Anda di halaman 1dari 20

DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

TEORI DAN MODEL KONSERVASI SUMBER DAYA AIR DI SUB DAS AEK SILANG

1. Maksud dan Tujuan Konservasi Sumber Daya Air

Konservasi sumber daya air sebagai salah satu upaya pengelolaan sumber daya air
dimaksudkan untuk menjaga dan mempertahankan kelangsungan dan keberadaan sumber daya
air, termasuk daya dukung, daya tampung, dan fungsinya. Konservasi sumber daya air dapat
dilakukan melalui kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber daya air, pengawetan air,
pengelolaan kualitas air, serta pengendalian pencemaran air, dengan mengacu pada pola
pengelolaan sumber daya air pada setiap wilayah sungai, dan dipakai sebagai acuan dalam
perencanaan tata ruang.

2. Kegiatan Konservasi Sumber Daya Air

Konservasi sumber daya air adalah upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan
keadaan, sifat, dan fungsi sumber daya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas
yang memadai untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup, baik pada waktu sekarang maupun
yang akan datang.

Konservasi sumber daya air sebagai salah satu upaya pengelolaan sumber daya air
dimaksudkan untuk menjaga dan mempertahankan kelangsungan dan keberadaan sumber daya
air, termasuk daya dukung, daya tampung, dan fungsinya. Konservasi sumber daya air dapat
dilakukan melalui kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber daya air, pengawetan air,
pengelolaan kualitas air, serta pengendalian pencemaran air, dengan mengacu pada pola
pengelolaan sumber daya air pada setiap wilayah sungai, dan dipakai sebagai acuan dalam
perencanaan tata ruang.

Konservasi sumber daya air dilaksanakan pada sungai, danau, waduk, rawa, cekungn air
tanah, sistem irigasi, daerah tangkapan air, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam,
kawasan hutan dan kawasan pantai.

2.1 Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air


DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

Perlindungan dan pelestarian sumber daya air dimaksudkan untuk melindungi dan
melestarikan sumber air beserta linkungannya terhadap kerusakan dan gangguan yang
disebabkan oleh daya alam dan aktifitas manusia, dan dipakai sebagai dasar untuk penatagunan
lahan, agar sumber daya air dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Pada dasarnya setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat menyebabkan
rusaknya sumber air dan prasarananya, menurunnya potensi sumber air, serta mengakibatkan
terjadinya pencemaran air dan sumber daya air. Upaya pelestarian sumber air yang menjadi dasar
dalam penatagunaan lahan, secara umum dapat dilakukan melalui :

a. Pemeliharaan dan mempertahankan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air
b. Pengendalian pemanfaatan sumber air, berupa perizinan yang ketat, atau pelarangan
pemanfaatan sumber air:
c. Pengisian air pada sumber air, seperti pemindahan aliran air dari satu daerah aliran sungai
ke daerah aliran sungai lainnya, dengan pekerjaan sudetan, interkoneksi, atau suplesi,
serta melakukan imbuhan air tanah
d. Pengaturan sarana dan prasarana sanitasi, seperti pengelolaan air limbah dan
persampahan
e. Perlindungan sumber air, dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan dan
pemanfaatan lahan di sekitar sumber air
f. Pengendalian pemanfaatan lahan di daerah hulu
g. Pengaturan daerah sempadan sumber air
h. Rehabilitasi hutan dan lahan pertanian
i. Pelestarian hutan lindung, kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam

Metode pelestarian sumber daya air yang dapat dilakukan melalui pendekatan sosial, ekonomi,
dan budaya, adalah sebagai berikut:

1. Cara Vegetatif
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

Pelestarian sumber daya air secara vegetatif ini menggunakan tanaman, tumbuhan atau
sisa tanaman sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi laju erosi, dengan cara
mengurangi daya rusak butiran air hujan yang jatuh dan daya rusak aliran permukaan.
Pelestarian sumber daya air dengan cara ini menjalankan fungsinya melalui :
a. Pengurangan daya rusak butiran air hujan yang jatuh, karena proses intersepsi
butiran air hujan oleh daun atau tajuk tanaman
b. Pengurangan volume air permukaan, karena meningkatnya kapasitas infiltrasi
oleh perakaran tanaman
c. Memperlambat aliran air permukaan, karena meningkatnya panjang lintasan
aliran permukaan oleh keberadaan tanaman
d. Pengurangan daya rusak aliran air permukaan, karena pengurangan kecepatan dan
volume aliran air permukaan karena meningkatnya panjang lintasan dan
kekasaran permukaan.
2. Cara Mekanis
Pelestarian sumber daya air dengan cara ini pada prinsipnya adalah mengurangi
banyaknya butiran tanah yang hilang karena erosi, serta memanfaatkan air hujan yang
jatuh seefisien mungkin, mengendalikan kelebihan air di musim hujan, dan menyediakan
air yang cukup di musim kemarau.
Pelestarian sumber daya air secara mekanis mempunyai fungsi :
a. Memperlambat aliran air permukaan
b. Menampung dan mengalirkan aliran air permukaan, sehingga tidak merusak
c. Memperbesar kapasitas infiltrasi air ke dalam tana
d. Menyediakan air bagi tanaman.

Adapun usaha pelestarian sumber daya air secara mekanis, antara lain meliputi
pengolahan tanah menurut garis kontour, pembuatan terasering, pembuatan saluran air,
pembuatan sumur resapan, dan pembuatan dam pengendali.

3. Cara Kimiawi
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

Pelestarian sumber daya air dengan cara ini pada prinsipnya adalah memperkuat struktur
permukaan tanah dengan mencampur bahan kimiawi atau pemantap tanah, sehingga tidak
mudah tererosi oleh butiran atau aliran air hujan. Bahan pemantap tanah yang dapat
dipakai untuk pelestarian sumber daya air harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
a. Mempunyai sifat yang adhesif, serta dapat bercampur dengan tanah secara merata
b. Dapat merubah sifat hidropobik tanah, sehingga dapat merubah kurva penahanan air
tanah
c. Dapat meningkatkan kapasitas tukar kation tanah, sehingga dapat mempengaruhi
kemampuan tanah dalam menahan air
d. Daya tahan sebagai pemantap tanah cukup memadai
e. Tidak bersifat racun

Berbagai jenis bahan pemantap tanah yang sering dipakai antara lain polylinyl acetate,
polyvinyl pyrrolidone, aspalt, latex, dan sebagainya.

2.2 Pengawetan Air

Pengawetan air dimaksudkan untuk memelihara keberadaan dan ketersediaan air atau kuantitas
air, baik air permukaan maupun air tanah sesuai dengan fungsi dan manfaatnya.

1. Pengelolaan Kuantitas Air Permukaan


pengelolaan kuantitas air permukaan dimaksudkan untuk mempertahankan dan
meningkatkan potensi/kuantitas air permukaan yang tersedia, sebagai salah satu cara
untuk melakukan konservasi sumber daya air, sebagai berikut:
a. Pengendalian Aliran Permukaan
Pengendalian air permukaan dilakukan dengan memperpanjang waktu air tertahan
dipermukaan tanah dan meningkatkan air yang dapat masuk ke dalam tanah.
Berdasarkan hasil penelitian air permukaan pada tanaman di lahan kering untuk
bebagai jenis tanah dan berbagai metode konservasi yang berbeda (Pusat Penelitian
Tanah, Bogor), dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang besar antara
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

penurunan aliran permukaan dengan penerapan metode konservasi, terutama untuk


lahan kering/tegalan dengan permeabilitas yang rendah.

b. Pemanenan Air Hujan

Pemanenan air hujan dalam skala kecil dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rumah
tangga dan ternak, terutama menjelang dan selama musim kemarau panjang, dengan
mengumpulkan air hujan yang mengucur dari atap rumah. Air hujan yang berkualitas
baik dapat dikumpulkan dari atap rumah yang bersih dan terbuat dari bahan yang tahan
korosi, demikian pula dengan bak penampungnya. Sebaiknya air hujan yang jatuh pada
awal musim hujan tidak dimasukan ke dalam bak penampung air hujan. Untuk skala yang
lebih besar, pemanenan air hujan pada dasarnya dapat dilakukan di daerah tangkapan air,
dengan menampung aliran permukaan pada suatu kawasan kedalam suatu bak
penampungan. Besarnya air hujan yang dapat dipanen dipengaruhi oleh topografi dan
kemampuan lapisan tanah atas dalam menahan air hujan yang jatuh. Persiapan
pemanenan air hujan dari suatu lahan yang luas, dapat dikemukakan sebagai berikut :

1) Membuat saluran sejajar dengan garis kontour


2) Membersihkan dan memadatkan bidang/lahan tangkapan air
3) Bila diperlukan dapat pula dilengkapi dengan saluran searah lereng
4) Menampung air hujan yang jatuh dan mengalir di saluran tersebut.
c. Meningkatkan Kapasitas Infiltrasi Tanah
Kapasitas infiltrasi tanah sangat mempengaruhi volume air yang dapat masuk ke dalam
tanah, dan dalam rangka konservasi sumber daya air, dapat ditingkatkan dengan
memperbaiki struktur tanah. Cara yang paling efektif dalam meningkatkan kapasitas
infiltrasi tanah adalah dengan menutup permukaan tanah dengan tanaman, atau
mencampurnya dengan bahan organik.
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

2.3 Pengelolaan Kuantitas Air Tanah

Pengelolaan kuantitas air tanah dimaksudkan untuk mempertahankan dan


meningkatkan potensi/kuantitas air tanah yang tersedia, sebagai salah satu cara untuk melakukan
konservasi sumber daya air, sebagai berikut :

a. Pengisian Air Tanah Secara Buatan


Meskipun bendungan telah dibangun di suatu sungai, sebagian air yang mengalir
dimusim hujan masih akan terbuang keluar waduk, dan kelebihan air ini dapat
dikonservasi melalui pengisian akuifer di dalam tanah secara buatan. Pengisian buatan
akuifer tersebut merupakan upaya meningkatkan yield total dan merupakan salah satu
sarana untuk manajemen sumber daya air. Simpanan air dalam tanah ini merupakan
sumber air yang dapat dihandalkan untuk menambah potensi sumber daya air, dan
kemampuan tanah untuk menyimpan air tergantung dari tinggi muka air tanah dan
poripori tanah. Syarat-syarat fisik yang diperlukan untuk pengisian air tanah secara
buatan, antara lain :
1) Tersedia akuifer dengan kapasitas dan permeabilitas yang memadai
2) Tersedia cukup air untuk melakukan pengisian
3) Pemompaan air tidak boleh berlebihan, agar tingkat pengimbuhannya tidak
rendah
4) Kualitas air yang akan diisikan cukup memadai bila dibandingkan dengan air
tanah yang ada.

Pengisian resevoir air tanah secara buatan ini dapat dipakai untuk :

1) Menyimpan kelebihan air permukaan menjadi air tanah


2) Memperbaiki kualitas air tanah dengan mencampur air tanah local dengan air
pengisian
3) Membentuk tabir tekanan untuk mencegah instrusi air laut
4) Meningkatkan produksi pertanian karena lebih terjaminnya air irigasi
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

5) Menurunkan biaya pemompaan air tanah karena kedalaman air tanah yang relatif
menjadi kecil
6) Mencegah terjadinya penurunan muka tanah
b. Pengendalian Pengambilan Air Tanah
Pengambilan air tanah melalui sumur-sumur akan menyebabkan lengkung penurunan
muka air tanah. Makin besar laju pengambilan air tanah akan semakin curam lengkung
permukaan air tanah di sekitar sumur-sumur tersebut, sampai terjadi keseimbangan baru
bila terjadi pengisian di daerah resapan. Keseimbangan baru ini akan terjadi bila laju
pengambilan air tanah lebih kecil dari pengisian air hujan di daerah resapan, namun bila
laju pengambilan air tanah lebih besar dari pengisiannya maka lengkung penurunan muka
air tanah di antara sumur-sumur tersebut akan semakin curam, dan akan terjadi
penurunan muka tanah secara permanen. Untuk itu dalam kerangka konservasi sumber
daya air, maka pemanfaatan air tanah harus dapat dikendalikan, dan disesuaikan dengan
besarnya pengimbuhan atau pengisian oleh air hujan di daerah resapan

2.4 Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran AIr

2.4.1 Pengelolaan Kualitas Air

Pengelolaan kualitas air dimaksudkan untuk mempertahankan dan memulihkan kualitas air yang
masuk dan yang berada pada sumber air, dengan cara memperbaiki kualitas air pada sumber air
dan prasarana sumber air.

1. Kualitas Air
Kualitas air menyatakan tingkat kesesuaian air terhadap penggunaan tertentu dalam
memenuhi kebutuhan manusia dan lingkungannya, kualitas air dapat dibedakan atas sifat
dan karakteristiknya sebagai berikut :
a. Sifat Fisik
Karakteristik fisik yang mempengaruhi kualitas air antara lain :
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

1) Bahan-bahan padat, diukur dengan melakukan penyaringan, pengendapan dan


penguapan, zat padat ini dapat mempengaruhi kualitas air.
2) Kandungan sedimen, mempengaruhi tingkat/proses pendangkalan saluran, sungai dan
waduk, serta mempengaruhi biaya pengolahan air bersih. Air tanah dan air waduk
yang kurang mengandung sedimen, kurang baik untuk air irigasi.
3) Kekeruhan, karena adanya kandungan material yang kasat mata dalam air, seperti
tanah liat, lempung, bahan organik dan non organik, tingkat kekeruhan air diukur
dengan turbidmeter.
4) Warna, air murni tidak berwarna, dan warna air diakibatkan oleh adanya material yang
larut atau koloid dalam suspensi atau mineral. Sinar matahari secara alamiah
mempunyai sufat disinfeksi dan mengelantang terhadap bahan pewarna air, tapi
sifatnya terbatas.
5) Bau dan rasa, rasa dalam air biasanya akibat adanya garam-garam terlarut. Bau dan
rasa dalam air pada umumnya disebabkan keberadaan mikro-organisme, bahan
organik, bahan mineral, dan gas terlarut. Untuk menghilangkan bau dan rasa yang
tidak dikehendaki dapat dilakukan aerasi, pemakaian potassium permanganat,
pemakaian karbon aktif, koagulasi, sedimentasi, dan filtrasi.
6) Temperatur, tergantung dari sumbernya, temperatur normal/alami di daerah tropis
berkisar antara 20 - 30 0 C.
b. Sifat Kimia
Kandungan zat kimia yang berpengaruh terhadap kesesuaian penggunaan air, antara lain :

1) pH, sebagai pengukur sifat keasaman dan kebasaan air, dapat diukur dengan
potensiometer untuk mengukur potensi listrik yang dibangkitkan oleh ion H+ atau
bahan celup penunjuk warna seperti methyl orange atau phenolphthalerin. Air murni
mempunyai nilai pH = 7, sedangkan air dengan pH nilai diatas 7 bersifat asam, dan
dibawah nilai 7 bersifat basa.
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

2) Alkalinitas, karena adanya garam-garam alkalin yang berada di kandungan air, seperti
karbonat dan bikarbonat dari kalsium, sodium dan magnesium, yang dinyatakan
dalam mg/lt ekivalen kalsium karbonat.

3) Kesadahan, terkait dengan penyediaan air bersih, air dengan kesadahan tinggi
memerlukan sabun lebih banyak sebelum membentuk busa. Kesadahan air sementara
karena keberadaan kalsium dan magnesium bikarbonat dapat dihilangkan dengan
mendidihkan air atau menambah kapur dalam air, sedangkan kesadahan permanen
karena kalsium, magnesium sulfat, chlorida dan nitrat dapat dilunakkan dengan
perlakuan khusus.

c. Sifat Biologi
Air permukaan umumnya mengandung berbagai macam organisme hidup, sedangkan air
tanah relatif lebih bersih karena adanya proses penyaringan oleh akuifer. Jenis organisme
yang terdapat dalam kandungan air meliputi :
1) Macroskopik, seperti ganggang dan rumput laut, dapat menurunkan kualitas air, dalam
hal rasa, warna dan bau, dapat dihilangkan dengan proses purifikasi.
2) Microsopik, seperti jamur dan alga dapat mempengaruhi kekeruhan dan warna air,
serta memberi andil terhadap rasa dan bau air yang tidak diinginkan, dapat
dikendalikan dengan sulfat atau chlorida.
3) Bakteri, baik yang menimbulkan penyakit (pathogen), maupun yang tidak
menimbulkan penyakit (non pathogen), kebeadaannya dapat diketahui dengan melalui
E-colli Test. Virus merupakan organisme penyebab infeksi, lebih kecil dari bakteri,
dapat dikendalikan dengan clorinasi dikombinasikan dengan penonaktifan virus.

2. Pengelolaan Kualitas Air Irigasi

Pengelolaan kualitas air untuk irigasi pada dasarnya adalah mempertahankan kualitas
air, baik air pemukaan maupun air tanah agar memenuhi syarat untuk dipakai sebagai air irigasi.
Kualitas air sungai di daerah tropis pada umumnya telah memenuhi syarat untuk air irigasi,
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

kecuali sungai yang melalui daerah industri, atau yang telah tercemar oleh limbah industri yang
dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Pemberian air irigasi dengan kualitas yang baik, dapat
memperbaiki struktur tanah, karena kandungan kalsium dalam air, dan proses pencucian
garamgaram yang dikandung dalam tanah.

Faktor- faktor yang mempengaruhi kesesuaian air irigasi antara lain :

a. Konsentrasi Total Garam Terlarut, dinyatakan dengan daya hantar listrik, dengan unit
satuan decisiemens per meter (dS/m) atau milimhos per sentimeter (mmhos/cm).
Klasifikasi air irigasi dikaitkan dengan daya hantar listrik, dibedakan atas 4 kelompok,
yakni :
 Sanilitas rendah, 0,1 - 0,25 dS/m
 Sanilitas sedang, 0,25 - 0,75 dS/m
 Sanilitas tinggi, 0,75 - 2,25 dS/m
 Sanilitas sangat tinggi, 2,25 - 5,00 dS/m

Konsentrasi garam yang berlebihan dalam air irigasi akan berpengaruh negatif
terhadap:

1) Mengurangi aktifitas osmosis tanaman, sehingga mengurangi penyerapan nutrisi


dari tanah
2) Mempengaruhi proses metabolisme melalui reaksi kimianya
3) Mengurangi permeabilitas tanah
4) Mencegah atau mengurangi aerasi
5) Mengurangi/ mencegah sistem drainase tanah
b. Nisbah Serapan Sodium (Sodium Absorption Rasio–SAR), merupakan perbandingan
antara jumlah sodium relatif dengan kation-kation lain. Klasifikasi air irigasi, dikaitkan
dengan nilai SAR dapat dibedakan atas 4 kelompok, yaitu :
1) Sodium rendah (1 - 10), dapat dipakai untuk irigasi berbagai jenis tanaman
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

2) Sodium sedang (10 - 18), dapat dipakai untuk irigasi, bila dilakukan pencucian
tanah yang memadai
3) Sodium tinggi (18 - 26), tidak dapat dipakai untuk irigasi, yang sistem
drainasenya tidak baik
4) Sodium sangat tinggi (> 26), tidak sesuai untuk irigasi dalam keadaan normal
c. Akumulasi Garam Dalam Tanah, terutama pada daerah irigasi dengan curah hujan yang
rendah untuk pencucian garam dalam tanah yang terbatas, sehingga cenderung terjadi
penumpukan garam pada lahan pertanian, dan dapat menurunkan tingkat pertumbuhan
tanaman.

3. Pengelolaan Kualitas Air Rumah Tangga

Pengelolaan kualitas air untuk rumah tangga pada dasarnya adalah mempertahankan
kualitas air, agar dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan, yaitu air baku untuk air minum,
atau klasifikasi air kelas satu, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Air tersebut harus aman dan sehat,
tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa karena terlarutnya gram mineral atau bahan
mineral lainnya. Persyaratan kualitas air untuk rumah tangga, baik parameter fisik, kimia
anorganik, mikrobiologi dan radioaktifitas, dapat dilihat pada lampiran dari Peraturan
Pemerintah No. 82 tahun 2001 tersebut diatas.

2.3.2 Pengendalian Pencemaran Air

Pengendalian pencemaran air dimaksudkan untuk mempertahankan dan memulihkan kualitas air
yang masuk dan yang berada pada sumber air, dengan cara mencegah masuknya pencemaran air
pada sumber air dan prasarana sumber air.

1. Sumber Pencemar
Berbagai jenis limbah yang terjadi karena proses alam dan/atau aktifitas manusia, dan
dapat mencemari air dan sumber air, antara lain :
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

a. Limbah Domestik, meliputi air buangan sanitari, dari toilet, dapur, restoran, hotel,
rumah sakit, laundry dan sebagainya, yang dibuang ke saluran drainase atau sungai.
Limbah ini terutama mengandung bahan organic yang dapat membusuk atau
terdegradasi oleh mikro organisme, bakteri yang berbahaya, serta bahan detergen yang
dapat mengganggu atau mematikan kehidupan organisme air dan merusak lingkungan.
b. Limbah Industri, sering mengandung bahan kimia seperti asam, alkali, minyak,
phenol, dan mercury yang dapat masuk/diserap kedalam rantai makanan tumbuhan,
dan hewan air, dan bahkan sampai ke tubuh manusia.
c. Limbah Pertanian, karena penggunaan pupuk, pestisida dan herbisida yang
berkelebihan pada usaha pertanian. Limbah ini di dalam air sulit, atau memerlukan
waktu yang lama untuk terdegradasi oleh mikro organisme. Limbah pertanian dapat
pula berupa kotoran hewan, sisa makanan ternak dan poultry.
d. Sedimen/atau Lumpur, karena erosi tanah yang terbawa hanyut oleh aliran permukaan
ke sistem saluran/sungai, dapat menyebabkan kekeruhan air yang dapat mengurangi
penetrasi sinar matahari kedalam air. Hal tersebut menyebabkan proses fotosintesis
tumbuhan dalam air tidak dapat berlangsung dengan baik, kandungan oksigen dalam
air akan menurun dan kandungan karbondioksida akan meningkat, dan dapat
mempengaruhi kehidupan hewan air. Pada dasarnya pencemaran air tersebut di atas
dapat dikendalikan, dan tehnologi yang ada dapat mengeluarkan cemaran dan bakteri
dari dalam air.
2. Pengendalian Pencemaran
a. Cara Teknis
Pengendalian pencemaran air secara teknis dapat dilakukan dengan cara preventif
maupun kuratif. Tindakan preventif ditujukan untuk menjaga regim sungai, dimana
limbah buangan yang masuk kedalamnya sudah dalam kondisi yang baik. Beberapa
tindakan preventif yang dapat dilakukan untuk mengendalikan pencemaran air, antara
lain :
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

1) Pengolahan air limbah, baik limbah domestik maupun limbah industri. Pengolahan
limbah domestik dipengaruhi oleh karakteristik bahan padat yang dikandungnya dan
ketersediaan fasilitas buangan. Limbah domestik perlu diolah lebih dulu sebelum dibuang
ke sungai, terutama pada musim kemarau dimana debit sungai relatif kecil. Untuk
menghilangkan atau mendekomposisi polutan padat yang terdapat dalam air limbah
domestik, air limbah tersebut diolah melalui proses fisik, biologi dan kimia. Pertama kali
air limbah dialirkan melalui saringan untuk memisahkan polutan padat yang berukuran
besar, yang umumnya mencakup 1/3 dari beban polutan. Kemudian air limbah tersebut
dilewatkan pada kolam pengendapan untuk mengendapkan pasir dan kerikil, dan
selanjutnya dialirkan ke tangki pengendapan besar dan diendapkan untuk beberapa saat,
sehingga sisa material padat yang lolos akan mengendap di dasar tangki atau terapung di
permukaan sebagai busa atau sampah. Air yang berada di kedua komponen tersebut
dikeluarkan dari tangki, dan diklorinasi untuk membunuh bakteri yang ada, untuk
selanjutnya dialirkan ke sungai. Sedangkan endapan yang terjadi dikeluarkan dari tangki
dan dikeringkan untuk dijadikan pupuk atau bahan yang bermanfaat lainnya. Pengolahan
limbah buangan industri pada prinsipnya tidak berbeda dengan pengolahan limbah
domestik, yaitu meliputi penyaringan, penampungan, sedimentasi dengan atau tanpa
netralisasi, koagulasi dan pengolahan secara biologis.
2) Pemilihan Lokasi industri, jenis-jenis industri yang membuang air limbah dalam jumlah
yang besar, seperti industri baja, kertas dan sebagainya, akan lebih baik bila ditempatkan
pada lokasi-lokasi tertentu dimana biaya sosialnya rendah.
3) Penggunaan kembali, pengolahan air limbah khususnya untuk industri lebih baik
dilakukan di lokasi industri itu sendiri, sehingga biaya pengolahan limbah dapat
dimasukan dalam biaya operasi/produksi, dan air limbah yang telah diolah tersebut dapat
dipergunakan kembali (recyling). Dengan cara ini konservasi sumber daya air akan dapat
berjalan dengan baik, dan kebutuhan air yang semakin meningkat akan dapat dipenuhi.
4) Penempatan lokasi buangan yang tepat, pembuangan air limbah harus berada pada suatu
lokasi yang cukup tersedia air pengencernya, sehingga tidak membahayakan air di badan
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

air penerima. Lebih baik bila lokasi buangan berada di bagian hilir suatu kota atau
permukiman, sehingga kemungkinan pencemaran terhadap pengambilan air baku untuk
air minum tidak terjadi.
5) Pengendalian Limbah pertanian, pemakaian pupuk dan insektisida dalam dosis dan waktu
yang tepat, yang disertai dengan sistem drainase yang memadai, sehingga sisa air
buangan dari areal pertanian dapat mengalir lancar, dan tidak terjadi genangan air dan
pengendapan garam dalam tanah. Selain cara preventif tersebut di atas, pengendalian
pencemaran air dapat pula dilakukan dengan cara kuratif. Kemampuan air untuk
mengembalikan kualitas dirinya sendiri tergantung dari besarnya cemaran yang
dikandungnya. Tergantung pada besar kecilnya cemaran yang timbul, serta karakteristik
sungai, maka pemurnian kembali air sungai yang besar dapat berlangsung dalam
beberapa hari.
b. Cara Non-teknis
Cara ini dilakukan dengan membuat peraturan perundangan yang dapat merencanakan,
mengatur dan mengawasi berbagai kegiatan sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi
pencemaran lingkungan sebagai akibat dari kegiatan tersebut. Selain itu hal lain yang
tidak kalah penting adalah pelaksanaannya, serta menanamkan perilaku disiplin bagi
semua pihak terkait dan masyarakat, dalam mencegah terjadinya pencemaran air. Semua
pihak yang terkait dan masyarakat dituntut untuk berdisiplin, dan bertanggung jawab
terhadap pelestarian lingkungan, dengan tidak membuang sampah atau limbah
sembarangan, yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.

Kasus pada Sub DAS Aek Silang


DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

Gambar 1. Peta Sub DAS Aek Silang

Berdasarkan metode Isohiet Sub DAS Aek Silang memiliki curah hujan tahunan rata-rata dari
tahun 2003-2012 (10 tahun) adalah sebesar 2.312,09 mm, sedangkan tipe iklim menurut Schmidt
Ferguson adalah termasuk Tipe A (sangat basah). Kondisi kemiringan lereng pada umumnya
cenderung datar, yaitu 16.314,46 ha atau 82,34% dari total luas Sub DAS Aek Silang 9.814,72
ha, hal unu menggambarkan bahwa peluang air terinfiltrasi ke dalam tanah lebih besar. Jenis
penutupan lahan didominasi oleh pertanian lahan kering seluas 7.697,566 ha (38,85%) dan hutan
tanaman industri seluas 6.187,48 ha (31,23%) sedangkan penutupan lahan yang terkecil adalah
permukiman seluas 62,04 ha (0,31%).

Tabel 1. Jenis Penutupan Lahan di Sub DAS Aek Silang

Ketersediaan Air

Hasil pengukuran stasiun pengamat arus sungai (SPAS) yang dimiliki oleh Balai Sungai Wilayah
I Sumatra Utara.
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

Tabel 2. Volume Ketersediaan Air di Sub DAS Aek Silang Tahun 2003 - 2012

Ketersediaan air di Sub DAS Aek Silang apakah mencukupi atau tidak, dapat diperoleh dengan
menjumlahkan total pemanfaatan air baik untuk kebutuhan domestic, padi sawah, maupun
industri listrik.

Tabel 3. Standar Kebutuhan Air

Berdasarkan table tersebut maka dapat diperoleh total kebutuhan air per tahunnya di Sub DAS
Aek Silang sebagai berikut:

a. Jumlah penduduk pada tahun 2012 sebanya 13.924 jiwa, sehingga total kebutuhan air
adalah 13.924 jiwa x 0,06 m3/jiwa/hari x 365 hari adalah 304.935,60 m3
b. Luas padi sawah 1.053,35 ha dengan lama musim tanam 120 hari per tahun, maka total
kebutuhan air adalah 1.053,35 ha x 0.001 m3/detik/ha x 120 hari adalah 10.921.132,80 m3
per tahun.
c. Kebutuhan air untuk menghasilkan energy listrik sebesar 750 KWh adalah sebanyak 6,5
m3/detik x 86.400 detik x 65 hari, yaitu 204.980.000 m3 per tahun.

Sehingga total kebutuhan air adalah 216.210.068,40 m3, sementara volume air yang tersedia pada
tahun 2012 menurut tabel adalah sebanyak 4.003,07 m3/detik atau 345.865.248 m3. Dari
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

perhitungan total kebutuhan air dikurangi dengan volume ketersediaan air maka ketersediaan air
di Sub DAS Aek Silang masih surplus 129.655.179,60 m3.

Strategi/Kebijakan

Upaya menjaga ketersediaan air agar dapat berkelanjutan adalah melalui kegiatan konservasi
sumberdaya air melalui 3 (tiga) kegiatan pokok, yaitu:

a. Perlindungan dan pelestarian sumberdaya air


b. Pengawetan air
c. Pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air

Strategi konservasi sumberdaya air dengan menggunakan analisis AHP adalah dengan
memilih elemen yang mempunyai skor tertinggi dari setiap level dari hirarki yang telah
disusun menjadi skala prioritas, dimana hasilnya secara lengkap dapat dilihat pada gambar
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Strategi Konservasi Sumber Daya Air dengan menggunakan
Model AHP

Faktor utama dalam pelaksanaan kegiatan konservasi sumber daya air adalah kegiatan
pemantauan dan pengawasan yaitu sebesar 0.390 (39,00%) lebih tinggi dibandingkan dengan
faktor perencanaan 0,296 dan implementasi/pelaksanaan 0,314. Pemantauan dan pengawasan
dilakukan karena sumber-sumber air dan pola pemanfaatan sumber daya air di Sub DAS Aek
Silang masih relative terjaga baik kuantitas maupun kualitasnya.

Level aktor atau pelaku untuk melakukan pemantauan dan pengawasan yang utama
dalam rangka kegiatan konservasi SDA adalah Pemerintah (34,40%) lebih tinggi
dibandingkan dengan kelompok masyarakat (20,30%), perguruan tinggi (17,50%),
LSM/Forum DAS (15,00%) dan dunia usaha (13,90%). Hal ini menggambarkan bahwa
pemerintah memiliki kewenangan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya air, melindungi
dan melestarikan sumber daya air melalui pembuatan peraturan-peraturan dan kebijakan
sebagai pedoman dalam rangka melaksanakan kegiatan pemantauan dan pengawasan.

Level tujuan bahwa tujuan utama yanginign dicapai dari kegiatan konservasi sumber
daya air adalah kelestarian sumber daya air (43,30%). Hal ini menggambarkan bahwa seluruh
kelompok responden terutama kelompok masyarakat, pemerintah, dunia usaha, LSM dan
lembaga pendidikan di wilayah Sub DAS Aek Silang menyadari bahwa manfaat kelestarian
sumber daya air sangat penting, agar ketersediaan air dapat berkelanjutan. Faktor utama
menjaga kelestarian sumber daya air adalah manusia.

Level kegiatan alternatif prioritas yang dibutuhkan dalam konservasi sumber daya air
berdasarkan hasil analisis dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Nilai Bobot Prioritas Alternatif Strategi/Kebijakan


DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

Berdasarkan tabel nilai/skor tertinggi dalam kegiatan konservasi sumber daya air
adalah pengawetan air 0.387 (38,70%). Kegiatan pengelolaan kualitas dan pengendalian
pencemaran air belum terlalu dibutuhkan karena air di Sungai Aek Silang belum tercemar,
dikarenakan sampai saat ini masyarakat masih memanfaatkan air dari Sub DAS Aek Silang
untuk kebutuhan sehari-hari.

Jenis-jenis Pengawetan Air

Beberpa jenis kegiatan yang terkait dengan pengawetan air, yaitu konservasi sipil
teknis, rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), pengendalian pemafaatan air melalui pembuatan
peraturan, pemeliharaan sumber-sumber air yang masih mampu menyediakan air secara
berkelanjutan dan pembinaan/pendampingan bagi masyarakat (Kodoatie dan Roestam, 2010;
Purnomo, D.W., dkk., 2015).

Jenis kegiatan konservasi sipil teknis adalah upaya untuk mencegah kehilangan air dan
mengendalikan erosi, longsor, sedimentasi, banjir, dan kekeringan. Adapun jenis kegiatan
konservasi sipil teknis yang dibutuhkan di Sub DAS Aek Silang adalah pembuatan dam
penahan, pengendali jurang dan terasering. Sementara kegiatan RHL adalah upaya untuk
penanaman pohon-pohonan di lokasi lahan yang kritis baik berupa reboisasi ada kawasan
hutan dan penghijauan di tanah milik masyarakat. Kegiatan konservasi sipil teknis dan RHL
selain untuk menjaga kelestarian sumber daya air juga dapa menghasilkan sumber-sumber air
(Indra, 2013; Rachmat, 2007; Arsyad, 2006).

Kegiatan pengendalian pemanfaatan air melalui pembuatan peraturan, pemeliharaan


sumber-sumber air yang masih mampu menyediakan air secara berkelanjutan dan
pembinaan/pendampingan bagi masyarakat adalah kegiatan pendukung dari pengawetan air.
DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL FPTK UPI

Nama Lengkap : Isah Bela Mulyawati Hari/Tanggal : Rabu, 17 April 2019


NIM : 1702970 Dosen/Asisten : Odih Supratman
Prodi : Teknik Sipil B
Kode/Nama MK : CE319/PSDA Tanda Tangan :

Pembinaan/pendampingan bagi masyarakat diperlukan untuk meningkatkan partisipasi


masyarakat dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya air yang ada di Sub DAS Aek
Silang. Sesuai dengan Mikkelsen (2011) bahwa dalam kegiatan pembangunan yang
berkelanjutan dapat lebih berhasil dengan menggunakan pendekatan partisipatoris
masyarakat dengan mengembangkan persepsi, pola sikap dan pola berpikir serta nilai-nilai
dan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat terhadap kondisi sumber daya air di
sekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Presiden No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Kodoarie,

Robert J & Roestam Sjarief. (2005). Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Yogyakarta :
Penerbit Andi.

Linsley, Ray K., Frazini, Joseph B., & Djoko Sasongko. (1995). Teknik Sumber Daya Air.
Jakarta : Penerbit Erlangga.

Notodihardjo, Mardjono. (1989). Pengembangan Wilayah Sungai Di Indonesia. Jakarta :


Badan Penerbit PU.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 11A Tahun 2006 tentang Pembagian Wilayah
Sungai.

Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 1991 tentang Sungai.

Suripin. (2002). Sumber Daya Tanah dan Air. Yogyakarta : Penerbit Andi. Undang - Undang
RI No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

Sihotang, I V, Sudarmadji, Purnama L S, dan Balquni M. (2016). Model Konservasi Sumber


Daya Air Sebagai Upaya Mempertahankan Keberlanjutan Air di Sub DAS Aek Silang.
SPATIAL Wahana Komunikasi dan Informasi Geografis Vol. 15