Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MATA KULIAH KEPERAWATAN KOMUNITAS II

Tugas ini untuk melengkapi tugas kuliah online keperawatan komunitas II

DOSEN PENGAMPU : Ns. Puji Purwaningsih, S.Kep., M, Kep.

Di susun oleh

Devi Ismawati

010117A016

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

2020
1. Kebijakan pemerintah kementrian kesehatan Indonesia menghadapi virus covid 19,
Diare dan Stunting
A. VIRUS COVID 19

Coronavirusadalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit

mulaidari gejala ringan sampai berat. Ada setidaknya dua jenis coronavirus yang

diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala beratseperti Middle

East Respiratory Syndrome (MERS) danSevere Acute Respiratory Syndrome(SARS).

Coronavirus Disease2019(COVID-19)adalahpenyakitjenis baru yang belum pernah

diidentifikasi sebelumnya pada manusia.Virus penyebab COVID-19 ini dinamakan

Sars-CoV-2. Virus corona adalah zoonosis(ditularkan antara hewan dan

manusia).Penelitian menyebutkanbahwa SARS ditransmisikandari kucing

luwak(civet cats)ke manusia dan MERS dari unta ke manusia. Adapun, hewan yang

menjadi sumber penularan COVID-19 ini sampai saat ini masih belum

diketahui.Kemenkes telah menerbitkan Surat Edaran kepada seluruh Dinas Kesehatan

Provinsi dan Kab/Kota, RS Rujukan, Kantor Kesehatan Pelabuhan(KKP) dan Balai

Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL)untuk meningkatkan kewaspadaan dan

kesiapsiagaan dalam mengahdapi kemungkinan masuknya penyakit ini

Pemerintah juga memberikan peraturan:

- Bandara2 di seluruh Indonesia terutama yang mempunyai penerbangan langsung

dari Cina, meningkatkan kewaspadaan diantaranya dengan mengaktifkan thermal

scanner, memberikan health alert card dan KIE pada penumpang

- Akan dilakukan simulasi kesiapan yang akan melibatkan lintas sektor untuk

mengantisipasi jika penyakit ini masuk ke Indonesia


- Penyebaran KIEkepada masyarakat agar tidak panik namun tetap waspada

terhadap penyakit in

Dalam rangka kesiapsiagaan menghadapiinfeksi COVID-19maka Pusat dan Dinkes

melakukan kesiapan sumber dayasebagai berikut:

a. Sumber Daya Manusia (SDM)

o Mengaktifkan TGC yang sudah ada baik di tingkat Pusat, Provinsi dan

Kab/Kota.

o Meningkatkankapasitas SDM dalam kesiapsiagaan menghadapi COVID-

19dengan melakukan sosialisasi, table top exercises/drillingdan

simulasiCOVID-19.

o Meningkatkan jejaring kerja surveilans dengan lintas program dan lintas

sektor terkait.

b. Sarana dan Prasarana

o Kesiapan alat transportasi (ambulans) dan memastikan dapat berfungsi

dengan baik untuk merujuk kasus.

o Kesiapan sarana pelayanan kesehatan antara lain meliputi tersedianya

ruang isolasi untuk melakukan tatalaksana, alat-alat kesehatan dan

sebagainya.

o Kesiapanketersediaan dan fungsi alat komunikasi untuk koordinasi dengan

unit-unit terkait.

o Kesiapanlogistik penunjang pelayanan kesehatan yang dibutuhkan antara

lain obat-obat suportif (lifesaving), alat-alat kesehatan, APDserta

melengkapi logistik lainnya.


o Kesiapan bahan-bahan KIEantara lain brosur, banner, leafletserta media

untuk melakukan komunikasi risiko terhadap masyarakat.

o Kesiapan pedoman kesiapsiagaan menghadapi COVID-19untuk petugas

kesehatan, termasuk mekanisme atau prosedur tata laksana dan rujukan

RS.

B. DIARE

Kebijakan pengendalian penyakit diare di Indonesiabertujuan untuk menurunkan

angka kesakitan dan angka kematian karena diare bersama lintas program dan lintas

sektor terkait.Kebijakan yang ditetapkan pemerintah dalam menurunkanangka

kesakitan dan kematian karena diare adalah sebagai berikut :

a. Melaksanakan tata laksana penderita diare yang

b. sesuai standar, baik di sarana kesehatan maupun dirumah tangga

c. Melaksanakan surveilans epidemiologi &Penanggulan Kejadian Luar Biasa

d. Mengembangkan Pedoman Pengendalian PenyakitDiare

e. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petugas

f. dalam pengelolaan program yang meliputi aspekmanejerial dan teknis medis.

g. Mengembangkan jejaring lintas sektor dan lintasprogram

h. Pembinaan teknis dan monitoring pelaksanaan

i. pengendalian penyakit diare.

j. Melaksanakan evaluasi sabagai dasar perencanaan selanjutnya.

Strategi pengendalian penyakit diare yang dilaksanakan pemerintah adalah :

a. Melaksanakan tatalaksana penderita diare yang standar di sarana kesehatan

melalui lima langkah tuntaskan diare ( LINTAS Diare).


b. Meningkatkan tata laksana penderita diare di rumah tangga yang tepat dan benar.

c. Meningkatkan SKD dan penanggulangan KLB diare.

d. Melaksanakan upaya kegiatan pencegahan yang efektif.

e. Melaksanakan monitoring dan evaluasi.

C. STUNTING

Definisi stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah anak balita

dengan nilai z-scorenya kurang dari -2SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari –

3SD (severely stunted). Di Indonesia, sekitar 37% (hampir 9 Juta) anak balita

mengalami stunting (Riset Kesehatan Dasar/Riskesdas 2013) dan di seluruh dunia,

Indonesia adalah negara dengan prevalensi stunting kelima terbesar. Balita/Baduta

(Bayi dibawah usia Dua Tahun) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat

kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit

dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas. Pada

akhirnya secara luas stunting akan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi,

meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan. oleh karenanya diperlukan

rencana intervensi yang komprehensif untuk dapat mengurangi pervalensi stunting di

Indonesia.

KERANGKA INTERVENSI STUNTING DI INDONESIA

Pada 2010, gerakan global yang dikenal dengan Scaling-Up Nutrition (SUN)

diluncurkan dengan prinsip dasar bahwa semua penduduk berhak untuk memperoleh

akses ke makanan yang cukup dan bergizi. Pada 2012, Pemerintah Indonesia

bergabung dalam gerakan tersebut melalui perancangan dua kerangka besar


Intervensi Stunting. Kerangka Intervensi Stunting tersebut kemudian diterjemahkan

menjadi berbagai macam program yang dilakukan oleh Kementerian dan Lembaga

(K/L) terkait. Kerangka Intervensi Stunting yang dilakukan oleh Pemerintah

Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi

Sensitif.

I. Kerangka pertama adalah Intervensi Gizi Spesifik.

Kerangka pertama adalah Intervensi Gizi Spesifik. Ini merupakan intervensi yang

ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan

berkontribusi pada 30% penurunan stunting. Kerangka kegiatan intervensi gizi

spesifik umumnya dilakukan pada sektor kesehatan. Intervensi ini juga bersifat

jangka pendek dimana hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek.

Kegiatan yang idealnya dilakukan untuk melaksanakan Intervensi Gizi Spesifik

dapat dibagi menjadi beberapa intervensi utama yang dimulai dari masa

kehamilan ibu hingga melahirkan balita:

a. Intervensi Gizi Spesifik dengan sasaran Ibu Hamil.

Intervensi ini meliputi kegiatan memberikan makanan tambahan (PMT) pada

ibu hamil untuk mengatasi kekurangan energi dan protein kronis, mengatasi

kekurangan zat besi dan asam folat, mengatasi kekurangan iodium,

menanggulangi kecacingan pada ibu hamil serta melindungi ibu hamil dari

Malaria.

b. Intervensi Gizi Spesifik dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 0-6

Bulan. Intervensi ini dilakukan melalui beberapa kegiatan yang mendorong


inisiasi menyusui dini/IMD terutama melalui pemberian ASI jolong/colostrum

serta mendorong pemberian ASI Eksklusif.

c. Intervensi Gizi Spesifik dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 7-23

bulan.

Intervensi ini meliputi kegiatan untuk mendorong penerusan pemberian ASI

hingga anak/bayi berusia 23 bulan. Kemudian, setelah bayi berusia diatas 6

bulan didampingi oleh pemberian MP-ASI, menyediakan obat cacing,

menyediakan suplementasi zink, melakukan fortifikasi zat besi ke dalam

makanan, memberikan perlindungan terhadap malaria, memberikan imunisasi

lengkap, serta melakukan pencegahan dan pengobatan diare.

II. Intervensi Gizi Sensitif.

Kerangka ini idealnya dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan diluar

sektor kesehatan dan berkontribusi pada 70% Intervensi Stunting. Sasaran dari

intervensi gizi spesifik adalah masyarakat secara umum dan tidak khusus ibu

hamil dan balita pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan/HPK. Kegiatan terkait

Intervensi Gizi Sensitif dapat dilaksanakan melalui beberapa kegiatan yang

umumnya makro dan dilakukan secara lintas Kementerian dan Lembaga. Ada 12

kegiatan yang dapat berkontribusi pada penurunan stunting melalui Intervensi

Gizi Spesifik sebagai berikut:

a. Menyediakan dan memastikan akses terhadap air bersih.

b. Menyediakan dan memastikan akses terhadap sanitasi

c. Melakukan fortifikasi bahan pangan.


d. Menyediakan akses kepada layanan kesehatan dan Keluarga Berencana

(KB).xiii100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil

(Stunting)

e. Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

f. Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal).

g. Memberikan pendidikan pengasuhan pada orang tua.8. Memberikan

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universal.9. Memberikan pendidikan

gizi masyarakat.

h. Memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi, serta gizi pada

remaja.

i. Menyediakan bantuan dan jaminan sosial bagi keluarga miskin.

j. Meningkatkan ketahanan pangan dan gizi.Kedua kerangka Intervensi Stunting

diatas sudah direncanakan dan dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia

sebagai bagian dari upaya nasional untuk mencegah dan mengurangi

pervalensi stunting.

2. Pendapat saya mengenai virus covid 19,diare dan stunting

A. VIRUS COVID 19

a. Aspek promotif

Memeberikan penyuluhan atau pendidikan kesehatan mengenai virus corona /

covid 19 secara jelas menegenai penyebaran dan tata cara penanggulangan. Dan

juga edukasi tentang 6 langkah cuci tangan.

b. Aspek prefentif
Menurut saya dalam aspek ini perlu ditekankan kepada seluruh lapisan

masyarakat tentang menjaga kebersihan. Bagi anak-anak sekolah sangat penting

membiasakan hidup bersih di rumah, di sekolah dan di lingkungan masyarakat.

Pembiasaan itu tentu dimulai dari keluarga. Cici tangan sebelum makan atau

memegang benda-benda yang disekeliling, tidak terlalu sering mengucek mata,

mengupil karena virus tersebut sangat mudah tertular melaluicairan dan juga

memakan makan yang sehat.

Tidat perlu berlebihan dalam menyiapi kasus penyebaran corona ini namu

tetap harus waspada. Yang terpenting adalah utamakan kesehatan diri dan luarga,

utamakan kesehatan lingkungan

c. Aspek kuratif

Memberikan rujukan pelayanan atau vasilitas kepada masyarakat yang terpapar

atau terkena cirus tersebut kerumah sakit yang sudah mampu mmendeteksi virus

covid 19

d. Aspek rehabilitative

Memberikan dukungan kepada pasien agar tetap semangat dan hidupnya

produktif. Dan juga menyakinkan pasien bahwa pasien tersebut sudah sembuh

dengan bukti-bukti yang sudah diberikan oleh Rumah sakit.

B. DIARE

a. Aspek promotif

Melakukan pendidikan kesehatan mengenai diare, makanan sehat dan

hidup sehat.

b. Aspek prefentif :
Mengajarkan teknik 6 langkah cuci tangan dengan benar kepada orang tua

dan anak-anak. Dan juga mengajarkan cara membuat oralit.

c. Aspek kuratif:

memberikan pelayan terapi untuk dilakukan dirumah dan memper banyak

cairan

d. Aspek rehabilitative

Memberikan pelayanan kesehatan yang mudah terjangkau dan memadai,

membuat poster mengenai cuci tangan, dan juga menyiapkan alat-alat cuci

tangan ditempat umum.

C. STUNTING

a. Aspek promotif :
Melakukan kekerjasama dengan puskesmas untuk meningkatkan jangkauan
sasaran dan mendekatkan akses pelayanan kesehatan di wilayah masyarakat untuk
memberikan pendidikan tentang meteri stanting , status gizi dan indikasi
terjadinya sytanting ,dengan mendatangi keluarga. Dan memberikan pengetahuan
pentingnya olahraga pada anak-anak.
b. Aspek preventif :
Mengajarkan pada masyarakat tentang pencegaha kesehatan masyarakat
masyarakat tantang penanganan stanting serta pemenuhan gizi anak dan ibu hamil
untuk mencegah terjadinya stanting pada anak .
c. aspek rehabilitative
memberikan dukungan agar ibu hamil serta anak anak mampu memperbaiki status
gizi mereka
DAFTAR PUSTAKA

https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/COVID-19/TENTANG%20NOVEL
%20CORONAVIRUS.pdf

https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/COVID-19%20dokumen
%20resmi/2%20Pedoman%20Pencegahan%20dan%20Pengendalian%20Coronavirus
%20Disease%20(COVID-19).pdf

https://www.kemkes.go.id/artocle/view/18052800005/pemerintah-komit-turunkan-stunting.html

http://www.tnp2k.go.id/images/uploads/downloads/Buku%20Ringkasan%20Stunting.pdf