Anda di halaman 1dari 9

Teknik Pengolahan Air Limbah

Dibuat Untuk Memenuhi Ujian Tengah Semester Genap

Mata Kuliah Teknik Pengolaha Air Limbah

Dosen Pengajar : Bapak Ir. Moh. Sholichin, MT., Ph.D.

Oleh:

Rovita Yuniarti Arimbi (185060400111022)

Teknik Pengolahan Air Limbah Kelas B

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

FAKULTAS TEKNIK

JURUSAN TEKNIK PENGAIRAN

MALANG

2020
Teknik Pengolahan Air Limbah

1. Apa yang dimaksud dengan limbah? Jelaskan perbedaan antara point source dan
non-point source dari limbah.
Limbah adalah bahan buangan tidak terpakai yang berdampak negative terhadap
masyarakat jika tidak dikelola dengan baik. Limbah adalah sisa produksi baik dari alam
maupun hasil dari kegiatan manusia. Beberapa pengertian tentang limbah:
- Berdasarkan keputusan Menperindag RI No. 231/MPP/Kep/7/1997 Pasal I tentang
prosedur impor limbah, menyatakan bahwa Limbah adalah bahan/barang sisa atau
bekas dari suatu kegiatan atau proses produksi yang fungsinya sudah berubah dari
aslinya.
- Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 18/1999 Jo.PP 85/1999 Limbah didefinisikan
sebagai sisa atau buangan dari suatu usada atau kegiatan manusia.

Point source yaitu sumber titik atau sumber pencemar yang dapat diketahui secara
pasti. Dapat berupa suatu lokasi seperti air limbah industri maupun domestik serta saluran
lokasi seperti saluran drainase. Air limbah adalah sisa dari suatu hasil usaha dan kegiayan
yang berwujud cair (PP No.82 Tahun 2001). Sedangkan, Non point source merupakan
sumber pencemar yang tidak terlokalisasi secara definitif. Sumber pencemaran ini
biasanya berasal dari daerah pinggiran kota, kota-kota besar, rumah-rumah pedesaan,
pertanian dan peternakan. Sumber pencemaran ini tersebar dari beberapa daerah dan tidak
langsung mencemari badan air. Biasanya, pencemar ini terlebih dahulu mencemari air
tanah atau saluran air (saluran air terbuka maupun tertutup), yang kemudian bermuara di
badan air, seperti sungai dan laut.
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan :
a. Sistem Sanitasi Setempat (On-Site)
Proses pembuangan dan pengolahan air limbah dilakukan secara bersamaan di
tempat yang biasanya menggunakan cubluk atau septictank. Bila pada suatu waktu
cubluk atau septictank tersebut sudah penuh dengan lumpur tinja maka harus
disedot dan diangkut dengan truk tinja ke IPLT (Instalasi Pengelolaan Lumpur
Tinja) untuk disempurnakan prosesnya agar tidak merusak dan mencemari
lingkungan.
Pembuangan air limbah dengan sistem ini dalam praktek sehari – harinya dapat
kita lihat dalam kegiatan :
- Individual, yaitu sistem pembuangan melalui kloset, peturasan yang dilakukan
oleh masing-masing keluarga pada setiap rumah.
- Komunal, yaitu sistem pembuangan melalui kloset yang dilakukan secara
bersama-sama oleh beberapa keluarga yang biasanya berupa jamban jamak,
MCK umum, atau Septictank komunal.
b. Sistem Sanitasi Terpusat (Off-site)
Sistem pembuangan air buangan rumah tangga (mandi,cuci, dapurm dan limbah
kotoran) yang disalurkan keluar dari lokasi pekarangan masing-masing rumah ke
saluran pengumpul air buangan dan selanjutnya disalurkan secara terpusat ke
bangunan pengolahan air buangan sebelum dibuang ke badan perairan.
- Sistem Penyaluran Konvensional, merupakan suatu jaringan perpipaan yang
membawa air buangan ke suatu tempat berupa bangunan pengolahan atau
tempat pembuangan akhir seperti badan air penerima.
- Sistem Riol Dangkal, sistem ini mengangkut air buangan dalam skala kecil dan
pipa dipasang dengan slope lebih landau daripada sistem penyauran
konvesional. Sistem ini melayani air buangan dari kamar mandi, cucian, pipa
servis, pipa lateral tanpa induk serta dilengkapip dengan pengolahan mini.
- Sistem Small Bore Sewer, sistem ini didesain hanya untuk menerima bagian cair
dari limbah rumah tangga untuk disalurkan dalam saluran pembuangan. Sistem
ini dirancang hanya untuk menerima bagian – bagian cair dari air buangan
kamar mandi, cuci dapur, dan limpahan air tangka septik sehingga sistem ini
harus bebas dari zat padat.
c. Sistem Penyaluran Terpisah
Sistem dimana air buangan disalurkan tersendiri dalam jaringan roil tertutup,
sedangkan limpasan air hujan disalurkan tersendiri dalam saluran drainase khusus
untuk air yang tidak tercemar. Sistem ini digunakan dengan pertimbangan antara
lain:
1. Periode musim hujan dan kemarau lama.
2. Kuantitas aliran yang jauh berbeda antara air hujan dan air buangan domestik.
3. Air buangan umumnya memerlukan pengolahan terlebih dahulu, sedangkan air
hujan harus secepatnya dibuang ke badan penerima.
4. Fluktuasi debit (air buangan domestic dan limpasan air hujan) pada musim
kemarau dan musim hujan relatif besar.
5. Saluran air buangan dalam jaringan roil tertutup, sedangkan air hujan dapat
berupa polongan (conduit) atau berupa parit terbuka (ditch).

Kelebihan sistem ini adalah masing – masing sistem saluran mempunyai dimensi
yang relative kecil sehingga memudahkan dalam konstruksi serta operasi dan
pemeliharaannya. Sedangkan kelemahannya adalah memerlukan tempat luas untuk
jaringan masing – masing sistem saluran.

d. Sistem Kombinasi
Sistem dimana air buangan dan air hujan disalurkan bersama-sama sampai tempat
tertentu baik melalui saluran terbuka atau tertutup, tetapi sebelum mencapai lokasi
instalasi antara air buangan dan air hujan dipisahkan dengan bangunan regulator.
Air buangan dimasukkan ke saluran pipa induk untuk disalurkan ke lokasi
pembuangan akhir, sedangkan air hujan langsung dialirkan ke badan air penerima.
Pada musim kemarau air buangan akan masuk seluruhnya ke pipa induk dan tidak
akan mencemari badan air penerima.
Sistem kombinasi ini cocok diterapkan di daerah yang dilalui sungai yang airnya
tidak dimanfaatkan lagi oleh penduduk sekitar, dan di daerah untuk program
jangka panjang direncanakan akan diterapkan saluran secara konvensional, karena
itu pada tahap awal dapat dibangun saluran pipa induk yang untuk sementara dapat
dimanfaatkan sebagai saluran air hujan.
3. Sebutkan dan jelaskan macam – macam proses pengolahan air :
a. Preatment dan Primary Treatment (secara fisik)
Metode – metode pengolahan secara fisik meliputi penyaringan, pengecilan ukuran,
pembuangan serpih, pengendapan dan filtrasi. Kecuali untuk filtrasi, masing – masing
operasi satuan ini ada pada kebanyakan instalasi pengolahan modem.
- Penyaringan
Tujuan utamanya adalah untuk memisahkan padatan tidak terlarut dan bahan kasar
lain dengan ukuran yang cukup besar. Ukuran saringan juga bervariasi, yaitu
saringan kasar (d. 50 mm), saringan sedang (d. 12mm – 40 mm), dan saringan halus
(d. 1.6mm – 3mm). Bahan saringan umumnya adalah kawat baja yang dianyam atau
jeruji besi. Penyaringan akan membuang sekitar 20% bahan padat terapung yang ada
dalam air limbah.
- Pengecilan ukuran
Padatan kasar dihaluskan agar menjadi kecil dengan menggunakan alat pencacah.
Karena ukuran bahan padat diperkecil, maka mereka akan lolos melalui saringan
menuju pengolahan selanjutnya. Alat pengecil ukuran ini dapat memecahkan
persoalan pembuangan bahan saringan pembuangan serpih kolam serpih yang
direncanakan secara khusus digunakan untuk membuang partikel-partikel anorganik
(berat jenis kira-kira 1.6 – 2.65), misalnya pasir kerikil, kulit telur, tulang dll. Tujuan
kola mini lebih utama untuk mencegah kerusakan pompa dan untuk mencegah
penumpukan bahan tersebut diatas di dalam kolam lumpur aktif.
- Pengendapan
Fungsi utama dari kolam pengendapan dalam pengolahan air limbah adalah untuk
membuang bahan terlarut yang besar dari air limbah yang masuk. Proses
pengendapan dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
1. Discrete Settling
Proses pengendapan yang terjadi yaitu pengendapan partikel tanpa mengalami
perubahan bentuk, ukuran, maupun berat partikel.
2. Floulet Settling
Proses pengendapan ini pada dasarnya sama dengan discrete settling, namun
perhitungan secara matematis sulit dilakukan. Hal ini terutama mengingat
sulitnya menetapkan diameter partikel yang ukurannya bervariasi karena selama
partikel bergerak juga menarik partikel lain untuk bergabung hingga kecepatan
pengendapannya menjadi berbeda – beda. Kebanyakan partikel tersuspensi yang
berasal dari limbah industry umumnya mengandung sifat ini. Untuk mengetahui
besarnya rata – rata kecepatan pengendapan dan besarnya prosentase
pengurangan partikel suspense dapat dilakukan dengan suatu percobaan pada
aliran diam.

b. Secondary Treatment (secara kimia dan secara biologi)


Proses pengolahan secara kimia adalah menggunakan bahan kimia untuk mengurangi
konsentrasi zat pencemar dalam limbah. Proses utama yang dilakukan dalam metode
ini adalah pengendapan kimiawi dan klorinasi.
- Pengendapan Kimiawi
Dapat digunakan untuk meningkatkan pembuangan bahan tersuspensi atau jika
pengendapan secara fisik tidak berfungsi secara optimal. Bahan koagulan yang
sering digunakan adalah Alum ([Al, (SO4L)]. I8H2O) atau dikenal dengan tawas
dan Lime (kapur) CaO.
Pengendapan kimiawi akan berhasil dengan baik jika perbandingan antara zat
koagulan dengan air tepat. Manfaat tahap ini adalah sebagai usaha untuk
meningkatkan kapasitas dari bak pengendap biasa yang kelebihan beban namun
kerugiannya menambah biaya operasional.
- Klorinasi
Klorinasi digunakan untuk mengurangi bakteri yang bersigat pathogen.
Mekanismenya yaitu dengan merusak enzim utama yang ada dalam sel bakteri
sehingga dinding selnya menjadi rusak atau bahkan hancur. Akibatnya bakteri akan
mati. Klorinasi dapat digunakan sebagai langkah akhir dalam pengolahan air limbah.
Untuk klorin yang berbentuk gas, reaksi yang terjadi yaitu :
Cl2 + H2O  HOCl + H + Cl
Sedangkan yang berupa garam – garaman seperti NaOCl dan Ca (OCl) 2 atau lebih
dikenal dengan kaporit.
Ca (OCl)2  Ca2+ + 2 OCl-
Daya bunuh HOCl sekitar 40 – 80 kali lebih kuat daripada OCl-
Metode pengolahan biologis merupakan unsur pokok hamper dalam semua jaringan
pengolahan limbah sekunder. Tujuannya mengurangi zat organic melalui biokimia
oksidasi dengan cara memanfaatkan mikroorganisme. Pengolahan limbah dengan
cara ini tersiri dari 3 kondisi yaitu :
1. Proses secara aerob yang merupakan pengolahan limbah pada kondisi tersedia
oksigen bagi bakteri untuk menguraikan limbah.
2. Proses secara anaerob, yaitu pengolahan pada kondisi tanpa adanya oksigen
sehingga bakteri anaerob menguraikan zat organic menjadi gas metan dan gas
CO2.
3. Proses faktultatif, yaitu pengolahan limbah diman abakteri yang ada mempunyai
kemampuan adaptasi tinggi, maksudnya bakteri tersebut mampu bertahan pada
kondisi aerob maupun anaerob.

Unit yang digunakan yaitu unit aerasi (reactor lumpur aktif) dan kolam stabilisasi.
4. Pada sebuah kota berpenduduk sekitar 10.000 orang akan dibuatkan unit
pengolahan limbah cair. Jika kebutuhan air dari penduduk adalah 150 lt/orang/hari,
dan 80% air kebutuhan tersebut menjadi limbah, berapa besar instalasi pengolahan
air limbah yang diperlukan untuk kawasan kota tersebut. Apabila diproyeksikan
untuk dimanfaatkan untuk satu tahun ke depan berapa besar instalasi pengolahan
limbah yang diperlukan.

Penyelesaian Berdasarkan buku ajar 3 Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik –


Terpusat Skala Pemukiman.

Jumlah penduduk = 10.000 orang

Kebutuhan air perorang = 150 liter/orang/hari

Kebutuhan air total per hari = 1.500.000 lt/hari

Prosentase total limbah = 80% x 1.500.000 = 1.200.000 lt/hari

Perkiraan Kebutuhan Lahan IPLT pada Buku 3 Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik
– Terpusat Skala Pemukiman diketahui pada tabel 4 :
Sumber : Buku 3 Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik – Terpusat Skala Pemukiman,
2016

Untuk jumlah penduduk sebanyak 10.000 jiwa dikategorikan kedalam 25 x 1000 jiwa,
sehingga dari jumlah penduduk yang dilayani tersebut diperkirakan kebutuhan lahan IPLT
sebagai berikut :

 Volume lumpur tinja = 13 m3/hari


 2 Bak Anaerob = 30 x h = 30 x 3 = 90 m3
 1 Bak Fakultatif = 150 x h = 150 x 2 = 300 m3
 1Bak Maturasi = 75 x h = 75 x 1 = 75 m3
 5 SCC = 75 x h = 75 x 3 = 225 m3
 Ruang Pengering = 75 m2
 Luas Lahan = 405 m2
 Luas Lahan Min + Fasilitas pendukung = 1105 m2

dengan menggunakan pipa 4’’ untuk saluran primernya dan ukuran pipa 2’’ untuk
menuju ipalnya

Anda mungkin juga menyukai