Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM BIOKIMIA

BLOK FUNGSI NORMAL SISTEM DIGESTI DAN METABOLISME

ENDOKRIN

PENGUKURAN GLUKOSA DAN PROTEIN DALAM URIN

OLEH:

RADITYA

NIM. 1910911310010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARMASIN
2020

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, penulis panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga dapat
menyelesaikan makalah Laporan Akhir Praktikum Biokimia Blok Fungsi Normal
Digestif dan Metabolisme Endokrin tentang “Pengukuran Glukosa dan Protein
dalam Urin”. Makalah ini telah penulis susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar dapat memperbaiki makalah ini. Akhir kata penulis berharap semoga
makalah Laporan Akhir Praktikum Biokimia Blok Fungsi Normal Digestif dan
Metabolisme Endokrin tentang “Pengukuran Glukosa dan Protein dalam Urin” ini
dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Banjarmasin, Maret 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.............................................................................. 4

II PEMBAHASAN

2.1 Pembahasan................................................................................ 7

III PENUTUPAN

3.1 Kesimpulan................................................................................ 17

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karbohidrat merupakan makanan pokok bagi semua mahluk sebab

50%-60% dari makanan total terdiri atas karbohidrat. Disamping sebagai

sumber utama enegi yang digunakan untuk aktifitas fisiologis, karbohidrat

juga berperan sebagai penyusun berbagai senyawa maupun komponen

biomolekul yang nantinya berperan sebagai komponen dari sel maupun

berbagai jaringan tubuh. Bila ditelah dari sumber alaminya dapat

dikatakan semua senyawa dengan kerangka karbon (C) berasal dari

karbohidrat melalui berbagai jalur metabolisme. Bukti yang paling jelas

dari keadaan tersebut dapat diamati pada mahluk berkloroplas, misalnya

tumbuh-tumbuhan. Dengan energi foton (energi elektromagnetik dari

cahaya khususnya cahaya matahari CO2 diubah melalui proses fotosintesa

menjadi karbohidrat (glukosa) dan selanjutnya dari turunan glukosa

disintesa berbagai senyawa yang lain. Pada makhluk yang tidak

mempunyai kloroplas, sumber karbohidrat dan juga berbagai senyawa lain

berasal dari tumbuhan (kelompok herbivora) dan atau hewan lain

(kelompok omnivore dan karnivora).

Di dalam tubuh manusia, karbohidrat yang berasal dari makanan

diedarkan ke seluruh tubuh dan disetiap jaringan karbohidrat mengalami

4
proses yang disebut metabolisme untuk memenuhi kebutuhan jaringan

yang bersangkutan, misalnya mengalami oksidasi untuk menghasilkan

energi atau untuk dikonversi ke senyawa lain misalnya asam amino,

digunakan untuk sumber berbagai senyawa fungsional misalnya

bifosfogliserat (= BPG) di sel darah merah, alfaketoglutarat di dalam sel

otak, atau ditimbun sebagai trigliserol di jaringan lemak dan sebagainya.

Dengan demikian juga terlihat bahwa metabolisme karbohidrat terkait

dengan metabolisme senyawa lain.

Protein merupakan nutrien ke-3 yang utama bagi manusia, dan sangat

erat kaitannya dengan asam amino karena asam amino adalah unit terkecil

dari molekul protein. Oleh karenanya, metabolisme protein erat kaitannya

dengan metabolisme asam amino di dalam tubuh manusia. Pertukaran

protein, yaitu katabolisme dan resintesis semua protein sel yang

berlangsung terus-menerus, merupakan proses fisiologis yang penting

dalam semua bentuk kehidupan. Meskipun proses pertukaran tersebut

melibatkan baik sintesis maupun katabolisme protein. Sintesis protein

tidak dibahas pada bab ini sedangkan katabolisme protein meliputi

penguraian protein, pelepasan nitrogen dari asam amino:

transaminasi/deaminasi untuk melepaskan amonia dan asam keto, Siklus

urea, Metabolisme asam keto melalui siklus asam sitrat. Nitrogen dari

asam amino akan diubah menjadi urea. Kelainan yang berkaitan dengan

biosintesis urea jarang terjadi. Pada orang dewasa normal, masukan

nitrogen sama dengan pengeluaran nitrogen dari tubuh. Keseimbangan

5
nitrogen positif terjadi jika asupan nitrogen melebihi pengeluaran

contohnya pada saat pertumbuhan dan ibu hamil. Keseimbangan nitrogen

negatif terjadi jika pengeluaran nitrogen lebih banyak dibandingkan

dengan asupannya, seperti pada keadaan sakit, kanker, kwashiorkor dan

marasmus. Amonia yang berasal dari deaminasi nitrogen –amino pada

asam-asam amino, merupakan senyawa yang toksik bagi semua hewan dan

manusia. Jaringan tubuh manusia mula-mula akan melakukan detoksikasi

amonia dengan mengkonversinya menjadi glutamin untuk diangkut ke

hati. Deaminasi glutamin di hati akan melepaskan amonia yang kemudian

secara efisien akan dikonversi menjadi senyawa non toksik yang kaya

nitrogen, yaitu urea.

6
BAB II

PEMBAHASAN

Karbohidrat merupakan senyawa karbon yang mengandung atom

hydrogen dan oksigen dengan rumus umum Cn(H2O)n. Karbohidrat merupakan

sumber energi dan penyusun struktur sel. Pada tanaman dan ganggang yang

memiliki klorofil (zat hijau daun), karbohidrat dibentuk dari air dan

karbondioksida yang terdapat di udara dengan bantuan energi matahari melalui

proses fotosintesis. Tanaman yang mengandung banyak karbohidrat sebagai

cadangan makanannya, dapat digunakan oleh manusia dan hewan sebagai sumber
[1]
karbohidrat . Didalam ilmu biokimia terdapat beberapa jenis karbohidrat yang

memiliki peranan penting, antara lain monosakarida (glukosa, fruktosa, galaktosa,

ribosa), disakarida (laktosa, sukrosa, maltosa) dan polisakarida (glikogen pada

hewan dan selulosa pada tanaman). Uji kualitatif dapat dilakukan untuk

mengetahui jumlah kandungan karbohidrat dalam suatu bahan. Setelah

mengadakan penelitian yang mendalam, banting dan Best pada tahun 1922

memperoleh insulin, suatu hormone yang diproduksi dalam sel pancreas, yaitu

pada sel-sel langerhans atau “Pulau-pulau Langerhans”. Sebagian sel-sel pancreas.

Disamping itu ada sekelompok kecil sel-sel yang letaknya tidak teratur yang

ditemukan oleh Langerhans pada tahun 1867. Sel-sel tersebut selanjutnya disebut

sel-sel atau pulau-pulau Langerhans. Fungsi insulin adalah merangsang sintesis

enzim-enzim lemak dalam hati, misalnya kinase pirurat, glukokinas dan

7
fosfofruktokinase. Disamping itu insulin juga berfungsi sebagai penghambat atau

penekan terbentuknya enzim-enzim glukonegenik, misalnya glukosa-6-fosfatase,

fruktosa-1,6-difosfatase dan karboksilase pirurat. Dengan demikian insulin dapat

mengendalikan proses metabolism karbohidrat dan karenanya kadar glukosa

dalam darah orang normal relative konstan [2]. Insulin adalah suatu protein dengan

bobot molekul sebesar 5734 dan mempunyai titik isolistrik pada pH 5,3 sampai

5,36. Hormon ini dengan alkali dapat bereaksi dan menimbulkan ammonia dan

karenanya menjadi tidak aktif lagi. Enzim proteolitik yang dapat memecahkan

protein juga dapat memecah protein juga dapat merusak insulin. Kekurangan

hormon insulin dalam tubuh mengakibatkan penurunan aktivitas enzim dalam

proses glikolisis dan dengan demikian kadar glukosa menjadi lebih tinggi

daripada keadaan normal [3]. Disamping perannya dalam penggunaan glukosa bagi

tubuh, insulin juga mempunyai pengaruh pada metabolisme protein dan asam

nukleat. Sebagai contoh insulin mempermudah masuknya asam amino ke dalam

sel, meningkatkan sintesis protein dalam ribosom dan mempengaruhi


[3]
pembentukan mRNA . Di dalam sel, katabolisme monosakarida glukosa,

fruktosa dan galaktosa pertama kali dilakukan oleh enzim-enzim glikolisis yang

larut dalam sitoplasma. Glikolisis (Gluko; Glukosa : lisis; penguraian) adalah

proses penguraian karbohidrat (glukosa) menjadi piruvat. Reaksi penguraian ini

terjadi didalam keadaan ada atau tanpa oksigen. Bila ada oksigenasam piruvat

akan dioksida lebih lanjut menjadi CO2 dan air misalnya pada hewan, tanaman

dan banyak sel mikroba yang berada pada kondisi aerobic. Bila tanpa oksigen,

asam piruvat akan diubah menjadi etanol (fermentasi alcohol) pada ragi atau

8
[3, 4]
menjadi asam laktat pada otot manusia yang terkontraksi . Salah satu faktor

penting dalam metabolisme ini ialah kadar gula dalam darah yang relatif konstan.

Bila orang makan makanan sumber karbohidrat, maka glukosa yang terjadi

diserap oleh darah melalui dinding usus. Dengan demikian pada saat dimana

kadar glukosa dalam darah bertambah. Agar kadar glukosa dalam darah konstan,

maka pancreas mengeluarkan hormone insulin. Hormone ini menyebabkan

penguraian glikogen menjadi glukosa diperlambat. Sebaliknya apabila kadar

glukosa dalam darah rendah, maka pancreas mengeluarkan hormone glukogen

yang bekerjanya kebalikan dari insulin yaitu menaikkan kadar glukosa. Demikian

pula kelenjar pituitari atau hipopisis mengeluarkan hormone pertumbuhan yang

juga menaikkan kadar glukosa dalam darah [4, 5]. Air seni atau urine adalah cairan

sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh

melalui proses urinasi. Ekskresi urine ini diperlukan untuk membuang molekul-

molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal, serta untuk menjaga

homeostatis cairan tubuh. Urine yang disaring didalam ginjal tersebut lalu dibawa

melalui ureter menuju kantung kemih, kemudian dibuang keluar tubuh melalui
[5]
uretra . Cairan dan materi pembentuk urine berasal dari darah atau cairan

ruterstial. Komposisi urine berubah sepanjang proses reabsorpsi, yakni ketika

molekul yang penting bagi tubuh, misalnya glukosa, diserap kembali ke dalam

tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa yang berlebih atau

berpotensi racun yang akan dibuang keluar dari tubuh [6]. Materi yang terkandung

di dalam urine dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang terkandung dalam

urine dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat

9
digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. Secara umum, urine

dianggap sebagai zat yang “kotor”. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urine

tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi sehingga urine

pun mengandung bakteri. Namun, jika berasal dari ginjal dan saluran kencing

yang dihasilkan berasal dari urea. Urine normal biasanya memiliki warna yang

bervariasi mulai kuning jernih sampai kuning pucat, tekandung pada kadar air

pada urine. Warna kuning yang khas pada urine disebabkan oleh ekskresi pigmen
[7]
yang berasal dari darah yang disebut uronchrome . Dalam konteks ini, perlu

diketahui bahwa terjadinya peubahan warna urine yang bersifat sementara bisa

disebabkan oleh pewarna makanan buatan yang tidak baik atau bisa juga akibat

resep obat tertentu yang dikonsumsi oleh tubuh. Ada kalanya, perubahan warna

urine yang abnormal tersebut patut diwaspadai karena dapat menjadi gejala

terjadinya gangguan kesehatan. Meskipun demikian, warna urine abnormal belum

tentu juga teridentifikasi penyakit berat, melainkan bias saja disebabkan oleh hasil

metabolisme tubuh abnormal yang berasal dari satu jenis makanan atau sedang

mengonsumsi obat-obatan. Selain warna, bau urine juga dapat dijadikan tanda

adanya gangguan dalam tubuh. Maka dari itu, dapat ditegaskan bahwa urine bisa

melambangkan jenis penyakit. Analisis terhadap urine untuk mengetahui kondisi

kesehatan dilakukan melalui proses yang disebut urinalisis. Proses tersebut

dilakukan untuk mengetahui zat-zat yang terkandung di dalam urine. Itulah

sebabnya dokter kerap meminta melakukan tes urine, meskipun pasien tidak

memiliki keluhan yang berkaitan dengan urine. Dengan tes urine, dokter dapat

mengetahui berbagai hal yang terjadi didalam tubuh. Anda juga dapat melakukan

10
pemeriksaan urine tanpa melibatkan pihak ahli medis yaitu dengan
[7, 8]
memperhatikan urine anda pada saat melakukan buang air kecil . Protein

merupakan nutrien ke-3 yang utama bagi manusia, dan sangat erat kaitannya

dengan asam amino karena asam amino adalah unit terkecil dari molekul protein.

Asam amino non esensiel dapat disintesis dari produk metabolisme karbohidrat

dan lipid, sedangkan asam amino lain diperlukan dari makanan. Ada 20 macam

asam amino yang membentuk protein dan essensial untuk kesehatan. Ada 12 asam

amino secara nutrisi non essensial dan 8 asam amino essensial [9, 10]. Manusia dapat

mensintesis 12 dari 20 asam amino tersebut dari senyawa anfibolik glikolisis dan

siklus asam sitrat. Sembilan asam amino disintesis dari senyawa amfibolik dan 3

(sistein, tirosin dan hidroksilisin) dari asam amino essensial. Asam amino dalam

tubuh tidak hanya berasal dari makanan tetapi juga dari penguraian protein

endogen. Penggunaan asam amino untuk sintesis protein dan konstituen nitrogen

lain menyebabkan penurunan kadar asam amino dalam tubuh. Asam amino yang

berlebih dari yang diperlukan tubuh akan dioksidasi menjadi prekursor glukosa
[11]
(glukoneogenesis) dan lipid kemudian membentuk ATP .Kerangka karbon

asam amino akan diproses melalui jalur yang unik dan membentuk asetil-KoA

dan bermacam-macam senyawa antara dalam siklus asam sitrat. Produk penting

yang diturunkan dari asam amino termasuk hem, purin, pirimidin, hormone,

neurotransmitter dan peptide aktif biologis. Histamin berperan pada beberapa

reaksi alergi. Neurotransmiter turunan asam amino termasuk y-aminobutirat, 5-

hidroksitriptamin (serotonin), dopamine, norepinefrin dan epinefrin. Asam amino

sangat diperlukan untuk sintesis protein. Sebagian asam amino harus dipasok dari

11
makanan sehari-hari (asam amino esensial) karena jaringan tubuh tidak mampu
[13]
mensintesis asam amino tersebut . Jenis asam amino lain, atau asam amino

nonesensial, juga dipasok dari dalam makanan, tetapi jenis ini dapat dibentuk dari

intermediat melalui proses transaminasi dengan menggunakan nitrogen amino dari

kelebihan asam amino lain. Setelah deaminasi, nitrogen amino yang berlebih akan

dikeluarkan menjadi urea dan kerangka karbon tersisa setelah proses transaminasi

akan (1) mengalami oksidasi menjadi CO2 melalui siklus asam sitrat, (2)
[14]
membentuk glukosa (glukoneogenesis), atau (3) membentuk badan keton .

Disamping diperlukan untuk sintesis protein, asam amino juga merupakan

prekursor banyak senyawa penting lain misal, purin,pirimidin,kreatin, heme dan

sejumlah hormon seperti epinefrin dan tiroksin. Kebanyakan penyakit yang

disebabkan oleh cacat metabolisme asam amino merupakan penyakit yang jarang.

Lazim ditemukan adalah asiduria amino, yang ditandai dengan banyak sekali

asam amino yang dibuang dalam kemih. Salah satu contoh asiduria amino ialah

fenilketonuria, yang dijumpai pada 1 dari 10.000 bayi. Penyakit metabolik yang
[14, 15]
berkaitan dengan metabolisme asam amino antara lain hiperoksaluria primer .

Pada penderita hiperoksaluria primer terjadi gangguan aktivitas enzim oksidatif

dekarboksilase yang mengokidasi glioksilat menjadi oksalat. Phenilketouria

disebabkan gangguan pada enzim fenilalanin hidroksilase yang tidak dapat

mengubah fenilalanin menjadi tirosin ,tetapi yang dihasilkan adalah asam

fenilpiruvat. Kelaianan pada metabolisme tirosin adalah tirosinosis. Kelainan ini

disebabkan tidak disintesisnya enzim oksidase, yang mengkatalisis perubahan p-

hidroksi-fenilpiruvat ke dalam homogentisat, akibatnya urin penderita banyak

12
mengandung p-hidroksi-fenilpiruvat. Selain itu ada Alkaptonuria yang disebabkan

defek pada enzim homogentisat oksidase. Enzim ini mengkatalisis perubahan


[16]
homogentisat menjadi maleylasetoasetat . Pada praktikum kali ini dilakukan

percobaan untuk mengukur glukosa dalam urin dan menentukan keberadaan

protein dalam urin. Adapun prinsip percobaan dalam pengukuran glukosa dalam

darah yaitu didasarkan pada reaksi oksidasi reduksi. Glukosa sebagai aldehida

mempunyai sifat sebagai reduktor, maka bila ada senyawa/reagen yang bersifat

mudah menerima electron seperti Cu2+ (dari CuSO4) akan terjadi reaksi oksidasi

reduksi. Cu2+ direduksi menjadi Cu+ (dalam bentuk endapan Cu2O yang

berwarna merah bata), sedangkan glukosanya dioksidasi menjadi asam glukonat.

Sebagai indikator dalam reaksi ini bila reaksinya positif adalah terbentuknya

endapan Cu2O yang berwarna merah bata. Warna yang terjadi tergantung dari

banyaknya endapan Cu2O yang berbaur warna dengan warna CuSO4 yang

warnanya biru. Bila endapan Cu2Onya sedikit warna yang timbul merupakan

campuran sedikit warna merah bata dan biru hijau, dikatakan positif 1 (+). Makin

banyak warna merah batanya warna campuran kuning, dikatakan positif 2 (++)

dan bila glukosanya banyak, endapan merah batanya making banyak sedangkan

CuSO4 hampir habis (karena telah berubah menjadi Cu2O) sehingga yang terlihat

adalah endapan merah bata dan dikatakan positif 3 (+++). Dalam percobaan kali

ini yang digunakan adalah metode Benedict. Alat yang digunakan meliputi tabung

reaksi, penjepit tabung, lapu spritus dan pipet ukur. Sementara itu bahan yang

dugunakan urin dan reagen benedict. Langkah dalam melakukan percobaannya

yaitu mengambil tabung reaksi dan isilah 2-3 ml reagen Benedict, kemudian

13
tambahkan kurang lebih 1 ml urine (sekitar 20 tetes). Panaskan diatas api sampai

mendidih maksimum 1 menit lalu amati hasilnya. Dalam percobaan didapatkan

hasil untuk urin normal positif 1 yang bermakna urin masih dalam keadaan

normal dengan adanya sedikit endapan pada bagian dasar larutan. Pada larutan

urin yang patologis didapatkan hasil positif 3 setelah dipanaskan dan warnanya

menjadi merah bata. Percobaan selanjutnya adalah menentukan keberadaan

protein dalam urin dengan prinsip yaitu suatu larutan yang mengandung protein

bila dipanaskan sampai terjadi koagulasi proteinnya akan mengakibatkan

kekeruhan pada larutan. Kepekatan kekeruhan yang terjadi sangat

dipengaruhi/tergantung kandungan proteinnya, semakin banyak kandungan

protein makin keruh sampai terjadi endapan. Karena pH urine normal berkisar 6-7

sedangkan p.i albumin berkisar antara 5-6 maka penambahan asam asetat encer

perlu untuk mencapai p.i albumin. Tujuannya adalah agar mudah terjadi

koagulasi, sebab semua protein paling mudah terkoagulasi pada p.i nya. Alat yang

digunakan meliputi alat-alat gelas dan Bunsen. Sementara bahan yang digunakan

urine dan asam asetat. Langkah percobaannya yaitu mengambil tabung reaksi,

masukan 4 ml urine. Kemudian panaskan di atas api sampai mendidih. Perhatikan

apakah ada kekeruhan atau tidak. Bila perlu tambah asam asetat encer 1-2 tetes

melalui dinding tabung untuk mencapai p.i dari albumin, sambil dipanaskan lagi.

Bila terlihat keruh berarti ada koagulasi albumin dan ini berarti urine tersebut

mengandung protein dan dikatakan protein (+). Tergantung dari banyaknya

albumin yang terdapat didalamnya, dikatakan positif 1 (+), positif 2 (++) dan

seterusnya positif 4 (++++). Berdasarkan percobaan didapatkan hasil pada urin

14
normal tidak terjadi koagulasi, sementara pada urin yang patologis didapatkan

hasil postif 3 karena terjadi koagulasi yang bermakna terdapat banyak kandungan

protein dalam urin tersebut. Pereaksi ini berupa larutan yang mengandung

kuprisulfat, natriumkarbonat dan natriumsitrat. Glukosa dapat mereduksi ion Cu+


+
darin kuprisulfat menjadi ion Cu+ yang kemudian mengendapan sebagai Cu2O.

Adanya natriumkarbonat dan natriumsitrat membuat pereaksi Benedict bersifat

basa lemah. Endapan yang terbentuk dapat bewarna hijau, kuning, atau merah

bata. Warna endapan ini tergantung pada konsentrasi karbohidrat yang diperiksa.

Pereaksi Benedict lebih banyak digunakan untuk pemeriksaan glukosa dalam urin
[17, 18]
daripada pereaksi Fehling karena beberapa alasan . Apabila dalam urin

terdapat asam urat atau kreatinin, kedua senyawa ini dapat mereduksi pereaksi

Fehling, tetapi tidak dapat mereduksi pereaksi Benedict lebih peka daripada

pereaksi Fehling. Penggunaan pereaksi Benedict juga lebih mudah karena hanya

terdiri atas satu macam larutan, sedangkan pereaksi Fehling terdiri atas dua
[19]
macam larutan . Sangat penting untuk memperhatikan warna air kemih yang

tidak biasa (abnormal). Adanya darah segar atau hemoglobin dapat menyebabkan

warna kemerahan, sedangkan darah yang sudah lama menyebabkan warna yang

keruh pada air kemih; keduanya menjadi petunjuk terjadinya pendarahan pada

saluran urogenitalia. Pigmen empedu mengakibatkan air kemih berwarna

kehijauan, coklat, atau kuning tua yang menandakan gangguan fungsi hati atau

saluran empedu. Air kemih yang berwarna coklat tua dapat disebabkan oleh

adanya asam homogentisat yang diproduksi oleh penderita penyakit genetis

langka, yaitu alkaptonuria. Obat-obatan atau zat pewarna tertentu mungkin saja

15
[20]
mengubah warna urin . Glukosa merupakan kelompok senyawa karbohidrat

sederhana atau monosakarida. Di alam, glukosa terdapat dalam buah-buahan dan

madu lebah. Glukosa berfungsi sebagai sumber energi untuk sel-sel otak, sel saraf,

dan sel darah merah. Darah manusia normal mengandung glukosa dalam jumlah

atau konsentrasi yang tetap, yaitu antara 70-100 mg tiap 100 ml darah. Glukosa

darah ini dapat bertambah setelah kita makan makanan sumber karbohidrat,

namun setelah kira-kira 2 jam setelah makan, jumlah darah akan kembali seperti

semula. Pada orang yang menderita diabetes melitus, jumlah glukosa darah lebih

besar dari 130 mg/100 ml darah [21].

16
BAB III

PENUTUPAN

3.1 Kesimpulan

Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa urin yang mengandung

glukosa mempunyai endapan dan berwarna jingga atau merah bata dengan

indicator untuk glukosa yaitu warna hijau atau kuning ( < 0,5 %) dan

warna kuning ( 0,5- 1,0 % ) merupakan batas normal sedangkan batas

abnormal berwarna jingga/orane (1-2 %) dan merah bata (> 2 %) dan

untuk mengetahui kadar glukosa tersebut dapat digunakan uji larutan

benedict dan apabila uji untuk menentukan kadar protein dengan asam

asetat jika terdapat keruhan akibat dari terjadinya koagulasi berarti

terdapat protein di dalam urin tersebut. Karbohidrat merupakan makanan

pokok bagi semua mahluk sebab 50%-60% dari makanan total terdiri atas

karbohidrat. Disamping sebagai sumber utama enegi yang digunakan

untuk aktifitas fisiologis, karbohidrat juga berperan sebagai penyusun

berbagai senyawa maupun komponen biomolekul yang nantinya berperan

17
sebagai komponen dari sel maupun berbagai jaringan tubuh. Bila ditelah

dari sumber alaminya dapat dikatakan semua senyawa dengan kerangka

karbon (C) berasal dari karbohidrat melalui berbagai jalur metabolisme.

Protein merupakan nutrien ke-3 yang utama bagi manusia, dan sangat erat

kaitannya dengan asam amino karena asam amino adalah unit terkecil dari

molekul protein. Oleh karenanya, metabolisme protein erat kaitannya

dengan metabolisme asam amino di dalam tubuh manusia.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Sarria B, et al. Regularly Consuming A Green/Roasted Coffee Blend

Reduces The Risk Of Metabolic Syndrome. European Journal Of

Nutrition. 2016; 57: 1-10.

2. Johnson RJ, et al. Metabolic and Kidney Diseases in the Setting of

Climate Change, Water Shortage, and Survival Factors. J Am Soc Nephrol.

2016; 27: 2247-2256.

3. Bhattacharya M. A history of evolution of the terms of carbohydrates

coining the term ‘glucogenic carbohydrates’ and prescribing in grams per

day for better nutrition communication. Journal of Public Health and

Nutrition. 2018; 1: 93100.

4. Reynolds A, et al. Carbohydrate quality and human health: a series of

systematic reviews and meta-analyses. The lancet. 2019; 393: 434-445.

5. Jahangirpuria HD, Makwana, SA, Patel CG. Qualitative Tests for

Identification of Monosaccharide, Disaccharide and Polysaccharide

Belongs to Carbohydrate Functional Group. International Journal of

Scientific Research in Chemistry. 2018; 3: 2456-8457.

6. Chiu YH, et al. Trimester-specific urinary bisphenol A concentrations and

blood glucose levels among pregnant. The Journal of clinical

endocrinology and metabolism. 2017; 102(4): 1350-1357.

7. Poortmans JR, Carpentier A. Protein metabolism and physical training:

any need for amino acid supplementation?. Nutrire. 2016; 41: 1-17.
8. Elzagheid MI. Color Presenting Products of Amino Acids Reactions-

Qualitative Tests. Science Publishing Group. 2018; 6: 56-60.

9. Rostom H, Shine B. basic metabolism proteins. Surgery (Oxford). 2018;

36: 153-158.

10. A Ratriyanto, Indreswari R, Nuhriwangsa AMP. Effects of Dietary Protein

Level and Betaine Supplementation on Nutrient Digestibility and

Performance of Japanese Quails. Brazillian Journal Of Poultry Science.

2017; 19: 445-454.

11. Dietitian BHM, et al. The effects of low protein products availability on

growth parameters and metabolic control in selected amino acid

metabolism disorders patients. International Journal Of Pediatrics and

Adolescent Medicine. 2018; 5: 60-68.

12. Qadir MI, Javed MK. RELATION OF URINE PROTEIN WITH MOUTH

SHAPE. International Journal Of medical Scienc In clinical Research and

Review. 2019; 2:56-58.

13. Buyken AE, et al. Dietary carbohydrates: a review of international

recommendations and the methods used to derive them. European Journal

Of Clinical Nutrition. 2018; 72: 1-20.

14. Ngala RA, Awe MA, Nsiah P. The effects of plasma chromium on lipid

profile, glucose metabolism and cardiovascular risk in type 2 diabetes

mellitus. A case - control study. PLOS ONE. 2018; 13: 1-11.

15. Tamura T, Yatabe T, Yokoyama M. Energy expenditure measured using

indirect calorimetry after elective cardiac surgery in ventilated


postoperative patients: A prospective observational study. Clinical

Nutrition Experimental.2019; 24: 15-23.

16. Fleischer H. The Iodine Test for Reducing Sugars – A Safe, Quick and

Easy

17. Alternative to Copper(II) and Silver(I) Based Reagents. World Journal of

Chemical Education. 2019; 7: 45-52.

18. Fleischer H. False Interpretation Of Fehling’s Test For Reducing Sugars-

19. From Observationin The Lab to Evidence Against an Aldehyde Oxidation.

CHEMKON. 2017; 24:27-30.

20. Saatkamp CJ, et al . Quantifying creatinine and urea in human urine

through Raman spectroscopy aiming at diagnosis of kidney disease.

Journal Of biomedical Optics. 2016; 21: 1-8.


LAMPIRAN