Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERWATAN RETENSI URIN

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat

Dosen Pembimbing : Dafid Arifiyanto, M.kep.Ns.Sp.KMB

Disusun oleh :

1. Arina fitriani ( )
2. Kiki alfiatur rohmaniah (17.1333.S)
3. Putri oktaviani ( )
Kelompok 10

Kelas 3C

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN

Maret , 2020
BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Retensi urin adalah akumulasi urin yang nyata dalam kandung kemihakibat
ketidak mampuan pengosongan kandung kemih, sehingga timbul perasaan tegang,
tidak nyaman, nyeri tekan pada simpisis, gelisah, dan terjadi diaphoresis
(berkeringat). Tanda-tanda utama retensi urin akut adalah tidak adanya haluaran urin
selama beberapa jam dan terdapat distensi kandung kemih. Klien yang berada di
bawah pengaruh anestesi atau analgetik mungkin hanya merasakan adanya tekanan,
tetapi klien yang sadar akan merasakan nyeri hebat karena distensi kandung kemih
melampaui kapasitas normalnya. Pada retensi urin, kandung kemih dapat menahan
2000– 3000 ml urin. Retensi urin dapat terjadi akibat obstruksi uretra, trauma bedah,
perubahan stimulasi saraf sensorik dan motorik kandung kemih, efeksamping obat
dan ansietas (Perry & Potter, 2006).
Penelitian yang dilakukan di Amerika pada pria dengan usia antara 40 sampai
83 tahun memiliki resiko yang cukup tinggi antara 4,5 – 6,8 per 1000 pria pertahun
untuk mengalami retensi urin, dan semakin meningkatnya usia maka seorang pria
akan lebih rentan untuk mengidap retensi urin. Dalam 10 tahun terakhir terdapat 333
kasus tentang retensi urin. 19 dari 167 orang (11%) memiliki retensi urin. Risiko
retensi urin terbesar adalah pasien yang lebih tua, atau yang mengonsumsi obat anti ]
kolinergik, atau yang memiliki riwayat diabetes dan fecal impaction (Borrie, Michael
j, dkk 2001).
Pada retensi urine, penderita tidak dapat miksi, buli-buli penuh disertai rasa
sakit yang hebat di daerah supra pubik dan hasrat ingin miksi yang hebat disertai
mengejan. Retensio urine dapat terjadi menurut lokasi, faktor obat dan faktor lainnya
seperti ansietas, kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya. Akibat lanjut
retensi urin, buli-buli akan mengembang melebihi kapasitas maksimal sehingga
tekanan di dalam lumennya dan tegangan dari dindingnya akan meningkat. Bila
keadaan ini dibiarkan berlanjut, tekanan yang meningkat di dalam lumen akan
menghambat aliran urin dari ginjal dan ureter sehingga terjadi hidroureter dan
hidronefrosis dan lambat laun terjadi gagal ginjal. Retensi urin juga menjadi penyebab
terjadinya infeksi saluran kemih (ISK) dan bila ini terjadi dapat menimbulkan gawat
yangserius seperti pielonefritis dan urosepsis (Gardjito, 2009).
II. Tujuan
1. Tujuan umum
Memahami konsep teori dan asuhan keperawatan pada klien dengan Retensi
Urin.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui dan memahami pengertian Retensi Urin.
b. Mengetahui dan memahami etiologi Retensi Urin.
c. Mengetahui dan memahami patofisiologi Retensi Urin.
d. Mengetahui dan memahami manifestasi klinis dari Retensi Urin.
e. Mengetahui dan memahami pemeriksaan diagnostik dari Retensi Urin.
f. Mengetahui dan memahami komplikasi Retensi Urin.
g. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan dari Retensi Urin.
h. Mengetahui dan menyusun proses asuhan keperawatan dari Retensi Urin.
BAB II

TINJAUAN TEORI

I. Pengertian
Retensi urin adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengeluarkan urin yang
terkumpul didalam buli-buli hingga kapasitas maksimal buli-buli hingga kapasitas
maksimal buli-buli terlampaui.
Retensi urin adalah ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih. Kedua
ginjal dapat menghasilkan urin yang cuup, tetapi pasien tidak dapat mengeluarkan
urin dari kandng kemih. Retensi urine adalah ketidakmampuan untuk mengosongkan
isi kandung kemih sepenuhnya selama proses pengeluaran urine. (Brunner and
Suddarth, 2010)
Retensi urin didefinisikan sebagai ketidakmampuan berkemih. Retensi urun
akut adalah ketidakmampuan berkemih tiba-tiba pada keadaan kandung kmih yang
nyeri. Retensi urin kronis adalah keadaan kandung kemih yang membesar, penuh
tidak nyeri dengan atau tanpa kesulitan berekmih.
II. Etiologi
Penyebab retensi urin adalah sebagai berikut :
1. Kelemahan otot detrusor :
 Kelainan medulla spinalis
 Kelainan saraf perifer
2. Hambatan / obstruksi uretra :
 Batu uretra
 Klep uretra
 Striktura uretra
 Stenosis meatus uretra
 Tumor uretra
 Fimosis
 Parafimosis
 Gumpalan darah
 Hiperplasia prostat
 Karsinoma prostat
 Sklerosis leher buli-buli
3. Inkoordinasi antara Detrusor-Uretra :
 Cedera kauda ekuina.
III. Patofisiologi
Pada retensio urine, penderita tidak dapat miksi, buli-buli penuh disertai
rasa sakit yang hebat di daerah suprapubik dan hasrat ingin miksi yang hebat disertai
mengejan. Retensio urine dapat terjadi menurut lokasi, factor obat dan factor lainnya
seperti ansietas,kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya. Berdasarkan
lokasi bisa dibagi menjadi supra vesikal berupa kerusakan pusat miksi di medulla
spinalsi menyebabkan kerusaan simpatis dan parasimpatis sebagian atau seluruhnya
sehingga tidak terjadi koneksi dengan otot detrusor yang mengakibatkan tidak adanya
atau menurunnya relaksasi otot spinkter internal, vesikal berupa kelemahan otot
detrusor karena lama teregang, intravesikal berupa hipertrofi prostate, tumor atau
kekakuan leher vesika, striktur, batu kecil menyebabkan obstruksi urethra sehingga
urine sisa meningkat dan terjadi dilatasi bladder kemudian distensi abdomen. Factor
obat dapat mempengaruhi proses BAK, menurunkan tekanan darah, menurunkan
filtrasi glumerolus sehingga menyebabkan produksi urine menurun. Factor lain berupa
kecemasan, kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya yang dapat
meningkatkan tensi otot perut, peri anal, spinkter anal eksterna tidak dapat relaksasi
dengan baik.
Dari semua factor di atas menyebabkan urine mengalir labat kemudian
terjadi poliuria karena pengosongan kandung kemih tidak efisien. Selanjutnya terjadi
distensi bladder dan distensi abdomen sehingga memerlukan tindakan, salah satunya
berupa kateterisasi urethra.
IV. Manisfestasi Klinik
1. Mengeluh tertahan BAK atau kencing keluar sedikit – sedikit. Tetapi dibedakan
dengan inkontinensa paradoksa yaitu keluarnya urin secara menetes, tanpa
disadari, dan tidak mampu ditahan oleh klien.
2. Tampak benjolan pada perut sebelah bawah dengan disertai nyeri yag hebat.
3. Teraba batu diuretra
4. Terlihat batu di meatus uretra eksternum
5. Terlihat fistel atau abses di uretra
6. Terlihat darah keluar dari uretra akibat cidera uretra.
Pada retensi urin akut, penderita akan merasa nyeri yang hebat di daerah
suprapubik, dan bila penderita tidak terlalu gemuk, akan terlihat / teraba benjolan di
daerah suprapubik.
Pada retensi urin totalis, penderita sama sekali tidak bisa miksi, gelisah,
mengedan bila ingin miksi, dan terjadi inkontinensia paradoksal. Pada anamnesa,
pasien akan mengeluh sulit buang air kecil.
Pada inspeksi, palpasi dan perkusi, akan didapatkan buli-buli yang
mengembang.
Pada perkusi akan terdengar pekak, yang menentukan adanya buli-buli yang
penuh pada penderita yang gemuk.
V. Komplikasi
1. Infeksi Saluran Kemih
Urin yang tertampung di buli-buli harus segera dikeluarkan karena urin yang
tertampung akan berisiko menjadi media untuk bakteri berkembang dan akan
menyebabkan Infeksi saluran kemih. Karena adanya sisa urin setiap kali miksi,
maka lama kelamaan akan terbentuk batu endapan di dalam kansung kemih, yang
kemudian akan menyebabkan bertambahnya keluhan iritasi dan menimbulkan
keluhan hematuria pada pasien. Selain itu batu akan menyebabkan timbulnya
penyakit sistitis dan bila terjadi refluks dapat menyebabkan terjadinya pielonefritis
(Purnomo 2003).
2. Hidronefrosis
Buli-buli akan mengembang melebihi kapasitas maksimal sehingga tekanan di
dalam lumennya dan tegangan dari dindingnya akan meningkat. Bila keadaan ini
dibiarkan berlanjut, tekanan yang meningkat didalam lumen akan menghambat
aliran urin dari ginjal dan ureter sehingga terjadi hidroureter dan bila sampai ke
ginjal akan menyebabkan hidronefrosis dan bila terjadi infeksi sehingga
mempercepat terjadinya kerusakan ginjal dan menyebabkan gagal ginjal.
3. Kerusakan bladder
Jika kandung kemih menjadi membentang terlalu jauh atau untuk waktu yang
lama, otot-otot mungkin rusak secara permanen dan kehilangan kemampuan
untuk berkontraksi.
VI. Pemeriksaan diagnostik
1. Urinalisis : data dasar mengenai fungsi perkemihan urin keruh, berbau, pH > 8,0.
Adanya sel darah merah, leukosit.
2. Urin kultur : menentukan tipe bakteri.
3. BUN dan keratin : evaluasi fungsi ginjal perkemihan, terjadi peningkatan.
4. Tes fungsi perkemihan : evaluasi penyebab retensi urin.
5. Kidney, ureter, bladder retiografi : identifikasi ukuran, bentuk dan posisi.
6. Excretory urograms/intravenus pyelogram : evaluasi penyebab disfungsi.
VII. Penatalaksanaan kegawat daruratan
1. Urin yang tertahan lama dibuli buli secepatnya harus dikeluarkan karena jika
dibiarkan akan menimbulkan beberapa masalah seperti : terjadi infeksi saluran
kemih, kontraksi otot buli buli menjadi lemah dan terjadi hidroureter dan
hidronefros.
2. Pengeluaran urin dengan cara kateterisasi atau sistostomi.
3. Fimosisi atau parafimosis dilakukan sirkumsisi atau dorsumsisi.
4. Kolaborasi :
a. Kolinergik : stimulasi kontraksi bledder
b. Analgesik : menghilangkan nyeri
c. Antibiotik : jika ada infeksi
d. IV terapi : untuk hidrasi
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

I. Pengkajian
1. Anamnesa
a. Data Demografi Klien
Menanyakan Identitas klien seperti : nama, usia, jeniskelamin, suku /
bangsa, alamat, agama, tanggal MRS, jam MRS, diagnosa. Retensi urine
biasa terjadi pada usia lanjut dan jenis kelamin pria karena akibat hiperplasia
prostat jinak/kelainan prostat.
b. Keluhan Utama
Keluahan utama pasien dengan kasus ini biasanya dapat berupa
keluhan nyeri suprapubis berat dan ketidakmampuan untuk miksi.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Merupakan gangguan yang berhubungan dengan gangguan yang
dirasakan saat ini. Bagaimana pola berkemih pasien, meliputi frekuensi,
waktu, dan banyaknya urin. Apakah klien merasa nyeri.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Tanyakan pada klien apakah klien pernah mengalami penyakit serupa
sebelumnya.
 Riwayat penyakit yang pernah diderita klien, kondisi neurologis ( mis.,
cedera medula spinalis pada S2, S3 dan S4), infeksi saluran kemih,
BPH, kanker prostat, batu saluran kemih, riwayat striktur uretra, dan
trauma urologi.
 Obat-obatan: beberapa obat menyebabkan retensi urine yang mencakup
preparat antikolinergik-anti spasmodik seperti, atropin; preparat anti
depresan-anti psikotik seperti, fenotiazin; preparat antihistamin, seperti
pseudoefedrin hidroklrorida (Sudafed); preparat B-adrenergic, seperti
propranolol; dan preparat antihipertensi seperti, hidralazin.
 Riwayat operasi dan tindakan: Retensi dapat terjadi pada pasien
pascaoperatif, khususnya pasien yang menjalani operasi di daerah
perineum atau anal sehingga timbul spasme refluk sfinger. Anestesi
umum akan mengurangi inervasi otot kandung kemih, dan dengan
demikian dorongan untuk membuang air kecil tertekan. Riwayat
penggunaan alkohol.
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit
serupa dengan klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau keturunan
berhubungan dengan masalah pada ginjal atau urologi.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
Keadaan compos mentis namun tampak lemas.
b. Tanda-tanda vital
Tekanan darah biasanya meningkat karena klien merasakan nyeri, suhu
meningkat jika ditemukan adanya infeksi, nadi biasanya meningkat karena
klien merasakan nyeri dan RR biasanya meningkat karena klien merasakan
nyeri.
c. Sistem tubuh
 B1 (Breathing)
Perawat melakukan pengkajian adanya gangguan pada pola nafas
klien, biasanya klien sesak akibat rasa nyeri yang dialami dan
peningkatan respiratory rate.
 B2 (Blood)
Apakah terjadi peningkatan tekanan darah, biasanya pasien bingung
dan gelisah. Pada retensi urin muncul adanya keringat dingin
(Diaforesis) akibat nyeri pada distensi kandung kemih.
 B3 (Brain)
Klien ditemukan dalam kesadaran biasanya sadar penuh. Namun tetap
diperhatikan adanya tanda-tanda pasca trauma atau cedera pada SSP.
 B4 (Bladder)
Disuria, ingin berkemih tetapi tidak ada urine yang keluar, dan urine
keluar sedikit-sedikit karena ada overflow, urine yang keluar menetes,
produksi urin sedikit/anuria apabila ureter terjadi obstruksi bilateral.
 B5 (Bowel)
Pemeriksaan auskultasi bising usus klien adakah peningkatan atau
penurunan, serta palpasi abdomen klien adanya nyeri tekan abdomen
atau tidak ataupun ketidaknormalan ginjal. Pada perkusi abdomen
ditemukan ketidaknormalan atau tidak.
 B6 (Bone)
Pemeriksaan kekuatan otot dan membandingkannya dengan
ekstremitas yang lain, adakah nyeri pada persendian. Retensi urine dapat
terjadi pada pasien yang harus tirah baring total. Perawat mengkaji
kondisi kulit klien.
II. Diagnosa
1. Retensi urine berhubungan dengan obstruksi, ketidakmampuan kandung kemih
untuk berkontraksi dengan adekuat.
2. Nyeri akut berhubungan dengan distensi kandung kemih berlebih.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif/alat (contoh kateter urine).
4. Ansietas berhubungan dengan kondisi fisik dan adaptasi penyakit.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
III. Intervensi

No. Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Intervensi


DX Keperawatan
1. Retensi urine NOC : NIC :
berhubungan Tujuan : 1. Urinary Retention Care
dengan obstruksi, Setelah dilakukan tindakan - Monitor intake dan output.
ketidakmampuan keperawatan 3x24 jam - Monitor penggunaan obat
kandung kemih retensi urin klien dapat antikolinergik.
untuk teratasi. - Monitor derajat distensi
berkontraksi Kriteria Hasil: bladder.
dengan adekuat. a. Kandung kemih kosong - Sediakan privasi untuk
secara penuh eliminasi.
b. Tidak ada residu urin - Stimulasi refleks bladder
>100-200 cc dengan kompres dingin
c. Intake cairan dalam pada abdomen.
rentang normal - Kateterisaai jika perlu.
d. Bebas dari ISK - Monitor tanda dan gejala
e. Tidak ada spasme bladder ISK (panas, hematuria,
f. Balance cairan seimbang perubahan bau dan
g. Eliminasi urin optimal konsistensi urine).
2. Lakukan perawatan perineal
dan perawatan selang kateter.
3. Ajarkan serta
demonstrasikan kepada klien
dan anggota keluarga tentang
teknik berkemih yang akan
digunakan di rumah.
Sehingga klien dan keluarga
mampu melakukannya
dengan mandiri.
4. Kolaborasikan obat diuretik.
2. Nyeri akut NOC : NIC :
berhubungan Tujuan : Pain Management
dengan distensi Setelah dilakukan tindakan 1. Lakukan pengkajian nyeri
kandung kemih keperawatan selama 3 x 7 secara komprehensif termasuk
berlebihan. jam, klien melaporkan nyeri lokasi, karakteristik, durasi,
berkurang atau hilang. frekuensi, kualitas dan faktor
Kriteria hasil: presipitasi.
1. Mampu mengontrol nyeri 2. Observasi reaksi nonverbal
(mampu menggunakan dari ketidaknyamanan.
tehnik nonfarmakologi 3. Kontrol lingkungan yang dapat
untuk mengurangi nyeri). mempengaruhi nyeri seperti
2. Melaporkan bahwa nyeri suhu ruangan, pencahayaan
berkurang dengan dan kebisingan.
menggunakan manajemen 4. Kurangi faktor presipitasi
nyeri nafas dalam. nyeri.
3. Menyatakan rasa nyaman 5. Kaji tipe dan sumber nyeri
setelah nyeri berkurang. untuk menentukan intervensi.
4. Tanda vital dalam rentang 6. Ajarkan tentang teknik non
normal. farmakologi: napas dalam,
5. Tidak mengalami relaksasi, distraksi, kompres
gangguan tidur. hangat/dingin.
7. Kolaborasi dengan tim dokter
dalam pemberian obat
analgesik untuk mengurangi
nyeri.
8. Tingkatkan istirahat klien (± 7
jam).
9. Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesik.

3. Risiko infeksi NOC : NIC :


berhubungan Tujuan: 1. Monitoring tanda dan gejala
dengan prosedur Setelah dilakukan tindakan infeksi.
invasif/alat keperawatan selama 1x24 2. Inspeksi kulit dan membran
(contoh kateter jam infeksi pada klien dapat mukosa terhadap kemerahan,
urine). terkontrol. panas, drainase.
Kriteria hasil: 3. Cuci tangan setiap sebelum
a. Klien bebas dari tanda dan dan sesudah tindakan
gejala infeksi (tumor, keperawatan.
dolor, rubor, kalor, 4. Gunakan kateter intermiten
fungsio laesa). untuk menurunkan infeksi
b. Menunjukkan kemampuan kandung kemih.
untuk mencegah 5. Tingkatkan intake nutrisi.
timbulnya infeksi. 6. Ajarkan klien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi.
4. Ansietas Tujuan : NOC :
berhubungan Ansietas berkurang 1. Lakukan pengkajian untuk
dengan kondisi dibuktikan dengan kontrol mengetahui tingkat ansietas
fisik dan adaptasi ansietas. klien.
penyakit. Kriteria Hasil: 2. Observasi tanda-tanda vital
1. Klien tidak ada (keadekuatan nadi, tekanan
manifestasi kecemasan darah)
secara fisik. 3. Beri dorongan klien untuk
2. Manifestasi perilaku mengungkapkan pikiran dan
akibat kecemasan tidak perasaan untuk
ada. mengeksternalisasikan
3. Klien dapat menjalankan ansietasnya.
aktivitas sehari – harinya. 4. Kolaborasikan dengan dokter
pengobatan untuk mengurangi
ansietas klien sesuai kebutuhan
klien
5. Kurang NOC : NIC :
pengetahuan Tujuan : 1. Menilai tingkat pengetahuan
berhubungan Setelah dilakukan tindakan pasien yang berhubungan
dengan keperawatan selama 2 x 24 dengan proses penyakitnya.
kurangnya jam, klien mengetahui 2. Memberi penjelasan
informasi tentang berbagai informasi tentang patofisiologi dari penyakit dan
penyakitnya. penyakitnya bagaimana hal itu berkaitan
Kriteria hasil : dengan anatomi dan fisiologi
1. Klien mengetahui yang sesuai.
karakteristik dan efek 3. Menjelaskan tanda-tanda
fisiologis dari umum dan gejala penyakit
penyakitnya. yang sesuai.
2. Klien mengetahui 4. Menjelaskan proses penyakit
penyebab dan faktor risiko yang sesuai.
dari penyakitnya. 5. Memberikan informasi kepada
3. Mengetahui strategi untuk pasien tentang kondisi yang
meminimalkan sesuai.
perkembangan penyakit. 6. Mengidentifikasi perubahan
4. Mengetahui potensi kondisi fisik pasien.
komplikasi penyakit. 7. Diskusikan perubahan gaya
5. Memahami sumber yang hidup yang mungkin
memiliki reputasi penyakit diperlukan untuk mencegah
informasi spesifik. komplikasi masa depan dan
mengontrol proses penyakit.
BAB IV

PENUTUP
I. Simpulan
Retensi urin adalah ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih. Kedua
ginjal dapat menghasilkan urin yang cuup, tetapi pasien tidak dapat mengeluarkan
urin dari kandng kemih. Retensi urine adalah ketidakmampuan untuk mengosongkan
isi kandung kemih sepenuhnya selama proses pengeluaran urine. (Brunner and
Suddarth, 2010).
Pada retensi urine, penderita tidak dapat miksi, buli-buli penuh disertai rasa
sakit yang hebat di daerah supra pubik dan hasrat ingin miksi yang hebat disertai
mengejan. Retensio urine dapat terjadi menurut lokasi, faktor obat dan faktor lainnya
seperti ansietas, kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya.
II. Saran
Penatalaksanaan yang dapat diberikan kepada pasien dengan retensi urin
sangat penting untuk dilakukan tatalaksana yang baik dan efisien. Maka dari itu
hendaknya kita sebagai calon perawat sangat penting untuk mempelajari retensi urin,
sehingga dapat memberikan informasi kepada klien atau keluarga mengenai intervensi
baik dalam mencegah maupun mengatasi kasus retensi urin dengan baik dan sesuai
kode etik keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA
Basuki B Purnomo. 2003. Dasar-dasar Urology. Edisi 2. Jakarta : Sagung
Seto.

Smeltzer, S. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &


Suddarth. (Ed.8). (Vol.2). Jakarta: EGC.
Baradero, Marry et al. 2009. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Ginjal.
Jakarta: EGC;16-21.
Pierce & Borley, (2006). At a Glance Ilmu Bedah Edisi ketiga. Jakarta: EMS.