Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH KOROSI DAN TEKNIK PELAPISAN LOGAM

Mata Kuliah : Korosi dan Teknik Pelapisan

Dosen Pengampu : Ir.Riski Elpari Siregar ,M.T.

Disusun Oleh :

Nama : Fahrudin Batubara


NIM : 5173321019

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas kehendak-Nyalah makalah ini dapat
terselesaikan. Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengamati korosi pada besi. Selain itu
juga untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan korosi .
Dengan terselesaikannya makalah ini diharapkan dapat memberi pengetahuan tentang
bahan-bahan yang dapat timbulkan dan mempercepat terjadinya korosi (karat), proses
terjadinya korosi, kerugian serta cara mencegah terjadinya korosi. Oleh karena itu,
terselesaikannya makalah ini tentu saja bukan karena kemampuan penulis semata-mata.
Namun, berkat dukungan dan bantuan dari pihak-pihak terkait.

Medan,18 Maret 2020

Fahrudin Batubara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

KOROSI pada logam menimbulkan kerugian tidak sedikit. Hasil riset yang
berlangsung tahun 2002 di Amerika Serikat memperkirakan, kerugian akibat korosi yang
menyerang permesinan industri, infrastruktur, sampai perangkat transportasi di negara
adidaya itu mencapai 276 miliar dollar AS. Ini berarti 3,1 persen dari Gross Domestic
Product (GDP)-nya. sebenarnya, negara-negara di kawasan tropis seperti Indonesia paling
banyak menderita kerugian akibat korosi ini. tetapi, tidak ada data yang jelas di negara-
negara tersebut tentang jumlah kerugian setiap tahunnya.
Korosi yang dipengaruhi oleh mikroba merupakan suatu inisiasi atau aktifitas korosi
akibat aktifitas mikroba dan proses korosi. Korosi pertama diindentifikasi hampir 100 jenis
dan telah dideskripsikan awal tahun 1934. bagaimanapun korosi yang disebabkan aktifitas
mikroba tidak dipandang serius saat degradasi pemakaian sistem industri modern hingga
pertengahan tahun1970- an. Ketika pengaruh serangan mikroba semakin tinggi, sebagai
contoh tangki air stainless steel dinding dalam terjadi serangan korosi lubang yang luas pada
permukaan sehingga para industriawan menyadari serangan tersebut. Sehingga saat itu,
korosi jenis ini merupakan salah satu faktor pertimbangan pada instalasi pembangkit industri,
industri minyak dan gas, proses kimia, transportasi dan industri kertaspulp. Selama tahun
1980 dan berlanjut hingga awal tahun 2000, fenomena tesebut dimasukkan sebagai bahan
perhatian dalam biaya operasi dan pemeriksaan sistem industri. Dari fenomena tersebut,
banyak institusi mempelajari dan memecahkan masalah ini dengan penelitian-penelitian
untuk mengurangi bahaya korosi tersebut.
Penulisan ini makalah ini ditujukan sebagai bahan perhatian kembali kepada pelaku
indutriawan, dosen dan pendidikan secara khususnya dan orang- orang yang berkompeten
terhadap bidang, kimia, korosi dan ilmu pengetahuan alam pada umumnya, bagaimana
bahayanya korosi bakteri di lingkungan bebas baik air, udara dan tanah di sekitar kita.
Mikroba merupakan suatu mikrooranisme yang hidup di lingkungan secara luas pada
habitat-habitatnya dan membentuk koloni yang pemukaanya kaya dengan air, nutrisi dan
kondisi fisik yang memungkinkan pertumbuhan mikroba terjadi pada rentang suhu yang
panjang biasa ditemukan di sistem air, kandungan nitrogen dan fosfor sedikit, konsentrat serta
nutrisi-nutrisi penunjang lainnya.
Mikroorganisme yang mempengaruhi korosi antara lain bakteri, jamur, alga
danprotozoa. Korosi ini bertanggung jawab terhadap degradasi material di lingkungan.
Pengaruh inisiasi atau laju korosi di suatu area, mikroorganisme umumnya berhubungan
dengan permukaan korosi kemudian menempel pada permukaan logam dalam bentuk lapisan
tipis atau biodeposit. Lapisan film tipis atau biofilm. Pembentukan lapisan tipis saat 2 – 4 jam
pencelupan sehingga membentuk lapisan ini terlihat hanya bintik-bintik dibandingkan
menyeluruh di permukaan.
Lapisan film berupa biodeposit biasanya membentuk diameter beberapa centimeter di
permukaan, namun terekspos sedikit di permukaan sehingga dapat meyebabkan korosi lokal.
Organisme di dalam lapisan deposit mempunyai efek besar dalam kimia di lingkungan antara
permukaan logam/film atau logam/deposit tanpa melihat efek dari sifat bulk electrolyte.
Mikroorganisme dikatagorikan berdasarkan kadar oksigen yaitu :
1. Jenis anaerob, berkembang biak pada kondisi tidak adanya oksigen.
2. Jenis Aerob, berkembang biak pada kondisi kaya oksigen.
3. Jenis anaerob fakultatif, berkembang biak pada dua kondisi.
4. Mikroaerofil, berkembang biak menggunakan sedikit oksigen.

1.2.    Rumusan Masalah


    a.Apakah yang dimaksud dengan korosi?
    b.Apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya proses korosi?
    c.Apa saja bentuk-bentuk korosi?
    d.Bagaimana proses terjadinya korosi pada besi?
    e.Apa saja cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya korosi?

1.3.    Tujuan Penulisan


   a. Untuk mengetahui pengertian dari korosi
    b.Untuk mengetahui apa saja faktor penyebab korosi
    c.Untuk mengetahui bentuk-bentuk korosi
    d.Untuk mengetahui proses terjadinya korosi pada besi
    e. Untuk mengetahui cara pencegahan terjadinya korosi

BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian KOROSI
Korosi adalah teroksidasinya suatu logam. Korosi adalah kerusakan atau
degradasi logam akibat reaksi dengan lingkungan yang korosif. Korosi dapat juga
diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau
elektrokimia dengan lingkungan. Dalam kehidupan sehari - hari, besi yang teroksidasi
disebut dengan karat dengan rumus Fe2O3·xH2O. Proses perkaratan termasuk proses
elektrokimia, di mana logam Fe yang teroksidasi bertindak sebagai anode dan oksigen
yang terlarut dalam air yang ada pada permukaan besi bertindak sebagai katode.
Reaksi perkaratan:
Anode : Fe → Fe2+ + 2 e–
Katode : O2 + 2H2O → 4e–  + 4 OH–
Fe2+ yang dihasilkan, berangsur-angsur akan dioksidasi membentuk Fe3+.
Sedangkan OH– akan bergabung dengan elektrolit yang ada di alam atau dengan ion H+
dari terlarutnya oksida asam (SO2, NO2) dari hasil perubahan dengan air hujan. Dari hasil
reaksi di atas akan dihasilkan karat dengan rumus senyawa Fe2O3·xH2O. Karat ini
bersifat katalis untuk proses perkaratan berikutnya yang disebut autokatalis.
a. Kerugian
Besi yang terkena korosi akan bersifat rapuh dan tidak ada kekuatan. Ini sangat
membahayakan kalau besi tersebut digunakan sebagai pondasi bangunan atau
jembatan. Senyawa karat juga membahayakan kesehatan, sehingga besi tidak bisa
digunakan sebagai alat-alat masak, alat-alat industri makanan/farmasi/kimia.

b. Pencegahan
Pencegahan besi dari perkaratan bisa dilakukan dengan cara berikut.
1)   Proses pelapisan
Besi dilapisi dengan suatu zat yang sukar ditembus oksigen. Hal ini dilakukan
dengan cara dicat atau dilapisi dengan logam yang sukar teroksidasi. Logam yang
digunakan adalah logam yang terletak di sebelah kanan besi dalam deret volta
(potensial reduksi lebih negatif dari besi). Contohnya: logam perak, emas, platina,
timah, dan nikel.

2)   Proses katode pelindung (proteksi katodik)


Besi dilindungi dari korosi dengan menempatkan besi sebagai katode, bukan
sebagai anode. Dengan demikian besi dihubungkan dengan logam lain yang mudah
teroksidasi, yaitu logam di sebelah kiri besi dalam deret volta (logam dengan potensial
reduksi lebih positif dari besi).
Hanya saja logam Al dan Zn tidak bisa digunakan karena kedua logam tersebut
mudah teroksidasi, tetapi oksida yang terbentuk (A12O3/ZnO) bertindak sebagai inhibitor
dengan cara menutup rapat logam yang di dalamnya, sehingga oksigen tidak mampu
masuk dan tidak teroksidasi. Logam-logam alkali, seperti Na, K juga tidak bisa
digunakan karena akan bereaksi dengan adanya air. Logam yang paling sesuai untuk
proteksi katodik adalah logam magnesium (Mg). Logam Mg di sini bertindak sebagai
anode dan akan terserang karat sampai habis, sedang besi bertindak sebagai katode tidak
mengalami korosi.
Korosi adalah peristiwa rusaknya logam karena reaksi dengan lingkungannya
(Roberge, 1999). Definisi lainnya adalah korosi merupakan rusaknya logam karena
adanya zat penyebab korosi, korosi adalah fenomena elektrokimia dan hanya menyerang
logam (Gunaltun, 2003). Pada dasarnya peristiwa korosi adalah reaksi elektrokimia.
Secara alami pada permukaan logam dilapisi oleh suatu lapisan film oksida (FeO.OH).
Pasivitas dari lapisan film ini akan rusak karena adanya pengaruh dari lingkungan,
misalnya adanya penurunan pH atau alkalinitas dari lingkungan ataupun serangan dari
ion-ion klorida. Pada proses korosi terjadi reaksi antara ion-ion dan juga antar elektron.
Anode adalah bagian dari permukaan logam dimana metal akan larut.
Reaksinya :
       Fe → 2 Fe2+ + 4e-
              Dengan kata lain ion-ion besi Fe++ akan melarut dan elektron-elektron e- tetap tinggal
pada logam. Katode adalah bagian permukaan logam dimana elektron-elektron 4e- yang
tertinggal akan menuju kesana   (oleh logam) dan bereaksi dengan O2 dan H2O.
O2 + H2O + 4e- —–> 4 OH-
Ion-ion 4 OH- di anode bergabung dengan ion 2 Fe2+ dan membentuk 2 Fe(OH)2. Oleh
kehadiran zat asam dan air maka terbentuk karat Fe2O3.
Reaksi perkaratan besi
a. Anoda: Fe(s) → Fe2+ + 2e
Katoda: 2 H+ + 2 e- → H2
2 H2O + O2 + 4e- → 4OH-
b. 2H+ + 2H2O + O2 + 3Fe → 3Fe2+ + 4OH- + H2 
Fe(OH)2 oleh O2 di udara dioksidasi menjadi Fe2O3 . nH2O
Faktor yang berpengaruh
1. Kelembaban udara
2. Elektrolit
3. Zat terlarut pembentuk asam (CO2, SO2)
4. Adanya O2
5. Lapisan pada permukaan logam
6. Letak logam dalam deret potensial reduksi

B. Faktor Penyebab KOROSI

Faktor Penyebab Korosi


Pada umumnya ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya percepatan korosi, yaitu:

a.    Uap air


     Dilihat dari reaksi yang terjadi pada korosi, air merupakan salah satu faktor penting untuk
berlangsungnya proses korosi. Udara yang banyak mengandung uap air (lembab) akan
mempercepat berlangsungnya proses korosi.

b.    Oksigen
    Udara yang banyak mengandung gas oksigen akan menyebabkan terjadinya korosi. Korosi
pada permukaan logam merupakan proses yang mengandung reaksi redoks. Reaksi yang
terjadi ini merupakan sel Volta mini. sebagai contoh, korosi besi terjadi apabila ada oksigen
(O2) dan air (H2O). Logam besi tidaklah murni, melainkan mengandung campuran karbon
yang menyebar secara tidak merata dalam logam tersebut. Akibatnya menimbulkan
perbedaan potensial listrik antara atom logam dengan atom karbon (C). Atom logam besi (Fe)
bertindak sebagai anode dan atom C sebagai katode. Oksigen dari udara yang larut dalam air
akan tereduksi, sedangkan air sendiri berfungsi sebagai media tempat berlangsungnya reaksi
redoks pada peristiwa korosi. Semakin banyak jumlah O2 dan H2O yang mengalami kontak
denan permukaan logam, maka semakin cepat berlangsungnya korosi pada permukaan logam
tersebut.

c.    Larutan garam


Elektrolit (asam atau garam) merupakan media yang baik untuk melangsungkan transfer
muatan. Hal itu mengakibatkan elektron lebih mudah untuk dapat diikat oleh oksigen di
udara. Air hujan banyak mengandung asam, dan air laut banyak mengandung garam, maka
air hujan dan air laut merupakan korosi yang utama.
Larutan garam menyerang lapisan mild stell dan lapisan stainless stell selain itu dapat
menyebabkan terjadinya pitting (kebocoran), crevice (retek / celah), korosi, dan juga
pecahnya alooys (paduan logam yang bersifat tahan karat). Larutan ini biasanya ditemukan
pada campuran minyak-air dalam konsentrasi yang tinggi yang akan menyebabkan proses
korosi. Proses ini disebabkan oleh kenaikan konduktivitas larutan garam dimana larutan
garam lebih konduktif sehingga menyebabkan laju korosi juga akan lebih tinggi. Sedangkan
pada kondisi kelautan garam dapat mempercepat laju korosi logam karena larutan garamnya
lebih konduktif, sama halnya dengan kecepatan alir dari air laut yang sebanding dengan
peningkatan laju korosi, akibatnya terjadi gesekan, tegangan dan temperatur yang mendukung
terjadinya korosi.

d.    Permukaan logam yang tidak rata


Permukaan logam yang tidak rata memudahkan terjadinya kutub-kutub muatan, yang
akhirnya akan berperan sebagai anode dan katode. Permukaan logam yang licin dan bersih
akan menyebabkan korosi sukar terjadi, sebab sukar terjadi kutub-kutub yang akan bertindak
sebagai anode dan katode.

e.    Keberadaan Zat Pengotor


Zat Pengotor di permukaan logam dapat menyebabkan terjadinya reaksi reduksi tambahan
sehingga lebih banyak atom logam yang teroksidasi. Sebagai contoh, adanya tumpukan debu
karbon dari hasil pembakaran BBM pada permukaan logam mampu mempercepat reaksi
reduksi gas oksigen pada permukaan logam. Dengan demikian peristiwa korosi semakin
dipercepat.

f.    Kontak dengan Elektrolit


Keberadaan elektrolit, seperti garam dalam air laut dapat mempercepat laju korosi dengan
menambah terjadinya reaksi tambahan. Sedangkan konsentrasi elektrolit yang besar dapat
melakukan laju aliran elektron sehingga korosi meningkat.

g.    Temperatur
Temperatur mempengaruhi kecepatan reaksi redoks pada peristiwa korosi. Secara umum,
semakin tinggi temperatur maka semakin cepat terjadinya korosi. Hal ini disebabkan dengan
meningkatnya temperatur maka meningkat pula energi kinetik partikel sehingga
kemungkinan terjadinya tumbukan efektif pada reaksi redoks semakin besar. Dengan
demikian laju korosi pada logam semakin meningkat. Efek korosi yang disebabkan oleh
pengaruh temperatur dapat dilihat pada perkakas-perkakas atau mesin-mesin yang dalam
pemakaiannya menimbulkan panas akibat gesekan (seperti cutting tools ) atau dikenai panas
secara langsung (seperti mesin kendaraan bermotor).

h.    pH
Peristiwa korosi pada kondisi asam, yakni pada kondisi pH < 7 semakin besar, karena adanya
reaksi reduksi tambahan yang berlangsung pada katode yaitu:
   2H+(aq) + 2e- → H2
Adanya reaksi reduksi tambahan pada katode menyebabkan lebih banyak atom logam yang
teroksidasi sehingga laju korosi pada permukaan logam semakin besar.

i.    Metalurgi
• Permukaan logam
Permukaan logam yang lebih kasar akan menimbulkan beda potensial dan memiliki
kecenderungan untuk menjadi anode yang terkorosi.Permukaan logam yang kasar cenderung
mengalami korosi
• Efek Galvanic Coupling
Kemurnian logam yang rendah mengindikasikan banyaknya atom-atom unsur lain yang
terdapat pada logam tersebut sehingga memicu terjadinya efek Galvanic Coupling , yakni
timbulnya perbedaan potensial pada permukaan logam akibat perbedaan E° antara atom-atom
unsur logam yang berbeda dan terdapat pada permukaan logam dengan kemurnian rendah.
Efek ini memicu korosi pada permukaan logam melalui peningkatan reaksi oksidasi pada
daerah anode.

j.    Mikroba
Adanya koloni mikroba pada permukaan logam dapat menyebabkan peningkatan korosi pada
logam. Hal ini disebabkan karena mikroba tersebut mampu mendegradasi logam melalui
reaksi redoks untuk memperoleh energi bagi keberlangsungan hidupnya. Mikroba yang
mampu menyebabkan korosi, antara lain: protozoa, bakteri besi mangan oksida, bakteri
reduksi sulfat, dan bakteri oksidasi sulfur-sulfida. Thiobacillus thiooxidans Thiobacillus
ferroxidans.

C. Bentuk-Bentuk KOROSI

Bentuk-bentuk korosi yang umum ditemukan pada korosi logam di lingkungan laut, yaitu;

a.    Korosi merata (uniform attack)


    Yaitu korosi yang terjadi pada pada permukaan logam yang berbentuk pengikisan
permukaan logam secara merata sehingga ketebalan logam berkurang sebagai akibat
permukaan terkonvensi oleh produk karat yang biasanya terjadi pada peralatan-peralatan
terbuka, misalnya permukaan luar pipa.

Bentuk korosi ini adalah sangat umum dan dicirikan oleh baja yang berkarat dilingkungan
udara. Disebut merata karena semua permukaan metal terexpose diserang dengan laju yang
kurang lebih sama, tetapi metal yang hilang jarang sekali betul-betul merata. Menurut teori
electrochemical mixed potential, proses anodic dan katodik terdistribusi merata pada seluruh
permukaan metal. Dengan demikian agar bentuk korosi ini terjadi, diperlukan sistem korosi
yang menunjukkan keseragaman (homogenitas) baik pada metal, media (perbedaan
konsentrasi) dan faktor-faktor korosi lainnya.

Pada korosi tipe ini, laju korosi dapat dinyatakan dalam bentuk kehilangan ke tebalan metal
menurut waktu misalnya mm/tahun atau mikrometer/tahun. Biasanya laju korosi hanya
dinyatakan pada satu muka saja, dan bila kedua metal terserang korosi, total kehilangan
ketebalan metal menjadi dua kali.

b.    Korosi setempat (local corrosion)


Dalam beberapa hal perbedaan antara korosi merata dan korosi setempat tidak begitu tajam,
sungguhpun demikian adalah mungkin untuk memberikan beberapa bentuk korosi, mulai dari
korosi merata sampai korosi yang menghasilkan sumuran dalam, korosi setempat sulitdiduga.
c.    Korosi galvanik (galvanik corrosion)
Bentuk korosi ini terjadi bila dua (atau lebih) logam yang berbeda secara listrik berhubungan
satu sama lainnya berada dalam lingkungan korosif yang sama. Dalam kasus demikian,
logam yang berpotensial paling negatif (dalam keadaan tidak berhubungan) atau terkorosi,
sebaliknya logam lain (logam mulia dengan potensial korosi tinggi akan kurang terkorosi).
Korosi galvanik cenderung terlokalisir, kearah pembentukan sumuran, dan dalam sistem pipa
akan terjadi kebocoran-kebocoran. Dia merupakan masalah perencanaan karena dalam
pabrik, sistem pipa dan rangka banyak melibatkan pemakaian lebih dari satu macam metal.
Bila berbagai macam paduan digunakan dalam perencanaan dapat diharapkan akan terjadi
masalah-masalah dan masalah tersebut lebih kritis pada lingkungan laut. Oleh karena itu
harus diusahakan pemakaian paduan logam yang berbeda-beda, haruslah jangan sampai
menimbulkan masalah korosi.

d.    Korosi sumuran (pitting)


Korosi sumuran termasuk korosi setempat dimana daerah kecil dari permukaan metal,
terkorosi membentuk sumuran. Biasanya kedalaman sumur lebih besar dari diameternya.
Mekanisme terbentuknya korosi sumuran,sangat kompleks dan sulit diduga, sungguhpun
demikian ada situasi tertentu dimana korosi sumuran dapat diantisipasi:

1. Pada baja karbon yang dilapisi oleh mill scale dibawah kondisi tercelup, terutama air laut,
akan terbentuk beda potensial antara mill scale dan baja hingga pecahnya mill scale
mengarah pada situasi anode kecil / katoda besar.

2. Pada paduan yang mengandalkan pada lapis pasif untuk sifat tahan korosinya seperti
stainless steel, setiap rusaknya (pecah) lapis pasif, cenderung pembetukan korosi sumuran.

3. Dari segi praktis korosi sumuran terbentuk didalam air mengandung chloride, oleh karena
itu sering terjadi pada kodisi dilingkungan laut.

e.    Korosi erosi


Gerakan air laut, seperti juga fluida lainnya dapat menimbulkan aksi mekanis misalnya erosi
(pengikisan), dengan korosi yang di timbulkannya tetap elektrokimia sifatnya.
Immpingement attack dan cavitation adalah bentuk extrem dari tipe korosi ini.
Korosi erosi cenderung mengarah pada penghilangan lapis protektif dari permukaan metal
oleh aksi partikel abrasive yang ada di dalam air. Umumnya laju serangan korosi membesar
dengan membesarnya kecepatan. Ada lagi bentuk erosi atau mekanisme lain, misalnya korosi
lembaran baja yang terpancang di pantai, dipengaruhi oleh aksi abrasive dari pasir, dibantu
oleh aksi pasang/surut atau angin. Pada kasus ini lapis protektif di hilangkan. 

f.    Impingement attack


Seperti namanya bentuk serangan terjadi ketika larutan menimpa dengan kecepatan cukup
besar pada permukaan metal. Hal ini dapat terjadi pada sistem pipa dimana perubahan arah
tiba-tiba dari aliran pada lengkungan dapat mengakibatkan kerusakan setempat, bagian lain
dari pipa tidak terpengaruh. Bentuk korosi ini akan terjadi pada setiap situasi dimana ada
impingement (timpa bentur,tekan) air yang biasanya mengandung gelembung udara pada
kecepatan serendah 1 m/s.

g.    Perusakan cavitasi


Bentuk perusakan korosi ini disebabkan oleh terbentuk dan pecahnya gelembung di dalam air
laut, pada permukaan metal. Kondisi pada kecepatan tinggi dan perubahan tekanan cenderung
menimbulkan korosi cavitasi. Serangan biasanya terlokalisir dan terjadi di daerah tekanan
rendah, air bergejolak (boil) dan terbentuk dari partial vacumm. Bila air kembali ke tekanan
normal, cavity pecah, dengan membebaskan energi. Hal ini mengarah pada perusakan
permukaan paduan logam.

h.    Korosi celah (crevice corrosion)


Korosi ini terbentuk apabila terbentuk celah antara dua permukaan dengan bagian dalam
celah lebih anodic dari permukaan luar. Pada dasarnya korosi celah timbul dari formasi
differensial aeration cell, dimana metal yang terexpose di luar crivice lebih katodic terhadap
metal di dalam celah. Arus katodic yang besar bekerja pada daerah anodic yang kecil
menghasilkan serangan korosi lokal yang intensif.

D. Proses Korosi Pada Besi

Proses perkaratan (korosi) adalah reaksi elektro kimia (redoks). Pada permukaan besi (Fe)
bisa terbentuk bagian anoda dan katoda yang disebabkan oleh dua hal:
1. Perbedaan konsentrasi oksigen terlarut pada permukaan besi
     Tetesan air pada permukaan besi mengandung perbedaan konsentrasi oksigen terlarut.
Pada bagian pinggir mengandung lebih oksigen terlarut, sehingga di bagian ini bertindak
sebagai katoda (reaksi reduksi). Pada bagian tengah tetesan oksigen terlarut relatif sedikit
sehingga bagian ini bertindak sebagai anoda (reaksi oksidasi).
            Fe → Fe2+ + 2e-
Ion Fe2+ bergerak ke katoda dan teroksidasi lebih lanjut menjadi Fe3+ / besi (111) dalam
senyawa besi (111) oksida terhidrat. Dengan adanya garam (oksida asam) atau zat elektrolit
akan mempercepat reaksi perkaratan.

2. Tercampur besi oleh karbon atau logam lain yang mempunyai EO red lebih besar dari besi.
Karena E0red besi lebih kecil dari logam tersebut, maka besi akan teroksidasi (anoda), hal ini
dapat menyebabkan terjadinya korosi atau menghasilkan karatan besi. Secara keseluruhan
perkaratan besi adalah sebagai berikut :
Bila besi bersentuhan dengan oksigen dan air yang bersifat asam, yakni oksida-kosida berikut
akan terjadi :
Fe + ½ O2 + 2H+ → Fe2+ + H2O
Reaksi setengah redoksnya :
Katodik : ½ O2 + 2H+ + 2e- → H2O        = + 1,23 volt
Anodik : Fe    →Fe2+ + 2e-            = + 0,44 volt
          Fe + ½ O2 + 2H+     → Fe2+ + H2O
Reaksi di atas berlangsung spontan.
Besi (11) itu seterusnya dioksidasi oleh oksigen membentuk karat besi atau oksida besi (111)
terhidrasi. Reaksinya :
Katodik : ½ O2 + 2H+ + 2e-     → H2O        = + 1,23 volt
Anodik : 2 Fe2+         → 2Fe3+ + 2e         = - 0,77 volt
    2 Fe2+ +½ O2 + 2H+ → 2Fe3+ + H2O    = + 0,46 volt
Reaksi tersebut merupakan reaksi spontan, selanjutnya :
2 Fe3+ + ( x+3) H2O → Fe2O3.x H2O + 6 H+    
Fe2O3.x H2O inilah yang disebut sebagai karat besi dan ion H+ yang dihasilkan dapat
mempercepat reaksi korosi selanjutnya.Ion Fe  di alam akan teroksidasi lagi membentuk
Fe2+ atau Fe3+   . Sedangkan ion OH akan bereaksi dengan elektrolit yang ada di lingkungan
biasanya dengan ion H+ dari reaksi air hujan dan dengan gas-gas pencemar (SOx,  NOx)
yang di kenal dengan hujan asam.Selanjutnya oleh oksigen di udara besi (II) di oksidasi dan
sebagai hasil reaksi akhir terbentuk Fe2O3.x(H2O). Zat ini dapat bertindak sebagai
autokatalis pada proses perkaratan.Yaitu karat yang dapat mempercepat proses perkaratan
berikutnya. Pada umumnya logam-logam yang mempunyai potensial elektroda negatif lebih
mudah mengalami korosi. Logam mulia, logam yang mempunyai potensial elektroda positif,
sukar mengalami korosi. Kedudukan logam dalam deret potensial bukan satu-satunya faktor
yang menyebabkan korosi. Faktor lain yang turut juga menentukan ialah lapisan pada
permukaan logam. Alumunium dan seng mudah dioksidasi dalam udara, akan tetapi lapisan
tipis dari oksida yang terbentuk pada permukaan melindungi bagian bawahnya terhadap
korosi selanjutnya.Kedua logam ini, alumunium dan seng mengalami oksidasi yang kurang
sempurna di udara jika dibandingkan dengan besi yang kurang aktif. Karat yang terbentuk di
permukaan besi merupakan lapisan tipis yang berpori sehingga bagian bawahnya mudah
mengalami korosi.

E. Dampak Korosi

Korosi merupakan proses atau reaksi elektrokimia yang bersifat alamiah dan
berlangsung spontan, oleh karena itu korosi tidak dapat dicegah atau dihentikan sama sekali.
Korosi hanya bisa dikendalikan atau diperlambat lajunya sehingga memperlambat proses
kerusakannya. Korosi pada logam menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Hasil riset yang
berlangsung tahun 2002 di Amerika Serikat memperkirakan kerugian akibat korosi yang
menyerag permesinan industri, infrastruktur, samapai perangkat transportasi di negara
adidaya tersebut mencapai 276 miliar dollar AS. Jembatan yang runtuh akibat korosi yang
terjadi pada tiang penahannya.
Dampak yang ditimbulkan korosi dapat berupa kerugian langsung dan kerugian tidak
langsung. Kerugian langsung berupa terjadinya kerusakan pada peralatan, permesinan atau
struktur bangunan. Sedangkan kerugian tidak langsung berupa terhentinya aktivitas produksi,
karena terjadinya pergantian peralatan yang rusak akibat korosi, bahkan kerugian tidak
langsung dapat berupa terjadinya kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa, seperti
kejadian runtuhnya jembatan akibat korosi, terjadinya kebakaran akibat kebocoran pipa gas
karena korosi, dan meledaknya pembangkit tenaga nuklir akibat terjadinya korosi pada pipa
uapnya. korosi yang menyebabkan kebocoran pada pipa yang terbuat dari logam.
F. Pencegahan Korosi
Ada beberapa usaha yang dapat ditempuh dalam upaya mencegah terjadinya korosi,
yaitu:
a.    Cara pelapisan (coating)    
Pelapisan adalah cara umum dan paling banyak di terapkan dalam istilah tonase baja, untuk
mengendalikan korosi, untuk melindungi/isolasi paduan logam dari lingkungan yang korosif.
Akan tetapi dalam prakteknya timbul banyak problem dan biasanya kurang perhatian tentang
masalah itu. Tersedia banyak sekali macam pelapis dan yang paling umum adalah cat. 
Jembatan, pagar dan railing biasanya dicat. Cat menghindarkan kontak dengan udara dan air.
Cat yang mengandung timbel dan zink (seng) akan lebih baik, karena keduanya melindungi
besi terhadap korosi.
    Kontak antara besi dengan oksigen dan air dapat dicegah dengan melapisi besi dengan cat
atau dengan logam lain. Hal ini dikarenakan jika besi dilapisi dengan cat atau logam lain
yang lebih sukar teroksidasi (logam yang mempunyai Enol lebih besar). Yang akan bereaksi
dengan udara adalah lapisan luarnya saja sehingga logam tersebut bisa dilindungi oleh logam
tersebut.
Jika logam seperti seng dan timah mengalami korosi, senyawa yang terbentuk akan
melindungi logam di bawahnya dari korosi selanjutnya. Seng, Zn dan timah dapat digunakan
sebagai logam pelapis untuk melindungi besi dan korosi.
    Namun perlu diperhatikan potensial elektrode standar seng dan timah terhadap besi.
Fe2+ (aq) + 2e → Fe(s)                    EO    = - 0,44 volt
Zn2+ (aq) + 2e → Zn(s)                     EO    =- 0,76 volt
Sn2+ (aq) + 2e → Sn(s)                  EO     =- 0,14 volt
    Seng lebih mudah di oksidasi daripada besi. Jika besi dilapisi dengan seng,  besi tidak akan
berkarat walaupun lapisan seng tersebut berlubang sekalipun. Besi lebih mudah dioksidasi
daripada timah. Jika besi dilapisi dengan timah, besi tidak akan berkarat.
b.    Cara proteksi katodik (katode pelindung)    
Cara ini digunakan terutama untuk logam besi yang di tanam di dalam tanah. Prinsipnya
adalah logam besi di hubungkan denga logam lain yang bertindak sebagai anode dan besi
sebagai katode. Jadi, logam yang digunakan untuk melindungi besi harus yang lebih mudah
teroksidasi daripada logam besi, yaitu memiliki potensial reduksi yang lebih negatif daripada
besi. Umumnya digunakan logam Magnesium (Mg). Logam alkali tidak dapat di gunakan
karena reaktif.Logam alumunium(Al) dan seng (Zn) tidak dapat digunakan karena oksida
logam tersebut (Al2O3 atau ZnO) akan menghambat proses oksidasi berikutnya dengan cara
menutupi permukaan logam.
    Pipa besi misalnya untuk air atau minyak yang ditanam di dalam tanah harus dilindungi.
Untuk mencegah korosi pada pipa-pipa ini batang logam yang lebih aktif, seperti batang
Magnesium (Mg) atau seng (Zn) ditanam di dekat pipa dan di hubungkan dengan kawat,
batang magnesium akan mengalami oksidasi dan Mg yang rusak dapat diganti dalam jangka
waktu tertentu sehingga dengan demikian pipa yang terbuat dari besi itu terlindung dari
korosi. Korosi besi ini juga dapat dicegah dengan menghubungkan besi tersebut dengan
kutub negatif sumber listrik.
     Proteksi katodik juga merupakan teknik penanggulangan korosi komponen baja jembatan,
khususnya pada bagian tiang pancang pipa baja yang berada dalam lingkungan air dan atau
tanah karena pada bagian tersebut relatif sulit dilakukan teknik penanggulangan korosi
dengan teknik yang lebih murah yaitu pengecatan.
    Pada prinsipnya, korosi terjadi karena adanya aliran elektron dari bagian tiang pancang
pipa baja (anoda) yang diikuti dengan perubahan logam menjadi ion logam (karat) ke bagian
tiang pancang pipa baja lain yang karena kualitas baja atau kondisi lingkungannya menjadi
katoda. Pada proteksi katodik, terjadinya kerusakan baja akibat aliran elektron dari anoda ke
katoda ditanggulangi dengan memberikan pasokan elektron secukupnya pada seluruh struktur
baja yang dilindungi atau dengan kata lain menjadikan seluruh struktur baja tersebut menjadi
katoda yang kaya akan elektron. Dilihat dari cara memasok elektron, proteksi katodik terbagi
dalam dua cara, yaitu:
a)    Metoda arus terpasang (impressed current) yaitu pasokan elektron dilakukan dengan cara
menghubungkan tiang pancang pipa baja dengan katoda pada suatu sumber listrik. Metoda ini
menggunakan sumber arus searah dari luar, misalnya Transformer Rectifier, DC Generator,
dan lain-lain. Arus listrik pada sistem ini dialirkan ke permukaan logam yang diproteksi
melalui anoda pembantu, misalnya Anoda Graphite, Baja, Platina, dan Besi Tuang.
Keuntungan besar dari metoda arus terpasang adalah bahwa sistem ini dapat menggunakan
anoda inert atau anoda yang tahan karat seperti platina dan karbon.
b)    Metoda anoda korban (sucricifial anoda) yaitu pasokan elektron dilakukan dengan cara
menghubungkan tiang pancang pipa baja dengan logam lain sebagai anoda korban yang
memiliki potensial lebih rendah. Pada cara ini terjadi aliran elektron dari logam dengan
potensial yang lebih rendah ke tiang pancang pipa baja yang potensialnya lebih tinggi.
Dengan demikian maka tiang pancang pipa baja akan terlindung dari korosi namun sebagai
konsekwensinya logam anoda dalam waktu tertentu akan rusak/habis dan selanjutnya dapat
diganti atau diperbaharui. Mengganti anoda lebih ringan secara teknik maupun
ekonomis dibanding mengganti tiang pancang pipa baja.
c.   Perancangan
Dari segi korosi, perancangan dianggap berkaitan dengan perencanaan yang baik dan
pembangunan proyek. Ia meliputi pemilihan material dan pemilihan cara pengendaliannya
dalam batas perancangan keseluruhan. Perencanaan dan perancangan cara pengendalian
korosi adalah merupakan pemecahan masalah yang baik terhadap persoalan-persoalan yang
di hadapi.
d.    Anoda karbon
    Cara lain untuk mencegah korosi besi adalah dengan menggunakan anoda karbon. Dengan
membandingkan potensial reduksi standar besi dan magnesium.
Fe2+         + 2e → Fe(s)                EO = -0,41 volt
Mg2+   + 2e → Mg(s)               EO =-2,39 volt
    Terlihat bahwa Mg2+  lebih sulit direduksi dibandingkan dengan Fe2+  atau sebaliknya,
Mg(s) lebih mudah dioksidasi daripada Fe(s). Sepotong Mg yang terhubung dengan besi akan
lebih cenderung dioksidasi dibandingkan dengan besi, dan sekali terpakai oleh oksidasi harus
diganti. Metode ini biasanya digunakan untuk melindungi lambung kapal, jembatan, dan
pompa air besi dari korosi. Pelat magnesium dihubungkan dengan interval yang teratur
sepanjang potongan pipa yang terkubur, dan ini jauh lebih mudah untuk menggantikannya
secara periodik dari pada mengganti keseluruhan pipa.
e.    Pelumuran dengan Oli atau Gemuk
     Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas dan mesin. Oli dan gemuk mencegah kontak
dengan air.
f.    Pembalutan dengan Plastik
Berbagai macam barang misalnya rak piring dan keranjang sepeda dibalut dengan plastik.
Plastic mencegah kontak dengan udara dan air.

BAB III

PENUTUP

1.   Kesimpulan
Ø Korosi adalah teroksidasinya suatu logam. Korosi adalah kerusakan atau degradasi
logam akibat reaksi dengan lingkungan yang korosif. Korosi dapat juga diartikan
sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau
elektrokimia dengan lingkungan.
Ø Korosi adalah peristiwa rusaknya logam karena reaksi dengan lingkungannya. Pada
dasarnya peristiwa korosi adalah reaksi elektrokimia. Secara alami pada permukaan
logam dilapisi oleh suatu lapisan film oksida (FeO.OH. Pada proses korosi terjadi
reaksi antara ion-ion dan juga antar elektron. Anode adalah bagian dari permukaan
logam dimana metal akan larut.
Ø Bentuk-bentuk korosi dapat berupa korosi merata, korosi galvanik, korosi sumuran,
korosi celah, korosi retak tegang (stress corrosion cracking), korosi retak fatik
(corrosion fatique cracking) dan korosi akibat pengaruh hidogen (corrosion induced
hydrogen), korosi intergranular, dan selective leaching.
Ø Faktor yang mempengaruhi Korosi, yaitu : Kontak Langsung logam dengan H2O dan
O2, Keberadaan Zat Pengotor, Kontak dengan Elektrolit, temperatur, pH dan Mikroba
Ø Dampak yang ditimbulkan korosi dapat berupa kerugian langsung dan kerugian tidak
langsung. Kerugian langsung berupa terjadinya kerusakan pada peralatan, permesinan
atau struktur bangunan. Sedangkan kerugian tidak langsung berupa terhentinya
aktivitas produksi, karena terjadinya pergantian peralatan yang rusak akibat korosi,
bahkan kerugian tidak langsung dapat berupa terjadinya kecelakaan yang menimbulkan
korban jiwa.
Ø Pencegahan Korosi Berdasarkan proses terjadinya ada 2 cara yang dapat dilakukan
untuk mencegah korosi, yaitu perlindungan mekanis dan perlindungan elektrokimia.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.angelfire.com/ak5/process_control/kor_merata.html
http://kimia123sma.wordpress.com/2010/04/20/korosi-dan-cara-pencegahannya/
http://id.wikipedia.org/wiki/Korosi
http://www.scribd.com/doc/22075509/Degradasi-Fungsi-Sistem-Industri-Akibat-Korosi-
Mikrobiologi
http://www.scribd.com/doc/17226684/Korosi