Anda di halaman 1dari 19

PROPOSAL METODOLOGI PENELITIAN DASAR

Analisis Supply Chain Risk Management untuk Perencanaan Mitigasi Risiko


Menggunakan Mettode Fuzzy Analytical Hierarchy Process
(Studi Kasus Pada Perusahaan Industri Manufaktur)

Disusun Oleh :
Irwansyah Putra Pratama
15522264

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Persaingan dunia bisnis saat ini sangatlah ketat, sehingga perusahaan dituntut untuk
memiliki strategi yang tepat agar dapat mempertahankan perusahaan dalam persaingan
bisnis. Salah satu strategi yang dapat diterapkan dalam mempertahankan perusahaan
adalah supply chain. Dalam penerapan supply chain tidaklah mudah bagi perusahaan
karena melibatkan seluruh pihak perusahaan eksternal yang berkaitan dengan kegiatan
bisnis tersebut. Menurut Geraldin (2007) banyaknya pihak yang terlibat dan banyaknya
ketidakpastian yang terjadi secara mendadak merupakan tantangan dalam pengelolaan
supply chain perusahaan. Aliran yang terjadi pada proses supply chain meliputi aliran
material, aliran informasi, dan aliran finansial. Beberapa kegiatan utama dalam klasfikasi
supply chain management adalah merancang produk (product development), pembelian
bahan baku (procurement), merencanakan produksi dan persediaan (planning & control),
produksi (production), dan pengiriman atau distribusi (distribution).
Pemilihan dan evaluasi terhadap supplier memiliki pernan penting di dalam suatu
proses rantai pasok. Hal itu dikarenakan biaya, kualitas barang dan jasa yang dijual
kepada konsumen secara langsung akan berhubungan dengan biaya dan kualitas barang
dan jasa yang dibeli dari pemasok Sevkli (2007). Dalam dunia industri, persaingan antar
supplier sering terjadi. Keinginan perusahaan sebagai pembeli dan supplier sebagai
penjual biasanya bertolak belakang. Pembeli biasanya menginginkan cost yang rendah,
sedangkan dari pihak penjual menginginkan harga yang tinggi.
Risiko merupakan ancaman yang dapat terjadi kapanpun dan dapat mengacaukan
aktivitas yang telah direncanakan Walters (2006). Gangguan pada penglelolaan bahan
baku dan barang jadi dapat berdampak negative dalam jangka panjang terhadap
perusahaan dan perusaahan tidak mampu pulih secara cepat dari dampak ngeatif tersebut
(Hendricks & Singhal, 2003). Umumnya dalam pengelolaan supply chain risiko dapat
timbul dalam berbagai bentuk dari setiap kejadian yang ada. Ketidakpastian dari supplier
juga salah satu hal yang dapat menyebabkan risiko yaitu ketidakpastian leadtime
pengiriman material bahan baku dan juga kualitas material yang dikirim. Untuk dapat
bertahan dan menguasai pasar, setiap perusahaan perlu mempertimbangkan kualitas
produk yang akan memegang peranan penting dalam bersaing. Kunci bagi setiap
perusahaan untuk dapat bersaing dan bertahan adalah meningkatkan efisiensi dan
efektifitas. Menurut Purnama (2014), risiko merupakan suatu ketidakpastian yang
dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk yang tidak diharapkan.
Sedangkan, risiko rantai pasok merupakan kejadian dimana waktu dan bentuknya dapat
mengganggu kelancaran proses dalam aktivitas rantai pasok. Menurut Punniyamoorthy
(2013), dalam mengelola risiko rantai pasok, cara efektif yang dapat dilakukan adalah
diawali dengan mengidentifikasi risiko kemudian diikuti dengan memprioritaskan risiko.
Setelah didapatkan berbagai faktor yang dapat menyebabkan risiko, kemudian ditentukan
dimana perbaikan harus dilakukan. Memprioritaskan risiko yang akan diperbaiki dapat
mempermudah organisasi dalam memusatkan perhatian.
Kebutuhan untuk mendistribusikan barang sejak diterima dari vendor ke outlet
atau media penjualan dan pelanggan merupakan satu aliran penting yang harus dikelola
dengan baik. Pengelolaan supply chain harus mempunyai strategi yang baik dan benar
dalam urusan memperoleh segala sesuatu yang dibutuhkan oleh perusahaan dari supplier.
Seluruh kegiatan yang dilakukan oleh vendor, produsen maupun distribusi merupakan
langkah untuk mencapai satu tujuan yang sama yaitu kepuasan pelanggan. Setiap nilai
yang diciptakan dari proses awal di vendor, pemilihan bahan serta menjadi produk jual
berkualitas hingga ke outlet atau media penjualan lainnya merupakan suatu nilai yang
dapat dinikmati dan dinilai oleh pelanggan. Komunikasi perusahaan dan vendor yang
baik dapat mengurangi risiko yang dapat terjadi dan meningkatkan tingkat efisien serta
mengurangi biaya produksi yang ditanggung oleh perusahaan.
Penanganan risiko dalam Supply Chain Management (SCM) biasanya disebut
dengan Supply Chain Risk Management (SCRM). Menurut Zsidisin (2004) SCRM
merupakan potensi kejadian dari kecelakaan maupun kegagalan untuk menangkap
peluang dari inbound supply yang berakibat pada kehilangan atau berkurangnya
pendapatan pada sektor keuangan. Manfaat dari SCRM yaitu mengidentifikasi dan
menilai gangguan supply chain serta mengurangi dampak negative dari kinerja supply
chain. Menurut Tang (2006) Supply Chain Risk Management yang efektif merupakan
kebutuhan yang harus dimiliki oleh setiap perusahaan.
Pada Perusahaan Industri Manufaktur sering terjadi masalah atau risiko dalam
proses bisnisnya. Permasalahan yang sering muncul adalah material atau bahan baku
yang kurang dari stock minimum, penerimaan material yang tidak sesuai dengan
spesifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan, harga yang tidak sesuai dengan harga
pasaran yang ada, dan beberapa masalah lainnya yang sering muncul. Untuk
meminimalisir tejadinya risiko pada rantai pasok, perusahaan harus memiliki strategi dan
kebijakan yang harus diterapkan salah satunya adalah mengidentifikasi risiko yang
berpotensi muncul pada aktivitas supply chain perusahaan menggunakan tools House Of
Risk (HOR). HOR adalah pengembangan metode Quality Function Deployment (QFD)
dan Failure Modes and Effect Analysis (FMEA) yang digunakan untuk menyusun
framework dalam mengelola risiko (Cahyani et al., 2016).
Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi risiko yang berpotensi muncul
pada aktivitas supply chain perusahaan. HOR berdasarkan gagasan supply chain risk
management berfokus pada tindakan pencegahan, mengurangi kemungkinan terjadinya
suatu resiko yang akan terjadi. Penanganan risiko dilakukan dengan cara
mengidentifikasi risiko yang akan ditangani. Dalam hal ini akan didapatkan daftar risiko
yang didapatkan dari hasil identifikasi sumber risiko yang berdampak terhadap
pencapaian sasaran dan tujuan perusahaan. Untuk merancang strategi penanganan risiko
dibantu dengan Analytichal Hierarchy Process (AHP) untuk menguraikan masalah
berdasarkan kriteria maupun sub-kriteria.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1. Aktivitas apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya risiko pada rantai pasok
Perusahaan Industri Manufaktur?
2. Kejadian risiko apa saja yang ada pada Perusahaan Industri Manufaktur?
3. Bagaimana strategi penanganan risiko yang muncul Perusahaan Industri Manufaktur?

1.3. Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitin ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui aktivitas apa saja yang menyebabkan terjadinya risiko pada rantai pasok
Perusahaan Industri Manufaktur.
2. Mengetahui kejadian risiko apa saja yang ada pada Perusahaan Industri Manufaktur.
3. Memberi usulan strategi penanganan risiko yang muncul pada Perusahaan Industri
Manufaktur.

1.4. Manfaat Penelitian


Hasil dari penelitian yang dilakukan diharapkan memberi manfaat bagi almamater,
penulis dan pembaca. Manfaat penelitian yaitu sebagai berikut :
1. Bagi perusahaan diharapkan mendapatkan gambaran lebih terperinci terkait
permasalahan risiko – risiko yang ada pada tiap – tiap divisinya sehingga bisa
melakukan penanganan risiko yang sesuai di kemudian hari.
2. Bagi penulis yaitu agar pengalaman terkait pengaplikasian ilmu perkuliahan pada
perusahaan dapat bermanfaat untuk ke depannya saat memasuki dunia kerja.

1.5. Batasan Masalah


Batasan masalah yang penulis terapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Penelitian dilakukan di lingkungan Perusahaan Industri Manufaktur.
2. Data yang digunakan adalah hasil wawancara beserta observasi langsung yang
dilaksanakan di Perusahaan Industri Manufaktur.

1.6. Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut;
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan kondisi-kondisi umum yang melatarbelakangi
dilakukannya penelitian, sehingga dapat dirumuskan masalah yang
menjadi pertanyaan dasar bagi penelitian ini. selanjutnya rumusan masalah
yang ada akan dijabrakan menjadi beberapa tujuan penelitian yang
kongkrit beserta dengan batasan-batasan masalah yang ada. Selain itu akan
dijabarkan pula manfaat dilakukannya penelitian ini, baik bagi peneliti
maupun bagi perusahaan.
BAB II KAJIAN LITERATUR
Dalam tinjauan pustaka terdapat kajian deduktif dan kajian induktif. Akan
dibahas secara detail landasan-landasan teori yang mendukung dan
menguatkan analisa dalam penelitian ini. Selain itu juga akan ditunjukan
posisi penelitian ini dari penelitian-penelitian lain yang sejenis. Penelitian
yang dijadikan referensi berasal dari artikel ilmiah yang telah
dipublikasikan.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab ini terdapat objek penelitian, metode pengumpulan data baik
data promer maupun data sekunder, tahapan atau alur yang dilalui selama
penelitian dari awal hingga akhir dalam bentuk diagram alir penelitian
beserta penjelasannya.
BAB II
KAJIAN LITERATUR

Bab ini menjelaskna terkait kajian induktif dan kajian deduktif. Kajian literatur
induktif merupakan informasi-informasi yang diperoleh dari artikel dalam jurnal.
Sedangkan kajian literatur deduktif merupakan infomasi-informasi yang diperoleh
dari buku-buku yang sifatnya telah dianggap umum. Kedua kajian ini sangat
diperlukan untuk mengetahui gab/kesenjangan penelitian yang akan dilakukan dengan
kajian yang telah dilakukan. Sehingga akan menjamin state of the art atau tidak
adanya pengulangan penelitian yang sama sehingga penelitian ini terhindar dari
plagiarisasi.

2.1. Kajian Induktif


Penegasan state of the art dari penelitian akan dipaparkan dalam kajian induktif,
penelitian-penelitian sebelumnya yang bersangkutan dalam segi metode maupun
objek penelitian akan dibandingkan. Hal ini akan menjadi penegasan bahwa hasil
penelitian adalah penelitian yang lebih baru atau mutakhir. Penelitian-penelitian
berkaitan sebelumnya adalah sebagai berikut :

No Judul (Tahun) Penulis Metode Hasil


1 Aplikasi Model House Dewi Pemetaan Terdapat 16
of Risk (HOR) untuk Kurniasari aktivitas supply preventive
Mitigasi Risiko Proyek Purwandono, chain dalam actions yang
Pembangunan Jalan Tol I. Nyoman model SCOR dapat
Gempor – Pasuruan Pujawan. (Supply Chain dilakukan
(2010). Operations terhadap 6
Reference) dan agen risiko
analisis risiko yang paling
yang dipetakan sering
pada model muncul.
HOR (House of
Risk).
2 House of Risk : A Model I. Nyoman Metode House Terdapat 10
for Proactive Supply Pujawan, of Risk (HOR) risk agent
Chain Risk Management Laudine H. yang digunakan yang masuk
(2009). Geraldine untuk ke dalam
mengidentifikas kategori high
i risk event dan risk, serta
risk agent pada terdapat 10
supply chain preventive
perusahaan actions yang
pupuk. dapat
dilakukan.
3 Aplikasi Model House Bayu Rizki Pemetaan Terdapat 4
of Risk (HOR) untuk Kristanto, Ni aktivitas supply risk agent
Mitigasi Risiko pada Luh Putu chain dalam yang masuk
Supply Chain Bahan Hariastuti. model SCOR ke dalam
Baku Kulit (2014). (Supply Chain kategori high
Operations risk, serta
Reference) dan terdapat 7
analisis risiko preventive
yang dipetakan actions yang
pada model dapat
HOR (House of dilakukan.
Risk).
4 Studi Implementasi Zulia Dewi Metode House Terdapat 6
Model House of Risk Cahyani, Sri of Risk material dan
(HOR) untuk Mitigasi Rejeki Wahyu digunakan untuk komponen
Risiko Keterlambatan Pribadi, Imam mengidentifikas impor yang
Material dan Komponen Baihaqi. i risk event dan termasuk ke
Impor pada risk agent pada dalam
Pembangunan Kapal pengadaan kategori high
Baru (2016). material dan risk, dan
komponen didapatkan 4
impor serta risk event
strategi yang
mitigasinya. dikategorikan
dalam high
risk pada
proses bisnis
umum
pengadaan
yang
kemudian
diadakan 2
preventive
action.

2.2. Kajian Deduktif


2.2.1. Supply Chain dan Supply Chain Management (SCM)
Menurut Pujawan & Mahendrawathi (2010), supply chain merupakan jaringan
perusahaan-perusahaan yang bekerjasama dalam menciptakan dan menghantarkan
suatu produk ke tangan pemakai akhir. Perusahaan-perusahaan yang terlibat
dalam rantai pasok seperti supplier, pabrik, distributor, toko atau retailer, serta
perusahaan-perusahaan pendukung seperti perusahaan jasa transportasi dan jasa
logistic.
Menurut Indrajit R. & Djokopranoto (2005), istilah supply chain pertama
kali digunakan oleh beberapa konsultan logistic pada tahun 1980-an, sebelum
akhirnya pada tahun 1990-an para akademisi menganalisis lebih lanjut supply
chain hingga akhirnya lahir konsep Supply Chain Management (SCM). Pada
hakikatnya SCM adalah perluasan dan pengembangan dari manajemen logistic.
Manajemen logistic berperan dalam mengatur arus barang sedangkan supply
chain juga demikian namun meliputi antar perusahaan yang berhubungan dengan
arus barang dan semakin berkembang menyangkut hal-hal yang dibutuhkan oleh
pelanggan.
Menurut Anwar (2011), supply chain memiliki 3 bagian
1. Upstream Supply Chain
Bagian ini mencakup supplier first-tier dari organisasi (perusahaan manufaktur
atau assembling) dan suppliernya, yang tebina suatu hubungan atau relasi.
2. Internal Supply Chain
Bagian ini mencakup seluruh proses yang ada dalam organisasi dalam mengubah
input yang dikirim oleh supplier menjadi output, mulai dari waktu material masuk
sampai pada produk jadi didistribusikan dari perusahaan tersebut.
3. Downstream Supply Chain
Bagian ini mencakup semua proses yang terlibat dalam pengiriman produk pada
customer akhir.
Menurut Geraldin (2007), supply chain merupakan proses dimana
perusahaan-perusahaan tersebut melakukan fungsi pengadaan material, proses
transformasi material menjadi produk setengah jadi dan produk jadi, serta
distribusi produk jadi hingga ke end customer. Sedangkan, menurut Handfield &
Nichols (2002), supply chain merupakan jarringan seluruh organisasi (mulai dari
pemasok sampai ke pengguna akhir) dan aktivitas yang berhubungan dengan
aliran dan transformasi dari barang, informasi dan uang.
Supply Chain Management (SCM) pertama kali dikemukakan oleh Oliver
& Weber pada tahun 1992. Supply Chain merupakan jaringan fisiknya, yakni
perusahaan yang terlibat dalam memasok bahan baku, memproduksi barang,
maupun mengirimkannya ke pemakai akhir (Oliver & Weber, 1992). Menurut
Anwar (2011), SCM merupakan konsep atau mekanisme untuk meningkatkan
produktifitas perusahaan dalam rantai pasok melalui optimalisasi waktu, lokasi
dan aliran kuantitas bahan. Dalam penerapan SCM, perusahaan-perusahaan harus
mampu memenuhi kepuasan pelanggabm mengembangkan produk tepat waktu,
mengeluarkan biaya yang rendah dalam persediaan dan penyerahaan produk, serta
mengelola industry secara baik dan fleksibel.
Dari beberapa penjelasan mengenai supply chain management maka dapat
disimpulkan bahwa Supply Chain Management atau manajemen rantai pasok
merupakan kegiatan yang meliputi koordinasi, penjadwalan dan pengendalian
terhadap pengadaan, produksi, persediaan dan pengiriman produk maupun
layanan jasa yang mencakup administrasi harian, operasi, logistic dan pengolahan
informasi dari pelanggan hingga pemasok.

2.2.2. Risiko
Definisi risiko menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah akibat
yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan
atau tindakan.
Risiko merupakan besarnya penyimpangan antara tingkat pengembalian
yang diharapkan (expected return – ER) dengan tingkat pengembalian aktual
(actual return) (Hanafi, 2006).
Risiko juga dapat didefinisikan sebagai :
a. Kans kerugian – the chance of loss
b. Kemungkinan kerugian – the possibility of loss
c. Ketidakpastian – uncertainty
d. Penyimpangan kenyataan dari hasil yang diharapkan – the dispersion of
actual from expected result.
e. Probabilitas bahwa suatu hasil berbeda dari yang diharapkan – the probability
of any outcome different from the one expected
Atau dapat diambil kesimpulan bahwa definisi risiko adalah suatu kondisi
yang timbul karena ketidakpastian dengan seluruh konsekuensi tidak
menguntungkan yang mungkin terjadi (Hosny et al., 2018)

2.2.3. House of Risk


House of Risk merupakan sebuah framework yang merupakan pengembangan
metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) dan metode QFD (Quality
Function Deployment) [ CITATION Nyo09 \l 1033 ].
Dalam FMEA, penilaian risiko dapat diperhitungkan melalui perhitungan
RPN (Risk Potential Number) yang diperoleh dari perkalian tiga faktor yaitu
probabilitas terjadinya risiko, dampak kerusakan yang dihasilkan, dan deteksi
risiko. Namun dalam pendekatan house of risk perhitungan nilai RPN diperoleh
dari probabilitas sumber risiko dan dampak kerusakan terkait risiko itu terjadi.
Dalam hal ini untuk mencari kemungkinan sumber risiko dan keparahan kejadian
risiko. Jika Oi adalah kemungkinan dari kejadian sumber risiko j, Si adalah
keparahan dari pengaruh jika kejadian risiko i, dan Rj adalah korelasi antara
sumber risiko j dan kejadian risiko i (dimana menunjukkan seberapa
kemungkinan besar sumber risiko j yang masuk kejadian risiko i) kemudian ARPj
(Aggregate Risk Potential of risk agent j) dapat dihitung dengan rumus:

ARPj = Oj Σ SiRij

Penerapan HOR terdiri dari dua tahap yaitu :


1. HOR fase 1 digunakan untuk mengidentifikasi kejadian risiko dan agen risiko
yang berpotensi timbul sehingga hasil output dari HOR fase 1 yaitu
pengelompokan agen risiko ke dalam agen risiko yang diprioritaskan untuk
dilakukan tindakan pencegahan (mitigasi) sesuai dengan nilai Aggregate Risk
Potential (ARP).
Dalam model House of Risk fase 1 menghubungkan suatu set
kebutuhan (what) dan satu set tanggapan (how) yang menunjukkan satu atau
lebih keperluan/kebutuhan. Derajat tingkat korelasi secara khusus
digolongkan sama sekali tidak ada hubungan dengan memberi nilai (0),
rendah (1), sedang (3) dan tinggi (9).

2.2.4. Fuzzy Analytichal Hierarchy Process (FAHP)


Fuzzy Analytichal Hierarchy Process (FAHP) merupakan salah satu metode
pernakingan yang merupakan gabungan dari metode AHP dengan pendekatan
konsep fuzzy. FAHP merupakan metode yang digunakan untuk menutupi
kelemahan yang ada pada AHP, yaitu permasalahan terhadap kriteria yang
memiliki sifat subjektif dan lebih banyak. Teori fuzzy digunakan untuk membantu
dalam pengukuran yang berhubungan dengan penilaina subyektif manusia
memakai Bahasa atau linguistik. Variable linguistik secara pasti dan berguna
untuk memproses informasi dalam lingkup fuzzy dikembangkan bilangan
triangular fuzzy (TFN) disimbolkan sebagai M. inti dari metode fuzzy AHP adalah
pada perbandingan pasangan dengan skala rasio yang berhubungan dengan nilai
skala fuzzy. Menurut Chan dan Wang (2013), nilai intensitas AHP ke dalam skala
fuzzy segitiga, fungsi keanggotaan untuk skala variable linguistik.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Objek Penelitian


Dalam penelitian yang bertemakan Supply Chain Risk Management ini yang menjadi
objek penelitian adalah risiko supply chain pada industri manufaktur.

3.2. Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data atau informasi yang diperlukan pada penelitian ini adalah:
1. Studi Pustaka
Studi pustaka merupakan metode pengumpulan data dengan cara menggunakan
buku, artikel, jurnal, atau referensi lainnya yang berkaitan dengan topik yang
sedang dibahas. Pada metode ini, peneliti membaca literature yang berkaitan
dengan House of Risk dan Fuzzy Analytichal Hierarchy Process.
2. Metode Observasi/Studi Lapangan
Metode observasi atau studi lapangan merupakan pengumpulan data dengan cara
melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek yang diteliti. Metode ini
dilakukan untuk mendapatkan data aktivitas bisnis perusahaan yang terdiri dari
aliran pengadaan bahan baku, data aliran produksi dan data aliran pendistribusian.
Dalam hal ini, peneliti melakukakn wawancara secara langsung dengan operator
ahli yang bertanggung jawab terhadap aliran rantai pasok perusahaan.

3.3. Alur Penelitian


Dalam melakukan penelitian, penulis memiliki tahapan – tahapan untuk
mendapatkan data – data yang dibutuhkan penelitian ini agar dapat terselesaikan, di
antaranya adalah sebagai berikut :
Mulai

Kajian Literatur

Induktif Deduktif

Fokus Kajian

State Of Art

Pengumpulan
Data

Pengolahan Data
 Pemetaan Aktivitas Supply Chain
 Identifikasi Risiko

Validasi

Tidak
Valid?

Ya

Pengolahan Data
 Penilaian Risiko
 Evaluasi Risiko
 Penanganan Risiko

Pembahasan
Kesimpulan dan
Saran

Selesaii
1. Identifikasi Masalah
Tahap awal yang paling mendasar saat melakukan penelitian adalah
mengidentifikasi permasalahan yang ada pada proses bisnis dari Perusahaan
Industri Manufaktur yang ingin diobservasi. Dalam tahap ini penulis
mengidentifikasi permasalahan yang ada, kemudian penulis membuat rumusan
masalah dan batasan masalah yang ingin diteliti.
2. Studi Pustaka dan Studi Lapangan
Studi pustaka merupakan langkah yang dilakukan untuk mengkaji metode – metode
yang dapat digunakan untuk melakukan pengolahan data terkait permasalahan yang
ada pada proses perusahaan. Studi pustaka pada penelitian ini terbatas pada House
of Risk dan Fuzzy Analytichal Hierarchy Process (AHP).
3. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan pada proses rantai pasok. Untuk teknik pengumpulan
data adalah sebagai berikut :
a. Observasi
Observasi dilakukan dengan pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
melakukan peninjauan secara langsung pada proses bisnis perusahaan
b. Wawancara
Wawancara dilakukan kepada kepala seksi beserta jajaran staf dari perusahaan
untuk mendapatkan info dan batasan data yang dapat diperoleh kepada penulis.
Wawancara juga dilakukan untuk menyesuaikan informasi yang didapatkan melalui
observasi agar sesuai dengan pendapat para expert di proses bisnisnya masing –
masing.
4. Pengolahan Data dan Pembahasan
Pengolahan data dapat dilakukan setelah mendapatkan hasil wawancara berupa
aktivitas bisnis perusahaan yang terdiri dari aliran pengadaan bahan baku, data
aliran produksi dan data aliran pendistribusian pada perusahaan. Setelah data
tersebut lengkap, langkah selanjutnya pada pengolahan data adalah:
a. Pemetaan Aktivitas Supply Chain
b. Identifikasi Risiko
c. Penilaian Risiko
d. Evaluasi Risiko
e. Penanganan Risiko
5. Kesimpulan dan Saran
Setelah melakukan tahapan – tahapan sebelumnya yang ada dalam penelitian,
kemudian sebagai penutup dari penelitian adalah melakukan penarikan kesimpulan
berdasarkan hasil analisis penelitian yang telah dilakukan untuk menjawab rumusan
masalah yang sudah ditetapkan dan memberikan saran – saran untuk perbaikan dari
manajemen risiko yang akan dilakukan di kemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, S. (2011). Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management): Konsep dan
Hakikat. Jurnal Dinamika Informatika 3(2): 1-7.
Cahyani, Z. D. (2016). Studi Implementasi Model House of Risk (HOR) untuk Mitigasi Risiko
Keterlambatan Material dan Komponen Impor Pada Pembangunan Kapal Baru. Jurnal
Teknik ITS, 5(2), G52-G59.
Chan, H. K. (2013). Fuzzy Hierarchical Model for Risk Assessment. Spinger. London.
Geraldin, L. P. (2007). Manajemen Risiko dan Aksi Mitigasi untuk Menciptakan Rantai Pasok
yang Robust. Jurnal Teknologi dan Rekayasa Teknik Sipil, TORSI pp. 53-64.
Geraldin, L. P. (2007). Manajemen Risiko dan Aksi Mitigasi untuk Menciptakan Rantai Pasok
yang Robust. Jurnal Teknologi dan Rekayasa Teknik Sipil" TORSI, pp. 53-64.
Hendricks, K. B. (2003). The Effect Of Supply Chain Glitches on Sharholder Wealth. Journal of
operations management, 501-522.
Hosny, H. E. (2018). Risk Management Framework fo Continuous Flight Auger Piles
Construction in Egypt. Alexandria Engineering Journal, 57, 2667-2677.
Nyoman Pujawan, I. &. (2009). House Of Risk: A Model For Proactive Supply Chain Risk
Management. Business Process Management Journal, 15(6), 953-967.
Oliver, R. d. (1992). Supply Chain Management: Logistics catches up with strategy in
Christopher, M.(Ed). Logistics: The strategic issues , pp. 63-75.
Punniyamoorthy, M. T. (2013). Assessment of Supply Chain Risk: Scale Development and
Validation. Benchmarking: An International Journal 20: 79-105.
Purnama, M. T. (2014). Analisis Penerapan Manajemen RIsiko Pada Perusahaan Eksportir yang
Menggunakan Metode Pembayaran Letetr of Credit . Journal Administrasi Bisnis 16: 1-
10.
Sevkli, M. S. (2007). Hybrid Analytical Hierarchy Process Model for Supplier Selection.
Journal of Industrial Management and Data Syatem.
Walters, D. (2006). Supply Chain Risk Manajement. London and Philadelphia Kogan Page
Limited.
Zsidisin, G. A. (2004). An Analysis of Supply Risk Assessment Tecniques. International
Journal of Physical Distribution & Logistics Management, Vol 34 No. 5, Hal 397-413.

Anda mungkin juga menyukai