Anda di halaman 1dari 9

RANGKUMAN MATERI SUPPOSITORIA

NAMA : WINDA UTARI


NIM : 70100118032
KELAS: C

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
DEFINISI SUPPOSITORIA

Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal,
vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Suppositoria dapat
bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa terapetik yang bersifat lokal atau
sistemik (Kemenkes, 2014).

Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan padat yang pemakaiannya dengan cara memasukkan melalui
lubang atau celah pada tubuh, dimana ia akan melebur, melunak atau melarut dan memberikan efek
lokal atau sistemik (Ansel, 2005).

Supositoria adalah sediaan farmasi padat yang dirancang untuk dimasukkan ke dalam rectum di mana
massa supositoria akan melebur, melarut, terdispersi, dan menunjukkan efek lokal atau sistemik (Agoes,
2013).

Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan obat padat yang umumnya dimaksudkan untuk dimasukkan
ke dalam rectum, vagina, dan jarang digunakan untuk uretra. Supositoria rektal dan uretral biasanya
menggunakan pembawa yang meleleh atau melunak pada temperaturtubuh, sedangkan supositoria
vaginal, kadang-kadang disebut pessaries, juga dibuat sebagai tablet kompresi yang hancur dalam cairan
tubuh (Lachman, 2012).

a. Menurut FI edisi III hal 32

Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk torpedo, dapat
melarut, melunak atau meleleh pada suhu tubuh.

b. Menurut FI edisi IV hal 16

Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina
atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.

Menurut Ilmu Meracik Obat hal 158

Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur berbentuk terpedo, dapat melunak,
melarut, atau meleleh pada suhu tubuh.

C. Menurut Ansel hal 576

Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan padat yang pemakaianya dengaan cara memasukkan kedalam
lubang atau celah dalam tubuh dimana ia akan melebur, melunak atau larut dan memberikan efek lokal
atau sistemik.

D. Menurut Ilmu Meracik Obat hal 158

Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur berbentuk terpedo, dapat melunak,
melarut, atau meleleh pada suhu tubuh.
JENIS-JENIS SUPPOSITORIA

1. Supositoria rectal, sering disebut sebagai supositoria saja, berbentupeluru, digunakan lewat rektum
atau anus. Menurut FI edisi III bobotnyaantara 2-3 gram, yaitu untuk dewasa 3 g dan anak 2 g,
sedangkanmenurut FI edisi IV kurang lebih 2 g. Supositoria rektal berbentuk torpedo mempunyai
keunggulan, yaitu jika bagian yang besar masuk melaluijaringan otot penutup dubur, supositoria akan
tertarik masuk dengansendirinya.

2. Supositoria vaginal (ovula), berbentuk bola lonjong seperti kerucut,digunakan lewat vagina, berat
antara 3-5 g, menurut FI III 3-6 g, umumnya 5 g.

3. Supositoria uretra (bacilli, bougies) digunakan lewat uretra, berbentuk

batang dengan panjang antara 7-14 cm. Supositoria untuk saluran urin

wanita panjang dan beratnya 2 g, inipun bila Oleum Cacao sebagai

basisnya. (Hartati, 2016:32)

1.    Suppositoria rektal

Berbentuk silindris dan kedua ujungnya tajam, peluru, torpedo atau jari-jari kecil. Ukuran panjangnya ±
32 mm (1,5 inchi). Amerika menetapkan beratnya 2 gram untuk orang dewasa bila oleum cacao yang
digunakan sebagai vasis. Sedangkan untuk bayi dan anak-anak ukuran dan beratnya ½ dari ukuran dan
berat orang dewasa, bentuknya kira-kira seperti pensil

2.    Suppositoria vagina

Biasanya berbentuk bola lonjong atau seperti kerucut sesuai dengan kompendik resmi, beratnya 5 gram,
apabila basisnya oleum cacao, sebab lagi tergantung pada macam basis dan masing-masing pabrik yang
membuatnya.

3.    Suppositoria uretra (Bougie)

Bentuk ramping seperti pensil, gunanya untuk dimasukan kedalam lambung urine/saluran urine pria
atau wanita 1 garis tengah 3-6 mm dengan panjang  ± 140 mm. Walaupun ukuran ini masih bervariasi
antar yang satu dengan yang lain apabila basisnya dari oleum cacao, maka beratnya ± 4 gram untuk
wanita panjang dan beratnya ½ dari ukuran untuk pria. Panjang kurang lebih 78 mm dan beratnya 2
gram inipun bila oleum cacao sebagai basisnya. (Ansel hal 576-577)

1.    Suppositoria rektal

Biasanya berbentuk silinder, bulat atau terpedo, bentuk silinder berdiameter ¼ dari jarak dasar dan
biasanya mengecil pada ujungnya dan bentuk ini meruncing setelah dimasukan kedalam rektum,
memiliki ukuran yang bervariasi untuk dewasa berat normalnya 2 gram, sedangkan untuk anak-anak
kurang dari 2 gram.

2.    Suppositoria vagina

Bentuk oval biasanya beratnya berkisar 5 gram, tetapi tergantung dari produksinya. Obat ini
dimetabolisme didalam vagina dimaksudkan untuk efek lokal dan efek sistemik.
3.    Suppositoria uretra

Memiliki tiga rute dalam kerjanya, rute ini menghsilkan aksi lokal, biasanya denga anti injeksi,
suppositoria ini panjang dan bulat, panjangnya sekitar 60 mm dan diameternya 4,5 mm. (Dom Hoover
hal 163)

MEKANISME KERJA SUPPOSITORIA

Mekanisme kerja supositoria dibagi menjadi

tiga kelompok yaitu

1. supositoria berefek mekanik bahan dasar supositoria berefek mekanik tidak peka pada penyerapan.
Supositoria mulai berefek bila terjadi kontak yang menimbulkan refleks defikasi, namun pada keadaan
konstipasi refleks tersebut lemah. Pada efek kontak tersebut terutama pada supositoria gliserin terjadi
fenomena osmose yang disebabkan oleh afinitas gliserin terhadap air. Hal tersebut menimbulkan
gerakan peristaltik

2. supositoria berefek setempat termasuk dalam kelopok ini adalahsupositoria anti wasir. Yaitu senyawa
yang efeknya disebabkan oleh adanya sifat astringen atau peringkas pori. Ke dalam basis supositoria
yang sangt beragam kadang-kadang ditambahkan senyawa peringkas pori baik dengan cara
penyempitan maupun hemostatik. Dalam formula supositoria sering terdapat senyawa penenang. Obat
tersebut bekerja secara rangkap baik terhadap perifer maupun sentral yang terakhir ini sepenuhnya
berefek sistemik.

3. supositoria berefek sistemik adalah supositoria yang mengandung senyawa yang diserap dan berefek
pada organ tubuh selain rektum. Pada kelompok ini termasuk supositoria nutritif, supositoria obat.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ABSORPSI OBAT PER REKTAL

Faktor Fisiologis

Rektum mengandung sedikit cairan dengan pH 7,2 dan kapasitas dapar rendah. Epitel rektum sifatnya
berlipoid (berlemak) maka diutamakan permeabel terhadap obat yang tidak terionisasi (obat yang
mudah larut dalam lemak).

Faktor Fisika-Kimia Obat dan Basis

1. Kelarutan obat : obat yang mudah larut dalam lemah akan lebih cepat terabsorbsi dari pada
obat yang larut dalam air.
2. Kadar obat dalam basis: jika kadar obat makin besar, absopsi obat semakin cepat.
3. Ukuran partikel: ukuran partikel obat akan memengaruhi kecepatan larutnya obat ke cairan
rektum.
4. Basis suppositoria: obat yang larut dalam air dan berada dalam basis lemak akan segera
dilepaskan ke cairan rektum jika basis dapat segera terlepas setelah masuk kedalam rektum ;
obat segera diabsorpsi dan aksi kerja awal obat akan segera muncul. Jika obat larut dalam air
dan terdapat dalam basis larut air, aksi kerja awal obat akan segera muncul jika basis tadi cepat
larut dalam air. (Ilmu Resep, 2005 hal 154)
1.    Faktor Fisiologi
Rectum manusia panjangnya ± 15 – 30 cm. Pada waktu kosong, rectum hanya berisi 2 – 3 ml cairan
mukosa yang inert. Dalam keaadan istirahat, rectum tidak ada gerakan vili dan microvili pada mukosa
rectum. Akan tetapi terdapat vaskularisasi adsorbsi obat dan rectum adalah kandungan kolon, jalur
sirkulasi dan pH serta tidak adanya kemampuan mendapat cairan rectum.

a)    Kandungan Kolon
Apabila diinginkan efek sistemik dari suppositoria yang mengandung obat absorbsi yang lebih besar,
lebih banyak terjadi pada rectum yang kosong dan rectum yang dikembungkan oleh fases ternyata
obat lebih mengabsorbsi dimana tidak ada fases.

b)    Jalur Sirkulasi

Obat yang diabsorbsi melalui rectum tidak seperti obat yang diabsorbsi setelah pemberian secara
oral. Tidak melalui sirkulasi porta, sewaktu didalam perjalanan sirkulasi yang lazim. Dalam hal ini obat
dimungkinkan dihancurkan didalam hati.

c)    pH
Tidak adanya kemampuan mendapat dari cairan rektum karena cairan rectum pada dasarnya pada
pH 7 – 8 dan kemampuan mendapat tidak ada, maka bentuk obat yang digunakan lazimnya secara
kimia tidak berubah oleh lingkungan rectum.

2. Faktor Fisika – Kimia

a) Kelarutan lemak – air


Suatu obat lifofil yang terdapat dalam suatu basis. Suppositoria berlemak dengan konsistensi rendah
memiliki kecenderungan yang kurang untuk melepaskan diri dari kedalam cairan sekelilingnya.
Dibandingkan jika tidak ada bahan hidrofilik pada bahan/basis berlemak  dalam batas-batas untuk
mendekati jenuhnya.
b) Ukuran Partikel
Semakin kecil ukuran partikel, semakin mudah larut dan lebih besar kemungkinan untuk lebih cepat
diabsorbsi.
c)    Sifat basis
Basis harus mampu mencair, melunak atau melarut supaya pelepasan kandungan obatnya untuk
diabsorbsi. Apa bila terjadi interaksiantara basis dengan lelehan lepas, maka adsorbsi akan terganggu
atau malah dicegah. (Menurut Ansel hal 579)

BAHAN DASAR SUPPOSITORIA


Oleum cacao (lemak coklat), gelatin trgliseria , minyak nabati terhidrogenasi, campuran PEG dengan
berbagai bobot molekul, ester asam lemak PEG. Bahan dasar lain seperti surfaktan nonionik dapat
digunakan , misalnya ester asam lemak polioksietilen sorbitan dan polioeksietilen stearat.

Bahan dasar suppositoria yang ideal harus mempunyai sifat sebagai berikut:
1. Padat pada suhu kamar sehingga dapat dibentuk dengan tangan atau dicetak, tetapi akan melunak
pada suhu rektum dan dapat bercampur dengan cairan tubuh.
2. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi.
3. Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat.
4. Stabil dalam penyimpanan, tidak menunjukkan perubahan warna, dan bau serta pemisahan obat.
5. Kadar air mencukupi
6. Untuk basis lemak maka bilangan asam, bilangan asam, bilangan iodium dan bilangan penyabunan
harus diketahui jelas.

(ilmu resep. 2005:155)

Adapun perbedaan dari PEG 1000 dengan PEG 5000 yaitu PEG>1000 berwarna putih atau hampir
putih, dan memiliki konsistensi dari bentuk pasta hingga serpihan lilin. (Anonim. Handbook of
Pharmaceutical Excipients Second edition. Edited by Ainley wade and Paul J Weller. Washington:
American Pharmaceutical Association. 1994:355-361, 428-430) Polietilen glikol secara kimia stabil
dalam udara dan dalam larutan. Polietilen glikol sangat higroskopis, walaupun higroskopis menurun
dengan peningkatan berat molekul. Bentuk padat, PEG 4000 dan di atasnya tidak bersifat higroskopis.
PEG 200 mempunyai higroskopis 70% dari gliserol tetapi akan menurun dengan peningkatan berat
molekul. (Florence,AT,D Attwood. Physicochemical Principles of Pharmacy, Second Edition. London:
Macmillan Press. 1988: 309-310)

Karakteristik dosis umumnya dosis untuk pemberian obat secara rektal adalah satu setengah
sampai dua kali atau lebih dosis oral, kecuali untuk obat-obat yang sangat kuat. Penentuan rentang
dosis tergantung pada availabilitas obat, khususnya dalam basis suppositoria yang digunakan. Dosis
yang tepat untuk setiap obat tergantung pada laju pelepasan obat tersebut dari suppositoria.
Akibatnya basis dan jumlah obat yang diberikan harus dipertimbangkan secara bersamaan. Karena
basis dapat mengubah laju absorbsi obat, maka jumlah obat yang akan diberikan dalam bentuk
suppositoria tergantung pada basis dan bentuk kimia dan fisik dari obat yang diberikan (Modul
Kuliah:36) Meskipun obat bentuk nonionik dapat dilepas dari bahan dasar yang dapat bercampur
dengan air, seperti gelatin tergliserinasi dan polietilen glikol, bahan dasar ini cenderung sangat lambat
larut sehingga menghambat pelepasan. Bahan pembawa berminyak seperti lemak cokelat jarang
digunakan dalam sediaan vagina, karena membentuk residu karena disolusinya lambat. Lemak cokelat
dan penggantinnya (lemak keras) lebih baik untuk menghilangkan iritasi, seperti pada sediaan untuk
homoroid internal.

METODE PEMBUATAN SUPPOSITORIA

1.    Metode dengan Tangan         


Metode pembuatan suppositoria yang paling sederhana dan yang paling tua adalah dengan tangan.
Yakni dengan menggulung basis suppositoria yang telah dicampur homogen dan mengandung zat
aktif menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-mula basis diiris, kemudian diaduk dengan bahan aktif
dengan menggunakan atau dilarutkan dengan air, atau kadang-kadang dicampur atau dengan sedikit
lemak bulu domba untuk mempermudah penyatuan basis suppositoria. Kemudian massa digulung
menjadi satu barang silinder dengan garis tengah dan panjang yang dikehendaki atau menjadi bola-
bola vaginal sesuai dengan berat yang diinginkan. Batang silinder dipotong menjadi beberapa bagian
kemudian salah satu ujungnya diruncingkan.
2.    Mencetak kompressi
Suppositoria yang lebih seragam dengan cara farmasetik dapat dibuat dengan mengkompressi
larutan massa dingin menjadi suatu bentuk yang dikehendaki, suatu roda tangan berputar menekan
suatu bistor pada massa suppositoria yang diisikan dalam silinder sehingga massa terdorong masuk
ke dalam cetakan.
3.    Metode Tuang
Metode yang paling umum digunakan pada suppositoria skala kecil dan skala besar adalah
pencetakan. Pertama-tama bahan basis diletakkan sebaiknya di atas penangas air atau penangas uap
untuk menghindari pemanasan setempat yang berlebihan. Kemudian bahan-bahan aktif diemulsikan
atau disuspensikan ke dalamnya.
4.    Metode Pencetak Otomatis
Pelaksanaan pencetakan (penanganan, pendinginan) dan pemindahan dapat dilakukan dengan
mesin. Seluruh pengisian, pengeluaran dan pembersihan cetak semua dijalankan secara otomatis.
Pertama-tama massa yang telah disiapkan diisikan ke dalam suatu corong pengisi dimana massa
tersebut secara kontinyu dicampur dan dijaga pada temperatur konstan. (Lachman hal 1179)

Pengemasan suppositoria, dilakukan dengan dikemas sedemikian rupa sehingga tiap suppositoria
terpisah, tidak mudah hancur, atau meleleh; biasanya dimasukkan dalam wadah dari aluminium foil
atau strip plastic sebanyak 6 sampai 12 buah, untuk kemudian dikemas dalam dus; dan harus disimpan
dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk (Syamsuni,2017:163)

EVALUASI SUPPOSITORIA

1.    Uji Kisaran Leleh

Uji ini disebut juga uji kesaran meleleh makro dan uji merupakan salah satu ukuran waktu yang
diperlukan suppositoria untuk meleleh sempurna bila dicelupkan dalam penangas air dengan
temperatur tetap (370C). Sebaiknya uji kisaran meleleh mikro adalah kisaran leleh yang diukur dalam
pipa kapiler hanya untuk basis lemak.

2.    Uji Pencahar atau uji waktu melunak dari suppositoria rektal suatu modifikasi yang dikembangkan
oleh Krowezyasku adalah uji suppositoria akhir lain yang berguna. Uji tersebut terdiri dari pipa U yang
sebagian dicelupkan kedalam penangas air yang bertemperatur konstan. Penyempitan pada satu
menahan suppositoria tersebut pada tempatnya dalam pipa.

3.    Uji Kehancuran

Berbagai larutan sudah diuraikan untuk memecahkan masalah kerapuhan suppositoria. Uji
kehancuran  dirancang sebagai metode untuk mengukur keregasan atau kerapuhan suppositoria. Alat
yang digunakan untuk uji tersebut terdiri dari suatu ruang berbanding rangkap dimana suppositoria yang
diuji ditempatkan. Air pada suhu 370C dipompa melalui dinding rangkap ruang tersebut. Dan
suppositoria diisikan ke dalam dinding dalam yang kering, menopang lempeng dimana suatu batang
diletakkan.
4.    Uji Disolusi

Pengujian laju pelepasan zat obat dari suppositoria secara invitro selalu mengalami kesulitan karena
adanya pelelehan. Perubahan bentuk dan depresi dari medium disolusi. Pengujian awal dilakukan
dengan penetapan biasa dalam gelas piala yang mengandung suatu medium. (Lachman hal 1191-1194)