Anda di halaman 1dari 15

PENERAPAN NAPPING DALAM MANAJEMEN KEPERAWATAN

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Keperawatan


Dosen Pengampu : Ns. Devi Nurmalia, S.Kep., M.Kep

Disusun oleh Kelompok 5 / A17.2 :


Fahrun Ningsih 22020117120016
Mujaahidah Al Kariima 22020117130050
Salsabila Puti Anissa 22020117130057
Regitha Dian Aureily F. 22020117130059
Refonda Rias Anggiri 22020117130072
Eka Novia Astuti 2202011713008
Putri Laely Saura 22020117130083
Agustini Nur Wulan Sari 22020117130087
Nabila Marsa Dhiya U. 22020117140021
Bella Fidelia 22020117140035
Nadya Nur A 22020117140003

DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2020
A. Pengertian dan Tujuan Napping
Perawat merupakan orang yang paling sering berhubungan dengan
pasien dan paling beresiko untuk terkena keluhan kesehatan. Di samping
itu, perawat juga mengalami perubahan kualitas tidur, setelah menjalankan
sistem kerja shift yang memperbesar kemungkinan untuk mengalami
keluhan kesehatan (Ayas, 2004).
Kualitas tidur adalah kepuasan seseorang terhadap tidur, sehingga
seseorang tersebut tidak memperlihatkan perasaan lelah, mudah
tersinggung, gelisah, lesu, apatis, kehitaman di sekitar mata, kelopak mata
bengkak, konjungtiva merah, mata perih, perhatian terpecah-pecah, sakit
kepala, dan sering menguap atau mengantuk (Hidayat, 2006).
Menurut Asih (2007) tidur sesaat atau istilahnya napping adalah
saat istirahat pada dinas malam yang dapat meningkatkan kesehatan
perawat. Istirahat dapat membantu meningkatkan energi, suasana hati, dan
kecermatan bagi perawat. Dalam melakukan napping seorang perawat
harus mengatur waktu dengan rekan jaga agar bergantian, lokasi napping
dekat dengan lokasi pasien, dan mendelegasikan pekerjaan kepada rekan
jaga (Nurachmah, 2018). Durasi napping antara 2 menit hingga 30 menit,
namun untuk napping paling ideal selama 20 menit.
Menurut Takeyama H, Kubo T, Itani T (2005) menyebutkan bahwa
napping adalah tindakan efektif untuk mencegah efek samping akibat
kerja shift malam. Napping mendapat perhatian sebagai metode untuk
mengurangi kelelahan fisik perawat shift malam dan mengurangi rasa
kantuk mereka. Selain itu, napping juga dianggap mengurangi beban pada
shift malam karena membantu mengurangi terganggunya irama tidur.
Penelitian telah menunjukkan bahwa dengan melakukan napping dapat
menekan kantuk yang meningkat, meningkatkan kewaspadaan, dan
mencegah gangguan ritme sirkadian.
Adapun tujuan dari napping adalah sebagai berikut (Nurachmah, 2018) :
a. Meningkatkan energi, suasana hati, pembuatan keputusan,
dan
kecermatan
b. Menyegarkan kembali fungsi tubuh
c. Menurunkan kecelakaan kerja
d. Menurunkan kemungkinan cedera untuk perawat maupun
pasien
e. Meningkatkan keselamatan perawat maupun pasien
f.Meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan
g. Mempertahankan kesehatan staf keperawatan

B. Perbedaan Tidur dan Napping

Perbedaan Tidur Napping


Pengertian Urutan siklus berulang dalam Tidur singkat saat shift
keadaan tubuh tanpa kesadaran malam untuk
yang penuh ketenangan untuk meningkatkan kesadaran
mempertahankan kesehatan perawat dan keselamatan
dan kesejahteraan fungsi tubuh pasien (Pakieser-Reed,
(Tarwanto & Wartonah, 2006) 2013)
Durasi 7-9 jam (Waringin, 2018) 30-90 menit (Pakieser-
Reed, 2013)
Objek Semua orang Tenaga kerja
Tempat Di mana saja (nyaman) Di tempat bekerja (khusus)
Waktu Kapan saja Dibatasi sesuai peraturan
yang berlaku

C. Contoh Napping
1. Napping pada saat istirahat shift malam (Martin-Gill, C. et al ,2018).
Napping sesaat pada waktu istirahat shift malam dapat meningkatkan
kewaspadaan dan meningkatkan kinerja perawat sehingga
meningkatkan keamanan.Durasi yang diperlukan biasanya berkisar
antara 20 menit sampai dengan 120 menit.
2. Short naps(Autumn, M., Monica, H., Jitendra, M., & Bharat, M, 2016).
Short naps merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk
meningkatkan produktivitas karyawan di tempat kerja. Biasanya
beberapa perusahaan menyediakan ruangan untuk tidur siang sesaat
sebelum shift selanjutnya dilakukan agar karyawan dapat mengisi
ulang tenaga. Untuk meningkatkan kewaspadaan dan memberikan
energi tanpa memberikan perasaan tidak nyaman dan lemas setelah
tidur siang dibutuhkan waktu antara 10-20 menit.

D. Strategi dan Lama Napping


Seperti yang sudah ada di dalam penelitian Nery pada tahun 2015,
tidak masalah untuk mengambil kesempatan waktu istirahat selama shift
malam karena hal tersebut dapat meningkatkan kinerja individu. Adapun
strategi napping (tidur sesaat) yang baik adalah :
1. Lingkungan (ruangan) yang efektif untuk istirahat
Sebisa mungkin menciptakan ruangan yang efektif untuk tidur
sesaat. Seperti ruangan yang sunyi dan jauh dari tempat umum agar
tidak terganggu.
2. Durasi waktu tidur
Durasi waktu harus disesuaikan dengan kondisi atau situasi yang
ada.
3. Pencahayaan
Memastikan pencahayaan yang gelap atau remang-remang juga
dapat memacu individu untuk tidur lebih cepat.
4. Kebisingan
Lingkungan yang sunyi dapat memacu individu untuk tidur lebih
cepat tanpa diganggu oleh orang lain.
5. Ventilasi
Memastikan ruangan yang ada seperti sistem ventilasi, AC atau
kipas angin tidak terlalu panas ataupun dingin.

Adapun lama napping menurut Geiger-Brown dkk pada tahun 2016 yaitu
sebagai berikut :
1. Durasi tidur sesaat sangat penting. Namun disisi lain durasi yang
lama dapat meningkatkan risiko inersia tidur. Tidur yang paling
ideal adalah selama 20-30 menit. Hal tersebut dapat meningkatkan
stamina dan performa motorik.
2. Jika ingin tidur yang lebih lama, tidur selama 90 menit
dapat
diterapkan. Namun tidak diantara 30-90 menit untuk mencegah
inersia tidur.
Menurut Farmilo pada tahun 2014 didalam jurnalnya yang berjudul
Power napping for nurses, dalam beberapa tahun terakhir sejumlah
studi telah menunjukkan bahwa tidur sesaat dapat meningkatkan
kesiapsiagaan yang ditemukan dari pengalaman individu. Salah satu
yang sering dilupakan adalah 12 jam shift dimana waktu sekitar 10-20
menit digunakan untuk tidur sesaat.

E. Kajian Issu Kebijakan Napping


Napping yang berarti tidur sebentar selama kurang lebih 10−30
menit memiliki manfaat bagi keselamatan dan kesehatan pekerja terutama
perawat yang mendukung keselamatan pasien. Hal ini sudah diatur
sebagaimana mestinya pada UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan pasal 79 ayat 2 poin a yang berbunyi “istirahat antara jam
kerja, sekurang kurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 (empat)
jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja”,
akan tetapi regulasi yang mengatur terkait jam kerja dan shift kerja
perawat belum diatur secara spesifik. Padahal waktu kerja perawat
merupakan salah satu bagian komponen penting dari keselamatan pasien
sebagaimana diatur dalam Permenkes Nomor 11 Tahun 2007 tentang
Keselamatan Pasien pasal 5 bahwa setiap fasilitas pelayanan kesehatan
harus menyelenggarakan keselamatan pasien.
Keselamatan pasien sendiri melibatkan tenaga medik, tenaga
keperawatan dan staf klinis. Waktu kerja perawat akan mempengaruhi
keselamatan perawat yang juga akan berdampak pada kinerja perawat serta
keselamatan pasien. Waktu kerja yang berubah−ubah dapat menyebabkan
kelelahan yang meningkat akibat terjadinya perubahan pada bioritmik
(irama tubuh), terlebih perawat yang bertugas di malam hari memiliki
risiko besar mengalami kelelahan, mengurangi kemampuan empati dan
berisiko tinggi untuk terjadinya medical error. Kelelahan juga dapat
menjadikan beban psikis dalam jangka waktu lama sehingga menimbulkan
stress.
Oleh karena itu diperlukan adanya tindak lanjut dari kebijakan
napping pada perawat antara lain sebagai berikut:
1. Diperlukan kajian lebih lanjut guna menciptakan regulasi atau
kebijakan yang mengatur jam kerja dan pengaturan shift kerja perawat
secara spesifik.
2. Penjelasan secara spesifik terkait istilah napping dan pembuatan
regulasi terkait napping.
3. Perlu penyebaran informasi secara meluas terkait urgensi
dilaksanakannya napping
4. Rekomendasi mencari nomenklatur bahasa.

F. Pro dan Kontra Napping

Pro:
1. Terkait dengan tingginya kesalahan medis (medical error) akibat
kekurangan wakti tidur, pembatasan jumlah jam kerja dan anjuran
napping menjadi regulasi bagi tenaga kesehatan di banyak negara.

2. NHS (National Health Service) menyatakan dalam British Medical of


Journal bahwa NHS harus memberikan waktu tidur minimal 30 menit
selama shift malam.

3. Napping mampu menurunkan kecelakaan saat kerja, menurunkan


kemungkinan cedera pada pasien, meningkatkan keselamatan pasien,
meningkatkan kualitas layanan yang diberikan, dan mempertahankan
kesehatan perawat (Kemenkes RI, 2017)
Kontra:

1. Perawat jaga yang tidur pada waktu jaga, dianggap sebagai kelalaian
dan pengabaian terhadap tugas bahkan dianggap tanda kemalasan.

2. Izin untuk tidur saat shift malam tidak secara resmi disampaikan
kepada staf perawat dan tidak ada tempat khusus untuk tidur (Costa at
al, 2015).

G. Faktor yang mempengaruhi napping


Faktor yang mempengaruhi antara lain:
1. Stress
Tingginya tekanan dan juga banyaknya stressor membuat perawat
memiliki beban kerja yang tidak sedikit. Beban kerja tersebut
seringkali mengakibatkan kecemasan dan stress. Kecemasan dan stress
tentang masalah pribadi atau situasi tertentu dapat mengganggu
kualitas napping. Stress emosional menyebabkan seseorang menjadi
tegang dan sering kali mengarah frustasi apabila tidur. Stress yang
berlanjut dapat menyebabkan kebiasaan tidur buruk (Potter & Perry,
2005).
2. Lingkungan
Lingkungan fisik tempat seseorang tidur berpengaruh penting pada
kemampuan untuk tidur dan tetap tertidur. Ukuran, kekerasan, posisi
tempat tidur mempengaruhi kualitas tidur dan suara juga
mempengaruhi tidur. Kebisingan merupakan suara atau bunyi yang
mengganggu tidur. Bising dapat menyebabkan berbagai gangguan
seperti gangguan fiologis dan gangguan psikologis.. Bising dengan
intensitas yang tinggi dapat menyebabkan pusing/sakit kepala.
3. Diet
Orang tidur lebih baik ketika sehat sehingga mengikuti kebiasaan
makan yang baik adalah penting untuk kesehatan yang tepat dan tidur
(Hairi dan Linde, 1990). Kafein dan alkohol yang dikonsumsi pada
malam hari mempunyai efek produksi insomnia sehingga mengurangi
atau menghindari zat tersebut adalah strategi penting yang digunakan
untuk meningkatkan kualitas tidur. Alergi terhadap suatu makanan
juga dapat menyebabkan insomnia.
Kehilangan atau peningkatan berat badan mempengaruhi pola
tidur. Ketika seseorang bertambah berat badanya, maka periode tidur
akan menjadi lebih panjang dengan lebih sedikit interupsi. Kehilangan
berat badan menyebabkan tidur pendek dan terputus-putus. Gangguan
tidur tertentu dapat dihasilkan dari diet semi puasa (semistarvation)
yang popular di dalam kelompok masyarakat yang sadar berat badan
(Potter & Perry, 2005).
4. Obat-obatan dan substansi lain
Mengantuk dan defrivasi tidur adalah efek samping mediksi yang
umum (Potter & Perry, 2005). Berikut daftar obat-obatan yang dapat
mengganggu tidur, yaitu : Hipnotik; hanya memberikan peningkatan
kualitas tidur yang bersifat sementara, seringkali menyebabkan “rasa
mengembang” sepanjang siang hari perasaan mengantuk yang
berlebihan, bingung, penurunan energi, memperburuk apnea tidur pada
lanjut usia. Diurerik; menyebabkan nokturia (terbangun dari tidur pada
malam hari untuk buang air kecil. Anti depresan dan stimulant;
menekan tidur Rapid Eye Movement (REM), menurunkan total waktu
tidur. Alkohol; mempercepat mulanya tidur, mengganggu siklus Rapid
Eye Movement (REM), membuat seseorang terbangun pada malam
hari dan menyebabkan kesulitan untuk kembali tidur. Narkotika;
menekan tidur Rapid Eye Movement (REM) menyebabkan
peningkatan perasaan kantuk pada siang hari.
5. Kegiatan fisik
Seseorang yang kelelahan lebih mudah untuk terlelap, khususnya
kelelahan adalah hasil dari kerja atau latihan yang menyenangkan.
Akan tetapi, kelelahan yang berlebihan yang dihasilkan dari kerja yang
meletihkan atau penuh stress membuat sulit tidur (Potter & Perry,
2005).
6. Kerja shift
Perawat bekerja dengan shift yang berubah-ubah. Individu yang
bekerja bergantian atau shift mempunyai kesulitan untuk
menyesuaikan perubahan jadwal tidur. Gangguan tidur adalah masalah
yang bekaitan erat dengan pekerjaan bergantian atau shift, selain itu
juga dapat menyebabkan kelelahan, konflik personal. Kesulitan untuk
mempertahankan kesadaran atau menahan rasa kantuk dapat
menyebabkan penurunan kinerja.

H. Regulasi / Evidence Based Napping


Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakuan pekerjaan
guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan
sendiri maupun untuk masyarakat. Peraturan perundangan yang terkait
tertuliskan pada UU No. 13 tahun 2013 tentang ketenagakerjaan,
Pasal 77 & 78 (Waktu Kerja) berbunyi:
 Pasal 77
(1) Setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu
kerja
(2) Waktu kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. 7 (tujuh) jam dalam 1 (satu) hari dan 40 (empat
puluh) jam dalam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam)
hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau
b. 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari dan 40 (empat
puluh) jam dalam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima)
hari
kerja dalam 1 (satu) minggu.
 Pasal 78
(1) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi
waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 77 ayat (2)
harus memenuhi syarat:
a. Ada persetujuan pekerja/buruh yang bersangkutan
b. Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling
banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14
(empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu
(2) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi
waktu kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
membayar upah kerja lembur.
 Pasal 79 (waktu istirahat) yang berbunyi:
(1) Pengusaha wajib memberikan waktu istirahat dan cuti
kepada pekerja/buruh.
(2) Waktu istirahat dan cuti sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1), meliputi :
a. Istirahat antara jam kerja, sekurang-kurangnya
setengah jam setelah bekerja selama 4 (empat) jam
terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak
termasuk jam kerja;
b. Istirahat mingguan 1 (satu) hari untuk 6(enam) hari
kerja dalam 1 (satu) minggu atau 2 (dua) hari untuk
5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu;Cuti
tahunan, sekurang-kurangnya 12 (dua belas) hari
kerja setelah pekerja yang bersangkutan bekerja
selama 12 (dua belas) bulan secara terus menerus;
dan
c. Istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan
dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan
masing-masing 1 (satu) bulan bagi pekerja yang
telah bekerja selama 6 (enam) tahun secara terus-
menerus pada perusahaan yang sama dengan
ketentuan pekerja/buruh tersebut tidak berhak lagi
atas istirahat tahunannya dalam 2 (dua) tahub
berjalan dan selanjutnya berlaku untuk setiap
kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun
 Kebijakan Napping/ Manajemen Istirahat Sejenak bagi tenaga
kesehatan
1. Regulasi
a. Kemenaker telah mengatur mengenai jam kerja, jam
istirahat dan jam lembur. Namun jam kerja dan pengaturan
shift kerja perawat belum diatur
b. Istilah napping belum dikenal dan belum diatur
c. Napping belum ada peraturan rujukan
2. Pengaturan waktu istirahat
Penentuan waktu istirahat pagi dan shift siang, selama 60 menit
diatur agar tidak mengganggu pelayanan.
Contoh pengaturan waktu istirahat shift malam selama 90 menit
 Pukul 00.00-01.30 (30% dari yang bertugas)
 Pukul 01.30-03.00 ( 40% dari yang bertugas)
 Pukul 03.00-04.30 ( 30% dari yang bertugas)
 Pukul 04.30, full time melakukan tindakan asuhan
keperawatan.

Terdapat cara untuk melakukan napping dengan menyesuaikan


dengan aturan di tempat kerja, yaitu:

1. Bila dilarang tidur apapun yang terjadi, harus diindahkan sesuai


dengan perjanjian kerja. Jika tidak sanggup, boleh resign.
2. Bila kebijakan manajemennya memperbolehkan istirahat,
sebaiknya tetap ada 1 orang yang bergantian standby di pos jaga,
jangan tidur semua
3. Dengan adanya perawat senior penanggung jawab rumah sakit
yang berkeliling tiap shift jaga. Bila sebuah ruangan sangat sibuk
dan beban kerjanya berlebihan sehingga membuat semua yang
dinas kelelahan, dia wajib mencari bala bantuan dan yang
kelelahan tersebut dipersilahkan istirahat 1-2 jam sampai dapat
bertugas kembali.

Seorang pimpinan dalam mengatur jam kerja di masing-masing


unit layanan:

1. Memperhitungkan jumlah perawat tiap shift


2. Mempertimbangkan kompetensi yang bervariasi
3. Memperhatikam tingkat ketergantungan pasien
4. Mengatur cuti tahunan
5. Permintaan untuk hari libur, serta ketidakhadiran lainnya.
6. Beban kerja tidak melebihi ketentuan (40 jam/ minggu)

I. Dampak jika napping perawat tidak terpenuhi


Jika napping perawat tidak terpenuhi maka akan terjadi :
1. Staf yang mengalami kelelahan yang hebat akan berpotensi 70%
terlibat dalam kecelakaan.
2. Staf dengan insomnia kronik mengalami potensi kecelakaan lebih
tinggi.
3. Staf yang melaporkan mengalami gangguan tidur mempunyai peluang
2 x lebih tinggi untuk meninggal di tempat kerja atau terlibat
kecelakaan kerja
4. Staf yang kekurangan tidur akan bereaksi sangat lambat saat membuat
keputusan dan pandangan menjadi berkurang.
5. Memiliki masalah mengenai bekurangnya system kongnitif dengan
proses informasi dan ingatan jangka pendek
6. Motivasi, kehati-hatian, kecermatan dan kinerja menurun
7. Perilaku agresif dan perubahan suasana hati yang meningkat
8. Meningkatkanya “microsleeps” atau episode tidur sekejap
9. Dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain bahkan pasien
DAFTAR PUSTAKA

Alimul Hidayat, A. Azis. 2006. Pengantar Kebutuhan DAsar Manusia: Aplikasi


Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Asih, S. 2017. Kajian isu kebijakan napping tenaga kesehatan dan kaitannya
dengan keselamatan pasien. Kepala Bagian Sumber Daya Manusia RSUP
Fatmawati.

Autumn, M., Monica, H., Jitendra, M., & Bharat, M. (2016).

The perfect nap. Advances in Management, 9(4), 1.

Ayas N. 2014. Dampak dan Pengaruh Tidur Terhadap Kesehatan. Diakses dari:
https://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0204/22/1003htm.

Costa at al,.2015. Napping on the night shift among nursing staff: potensial
benefits for workers’ health. Escola Anna Nery Revista de Enfermagem.
19(1) : 36-38. DOI: 10.5935/1414-8145.20150005.

Farmilo, K. (2014). Power napping for nurses. American Journal of Nursing,


114(5), 11.
Geiger-Brown, J., Sagherian, K., Zhu, S., Wieroniey, M. A., Blair, L., Warren, J.,
… Szeles, R. (2016). Napping on the night shift : A two hospital implemen
tation project. American Journal of Nursing, 116(5), 26–33.
Marlina. 2011. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Tidur Pada Lanjut Usia Di
Desa Meunasah Balek Kecamatan Kota Meureudu Kabupaten Pidie Jaya.
Jurnal ilmu keperawatan dan kebidanan. Vol 1 no (4).

Martin-Gill, C., Barger, L. K., Moore, C. G., Higgins, J. S., Teasley, E. M., Weiss,

P. M., ...& Divecha, A. A. (2018). Effects of napping during shift work on


sleepiness and performance in emergency medical services personnel and
similar shift workers: a systematic review and meta-analysis. Prehospital
emergency care, 22(sup1), 47-57.

Nery, Esc Anna. (2015). Napping on the night shift among nursing staff : potential
benefits for workers' health. Brazil : Faculty of Public Health, University
of São Paulo, 19(1), 33-39.
Nurachmah E. 2018. Napping dalam Keperawatan/Kesehatan. Departemen
Keperawatan Medikal Bedah Universitas Indonesia.

Pakiser-Reed, K. (2013). Night-Shift nursing: Savvy solutions for a healthy


lifestyle. Indiapolis: Sigma Thet Tau International

Sun Q , Xiaopeng Ji, Wenqin Zhou, &Jianghong Liu. 2018. Sleep problems in
shift nurses: A brief review and recommendations at both individual and
institutional levels. Journal of Nursing Mangement. Review Artikel. Vol
27 (1): 10-18
Takeyama, H., Kubo, T., dan Itani, T. 2005. The Nighttime Nap Strategies for
Improving Night ShiftWork in Workplace. Industrial Health. 24-29.

Tarwanto & Wartonah. (2006). Kebutuhan dasar manusia dan proses


keperawatan. Edisi ke-3. Jakarta : Salemba Medika

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003. Ketenagakerjaan. 25

Maret 2003. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Keselamatan Pasien.


Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 Tenaga Kesehatan.
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 298. 17 Oktober
2014. Jakarta

Waringin, T. D. (2018). Life revolution. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama