Anda di halaman 1dari 2

RANGKUMAN

THE IMPACT OF IMPORTED BEEF BOXED TO FEEDLOT BUSINESS


DEVELOPMENT IN INDONESIA
Rochadi Tawaf, H.A.W. Lengkey

Disusun oleh :
Kelompok 5
Fathir aulia maulana faisal 200110170316
Jajang Nurhidayat 200110170322
Orin Alfari 200110170329

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PETERNAKAN
PANGANDARAN
2020
DAMPAK DARI IMPOR DAGING SAPI KE PERKEMBANGAN BISNIS DI
INDONESIA
Oleh Rochadi Tawaf

Di Indonesia, jumlah populasi ternak sapi potong berkisar antara 11,8 juta ekor.
Secara umum ternak dipelihara oleh peternakan feedlot skala kecil dan hanya beberapa
diantaranya dibesarkan oleh perusahaan feedlot. Permasalahan utama yang dihadapi adalah
kualitas indukan, ukuran feedlot yang kecil dan kualitas pakan yang rendah (hijauan dan
konsentrat). Performa produksi memperlihatkan bahwa pertumbuhan bobot harian mencapai
0,5-0,9 kg/hari/ekor pada peternakan feedlot skala kecil dan 1,2-1,5 kg/hari/ekor di
perusahaan feedlot. Pada beberapa tahun, peternak sapi potong tertarik untuk melakukan
crossbreeding sapi Simmental dan Limousine dengan sapi lokal atau dengan sapi peranakan
Ongole, untuk mencapai performa ternak yang baik. Menurut laporan dari Meat and
Livestock Australia pada tahun 2009, ekspor sapi potong hidup dan karkasnya ke Indonesia
berkembang pesat selama empat tahun terakhir. Di tahun 2007-08 jumlah sapi potong di
Indonesia sebanyak 547.000 ekor, sedangkan pada tahun 2006-07 berjumlah 452.000 ekor,
ekspor karkas mencapai 46.100 ton di 2007-08 meningkat sebanyak dua kali lipat dari semula
28.000 ton di 2006-07. Jumlah harga yang ditaksir dari perdagangan ternak hidup mencapai
341 juta USD pada 2007-08, dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya mencapai 99 juta
USD. Indonesia merupakan pasar tingkat ketiga setelah pasar Amerika dan Jepang, dan
berkembang sangat pesat. Serta diprediksi meningkat sebanyak 12% di 2009, dan akan
meningkat pada tahun selanjutnya. Di Indonesia terdapat perbedaan harga daging sapi antara
daging lokal dengan daging impor, untuk daging impor Australia seharga Rp. 42.500/kg
(sekitar 4 USD) sementara daging lokal seharga Rp. 55.000/kg atau 5 USD. Hal ini
berpengaruh terhadap peternak sapi potong di Australia yang menjual langsung ternaknya ke
rumah potong, sementara akibat perbedaan harga tersebut telah berpengaruh terhadap harga
daging sapi di Indonesia sehingga menimbulkan efek negatif kepada peternak skala kecil
maupun perusahaan feedlot, karena biaya produksi melebihi dari harga daging sapi yang telah
ditetapkan di pasar. Apabila kebijakan impor daging sapi dari Australia akan diteruskan
dalam jangka panjang, bisnis peternakan feedlot di Indonesia akan mengalami bangkrut.
Untuk mengantisipasi hal ini dalam jangka panjang, Australia harus mengekspor sapi potong
(baik jantan yang telah dikebiri maupun sapi dara) ke Indonesia dengan harga yang bersaing.
Perbedaan harga antara daging impor Australia dan daging lokal Indonesia menyebabkan
ketidakseimbangan harga pasar bagi daging sapi lokal dan mempengaruhi industri feedlot di
Indonesia, dan akan mengurangi harga ternak hidup yang di impor dari Australia. Kondisi ini
tidak menguntungkan bagi peternak sapi potong di bagian utara Australia serta bisnis feedlot
di Indonesia.