Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH ADAPTASI JANIN DI EKSTRAUTERIN

DISUSUN OLEH :

Dara Sakinahtul Dipa NIM : 193302080012

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN

PROGRAM STUDI S - 1 KEBIDANAN

UNIVERSITAS PRIMA INDONESIA

TAHUN 2019/2020

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas Kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia –Nya
saya dapat menyelesaikan tugas makalah saya dengan tepat waktu yang berjudul : “ Adaptasi
Fetus di Ekstra Uterine ’’.

Harapan saya sebagaimana penyusun yaitu agar pembaca dapat memahami tentang Fertilitas dan
Infertilitas. Saya ingin mengucapkan rasa terima kasih saya kepada dosen saya yang bernama
ibuk Debora Paninsari,SST, M.Keb. yang telah membimbing saya dalam menyusun makalah ini
menjadi lebih baik.

Saya menyadari sepenuhnya dalam menyusun makalah Adaptasi Fetus di Ekstra Uterine ini
masih terdapat banyak kekurangan, baik dalam sistematika penulisan maupun penggunaan
bahasa. Saya berharap semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah ilmu wawasan kita
mengenai Adaptasi Fetus di Ekstra Uterine. Akhir kata saya mengucapkan terima kasih.

Medan, 1 Oktober 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Halaman judul……………………………………………………………... 1

Kata pengantar……………………………………………………………..2

Daftar isi…………………………………………………………………….3

BAB I Pendahuluan

1.1 latar belakang…………………………………………………………………………. 4


1.2 rumusan masalah……………………………………………………………………….4
1.3 tujuan penulisan ……………………………………………………………………….4
BAB II Pembahasan
A. Pengertian adaptasi…………………………………………………………………………………………………………………..5
B. Apa saja jenis – jenis adaptasi……………………………………………………………………………………………………5
C. Bagaimana adaptasi fisiologi fetus dan BBL dari intrauterine hingga ekstrauterine…………………7
BAB III Penutup
A. Kesimpulan……………………………………………………………………………..21
B. Saran ………………………………………………………………………………….. .21
KATA PENGANTAR………………………………………………………. 22

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Dalam siklus kehidupan fetus mereka akan mengalami yang namanya adaptasi dari dunia
dalam rahim (intrauterine) menuju dunia di luar rahim (ekstrauterine). Yang dimana ketika
mereka telah keluar dari rahim (uterus) sang ibu mereka akan mulai untuk menyesuaikan diri
mereka dengan keadaan di luar rahim. Sebagai contoh mereka akan mulai untuk
menyesuaikan suhu tubuh mereka di luar rahim. Dalam makalah ini saya akan menjelaskan
bagaimana proses adaptasi fetus di luar rahim (ekstrauterine).
1.2 Rumusan masalah
a. Apa yang dimaksud dengan adaptasi?
b. Apa saja jenis adaptasi?
c. Bagaimana adaptasi fetus dari intrauterine hingga ke ekstrauterine?
1.3 Tujuan
a. Tujuan umum
 Untuk mengetahui gambaran secara umum mengenai adaptasi fetus dari
intrauterine hingga ke ekstrauterine
b. Tujuan khusus
 Agar pembaca dapat mengetahui pengertian dari adaptasi
 Agar pembaca dapat mengetahui jenis-jenis adaptasi
 Agar pembaca dapat mengetahui bagaimana cara fetus dan BBL dalam
melakukan adaptasi mulai dari intrauterine hingga ekstrauterine

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Apa yang dimaksud dengan adapatasi

Adaptasi adalah bagaimana cara organisme atau makhluk hidup dalam mengatasi tekanan
lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Organisme yang mampu beradaptasi terhadap
lingkungannya mampu untuk:

1. memperoleh air, udara dan nutrisi (makanan).

2. mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti temperatur, cahaya dan panas.

3. mempertahankan hidup dari musuh alaminya.

4. bereproduksi.

5. merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Organisme yang mampu beradaptasi akan bertahan hidup, sedangkan yang tidak mampu
beradaptasi akan menghadapi kepunahan atau kelangkaan jenis.

B. Jenis-jenis adaptasi

Adaptasi terbagi atas tiga jenis yaitu:

 Adaptasi Morfologi
adalah penyesuaian bentuk tubuh makhluk hidup atau alat-alat tubuh makhluk hidup
terhadap lingkungan tempat tinggalnya.

 Contoh adaptasi Morfologi pada Manusia


 Kulit manusia akan menghitam jika berada di tempat panas.
 Rambut-rambut halus yang berada di kulit manusia akan berdiri jika suhu udara
rendah atau dalam kondisi dingin.
 Rambut manusia akan beruban jika sudah lansia.

5
 Adaptasi Fisiologi
Adalah adaptasi yang meliputi fungsi alat-alat tubuh. Adaptasi ini bisa berupa
enzim yang dihasilkan suatu organism atau makhluk hidup.
Contohnya: dihasilkannya enzim selulase oleh hewan memamah biak.
Adaptasi fisiologi ada yang bersifat reversibel atau dapat kembali kekondisi
awal. Contohnya, jika seseorang yang biasa hidup di daerah pantai berpindah ke
daerah pegunungan yang tinggi. Maka akan terjadi perubahan fisiologi, yaitu
meningkatnya jumlah butir-butir sel darah merah (eritrosit). Namun, jika orang
tersebut kembali ke dataran, maka secara perlahan jumlah eritrosit akan turun atau
normal seperti semula.

 Contoh adaptasi Fisiologi pada Manusia:

o Jumlah sel darah merah orang yang hidup di daerah pantai lebih sedikit
dibandingkan orang yang tinggal di daerah pegunungan. Hal ini disebabkan
karena tekanan parsial oksigen di daerah pantai lebih besar dibandingkan daerah
pegunungan. Jika tekanan parsial oksigen rendah, maka dibutuhkan lebih banyak
sel darah merah untuk mengikat oksigen.
o Ukuran jantung para atlet rata-rata lebih besar daripada ukuran jantung orang
kebanyakan.
o Saat kita mengeluarkan keringat ketika kepanasan. Dengan keluarnya keringat,
tubuh akan dingin karena panas tubuh diambil untuk menguapkan keringat di
permukaan tubuh kita
o Pada saat udara dingin, orang cenderung lebih banyak mengeluarkan urine.
o Mata manusia dapat menyesuaikan dengan intensitas cahaya yang diterimanya.
Ketika di tempat gelap, maka pupil kita akan membuka lebar. Sebaliknya di
tempat yang terang, pupil kita akan menyempit. Melebar atau menyempitnya
pupil mata adalah upaya untuk mengatur intensitas cahaya.

6
 Adaptasi Tingkah Laku
Adalah adaptasi berupa perubahan tingkah laku. Misalnya: paus yang sesekali keluar
ke permukaan untuk membuang udara, bunglon mengubah warna kulitnya menyerupai
tempat yang dihinggapi.
C. Adaptasi Fisiologi Fetus dari Intrauterine Hingga Ekstrauterine
Beberapa saat dan beberapa jam pertama kehidupan di luar rahim (ekstrauterine) adalah
salah satunya masa yang paling dinamis dari seluruh siklus kehidupan. Pada saat
lahir,bayi baru lahir berpindah dan ketergantungan total dengan kemandirian fisiologis.
Proses perubahan ini dikenal sebagai periode transisi.
1. PERUBAHAN PERNAPASAN
Sistem pernapasan adalah sistem yang paling tertantang ketika melakukan
perubahan dari lingkungan dalam rahim (interuterine) menuju lingkungan luar
rahim (ekstrauterine), bayi baru lahir harus segera mulai bernafas begitu lahir ke
dunia. Organ yang bertanggung jawab untuk oksigenasi janin sebelum bayi lahir
adalah plasenta. Janin mengembangkan otot-otot yang diperlukan untuk bernafas
dan menunjukkan gerakan bernafas sepanjang trimester kedua dan ketiga. Alveoli
berkembang sepanjang gestasi, begitu juga dengan kemampuan janin untuk
menghasilkan surfaktan, fosfolipid yang mengurangi tegangan permukaan pada tempat
pertemuan antara udara-alveoli. Ruang interstitial sangat tipis sehingga memungkinkan
kontak maksimum antara kapiler dan alveoli untuk pertukaran udara.
Janin cukup bulan mengalami penurunan cairan paru pada hari-hari sebelum persalinan
dan selama persalinan. Itu terjadi sebagai respons terhadap peningkatan hormone stress
dan terhadap peningkatan protein plasma yang bersikulasi. Pada saat lahir hingga 35%
cairan paru janin hilang. Terdapat peristiwa-peristiwa biokimia, seperti hipoksia relative
di akhir persalinan dan stimulus fisik terhadap neonates (bayi yang baru berusia 4
minggu) seperti udara dingin, nyeri, cahaya, yang menyebabkan perangsangan pusat
pernafasan.
Upaya pengambilan nafas pertama dapat sedikit dibantu dengan penekanan toraks yang
terjadi pada menit-menit terakhir kehidupan janin. Tekanan yang tinggi pada toraks

7
ketika janin melalui vagina tiba-tiba hilang ketika bayi lahir. Cairan yang mengisi mulut
dan trakea keluar sebagian dan udara mulai mengisi saluran trakea.
Beberapa perubahan fisiologi pada transisi fetal neonatal (suatu keadaan yang ada
dalam kehidupan pertama pada bayi. Kehidupan pertama yang dialami oleh bayi
tersebut biasanya pada usia 28 hari). anatara lain adalah :
a. Sebelum lahir, paru terisi cairan dan oksigen yang dipasok oleh plasenta.
Pembuluh darah yang memasok dan mengaliri paru, mengalami kontraksi
sehingga sebagian besar darah dari sisi kanan jantung akan melewati paru
dan mengalir melalui duktus arteriosus menuju aorta.
b. Sesaat sebelum lahir dan selama persalinan, produksi cairan paru
berkurang.
c. Selama menuruni jalan lahir, dada bayi tertekan dan sejumlah cairan paru
keluar melalui trakea.
d. Sejumlah rangsangan (stimulus) baik yang bersifat termal, kimiawi,
maupun taktil memulai terjadinya pernafasan
e. Tarikan nafas pertama biasanya terjadi dalam beberapa detik pascalahir.
Tekanan intratoraks yang tinggi diperlukan untuk mencapai hal ini,
sebagian besar cairan paru terserap ke dalam aliran darah atau limfatik
dalam beberapa menit setelah lahir.
f. Pengisian udara ke dalam paru disertai dengan peningkatan tegangan
oksigen arterial, aliran darah arteri pulmonalis meningkat dan resistensi
vaskuler pulmonal kemudian turun.
g. Penjepitan tali pusat menghilangkan sirkulasi plasenta yang memiliki
resistensi rendah. Keadaan ini menyebabkan peningkatan resistensi
vaskuler perifer dan peningkatan tekanan darah sistemik
h. Terdapat penutupan fungsional duktus arteriosus akibat penurunan
resistensi vaskuler pulmonal dan peningkatan resistensi vaskuler sistemik.
2. PERUBAHAN SIRKULASI
Aliran darah dari plasenta berhenti pada saat tali pusat di klem. Tindakan ini
meniadakan suplai oksigen plasenta dan menyebabkan terjadinya serangkaian reaksi

8
selanjutnya. Reaksi –reaksi ini dilengkapi dengan reaksi-reaksi yang terjadi dalam
paru sebagai respons terhadap tarikan nafas pertama.
Sirkulasi janin memiliki karakteristik berupa sistem bertekanan rendah. Karena paru
adalah organ tertutup yang berisi cairan, paru memerlukan aliran darah yang
minimal. Sebagian besar darah janin yang teroksigenasi melalui paru dan
malah mengalir melalui lubang antara atrium kanan dan kiri yang disebut
foramen ovale. Darah yang kaya akan oksigen ini kemudian secara langsung
mengalir ke otak melalui dukus arteriosus.
Karena tali pusat di klem, sistem bertekanan rendah yang ada pada unit janin
plasenta terputus. Sistem sirkulasi bayi baru lahir sekarang merupakan sistem
sirkulasi tertutup, bertekanan tinggi, dan berdiri sendiri. Efek yang segera terjadi
setelah tali pusat di kelm adalah peningkatan ini terjadi pada waktu yang bersamaan
dengan tarikan nafas pertama bayi baru lahir. Oksigen dari nafas pertama tersebut
menyebabkan sistem pembuluh darah paru relaksasi dan terbuka. Paru sekarang
menjadi sistem yang bertekanan rendah.
Kombinasi tekanan yang meningkat dalam sirkulasi sistemik, tetapi menurun dalam
sirkulasi paru menyebabkan perubahan tekanan aliran darah dalam jantung. Tekanan
akibat peningkatan aliran darah disisi kiri jantung menyebabkan foramen ovale
menutup. Duktus arteriosus, yang mengalirkan darah plasenta teroksigenasi ke otak
dalam kehidupan janin, sekarang tidak lagi diperlukan.
Dalam 48 jam duktus itu mengecil dan secra fungsional menutup akibat penurunan
kadar prostaglandin E2 yang sebelumnya disuplai oleh plasenta. Darah teroksigenasi
ini yang sekarang secara rutin mengalir melalui duktus arteriosus, juga menyebabkan
duktus itu mengecil. Akibat perubahan dalam tahanan sistemik dan paru, dan
penutupan pintu duktus arteriosus serta foramen ovale melengkapi perubahan radikal
pada anatomi dan fisiologi jantung. Darah yang tidak kaya oksigen masuk ke jantung
neonates, menjadi teroksigenasi sepenuhnya di dalam paru dan dipompa ke semua
jaringan tubuh lainnya.

9
3. TERMOREGULASI DAN ADAPTASI FISIOLOGI SISTEM
METABOLISME
Bayi baru lahir memiliki kecenderungan menjadi cepat stress karena perubahan suhu
lingkungan. Karena suhu di dalam uterus berfluktuasi sedikit, janin tidak perlu
mengatur suhu. Suhu janin biasanya lebih tinggi 0,60C dari pada suhu ibu. Pada saat
lahir, factor yang berperan dalam kehilangan panas pada bayi baru lahir meliputi
area permukaan tubuh bayi baru lahir yang luas, berbagai tingkat insulsi lemak
subkutan, dan derajat fleksi otot kemampuan bayi baru lahir tidak stabil dalam
mengendalikan suhu secara kuat sampai dua hari setelah lahir.
Pasca lahir, neonates harus menyesuaikan terhadap lingkungan dengan suhu yang
lebih rendah. Bayi baru lahir sangat rentan terhadap hipotermi karena :
a. Memiliki area permukaan tubuh yang relative besar dibandingkan
masanya,sehingga terdapat ketidakseimbangan antara pembentukan panas
( yang berhubungan dengan massa), dengan kehilangan panas( yang
berhubungan dengan luas permukaan tubuh)
b. Memiliki kulit yang tipis dan permeable terhadap panas
c. Memiliki lemak subkutan yang sedikit untuk insulasi (penahan panas)
d. Memiliki kapasitas yang masih terbatas untuk membentuk panas, karena
bergantung pada thermogenesis tanpa menggigil dengan menggunakan
jaringan adipose(lemak) bentuk khusus yaitu lemak coklat (the brown fat),
yang terdistribusi di area leher, di antara scapula, dan disekitar ginjal dan
adrenal.
e. Kemampuan untuk menghasilkan panas dan respons simpatis yang sangat
buruk, menggigil hanya terjadi pada suhu kurang dari 160 C pada bayi
aterm dan tidak terjadi pada bayi premature sampai usia 2 minggu.
f. Bayi prematur tidak dapat meringkuk untuk mengurangi terpajannya
kulit.

10
Bahaya yang dapat ditimbulkan dari hipotermi adalah peningkatan konsumsi oksigen
dan energi sehingga menyebabkan hipoksia, asidosis metabolic, dan
hipoglikemia,apnea, cedera dingin pada neonates, berkurangnya koagulabilitas
darah, kegagalan untuk menambah berat badan, dan meningkatkan kematian bayi
baru lahir.
4. PERUBAHAN PADA SISTEM HEMATOLOGI
Pada janin tekanan oksigen rendah. Untuk mengkompensasi hal ini, hemoglobin
fetal (Hb F) memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dan Hb F ini memiliki afinitas
terhadap oksigen yang lebih tinggi dibandingkan dengan hemoglobin dewasa (Hb
A0. Oleh karena itu, saat lahir konsentrasi Hb jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
saat dewasa. Hb juga dipengaruhi oleh waktu penjepitan tali pusat pada saat lahir
dan posisi bayi relative terhadap plasenta, jika tali pusat langsung dijepit, Hb akan
lebih rendah jika dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan transfuse plasenta
akibat penjepitan yan terlambat dan dengan bayi diletakkan lebih rendah dari
plasenta.
Untuk saat ini salah satu perawatan rutin pada bayi baru lahir adalah pemberian
vitamin K sebagai profilaksis terhadap penyakit pendarahan pada bayi baru lahir.
5. PERUBAHAN PADA SISTEM GASTROINTESTINAL
Sistem gastrointestinal pada bayi baru lahir cukup bulan relative matur. Sebelum
lahir, janin cukup bulan mempraktikkan perilaku mengisap dan menelan. Refleksi
muntah dan batuk yang mantur telah lengkap pada saat lahir. Sfingter jantung
( sambungan esophagus bawah dan lambung) tidak sempurna, yang membuat
regurgitasi isi lambung dalam jumlah banyak pada bayi baru lahir dan bayi muda.
Kapasitas lambung padabayi cukup terbatas, kurang dari 30cc untuk bayi lahir cukup
bulan.
Usus bayi baru lahir relative tidak matur. Sistem otot yang menyusun organ tersebut
lebih tipis dan kurang efisien dibandingkan pada orang dewasa sehingga gelombang
peristaltic tidak dapat diprediksikan. Kolon pada bayi baru lahir kurang efisien
menyimpan cairan dari pada kolonorang dewasa sehingga bayi baru lahir cenderung
mengalami komplikasi kehilangan cairan. Kondisi ini mebuat penyakit diare
kemungkinan besar dan serius pada bayi.

11
6. PERUBAHAN PADA SAAT SISTEM IMUN
Sistem imun meonatus tidak matur pada sejumlah tingkat yang signifikan.
Ketidakmaturan fungsional ini membuat neonates rentan terhadap banyak infeksi dan
repons alergi. Sistem imun yang matur memberikan karena baik imunitas alami maupun
yang didapat.
Imunitas alamai neonates terdiri dari struktur tubuh yang mencegah atau maminimalkan
infeksi. Beberapa contoh imunitas alami meliputi
1. Perlindungan barier yang diberiksn oleh kulit dan membrane mukosa.
2. Kerja saperti saingan saluran pernafasan,
3. Kolonisasi pada kulit dan usus oleh mikroba pelindumg
4. Perlindungan kimia yang diberikan oleh lingkungan asam pada lambung.
Imunitas alami juga tersedia pada tingkat sel oleh sel-sel darah yang tersedia
pada saat lahir untuk membantu bayi baru lahir membunuh mikroorganisme
asing. Tiga tipe sel yang bekerja melalui fagositosis :
a. Neutrofil polimorfonuklear
b. monosit
c. makrofag
imunitas yang didapat janin melalui perjalanan transpalsenta dari
immunoglobulin varictas IgG. Imunoglobulin lain seperti IgM dan IgA tidak dapat
melewati plasenta. Neonates tidak akan memiliki kekebalan pasif terhadap
penyakit atau mikroba kecuali jika ibu berespons terhadap infeksi-infeksi tersebut
selama hidupnya.secara bertahap bayi mulai menghasilkan antibody sirkulasi IgG
yang adekuat. Respons antibody penuh terjadi bersamaan dengan pengurangan
IGg yang di dapat pada masa prenatal dari ibu.
7. PENEBALAN PADA SISTEM GINJAL
Ginjal BBL menunjukkan penurunan aliran darah ginjal dan perununan kecepatan
filtrasi glomerulus. Kondisi ini mudah menyebabkan retensi cairan dan intoksikasi air.
Fungsi tubulus tidak matur sehingga menyebabkan kehilangan natrium dalah jumlah
besar dan ketidakseimbangan elektrolit lain. Bayi baru lahir tidak mampu
mengonsentrasikan urine dengan baik, yang tercermin dalam berat jenis urine dan

12
osmolalitas yang rendah. Bayi baru lahir mengekresikan sedikit urine pada 48 jam
pertama kehidupan,seringkali hanya 30-60 ml.
8. IKTERUS NEONATORUM FISIOLOGI
Ikterus neonatrum terjadi pada sekitar 60% bayi baru lahir yang sehat. Pada sebagian
besarkasus kondisi ini merupakan bagian dari adaptasi terhadap kehidupan
ekstrauterine. Bayi mengalami ikterus akibat :
a. Konsetrasi hemoglobin yang tinggi saat lahir dan menurun dengan cepat
selama beberapa hari pertama kehidupan
b. Umur eritrosit pada bayi BBL lebih pendek dari pada eritrosit pada orang
dewasa, sehingga banyak eritrosit hemolisis. Akibat hemolisis maka hemoglobin
yang terkandang di dalamnya terurai menjadi bilirubin tak terkonjugasi (indirek)
c. Imaturitas enzim- enzim hepar, khususnya UDP-glukoronil transferase pada
BBl meneybabkan gangguan proses konjugasi bilirubin tak terkonjugasi (inderek)
Bilirubin merupakan produk dari metabolism hemoglobin dan protein hewan
lainnya.
PERUBAHAN FISIOLOGI BBL DARI INTRAUTERINE HINGGA
EKSTRAUTERINE
1. PERUBAHAN SISTEM PERNAPASAN
Selama dalam rahim, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta
dan setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru-paru bayi. Pada saat bayi
lahir, dinding alveoli isatukan oleh tegangan permukaan cairan kental yang
melapisinya. Diperlukan lebih dari 25 mmHg tekana negative untuk melawan
pengaruh tegangan permukaan tersebut dan untuk membuka alveoli untuk pertama
kalinya.
Tetapi setelah membuka alveoli, pernapasan selanjutnya dapat di pengaruhi
pergerakan pernapasan yang relative lemah.untungnya pernapasan bayi baru lahir
yang pertamakali sangat kuat, biasa mampu menimbulkan tekanan negative sebesar
50 mmHg dala ruang intrapleura.
Pada bayi baru lahir. Kekuatan otot –otot pernapasan dan kemampuan diafragma
untuk bergerak, secara langsung mempengaruhi kekuatan setiap inspirasi dan
ekspirasi. Bayi yang baru lahir yang sehat mengatur sendiri usaha bernapas

13
sehingga mencapai keseimbangan yang tepat antar-oksigen , karbondioksida, dan
kapasitas residu fungsional.frekuensi napas pada bayi baru lahir yang normal adalah
40 kali permenit dengan rentang 30-60 kali permenit (pernapasan diagfragma dan
abdomen). Apabila frekuensi secara konsisten lebih dari lebih dari 60 kali permenit
dengan atau tanpa cuping hidung, suara dengkuratau retraksi dinding dada,jelas
merupakan respon abnormal pada 2 jam setelah kelahiran.
Rangsangan gerakan pernapasan pertama terjadi karena beberapa hal berikut:
1. Tekanan mekanik dari torak sewaktuk melalui jalan lahir (stimulasi mekanik)
2. Penurunan PaO2 dan peningkatan PaO2 merangsang kemoreseptor yang
terletak di sinus karotikus ( stimulasi mekanik)
3. Rangsangan dingin di daerah muka dan perubahan suhu di salam uterus
(stimulasi sensorik)
4. Reflex deflasi hering breur
Pernapasan normal padda bayi baru lahir terjadi 30 menit sesudah lahir. Usaha bayi
pertama kali untuk mempertahankan tekanan alveoli, selain karena adanya
surfaktan, juga karena adanya tarikan nafas dan pengeluaran napas dengan merintih
sehingga udara bisa tertahan di dalam. Cara neonates bernapas dengan cara
bernapas belum teratur. Apabila surfaktan berkurang, maka alveoli akan kolaps dan
paru-paru kaku, sehingga terjadi atelektasis. Dalam kondisi seperti ini (anoksia),
neonates masih mempertahankan hidupnya karena adanya kelanjutan metabolism
anaerobik.
2. PERKEMBANGAN PARU-PARU
Pru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang bercabang dan
kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus proses ini
terus berlanjut sampai sekitar usia 8 tahun, sampai jumlah bronkus dan alveolus
akan sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya gerakan
napas sepanjang trimester II dan III. Paru-paru yang tidak matang akan mengurangi
kelangsungan hidup BBL sebelum usia 24bminggu. Hal ini disebabkan karena
keterbatasan permukaan alveolus, ketidak matangan sistem kapiler paru-paru dan
tidak tercukupinya jumlah surfaktan.

14
3. AWAL ADANYA NAPAS
Faktor- factor yang berperan pada rangsangan napas pertama bayi adalah :
a) Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fsisik lingkungan luar rahim
yang merangsang pusat pernafasan di otak
b) Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru-paru
selama persalinan, yang merangsang masuknya udara ke dalam paru-paru
secara mekanis, interaksi antara sistem pernapasan, kardiovaskular dan
susunan saraf pusat menimbulkan pernapasan yang teratur dan
berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan.
c) Penimbunan karbondioksida (CO2). Setelah bayi lahir, kadar CO2
meningkat dalam darah akan merangsang pernafasan. Berkurangnya O2
akan mengurangi gerakan pernapasan janin tetapi sebaliknya kenaikan CO2
akan menambah frekuensi dan tingkat gerakan pernapasan janin.
d) Perubahan suhu. Keadaan dingin akan merangsang pernapasan.
4. PERUBAHAN PADA SISTEM SIRKULASI
Penyesuain sirkulasi sangat memungkinkan aliran darah yang adekuat melalui paru
adalah satu factor penting selain mulainya pernapasan ketika lahir. Oleh karena itu
paru tidak berfungsi terutama selama kehidupan fetal. Maka jantung fetus tidak
perlu memompa banyak darah melalui paru , sebaliknya jantung fetus harus
memompa darah dalam jumlah besar melalui plasenta sebagian besar darah yang
masuk ke atrium kanan dan kemudian melalui foramen ovale langsung masuk ke
dalam atrium kiri. Jadi, darah yang di ogsigenasi baik dari plasenta masuk ke sisi
kiri jantung bukan ke sisi kanan jantung dan dipompa oleh ventrikel kiri terutama
ke dalam pembuluh darah kepala dan anggota gerak bawah.
5. PERUBAHAN SISTEM SIRKLUASI DAN HEMATOLOGI
Pada janin, tekanan oksigen rendah. Untuk mengkompensasi hal ini, hemoglobin
fetal (Hb F)memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dan Hb F ini memiliki afinitas
terhadap oksigen yanglebih tinggi dibandingkan dengan hemoglobin dewasa (Hb
A). Oleh karena itu, saat lahirkonsentrasi Hb jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
saat dewasa. Hb juga dipengaruhi olehwaktu penjepitan tali pusat pada saat lahir
dan posisi bayi relatif terhadap plasenta. Jika tali pusat langsung dijepit, Hb akan

15
lebih rendah jika dibandingkan dengan bayi yangmendapatkan transfuse plasental
akibat penjepitan yang terlambat dan dengan bayi diletakkanlebih rendah daari
plasenta.

Untuk saat ini salah satu perawataan rutin pada BBL adalah pemberian vitamin K
sebagai profilaksis terhadap penyakit perdarahan pada BBL. Vitamin K dapat
diberikan dalam dosis besar tunggal melalui injeksi intramuscular yang memberikan
pencegahan yang dapatdipercaya. Vitamin K dapaat membantu sintesis protrombin
di hepar bayi sehingga dapatmengurangi manifestasi perdarahan kulit yang
umumnya terjadi pada BBL.

6. TERMOREGULASI dan ADAPTASI PADA SISTEM
METABOLISME
Bayi baru lahir memiliki kecenderungan menjadi cepat stress karena perubahan
suhulingkungan. Karena suhu di dalam uterus berfluktuasi sedikit, janin tidak perlu
mengatursuhu. Suhu janin biasanya lebih tinggi 0,60C dari pada suhu ibu. Pada
saat lahir, faktor yang berperan dalam kehilangan panas pada bayi baru lahir
meliputi area permukaan tubuh bayi baru lahir yang luas, berbagai tingkat insulsi
lemak subkutan, dan derajat fleksi otot.Kemampuan bayi baru lahir tidak stabil
dalam mengendalikan suhu secara adekuat sampaidua hari setelah lahir.

Pasca lahir, neonatus harus menyesuaikan terhadap lingkungan dengan suhu yang
lebihrendah. Bayi baru lahir sangat rentan terhadap hipotermi karena:
a.  Memiliki area permukaan tubuh yang relatif besar dibandingkan massanya, sehin
ggaterdapat ketidakseimbangan antara pembentukan panas (yang berhubungan
dengan massa),dengan kehilangan panas (yang berhubungan dengan luas
permukaan tubuh).
b. Memiliki kulit yang tipis dan permeabel terhadap panas.
c. Memiliki lemak subkutan yang sedikit untuk insulasi (penahan panas).
d. Memiliki kapasitas yang masih terbatas untuk membentuk panas, karena bergantu
ng pada thermogenesis tanpa menggigil dengan menggunakan jaringan adiposa
(lemak) bentukkhusus yaitu lemak coklat (the brown fat), yang terdistribusi di
area leher, di antara scapula,dan di sekitar ginjal dan adrenal.

16
e. Kemampuannya untuk menghasilkan panas dan respons simpatis yang sangat bur
uk,menggigil hanya terjadi pada suhu kurang dari 160C pada bayi aterm dan tidak
terjadi pada bayi prematur sampai usia 2 minggu.
f. Bayi prematur tidak dapat meringkuk untuk mengurangi terpajannya kulit.

Bahaya yang dapat ditimbulkan dari hipotermi adalah peningktana konsumsi


oksigen danenergi sehingga menyebabkan hipoksia, asidosis metabolik, dan
hipoglikemia, apnea, cederadingin pada neonatus, berkurangnya koagulabilitas
darah, kegagalan untuk menambah berat badan, dan meningkatkan kematian bayi
baru lahir.

Kehilangan panas pada neonatus dapat melalui beberapa mekanisme, yaitu : (1)
radiasi, (2)konveksi, (3) konduksi, dan (4) evaporasi melalui kulit. Hal ini bisa
dikurangi bilamana bayidikondisikan agar berada dalam lingkungan yang hangat
(21-240C).

a.  Kehilangan panas melalui konveksi ditentukan oleh perbedaan antara suhu ku
lit danudara, area kulit yang terpajan udara, dan pergerakan udara
sekitar. Konveksi merupakan penyebab penting kehilangan panas pada bayi
baru lahir dan dapat diminimalkan dengan :
a) memakaikan baju bayi,
b) meningkatkan suhu udara,
c) menghindari aliran udara. 
b.  Kehilangan panas melalui konduksi adalah kehilangan panas dengan cara
perpindahan panas dari kulit bayi ke permukaan padat dimana bayi berkontak
langsung.
c. Kehilangan panas melalui radiasi bergantung pada perbedaan suhu antara kulit 
dan permukaan di sekelilingnya, yaitu dinding isolator (incubator), atau jika di
bawah pengaruh penghangat radian, jendela dan dinding ruangan. Bayi
kehilangan panas melalui gelombangelektromagnetik dari kulit ke permukaan
sekitar.

17
d. Kehilangan panas melalui evaporasi terjadi pada saat lahir, ketika kulit basah
bayi harus dikeringkan dan dibungkus dengan handuk hangat. Panas hilang
ketika air menguap dari kulit atau pernapasan.

Persalinan membutuhkan energi terutama pada bayi untuk usaha bernafas,


aktifitas otot, danlain sebagainya sehingga bayi baru lahir harus mengambil
cadangan makanan untukmempertahankan kadar glukosa darah sehingga tidak
terjadi hipoglikemia. Disebuthipoglikemia jika pada bayi baru lahir kadar glukosa
serum kurang dari 45 mg% selama beberapa hari pertama kehidupan.

Untuk mencegah kondisi hipoglikemia, terjadi respon adaptif dalam metabolisme


yaitu yang pertama terjadi pada bayi baru lahir adalah peningkatan
glikogenolisisyang cepat dari hepardalam 24 jam (BBL memanfaatkan glukosa 2
kali lipat orang dewasa). Selain itu juga berlangsung glukoneogenesis
(pembentukan glukosa dari zat nonkarbohidrat misalnya lemakdan protein) dan
liposis dimulai saat lahir sehingga FFA (free fatty acid atau asam lemak bebas)
dalam plasma meningkat 3 kali lipat yang dapat meningkatkan risiko
terjadinyaasidosis metabolik.

7. PERUBAHAN PADA SISTEM GASTROINTESTINAL

Sistem gastrointestinal pada bayi baru lahir cukup bulan relatif matur. Sebelum
lahir, janincukup bulan mempraktikkan perilaku mengisap dan menelan. Refleks
muntah dan batuk yangmatur telah lengkap pada saat lahir. Sfingter jantung
(sambungan esophagus bawah danlambung) tidak sempurna, yang membuat
regurgitasi isi lambung dalam jumlah banyak pada bayi baru lahir dan bayi muda.
Kapasitas lambung pada bayi cukup terbatas, kurang dari 30cc untuk bayi baru lahir
cukup bulan.

8. PERUBAHAN PADA SISTEM IMUN

Sistem imun neonatus tidak matur pada sejumlah tingkat yang signifikan.
Ketidakmaturanfungsional ini membuat neonatus rentan terhadap banyak infeksi
dan respons alergi. Sistemimun yang matur memberikan baik imunitas alami

18
maupun yang diadapat.Imunitas alami terdiri dari struktur tubuh yang mencegah
atau meminimalkan infeksi.Beberapa contoh imunitas alami meliputi:

a) perlindungan barier yang diberikan oleh kulitdan membran mukosa,


b) kerja seperi saringan saluran pernafasan,
c) kolonisasi pada kulitdan usus oleh mikroba pelindung dan,
d) perlindungan kimia yang diberikan olehlingkungan asam pada lambung.

Imunitas alami juga tersedia pada tingkat sel oleh sel-seldarah yang tersedia pada
saat lahir untuk membantu bayi baru lahir membunuh mikroorganisme asing. Tiga
tipe sel yang bekerja melalui fagositosis :

a) neutrofil polimorfonuklear,
b) monosit,
c) makrofag.

Imunitas yang didapat janin melalui perjalanan transpalsenta dari immunoglobulin


varietasIgG. Imunoglobulin lain seperti IgM dan IgA tidak dapat melewati plasenta.
Neonatus tidakakan memiliki kekebalan pasif terhadap penyakit atau mikroba
kecuali jika ibu beresponsterhadap infeksi-infeksi tersebut selama hidupnya. Secara
bertahap bayi muda mulaimenghasilkan antibodi sirkulasi IgG yang adekuat.
Respons antibodi penuh terjadi bersamaandengan pengurangan IgG yang di dapat
pada masa prenatal dari ibu.

9. PERUBAHAN PADA SISTEM GINJAL

Ginjal BBL menunjukkan penurunan aliran darah ginjal dan penurunan kecepatan
filtrasiglomerulus. Kondisi ini mudah menyebabkan retensi cairan dan intoksikasi
air. Fungsitubulus tidak matur sehingga menyebabkan kehilangan natrium dalam
jumlah besar danketidakseimbangan elektrolit lain. Bayi baru lahir tidak mampu
mengosentrasikan urinedengan baik, yang tercermin dalam berat jenis urine dan
osmolalitas yang rendah. Bayi barulahir mengekresikan sedikit urine pada 48 jam
pertama kehidupan, seringkali hanya 30-60 ml.

19
10. Ikterus Neonatorum Fisiologis
Ikterus neonatorum terjadi pada sekitar 60% bayi baru lahir yang sehat. Pada sebagian
besarkasus kondisi ini merupakan bagian dari adaptasi terhadap kehidupan
ekstrauterine. Bayimengalami ikterus akibat :

a. Konsentrasi hemoglobin yang tinggi saat lahir dan menurun dengan cepat selama
beberapa hari pertama kehidupan.

b. Umur eritrosit pada bayi baru lahir lebih pendek dari pada eritrosit pada orang
dewasa,sehingga banyak eritrosit yang hemolisis. Akibat hemolisis maka hemoglobin
yangterkandung di dalamnya terurai menjadi bilirubin tak terkonjugasi (indirek).

c. Imaturitas enzim-enzim hepar, khususnya UDP-glukoronil transferase pada


BBLmenyebabkan gangguan proses konjugasi bilirubin indirek dan ekskresinya.

Ikterus perlu mendapatkan perhatian khusus karena kadar bilirubin indirek yang tinggi
dapatmemasuki sawar darah-otak sehingga mengakibatkan kernikterus yang sudah
tentumembahayakan bayi.

Bilirubin merupakan produk dari metabolisme hemoglobin dan protein hem lainnya.
Produk pemecahan awal adalah bilirubin tak terkonjugasi (bilirubin indirek), yang
dibawa di dalamdarah dalam keadaan terikat dengan albumin. Ketika ikatan albumin
tersaturasi, bilirubin takterkonjugasi yang bebas dapat melewati sawar darah otak
karena bersifat larutlemak. Bilirubin tak terkonjugasi yang berikatan dengan albumin
dikonjugasi di hati(bilirubin direk), yang diekskresikan melalui saluran empedu ke
dalam salurancerna. Sebagian bilirubin diabsorpsi kembali dari saluran cerna .

Kernikterus merupakan ensefalopati bilirubin yang disebabkan oleh deposisi


bilirubinindirek di ganglia basalis dan nukleus batang otak. Kondisi ini dapat
mengakibatkaniritabilitas, letargis, sulit makan, demam, dan hipertonisitas otot-otot
yang bersifat akut yangmenyebabkan kekakuan pada leher dan batang tubuh dan
kejang, koma, dan kematian.Konsekuensi jangka panjang mencakup dysplasia dental,
kehilangan pendengara neurosensorik frekuensi tinggi, paralisis pada gerakan bola mata
ke arah atas, serebral palsyathenoid, dan kesulitan belajar.

20
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
 Dalam siklus kehidupan bayi mereka akan melakukan proses yang dinakan adaptasi
mulai dari adaptasi intrauterine hingga adaptasi ekstrauterin.
 banyak perubahan yang akan dialami oleh bayi yang semula berada dalam lingkungan
internal (dalam kandungan Ibu) yang hangat dan segala kebutuhannya terpenuhi (O2 dan
nutrisi) ke lingkungan eksternal (diluar kandungan ibu) yang dingin dan segala
kebutuhannya memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhinya.
 Adapun perubahan yang dialami oleh fetus dari intrauterine ke ekstrauterin antara lain
yaitu:
1)      Perubahan Pernafasan (Respirasi)
2)      Perubahan Sirkulasi
3)      Perubahan Sistem Metabolisme
4)      Perubahan Sistem Hematologi
5)      Perubahan Sistem Gastrointestinal
6)      Perubahan Sistem Imun
7)      Perubahan Sistem Ginjal
8)      Ikterus Neonatorum Fisiologi

B. SARAN
Saya mengharapkan dengan adanya makalah ini dapat menambah wawasan
pembaca mengenai adaptasi fetus di intrauterine hingga ekstrauterine

21
DAFTAR PUSTAKA
https://www.academia.edu/8408269/perubahan_fisiologis_bayi_baru_lahir_dari_kehidupan_intrauteri
n_ke_ekstrauterin

https://www.academia.edu/5968409/ADAPTASI_FISIOLOGI_FETUS_DARI_INTRAUTERINE_KE_EKSTRAUT
ERINE

22
23
24