Anda di halaman 1dari 43

Laporan Praktikum Dosen Pembimbing

Operasi Teknik Kimia II Komalasari,ST,MT

“Hidrodinamika Kolom Jejal”

Disusun Oleh:
Kelompok V
Kelas B

Aprilia Larasati (1807035502)

Kurniawan (1807035749)

Muhammad Iqbal (1807035500)

Mohd.Rezeki (1807035998)

LABORATORIUM DASAR-DASAR PROSES


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2019
ABSTRAK
Kolom jejal adalah suatu menara isian yang terdiri dari kolom yang dilengkapi dudukan
unggun berbentuk pelat perforasi atau grid pada bagian bawah kolom. Tujuan
percobaan adalah untuk menentukan perbedaan tekanan udara melewati kolom kering
sebagai fungsi laju alir udara dan menguji perbedaan tekanan udara yang melewati
kolom basah sebagai fungsi laju alir udara terhadap perbedaan laju alir air dalam
kolom. Pada percobaan dilakukan variasi laju alir udara untuk kolom kering sebesar 50,
65, 80, 95, 110, 125, 140, 150liter/menit , sedangkan untuk kolom basah dilakukan
variasi laju alir udara sebesar 20, 35, 50, 65, 80, 95, 110, 125, 140, 150 liter/menit dan
laju alir air sebesar 0,1,2,3,4,5liter/menit. Hasil percobaan yang diperoleh yaitu
penurunan tekanan tertinggi yang dicapai pada kolom kering untuk kolom atas yaitu
sebesar 18 mmH2O pada laju alir udara 150 liter/menit. Penurunan tekanan tertinggi
yang dicapai pada kolom kering untuk kolom bawah yaitu sebesar 18 mmH 2O pada laju
alir udara 150 liter/menit. Penurunan tekanan tertinggi yang dicapai pada kolom basah
untuk kolom atas dan kolom bawah terjadi pada laju alir air 5 liter/menit dan laju alir
udara 140 liter/menit secara berturut-turut yaitu sebesar 166 mmH 2O dan 160 mmH 2O.
Floading mulai terjadi pada laju alir udara sebesar 150 liter/menit dengan laju alir air
sebesar 4 liter/menit, dan laju alir udara sebesar 125 liter/menit dengan laju alir air
sebesar 5liter/menit.

Kata Kunci : floading, kolom jejal, laju alir fluida, laju alir udara, pressure drop.
BAB I
PENDAHULUAN

.1 Latar Belakang
Kata hidrodinamika pertama dikenalkan oleh Daniel Bernoulli pada tahun
1700-1783 untuk mengenalkan dua macam ilmu hidrostatik dan hidraulik. Beliau
mengeluarkan teori yang terkenal dengan nama teori Bernoulli. Euler pada tahun
1707-1783 menghasilkan persamaan gerak fluida ideal dan mengembangkan teori
matematisnya dan dilanjutkan oleh Lagrange pada tahun 1736-1813. Navier pada
tahun 1785-1836 menyatakan penemuan tentang persamaan gerak untuk fluida
berviskositas berdasarkan interkasi molekul. Stokes pada tahun 1819-1903 juga
menemukan persamaan gerak untuk fluida berviskositas, beliau terkenal dengan
penemuan teori modern hidrodinamika. Hidrodinamika adalah ilmu yang
mempelajari fluida yang mengalir. Fluida adalah zat yang dapat mengalir, yang
terdiri dari zat cair dan gas. Ada fluida yang tak mengalir dan ada fluida yang
mengalir. Ilmu yang mempelajari fluida yang tak mengalir disebut hidrostatika
dan ilmu yang mempelajari fluida yang mengalir disebut hidrodinamika
(Siallagan, 2016).
Pada berbagai industri proses kimia, kolom jejal adalah salah satu sistem
pemroses yang sangat luas penggunaannya. Sistem yang pada dasarnya berfungsi
sebagai sarana pengontakan gas-cair ini dioperasikan untuk berbagai tujuan. Di
antara tujuan-tujuan ini yakni absorpsi solut dari fasa gas. Desorpsi solut dari fasa
cair (stripping), distilasi, reaksi. Scrubbing bahan partikulat pada system
pengendalian pencemaran dan sebagainya. Berbagai tujuan di atas tentunya
menuntut rancangan fisik kolom yang berbeda-beda. Pada percobaan ini
berintikan sebuah kolom jejal (packed column),melalui perangkat percobaan ini,
diharapkan mula-mula pengguna dapat mempelajari karakteristik hidrodinamik
sebuah kolom jejal. Pengetahuan mengenai karakteristik ini sangat diperlukan
dalam analisis dan evaluasi kolom dalam penerapan selanjutnya, yakni sebagai
sarana proses humidifikasi udara (dalam laporan Kristanti, 2013).
.1 Tujuan Percobaan
1. Mengoperasikan peralatan hidrodinamika kolom jejal.
2. Mengidentifikasi terjadinya floading point.
3. Mendemonstrasikan percobaan penurunan tekanan kolom kering
4. Mendemonstrasikan percobaan penurunan tekanan udara dan aliran air
5. Membuat kurva perbedaan tekanan sebagai fungsi laju alir udara
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
.1 Dasar Teori
2.1.1 Hidrodinamika Kolom Jejal
Hidrodinamika adalah ilmu yang mempelajari fluida yang mengalir. Fluida
adalah zat yang dapat mengalir, yang terdiri dari zat cair dan gas. Hidrodinamika
juga dapat didefinisikan sebagai penelitian mengenai zat cair yang mengalir
meliputi tekanan, kecepatan aliran, lapisan-lapisan zat yang melakukan
gesekan. Bernoulli telah berhasil merumuskan rumus dengan persyaratan-
persyaratan atau pendekatan khusus yaitu (dalam laporan Arnan, 2014) :
1. Zat cair tanpa adanya geseran dalam  (cairan tidak viskos).
2. Zat cair mengalir secara stasioner (tidak berubah) dalam hal kecepatan,
arah maupun besarnya (selalu Konstan).
3. Zat cair mengalir secara steady yaitu mengalir melalui lintasan tertentu.
4. Zat cair tidak termampatkan (incompresible) melalui sebuah pembuluh
dan mengalir sejumlah cairan yang sama besarnya (continuitas).

Suatu kolom jejal secara garis besar terdiri dari kolom yang dilengkapi
dudukan unggun berbentuk pelat perforasi atau grid pada bagian bawah kolom.
Pada dudukan ini diletakkan unggun jejalan (packing) yang berfungsi
menyediakan antar muka kontak gas-cair yang memadai. Unggun jejalan dapat
tersusun dari jejalan yang dijejalkan secara acak atau diletakkan menurut aturan
tertentu. Pada saat operasi, cairan masuk dari bagian puncak kolom sedangkan gas
masuk melalui dasar kolom. Saluran masuk cairan umumnya dilengkapi dengan
distributor yang berfungsi memberikan penyebaran cairan yang rata pada
penampang kolom. Kontak gas cair berlangsung di dalam ruang-ruang lowong
antar jejalan yang terdapat dalam unggun. Pada jalur alir cairan yang rendah.
Sebagian besar permukaan jejalan tidak terbasahi oleh cairan. Seiring dengan
bertambahnya lajur alir cairan, fraksi permukaan jejalan yang terbasahi akan
meningkat pula. Pada suatu harga laju alir cairan kritik,seluruh permukaan jejalan
terbasahi (leva, 1953 dalam laporan Winarno (2016)).
2.1.2 Menara Isian (Tower Packing)
Salah satu alat yang digunakan dalam beberapa operasi yaitu menara
isian.Peranti ini terdiri dari sebuah kolom yang berbentuk silinder atau menara
yang dilengkapi dengan pemasukan gas dan ruang distribusi pada bagian bawah.
Pemasukan zat cair dan distributornya pada bagian atas, sedangkan pengeluaran
gas dan zat cair masing-masing di atas dan di bawah, serta suatu massa bentukan
zat padat tak aktif (inert) di atas penyangganya, bentukan ini disebut menara isian
(tower packing). Penyangga itu harus mempunyai fraksi ruang terbukayang cukup
besar, untuk mencegah terjadinya pembanjiran pada piring penyangga itu. Zat cair
yang masuk, boleh berupa pelarut murni atau larutan encer zat terlarut di dalam
pelarut, disebut cairan lemah (weak liquor), didistribusikan di atas isian itu
dengan distributor, sehingga pada operasi yang ideal, membasahi permukaan isian
itu secara seragam. Gas yang mengandung zat terlarut, disebut gas kaya atau gas
gemuk (rich gas), masung ke ruang distribusi yang terdapat di bawah isian dan
mengalir ke atas melalui celah-celah antara isian, berlawanan arah dengan aliran
zat cair.Isian itu memberikan permukaan yang luas untuk kontak antara zat cair
dan gas dan membantu terjadinya kontak yang akrab antara kedua fase. Zat
terlarut yang ada di dalam gas gemuk itu diserap oleh zat cair segar yang masuk
ke dalam menara dan gas encer atau gas kurus (lean gas) lalu keluar dari atas.
Sambil mengalir ke bawah menara, zat cair itu makin lama makin kaya akan zat
terlarut, dan zat pekat atau cairan kuat (strong liquor) yang terjadi keluar dari
bawah menara melalui lubang keluar zat cair (McCabe, 1993).
Jenis-jenis isian menara yang diciptakan oleh orang banyak sekali
macamnya, tetapi ada beberapa jenis yang lazim dipakai.Isian menara ini terbagi
menjadi dua jenis yaitu yang diisikan dengan mencurahkannya secara acak ke
dalam menara, dan yang disusunkan ke dalam menara dengan tanga.Isian curah
terdiri dari satuan-satuan dengan dimensi utama ¼ sampai 3 in.Dimana isian yang
ukurannya kurang dari 1 in, terutama dipakai dalam kolom-kolom laboratorium
atau instalasi percontohan.Satuan-satuan menara yang disusun dengan tangan
biasanya mempunyai ukuran antara 2 sampai kira-kira 8 in. Persyaratan pokok
yang diperlukan untuk menara isian adalah (McCabe, 1993) :
1. Harus tidak bereaksi (kimia) dengan fluida di dalam kolom
2. Harus kuat, tetapi tidak terlalu berat
3. Harus mengandung cukup banyak laluan untuk ke dua arus tanpa terlalu
banyak zat cair yang terperangkap atau menyebabkan penurunan tekanan
terlalu tinggi
4. Harus memungkinkan terjadinya kontak yang memuaskan antara zat cair
dan gas
5. Harus tidak terlalu mahal

Gambar 1.1 Tower Packing

2.1.3 Penurunan Tekanan


Aliran gas dan cairan yang melalui unggun tetap dalam kolom
akanmengalami penurunan tekanan (pressure drop) baik yang searah maupun
berlawanan arah. Umumnya fasa gas akan mengalami penurunan tekanan bila
melalui unguun dengan isian tak beraturan. Penurunan tekanan tersebut akan
dipengaruhi oleh laju alir gas dan cairan. Hubungan tersebut dapat dilihat pada
gambar 1.2 berikut yang menunjukkan bahwa kurva yang menyatakan hubungan
antara laju alir gas dan penurunan tekanan dengan bahan pengisi kering akan
berupa garis lurus dengan kemiringan sekiltar 1,8 sampai 2,0 (Ghozali, 1996).
Untuk laju alir gas yang konstan atau tertentu, peningkatan penuruna
tekanan gas sebanding dengan kenaikan laju alir cairan.Ruang kosong antar bahan
pengisi diisi oleh cairan yang berkontak dengan gas.Bila laju alir cairan makin
meningkat, cairan yang berada di dalam ruangan juga meningkat. Jumlah cairan
tang terdapat di dalam kolom disebut hold-up. Peningkatan laju alir cairan akan
mengarah pada pengumpulan cairan pada bagian atas kolom. Peristiwa ini
dinamakan flooding. Operasi kolom pada titik flooding menyebabkan
perpindahan massa tidak terjadi. Operasi kolom harus pada titik flooding, yaitu
titik awal pembelokan kurva.Pendekatan tersbut kurang memiliki dasar ilmiah
yang kuat dan titik flooding merupakan batas yang harus diperhatikan dalam
operasi kolom (Ghozali, 1996).
Penurunan tekanan pada titik flooding merupakan karakteristik dasar
bahan pengisi dan harganya konstan. Keadaan flooding dalam pengisian tak
beraturan tergantung pada cara pengisian (basah atau kering) dan pengendapan
bahan pengisi.

Gambar 1.2 Hubungan Antara Keadaan Flooding Dengan


Penurunan Tekanan
Rumus :
∆ P gc x ɛ x D p x ρ g 150 X (1−ɛ )
x 2
= +1,75 ……………....… (2.1)
z (1−ɛ) x G Nℜ
Dimana :
∆P = Penurunan tekanan
Gc = Gas superficial
∆L = Tinggi unggun
ɛ =Porositas unggun
z = Tinggi unggun
Dp = Diameter efektif
Nre = Bilangan Reynold
ρ g =Kerapatan gas

Sumber :(Ghozali, 1996).


Persamaan tersebut berlaku untuk aliran laminar, transisi, maupun
turbulen. Pressure drop pada kolom jejal absorpsi biasanya didesain berkisaran
antara 0,25 – 0,5 inH2O per ft tinggi unggun. Setelah pressure drop mencapai 0,5
inH2O per ft tinggi unggun, maka akan terjadi perubahan pressure drop degan
cepat. Titik dimana terjadi perubahan seperti ini dinamakan loading point.
Sedangkan pressure drop sudah berkisar antara 2- 30,5 inH2O per ft tinggi
unggun, maka akan terjadi floading, yaitu kondisi dimana banyak bagian dari
partikel unggun tidak terbatasi, sehingga kontak gas – liquid tidak berjalan dengan
baik ( Tim penyusun, 2019 ).
Untuk memperkirakan kecepatan gas dimana terjadi floading, yang
dihubungkan dengan pressure drop, dapat dibuat kurva hubungan parameter-
parameter berikut.
Gy2 . F ρ. μ x0,1 Gx ρx
gc ( ρx−ρy)
vs
Gy √ ρ x−ρ y
...............................................................

(2.2)
Dimana :
Gy : kecepatan massa gas ( didasarkan luas penampang total
kolom ), lb/ft2.det
Gx : kecepatan massa liquid ( didasarkan luas penampang total kolom ),
lb/ft2.det
F ρ : packing factor ,t -1
ρy : densitas gas, lb/ft3
ρx : densitas liquid, lb/ft3
μ :viskositas liquid , C P
gc : 32,174 ft.lb/lbf.det
(McCabe, 1993)

Penurunan tekanan gas di sepanjang kolom/unggun dipengaruhi sejumlah


faktor berikut (dalam laporan Riduansyah, 2010) :
1. Fraksi lowong unggun jejalan
2. Laju massa gas
3. Bentuk dan ukuran efektif jejalan
4. Densitas gas
5. Laju alir cairan.

2.1.4 Menentukan Karakteristik Penurunan Tekanan Kolom


Data mentah yang diperlukan adalah pembacaan manometer pengukur laju
alir cairan dan gas serta pembacaan manometer pengukur penurunan tekanan
unggun. Rentang data didapatkan dengan memvariasikan laju laju alir udara atau
laju alir cairan. Dengan memanfaatkan kurva kalibrasi yang sesuai dan data
dimensi kolom, pembacaan manometer penunjuk laju alir gas dan manometer
penunjuk laju alir cairan dapat dikonversikan menjadi data laju alir massa
(superficial) gas dan cairan (Riduansyah, 2010).

2.1.5 Manometer
Manometer adalah suatu piranti yang sangat penting berfungsinya adalah
mengukur perbedaan tekanan. Andaikan bahwa bagian yang diarsir pada tabung U
diisi dengan zat cair A yang densitasnya ρ A. Dan bahwa lengan tabung U di atas
zat cair diisi dengan fluida B yang densitasnya ρA.Fluida B tidak dapat bercampur
dengan zat cair A dan lebih ringan dari A. Biasanya fluida B adalah gas seperti
udara atau nitrogen (McCabe, 1993).
Gambar 1.3 Manometer

2.1.6 AplikasiKolomJejal
Kolom jejal diaplikasikan sebagai alat untuk proses adsorpsi, biasanya
digunakan pada industry yaitu pada proses pembuangan gas keudara, dimana
sebelumnya gas yang masih kotor mengalami proses adsorpsi didalam kolom
jejal, tujuannya yaitu untuk menghilangkan partikel-partikel berbahaya yang
masih terdapat didalam gas sehingga partikel berbahaya yang terdapat di dalam
gas diserap oleh air dan udara bersih keluar keatas (dalam laporan Arnan, 2014).
BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat
Alat yang digunakan pada saat praktikum adalah rangkaian alat kolom
jejal.
3.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada saat praktikum adalah air dan udara.

3.3 Prosedur Percobaan


3.3.1 Penurunan Tekanan Kolom Kering
1. Hidupkan alat dengan mencolokkan kabel ke saklar
2. Bersihkan kolom dengan laju udara terbesar, agar air yang ada di dalam
packing hilang semua.
3. Set laju alir udara pada 50 liter/min.
4. Selanjutnya baca perbedaan tekanan pada manometer atas dan manometer
bawah.
5. Ukur perbedaan tekanan udara sepanjang kolom sebagai fungsi laju alir
udara dengan variasi laju alir yang berbeda yaitu
50,65,80,95,110,125,140,150 liter/menit.

3.3.2 Penurunan Tekanan Udara dan Aliran Air


1 Hidupkan pompa untuk mengisi kolom.
2 Atur laju alir air 1 liter/min.
3 Hidupkan kompresor untuk mengalirkan udara dengan kecepatan
20liter/min.
4 Ukur perbedaan tekanan pada manometer atasa dan manometer bawah.
5 Ukur perbedaan tekanan udara sepanjang kolom sebagai fungsi laju alir
udara dengan variasi laju alir udara yang berbeda yaitu
20,35,50,65,80,95,110,125,140,150 liter/menit.
6 Lakukan kembali percobaan dengan variasi laju alir air 0,1,2,3,4,5
liter/min.
3.4 GambarAlatKolomJejal
Alat yang digunakan pada percobaan ini terdiri dari peralatan lengkap
kolom jejal yang dilengkapi dengan kompresor dan pompa.

2
3

Gambar 2.1 Skema kolom jejal


Keterangan :
1. Kolom : berfungsi untuk memperluas bidang kontak antar fasa.
2. Valve laju alir air : berfungsi untuk mengatur keluaran air atau laju alir air.
3. Valve laju alir udara : berfungsi untuk mengatur keluaran udara atau laju
alir udara.
4. Manometer : untuk mengukur perbedaan tekanan.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Percobaan


3.1.1 Tabel 3.1 Penurunan Tekanan Kolom Kering

Laju Alir Udara ΔP (mmH2O)

No
Manometer Manometer
( Liter/menit ) ( ft 3/ detik )
Atas Bawah

1 50 0,0294 2 2

2 65 0,0383 5 4

3 80 0,0471 7 6

4 95 0,0559 10 8

5 110 0,0647 11 11

6 125 0,0736 13 13

7 140 0,0824 16 16

8 150 0,0883 18 18
3.1.2 Penurunan Tekanan Udara Dan Air ( Kolom Basah )

Laju Alir H2O Laju Alir Udara ΔP (mmH2O)

(Liter/menit ( ft 3/ (Liter/menit ( ft 3/ Manometer Manometer


) detik ) ) detik ) Atas Bawah

20 0,0118 1 0

35 0,0206 2 1

50 0,0294 4 2

65 0,0383 6 4

80 0,0471 8 7
0 0
95 0,0559 10 8

110 0,0647 11 10

125 0,0736 14 11

140 0,0824 16 14

150 0,0883 16 16

20 0,0118 1 1

35 0,0206 1 1

0,0294 2 2
50
65 0,0383 4 3
0,0006
80 0,0471 6 6

95 0,0559 8 8

110 0,0647 10 11
1
125 0,0736 13 13

140 0,0824 15 15

150 0,0883 17 17

20 0,0118 1 1

35 0,0206 2 2
2
0,0012
50 0,0294 4 4

65 0,0383 6 6

80 0,0471 11 11

95 0,0559 13 14

110 0,0647 19 19

125 0,0736 25 25

140 0,0824 31 31

150 0,0883 33 33

0,0118 2 1
20
35 0,0206 3 2

50 0,0294 6 5

3 65 0,0383 11 9
0,0018

80 0,0471 15 14

95 0,0559 20 22

110 0,0647 31 30

125 0,0736 42 40

140 0,0824 54 53

150 0,0883 63 63

20 0,0118 2 2

35 0,0206 4 3

50 0,0294 8 9
4
0,0023
65 0,0383 15 14

80 0,0471 21 22

95 0,0559 34 32

110 0,0647 60 52

125 0,0736 110 120

0,0824 166 160


140
150 0,0883 Floading Floading

20 0,0118 3 2

35 0,0206 7 7
5
0,0029 50 0,0294 15 12

65 0,0383 27 30

80 0,0471 50 50

95 0,0559 75 73

110 0,0647 149 160

125 0,0736 Floading Floading

140 0,0824 Floading Floading

150 0,0883 Floading Floading

3.2 Pembahasan
3.2.1 Penurunan Tekanan pada Kolom Kering
Hubungan antara laju alir udara terhadap pressure drop perhitungan dan
pressure drop percobaan pada kolom kering dapat dilihat pada Gambar 3.1 dan
Gambar 3.2.
0
0
0
Pressure Drop (mmH2O)
0
0
0
0
0
0
0
0
0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.07 0.08 0.09 0.1
laju alir udara (ft3/s)

Gambar 3.2 Grafik Hubungan Pressure Drop Perhitungan (mmH2O) Dengan


Laju Alir Udara (ft3/detik) Pada Kolom Kering.

20
18
16
Pressure drop (mmH2O)

14
12
10
kolom atas
8
kolom bawah
6
4
2
0
0.03 0.04 0.05 0.06 0.06 0.07 0.08 0.09
Laju alir (ft3/s)

Gambar 3.2 Grafik Hubungan Pressure Drop Percobaan (mmH2O) Dengan


Laju Alir Udara (ft3/detik) Untuk Kolom Atas Dan Kolom Bawah
Pada Kolom Kering.

Berdasarkan Gambar 3.1menunjukkan hubungan antara laju alir udara


terhadap penurunan tekanan perhitungan (mmH2O) didalam kolom kering.
Semakintinggilaju alir udara, semakin tinggi pula pressure dropatau penurunan
tekananyang dihasilkan. Pada laju alir udara 0,0294 ft3/s terjadi penurunan
tekanansebesar 0,000336 mmH2O dan terus mengalami kenaikan pressure drop
sampai pada laju alir 0,0883ft3/s sebesar 0,000874 mmH2O. Hal ini menunjukkan
semakin besar laju alir udara maka semakin besar pula penurunan tekanan yang
terjadi di dalam kolom. Kenaikan pressure dropatau penurunan tekanan (mmH2O)
disebabkan karena fluida yang melewati partikel unggun diam di dalam kolom,
maka aliran tersebut memberikan daya seret (drag force) pada partikel dan
menimbulkan penurunan tekanan sepanjang unggun.
Pada Gambar 3.2 menunjukkanhubungan antara laju alir udara terhadap
penurunan tekananpercobaan (mmH2O) didalam kolom kering. Penurunan
tekanan pada kolom atas dan kolom bawah sama-sama mengalami kenaikan. Pada
kolom atas nilai terendah terletak pada laju alir udara 0,0294 ft 3/detik yaitu
sebesar 2 mmH2O dan nilai tertingginya pada laju alir 0,0883 ft 3/detik yaitu
sebesar 18 mmH2O. Pada kolom bawah nilai terendah terletak pada laju alir udara
0,0294 ( ft 3/ detikyaitu 2 mmH2O dan nilai tertinggi pada laju alir 0,0883 ft 3/detik
yaitu 18 mmH2O. Pada percobaan pressure drop yang dihasilkan semakin
meningkat, ini telah sesuai dengan teori bahwa semakin tinggi laju alir udara,
maka pressure drop yang akan di hasilkan akan semakin besar pula.Pressure drop
yang dihasilkan disebabkan oleh udara yang masuk dari bawah belum stabil dan
tidak adanya pendistribusian air didalam menara sehingga udara tertahan oleh
partikel unggun.Dari hasil percobaan dapat di simpulkan semakin tinggi laju alir
udara maka penurunan tekanan juga semakin tinggi.
Penurunan tekanan kolom kering padamanometer bawah lebih besar dari
penurunan tekanan kolom atas. Hal ini terjadi karena udara yang masuk dari
bawah belum stabil. Disamping itu, karena tidak adanya pendistribusian air di
dalam menara, maka penurunan tekanan hanya disebabkan karena tertahannya
udara oleh kolom kering. Pada grafik terlihat bahwa Pressure drop(mmH2O)
terbesar terjadi pada kolom bawah dibandingkan dengan kolom atas.

3.2.2 Penurunan Tekanan Pada Kolom Basah


Hubungan antara laju alir udara terhadap pressure drop pada kolom basah
untuk kolom atas dan bawah dapat disajikan Gambar 3.2 dan Gambar 3.3
180
160

pressure drop (mmH2O) 140


120
100 laju alir air 0 ft3/s
laju alir air 0,0006 ft3/s2
80 laju alir air 0,0012 ft3/s2
60 laju alir air 0,0018 ft3/s
laju alir air 0,0023 ft3/s
40 laju alir air 0,0029 ft3/s
20
0
0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.06 0.07 0.08 0.09

laju alir udara (ft3/s)

Gambar 3.2Grafik hubungan antara laju alir udara ( ft 3/detik) terhadap pressure
drop (mmH2O) pada kolom basah untuk kolom atas.

Berdasarkan Gambar 3.2 penurunan tekanan pada kolom atas akan


semakin meningkat diikuti dengan meningkatnya laju alir air dan laju alir
udaranya. Untuk nilai terendah terdapat pada semua laju alir air dari 0 ft 3/detik
yaitu sebesar 1 mmH2O dengan laju alir udara 0,0118 ft 3/detik. Sedangkan untuk
nilai tertinggi terdapat pada laju alir air 0,0023 ft 3/detikyaitu sebesar 166 mmH2O
dengan laju alir udara 0,0824 ft 3/detik.Pada saat laju alir air 0,0023 ft 3/detik
dengan laju alir udara 0,0883 ft 3/detik, dan laju alir 0,0029 ft 3/detik dengan laju
alir udara 0,0736 ft 3/detik, terjadi floading karena air yang turun dari atas sudah
tidak mampu menghambat aliran udara dari bawah sehingga aliran air akan
meluap keluar dari kolom atas.
180
160

Pressurer drop (mmH2O) 140


120
100 laju alir air 0 ft3/s
laju alir air 0,0006 ft3/s2
80 laju alir air 0,0012 ft3/s2
60 laju alir air 0,0018 ft3/s
laju alir air 0,0023 ft3/s
40 laju alir air 0,0029 ft3/s
20
0
0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.06 0.07 0.08 0.09

Laju alir udara (ft3/s)

Gambar 3.3 Grafik hubungan antara laju alir udara ( ft 3/detik) terhadap pressure
drop (mmH2O) pada kolom basah untuk kolom bawah

Berdasarkan Gambar 3.3 penurunan tekanan pada kolom bawah semakin


meningkat diikuti dengan meningkatnya laju alir air dan laju alir udaranya, tetapi
pada laju alir udara tertentu, diperoleh hasil yang sama dengan laju udara
sebelumnya atau sesudahnya. Untuk nilai terendah terdapat pada laju alir air 0
ft3/detik yaitu sebesar 0 mmH2O dengan laju alir udara 0,0118 ft 3/detik.
Sedangkan untuk nilai tertinggi terdapat pada laju alir air 0,0029 ft 3/detikyaitu
sebesar 160 mmH2O dengan laju alir udara 0,0647 ft 3/detik. Pada saat laju alir air
0,0023 ft 3/detikdengan laju alir udara 0,0883 ft 3/detik, dan laju alir air 0,0029 ft 3
/detik dengan laju alir udara 0,0736 ft 3/detik., terjadi floading karena air yang
turun dari atas sudah tidak mampu menghambat aliran udara dari bawah sehingga
aliran air akan meluap keluar dari kolom atas.
Pada kedua gambar diatas dapat dilihat penurunan tekanan yang paling
besar terjadi pada kolom bawah. Hal ini disebabkan hambatan yang dilalui udara
pada kolom bawah jauh lebih besar dibanding kolom atas, sehingga tekanan yang
hilang juga semakin besar.
0.8
0.7
0.6

Kecepatan Massa Air


0.5
0.4
laju alir air 0,0029 ft^3/s
0.3 laju alir air 0,0023 ft^3/s
laju alir air 0,0018 ft^3/s
0.2
laju alir air 0,0012 ft^3/s
0.1 laju alir air 0,0006 ft^3/s
0
67 2 3 92 73 67 7 4 93 2 4 68 2 7
3 . 11 . 2 2 . 3 8 . 5 8 . 82 . 1 0 . 4 3 . 7 9 . 0 6 .
1 1 1 2

Kecepatan Massa Gas

Gambar 3.5 Grafik hubungan antara kecepatan massa gas vs kecepatan massa air
dan gas pada berbagai laju alir air.
Berdasarkan Gambar 3.5 dapat dilihat grafik hubungan antara kecepatan
massa udara terhadap kecepatan massa air dan gas pada berbagai laju alir air.
Kitadapatmemperkirakankecepatan gas dimanaterjadi flooding, yang dihubungkan
dengan penurunan tekanan.Semakin kekanan kecepatan gas semakin tinggi dan
penurunan tekanan semakin rendah. Hal ini dikarenakan pada saat terjadi flooding
penurunan tekanan tidak dapat diukur karena manometer terus bergerak yang pada
akhirnyaakanterjadi flooding.
Dari Gambar 3.3, Gambar 3.4, Gambar 3.5 dapat dilihat bahwa pada
laju alir udara dan laju alir air tertentu, kecepatan massa air dan kecepatan massa
udara memiliki hubungan yang berbanding terbalik terhadap pressure drop. Pada
kolom basah semakin besar laju alir udara dan laju alir air maka semakin besar
pressure drop yang terjadi, sedangkan kecepatan massa air dan udara akan
semakin kecil.

Berdasarkan hasil percobaan secara keseluruhan, didapatkan penurunan


tekanan yang paling besar terjadi pada kolom basah. Hal ini dikarenakan
hambatan yang dilalui udara pada kolom basah jauh lebih besar dibandingkan
kolom kering. Hambatan yang dilalui pada kolom kering hanya unggun/isian pada
kolom, sedangkan pada kolom basah hambatan yang dilaluinya selain unggun
juga air yang masuk dari atas kolom sehingga akan mengurangi ruang yang
tersedia untuk aliran udara.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Kesimpulan dalam percobaan ini adalah :
1. Peralatan hidrodinamika kolom jejal dapat dioperasikan dengan baik.
2. Floading mulai terjadi pada laju alir udara sebesar 150 liter/menit dengan
laju alir air 4 liter/menit
3. Pressuredrop tertinggi yang dicapai pada kolom kering untuk kolom atas
yaitu sebesar 16 mmH2O pada laju alir udara 150 liter/menit. Dan untuk
kolom bawah pressure drop-nya yaitusebesar 16 mmH2O pada laju alir
udara 150 liter/menit.
4. Pressure drop tertinggi yang dicapai pada kolom basah untuk kolom atas
dan kolom bawah terjadi pada laju alir air 4 liter/menit dan laju alir udara
140 liter/menit yaitu masing-masing sebesar 166 mmH2O dan 160 mmH2O.
5. Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi laju alir
udara maka semakin besar pula pressure drop (penurunan tekanannya).

4.2 Saran
Saran dalam percobaan ini adalah :
1. Agar kontak udara dan cairan berjalan dengan baik maka sebelum
melakukan percobaan pada kolom basah sebaiknya partikel unggun dibasahi
terlebih dahulu sampai beberapa menit.
2. Apabila terjadi floading dalam pengukuran segera matikan alat agar air
tidak meluap dari atas kolom dan tidak masuk ke dalam manometer.
3. Pratikan lebih teliti dalam pembacaan monometer.
DAFTAR PUSTAKA
Arnan, J. H., Lina K., Mulya K., dan Nadia N. U. 2016. Hidrodinamika Kolom
Jejal. Laboratorium Instruksional Dasar Proses Dan Operasional Pabrik
Program Studi D-III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas
Riau. Pekanbaru.
Ghozali, M., Retno, I., dan Harita. 1996. Operasi Teknik Kimia. Pusat
Pengembangan Pendidikan Politeknik Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bandung.
Kristanti, F., Muhammad I. R., dan Sela A. B. S. 2015. Hidrodinamika Kolom
Jejal. Laboratorium Instruksional Dasar Proses Dan Operasional Pabrik
Program Studi D-III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas
Riau. Pekanbaru.
Leva, M..1935 dalam laporan Winarno, T., Hutari A., Ganda Putra P. L. T.
(2018).Hidrodinamika Kolom Jejal. Laboratorium Instruksional Dasar
Proses Dan Operasional Pabrik Program Studi D-III Jurusan Teknik Kimia
Fakultas Teknik Universitas Riau. Pekanbaru.
McCabe. W.L, J.C. Smith dan P. Harriot. 1993. Unit Operations of Chemical
Engineering, Edisi 4 Jilid 2.McGraw-Hill. New York.
Riduansyah, R., Liza O S., Mulya K., dan Miftakhul F. 2012. Hidrodinamika
Kolom Jejal. Laboratorium Instruksional Dasar Proses Dan Operasional
Pabrik Program Studi D-III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik
Universitas Riau. Pekanbaru.
Siallagan, D,. 2016. Makalah Kelompok 8 Dasar-Dasar
Hidrodinamika.http://diantysiallagan.blogspot.com/2016/09/makalah-
kelompok-8-dasar-dasar.html. (Diakses 19 Maret 2019)
Tim Program Studi. 2019. Penuntun Praktikum Operasi Teknik Kimia II.
Laboratorium Dasar-Dasar Proses Kimia Program Studi D-III Jurusan
Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau. Pekanbaru.
LAMPIRAN A
LAPORAN SEMENTARA

Judul Praktikan : Hidrodinamika Kolom Jejal


Dosen Pengampu : Komalasari,ST,MT
Hari/Tanggal Praktikum : Jumat,6 Maret 2020
Asisten Laboratorium : Nurvalis Annurtin
Nama Kelompok : 1. Aprilia Larasati
2. Kurniawan
3. Muhammad Iqbal
4. Mohd.Rezeki
 Penurunan Tekanan Kolom Kering
1. Hidupkan alat dengan mencolokkan kabel ke saklar
2. Bersihkan kolom dengan laju udara terbesar, agar air yang ada di dalam
packing hilang semua.
3. Set laju alir udara pada 30liter/min
4. Selanjutnya baca perbedaan tekanan pada manometer atas dan manometer
bawah.
5. Ukur perbedaan tekanan udara sepanjang kolom sebagai fungsi laju alir udara
dengan variasi laju alir yang berbeda yaitu 40, 50, 60, 70, 80, 90, 100, 110,
120 liter/menit.

ΔP (mmH2O)

Laju Alir Udara


Manometer
No Manometer Atas
Bawah

(Liter/menit) ( ft 3/ detik ) Kiri Kanan Kiri Kanan

1 50 0,0176 212 210 268 270

2 65 0,0235 213 208 267 271

3 80 0,0294 214 207 266 272


4 95 0,0353 215 205 265 273

5 110 0,0411 216 205 264 275

6 125 0,0470 217 204 263 276

7 140 0,0529 219 203 261 277

8 150 0,0588 220 202 260 278

 Penurunan Tekanan Udara dan Aliran Air (Kolom Basah)


1. Hidupkan pompa untuk mengisi kolom.
2. Atur laju alir air 1,5liter/min.
3. Hidupkan kompresor untuk mengalirkan udara dengan kecepatan 30liter/min.
4. Ukur perbedaan tekanan pada manometer atasa dan manometer bawah.
5. Ukur perbedaan tekanan udara sepanjang kolom sebagai fungsi laju alir udara
dengan variasi laju alir udara yang berbeda yaitu 40, 50, 60, 70, 80, 90, 100,
110, 120 liter/menit.
6. Lakukan kembali percobaan dengan variasi laju alir air 1,5; 2,5; 3,5; 4,5; 5,5
liter/menit.

ΔP (mmH2O)
Laju Alir H2O Laju Alir Udara
No Manometer Atas Manometer Bawah

(Liter/menit) ( ft 3/ detik ) (Liter/menit) ( ft 3/ detik ) Kiri Kanan Kiri Kanan

1 0 0 20 0,0176 211 210 269 269

35 0,0235 212 210 270 269

50 0,0294 213 209 270 268

0,0353 214 208 271 267


65
80 0,0411 215 207 273 266

95 0,0470 216 206 273 265

110 0,0529 217 206 274 264

125 0,0588 218 204 276 265

140 0,0647 219 203 276 262

150 0,0706 219 203 277 261

20 0,0176 212 211 270 269

35 0,0235 212 211 270 268

50 0,0294 212 210 271 268

65 0,0353 213 209 271 268

80 0,0411 214 208 273 267


2 1 0,00059
95 0,0470 215 207 273 265

110 0,0529 216 206 275 264

125 0,0588 217 206 275 264

140 0,0647 217 204 277 262

150 0,0706 219 202 278 261

3 2 0,0012 20 0,0176 211 210 270 269

0,0235 212 210 270 268


35
50 0,0294 213 209 271 267

65 0,0353 214 208 273 267

80 0,0411 216 205 276 265

95 0,0470 217 204 277 263

110 0,0529 220 201 279 260

125 0,0588 223 198 282 257

140 0,0647 226 195 285 254

150 0,0706 227 194 286 253

20 0,0176 212 210 270 269

35 0,0235 213 210 270 268

50 0,0294 214 208 272 267

65 0,0353 216 205 274 265

80 0,0411 218 203 277 263


4 3 0,0018
95 0,0470 221 201 280 258

110 0,0529 226 195 285 255

125 0,0588 232 190 290 250

140 0,0647 238 184 296 243

150 0,0706 244 171 301 238


20 0,0176 212 210 270 268

213 209 271 268


35 0,0235

215 207 274 265


50 0,0294

65 0,0353 218 223 277 263

80 0,0411 220 199 280 258


5 4 0,0023
95 0,0470 228 194 285 253

110 0,0529 240 180 295 243

125 0,0588 265 155 330 210

140 0,0647 293 127 350 190

150 0,0706 Floading Floading Floading Floading

6 5
20 0,0176 212 209 270 268

35 0,0235 214 207 273 266

50 0,0294 218 203 276 264

65 0,0353 224 197 285 255

80 0,0411 235 185 295 245

95 0,0470 247 172 305 232

110 0,0529 285 136 350 190

0,0588 Floading Floading Floading Floading


125
Floading Floading Floading Floading
140 0,0647

Floading Floading Floading Floading


150 0,0706

Data parameter yang diketahui :


Diameter Partikel (Dp) : 1 cm = 0,0328084 ft
Jari – jari Partikel (r) : 0,0164042 ft
Tinggi Partikel (hp) : 1 cm : 0,0328084 ft
Diameter Kolom (Di) : 9 cm = 0,295276 ft
Jari – jari unggun : 0,147638 ft
Tinggi Unggun (∆L) : 52 cm = 1,70604 ft
Viskositas Udara (μ) : 1,983 x 10-5 Kg/m3 = 1,3325 x 10-5 lb/ft.s
Densitas air (ρx) : 0,998 x 103 kg/m2 = 62,428 lb/ft3
Densitas udara (ρy) : 1,2 kg/m2= 0,0749136 lb/ft3
Viskositas air (μ) : 1x10-3N s/m2 = 0,6719689 lb/ft.s
gc : 32,174 ft.lb/lbf.s
Luas permukaan (A) :0,06844251 ft2
Packing factor (Fp) : 66,4

Mengetahui Pekanbaru, 06 Maret 2020


Asisten Praktikan

Nurvalis annurtin Aprilia larasati


LAMPIRAN B
PERHITUNGAN

1. KOLOM KERING
Data Parameter Yang Diketahui

DiameterKolom (D) : 0,295276ft


Jari – jari Kolom : 0,147638 ft
Tinggi Kolom (∆L) : 52 cm = 1,70604 ft
Diameter Partikel (Dp) : 1 cm = 0,0328084 ft
Jari – jari Partikel (r) : 0,0164042 ft
Tinggi Partikel (hp) : 1 cm : 0,0328084 ft
Viskositas Udara (μ) : 1,983 x 10-5Kg/m3 = 1,3325 x 10-5 lb/ft.s
Densitas udara : 1,2 kg/m3= 0,0749136 lb/ft3
Volume partikel – Volume Kolom
Ɛ =[ ]
Volume Kolom

Volume Partikel = πr2t


Volume Partikel = 3,14 x (0,0164042 ft)2 x 0,0328084 ft
Volume Partikel = 2,7722 x 10-5 ft3
Volume Kolom = πr2t
Volume Kolom = 3,14 x (0,147638 ft)2 x 1,70604 ft
Volume Kolom = 0,11676566 ft3
Maka,
2,7722 x 10−5 ft 3 – 0,11676566 ft 3
Ɛ =[ ]
0,11676566 ft 3
Ɛ = 0,99
Porositas Ungun (Ɛ) : 0,99

Nilai ∆P Perhitungan :

 Laju alir udara 20 liter/menit


2 ' 2
150 μ ∆ L ( 1−Ɛ ) 1,75 ρ(V ) ∆ L 1−Ɛ
∆P = +
Dp 2 Ɛ3 Dp Ɛ3

∆P = 1501,3325 x 10−5 lb/ft . s 1,70604 ft


¿¿
∆P = 0,000336 mmH2O

 Laju alir udara 35 liter/menit


2 ' 2
150 μ ∆ L ( 1−Ɛ ) 1,75 ρ(V ) ∆ L 1−Ɛ
∆P = +
Dp 2 Ɛ3 Dp Ɛ3
1501,3325 x 10−5 lb /ft . s 1,70604 ft
∆P =
¿¿
∆P = 0,000356 mmH2O

 Laju alir udara 50 liter/menit


2 ' 2
150 μ ∆ L ( 1−Ɛ ) 1,75 ρ(V ) ∆ L 1−Ɛ
∆P = +
Dp 2 Ɛ3 Dp Ɛ3

∆P = 1501,3325 x 10−5 lb/ft . s 1,70604 ft


¿¿
∆P = 0,000387 mmH2O
 Laju alir udara 65 liter/menit
2 ' 2
150 μ ∆ L ( 1−Ɛ ) 1,75 ρ(V ) ∆ L 1−Ɛ
∆P = +
Dp 2 Ɛ3 Dp Ɛ3

∆P = 1501,3325 x 10−5 lb/ft . s 1,70604 ft


¿¿
∆P = 0,000429 mmH2O

 Laju alir udara 80 liter/menit


2 ' 2
150 μ ∆ L ( 1−Ɛ ) 1,75 ρ(V ) ∆ L 1−Ɛ
∆P = +
Dp 2 Ɛ3 Dp Ɛ3
1501,3325 x 10−5 lb /ft . s 1,70604 ft
∆P =
¿¿
∆P = 0,000482 mmH2O

 Laju alir udara 95 liter/menit


2 ' 2
150 μ ∆ L ( 1−Ɛ ) 1,75 ρ(V ) ∆ L 1−Ɛ
∆P = +
Dp 2 Ɛ3 Dp Ɛ3

∆P = 1501,3325 x 10−5 lb/ft . s 1,70604 ft


¿¿
∆P = 0,000546 mmH2O

 Laju alir udara 110 liter/menit


2 ' 2
150 μ ∆ L ( 1−Ɛ ) 1,75 ρ(V ) ∆ L 1−Ɛ
∆P = 2 3
+ 3
Dp Ɛ Dp Ɛ
1501,3325 x 10−5 lb /ft . s 1,70604 ft
∆P =
¿¿
∆P = 0,000620 mmH2O

 Laju alir udara 125 liter/menit


2 ' 2
150 μ ∆ L ( 1−Ɛ ) 1,75 ρ(V ) ∆ L 1−Ɛ
∆P = +
Dp 2 Ɛ3 Dp Ɛ3

∆P = 1501,3325 x 10−5 lb/ft . s 1,70604 ft


¿¿
∆P = 0,000707 mmH2O

 Laju alir udara 140 liter/menit


2 ' 2
150 μ ∆ L ( 1−Ɛ ) 1,75 ρ(V ) ∆ L 1−Ɛ
∆P = +
Dp 2 Ɛ3 Dp Ɛ3
1501,3325 x 10−5 lb /ft . s 1,70604 ft
∆P =
¿¿
∆P = 0,000803 mmH2O

 Laju alir udara 150 liter/menit


2 ' 2
150 μ ∆ L ( 1−Ɛ ) 1,75 ρ(V ) ∆ L 1−Ɛ
∆P = +
Dp 2 Ɛ3 Dp Ɛ3

∆P = 1501,3325 x 10−5 lb/ft . s 1,70604 ft


¿¿
∆P = 0,000874 mmH2O
2. Perhitungan Kolom Basah
2 0, 1
Gy Fp μ
Mencari Nilai
gc (ρx−ρy )
Densitas air (ρx) : 0,998 x 103 kg/m2 = 62,428 lb/ft3
Densitas udara (ρy) : 1,2 kg/m2= 0,0749136 lb/ft3
Viskositas air (μ) : 1x10-3N s/m2 = 0,6719689 lb/ft.s
gc : 32,174 ft.lb/lbf.s
Luaspermukaan (A) :0,06844251 ft2
Packing factor (Fp) :66,4

L 2,2046lb 1 mnt 1
Gx :1 x x x
menit 1 liter 60 second 0,06844251 ft 2
: 0,5368 lb/ft2s

L 2,2046lb 1 mnt
Gy : 20 x x x
menit 1 liter 60 second

1
0,06844251 ft 2
: 10,7639 lb/ft2s

Gy2 Fp μ0,1
= ¿¿
gc (ρx−ρy )
= 3,67
Gx ρx
Mencari nilai
Gy √ ρx−ρy

0,5368lb/ft 2 s 62,428 lb/ft 3


Gx
Gy √ ρx
ρx−ρy

= 0,05

= 10,7369lb/ft 2 . s lb
62,428 3 −0,0749136 3
ft
lb
ft

LAMPIRAN C
DOKUMENTASI
Gambar C.1 Mengatur laju alir Gambar C.2 Terjadinya Floading
Udara dan air

Gambar C.3 kolom bawah Gambar C.4 proses pengaliran


udara dan air pada kolom
LAMPIRAN D
TABEL HASIL
C.1 Tabel hasil Perhitungan Penurunan tekanan pada kolom kering

Laju Alir Udara


No ΔP (mmH2O)
3
( Liter/menit ) ( ft / detik )

1 20 0,0118 0,000336

2 35 0,0206 0,000356

3 50 0,0294 0,000387

4 65 0,0383 0,000429

5 80 0,0471 0,000482

6 95 0,0559 0,000546

7 110 0,0647 0,000620

8 125 0,0736 0,000707

9 140 0,0824 0,000803

10 150 0,0883 0,000874


C.2 Tabel Hasil perhitungan penurunan tekanan pada kolom basah

Laju Alir Udara


No ΔP (mmH2O)
3
( Liter/menit ) ( ft / detik )

1 50 0,0294 0,000387

2 65 0,0383 0,000429

3 80 0,0471 0,000482

4 95 0,0559 0,000546

5 110 0,0647 0,000620

6 125 0,0736 0,000707

7 140 0,0824 0,000803

8 150 0,0883 0,000874

C.3 Tabel hasil perhitungan penentuan nilai Gx dan Gy

Laju Alir H2O Laju Alir Udara


Gx Gy
No
(lb/ ft 2 x detik ¿ (lb/ ft 2 x detik ¿
(Liter/menit) ( ft 3/ detik ) (Liter/menit) ( ft 3/ detik )

20 0,0118
10,73699

35 0,0206
18,78974
0,0294 26,84248
50
65 0,0383
34,89522

80 0,0471
42,94797

95 0,0559
51,00071

110 0,0647
59,05345
1
1 0,0736
0,0006 0,537 125
67,1062

140 0,0824
75,15894

150 0,0883
80,52744

20 0,0118
10,73699

35 0,0206
18,78974

50 0,0294
26,84248

65 0,0383
34,89522

80 0,0471
42,94797
2 2 0,0012 1,0734
95 0,0559
51,00071

110 0,0647
59,05345

125 0,0736
67,1062

140 0,0824
75,15894

150 0,0883
80,52744
0,0118 10,73699
3 0,0018 1,6105 20
35 0,0206
18,78974

3 50 0,0294
26,84248

65 0,0383
34,89522

80 0,0471
42,94797

95 0,0559
51,00071

110 0,0647
59,05345

125 0,0736
67,1062

140 0,0824
75,15894

150 0,0883
80,52744

4 0,0023 2,1474 20 0,0118


10,73699

35 0,0206
18,78974

50 0,0294
4 26,84248

65 0,0383
34,89522

80 0,0471
42,94797

95 0,0559
51,00071

110 0,0647
59,05345

125 0,0736
67,1062
0,0824 75,15894
140
150 0,0883
80,52744

20 0,0118
10,73699

35 0,0206
18,78974

50 0,0294
26,84248

65 0,0383
34,89522

80 0,0471
42,94797
5 5 0,0029 2,6842
95 0,0559
51,00071

110 0,0647
59,05345

125 0,0736
67,1062

140 0,0824
75,15894

150 0,0883
80,52744