Anda di halaman 1dari 11

Topik 1

Konsep Berpikir Kritis dan Pengambilan Keputusan dalam


Keperawatan
(Critical Thinking and Clinical Judgment in Nursing)

A. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Umum
Setelah mempelajarai materi ini, Anda diharapkan mampu memahami
makna dan maksud dari berpikir kritis dalam keperawatan, serta untuk
mengetahui penerapan dan model berpikir kritis dalam
keperawatan,sehingga kita mampu menyelesaikan suatu masalah serta
dapat mengambil suatu keputusan.
2. Khusus
Setelah selesai mempelajari materi ini, Anda diharapkan mampu :
a. Menjelaskan definisi dari Konsep Berpikir Kritis dan Pengambilan
Keputusan Dalam Keperawatan.
b. Menjelaskan Tujuan dari (Goal) dan Hasil Akhir (Outcomes)
Keperawatan.
c. Menjelaskan itu Expert Thinking (Berfikir Kritis).
d. Menjelaskan Pengembangan Clinical Judgment (Clinical
Reasoning Skills).
e. Menjelaskan langkah-langkah metode ilmiah.
f. Menjelaskan peran perawat dalam riset keperawatan.
g. Menjelaskan penelitian dalam praktik keperawatan.

B. POKOK-POKOK MATERI
Berdasarkan tujuan yang telah dipaparkan di atas, maka pokok-
pokok materi yang akan dibahas dalam Topik 1 ini adalah :
1. Definisi Konsep Berpikir Kritis dan Pengambilan Keputusan
Dalam Keperawatan

1
2. Tujuan (Goal) dan hasil akhir (Outcomes)
3. Expert Thinking (Berfikir Kritis)
4. Pengembangan Clinical Judgment (Clinical Reasoning Skills)
5. Langkah-langkah metode ilmiah
6. Peran perawat dalam riset keperawatan
7. Penelitian dalam praktik keperawatan

C. URAIAN MATERI

1. Definisi Konsep Berpikir Kritis dan Pengambilan Keputusan Dalam


Keperawatan (Critical Thinking and Clinical Judgment in Nursing)

Pengambilan Keputusan Klinis dalam Praktik Keperawatan Pengambilan


keputusan klinis akan memperlihatkan perbedaan antara perawat dengan staf
teknis, yaitu perawat akan cepat bertindak ketika kondisi pasien menurun
mendeteksi masalahnya dan berinisiatif untuk memperbaikinya. Benner (1984)
berpendapat bahwa pengambilan keputusan klinis sebagai keputusan yang
terdiri atas pemikiran kritis dan penuh pertimbangan, serta penetapan dari
ilmu serta pikiran kritis. Klien tentu akan memiliki keluhan yang berbeda-beda
yang dipengaruhi oleh kesehatan fisik, gaya hidup, budaya, hubungan
kekerabatan, lingkungan tempat tinggal, hingga pengalaman klien itu sendiri.
Oleh karena itu, perawat tidak bisa langsung mengetahui apa yang klien
butuhkan, melainkan klien tersebut harus menyampaikan keluhan yang ia
punya dan perawat harus banyak bertanya dan memiliki rasa ingin tahu untuk
melihat suatu hal dengan perspektif yang berbeda. Pemikiran kritis adalah pusat
praktik keperawatan profesional karena hal tersebut membuat seorang perawat
terus memperbaiki cara pendekatan kepada klien dan menerapkan
pengetahuan - pengetahuan baru yang berdasarkan pengalaman dari sebelumnya.

2. Tujuan (Goal) dan Hasil Akhir (Outcomes) Keperawatan

Perawat harus selalu berpikir secara kritis tentang klien dan respons klien
terhadap masalah kesehatan mereka untuk memberikan tingkat perawatan yang
paling efektif dan paling sesuai. Kapan saja terjadi perubahan pada klien,

2
pengobatan medis, fungsi kehidupan sehari-hari, lingkungan, atau sumber
eksternal, perawat harus berpikir secara kritis untuk membuat penilaian yang
benar. Suatu tanda praktik keperawatan ahli adalah kemampuan untuk tetap
terbuka terhadap perubahan dalam situasi klinis (Carnevali & Thomas, 1993).

Pentingnya bagi perawat untuk belajar berpikir kritis tentang apa yang
harus dikaji, sehingga perawat tidak akan melakukan kesalahan pada saat
memberikan asuhan keperawatan kepada pasien.

Tujuannya untuk mengetahui bagaimana pendekatan berpikir kritis


dalam pengkajian. Karena pada berpikir kritis ada komponen yang sangat penting
yang menunjukkan kebiasaan berpikir seseorang yang bersifat fleksibel. Di
mana dalam pengkajian, penting bagi perawat harus berpikir kritis dalam
memproses informasi yang didapatkan dari klien ataupun keluarga klien.

3. Expert Thinking (Berfikir Kritis)

Menurut Bandman (1998) berfikir kritis adalah pengujian yang


rasional terhadap ide-ide, pengaruh, asumsi, prinsip-prinsip, argument,
kesimpulan-kesimpulan, isu-isu, pernyataan, keyakinan dan aktivitas.
Pengujian ini berdasarkan alasan ilmiah, pengambilan keputusan, dan
kreativitas.

Berpikir kritis dalam keperawatan merupakan komponen dasar


dalam mempertanggungjawabkan profesi dan kualitas perawatan. Pemikir kritis
keperawatan menunjukkan kebiasaan mereka dalam berpikir, kepercayaan diri,
kreativitas, fleksibiltas, pemeriksaan penyebab (anamnesa), integritas
intelektual, intuisi, pola piker terbuka, pemeliharaan dan refleksi. Pemikir
kritis keperawatan mempraktekkan keterampilan kognitif meliputi analisa,
menerapkan standar, prioritas, penggalian data, rasional tindakan, prediksi,
dan sesuai dengan ilmu pengetahuan.

Berpikir kritis adalah proses perkembangan kompleks, yang berdas
arkan pada pikiran rasional dan cermat menjadi pemikir kritis adalah

3
denominatur umum untuk pengetahuan yang menjadi contoh dalam pemikiran
yang disiplin dan mandiri.

Perawat dihadapkan pada situasi harus berargumentasi untuk mene
mukan, menjelaskan kebenaran, mengklarifikasi isu, memberikan
penjelasan, mempertahankan terhadap suatu tuntutan/tuduhan. Argumentasi
Badman and Badman (1988) terkait dengan konsep berfikir dalam keperawatan :

1) Berhubungan dengan situasi perdebatan.
2) Debat tentang suatu isu
3) Upaya untuk mempengaruhi individu/kelompok
4) Penjelasan yang rasional

4. Pengembangan Clinical Judgment (Clinical Reasoning Skills)

Psikologi klinis tidak akan pernah bisa dilepaskan dari assessment


dan diagnosa psikologis. Pada pembahasan kali ini kita akan mengupas
bagaimana seorang clinical bisa menjadikan data pada assessmentnya
menjadi sebuah keputusan, keakuratan clinical judgement dan kesan
(impressions), serta bagaimana hasil dari assessment biasanya disampaikan
atau dikomunikasikan sebagai laporan klinis Process and Acuracy. Untuk
pembahasan ini akan dimulai dari hal yang paling mendasar dari clinical
judgement yakni interpretasi. Interpretasi adalah sebuah aktivitas yang
sangat penting dalam membangun clinical judgment. Interpretasi adalah
hal yang dapat dilakukan seorang clinician untuk memperkirakan apa yang
sedang terjadi, berandai andai, membuat rancangan kemungkinan dan yang
lainnya untuk mempermudah jalannya diagnosa. Interpretasi klinis ini
merupakan hal yang kompleks. Dimana, setelah clinician mendapatkan
data tes psikologis atauoun data dari wawancara seperti suara, gesture dan
mimic, interpretasi juga melibatkan respon dari clinician sendiri. Meliputi
apa yang ia pikirkan tentang si pasien, koginitif clinician hingga
karakteristik si clinician sendiri. Situasi juga berpengaruh dalam clinical
judgement ini. Seperti lokasi, apakah pasien berada di tempat terapi atau di

4
rumah sakit, bagaimana kondisi pasien sebelumnya: apakah memang tanpa
masalah atau sudah lama bermasalah, banyak sekali yang bisa menjadi
landasan pikiran seorang clinician untuk di interpretasikan sejalan dengan
tujuannya yakni clinician judgement. The Theoretical Framework
( Kerangka Teori ) Pada sumber yang ada, telah ditegaskan bahwa
clinician bukan mencari kebenaran melainkan cara yang ampuh untuk
mengerti pasien sehingga mereka dapat ditolong. Dengan menggunakan
beberapa pendekatan seperti psikoanalasia, behavoris, humanistic dan
lainnya para clinician berusaha menyelesaikan masalah yang dialami
pasien. Namun, tipe pendekatan memiliki cara pandangnya tersendiri pula,
sehingga interpretasi yang di dapatkan juga akan berbeda. Cara
mengevaluasi interpretasi mereka adalah dengan kembali merujuknya pada
sumber pendekatan dan teori yang digunakan.Banyaknya interpretasi yang
hadir dari observasi, data atau hasil interview juga nantinya bisa
membingungkan sehingga kerangka teori yang paling banyak digunakan
nantinya akan mengurangi kebingungan ini.

5. Langkah-Langkah Metode Ilmiah


1. Merumuskan Masalah :
Kita membutuhkan suatu maslah yang bermanfaat untuk diteliti dan
yang dapat diselidiki melalui metode ilmiah

2. Meninjau Keputusan :
Tinjauan keputusan dilakukan untuk mencari dasar teori yang
digunakan sebagai dasar menganalisis maslah yang diteliti agar
penelitian tersebut dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah
3. Merumuskan Masalah :
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang
baru di teliti. Sedangkan hipotesis itu sendiri antara lain dapat
dirumuskan berdasarkan atas kajian pustaka yang telah dilakukan.
4. Merencanakan Desain Penelitian :

5
Menguraikan apa yang perlu ditelaah, data apa yang perlu dicari, di
mana, bagaimana mengumpulkan, mengolah dan juga
menganalisisnya.
5. Mengumpulkan Data Sesuai Dengan Desain Penelitian :
Terdapat sejumlah teknik pengumpulan data. Meskipun begitu
teknik pengumpulan data harus disesuaikan dengan jenis serta
desain penelitiannya, apakah berbentuk kualitatif atau kuantitatif
sebagaimana pada diseiplin ilmu-ilmu lainya. Data yang terkumpul
tersebut selanjutnya di analisis.
6. Menarik Kesimpulan :
Hal terpenting dari penarikan kesimpulan yang harus diperhatikan
adalah Hipotesis, Kebenaran hasil berdasarkan data penelitian,
Implikasinya, Meningkatkan pengetahuan dan wawasan, Saran
sebagi kebijakan lebih lanjut

6. Peran Perawat Dalam Riset Keperawatan

a. Peran sebagai perancang dan penghasil riset

Adalah proses identifikasi masalah yang memerlukan studi,kemudian


merancang suatu projek yang akan menjawab pertanyaan dalam
penyelidikan. Merancang dan menghasilkan riset memerlukan
keterampilan yang mendasar,kuratifdan pragmatik dalam menentukan ketepatan
dan keterkaitan masalah untuk studi keperawatan.

Contoh: seorang perawat bekerja pada unit bedah memeperhatikan bahwa


klien yang menantikan biopsy setelah didapatkan masa dalam payudara
mengalami tingkat kecemasan mendekati panik. Perawat berminat mempelajari
pengaruh protocol relaksasi progresif pada wanita-wanita ini.Perawat
merancang suatu studi yang didasrkan pada masalah yang diidentifikasi.Protocol
dilaksanakan pada individu yang mau berpartisipasi dalam studi.

b. Peran sebagai replikator

6
Proses pengulangan suatu riset yang telah dilakukan disebut sebagai
replikasi suatu studi. Replikasi menyangkut pengulangan suatu studi dengan
kondisi-kondisi yang sama dan peserta risetyang serupa dengan
penyelidikan awal. Studi replikasi juga bisa menyangkut penggunaan
sempel,tempat waktu yang berbeda,tetapi sesungguhnya sama. Pengulangan
studi dalam kondisi yang berbeda dapat membuat riset dapat digeneralisasi
dan menepakan validasi hasil riset.

Contoh: seorang perawat yang bekerja dalam unit maternitas membaca


sebuah laporan riset yag menggambarkan penggunan sentuhan terapeutik
dapat meningkatkan relakasasi dan menyebabkan tidur pada pasien
pascakoleksistektomi.Perawat berminat melakukan reflikasi studi dengan
menggunakan sekelompok ibu-ibu pasca sectio-cesarea.

c. Peran sebagai pengumpul data

Berpasrtisipasi dalam riset sebagai soran pengumpul data berarti bahwa


perawat membantu dalam melaksanakan implementasi riset yang direncanakan
oleh peneliti lain.

Contoh: seorang dokter melakukan suatu riset untuk menentukan salah


satu dari dua tindakan yang pada kondisi ortopdik yang lebih efektif. Demikian
pula, seorang perawat peneliti yang meneliti suatu rancangan prosedur baru
untuk mengurangi insiden nyeri setelah amputsi anggota badan bagian
bawah.Perawat dapat diminta oleh perawat peneliti atau peneliti dari disiplin
kesehatan lainnya untuk berpartisipasi melaksnakan protocol riset.

7. Penelitian Dalam Praktik Keperawatan


a. Penelitian Qualitatif adalah pendekatan yang subjektif dan
sistematis digunakan untuk menggambarkan pengalaman hidup
dan memberikan mereka arti.
Jenisnya :
- Phenomenological Research

7
- Grounded Theory Research
- Ethnographical Research
- Historical Research
b. Penelitian Quantitatif adalah proses yang sistematis, objektif, dan
formal dimana data numerik digunakan untuk mendapatkan
informasi.
Jenisnya :
- Penelitian Deskriptif
- Penelitian Korelasi
- Penelitian Quasi-Eksperimental
- Penelitian Eksperimental

D. PENUTUP

1. Ringkasan

Perawat tidak bisa langsung mengetahui apa yang klien butuhkan, klien
harus menyampaikan keluhannya dan perawat harus banyak bertanya,
memiliki rasa ingin tahu untuk melihat suatu hal dengan perspektif yang
berbeda. Pemikiran kritis adalah pusat praktik keperawatan professional.
Tujuannya untuk mengetahui bagaimana pendekatan berpikir kritis dalam
pengkajian, karena ada komponen penting yang menunjukkan kebiasaan
berpikir seseorang yang bersifat fleksibel, untuk memberikan tingkat
perawatan yang paling efektif dan paling sesuai shingga perawat tidak akan
melakukan kesalahan pada saat memberikan asuhan keperawatan kepada
pasien.

Clinical Judgement dimulai dari interpretasi , Interpretasi adalah sebuah


aktivitas yang sangat penting dalam membangun clinical judgment. Dengan
menggunakan beberapa pendekatan seperti psikoanalasia, behavoris,
humanistic dan lainnya para clinician berusaha menyelesaikan masalah yang
dialami pasien.

8
Langkah-Langkah Metode Ilmiah adalah merumuskan masalah,
meninjau keputusan, merumuskan masalah, merencanakan desain
penelitian, mengumpulkan data sesuai dengan desain penelitian, menarik
kesimpulan.

Peran perawat dalam riset keperawatan adalah peran sebagai perancang


dan penghasil riset, Peran sebagai replikator, Peran sebagai pengumpul
data.

Penelitian Qualitatif adalah pendekatan yang subjektif dan sistematis


digunakan untuk menggambarkan pengalaman hidup dan memberikan
mereka arti. Sedangkan Penelitian Quantitatif adalah proses yang sistematis,
objektif, dan formal dimana data numerik digunakan untuk
mendapatkan informasi.

2. Pertanyaan
1. Proses yang sistematis, objektif, dan formal dimana data numerik digunakan
untuk mendapatkan informasi, adalah penelitian
a.Grounded Theory Research
b.Penelitian Eksperimental
c.Ethnographical Research
d.Penelitian Quantitatif

2. Salah satu Argumentasi Badman and Badman (1988) terkait dengan konsep
berfikir dalam keperawatan adalah
a.Upaya untuk mempengaruhi individu/kelompok
b.Expert Thinking (Berfikir Kritis)
c.Pengembangan Clinical Judgment (Clinical Reasoning Skills)
d. Peran sebagai perancang dan penghasil riset

3. Langkah - langkah dalam metode ilmiah adalah..KECUALI


a.Merumuskan Masalah
b.Meninjau Keputusan
c.Peran sebagai replikator
d.Menarik Kesimpulan

9
4. pendekatan yang subjektif dan sistematis digunakan untuk menggambarkan
pengalaman hidup dan memberikan mereka arti,yaitu bisa di sebut penelitian
a.Phenomenological Research
b.Penelitian Qualitatif
c.Ethnographical Research
d.Penelitian Eksperimental

5. Peran perawat dalam riset keperawatan adalah


a.Peran sebagai perancang dan penghasil riset
b.Upaya untuk mempengaruhi individu/kelompok
c.Peran sebagai evaluasi
d.Peran sebagai konselor

10
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/6749060/BERFIKIR_KRITIS_DALAM_KEPER
AWATAN_BAB_I_PENDAHULUAN

https://www.google.com/amp/s/muhamadilafifqozwini.wordpress.com/2013/0
1/16/konsep-berfikir-kritis-dalam-keperawatan/amp/

http://dadangdot.blogspot.com/2013/12/makalah-riset-keperawatan.html?
m=1

11

Anda mungkin juga menyukai