Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Kuliah lapangan mata kuliah Vulkanologi dan Panas Bumi kali ini diadakan di PLTP
PGE Area Kamojang, Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung Jawa Barat. Kuliah
lapangan tersebut dibagi menjadi 2 tahap yaitu Tahap Pengenalan PGE Kamojang yang terletak
pada Kantor PGE Area Kamojang dimana dilakukan sosialisasi mengenai Panas Bumi di
Kamojang secara teori pada Geothermal Information Centre (GIC). Dan tahap kedua pada
daerah-daerah yang memiliki manifestasi panas bumi di Kamojang. Daerah kamojang sendiri
merupakan daerah pembangkin listrik tenaga panas bumi pertama di Indonesia sejak tahun 1926.
Kini daerah Kamojang memiliki 5 unit pembangkit listrik dari puluhan sumur produksi yang
menghasilkan 235 MW. Pada ruangan GIC dijelaskan system panas bumi secara garis besar,
bagiamana pemanfaatannya secara langsung dan tidak langsung, dan system panas bumi pada
daerah Kamojang itu sendiri.

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi daerah Kamojang oleh Pertamina Geothermal Energy

Daerah Kamojang memiliki system panas bumi dari gunung api strato kamojang dengan
tipe gunung yaitu tipe C. Ciri-ciri system panas bumi pada area Kamojang yaitu steam-
dominated, dengan suhu reservoir 230-245 °C dengan mata air yang kaya akan unsur Cl atau
bersifat asam. Tekanan pada reservoir 30-34 bar dengan kebasahan <1%. Untuk system panas
bumi tidak lepas kaitannya dengan system hydrothermal yang ada pada daerah Kamojang. Mulai
dari zona recharge (topografi tinggi), sebagai zona resapan air, zona discharge (manifestasi panas
bumi pada topografi yang lebih rendah serta zona upflow(pada reservoir) dan outflow dll.

Pencarian energy panas bumi dimulai pada sumur-sumur eksplorasi yang ada. Kemudian
setelah ditemukan dikembangkan pada sumur pengembangan atau sumur produksi. Uap air panas
yang ditemukan pada reservoir di alirkan oleh sumur produksi ke permukaan lalu dihantar
dengan pipa-pipa sampai menuju unit pembangkit listrik. Namun sebelumnya harus melewati
isolator terlebih dahulu untuk memisahkan antara uap air dengan air saja. Kemudian uap air tsb
digunakan untuk memutar turbin generator listrik. Kemudian sisa uap air didinginkan dan
kemudian bersama air yang diisolator dialirkan kembali ke reservoir melalui sumur injeksi.

Skema Pemanfaatan Energi Panas Bumi pada daerah Kamojang

PGE Area Kamojang memiliki sekitar kurang lebih 60 sumur dengan 24 diantaranya
merupakan sumur produksi, kemudian terdapat sumur eksplorasi. Tentunya pada PLTP daerah
Kamojang tidak hanya memiliki sumur eksplorasi dan produksi saja namun juga memiliki sumur
injeksi guna menginjeksikan kembali uap air panas yang digunakan untuk memutar turbin
generator listrik sebelumnya ke reservoir agar tetap menjaga kondisi reservoir sehingga
berkelanjutan.
Model system panas bumi Area Kamojang

Selanjutnya pada kuliah lapangan ini , kami mengunjungi manifestasi-manifestasi panas


bumi yang terdapat pada daerah kamojang. Pada daerah terdapat fumarole dan solfatara yang
banyak ditemukan didekat kawah Kamojang. Seperti yang ditemukan pada Kawah Kereta Api
Kamojang yang merupakan bekas sumur produksi pada zaman penjajahan Belanda.

Gambar kiri merupakan Kawah Kereta Api dan Gambar kanan merupakan solfatara

Pada sekitaran daerah Kawah Kereta api juga terdapat beberpa manifestasi panas bumi
lainnya seperti mata air panas, steaming ground , batuan yang teralterasi. Pada daerah kamojang
sendiri dapat ditemui sinter silica berupa endapan silica yang terdapat pada mata air panas.
Gambar Kanan merupakan fumarol dan Gambar Kiri merupakan mata air panas yang terdapat
pada daerah Kamojang

Gambar di atas merupakan manifestasi panas bumi pada daerah Kamojang berupa batuan
alterasi.

Energi panas bumi merupakan energy terbarukan yang dapat berkelanjutan dan
merupakan energy bersih juga. Manfaatnya sangat besar dirasakan sebagai sumber daya energy.
PGE sendiri selain mengembang PLTP juga mengembangkan kondisi ekonomi, pendidikan dan
sosial pada masyarakat sekitar daerah PLTP daerah Kamojang seperti sekolah, kelompok tani,
dll.