Anda di halaman 1dari 21

TUGAS KIMIA LINGKUNGAN

KARTU KONTAMINAN PEWARNA RHODAMIN B

Oleh :
Listyowati 17030234005
Perintis Gita Susanti 17030234013
Nur Wanda Aini Natasya 17030234021
Riza Rifya Nurul Mawaddah 17030234029
Mochammad Luthfi Hamdani 17030234041
Aulia Hanaul Izzza 17030234050
Trifena Meysia Yusuf 17030234062

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2020

1
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-
Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Kartu
Kontaminan Rhodamin B ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas pada mata kuliah Kimia Lingkungan. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan tentang pewarna rhodamine B bagi para pembaca dan juga bagi
penulis.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi
sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan
makalah ini.

Surabaya, 8 Maret 2020

2
Daftar isi

Kata Pengantar...............................................................................................................................2
Daftar isi..........................................................................................................................................3
BAB I...............................................................................................................................................4
PENDAHULUAN.........................................................................................................................4
1.1 Latar Belakang........................................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................................4
1.3 Tujuan.....................................................................................................................................4
BAB II..............................................................................................................................................5
PEMBAHASAN.............................................................................................................................5
2.1 Kartu identitas kontaminan / polutan......................................................................................5
Daftar Pustaka................................................................................................................................8
Daftar Pustaka................................................................................................................................14
Daftar Pustaka..............................................................................................................................15
Daftar Pustaka..............................................................................................................................16
BAB III...........................................................................................................................................17
PENUTUP.....................................................................................................................................17
3.1 Kesimpulan...........................................................................................................................17
3.2 Saran.....................................................................................................................................17
Daftar Pustaka..............................................................................................................................18

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk, maka kebutuhan akan pakaian


menjadi semakin tinggi. Hal ini disebabkan semakin besarnya permintaan pasar
terhadap produk garmen. Industri tekstil selain mampu meningkatkan
perekonomian juga memiliki dampak meningkatkan pencemaran oleh limbah cair ke
lingkungan. Tanpa pengelolaan yang baik, maka limbah yang dihasilkan akan
mengakibatkan beban pencemar yang diterima oleh lingkungan menjadi bertambah.
Limbah industri tekstil sebagian besar mengandung pencemar berupa zat warna
yang digunakan pada proses pencelupan. Pada proses pewarnaan tekstil lebih
banyak digunakan zat warna sintetik dibandingkan dengan zat warna alam karena
zat warna sintetik dapat memenuhi kebutuhan skala besar dengan warna yang
bervariasi dan lebih praktis dalam pemakaiannya (Montano, 2007 ; Sastrawidana,
2011).
Salah satu zat warna sintetik yang digunakan adalah Rhodamin B. Rhodamin B
adalah zat warna sintetis berbentuk serbuk kristal, berwarna merah atau ungu
kemerahan, tidak berbau, dan dalam larutan berwarna merah terang berfluorensi.
Rhodamin B semula digunakan untuk kegiatan histologi dan sekarang berkembang
untuk berbagai keperluan seperti sebagai pewarna kertas dan tekstil. Pewarna ini
terbuat dari dietillaminophenol dan phatalic anchidria dimana kedua bahan baku ini
sangat toksik bagi manusia. Biasanya pewarna ini digunakan untuk pewarna kertas,
wol, dan sutra (Djarismawati, 2004).
Pewarna ini juga memiliki dampak negatif ketika berada dalam tubuh manusia.
Pewarna ini dapat masuk ke dalam tubuh manusia salah satunya adalah melalui air
tercemar yang dikonsumsi manusia. Karena itu masyarakat perlu memiliki wawasan
yang cukup mengenai pewarna Rhodamin B. Salah satu cara yang dapat dilakukan
agar masyarakat dapat memiliki pengenalan yang cukup mengenai pewarna
Rhodamin B adalah melalui pembuatan kartu kontaminan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara pembuatan kartu kontaminan pewarna Rhodamin B?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui cara pembuatan kartu kontaminan pewarna Rhodamin B.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kartu identitas kontaminan / polutan

Nama Kontaminan / Polutan : Rhodamin B (9-(2-Carboxyphenyl)-3,6


bis(diethylamino) xanthylium chloride)
Alamat : Golongan : Amina, aromatis, hiroksil,
polynuclea

1 Karakter (Sifat-Sifat Fisik)


Keterangan umum unsur:
- Nama: 9-(2-Carboxyphenyl)-3,6 bis(diethylamino) xanthylium chloride)
- Golongan: Amina, aromatis, hiroksil, polynuclear
- Rumus Molekul : C28H31ClN2O3
- Penanda Produk :
 Nomor register: 81-88-9
 Nomor EC (EINECS) :201-383-9
 RTECS :BP3675000
 HS Code :32041300
- Stabilitas kimia: material stabil dalam kondisi penyimpanan dan
penanganan suhu dan tekanan ambien normal dan terantisipasi.

Ciri-ciri fisik:
- Fase: padat (bubuk, kristalin)
- Kristal atau serbuk berwarna hijau atau kemerahan-ungu
- Tidak berbau
- Larut dalam alcohol dan eter
- Titik leleh = 165oC
- Kelarutan air 15 g /l pada 20 °C
- pH (nilai) 3 – 4 (air: 10 g /l , 20 °C)

5
Daftar Pustaka

Wirasto . 2008. Analisa Rhodamin B dan Metanil Yellow dalam Minuman


Jajanan Anak SD di Kecamatan Laweyan Kotamadya Surakarta dengan
Metode Kromatografi Lapis Tipis. Skripsi. Surakarta: Universitas
Muhamadiyah.

2. Sumber (Asal kontaminan / polutan)


- Limbah industri teksil.
- Limbah industri kosmetik.
- Limbah industri kertas.
- Limbah industri cat.
Daftar Pustaka
Dianggoni, Ilok. 2017. Pengolahan Zat Warna Tekstil (Rhodamine B) dengan
Teknologi AOP (Advance Oxidation Processes) menggunakan
Katalis Ce@Carbon Sphere dan Oksidan Peroxymonosulfate.
Jurnal FTEKNIK. Vol.4 No.2

http://news.unair.ac.id/2019/11/16/dr-handoko-ungkap-fotodegradasi-rhodamin-
b/. Diakses pada tanggal 2 Februari 2020.

3. Reaksi – reaksi yang relevan (Karakter kimia)


Rhodamin B merupakan hasil reaksi antara satu molekul Phialat anhidrat
atau suksinat anhidrat dengan 2 molekul m-dietilaminofenol.
Atau

Daftar Pustaka

Purnawati, Komang Y. 2015. Penurunan Kadar Rhodamin B dalam Air Limbah


dengan Biofiltrasi Sistem Tanaman. Bali: Universitas Udayana.

4. Perubahan – perubahan Spesies (Karakter Kimia)


- Rhodamin B termasuk jenis pewarna sintetis yang juga menjadi limbah
tekstil yang bersifat sulit untuk diuraikan karena mempunyai struktur
kimia yang kompleks (Meitiniarti dan Krave, 2011).

(Akatsu et al., 2006)

- Zat warna rhodamin B banyak digunakan oleh industri tekstil, di


mana masuknya zat ini dalam perairan akan mempengaruhi pH air
lingkungan yang dapat menyebabkan terganggunya metabolisme
mikroorganisme dan hewan air (Laksono, 2009). Pembuangan air
limbah ini tidak hanya merusak estetika badan air tapi juga dapat
meracuni perairan. Adanya warna yang pekat akan menghalangi
tembusnya sinar matahari pada badan air, sehingga mempengaruhi
proses fotosintesis di dalam air. Akibatnya oksigen yang dihasilkan
pada proses fotosintesis yang dibutuhkan untuk kehidupan biota
perairan akan berkurang (Fransina dan Latupeirissa, 2016).

- Proses kimiawi pada rhodamin B yang mana memiliki struktur ikatan


dengan gugus –Cl, mampu menjadikannya radikal karena Cl sendiri
bersifat reaktif. Ketika gugus –Cl lepas, maka dapat berbahaya jika
masuk dalam tubuh manusia (Purnawati 2015). Hal ini sesuai
berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes)
No.239/Menkes/Per/V/85 Rhodamin B termasuk dalam 30 zat kimia
yang berbahaya (Yuliarti, 2007).

Daftar Pustaka

Akatsu M, et al. 2006. A Novel Approach to the Hydrothermal Synthesis of


Anatase Titania Nanoparticles and Photocatalytic Degradation of
Rhodamine B. Turk. J. Chem., (30): 333-343.

Fransina, E. G. dan Latupeirissa, J. 2016. Kondisi Optimum Biosorpsi Sisik


Ikan Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus) Terhadap Zat Warna
Rhodamin B. Ind. J. Chem. Res., 3 (2): 295-301.

Laksono, E.W. 2009. Kajian Penggunaan Adsorben Sebagai Alternatif Pengolahan


Limbah Zat Pewarna Tekstil. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Meitiniarti, I. dan A.S. Krave. 2011. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Pendegradasi
Pewarna Tekstil. Makalah Semnas Keanekaragaman Hayati & Layanan
Ekosistem. Bandung: Universitas Padjajaran.
Purnawati, Komang Y. 2015. Penurunan Kadar Rhodamin B dalam Air Limbah
dengan Biofiltrasi Sistem Tanaman. Bali: Universitas Udayana.

Yuliarti. 2007. Bahaya di Balik Lezatnya Makanan. Jogjakarta: Penerbit Andi.

Perpindahan (Jejak di Sistem dan Lingkungan air, udara


5.
atau tanah)
Rhodamin B adalah bahan kimia yang digunakan untuk pewarna
merah pada industri tekstil dan plastik. Rhodamin B merupakan pewarna
sintetis yang berasal dari metanlinilat dan dipanel alanin yang berbentuk
serbuk kristal berwarna merah keunguan dalam bentuk terlarut pada
konsentrasi tinggi dan berwarna merah terang pada konsentrasi rendah.
Rhodamin B dapat menyebabkan iritasi saluran pernafasan, iritasi kulit, iritasi
pada mata, iritasi pada saluran pencernaan, keracunan, gangguan hati dan
dapat menyebabkan kanker.
Rhodamin B dapat masuk ke dalam strata lingkungan, yaitu pada
perairan, tanah ataupun udara. Rhodamin B dapat ditemui di samping
pengolahan industri pakaian seperti halnya pewarnaan batik. Air dari
limbah industri batik tersebut dibuang dan pembuangan limbah akan
berkumpul di sungai. Limbah dengan pewarna tekstil sintetis akan
mencemari sumber-sumber air warga baik yang dibuang ke sungai, atau
yang dibuang ke tanah karena akan mudah masuk ke sumur. Kemudian
masuk ke dalam tubuh manusia yang mengkonsumsi air yang telah tercemar
limbah tersebut. Selain mengkonsumsi langsung air yang telah tercemar oleh
Rhodamin B juga dapat melalui makhluk hidup yang tinggal di sekitar
pencemaran seperti ikan, dan tanaman air yang dapat dikonsi manusia.
Limbah Rhodamin B yang dapat didegradasi oleh mikroorganisme
mikroorganisme bertambah dan bakteri patogen juga bertambah
berkurangnya jumlah oksigen terlarut dibutuhkan untuk pembusukan. Jika
oksigen sedikit ikan mati. Hal inilah yang dapat menyebabkan terganggunya
ekosistem.
Jika penggunaan Rhodamin B yang berlebihan pada tubuh menyebabkan tumpukan
racun dalam tubuh. Hal ini dikarenakan Rhodamin B merupakan zat beracun dan tahan
terhadap biodegradasi dan fotolisis langsung. Karenanya, Rhodamin B memiliki efek
merusak terhadap matriks lingkungan. Rhodamin B secara alami mengalami degradasi
reduktif anaerob dan akan menghasilkan amina aromatik yang merupakan zat
karsinogenik. Berikut adalah skema dari pencemaran air

Daftar Pustaka
dgcid=author

6. Efek Toksikologi
 Rhodamine B apabila masuk ke dlam tubuh dapat memberikan
dampak buruk. Karena rhodamine B memiliki unsur N + (nitronium)
yang bersifat karsinogenik sehingga dapat memicu pertumbuhan sel
kanker
 Rhodamine B yang tertimbun di dalam tubuh tidak dapat
dimetabolisme oleh hati sehingga penumpukan rhodamin B dalam
hati kan menyebabkan gangguan fungsi hati, seperti tumor hati atau
kanker hati.
 Rhodamine B bersifat toksik sehingga mudah menyebabkan
kerusakan pada jaringan ginjal dalam bentuk perubahan struktur
dan fungsi ginjal
 Rhodamine B yang bercampur dengan makanan dapat
memberikan gejal mual, muntah, gangguan fungsi dan iritasi
kolon yang menyebabkan diare, kostipasi, kolon cathartic,dan
melalui pemeriksaan radiologi dan patologi tampak terjadi
penipisan dinding dan hilangnya mukosa normal saluran
pencernaan serta pendarahan pada gastrointestinal

Daftar Pustaka
Aryani, Novita. 2015. Efek Paparan Rhodamin B terhadap Perubahan
Makroskopis dan Histopatologi Mukosa Kolon Mencit Jantan (Mus
Musculus S.). Jurnal Pendidikan Kimia. Vol.7 (2) hal: 72-77.
Mayori, Riska, Netty Marusin, Djong Hon Tjong. 2013. Pengaruh Pemberian
Rhodamin B terhadap Struktur Histologi Ginjal Mencit Putih (Mus
Musculus S.). Jurnal Biologi Universitas Andalas. Vol.2 (1) hal: 43-49.
MSDS. 2009. Rhodamin B. Material Safety Data Sheet. Santa Cruz. Canada.
Mukaromah, A.H dan Maharani E.T. 2008. Identifikasi zat warna
Rhodamine
B pada Lipstik Berwarna Merah. Jurnal Identifikasi Zat Warna Rhodamine B.
Vol.1 (1) hal: 34-40.

7. Identifikasi (Kualitatif) dan atau instrumennya


Identifikasi terhadap kandungan pewarna sintetis yang terdapat dalam sampel,
dilakukan dengan menggunakan benang wol. Sebelum melakukan analisis, benang
wol dipanaskan terlebih dahulu selama 30 menit pada suhu 100˚C. Setelah itu benang
wol dikeringkan dan kemudian dimasukkan kedalam sampel yang sudah dilakukan
pengasaman dan dipanaskan selama 30 menit. Kemudian dilakukan analisis dengan
cara benang wol dicuci dengan aquades, kemudian dikeringkan dan ditetesi dengan
beberapa zat kimia sebagai parameter untuk melakukan analisis yaitu potongan
benang bagian 1 diteteskan dengan HCL pekat, bagian 2 dengan H2SO4 pekat, bagian
3 dengan NaOH 10% dan bagian 4 dengan NH4OH 12%.
Analisis warna dari sampel yang diujikan dilakukan dengan membandingkan
hasil pengamatan dengan tabel warna, jika hasil dari analisis menunjukkan hasil yang
linear/lurus maka sampel tersebut positif mengandung zat pewarna sintesis sesuai
dengan yang diketahuinya zat apa.
Daftar Pustaka
Purnawati, Komang Y. 2015. Penurunan Kadar Rhodamin B dalam Air Limbah
dengan Biofiltrasi Sistem Tanaman. Bali: Universitas Udayana.
Identifikasi (Kuantitatif, termasuk prinsip dasar reaksi dan
8.
kerja instrumen / alat)
- Metode analisis untuk penentuan konsentrasi logam diantaranya ialah
menggunakan Spektrofotometri Uv Vis.
- Prinsip kerja Spektrofotometri Uv Vis pada dasarnya adalah interaksi yang
terjadi antara energi yang berupa sinar monokromatis dari sumber
sinar dengan materi yang berupa molekul. Besar energi yang diserap
tertentu dan menyebabkan elektron tereksitasi dari keadaan dasar ke
keadaan tereksitasi yang memiliki energi lebih tinggi. Serapan tidak
terjadi seketika pada daerah ultraviolet-visible untuk semua struktur
elektronik, tetapi hanya pada sistem-sistem terkonjugasi, struktur
elektronik dengan adanya ikatan π dan non bonding elektron. Prinsip
kerja spektrofotometer berdasarkan hukum Lambert Beer, yaitu bila
cahaya monokromatik (Io) melalui suatu media (larutan), maka
sebagian cahaya tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan (Ir), dan
sebagian lagi dipancarkan (It).
- Cara kerja alat spektrofotometer UV-Vis yaitu sinar dari sumber radiasi
diteruskan menuju monokromator. Cahaya dari monokromator
diarahkan terpisah melalui sampel dengan sebuah cermin
berotasi. Detektor menerima cahaya dari sampel secara bergantian
secara berulang-ulang, Sinyal listrik dari detektor diproses, diubah ke
digital dan dilihat hasilnya, selanjutnya perhitungan dilakukan dengan
komputer yang sudah terprogram.
- Penelitian yang berjudul Analisis Kualitatif Dan Kuantitatif Zat Pewarna
Berbahaya Rhodamin B Pada Saus Yang Berada Di Pasar Gamping Kabupaten
Sleman Menggunakan Kromatografi Lapis Tipis Dan Spektrofotometri Uv-Vis.
Cara untuk penentuan panjang gelombang maksimal Rhodamin B dilakukan
dengan mengukur dengan rentang panjang 450 -750 nm. Panjang gelombang
maksimal Rhodamin B bisa dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Hasil pengukuran panjang gelombang maksimal Rhodamin B

Selanjutnya membuat kurva kalibrasi Kurva baku Rhodamin B dilakukan dengan


membuat larutan dengan 6 konsentrasi yaitu konsentrasi 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 ppm kemudian
diukur serapanya pada panjang gelombang maksimal yang telah diketahui sebelumnya yaitu
557 nm. Blanko yang digunakan adalah HCl 0,1 N. Gambar kurva kalibrasi ditunjukkan
pada gambar 2.

Gambar 2. Kurva Kalibrasi Larutan Standar Rhodamin B

Hasil analisis sampel : Larutan sampel yang telah disiapkan, dibaca serapannya pada
panjang gelombang 557, hal ini karena Rhodamin B memberikan serapan yang maksimal
pada panjang gelombang tersebut. Hasil pembacaan Rhodamin B dapat dilihat pada tabel 1.
Berdasarkan tabel diatas nilai absorbansi yang didapat pada sampel A sebesar
0,0145 sampel B 0,0269 dan sampel C 0,0757. Absorbansi yang didapat tidak
menunjukan adanya Rhodamin B karena tidak terletak pada renggang 0,2 – 0,8,
bahkan setelah dilakukan proses pemekatan.
Daftar Pustaka
Abdillah, Nuryadin. Spektrofotometer Serapan Atom (AAS). www. google.com.
Diakses 19 Februari 2020.

Nahdi, Sarah Badar. 2018. Analisis Kualitatif Dan Kuantitatif Zat Pewarna
Berbahaya Rhodamin B Pada Saus Yang Berada Di Pasar Gamping Kabupaten
Sleman Menggunakan Kromatografi Lapis Tipis Dan Spektrofotometri Uv-Vis.

Perundang-undangan yang terkait dan tuntutan yang


9.
diberlakukan
1. Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001 Pasal 1 ayat (11)
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air,
pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk
hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan
manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.
Adapun klasifikasi mutu air menurut PP Nomor 82 tahun 2001 Pasal 8
ayat (1) ditetapkan menjadi 4 (empat) kelas, yaitu a. Kelas satu, air
yang dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau
peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan
kegunaan tersebut b. Kelas dua, air yang dapat digunakan untuk
prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar,
peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain
yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan
tersebut. c. Kelas tiga, air yang dapat digunakan untuk
pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi
pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu
air yang sama dengan kegunaan tersebut. d. Kelas empat, air yang
dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan
lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan
tersebut.

2. Peraturan mengenai penggunaan zat pewarna yang diizinkan dan


dilarang untuk pangan diatur melalui SK Menteri Kesehatan RI
Nomor 722/Menkes/Per/IX/88 mengenai bahan tambahan pangan.
Daftar Pustaka
Purnamawati, Komang Y. 2015. Penurunan Kadar Rhodamin B dalam Air Limbah
dengan Biofiltrasi Sistem Tanaman. Bali : Universitas Udayana

10. Ide-ide Penanganan (preventif dan kuratif)


Preventif:
- Membangun instalasi pengolahan limbah cair (IPLC) sehingga kualitas
limbah cair yang dibuang ke perairan umum tidak melampaui baku
mutu yang berlaku.
Kuratif:
 Menggunakan biofiltrasi sistem tanaman untuk menurunkan kadar
rhodamin B dalam air limbah. Teknik ini memanfaatkan
kemampuan aktifitas tanaman dan mikroba untuk mendegradasi
senyawa polutan. Untuk memberikan alternatif pengolahan limbah
tekstil untuk pengolahan filtrasi berlapis dari pasir dan bebatuan
dipadukan dengan penyerapan tanaman maupun perombakan
mikroba pada risosfirakar akan memberikan hasil efektif bagi
pemanfaatan kembali air limbah
 Menggunakan fotokatalis untuk mendegradasi zat warna rhodamin
B dengan komposit kaolin-TiO2. Aktivitas fotokalis TiO2 dapat
ditingkatkan melalui pengembanan pada material pendukung yang
menyebabkan bertambahnya luas permukaan dari fotokatalis.
Material pengemban yang dapat digunakan adalah zeolit alam.
Material TiO2 yang teremban pada zeolit lam akan memiliki fungsi
ganda yaitu adsorben serta fotokatalisis.
 Menggunakan proses adsorpsi. Pada umumnya proses adsorpsi
menggunakan karbon aktif sebagai adsorbennya.
Daftar Pustaka

Purnamawati, K.Yogi dkk. 2015. Penurunan Kadar Rhodamin B dalam Air


Limbah dengan Biosfiltrasi Sistem Tanaman. Ecotrophic. Vol. 9 (2) hal:
46-51.
Setiyanto,dkk. 2015. Adsorpi Pewarna Tekstil Rhodamin B Menggunakan
Senyawa Xanthat Pulpa Kopi. Jurnal Momentum. Vol.11 (1). Hal: 24-28.
Sunardi,dkk. 2012. Sintesis dan Karakterisasi Komposit Kaolin-TiO 2 sebagai
Fotokatalis untuk Degradasi Zat Warna Rhodamin B. Sains dan
Terapan. Vol. 6 (2) . hal: 118-129.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Cara pembuatan kartu kontaminan pewarna Rhodamin B adalah melalui
pembahasan mengenai karakteristik, sumber limbah, reaksi – reaksi yang relevan
(karakter kimia), perubahan – perubahan spesies (karakter kimia), perpindahan (jejak
di sistem dan lingkungan air, udara atau tanah), efek toksikologi, identifikasi
(kualitatif) dan atau instrumennya, identifikasi (kuantitatif, termasuk prinsip dasar
reaksi dan kerja instrumen / alat), perundang-undangan yang terkait dan tuntutan yang
diberlakukan, dan ide-ide penanganan (preventif dan kuratif).

3.2 Saran
Saran yang dapat diberikan dalam pembuatan makalah ini adalah dalam mencari
sumber-sumber referensi perlu yang relevan dan dapat dipercaya sehingga informasi
yang diberikan melalui kartu kontaminan pewarna Rhodamin B ini dapat dijadikan
acuan masyarakat dalam pengolahan limbah pewarna Rhodamin B.
Daftar Pustaka

Abdillah, Nuryadin. Spektrofotometer Serapan Atom (AAS). www. google.com.


Diakses 19 Februari 2020.
Akatsu M, et al. 2006. A Novel Approach to the Hydrothermal Synthesis of
Anatase Titania Nanoparticles and Photocatalytic Degradation of
Rhodamine B. Turk. J. Chem., (30): 333-343.

Aryani, Novita. 2015. Efek Paparan Rhodamin B terhadap Perubahan


Makroskopis dan Histopatologi Mukosa Kolon Mencit Jantan (Mus
Musculus S.). Jurnal Pendidikan Kimia. Vol.7 (2) hal: 72-77.
Dianggoni, Ilok. 2017. Pengolahan Zat Warna Tekstil (Rhodamine B) dengan
Teknologi AOP (Advance Oxidation Processes) menggunakan Katalis
Ce@Carbon Sphere dan Oksidan Peroxymonosulfate. Jurnal FTEKNIK. Vol.4 No.2
Fransina, E. G. dan Latupeirissa, J. 2016. Kondisi Optimum Biosorpsi Sisik Ikan
Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus) Terhadap Zat Warna Rhodamin B.
Ind. J. Chem. Res., 3 (2): 295-301.
http://news.unair.ac.id/2019/11/16/dr-handoko-ungkap-fotodegradasi-rhodamin-b/.
Diakses pada tanggal 2 Februari 2020.
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2213343719306050?
dgcid=author. Diakses pada tanggal 2 Februari 2020.
Laksono, E.W. 2009. Kajian Penggunaan Adsorben Sebagai Alternatif Pengolahan
Limbah Zat Pewarna Tekstil. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Mayori, Riska, Netty Marusin, Djong Hon Tjong. 2013. Pengaruh Pemberian
Rhodamin B terhadap Struktur Histologi Ginjal Mencit Putih (Mus Musculus
S.). Jurnal Biologi Universitas Andalas. Vol.2 (1) hal: 43-49.
Meitiniarti, I. dan A.S. Krave. 2011. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Pendegradasi
Pewarna Tekstil. Makalah Semnas Keanekaragaman Hayati & Layanan
Ekosistem. Bandung: Universitas Padjajaran.
MSDS. 2009. Rhodamin B. Material Safety Data Sheet. Santa Cruz. Canada.
Mukaromah, A.H dan Maharani E.T. 2008. Identifikasi zat warna
Rhodamine B pada Lipstik Berwarna Merah. Jurnal Identifikasi Zat Warna
Rhodamine B. Vol.1 (1) hal: 34-40.
Nahdi, Sarah Badar. 2018. Analisis Kualitatif Dan Kuantitatif Zat Pewarna Berbahaya
Rhodamin B Pada Saus Yang Berada Di Pasar Gamping Kabupaten Sleman
Menggunakan Kromatografi Lapis Tipis Dan Spektrofotometri Uv-Vis.
Purnawati, Komang Y. 2015. Penurunan Kadar Rhodamin B dalam Air Limbah dengan
Biofiltrasi Sistem Tanaman. Bali: Universitas Udayana.
Setiyanto,dkk. 2015. Adsorpi Pewarna Tekstil Rhodamin B Menggunakan
Senyawa Xanthat Pulpa Kopi. Jurnal Momentum. Vol.11 (1). Hal: 24-28.
Sunardi,dkk. 2012. Sintesis dan Karakterisasi Komposit Kaolin-TiO 2 sebagai
Fotokatalis untuk Degradasi Zat Warna Rhodamin B. Sains dan Terapan.
Vol. 6 (2) . hal: 118-129.
Wirasto . 2008. Analisa Rhodamin B dan Metanil Yellow dalam Minuman Jajanan Anak
SD di Kecamatan Laweyan Kotamadya Surakarta dengan Metode Kromatografi
Lapis Tipis. Skripsi. Surakarta: Universitas Muhamadiyah.
Yuliarti. 2007. Bahaya di Balik Lezatnya Makanan. Jogjakarta: Penerbit Andi.

Sesi tanya jawab


1. Pertanyaan dari weka firda
Telah dipaparkan bahwa Rhodamin B adalah sifat toxic, namun mengapa
dalam peraturan perundag -undangan dijelaskan bahwa terdapat
konsumsi minimum per hari?
Jawab :
Dibuatnya peraturan perundang – undangan dikarenakan dengan adanya
globalisasi mengakibatkan banyak pengusaha / pemilik industri yang memakai
pewarna dari Rhodamin B, maka dari itu dibuatlah ambang batas. Jika tidak
menggunakan pewarna kurang memberikan minat pada pembeli yang
menyebabkan kerugian pada perusahaan. Selain itu belum ditemukan metode
pewarnaan yang baik tanpa menimbulkan limbah, jadi masyarakat terpaksa
menggunakan bahan kimia yakni Rhodamin B.
2. Pertanyaan dari Laila

Berapa kadar Rhodamin B pada tumbuhan dan manusia ?


Jawab :
Peng
Nama STEL
PSD
Negara Identifi Sumber
(mg/m3)
Bahan (mg/m3)
kasian

Partikulat
(tidak
dapat larut
ID NAB 10 K3-NAB
atau
sedikit
larut)

Partikulat
(tidak
dapat larut
ID NAB 3 K3-NAB
atau
sedikit
larut)

Jadi kadar Rhodamin yang ada pada manusia atau tumbuhan yakbni rentang
antara 3 – 10 mg/m3
3. Pertanyaan dari Devi Puspita Sari

Bagaimana penanganan limbah pada industri skala rumah ?


Jawab :
Strategi penanganan limbah industri batik dilakukan dengan beberapa
langkah yaitu langkah prefentif, represif dan keberlanjutan. Langkah
prefentif dilakukan dengan cara sosialisai dan menggiring edukasi batik
ramah lingkungan dengan menggunakan zat pewarn alam yang ramah
lingkungan. Langkah represif dilakukan ketika limbah sudah ada yaitu
dengan melakukan pengelolaan limbah melalui instalasi pengolahan air
limbah baik komunal maupun skala rumah tangga. Langkah selanjutnya
setelah adanya limbah yaitu dengan tindakan langkah keberlanjutan
dimana langkah ini memberikan kesadaran kepada masyarakat

Anda mungkin juga menyukai