kondisi Umum Tenaga Kesehatan Di Tingkat Nasional Secara umum sampai dengan tahun 2004.72 0. Rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk yang relatif masih kecil. 23 .953 276. Untuk itu dalam Indonesia Sehat 2010. dengan harapan lebih banyak tenaga kesehatan per penduduk. Depkes. Tabel 4.383 tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit dan Puskesmas di seluruh Indonesia.1 Jenis tenaga kesehatan dan rasio terhadap penduduk di bandingkan dengan sasaran Indonesia Sehat 2010 Jenis Tenaga Dokter Spesialis Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Bidan Apoteker Asisten Apoteker SKM Sanitarian Ahli Gizi Rasio per 100.5 59. Jumlah dan Kualitas Sampai dengan tahun 2004 terdapat sekitar 274.1 7. jenis.049 235. mutu maupun penyebarannya. rasio tenaga kesehatan terutama tenaga dokter.156 94.376 51. 1.2 2. jumlah tenaga kesehatan akan ditingkatkan menjadi 1.611 94.939 23.54 3.3 0.376 25. 2005 Dibandingkan dengan negara-negara lain.913 pada tahun 2010.97 Sasaran rasio per 100.000 penduduk tahun 2004 5. untuk memberikan pelayanan kepada sekitar 218 juta penduduk. dokter gigi. kualifikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN A.000 penduduk tahun 2010 6 40 11 117 100 10 30 49 40 22 Jumlah tenaga yang dibutuhkan tahun 2010 14. baik ditinjau dari segi jumlah.108.69 3.1 Jenis tenaga kesehatan dan rasio terhadap penduduk di bandingkan dengan sasaran Indonesia Sehat 2010 Tabel 4.594 70.907 Sumber: Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. perawat dan bidan terhadap jumlah penduduk di Indonesia masih rendah terlihat dari tabel berikut.

0 26.1 251.0 240.0 1996 Filipina 39. terbatasnya informasi kesehatan yang diberikan kepada pasien. 2003) juga menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mempunyai persepsi bahwa tenaga kesehatan belum sepenuhnya memberikan kepuasan bagi pasien.0 897.0 18.0 418. 2004.2 Rasio Tenaga Kesehatan Di Berbagai Negara Negara Dokter Jml Thn Rata-rata per 100.1 163.3 902.6 229.000 populasi/tahun Dokter gigi Perawat Bidan Jml Thn Jml Thn Jml Thn 1998 1998 1997 1998 2001 1996 1997 1996 1996 1992 1996 830.0 18.0 1995 Amerika Sumber: Pusat Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Kualitas tenaga kesehatan juga masih perlu ditingkatkan. BPS dan OCR Macro.9 113.6 65.8 164.1 Penyebaran Dokter Spesialis per propinsi Tahun 2003-2004. lebih dari dua per tiga dokter spesialis berada di Jawa dan Bali.0 1994 Indonesia 68.0 43. Saat ini.0 1998 Austria 58. Berbagai kajian (Bappenas.0 1998 Finlandia 2. 2.2 302. Bahkan akhir-akhir ini sering muncul keluhan dan pengaduan masyarakat atas dugaan terjadinya malpraktek dokter.8 1997 Malaysia 47.162. provinsi lain yang memiliki banyak dokter spesialis dibanding daerah lainnya adalah di provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan.6 193. terutama di daerah terpencil yang hanya dilayani oleh perawat atau tenaga kesehatan lainnya.0 50.07 16.0 123.2 1996 Jepang 8.0 497. 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 DKI Jkt Bengkulu DI Yogya Gorontalo Irja Barat NAD NTB Kalteng Lampung Maluku Banten Kalbar Kaltim Kalsel Babel Bali Riau NTT Jateng Malut Jatim Sulteng Sumut Sumbar Sumsel Papua Jambi Jabar Sulut Sultra Sulsel 24 .0 532.0 1998 1998 1996 1998 1994 1996 1997 1991 1996 1989 1996 40.9 27. Secara lengkap penyebaran tenaga dokter spesialis di Indonesia pada tahun 2003-2004 dapat di lihat pada gambar berikut : Gambar 4. Misalnya.1 1995 Kanada 93. atau lamanya waktu tunggu. dapat dilihat dari masih banyaknya puskesmas yang tidak mempunyai dokter umum. misalnya.Tabel 4.1 9.8 164. misalnya dokter yang dianggap kurang ramah.6 78.0 744.0 1998 Australia 47.0 1993 Inggris & Irlandia Utara 59. Akibatnya banyak puskesmas.0 972.0 1990 Belanda 52.1 2. Distribusi Keterbatasan jumalh tenaga kesehatan semakini diperburuk oleh distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata.7 229.3 1998 1997 1998 1994 1996 1997 1997 1996 1989 - 40.

Pusat-pusat distribusi tenaga kesehatan tersebut adalah di Pulau Jawa dan Bali serta di Provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Sebagian besar tenaga perawat tersebut bertugas terutama di empat provinsi yaitu di Pulau Jawa yaitu di DKI Jakarta. Gambar 4. Jawa Barat.2 Penyebaran Dokter Umum per propinsi Tahun 2003-2004 2500 2000 1500 1000 500 DKI Jkt Jabar DI Yogya Jateng Jambi Jatim NTT 0 NAD Sumbar NTB Banten Riau Bengkulu Lampung Sumsel Bali Babel Sumut Gorontalo Pola penyebaran yang sama terjadi pada dokter umum. Provinsi di Pulau Jawa yang relatif sedikit jumlahnya adalah Banten (provinsi baru) dan DI Yogyakarta.3 Penyebaran Perawat per propinsi Tahun 2003-2004 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 DKI Jkt Jabar DI Yogya Jateng Jambi Jatim NTB NAD Sumbar Riau Bengkulu Lampung Sumsel Banten Bali Babel Sumut NTT Irja Barat Kalbar Sultra Kalteng Sulteng Maluku Papua Kalsel Kaltim Sulsel Malut Sulut Gorontalo Begitu pula halnya dengan pola penyebaran tenaga perawat. Jawa Tengah. Irja Barat Kalbar Sulteng Sultra Kalteng Maluku Kaltim Papua Kalsel Sulsel Sulut Malut 25 . dan Jawa Timur. Sedangkan di luar Jawa terutama berpusat di Provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan.Gambar 4.

Sebagai 6. Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan. 11.46 Sultra Propinsi Kalimantan Timur 8.40 Sumsel umum per 100.51 DKI Jkt 8.92 Sulut juga cukup rendah di 13.09 Papua yang tertinggi adalah di 8.39 Riau 10.15 Jambi 11. Jawa Barat.31 Jateng 6. Gambar 4.000 penduduk. Beberapa provinsi yang memiliki tenaga bidan lebih banyak antara lain Provinsi Jawa Timur.23 Jatim lebih menyebar. Jawa Tengah.5. maka tenaga dokter di Jawa masih lebih rendah di banding daerah-daerah lain.59 dengan 18.36 Kalbar contoh rasio tenaga dokter 6.00 Kalteng Dengan demikian 18.92 Irja Barat Jawa Timur dan Banten 12.65 Malut dengan 4. namun bila dibandingkan dengan penduduk yang harus di layani.000 penduduk dan 9. 4.000 penduduk Irja Barat Kalbar Banten Kalteng Sulteng Sultra Maluku Sumsel Papua Babel Bali Kalsel Kaltim Sulsel Sulut Malut 26 .23 dokter umum Sumbar 8.Gambar 4.39 Babel 8.90 NAD per 100.20 Indonesia penduduk (Gambar 4. Apabila menggunakan standar rasio antara tenaga kesehatan 4.12 NTT 6.000 6.4 tampak pola penyebaran tenaga bidan sedikit berbeda dengan tenaga perawat.44 Sulsel 9. NAD. 11.3 dokter umum 10.18 Bali bawah rata-rata nasional.82 Lampung 7.4 Penyebaran Bidan per propinsi Tahun 2003-2004 9000 8000 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 NAD Sumbar Riau Sumut DKI Jkt Jabar DI Yogya Jateng Jambi Jatim NTB NTT Bengkulu Lampung Gorontalo Pada Gambar 4.40 Banten 5. Rasio dokter umum Puskesmas dan Rumah Sakit per 100.23 Kaltim walaupun secara nominal 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 jumlah dokter umum sebagain besar di Jawa dan Bali.59 Sumut 9.30 Jabar dengan jumlah penduduk.58 Maluku 8.69 DI Yogya per 100.56 Gorontal 12.49 Kalsel terendah ada di Jawa Barat 9. Sumatera Utara. 16.71 NTB maka distribusi tenaga 6.09 Sulteng Rasio di Jawa Tengah.5) 7.20 Bengkulu 15.

3). jenis dan kualifikasi tenaga yang ditempatkan di wilayah tertentu kurang/tidak tersedia akibat maldistribusi (misalnya dokter spesialis di daerah terpencil). jenjang karir tidak jelas. pasar tidak siap. (Lihat tabel 4. 3. dan sarana transportasi. kebutuhannya besar. Ketersediaan Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Jumlah Puskesmas di Indonesia pada tahun 2004 sebanyak 7. 3. dengan demikian rata-rata setiap puskesmas dilayani oleh 18. non competence based. sarjana farmasi traditional. Jenis Tenaga Untuk jenis tenaga kesehatan tertentu seperti perawat jumlahnya sudah relatif cukup. antara lain kesehatan dan keselamatan kerja. terdiri dari 2. Kualifikasi pendidikannya terbatas (D3 atau kurang). dan sistem informasi yang terfragmentasi. Sedangkan jumlah seluruh tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas pada tahun yang sama sebanyak 141. karena kendala akses penduduk terhadap fasilitas kesehatan.550 buah. 5. hukum kesehatan. kendala geografis. fisioterapis. refraksionis optisien.010 Puskesmas Perawatan dan 5. Jumlah institusi pendidikannya kurang. dan lainnya.75 tenaga kesehatan. terdapat beberapa jenis tenaga baru yang belum ditentukan kategorinya pada PP 32/1996. epidemiolog. Sebagai contoh walaupun rasio dokter di Irian Jaya Barat lebih tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan Jawa Timur. Jumlah.Tingginya rasio dokter umum terhadap jumlah penduduk di daerah luar Jawa masih belum menjamin bahwa tenaga kesehatan tersebut dapat melayani lebih banyak penduduk dibandingkan di Jawa. ahli human resource management. Beberapa penyebab kelangkaan tenaga ini adalah insentif yang tidak menarik. jarak. 27 . masih banyak penduduk yang tidak terjangkau oleh dokter umum dengan mudah. bidangnya tidak diminati. tetapi karena penyebaran penduduk yang tidak merata. Namun sebaliknya terdapat jenis tenaga lain yang dapat dikatakan sebagai tenaga “langka” karena berbagai faktor. Lulusannya sedikit. yaitu: 1. pengobat traditional. Contoh beberapa tenaga “langka” adalah analis kesehatan. terapis wicara. 2. administrasi medik. Disamping tenaga langka tersebut. bahkan produksinya terus meningkat. Jumlah tenaga kurang. A.566 orang. 4. radiographer. dan audiologis.540 Puskesmas Non Perawatan.

28 0.Tabel 4. sanitarian.99 3.3 Jenis.056 2 Dokter Gigi PNS 2.424 JUMLAH 141. 6 perawat umum.815 Laboran 16 Analis 2.81/Menkes/SK/I/2004.531 13 Sanitarian 4. Data distribusi tenaga kesehatan di Puskesmas per propinsi juga menunjukkan adanya kesenjangan (disparitas) antar wilayah. maka jumlah dokter umum dan dokter gigi di Puskesmas perlu ditingkatkan 2 kali lipat. 1 Jenis Jumlah Rasio per Puskesmas 1.59 0. maka ketersediaan jumlah tenaga kesehatan di puskesmas masih belum memadai.21 0.353 12 Perawat Gigi 4.98 4. maka diperoleh gambaran bahwa untuk setiap puskesmas disarankan setidaknya terdapat 2 dokter umum.446 3 SKM 647 4 Apoteker 68 5 D-3 Kesehatan Lingkungan 2. 1 dokter gigi 1. perawat. kesehatan lingkungan.42 0.39 0.18 0.75 Dokter Umum Pegawai Negeri Sipil (PNS) 4.89 0.599 7 D-3 Keperawatan 6. Rasio dokter umum per Puskesmas penting untuk menjadi acuan. perawat umum (4.056 10 Bidan di Desa 30.09 0.127 6 D-3 Gizi 1.332 PTT 1. pemberantasan penyakit menular.19). dan asisten apoteker.2).717 8 D-3 Bidan 3.6 0. 28 . kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana. Permasalahan akan terlihat bila melihat ketersediaan dokter umum di Puskesmas. dan pengobatan dasar.049 11 Perawat Umum 33. Dengan menggunakan salah satu metode perencanaan kebutuhan tenaga seperti tercantum dalam SK Menkes No. Jumlah dan Rasio Ketenagaan Puskesmas Tahun 2004 (Nasional) No.566 Sumber: Data Dasar Puskesmas Tahun 2004. yaitu promosi kesehatan.37 0.01 0.18). Jika dilihat dari tugas pelayanan kesehatan yang harus dilaksanakan maka tenaga kesehatan yang minimal dimiliki oleh setiap Puskesmas adalah dokter umum. Jika dibandingkan data tahun 2004 (Tabel 4.50 0. dan bidan (1. Sedangkan perawat umum dan bidan di Puskesmas perlu ditambahkan separuh dari jumlah yang telah ada.42 1. dokter gigi (0.966 15 Asisten Apoteker 2.10 2.134 Non Analis 753 Lain-lain 17 18.468 14 Pelaksana Gizi 2. dan 3 bidan di puskesmas. khususnya Model DSP Puskesmas Perdesaan.878 Pegawai Tidak Tetap (PTT) 4. Departemen Kesehatan Dalam SKN 2004 dinyatakan sekurang-kurangnya Puskesmas melaksanakan enam jenis pelayanan kesehatan tingkat dasar.3) dengan rasio tenaga dokter umum (1. untuk melihat sejauh mana fasilitas kesehatan yang menjadi ujung tombak pembangunan kesehatan masyarakat dapat berfungsi dengan baik. perbaikan gizi.28 0. Untuk mencapai rasio ideal. yaitu metode Daftar Susunan Pegawai (DSP).44 18. bidan.147 9 Bidan Puskesmas 15.42). ahli gizi.

35 0. Rata-rata rasio bidan per puskesmas tidak termasuk bidan di desa) adalah 2.86 0.18 (Gambar 4. dan azas keadilan.45 0.0) dan Gorontalo (0. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mengalami kesulitan untuk mengakses fasilitas kesehatan.30 di Kepulauan Riau. Secara keseluruhan jumlah bidan tercatat sebanyak 48.56 0.18 1.47 0.147 bidan D3.99 1.45 0. upaya untuk daerah terpencil seperti ini perlu dilakukan dengan serius. maka propinsi yang rasionya paling tinggi adalah Sumatera Utara (6.252 orang. terutama pelayanan kesehatan di daerah perdesaan adalah tenaga bidan.63 1.056 bidan di puskesmas.4.06 1. 15.06 1.049 bidan di desa.26 1.79 1. Di Papua misalnya.8).6). rata-rata hanya satu dari 3 puskesmas yang memiliki dokter.Dengan kriteria ini dapat terlihat bahwa rasio dokter umum yang bertugas di Puskesmas terhadap jumlah Puskesmas berkisar antara 0.13 1. Rasio tenaga bidan di desa per desa adalah 0.83 0. 29 .36 1.30 Yang perlu menjadi perhatian adalah pada daerah-daerah dengan rasio dokter per puskesmas yang kecil dan akses yang sulit.88 2.51 1.82 0.84 0.05 1. seperti di Papua dan Maluku. Secara umum dapat digambarkan bahwa daerah dengan rasio lebih rendah dari 1 menunjukkan jumlah dokter lebih kecil dari jumlah Puskemas. Rasio dokter umum terhadap Puskesmas menurut propinsi Papua Maluku DKI Jakarta Irian Jaya Barat Nusa Tenggara Timur Jawa Barat Sumatera Barat Kalimantan Barat NAD Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Bangka Belitung Sumatera Selatan RIau Sulawesi Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Nusa Tenggara Barat INDONESIA Banten Maluku Utara Jambi Bengkulu Jawa Timur Kalimantan Tengah Lampung Gorontalo Jawa Tengah Bali Kalimantan Timur DI Yogyakarta Sumatera Utara Kepulauan Riau 0.49 1. dengan rata-rata nasional sebesar 1. dan 30.47 1.39 1. sedangkan paling rendah adalah DKI Jakarta (0.6.42 1.84 0. Kalaupun pada akhirnya dapat mengaksesnya.15 1.4.13 1. Jika dilihat per propinsi.4) dan Papua (5. terdiri dari 3.57 1. Gambar 4.72 1. pelayanan yang diterima belum memuaskan karena ketiadaan dokter umum.35 di Papua dan 2.98 0. Data ini antara lain menunjukkan bahwa kebijakan penempatan seorang bidan untuk setiap desa secara nasional tidak atau belum terpenuhi.4).72 1. Tenaga kesehatan yang mempunyai peran penting dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. artinya banyak Puskesmas yang tidak memiliki tenaga dokter umum. Jika dilihat per propinsi. Meningkatkan fasilitas dan dokter umum di daerah seperti ini mungkin menjadi mahal dan tidak memberikan daya ungkit yang tinggi terhadap derajat kesehatan secara nasional. pemenuhan hak dasar rakyat akan kesehatan. Akan tetapi sebagai upya untuk memenuhi amanat undangundang dasar.98 0.

815 orang. Tenaga kesehatan lainnya yang mempunyai tugas dan tanggungjawab yang penting dalam pelaksanaan program di puskesmas antara lain adalah ahli gizi.966 Pelaksana Gizi). 4. Skenario/Proyeksi dari WHO. Pemilihan metode perhitungan kebutuhan SDM Kesehatan didasarkan pada kesesuaian metode dengan kemampuan dan keadaan daerah masing-masing. yaitu Health Need Method. Tujuan pedoman ini adalah untuk membantu daerah dalam mewujudkan rencana penyediaan dan kebutuhan SDM Kesehatan dengan prosedur penyusunan rencana kebutuhan SDM kesehatan pada tingkat institusi (misalnya Poliklinik. tingkat wilayah (misalnya Nasional. rasio ahli gizi per puksesmas dengan ahli gizi adalah 0. dengan rasio 0. jumlah tenaga sanitarian tercatat sebanyak 4. Disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. Metode 30 . Penyusunan Perencanaan didasarkan pada sasaran upaya kesehatan nasional dan Rencana Pembangunan Kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010. nasional. Jumlah tenaga assisten apoteker tercatat sebanyak 2. Kebijakan Pemerintah tentang perencanaan SDM kesehatan ditetapkan melalui Kepmenkes No. Perencanan kebutuhan SDM kesehatan di tingkat institusi bisa di hitung dengan menggunakan metode Authorized Staffing List (Daftar Susunan Pegawai – DSP). maupun global. baik lokal. dan dunia usaha. 1.6. dan selaras oleh Pemerintah. Adapun prinsip dasar perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan adalah: 1. Pendayagunaan SDM-Kesehatan diselenggarakan secara merata.4 per puskesmas. sanitarian dan assisten apoteker. Kabupaten/Kota serta Rumah Sakit. B.hanya satu propinsi.599 Gizi/D3 dan 2. 2. masyarakat. yang rasio desa dengan bidan di desa tercatat di atas 1 (1. dan penyusunan kebutuhan tenaga untuk bencana. jenis dan jumlah yang sesuai (pasal 6 ayat 3). yaitu DKI Jakarta. adalah Authorized Staffing List (Daftar Susunan Pegawai atau DSP). Kabupaten/Kota). serasi.81/Menkes/SK/I/2004 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Sumberdaya Manusia Kesehatan di Tingkat Provinsi. Health Service Demand. WISN (Work Load Indicator Staff Need) atau Indikator Kebutuhan tenaga berdasarkan Beban Kerja. rasio sanitarian per puskesmas adalah 0. Health Service Target Method. sedangkan propinsi lainnya berkisar antara 0. Puskesmas.6. metode lain yang merupakan pengembangan dari ke-4 model tersebut.5). Selain 4 Metode dasar yang telah diuraikan sebelumnya. terjadi bencana. dan Ratios Metho.565 orang (1. Jumlah ahli gizi yang bekerja di puskesmas pada tahun 2004 tercatat sebanyak 4. dan pasca bencana). sarana kesehatan.2 – 0. Perencanaan nasional tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud ditetapkan oleh Menteri Kesehatan (pasal 6 ayat 4). dan dalam kondisi bencana (pada saat prabencana. Dalam PP tersebut antara lain dinyatakan: Perencanaan nasional tenaga kesehatan disusun dengan memperhatikan jenis pelayanan yang dibutuhkan.468 orang. Sementara itu. 3. Kebijakan Tenaga Kesehatan Perencanaan Kebijakan perencanaan tenaga kesehatan secara nasional antara lain diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan. Provinsi.8. seimbang. Rumah Sakit).

000 300. jumlah tenaga yang perlukan sekitar 17 orang.000 >100.6 Bagi Puskesmas yang jumlah kunjungannya tinggi.3 6.ini bisa digunakan di berbagai unit kerja seperti rumah sakit. Pada Kepmenkes tersebut. d) Puskesmas Perawatan di daerah terpencil.000 Jumlah Staf (N: Orang) 16 21 30 40 >40 Dayaguna Staf/Hari (S) 6.8 5.000 70. Jumlah Staf Puskesmas Menurut Beban Kerja No 1 2 3 4 5 Output Puskesmas (O: Orang /Tahun) <30. dan O = Output Puskesmas Jika nilai S kurang dari 5 maka ada dua alternatif yang dapat ditempuh yaitu memindahkan tenaga Puskesmas yang berlebihan ke Puskesmas yang membutuhkan atau meningkatkan output Puskesmas. tetapi jumlah tenaganya sedikit. selain mengatur tentang jumlah tenaga yang dibutuhkan.000 orang. diperlukan 25 tenaga. dapat diatasi kekurangan tenaganya dengan sistem kontrak yang dananya berasal dari daerah. diperlukan sekitar 40 tenaga. Menghitung produktivitas Puskesmas secara kolektif dengan mengunakan rumus: S = O/ 300 x N. Prosedur perhitungan daftar Susunan Pegawai-DSP (Authorized Staffing List) adalah sebagai berikut.4.000-50. c) Puskesmas perkotaan dengan penduduk padat. f) Puskesmas perawatan di daerah strategis. N = Jumlah Staf. Dalam Kepmenkes tersebut telah diberikan beberapa contoh DSP Puskesmas dengan bermacam macam contoh model perhitungan: a) Puskesmas di daerah terpencil. Menentukan jenis tenaga. diperlukan 27 tenaga. Tabel dibawah ini menjelaskan kaitan antara output Puskesmas dengan jumlah staf yang diperlukan. diperlukan 38 tenaga. b) Puskesmas di daerah perdesaan dengan penduduk sekitar 20. 2.5-7.8-8. jika tidak dapat disediakan melalui pengangkatan PNS Daerah. dimana : S = Dayaguna Staf /hari (serendah-rendahnya 5). 1. Untuk hal tersebut diperlukan struktur organisasi Puskesmas yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah masing-masing dengan mengacu kepada SK Mendagri No. diatur pula tentang jenis berbagai tenaga kesehatan untuk setiap model DSP Puskesmas tersebut.2-8. e) Puskesmas perawatan di daerah kepulauan. puskesmas dan lain-lain.000-70.25 5.000-10. 23 Tahun 1994. diperlukan 41 tenaga. Tabel 4.000 50.7 5. Hasil survei di lokasi kajian menunjukkan bahwa pada dasarnya responden Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten/Kota melaksanakan kegiatan penyusunan rencana 31 .

dari seluruh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di lokasi penelitian.4% kabupaten/kotalokasi penelitian. lebih dari separuhnya (52. dan terapi medis untuk ditempatkan di puskesmas perawatan. Alasan utama tidak digunakannya pedoman tersebut berturut-turut adalah belum adanya sosialisasi.kebutuhan tenaga kesehatan di Puskesmas. bidan.7 Alasan tidak dilaksanakannya SK Menkes No.4%) Health Services Target Method (14. yaitu belum ada sosialisasi tentang pedoman (47% kab/kota). penerapan pedoman SK Menkes tersebut masih menghadapi kendala. ada pula Dinas Kesehatan yang merencanakan kebutuhan tenaga dokter spesialis. sanitarian. keterbatasan tenaga. kemudian berturut-turut diikuti oleh terbatasnya data dan 32 .3%) Health Services Demand Method (29. Dalam menyusun rencana kebutuhan tenaga. Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM).81 Tahun 2004 dan hanya 47. ahli gizi. 81 Tahun 2004 pada daerah kajian Baru saja disosialisasi 5% Terpusat ke BKD 5% Keterbatasan Tenaga 11% Belum tahu 26% Belum ada sosialisasi 48% Belum Membaca SK 5% Sedangkan pada pada kabupaten/kota yang menggunakan pedoman penyusunan perencanaan kebutuhan SDM (47. menyerahkan ke Badan Kepegawaian daerah.7%) Health Need Method (2.4% yang melaksanakan pedoman. Ratio Method (35. 4. Dalam periode satu tahun. metode yang paling sering digunakan berturut-turut adalah: 1. perawat. 2. terapi fisik.1%). Gambar 4. 5.6%) tidak menerapkan Pedoman Penyusunan Perencanaan Kebutuhan SDM Kesehatan seperti tercantum dalam Surat Keputusan Menkes No.4%). asisten apoteker. Selain tenaga-tenaga tersebut. Secara umum perencanaan kebutuhan sudah cukup lengkap karena meliputi hampir semua jenis tenaga kesehatan yang diperlukan di daerah.8%) Walaupun telah digunakan di 47.9%) Berdasarkan beban kerja dan berdasarkan sarana kesehatan (8. Jenis tenaga yang direncanakan oleh hampir semua Dinas Kesehatan adalah tenaga dokter. belum tahu dan belum membaca surat keputusan (SK). 3. Dinas Kesehatan melakukan paling sedikit satu kali kegiatan penyusunan rencana kebutuhan tenaga kesehatan dan sebagian besar pelaksananya adalah Unit Kerja Eselon III (47. dokter gigi. apoteker.

Sosialisasi ini dapat pula menjadi sarana untuk meningkatkan kapasitas tenaga perencana di daerah yang masih menjadi kendala besar bagi perencanaan.6%) wewenang formasi ada pada Dinas Kesehatan dan BKD. Hal ini bisa diartikan bahwa pada sebagian besar Kab/Kota. sebagian besar usulan ditentukan bersama-sama oleh Dinas Kesehatan dan BKD. jika Kepmenkes No.8.6%). formasi ini ditentukan setelah melakukan koordinasi antara Dinas Kesehatan dan BKD. Akan tetapi pada sepertiga Kab/Kota (31.6%). dan masalah lainnya seperti pembagian antar unit yang tidak jelas. yaitu: (1) Dinas Kesehatan Kabupaten bersama-sama dengan Badan Kepegawaian Daerah (52. sosialisasi tentang pedoman masih menjadi alasan utama tidak diterapkannya pedoman penyusunan rencana kebutuhan tenaga SDM kesehatan. Gambar 4. Dalam proses selanjutnya. Pada daerah yang telah menerapkan pedoman sekalipun. Demikian pula dalam hal formasi tenaga kesehatan. baik yang sudah ataupun yang belum menggunakannya. Dalam hal ini pemerintah pusat dan propinsi dapat mengambil peranannya. maka sosialisasi pedoman ini menjadi sangat diperlukan ke seluruh daerah. tidak adanya sosialisasi ini masih menjadi hambatan/kendala utama.6%). terbatasnya dana (32%. Berdasarkan hasil survey. Sementara itu kendala pendanaan serta data dan informasi menjadi tugas penting yang perlu diselesaikan oleh daerah. keterbatasan tenaga dan lain-lain.informasi (39% kab/kota). B/401/3/2005 0 3% 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Dengan demikian. pihak yang berwenang menentukan usulan ini ternyata berbeda untuk masing-masing daerah. dan (3) BKD (2. Dalam hal ini. Oleh karena itu. 81/2004 dapat dianggap sebagai standar perencanaan tenaga kesehatan. Hambatan Utama Dalam Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan di Daerah Penelitian yang telah menggunakan pedoman belum ada sosialisasi tentang pedoman terbatasnya data dan informasi terbatasnya kapasitas tenaga perencana terbatasnya dana 13% 13% 32% 37% 39% 47% Ya pembagian tugas antar unit yang tidak jelas Keterbatasan tenaga 3% 5% Belum Dilaksanakan SK Menpan No.7%). wewenang formasi ada pada 33 . pada sebagian besar Kab/Kota (52. Dengan pendekatan dan pembagian peran antara pusat dan daerah ini. terbatasnya kapasitas tenaga perencana (37% kab/kota). rencana kebutuhan tenaga diusulkan kepada pihak yang berwenang di masing-masing daerah. diharapkan perencanaan tenaga kesehatan dapat menjadi lebih baik. (2) Dinas Kesehatan (44.

4 38. Masy Kebutuhan 987 64 497 4565 4492 89 606 652 415 Ketersediaan 593 30 294 2951 3295 47 319 404 312 Kesenjangan (%) 39.1 40.565) dan perawat (4.BKD. dan kesenjangan jenis (35%) dan distribusi tenaga dirasakan 35% Kab/Kota. Kesenjangan dalam hal kualifikasi. Perbedaan kewenangan dalam pengusulan dan penetapan formasi tenaga kesehatan manjadi salah satu faktor yang menyebabkan adanya kesenjangan antara usulan yang disampaikan dan formasi yang akhirnya ditetapkan dalam hal jumlah.216 tenaga atau 66.6 dapat dilihat bahwa dari seluruh 13.1 % yang tersedia. dapat terlihat bahwa ketidaksesuaian antara jumlah dan jenis tenaga yang diusulkan dengan formasi yang tersedia masih cukup dirasakan oleh sebagian besar kab/kota.2 47. Dari tenaga keseahatan tersebut yang paling banyak dibutuhkan adalah bidan (4. Tabel 4.5. Pada Tabel 4. distribusi dan kualifikasi.793 tenaga kesehatan (17 jenis tenaga) yang dibutuhkan pada tingkat Kabupaten/kota di lokasi penelitian.4 26. Kesenjangan besar dan sangat besar dalam dal jumlah dirasakan oleh 45% Kab/Kota. Kebutuhan dan ketersediaan tenaga kesehatan di kabupaten lokasi Kajian Jenis Tenaga Dokter Dokter Spesialis Dokter Gigi Bidan Perawat Apoteker Asistem Apoteker Ahli Gizi Sarjana Kes. sanitarian dan laboran. perawat.492) dan yang mengalami persentase kekurangan paling besar diantaranya adalah SKM. Pengadaan Berdasarkan hasil survei lapangan. tapi dianggap cukup kecil oleh sebagian besar kab/kota.6 . walaupun terasa.6 47. Kekurangan ini dirasakan oleh Dinas Kesehatan dan petugas di Puskesmas.8 34 .9 53. Tabel 4. Persentase kabupaten/kota yang merasakan kesenjangan antara usulan dengan ketersediaan tenaga kesehatan Jenis Kesenjangan Jumlah Jenis tenaga Distribusi Kualifikasi Persentase Kab/Kota menurut tingkat kesenjangan Sangat Kecil 5% 13% 13% 8% Kecil 50% 53% 53% 71% Besar 34% 24% 32% 18% Sangat Besar 11% 11% 3% 3% Dari tabel tersebut. jenis.8 35. diperoleh gambaran bahwa secara umum ketersediaan tenaga kesehatan di puskesmas masih dianggap tidak atau kurang mencukupi untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. 2. dengan demikian BKD mempunyai wewenang penuh terhadap formasi yang diusulkan oleh Dinas Kesehatan.0 24. hanya 9.

seluruh kabupaten/kota lokasi penelitian mengajukan usulan pengangkatan tenaga kesehatan yang terdiri dari 1.2 Masalah utama yang dihadapi oleh kabupaten/kota dalam pengangkatan pegawai baru adalah keterbatasan formasi yang terjadi di 63.8% dan 83. kemudian di susul berturut-turut oleh masalah regulasi.7).6% kabupaten tak tertinggal).0 9. Sementara itu pada tahun yang sama 11 PNS dan 95 PTT memasuki masa pensiun atau menyelesaikan masa baktinya.9 54.1 0. Masalah Utama Dalam Pengadaan Nakes di Kabupaten Tertinggal dan Tak Tertinggal Masalah Utama Masalah Regulasi Masalah Peminat Terbatas Masalah Terbatasnya Lulusan Masalah Dana Terbatas Masalah Terbatasnya Formasi Masalah Lainnya Kab.1 33. Ketiga masalah terakhir relatif hanya terjadi pada 15% kab/kota atau kurang (lihat Tabel 4. Karenanya upaya ini dilanjutkan dengan perekrutan tenaga PTT Pusat tersebut menjadi PNS daerah.9 100. lulusan yang terbatas dan lain-lain.1 18.2 66. Namun dengan keterbatasan formasi yang ada. Pengajuan PTT ke pemerintah pusat merupakan salah satu strategi dari pemerintah daerah untuk meningkatkan jumlah tenaga kesehatan di daerahnya.9 34.8 1. Karena sebagian besar kabupaten/kota dihadapkan pada jumlah formasi yang terbatas. dokter gigi dan bidan) ke pusat. Tak Tertinggal % 9.2 % kabupaten tertinggal dan 34. Epidemiolog Laboran Total 737 108 203 4 62 182 21 109 13. Sebagai ilustrasi. peminat yang terbatas. apabila tidak diimbangi dengan realisasi pengangkatan tenaga kesehatan yang lebih besar.6 5.0 27. 35 . yang berhasil direalisasikan hanya 1.1% dari yang diusulkan.0 Kab. Tabel 4. pemerintah daerah kemudian mengajukan tambahan formasi berupa tenaga PTT ke Pemerintah Pusat.216 28.701 PNS dan 1.196 PTT atau masing-masing sebesar 63. Berbagai upaya dilakukan oleh daerah untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan.7.2 1.439 PTT.2 % di daerah tidak tertinggal pada daerah penelitian.5 75.6 % kabupaten tertinggal dan 46.5 33. Hal semakin memperburuk keadaaan tenaga kesehatan di daerah.9 Dari tabel tersebut terlihat bahwa masalah utama pengadaan tenaga kesehatan baik yang di kabupaten tertinggal maupun tak tertinggal adalah terbatasnya formasi.2 63. pada tahun 2004.Sanitarian Terapi Fisik Teknis Medis Rontgen Perawat Gigi Penyuluh Kes.085 PNS dan 1.6 0. Tertinggal % 9. dari 12 jenis tenaga kesehatan di puskesmas. Sedangkan masalah berikutnya adalah keterbatasan dana (18. Sebanyak 63% kab/kota mengusulkan kebutuhan tenaga kesehatan PTT (dokter umum. Masy.6 46.793 530 72 68 1 36 82 0 79 9.0 41.

Gambar 4. tetapi juga di Puskesmas. metode yang paling banyak digunakan adalah Ratio Method.8% 2.0 60.9% Dari tabel di atas terlihat bahwa kriteria utama (84. Perawat (73. Kekurangan ini terutama sekali dirasakan untuk tenaga Sarjana Kesehatan Masyarakat (75.0 3.2% 57.Masalah pengadaan ini tidak hanya dirasakan oleh Dinas Kesehatan. lebih dari separuh Dinas Kesehatan tidak menggunakan Pedoman Kepmenkes No 81/2004 untuk melakukan perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan. Dari hasil penelitian pada Puskesmas di 38 kabupaten. 58. Berikut ini adalah kriteria yang sering digunakan untuk menentukan penempatan tenaga dokter di puskesmas dan persentase kab/kota yang menggunakan kriteria tersebut.2%) bagi lokasi penempatan dokter dan bidan PTT adalah puskesmas yang tidak memiliki dokter atau bidan.5% 2. Dinas kesehatan menetapkan beberapa kriteria yang digunakan.0 20.6% 10.2 % Puskesmas di antaranya merasa bahwa ketersediaan tenaga kesehatan kurang.0 50. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Bila dihubungkan dengan kriteria penempatan dokter.9% 44.7% 31.4% 58. Sementara itu bagi daerah yang telah mengikuti pedoman.9).6% Bidan PTT % Kab/kota yang Kriteria menggunakan kriteria Desa tidak ada bidan 84. Penempatan Dalam rangka pengadaan dan penempatan tenaga kesehatan.2% 3.8 % yang menyatakan berlebih (gambar 4.0 35.9 Persepsi Responden tentang ketersediaan tenaga kesehatan di Puskesmas Kurang Cukup Berlebih Sangat kurang 0.2% Desa terpencil 50. Tabel 4.0% Angka kesakitan 28. Hal ini menunjukkan bahwa 36 .4 % yang menyatakan cukup dan hanya 3.4%) dan Perawat (71. Penggunaan kriteria seperti ini menunjukkan bahwa masih banyak puskesmas yang tidak mempunyai dokter atau desa yang tidak mempunyai bidan.9%) seperti terlihat pada tabel sebelumnya.5% 10. justru sebagian besar kab/kota secara sederhana mengidentifikasi puskesmas yang tidak mempunyai dokter.9% Lainnya 7.2%).8 Kriteria penempatan tenaga kesehatan di lokasi kajian Dokter PTT Kriteria Puskesmas yang tidak ada dokter Rasio puskesmas terhadap Penduduk Cakupan pelayanan Puskesmas Puskesmas Daerah Terpencil Angka Kesakitan Lainnya % Kab/kota yang menggunakan kriteria 84.0 30.0 40. 35.

Permasalahan bisa muncul. maka bisa diduga bahwa penggunaan kriteria puskesmas tanpa dokter dan desa tanpa bidan masing-masing untuk penempatan dokter dan bidan. khususnya dalam Sub Sistem Sumberdaya Manusia Kesehatan. menurut kepala Puskesmas dan tenaga kesehatan masih kurang memuaskan.6% kab/kota menyatakan kewenangan pada badan lain seperti Bupati. Hal tersebut diatur melalui Departemen 37 . Dalam PP ini antara lain dinyatakan: 1) Tenaga kesehatan wajib memiliki pengetahuan dan ketrampilan di bidang kesehatan yang dinyatakan dengan ijazah dari lembaga pendidikan (Pasal 3). dan 2) Setiap tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi tenaga kesehatan (Pasal 21) Dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) Tahun 2004. 7. Oleh sebab itu. yaitu dengan melihat jumlah puskemas yang tidak mempunyai tenaga dokter. pengadaan penerimaan pegawai baru dan proses mutasi. 2) Registrasi dilakukan oleh komite registrasi tenaga kesehatan. yang menunjukkan masih banyaknya puskesmas tanpa tenaga dokter. registrasi. (lihat gambar 4. seleksi penerimaan. uji kompetensi. antara lain dinyatakan bahwa: “pembinaan dan pengawasan praktek profesi dilakukan melalui sertifikasi.1 kab/kota menyatakan bahwa kewenangan ini berada pada Dinas Kesehatan. Rata-rata sekitar separuh reponden menyatakan ketidakpuasan terhadap ketersediaan informasi pendaftaran pegawai baru. 42. rasio dokter per puskesmas). proses administrasi. Hal ini mungkin terjadi seandainya tidak ada koordinasi yang baik antara BKD dan Dinas Kesehatan. 4.32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan.8 di atas. Dengan melihat masih banyaknya daerah yang mempunyai rasio dokter per puskesmas kurang dari 1. dan 4) Pemberian lisensi dilakukan oleh pemerintah. dan pemberian lisensi”. Mutu Tenaga Kesehatan Secara umum kebijakan tentang tenaga kesehatan. akuntabilitas dan daya saing tenaga tersebut masih lemah.4%) menyatakan bahwa kewenangan penempatan ada pada Dinas Kesehatan atau DInas Kesehatan dan BKD. artinya tidak pada lokasi yang telah diusulkan oleh Dinas Kesehatan. pada saat prakteknya pengusulan tenaga dan penempatan menggunakan kriteria yang lebih sederhana yaitu kekurangan tenaga per individu puskesmas. Kalaupun perencanaan dilakukan menggunakan metode sesuai Kepmenkes 81/2004. Seringkali kemandirian. Institusi atau lembaga yang melaksanakan kegiatan tersebut adalah sebagai berikut: 1) Sertifikasi dilakukan oleh Institusi Pendidikan. peningkatan kualitas institusi pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu tantangan yang penting untuk dapat menjamin tersedianya tenaga kesehatan bermutu yang diperlukan. 3) Uji kompetensi dilakukan oleh masing-masing organisasi profesi.perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan dilakukan dengan lebih sederhana. khususnya yang berkaitan dengan kualitas atau mutu.9% kab/kota menyatakan bahwa kewenangan ini berada pada BKD dan 2. penempatan. Proses pengadaan dan penempatan pegawai baru saat ini. Pada umumnya peserta didik dari hasil pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan kesehatan masih terbatas. antara lain dapat dilihat pada Peraturan Pemerintah (PP) No. masih akan terus berlangsung hingga beberapa tahun mendatang. jika penempatan tenaga kesehatan terutama dokter tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Survei menunjukkan bahwa sebagain besar repsonden (47.

2%) dan sumber lainnya (11. Registrasi merupakan proses pendaftaran. Adapun jenis pelatihan yang diikuti adalah sebagian besar merupakan pelatihan teknis fungsional (85. Hasil survei lapangan juga menunjukkan bahwa sekitar 70. Penyelenggara pelatihan tenaga kesehatan di Puskesmas pada umumnya adalah Dinas Kesehatan Propinsi (36%).Kesehatan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 850/Menkes/SK/V/2000 Tentang Kebijakan Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2000-2010 Salah satu upaya yang ditempuh Departemen Kesehatan dalam rangka meningkatkan kualitas institusi pendidikan dan pelatihan. Data hasil akreditasi ini antara lan menunjukkan bahwa masih diperlukan banyak upaya dan kegiatan untuk lebih meningkatkan kualitas institusi pendidikan tenaga kesehatan. “uji kompetensi” ini dapat diberlakukan dengan menggunakan metode yang disepakati bersama antara Dinas Kesehatan dan organisasi profesi. 2005). Jenis pelatihan tersebut antara lain meliputi Pelatihan Fungsional dan Manajerial (50%).3%) telah diakreditasi (Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. maka sebagian besar Dinas Kesehatan (76. Dalam tabel berikut digambarkan kondisi beberapa jenis kemampuan dan kompetensi profesi tenaga kesehatan. Dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas di puskesmas sekitar 78. 38 .6% responden menyatakan kesesuaian antara latar belakang pendidikan dengan tugas di puskesmas. Untuk menunjang pelaksanaan pelatihan. APBD Propinsi (38. Fungsional (14. APBN (38.9%). dan Manajerial (5.1%).5%) memiliki rencana tahunan untuk jenis pelatihan yang dibutuhkan. Secara kumulatif sampai dengan September 2005. pendokumentasian dan pengakuan terhadap tenaga kesehatan setelah dinyatakan memenuhi minimal kompetensi inti atau standar penampilan minimal yang ditetapkan. sebanyak 464 institusi (72. sehingga secara fisik dan mental mampu melaksanakan praktek profesinya.5%). Departemen Kesehatan menetapkan bahwa bagi tenaga kesehatan yang lulus dari institusi pendidikan tenaga kesehatan dibawah pembinaan Departemen Kesehatan dapat langsung diregistrasi. Dalam masa transisi.7%).4% responden menyatakan pernah mengikuti pelatihan. Hal ini berarti tidak semua lulusan pendidikan tenaga kesehatan secara otomatis langsung dapat menjalankan tugas dan fungsinya di Puskesmas. dari 642 institusi pendidikan tenaga yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai bagian dari tahapan registrasi dan pengakuan kompetensi diberlakukan “uji kompetensi” yang yang dilaksanakan oleh organisasi profesi itu sendiri dan difasilitasi oleh Dinas Kesehatan.2%).8%). tetapi masih memerlukan orientasi/adapatsi ataupun pelatihan di puskesmas. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (25.1%). serta kualitas tenaga kesehatan yang dihasilkannya adalah menerapkan standar dan melaksanakan akreditasi terhadap institusi pendidikan dan pelatihan. Dengan mempertimbangkan pentingnya arti pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan. sumber pembiayaan untuk kegiatan pelatihan adalah APBD Kab/Kota (44. dan Departemen Kesehatan (5.7%).

Komp. meningkatkan kualitas atau mutu pelayanan kesehatan bagi individu maupun masyarakat yang membutuhkan dan mempersempit kesenjangan yang ada antara harapan masyarakat dengan pelayanan yang diterimanya sampai saat ini. Pada era desentralisasi. uji kompetensi.Tabel 4. Melakukan sertifikasi tenaga kesehatan c. Etika Kepmen Std.O 10 Ik. Menetapkan standar pendidikan kesehatan berkelanjutan d. √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ DRAFT √ √ √ √ √ √ DRAFT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 1 IDI 2 PPNI 3 IBI 4 PDGI 5 ISFI 6 PERSAGI 7 HAKLI 8 IKATEMI 9 IROPIN/R. Menapis dan merumuskan arah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pelayanan kesehatan yang digunakan dalam praktik sesuai keputusan organisasi profesi e. Sebagai contoh. Registrasi Sertifikasi Lisensi RUU Profesi Profesi Reg. Profesi Std. MTKP Jawa Tengah ini dibentuk sebagai upaya Pemerintah Propinsi Jawa Tengah untuk secara langsung maupun tak langsung. dan pemberian lisensi. di Propinsi Jawa Tengah. registrasi. Mei 2004 Dari tabel tersebut terlihat bahwa masih diperlukan berbagai upaya dan langkahlangkah untuk lebih meningkatkan pembinaan dan pengawasan praktek profesi yang dilakukan melalui sertifikasi. upaya pembinaan dan pengawasan praktek profesi tersebut menjadi salah satu upaya yang penting untuk dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Tugas MTKP Jawa Tengah adalah: a. Tanggal 24 Maret 2004. dalam rangka memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan. Melaksanakan registrasi tenaga kesehatan b.Tehniker Gigi √ √ √ 11 Ik.9 Jenis kemampuan dan kompetensi profesi tenaga kesehatan No Org. MTKP juga berfungsi untuk memberikan perlindungan dan kepastian 39 . Menetapkan peraturan pelaksanaan guna kelancaran pelaksanaan tugas g. telah dibentuk Majelis Tenaga Kesehatan Propinsi Jawa Tengah (MTKP Jawa Tengah) melalui Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 24 Tahun 2004. Melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan pelayanan praktik kesehatan f. Menyampaikan hasil pelaksanaan tugas tersebut huruf a sampai dengan huruf f kepada Gubernur. Physioterapy √ √ 12 P A R I 13 P A F I 14 P P G I 15 Otorik Prostetik 16 Tehnisi Transfusi *) Sumber : Pusat Profesi Tenaga Kesehatan.

dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia) dan Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro. maupun bagi para petugas yang memberikan pelayanan profesi kesehatan. Ikatan Bidan Indonesia. Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. Upaya terobosan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Popinsi Jawa Tengah tersebut perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Dalam rangka menjalankan tugasnya. Mengesahkan standar kompetensi tenaga kesehatan yang sudah ditetapkan oleh masing-masing organisasi profesi e. Data ini merupakan hasil kuesioner yang diisi oleh 29 puskesmas yang pada kabupaten tertinggal dan 37 puskesmas pada kabupaten tidak tertinggal 40 . Pada tabel 4. Dengan mengacu pada ketentuan ini. Meneliti kelengkapan dan keabsahan terhadap persyaratan registrasi tenaga kesehatan b. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah telah berhasil menyusun Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Kesehatan Berkelanjutan dan Perangkat Uji Kompetensi dengan menggunakan Sistim OSCA (Objectve Structure Competencies Assessment).10 dibawah ini ditampilkan perbandingan distribusi tenaga kesehatan di Puskesmas pada kabupaten tertinggal dan tidak tertinggal lokasi kajian. MTKP Jawa Tengah mempunyai kewenangan dalam hal: a. C. Persatuan Dokter Gigi Indonesia. terutama Departemen Kesehatan yang selama ini menyusun dan menerbitkan berbagai pedoman pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan bagi daerah. Sistim OSCA tersebut juga telah digunakan oleh 5 (lima) Institusi Tenaga Kesehatan Keperawatan dan selanjutnya akan digunakan secara menyeluruh untuk semua Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan di Jawa Tengah. yaitu kajian kompetensi terstruktur dan obyektif bagi lima Organisasi Profesi tersebut. 8 diantaranya masuk kabupaten tertinggal dan 25 kab/kota masuk kategori tidak tertinggal. Bersama lima Organisasi Profesi Jawa Tengah (Ikatan Dokter Indonesia. Menyetujui dan menolak permohonan registrasi tenaga kesehatan c. dalam kajian dari 32 kab/kota yang menjadi lokasi kajian ini. Distribusi Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Di Wilayah Tertinggal Definisi kabupaten tertinggal pada kajian ini mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 khususnya Bab 26. Memantau dan memberikan sanksi administrasi terhadap pelanggaran pelaksanaan praktik kesehatan.hukum bagi masyarakat sebagai penerima pelayanan kesehatan. Menerbitkan dan mencabut sertifikasi registrasi tenaga kesehatan d.

0. pada kabupaten tertinggal rasio tenaga kesehatan per puskesmas yang berstatus PNS adalah 19. atau dengan kata lain menggunakan persepsi responden. Namun rasio PTT dan honor daerah per puskesmas lebih tinggi pada daerah tertinggal. walaupun pada kenyataannya.05 0.55 27.55 1.27 0. rasio ini (1. Jika dipilah menurut status kepegawaian.16 33. artinya secara rata-rata setiap puskesmas dilayani lebih dari 1 dokter.34 0.14 tenaga.59 pada daerah tidak tertingggal. pada kajian ini digunakan pula kategorisasi kecamatan terpencil dan tidak terpencil.59 2.08 0.79 5.28 0.21 3. lebih rendah dibandingkan 27. kecuali rasio tenaga teknis medis dan rasio perawat gigi.03 Dari tabel di atas terlihat bahwa untuk seluruh tenaga kesehatan.66 1.25 0.48 0. 41 .00 0. Kecamatan terpencil maupun tidak terpencil dapat saja dapat terletak dalam wilayah administratif kab/kota tertinggal maupun tidak tertinggal. kategorisasi terpencil dilakukan sendiri oleh responden. Pada kabupaten tertinggal.28 0.79) sudah mendekati rasio yang diharapkan menurut perhitungan dengan metode DSP.27 0.30 9.95 0. yaitu 2.03 27.81 1.35 11.03 1. Hampir seluruh jenis tenaga kesehatan pada kabupaten tertinggal mempunyai rasio tenaga per puskesmas yang lebih kecil daripada kabupaten tidak tertinggal. Dalam kajian. rata-rata sebuah puskesmas di daerah tertinggal mempunyai tenaga kesehatan yang lebih sedikit yaitu 27.21. Perbandingan rasio beberapa tenaga kesehatan per puskesmas menurut kategori kab/kota tertinggal dan tidak tertinggal Rasio tenaga kesehatan per Puskesmas Kab. kecamatan terpencil lebih banyak terletak di kabupaten tertinggal.10. dibandingkan dengan kabupaten tidak tertinggal yaitu 33. Tertinggal Kab/Kota Tidak tertinggal Menurut Jenis Tenaga Dokter Dokter Gigi Bidan Perawat Apoteker Ass Apoteker Ahli Gizi SKM Sanitarian Terapi Fisik Teknis Medis Laboran Perawat Gigi Total Tenaga Menurut status kepegawaian Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pegawai Tidak tetap (PTT) Honor Daerah Wiyata 1. Namun pada kedua kategori terlihat bahwa rasio dokter umum lebih besar dari 1. Dari seluruh tenaga tersebut yang perbedaan yang relatif besar adalah pada tenaga bidan dan SKM. Dalam hal ini tenaga kesehatan dan kepala Puskesmas diminta menggolongkan kecamatan asal mereka sebagai daerah terpencil atau tidak terpencil.03 tenaga.70 1.49 0.14 19.11 1.31 0.14 0.03 2. .00 0.Tabel 4.72 10.79 0.51 0. Hal ini mengindikasikan upaya untuk memenuhi kekurangan tenaga PNS dengan tenaga PTT dan honor daerah.59 0. Selain pengelompokan kabupaten dalam kategori tertinggal dan tidak tertinggal.

Temanggung Gemawang.a 434.365 2. Sukabumi Tretep.626 3. Sukabumi Buniwangi. 42 . data puskesmas di kecamatan hanya disajikan jumlah totalnya dari 82 Kecamatan tidak terpencil.Dalam tabel 4. Wamena B. walaupun begitu jumlah desa yang dijangkau oleh puskesmas di kecamatan terpencil ratarata lebih kecil dibandingkan dengan kecamatan tidak terpencil.427 8. Pangkep Layang. dengan jumlah desa yang dilayani bervariasi dari 5 desa hingga 14 desa. Jayapura.500 n.101 3.5 Des/Kel 100 6 5 6 13 10 9 5 5 7 14 11 9 477 Desa Terpencil 58 6 5 2 5 6 9 1 3 11 10 36 Desa Ada Bidan 75 5 4 6 8 6 4 5 5 4 2 7 19 356 Pddk Dilayani 305.836 29 2 A. Sukabumi Surade. Jayapura Hom-Hom. Kecamatan Tidak Terpencil** 5 3 7 3 2 2 5 165 Ket *) Dalam satu kecamatan dilayani oleh dua Puskesmas. polindes dan Posyandu. Sukabumi). Jayapura Dosri. Wamena).850 6.871 2.21 kec/puskesmas). sehingga satu Puskesmas yang menjadi Responden hanya mencakup separuh dari wialyah kecamatan **) Untuk kepraktisan penyajian.846 13. Secara umum.12 berikut ini merupakan rangkuman dan kompilasi dari tabel sebelumnya dalam penyajian yang lebih memudahkan untuk membandingkan kondisi tenaga kesehatan di kecamatan terpencil dan tidak terpencil. Pangkep hingga satu puskesmas yang melayani 2 kecamatan (Makasar.981 14.5 1 1 1 1 1 1 1 0.520 4.973 9. dapat dilihat perbandingan beberapa parameter tenaga kesehatan dan fasilitas tenaga kesehatan antara kecamatan terpencil dan tidak terpencil. Tabel 4.791.907 15.696 45.5* 1 2 2 2 48.085 n.000 6.5 kecamatan (artinya satu kecamatan terdapat 2 puskesmas) di Puskesmas Taraweang.11 di bawah ini.738 29. Dari hasil kajian.11 Perbandingan rasio tenaga kesehatan puskesmas menurut kategori kecamatan terpencildan tidak terpencil JUMLAH PUSKESMAS Kec 14. sehingga satu puskesmas harus menjangkau dua kecamatan. Kecamatan Terpencil Ciracap.56 2 Pddk Miskin 64.902 33. Tabel 4.a 1.736 Pustu 28 2 1 4 2 4 4 2 2 3 1 3 139 Posyandu Polindes 402 50 33 46 58 55 30 18 16 30 30 17 19 2. ditemukan terdapat 12 Puskesmas yang digolongkan ke dalam kecamatan terpencil dan 80 pusksemas di kecamatan tidak terpencil. Pangkep Baloci. Dari tabel di atas dapat terlihat jumlah kecamatan yang dilayani oleh puskesmas di kecamatan terpencil bervariasi dari 0.000 13. Fasilitas Puskesmas pada daerah terpencil ini pada umunya juga didukung oleh keberadaan puskesmas pembantu (kecuali di Surade.000 2. Temanggung Tangaya. Hal dapat diartikan bahwa pada daerah terpencil cenderung lebih banyak kecamatan yang belum mempunyai puskesmas. dapat dilihat bahwa jumlah kecamatan yang dilayani oleh setiap Puskesmas lebih banyak pada Puskesmas di kecamatan terpencil (1.714 7.517 5. Pangkep Taraweang.519 15.284 4. Makasar Sentani.

67 Jumlah Kec yang dilayani per Puskesmas Jumlah Desa yang dilayani per puskesmas Jumlah Penduduk per Puskesmas Ratio Puskesmas per 100.00 penduduk di kecamatan terpencil yang lebih tinggi (3.93 10.57 pustu dan 3.67 desa terpecil.06 0. Rasio puskesmas per 100.908 5. Sebagai ilustrasi.83 Demikian juga dengan jumlah penduduk yang harus dilayani di kecamatan terpencil lebih kecil daripada kecamatan tidak terpencil.83 desa terpencil. Wilayah administratif daerah terpencil pada umumnya lebih luas daripada daerah tidak terpencil. dan dari Napar Yaur ke desa 2 jam (Pemda Nabire.Tabel 4.177 3. Di kecamatan yang tidak terpencil rata-rata satu puskesmas didukung oleh 2.42 4.357 0.06 polindes.93) di banding kecamatan tidak terpencil (3.75 2. Tigaperempat desa di daerah terpencil mempunyai bidan. puskesmas kecamatan terpencil harus melayani 4. dari distrik Yaur ke Puskesmas Yeretuar di Nabire harus ditempuh selama 6 jam dengan transportasi laut/air. Padahal. Dengan demikian akses penduduk pada daerahdaerah seperti ini sangat terbatas.21 8. 2004).33 2.452 3.051 0.33 pustu dan 2. Hal ini mengakibatkan persebaran penduduk yang tidak merata serta sulit dijangkau oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Selain itu masih banyak daerah-daerah yang hanya dapat tempuh dengan transportasi air/ laut atau berjalan kaki berjam-jam lamanya hingga mencapai fasilitas pustu atau puskesmas.12 Perbandingan rata-rata distribusi tenaga dan fasilitas kesehatan di Kecamatan Terpencil dan Tidak terpencil Kecamatan Terpencil Kecamatan Tidak terpencil 0.000 penduduk Jumlah Penduduk per Pustu Jumlah Penduduk Miskin per Puskesmas Jumlah Desa yang mempunyai Bidan Rasio Pustu per Puskesmas Rasio Polindes per Puskesmas Desa terpencil per Puskesmas 1. sama dengan daerah tidak terpencil. kita harus lebih berhati-hati dalam menyikapi hal ini. Dibandingkan denga rata-rata nasional 3. baik karena topografi maupun keterbatasan sarana dan prasana tarnsportasi dan komunikasi.90 8. Daerah yang digolongkan pada daerah terpencil pada umumnya adalah daerah yang sulit di capai dengan sarana tranportasi yang ada. sementara puskesmas di kecamatan tidak tepencil hanya melayani 0.01).01 12.75 2.83 33.43 polindes. Walaupun jumlah penduduk yang dilayani lebih sedikit dan rasio puskesmas terhadap jumlah penduduk lebih kecil.889 8. Hal ini menunjukkan bahwa beban puskesmas di daerah terpencil apabila dilihat dari jumlah penduduk yang dilayani tidak lebih besar dari puskesmas di kecamatan tidak terpencil. Yang relatif masih kurang di kecamatan terpencil adalah jumlah Pustu dan Polindes.33 25.57 3.46 angka ini menunjukkan bahwa rasio di kecamatan terpencil masih lebih baik Namun demikian. Dengan demikian beban kerja puskesmas di kecamatan terpencil sebenarnya lebih besar 43 . dari Yeretuar harus menempuh 2 jam perjalanan hingga ke Pustu Napan Yaur. bukan berarti akses penduduk terhadap puskesmas di daerah terpencil lebih baik. sementara di daerah terpencil masing-masing 2.

Terpencil Kec. namun hanya 15% saja yang mengharapkan kemudahan ijin praktek dan hanya 5. Artinya sebanyak 36% tenaga kesehatan didaerah terpencil merasa tidak menerima insentif dari pemerintah.3 92. baik yang bertugas di kecamatan terpencil dan tidak terpencil.9% responden dari kecamatan tidak terpencil dan 76% dari kecamatan terpencil menyatakan insentif yang diberikan tidak sesuai dengan harapan mereka).3 59 66. kendaraan.dan memerlukan biaya operasional yang lebih tinggi di banding daerah tidak terpencil. kemudian diikuti fasilitas (rumah. perlu dipertimbangkan upaya untuk meningkatkan jumlah pustu atau polindes di daerah seperti ini. Sebanyak 4 dari 10 tenaga kesehatan di kecamatan terpencil menyatakan mempunyai rencana untuk pindah ke wilayah lain. Gambar 4. Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan atau mempertahankan jumlah tenaga kesehatan khususnya di kecamatan terpencil. dan fasilitas lainnya). baik yang bekerja di kecamatan terpencil maupun tidak terpencil (77.4 20. Sekitar 20. pangkat. perlu diperhatikan masalah insentif yang seharusnya lebih baik daripada petugas di kecamatan yang tidak terpencil. Persentase tenaga kesehatan yang mengharapkan peningkatan insentif dan jenis insentif yang diharapkan menurut keterpencilan kecamatan Lainnya Lingkungan sosial budaya Peluang bekerja di fasilitas kes.5 15.7 10. kendaraan.1% yang mengharapkan peluang bekerja di fasilitas kesehatan lainnya.2 69.6 Kec. untuk mendekatkan akses masyarakat di daerah terpencil kepada fasilitas kesehatan. Sedangkan pada kecamatan yang tidak terpencil. Hasil kajian ini justru menunjukkan bahwa insentif dari pemda lebih banyak diterima oleh tenaga di kecamatan tidak terpencil (93% tenaga kesehatan di kecamatan tidak terpencil menerima insentif dibandingkan dengan 64% pada tenaga kesehatan di daerah terpencil).10.3 6. tentunya dengan mempertimbangkan ketersediaan tenaga kesehatan yang tersedia. adalah gaji/tunjangan. dan peningkatan karir. Adapun bentuk insentif yang paling banyak diterima adalah insentif finansial.8 0 0. Hampir semua tenaga kesehatan mengharapkan insentif gaji/tunjangan yang lebih baik. Akan tetapi besar insentif yang diterima masih belum sesuai dengan harapan tenaga kesehatan.2 15.1 8. Persentase ini lebih kecil dibandingkan dengan persentase tenaga kesehatan di daerah tidak terpencil.4 5.3 92.2 62. peningkatan status (karir. mengingat peluang untuk membuka praktek di luar atau bekerja di fasilitas kesehatan lain yang lebih kecil pada daerah terpencil. 44 .8 4. alat informasi. lain Akses ke fasilitas umum Kedekatan dengan keluarga Kemudahan ijin praktek Peningkatan karir Fasilitas (rumah.5% tenaga kesehatan di daerah terpencil juga mengharapkan adanya kedekatan dengan keluarga. dll) Gaji/Tunjangan 12.1 20. Oleh karena itu. Tidak Terpencil 0 20 40 60 80 100 Persen Responden Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa 3 jenis insentif yang paling diharapkan oleh tenaga kesehatan. alat info. fasilitas. pengangkatan PNS) dan percepatan masa bakti.

Dari tabel tersebut terlihat bahwa ketersediaan tenaga di Puskesmas menurut persepsi responden di daerah dengan fiskal kapasitas rendah. namun insentif bukan menjadi alasan utama rencana kepindahan. Terpencil 10.8 11.3 41. Alasan rencana kepindahan tenaga kesehatan dapat dilihat pada tabel berikut.1 1. Sedangkan insentif yang lebih menarik hanya menjadi alasan bagi 10. Pada Tabel 4. dukungan pustu dan polindes yang lebih sedikit.9 5. sedang dan tinggi pada lokasi kajian. Akan tetapi justru kedekatan keluarga dan pengembangan karir menjadi lebih penting bagi tenaga kesehatan baik di daerah terpencil maupun tidak terpencil. masalah keamanan masih menjadi kendala yang cukup besar dan menjadi alasan tenaga kesehatan Puskesmas untuk pindah ke lokasi lain.4 2. harapan terhadap insentif finansial. secara umum dapat dikatakan bahwa situasi ketenagaan di kabupaten tertinggal dan kecamatan terpencil ditandai dengan rasio tenaga kesehatan per puskesmas yang lebih kecil.8 0.8 35. kab/kota lokasi penelitian dengan kapasitas fiskal tinggi terdapat 2 Kab/kota. kapasitas fiskal sedang 9 kab/kota dan kapasitas fiskal rendah 21 kab/kota. sedang dan tinggi relatif sama yaitu masih mengalami kekurangan. Hal terjadi kemungkinan karena pindah ke daerah baru tidak menjamin adanya peningkatan insentif yang lebih baik. Di kecamatan terpencil. 538 tahun 2002 (Depkeu. Tabel 4. menurut pembagian kemampuan fiskal oleh KMK Menteri Keuangan No.4 2.9 41. 45 .6 Dua alasan utama rencana kepindahan adalah kedekatan dengan keluarga dan pengembangan karir. Sebagai rangkuman.8 47. 2002). fasilitas dan peningkatan karir yang sangat tinggi.14 di bawah ini ditampilkan perbandingan ketersediaan tenaga puskesmas di daerah dengan fiskal kapasitas rendah.6 0.9% bagi tenaga di kecamatan tidak terpencil dan 5. baik bagi tenaga di kecamatan terpencil maupun tidak terpencil. proporsi PNS yang lebih sedikit dan honor daerah dan PTT yang lebih tinggi. D.hanya 2 dari 10 yang mempunyai rencana untuk pindah ke wilayah lain. Tidak Terpencil Kec. Yang menarik diperhatikan adalah kenyataan walaupun hampir semua tenaga kesehatan mengharapkan peningkatakan insentif finansial.13. jangkauan desa terpencil yang dilayani lebih luas.9% di kecamatan tidak terpencil. dengan persentase tertinggi pada daerah dengan fiskal kapasitas rendah (65%). serta rencana kepindahan yang lebih tinggi. Distribusi Tenaga Kesehatan di Puskesmas di Kapasitas Fiskal Daerah Pada kajian ini. Persentase tenaga kesehatan Puskesmas yang mempunyai rencana pindah dan alasan kepindahannya Alasan Kepindahan Insentif Yang Lebih Menarik Pengembangan Karir Dekat Dengan Keluarga Keamanan Peningkatan Pendidikan Sekolah Persentase Responden Kec.

0 33.0 64. Lain Lingkungan Sosial Budaya Lainnya Responden di daerah fiskal kapasitas (%) rendah sedang tinggi 93.5 0.16 Persentase tenaga kesehatan yang mengharapkan insentif dan jenis insentif yang diharapkan Janis Insentif yang Diharapkan Gaji/Tunjangan Peningkatan Karir Fasilitas (rumah.3 52.dll). alat infomasi. dll) Peningkatan Status (karir. Ketersediaan tenaga Puskesmas di daerah menurut kapasitas fiskal Ketersediaan Tenaga di Puskesmas Kurang Cukup Berlebih Responden di daerah fiskal kapasitas (%) Rendah Sedang Tinggi 65.0 20.8 2.6%.3 5. alat info. pangkat. masing-masing 57.7 46 . maupun rendah yaitu masing-masing 33. Sedangkan jenis insentif yang paling diharapkan oleh tenaga kesehatan adalah gaji/tunjangan.0 20.0 7. pengangkatan PNS) Percepatan masa Bakti Lainnya Responden di daerah fiskal kapasitas (%) rendah sedang tinggi 82.8 8.0 11.0 30.1 17.3%. maupun tinggi.2 0. dll) pada semua responden di daerah dengan fiskal kapasitas rendah. kendaraan. 17.15 Insentif yang diterima tenaga kesehatan dari Pemda menurut kapasitas fiskal daerah Insentif yang Diterima dari Pemda Finansial Fasilitas (rumah.0 68. pangkat. kendaraan.0 33. Tabel 4.8 16.7 17.4 60.3 50.6 86. dan lain-lain).16.3 7.9%.4 7. pengingkatan karir dan fasilitas (rumah.0 1.6 31. Adapun jenis insentif yang paling banyak diterima adalah insentif dalam bentuk finansial.4 15. Secara rinci besarnya persentase masing-masing jenis insentif ditampilkan pada tabel 4.1 66. dan peningkatan status (karir.8%.0 0. sedang.Tabel 4. dll) Kemudahan Ijin Praktek Kedekatan Dengan Keluarga Akses Ke Fasilitas Umum Peluang Bekerja Di Fasilitas Kes.3 42.9 0.15.7 0 33. Tabel 4.7 100.8% dan 59% tenaga yang menerima insentif.0 50. kendaraan.9 33.0 53.9 26.14.5 33.3 0 0 Insentif yang diterima oleh tenaga kesehatan di puskesmas ternyata masih belum memenuhi harapan baik yang bermukim di daerah dengan fiskal kapasitas tinggi.3 0.0 5.9 0.5 100. Secara rinci jenis insentif yang diharapkan oleh tenaga kesehatan di puskesmas ditampilkan pada tabel 4. Hal ini terbukti dari hasil analisis bahwa insentif dari Pemda yang diterima tenaga kesehatan Puskesmas pada daerah fiskal kapasitas rendah lebih tinggi yaitu 62. dan 19. fasilitas (rumah. sedang.3 Sedangkan insentif yang diberikan oleh Pemda terhadap tenaga puskemas terutama diberikan pada tenaga kesehatan puskesmas yang terletak pada daerah dengan fiskal kapasitas rendah. kendaraam.0 88.1 3.4 33. sedangkan pada daerah fiskal kapasitas sedang dan tinggi.0 5.

kesehatan reproduksi.9%). serta pemberian insentif yang tepat. Dilihat dari frekwensi pelatihan dapat diasumsikan bahwa kegiatan pembinaan karir melalui 47 . jika dirinci menurut jenis pelatihan yang diikuti.0 8.1 16. imunisasi. dan berbagai pelatihan baik pelatihan teknis fungsional maupun pelatihan manajemen.79 11. dan gizi. Peningkatan kemampuan teknis selain dapat diperoleh melalui pendidikan formal.1 0. adannya peluang untuk menduduki jabatan tertentu. Secara rinci alasan kepindahan tenaga kesehatan di puskesmas ditampilkan pada tabel 4.40%) mengikuti pelatihan teknis fungsional. Responden di daerah fiskal kapasitas (%) Rendah sedang tinggi 37.1 4. sanitasi.1%).0 1.7 1. tenyata banyak disampaikan oleh responden tenaga kesehatan yang tinggal pada daerah wilayah dengan fiskal kapasitas sedang sebanyak 66. 1 2 3 4 Frekwensi Pelatihan 1-3 kali 4-5 kali 6-10 kali Lebih dari 10 kali Jumlah Jumlah 95 34 46 8 % 51.93 11. KIA.6 25. Tabel 4. frekuensi pelatihan pertahun yang paling banyak diikuti oleh petugas Puskesmas adalah 1-3 kali (51. Alasan Rencana Kepindahan Tenaga Kesehatan di Puskesmas Alasan Pindah Pengembangan Karir Dekat Dengan Keluarga Insentif Yang Lebih Menarik Keamanan Lainnya E.1 25.7 16. dan manajemen mutu. Tabel 4. sedangkan sisanya adalah pelatihan manajemen.7 50. penyakit menular.6%.7 Pembinaan Karir Tenaga Kesehatan Pembinaan karir tenaga kesehatan antara lain dapat berupa peningkatan kemampuan teknis dan kemampuan manajerial. sebagian besar (66. pengadaan barang dan jasa. Sedangkan pelatihan manjemen antara lain meliputi pelatihan manajemen puskesmas. Alasan kepindahan tenaga kesehatan sebagian besar untuk yang tinggal di daerah dengan fiskal kapasitas sedang dan tinggi yaitu pengembangan karir (50 % dan 41. disusul daerah dengan fiskal kapasitas rendah 26.18.7% dan terakhir daerah dengan fiskal kapasitas tinggi 25.0 Selanjutnya.0 41.17.7%) sedangkan di daerah dengan fiskal kapasitas rendah adalah dekat dengan keluarga (50%).9 18. Berdasarkan data survei.Rencana untuk pindah tenaga kesehatan di puskesmas.79 16. Frekwensi Pelatihan Yang Pernah Diikuti Responden No.4 100.17.7%.50 50. adanya peluang untuk tour of duty dan tour of area.00 11. dan 6-10 kali ( 25. Puskesmas Pembantu (Pustu). Jenis pelatihan teknis fungsional yang diikuti antara lain mengenai pelatihan keperawatan.

sebagian besar (73%) menyatakan tidak merencanakan untuk pindah.1 1. sebagian besar (69%) menyatakan akan pindah setelah dua tahun.9 100 Tour of duty (pindah tugas) dan tour of area (pindah tempat) merupakan salah satu instrumen untuk pembinaan pegawai. Pembinaan karir juga dapat dilihat dari peluang untuk memperoleh jabatan di Puskesmas. Pemberian insentif yang tepat sesuai kebutuhan merupakan salah satu instrumen pembinaan pegawai.4 5.7 1.5%) menyatakan bahwa untuk menduduki jabatan Kepala Puskesmas latar belakang pendidikan yang diperlukan adalah dokter. dan sekitar 36.7 % menyatakan Sarjana Kesehatan Masyarakat.1%) dan pengembangan karir (40. sisanya sarjana lain.0 Dari data tersebut nampak bahwa perpindahan tenaga antarpuskesmas tidaklah mudah. 1 2 3 4 5 Alasan Pindah Insentif Yang Lebih Menarik Pengembangan Karir Dekat Dengan Keluarga Keamanan Lainnya Jumlah Jumlah 7 29 31 1 4 % 9. peningkatan karir.pelatihan relatif memadai. Saat ini di beberapa daerah.6 100. mungkin hal ini karena hambatan administrasi. Persepsi Responden Tentang Latar Belakang Pendidikan Jabatan Kepala Puskesmas No. Sebagian besar responden (61. Puskesmas telah dipimpin oleh Sarjana Kesehatan Masyarakat. 48 . 1 2 3 Latar Belakang Pendidikan Dokter Sarjana Kesehatan Masyarakat Lainnya Jumlah Jumlah 166 99 5 270 % 61. Pertimbangan untuk pindah tempat kerja yang disampaikan oleh responden sebagian besar adalah alasan dekat dengan keluarga (43.3 43. kendaraan.5 36. Tabel 4. Insentif lainnya yang diharapkan dapat diperoleh adalah kemudahan mendapatkan izin praktek dan kedekatan dengan keluarga.7 40. Tabel 4. Data survei menunjukkan terdapat tiga jenis insentif yang paling diharapkan oleh petugas Puskesmas di seluruh lokasi kajian diperoleh dari Pemerintah Daerah yaitu berupa pemberian gaji/tunjangan yang lebih baik. Data survei menunjukkan bahwa dari keseluruhan responden. Alasan Pindah Tenaga Kesehatan Puskesmas No. sedangkan sisanya (27%) merencanakan akan pindah. Pendapat ini sudah menunjukkan kecenderungan yang berbeda dengan beberapa waktu yang lalu bahwa Puskesmas harus dipimpin oleh seorang dokter.20. Begitu pula halnya dengan jenis pelatihan yang dilakukan sudah menunjang tugas pelayanan kesehatan yang menjadi tugas pokok Puskesmas. aperalatan komunikasi).19. dan penyediaan fasilitas (antara lain perumahan.3%). Dari responden yang menyatakan akan pindah.

F. Diantara penduduk yang mengeluh sakit. fasilitas pelayanan kesehatan yang paling banyak dimanfaatkan adalah Puskesmas (40%). dan peningkatatan status kepegawaian (misalnya kenaikan pangkat. pengangkatan sebagai CPNS) serta adanya percepatan masa bakti. Rumah Sakit dan praktek dokter. Tanggapan Masyarakat Data dan informasi tentang tanggapan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas diperoleh dari data sekunder yang berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2004 substansi kesehatan dan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2004.9 8.21. Terdapat 5-13% yang memerlukan waktu tungggu lebih dari 60 menit yaitu di Puskesmas/Pustu. kendaraan. Kepuasan pelayanan kesehatan yang meliputi kepuasan terhadap sikap tenaga kesehatan dalam mengobati/ memeriksa. Lain Akses Ke Fasilitas Umum Lainnya Lingkungan Sosial Budaya Jumlah 250 176 171 53 43 22 18 16 1 % 92.2 63. kendaraan).1 6.7 5.6 65. sebesar 39 % melakukan rawat jalan. fasilitas (antara lain perumahan. Puskesmas dan Pustu lebih banyak dimanfaatkan oleh penduduk yang bemukim di Kawasan Timur Indonesia (KTI). jenis insentif khusus yang paling banyak diharapakan adalah insentif finansial. Proporsi terbesar yang menyatakan sangat puas/puas adalah mereka yang 49 . Ketanggapan terhadap rawat jalan meliputi tiga domain yaitu: 1.3 19.6 15. Dalam Susenas 2004 dikumpulkan informasi tentang pemanfaatan fasilitas kesehatan dan penilaian nasyarakat tentang ketanggapan (responsiveness) pelayanan rawat jalan dan rawat inap. dll) Kemudahan Ijin Praktek Kedekatan Dengan Keluarga Peluang Bekerja Di Fasilitas Kes. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Harapan Insentif Gaji/Tunjangan Peningkatan Karir Fasilitas (rumah.4 Sedangkan bagi tenaga kesehatan yang ditempatkan di daerah terpencil. Penjelasan petugas tentang semua hal yang berkaitan dengan penyakit termasuk memberi kesempatan kepada responden untuk bertanya pada petugas jika informasi yang diberikan tidak jelas. Persentase tertinggi untuk lama waktu tunggu kurang dari 30 menit adalah praktek petugas kesehatan (85%).Tabel 4. Dari mereka yang rawat jalan. alat info. sedangkan ke RS Pemerintah (5%). Lama waktu menunggu untuk mendapatkan pelayanan (setelah pendaftaran sampai mendapat pelayanan) 2.9 0. Persentase responden yang menyatakan sangat puas/puas terhadap pelayanan rawat jalan berkisar antara 54-79%. Insentif Yang Paling Banyak Diharapkan oleh Responden dari Pemda No. penduduk yang mengeluh sakit sebulan terakhir sebanyak 27%. ketersediaan/ kelengkapan peralatan kesehatan dan obat-obatan yang diberikan 3. Pada survei tersebut ditemukan. Poliklinik (69%). praktek dokter (28%) dan praktek perawat dan bidan (25%).

khusunya kegiatan rawat jalan memberikan gambaran yang kurang memuaskan bagi masyarakat yang dilayaninya. 50 . Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2004. menunjukkan sebagian besar penduduk (94%) usia 15 tahun atau lebih mendapatkan pelayanan rawat jalan. rata-rata jumlah tenaga Puskesmas masih belum bekerja lebih berat dengan dilaksanakannya program JPSBK. menurut survei ini ketanggapan Puskesmas/Pustu yang diukur melalui tiga domain yaitu lama waktu tunggu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Pada rawat jalan persentase tertinggi untuk pengalaman/ketanggapan kurang baik adalah tidak dapat ikut mengambil keputusan tentang perawatan kesehatan dan pengobatan (33%). Poliklinik (67%) dan Puskesmas/Pustu (52%). kunjungan ke Puskesmas meningkat setiap bulannya yang disebabkan berkurangnya hambatan biaya untuk berobat. Dari sekitar 14% keluarga miskin yang sakit dalam satu bulan terakhir. (6) Kebebasan memilih fasilitas dan petugas kesehatan. diikuti praktek dokter (70%). Poliklinik (70%) dan RS Pemerintah (68%). Peran Puskesmas Bagi Penduduk Miskin.5%). Dapat disimpulkan. G. dua diantaranya dilakukan oleh Sudiro (1999) dan Bappenas (2004). menunjukkan sebesar 80% keluarga miskin telah mendapatkan Kartu Sehat (KS). sedangkan di Puskesmas/Pustu (55. Pemberian penjelasan petugas kesehatan tentang penyakit menurut fasilitas kesehatan dinilai sangat jelas/jelas berkisar antara 40-72%. Dari kedua survei tersebut dapat disimpulkan bahwa ketanggapan Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan. 86% diantaranya mencari pengobatan ke Puskesmas. Kajian tentang peran Puskesmas dalam pelayananan kesehatan bagi penduduk miskin telah banyak dilakukan.memanfaatkan pelayanan rawat jalan di RS Swasta (79%). Penelitian Sudiro (1999) dilakukan untuk melihat pelayanan pelayanan kesehatan di Puskesmas untuk keluarga miskin. kepuasan pelayanan kesehatan. (2) Keramahan petugas dalam menyapa dan berbicara. tidak puas berbicara secara pribadi dan tidak ada kebebasan memilih fasilitas serta tenaga kesehatan (27%) dan lama waktu menunggu (26%). (3) Kejelasan petugas menerangkan segala sesuatu. (4) Keikutsertaan responden dalam pengambilan keputusan. masih rendah jika dibandingkan dengan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. (5) Dapat berbicara pribadi dengan petugas kesehatan. RS Pemerintah (67%). Hampir seluruh keluarga miskin yang berobat merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan. praktek tenaga kesehatan lain (24%) dan praktek dokter (23%). Pada saat itu pemerintah sedang melaksanakan Program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK) sebagai respons terhadap krisis ekonomi. Dari segi tenaga dapat disimpulkan. Fasilitas yang diminati pada saat membutuhkan pelayanan rawat jalan adalah Puskesmas (36%). Proporsi terbesar responden yang menyatakan pemberian penjelasan sangat jelas/jelas adalah RS Swasta (72%). teman pada saat dirawat. praktek dokter (76%). dan penjelasan petugas kesehatan yang berkaitan dengan penyakit. (7) Kebersihan ruang termasuk kamar mandi. Dalam penelitiannya di 69 Puskesmas di Jawa Timur. dan (8) Kemudahan dikunjungi keluarga. Kepuasan dalam pelayanan kesehatan pada rawat jalan dan rawat inap dinilai dari 8 aspek pengalaman reponden yaitu: (1) Lama waktu menunggu.

Dari kedua studi tersebut dapat disimpulkan bahwa peranan Puskesmas dalam memelihara akses penduduk miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar melalui pelaksanaan prgram JPSBK/PKPS-BBM cukup efektif. Askes. Pada tahun 2005. Dengan demikian secara umum dapat dikatakan bahwa program JPSBK/PKPS-BBM dapat mempertahankan akses penduduk miskin kepada pelayanan kesehatan.5 kunjungan per orang per tahun. Salah satu indikator kinerja yang digunakan adalah jumlah kunjungan per keluarga miskin (gakin) per tahun ke fasilitas pelayanan kesehatan. Angka ini kurang lebih sama dengan contact rate penduduk secara umum yang dihitung atas dasar analisis data Susenas. Kunjungan gakin ini merupakan salah satu sasaran utama dalam program pelayanan penduduk miskin dengan tujuan untuk mempertahankan atau bahkan bila mungkin meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan kesehatan. antara lain menilai kinerja program pelayanan kesehatan untuk keluarga miskin terutama yang dilaksanakan melalui Program JPSBK/PKPS-BBM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa contact rate penduduk miskin adalah sekitar 0. kebijakan pelayanan kesehatan bagi gakin yang dilaksanakan melalui Puskesmas pada prinsipnya melanjutkan kebijakan tahun-tahun sebelumnya. Perubahan kebijakan dan efektivitasnya perlu dikaji lebih lanjut.Penelitian Bappenas (2004). 51 . Yang berbeda adalah pelayanan kesehatan di RS yang dalam pelaksanaannya bekerjasama dengan PT. sama dengan akses penduduk secara umum.

Menghadapi kekurangan ini sebagian besar kab/kota mengusulkan kebutuhan tenaga ke Pemerintah Pusat. Dari 35 kab/kota lokasi kajian. Hal ini berarti tidak semua lulusan pendidikan tenaga kesehatan secara otomatis langsung dapat menjalankan tugas dan fungsinya di puskesmas. khususnya untuk tenaga dokter umum Rumah Sakit dan Puskesmas. Namun lebih dari separuh (52. Laboran dan Sanitarian. dukungan pustu dan polindes yang lebih sedikit. Masalah yang dihadapi terutama adalah keterbatasan formasi dan keterbatasan dana. pengadaan. Banten. tenaga kesehatan di Indonesia masih belum mencukupi. Terdapat kesenjangan antara jumlah (di 46% kab/kota) dan jenis (36% kab/kota) tenaga yang diusulkan dengan formasi yang tersedia. jangkauan desa terpencil yang dilayani lebih luas. dan Bali.2 % puskesmas di lokasi penelitian.BAB V. Secara nasional dilihat dari rasio terhadap jumlah penduduk. Kriteria utama penempatan dokter umum dan bidan adalah puskesmas yang tidak mempunyai dokter dan desa yang tidak mempunyai bidan. serta penempatan. Daerah juga telah melakukan perencanaan untuk hampir semua jenis tenaga. dan NTB. terbatasnya data dan informasi. rasio ini juga masih jauh tertinggal. Sedangkan tiga provinsi dengan rasio terendah adalah Jawa Barat. 7. 4.1% tenaga kesehatan di puskesmas. Sebagian besar tenaga kesehatan berlokasi di Jawa dan Bali. sebagian besar (52. Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. 6. namun jika dilihat dari rasio per penduduk. fasilitas dan peningkatan karir yang sangat tinggi. Pada kabupaten yang menggunakan pedoman dua metoda yang paling banyak digunakan adalah Ratio Method dan Health Services Demand Method.6% kab/kota) merupakan wenangan BKD 5.6%) Kabupaten/Kota lokasi kajian tidak menerapkan Kepmenkes No. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. serta rencana kepindahan yang lebih tinggi. Kesimpulan 1. Kalimantan Tengah. Kekurangan tenaga juga dirasakan oleh 58. harapan terhadap insentif finansial. Sebagian besar responden tenaga kesehatan di puskesmas (70. Kebijakan nasional tentang tenaga kesehatan telah disusun dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Formasi yang tersedia. dan terbatasnya kapasitas perencana. tetapi masih memerlukan orientasi/adaptasi ataupun pelatihan di puskesmas. 2. pada semua jenis tenaga kesehatan.6% kab/kota) ditentukan bersama oleh Dinas Kesehatan dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan sepertiga (31.61/2004 mengenai pedoman perencanaan. dengan persentase tertinggi pada Sarjana Kesehatan Masyarakat. Permasalahan dapat timbul jika penempatan tidak sesuai dengan usulan. Secara umum situasi ketenagaan di daerah tertinggal dan terpencil ditandai dengan rasio tenaga kesehatan per puskesmas yang lebih kecil. meliputi aspek perencanaan kebutuhan.6%) menyatakan kesesuaian antara latar belakang pendidikan dengan tugas di puskesmas. 52 . dengan alasan utama kurangnya sosialisasi. proporsi pegawai PNS yang lebih sedikit dan pegawai honor daerah dan PTT yang lebih tinggi. distribusinya lebih menyebar. karena kurangnya koordinasi antara Dinas Kesehatan dengan BKD. terdapat kekurangan 66. Proses pengadaan dan penempatan yang kurang memuaskan juga dirasakan separuh dari responden. Tiga provinsi dengan rasio tertinggi adalah Kalimantan Timur. 3.

Terdapat tiga jenis insentif yang paling diharapkan oleh petugas Puskesmas diperoleh dari Pemerintah Daerah yaitu berupa pemberian gaji/tunjangan yang lebih baik. misalnya dengan menajwab dua persamalah utama pengadaan tenaga kesehatan yaitu terbatasnya formasi dan terbatasnya dana.5%) menyatakan bahwa untuk menduduki jabatan Kepala Puskesmas latar belakang pendidikan yang diperlukan adalah dokter. kepuasan pelayanan kesehatan. Pendapat ini sudah menunjukkan kecenderungan yang berbeda dengan beberapa waktu yang lalu bahwa Puskesmas harus dipimpin oleh seorang dokter. termasuk fasilitas (rumah. Oleh karena itu secara nasional kebijakan untuk pengadaan dokter Puskesmas ini dapat dijadikan suatu prioritas. khususnya kegiatan rawat jalan memberikan gambaran yang kurang memuaskan bagi masyarakat yang dilayaninya. peningkatan kapasitas perencana dan pengumpulan data dan informasi. Perlu dimantapkan keterkaitan perencanaan. 5. Puskesmas telah dipimpin oleh Sarjana Kesehatan Masyarakat. 9. dan penjelasan petugas kesehatan yang berkaitan dengan penyakit. Ketanggapan Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan. 10. pendayagunaan tenaga dan penyediaan tenaga.. perlu dipetimbangkan kemungkinan untuk memperbanyak pustu dan polindes. dan menyediakan pendanaan. Saat ini di beberapa daerah. Pemerintah daerah perlu melakukan pembagian tugas yang jelas. 3. 4. Insentif lainnya yang diharapkan dapat diperoleh adalah kemudahan mendapatkan izin praktek dan kedekatan dengan keluarga. Untuk peningkatan akses masyarakat kepada tenaga dan fasilitas kesehatan di daerah terpencil.8. B. Hingga saat ini masih banyak puskesmas yang belum mempunyai dokter. Sebagian besar responden (61. Perlu dikembangkan sistem informasi tenaga kesehatan secara terpadu dan menyeluruh dalam rangka memanfaatkan data ketenagaan untuk perencanaan kebutuhan dan penyediaan tenaga kesehatan. alat) serta kemudahan karir. 6. 2. 11. dan sekitar 36. Ketanggapan Puskesmas/Pustu yang diukur melalui tiga domain yaitu lama waktu tunggu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. dan penyediaan fasilitas (antara lain perumahan. Rekomendasi 1. 53 . peralatan komunikasi). Untuk mengatasi berbagai kendala dalam perencanaan ketenagaan di daerah. sisanya sarjana lain.7% menyatakan Sarjana Kesehatan Masyarakat. pemerintah pusat dan propinsi dapat membantu dalam sosialisasi metode perencanaan. kendaraan. perlu diperhatikan masalah insentif yang seharusnya lebih baik daripada petugas di kecamatan yang tidak terpencil. Peranan Puskesmas dalam memelihara akses penduduk miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar melalui pelaksanaan program JPSBK/PKPS-BBM cukup efektif. Perubahan kebijakan dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan efektivitasnya perlu dikaji lebih lanjut. pengadaan dan penempatan tenaga agar tercapai keserasian antara kebutuhan. peningkatan karir. Untuk meningkatkan atau mempertahankan tenaga kesehatan di kecamatan terpencil. masih rendah jika dibandingkan dengan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. sehingga kriteria penempatan yang digunakan daerah biasanya berdasarkan pada kekosongan tenaga dokter di Puskemas.

Dalam rangka menjamin mutu tenaga kesehatan perlu dikembangkan upaya peningkatan mutu institusi pendidikan dan peran serta organisasi profesi serta masyarakat lainnya.7. Ketanggapan pelayanan Puskesmas terhadap masyarakat perlu ditingkatkan melalui pemberian informasi yang baik. kebebasan memilih fasilitas kesehatan dan mempercepat waktu tunggu. 54 . terutama dalam sertifikasi. registrasi dan lisensi tenaga kesehatan 8. pelibatan pasien untuk pengambilan keputusan.

15. 2005. Sistem Kesehatan Nasional Departemen Kesehatan RI. (Makalah disampaikan pada Pertemuan Kebijakan Perencanaan Tenaga Bidang Kesehatan di Hotel Jayakarta. September 1999. Sudiro. 2004. 12. Statistis Kesejahteraan Rakyat 2004. 16. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Pelayanan Kesehatan Puskesmas Dalam Program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK).7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009 Bappenas. Abdurachman. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2004. Jakarta. 2005. Jakarta: Badan Litbangkes. 2005. 8. 1999. 2005. 2005. (Makalah disampaikan pada Pertemuan Kebijakan Perencanaan Tenaga Bidang Kesehatan di Hotel Jayakarta. 4 Agustus 2005) Ruswendi. 2004. 4 Agustus 20050 Badan Pusat Statistik (BPS).DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta. 2005. Ed. 4 Agustus 2005 Suseno.81/ Menkes/SK/I/2004 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Sumberdaya Manusia Kesehatan Di Tingkat Provinsi. 2004. 9. 13. 17. Permasalahan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan (Makalah disampaikan pada Pertemuan Kebijakan Perencanaan Tenaga Bidang Kesehatan di Hotel Jayakarta. Departemen Kesehatan RI. Jurnal Kedokteran dan Farmasi Medika. 10. (Makalah disampaikan pada Pertemuan Kebijakan Perencanaan Tenaga Bidang Kesehatan di Hotel Jayakarta. 3. Kabupaten/Kota Serta Rumah Sakit Departemen Kesehatan RI. 7. 2. D. 2004. Kebijakan Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan. 6. 2005. 14. Jakarta. 4 Agustus 2005) Soeparan. 11. 4. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2004Subtansi Kesehatan. S. 2003. Khusus.2005. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003. Peraturan Presiden RI No. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1199/Menkes/Per/X/2004 Tentang Pedoman Pengadaan Tenaga Kesehatan Dengan Perjanjian Kerja di Sarana Kesehatan Milik Pemerintah. Jakarta: Badan Litbangkes. 2004. 5. Departemen Kesehatan RI. 1999. 2005. 2005. Profil Kesehatan Indonesia 2003. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010 Departemen Kesehatan RI. 2005. Republik Indonesia. Laporan Kajian Kebijakan Perencanaan dan Pembiayaan: Pelayanan Kesehatan Bagi penduduk Miskin. Jakarta. 18. Departemen Kesehatan RI. Kebijakan Penempatan Tenaga Kesehatan di Institusi Pelayanan Kesehatan. Untung. BPS dan ORC Macro. Analisis Situasi dan Kecenderungan Pembangunan Kesehatan 2000-2005 (Rancangan 12 Desember 2005) Departemen Kesehatan RI. Kebijakan Pengadaan Tenaga Kesehatan Melalui Pendidikan Tenaga Kesehatan. 55 . 2005 Departemen Kesehatan RI. Rencana Strategis Departemen Kesehatan 20052009 Departemen Kesehatan RI.

23. Laporan Pertama Tujuan Pembangunan Millenium. Keputusan Menteri Keuangan No.850/Menkes/SK/V/2000 tentang Kebijakan Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2000-2010 Direktorat Kesehatan Komunitas. 1996. Departemen Keuangan. Laporan Pelaksanaan Tugas Dinas Kesehatan Tahun 2004. 24. 2004. Departemen Kesehatan RI. Peraturan Pemerintah RI Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan Pemda Kabupaten Nabire. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. 56 . 2002. 25. 2004. 21. 20. 538 tahun 2002 tentang Kapasitas Fiskal Pemerintah Indonesia. Departemen Kesehatan RI. 2004 Pusat Kajian Pembangunan Kesehatan. Data Dasar Puskesmas Tahun 2004. Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. 2004. 22. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Kajian Kebijakan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Republik Indonesia.19.

dan upaya-upaya yang telah dilakukan. merupakan hasil kajian tentang kebijakan perencanaan tenaga kesehatan di berbagai propinsi dan kabupaten pada tahun 2005. Saat Indonesia masih mengalami kekurangan tenaga kesehatan baik dalam hal jenis maupun jumlahnya. Apa yang dipaparkan dalam buku ini. Banyak hal menarik yang muncul dari kajian ini baik yang menguatkan maupun yang bertolak belakang dengan berbagai asumsi dan data yang ada. Kajian mencoba menengok kebijakan tenaga kesehatan di tingkat kabupaten/kota. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi Bappenas dan atau instansi pemerintah lainnya dalam mempertajam penyusunan kebijakan pembangunan kesehatan khususnya di bidang ketenagaan kesehatan di masa mendatang. distribusi tenaga di wilayah tertinggal dan terpencil. yang sangat penting artinya dalam upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. kendala-kendala yang dihadapi. mutu. 57 . khususnya di tingkat nasional.Halaman belakang Tenaga kesehatan merupakan salah satu pilar atau sub sistem kesehatan nasional. Hal ini semakin diperburuk dengan distribusi tenaga kesehatan yang masih belum merata.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful