Anda di halaman 1dari 16

SISTEM SARAF PADA VERTEBRATA

DAN INVERTEBRATA

DISUSUN OLEH :
NURUL HUDANA/1716042008
ANISYA RAHMANIAH NASRA/1916041013
HARDIANTI S/1916042003
NUR AFIFAH ABDUH/1916041005
PUSPITASARI/1916040017
YUSMI INDRIANI BISA/1916042001

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2020
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT., karena berkat


limpahan rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga penyusunan makalah ini dapat
diselesaikan sebagaimana yang telah direncanakan.

Penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada segala pihak yang


terlibat dalam penyusunan makalah ini. Karena dengan curahan pendapat dan
pikiran yang diterima oleh tim penyusun, makalah ini dapat diselesaikan
sebagaimana mestinya.

Sebelumnya, kami memohon maaf jika dalam penyusunan makalah ini


terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Baik dari kesalahan kata maupun hal-
hal lainnya yang tidak berkenan di hati, karena penyusun juga seorang manusia
biasa yang tidak luput dari kesalahan.

Demikian makalah ini kami buat dengan harapan dapat


dimanfaatkan dan mungkin juga dalam pembuatan makalah ini
masih banyak kekurangan. Atas perhatian dan kerjasamanya di
ucapkan terima kasih. Maka dari itu, penyusun sangat membutuhkan kritik
dan saran dari pihak lain agar kualitas dari penyusunan makalah ini dapat lebih
ditingkatkan di masa mendatang.

Makassar, Februari 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................iii
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Rumusan masalah.........................................................................................2
C. Tujuan...........................................................................................................2
D. Manfaat.........................................................................................................2
BAB II......................................................................................................................3
PEMBAHAHASAN................................................................................................3
A. Sistem Saraf..................................................................................................3
B. Fungsi Sistem Saraf......................................................................................3
C. Jenis- Jenis Sitem Saraf.................................................................................3
D. Sistem Saraf Pada Hewan Vertebrata dan Invertebrata................................4
Sistem Saraf Vertebrata....................................................................................4
Sistem Saraf Invertebrata..................................................................................6
BAB III..................................................................................................................11
PENUTUP..............................................................................................................11
A. Kesimpulan.................................................................................................11
B. Saran............................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................12

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Coelenterata............................................................................................6
Gambar 2. Echinodermata........................................................................................7
Gambar 3. Annelida.................................................................................................7
Gambar 4. Arthropoda.............................................................................................8
Gambar 5. Mollusca.................................................................................................9
Gambar 6. Platyhelmintes........................................................................................9
Gambar 7. Porifera.................................................................................................10

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Cara manusia bertindak dan bereaksi bergantung pada pemrosesan neuron
yang rumit, tersusun, dan diskret. Banyak dari pola neuron penunjang  kehidupan
dasar, misalnya pola yang mengontrol respirasi dan sirkulasi, serupa pada semua
orang. Namun, tentu ada perbedaan halus dalam integrasi neuron antara seseorang
yang merupakan komponis berbakat dan orang yang tidak dapat bernyanyi, atau
antara seorang pakar matematika dan orang yang kesulitan membagi bilangan.
Sebagian perbedaan pada sistem saraf individu disebabkan oleh factor genetik.
Namun sisanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan pengalaman. Ketika
sistem saraf imatur berkembang sesuai cetak-biru genetiknya, terbentuk neuron
dan sinaps dalam jumlah berlebihan. Bergantung pada rangsangan dari luar, dan
tingkat pemakaiannya, sebagian dari jalur – jalur saraf ini dipertahankan, dibentuk
lebih pasti, dan bahkan meningkat, sementara yang lain dieliminasi.
Sistem saraf merupakan salah satu bagian yang menyusun sistem
koordinasi yang bertugas menerima rangsangan, menghantarkan rangsangan ke
seluruh bagian tubuh, serta memberikan respons terhadap rangsangan tersebut.
Pengaturan penerima rangsangan dilakukan oleh alat indera. Pengolah rangsangan
dilakukan oleh saraf pusat yang kemudian meneruskan untuk menanggapi
rangsangan yang datang dilakukan oleh sistem saraf dan alat indera.
Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan diatas dan sebagai
pemenuhan tugas dari dosen maka penulis tertarik untuk menyusun makalah yang
berjudul “Sistem Saraf pada Vertebrata dan Invertebrata”.

1
B. Rumusan masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang dikemukakan di latar belakang, maka
rumusan masalahnya yakni:
1. Apa pengertian dari sistem saraf?
2. Apa fungsi dari sitem saraf?
3. Apa saja jenis-jenis pada sistem saraf?
4. Bagaimana sistem saraf pada kelas vertebrata?
5. Bagaimana system saraf pada kelas invertebrata?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui pengertian sistem saraf
2. Untuk mengetahui fungsi sistem saraf
3. Untuk mengetahui jenis-jenis sistem saraf
4. Untuk mengetahui sistem saraf pada kelas vertebrata
5. Untuk mengetahui system saraf pada kelas invertebrata.

D. Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu mahasiswa dapat
mengetahui dan membedakan sistem saraf pada kelas vertebrata dan invertebrata.

2
BAB II

PEMBAHAHASAN

A. Sistem Saraf
Sistem Saraf adalah sistem yang mengatur dan mengendalikan semua
kegiatan aktivitas tubuh kita seperti berjalan, menggerakkan tangan, mengunyah
makanan dan lainnya. Sistem ini juga disebut sebagai sistem saraf atau sistem
pengatur tubuh. Sistem saraf adalah jaringan sel-sel saraf dan pada kebanyakan
hewan termasuk juga otak. Dalam vertebrata, juga termasuk sum sum tulang
belakang. Jenis sel utama yang ditemukan dalam sistem saraf adalah neuron,
yang memiliki sel tubuh, yang mengandung inti, dan ekstensi panjang untuk
membawa informasi dari satu bagian tubuh kebagian lain. Sistem Saraf tersusun
dari jutaan serabut sel saraf (neuron) yang berkumpul membentuk suatu berkas
(fasikulum) Neuron adalah komponen utama dalam sistem saraf. Fungsi sel saraf
adalah mengirimkan pesan (impuls) yang berupa rangsangan atau tanggapan.
B. Fungsi Sistem Saraf
Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu:
1. Menerima informasi berupa rangsangan yang diterima oleh indra tubuh,
2. Memproses informasi yang diterima, dan
3. Menghasilkan tanggapan atau memberikan respons terhadap informasi
tersebut.
C. Jenis- Jenis Sitem Saraf
Berdasarkan letak kerjanya Sistem Saraf terdiri atas 3 bagian yaitu:
1. Sistem Saraf Pusat
Terdiri atas:
a. Otak
b. Sumsum Tulang Belakang
2. Sistem Saraf tepi
Sistem saraf tepi atau sistem saraf perifer adalah bagian dari sistem saraf
yang bagian sarafnya terdiri dari sel-sel yang membawa informasi ke sel sensorik
dari sel saraf motorik.

3
3. Sistem Saraf Atonom
Sistem saraf atonom atau sistem saraf tak sadar adalah saraf yang dapat
melakukan perintah atau bekerja tanpa kita sadari dan bergerak secara otomatis
yang tidak dikehendaki saraf pusat terlebih dahulu.
D. Sistem Saraf Pada Hewan Vertebrata dan Invertebrata
Sistem saraf pada hewan berbeda-beda baik struktur maupun bentuknya.
Hewan yang bertulang belakang, sistim sarafnya adalah saraf pusat dan saraf tepi,
sementara hewan yang tak bertulang belakang mereka memiliki sistim saraf yang
berbentuk seperti tangga tali. Walaupun berbeda struktur dan bentuknya, sistim
saraf tulang belakang dan sisrim saraf yang tak bertulang belakang memiliki
kesamaan fungsi. Adapun fungsinya adalah dari sistim sarafnya yakni mengatur
dan mengendalikan kerja alat-alat tubuh, mengetahui perubahan yang terjadi pada
lingkungannya serta mengatur dan mengendalikan tanggapan terhadap ransangan
yang datang dari lingkungannya

Sistem Saraf Vertebrata


a. Mamalia
Hewan mamalia adalah kelompok hewan yang memiliki alat-alat tubuh
dan sistem alat tubuh yang paling kompleks dibandingkan kelompok hewan yang
lainnya seperti burung, ikan, ampibi dan yang lainnya. Sistem saraf pada mamalia
hampir sama dengan sistem saraf pada manusia. Dikarenakan binatang mamalia
memiliki bagian-bagian otaknya sama dengan otak manusia yakni mempunyai
otak depan, otak tengah dan otak belakang. Dan masing-masing bagian otak itu
berfungsi dan berkembang dengan baik, selain itu binatang mamalia memiliki
sumsum lanjutan dan sumsum spinal yang biasa dikenal dengan sumsum tulang
belakang. Beberapa jenis mamalia memiliki kemampuan lebih karena pusat-pusat
saraf di otak hewan tersebut mengalami perkembangan yang lebih menonjol.
Kemampuan seperti itu bermanfaat bagi hewan dalam mencari mangsa. Misalnya,
kemampuan lebih pada indra penglihat dan indra pendengar kucing, indra
pendengar kelelawar yang sangat tajam, dan indra pencium anjing yang sangat
tajam. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sistem panca indra mamalia

4
hampir sama dengan sistem panca indra manusia, bahkan ada beberapa hewan
mamalia yang memiliki kelebihan panca indra dibandingkan dengan manusia.
b. Aves
Sistem saraf Aves atau contohnya itu burung terdiri atas sistem saraf pusat
dan saraf tepi. Sistem saraf pusat terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang.
Sistem saraf tepi terdiri atas serabut-serabut saraf yang berasal dari otak dan
serabut-serabut saraf yang berasal dari sela-sela ruas tulang belakang; Otak
burung terdiri atas otak depan, otak tengah, otak belakang, dan sumsum lanjutan.
Otak besar sebagai bagian utama dan otak depan terbagi menjadi belahan
kanan dan belahan kiri. Permukaannya tidak berlipat-lipat sehingga tidak
menampung lebih banyak sel-sel saraf seperti pada otak besar manusia. Otak
tengah burung sebagai pusat saraf penglihat berkembang baik dengan membentuk
gelembung sehingga indra penglihat burung berkembang dengan baik. Di
permukaan otak kecil terdapat lipatan-lipatan yang mampu menampung sel-sel
saraf lebih banyak. Sel saràf yang makin banyak pada otak kecil menunjukkan
pusat keseimbangan burung ketika terbang berkembang dengan baik.
c. Reptilia
Sistem saraf reptilia terdiri atas sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Di
bagian otak besar, lobus olfaktorius yang merüpakan pusat pencium berkembang
dengan baik Sehingga indra penciumannya lebih tajam. Perkembangan otak
tengah reptilia terdesak oleh otak besar. Otak tengah menjadi kurang berkembang
dengan baik sehingga menyebabkan indra penglihat reptilia kurang tajam.
d. Amfibi
Salah satu contoh hewan amfibi adalah katak. Sistem saraf katak tersusun
atas sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Hewan tersebut memiliki otak depan,
otak tengah, otak belakang, dan sumsum lanjutan yang membentuk suatu sistem
saraf pusat, sedangkan serabut-serabut saraf yang berasal dan sela-sela ruas tulang
belakang membentuk suatu sistem saraf tepi. Otak besar berkembang memanjang
sehingga berbentuk oval.
Ujung depan otak besar berhubungan dengan indra pencium. Otak tengah
berkembang cukup baik dan berhubungan dengan indra penglihat (lobus optikus).

5
Otak kecil berbentuk lengkung mendatar menuju ke arah sumsum lanjutan dan
kurang berkembang dengan baik.

e. Ikan (pisces)
Sistem saraf pisces atau ikan terdiri atas sistem saraf pusat dan sistem saraf
tepi. Sistem saraf pusat terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang. Otak ikan
terdiri atas otak depan, otak tengah, otak kecil, dan sumsum lanjutan. Sistem saraf
tepi térdiri atas serabut saraf otak dan serabut saraf dari sumsum tulang belakang.
Otak depan berhubungan dengan saraf pencium dan hidung, sedangkan otak
tengah berhubungan dengan saraf penglihat. Kedua bagian tersebut kurang
berkembang dengan baik sehingga indra pencium dan penglihat ikan kurang
berkembang dengan baik. Bagian otak ikan yang berkembang paling baik adalah
otak kecil. Otak kecil berfungsi sebagai pusat keseimbangan dan pusat pengaturan
gerak otot-otot ketika berenang. Keberadaan pusat keseimbangan dan pengaturan
gerak ini memungkinkan ikan dapat bergerak cepàt dalam air tanpa terganggu
keseimbangannya.

Sistem Saraf Invertebrata


a. Coelenterata

Gambar 1. Coelenterata
Sistem saraf coelenterata merupakan sistem saraf sederhana berbentuk
jala. Berfungsi untuk mengatur pergerakan dan menanggapi rangsangan. Pusat
dari sistem saraf coelenterata adalah rongga mesoglea. Pada Coelenterata akuatik
seperti Hydra, ubur-ubur dan Anemon laut pada Mesoglea yang terletak diantara

6
epidermis (ektoderm) dan gastrodermis (endoderm) terdapat sistem saraf diffus
karena sel-sel saraf masih tersebar saling berhubungan satu sama lain menyerupai
jala yang disebut saraf jala. Sistem saraf ini terdiri atas sel-sel saraf berkutub satu,
berkutub dua, dan berkutub banyak yang membentuk sistem yang saling
berhubungan seperti jala. Meskipun demikian impuls dari satu sel ke sel yang
lainnya lewat melalui sinaps. Saraf jala sudah merupakan sistem sinaps tapi tidak
mempunyai cirri-ciri sinaps.
b. Echinodermata

Gambar 2. Echinodermata
Sistem saraf pada Echinodermata masih merupakan sistem saraf primitif.
sistem saraf echinodermata terdiri dari tiga komponen utama: ectoneural,
hyponeural dan sistem entoneural. Sistem ectoneural adalah saraf sensorik dan
motorik dan membentuk cincin saraf dan sebagian besar tali saraf radial. Sistem
hyponeural, khusus di saraf motorik, terdapat dalam tali saraf radial dan
berhubungan dengan sistem otot rangka. Komponen ketiga, system entoneural
(juga disebut sistem apikal), terdapat di asteroid dan crinoids dan tidak terdapat
pada kelompok lain.
Meskipun sel-sel saraf tersusun dalam bentuk cincin saraf sekeliling
rongga mulut dan mempunyai cabang ke tiap lengan, tetapi susunan saraf
didalamnya masih diffus seperti jala dan belum ada pengelompokan dalam
ganglion. Sel-sel saraf berhubungan (innervasi) dengan kaki pembuluh, duri dan
lain-lain. Meskipun sistem saraf Echinodermata masih diffus seperti pada
Coelenterata, namun sistem sarafnya sudah mempunyai struktur tertentu dan
fungsinya sudah lebih maju. Terdapat sel saraf motorik, sel saraf sensorik dan
telah ada refleks. Misalnya pada bintang laut, terdapat cincin saraf dalam cakram.
Pada tiap penjuluran tubuhnya terdapat saraf radial pada sisi ventral. Saraf ini
bercabang-cabang halus banyak sekali. Tiap saraf radial berakhir sebagai sebuah
mata pada tiap penjuluran tubuh (Garcia, 2011).

7
c. Annelida

Gambar 3. Annelida
Pada hewan Polychaeta terdapat ganglion serebral atau ganglion
supraesofageal dapat juga disebut sebagai otak yang terletak di sebelah dorsal
kepala. Ganglion supraesofageal itu dihubungkan dengan ganglion subesofageal
oleh 2 buah saraf sirkumesofageal. Dari ganglion subesofageal itu mengalir ke
belakang sebatang saraf ventral. Dalam setiap metamer atau segmen batang saraf
ventral itu membuat tonjolan sebagai segmen ganglion. Batang saraf ventral
bercabang-cabang lateral. 
Palpus dan tentakel pada hewan ini merupakan indra yang menerima saraf
dari ganglion supraesofageal. Terdapat mata sederhana sebanyak 4 buah. Mata
sederhana itu terdiri dari kornea, lensa, dan retina sehingga analog dengan mata
pada vertebrata.
Cacing tanah memiliki sistem saraf yang terdiri atas ganglion kepala,
ganglion bawah kerongkongan, dan ganglion ruas badan. Ganglion kepala
merupakan kumpulan badan sel saraf, terletak di ujung depan tubuh pada ruas
ketiga. Ganglion kerongkongan dan ganglion ruas badan terletak di bawah saluran
pencernaan. Di antara ganglion kepala dan ganglion bawah kerongkongan
terdapat dua buah saraf penghubung. Di antara ganglion bawah kerongkongan dan
ganglion ruas badan terdapat satu buah saraf penghubung.
Selanjutnya, pada tiap-tiap ruas tubuh terdapat ganglion yang membentuk
cabang-cabang halus. Sistem saraf pada ruas tubuh dengan percabangannya
berfungsi mengatur gerakan tubuh cacing tanah.

8
d. Arthropoda

Gambar 4. Arthropoda
Jaringan saraf dapat dibagi ke dalam saraf pusat dan saraf tepi. Saraf pusat
terdiri dari sepasang rantai saraf rantai yang terdapat di sepanjang tubuh bagian
ventral. Sistem saraf serangga berupa sistem saraf tangga tali berjumlah sepasang
yang berada di sepanjang sisi ventral tubuhnya. Sistem saraf yang terdiri dari
serangkaian ganglia, dihubungkan dengan tali saraf ventral terdiri dari dua paralel
connectives sepanjang perut. Biasanya, setiap segmen tubuh memiliki satu
ganglion pada setiap sisi, meskipun beberapa ganglia yang melebur untuk
membentuk otak dan ganglia besar lainnya. Segmen kepala berisi otak, juga
dikenal sebagai ganglion supraesophageal. Pada berbagai tempat di segmen tubuh,
ada pembesaran saraf tangga tali yang disebut ganglia. Ganglia berfungsi sebagai
pusat refleks dan pengendalian berbagai kegiatan. Ganglia bagian anterior yang
lebih besar berfungsi sebagai otak.
e. Mollusca

Gambar 5. Mollusca
Sistem saraf mollusca terdiri dari cincin saraf yang nengelilingi esofagus
dengan serabut saraf yang melebar. Pada bekicot, saraf-saraf ganglion secara rapat
berpasangan sebagai saraf serebral (dorsal dari faring dan bukal), saraf kaki, saraf
jeroan. Saraf-saraf dari ganglia itu melanjut keseluruh sistem organ. 
Pada gastropoda, serebral atau ganglion suboeofagus mempunyai peran untuk
mengontrol ganglia yang lebih bawah.

9
f. Platyhelmintes

Gambar 6. Platyhelmintes
Pada platyhelmintes contohnya cacing pipih Sistem saraf tangga tali
merupakan sistem saraf yang paling sederhana. Pada sistem tersebut, pusat
susunan saraf yang disebut sebagai ganglion otak terdapat di bagian kepala dan
berjumlah sepasang. Dari kedua ganglion otak tersebut keluar tali saraf sisi yang
memanjang di bagian kiri dan kanan tubuh yang dihubungkan dengan serabut
saraf melintang. Pada cacing pipih yang lebih tinggi tingkatannya, sistem saraf
dapat tersusun dari sel saraf (neuron) yang dibedakan menjadi sel saraf sensori
(sel pembawa sinyal dari indra ke otak), sel saraf motor (sel pembawa dari otak ke
efektor), dan sel asosiasi (perantara).
g. Porifera

Gambar 7. Porifera
Tidak semua avertebrata memiliki sistem saraf .Hewan yang tergolong
Protozoa dan Porifera tidak memiliki sistem saraf.Setiap sel penyusun tubuh
hewan tersebut mampu mengadakan reaksi terhadap stimulus yang diterima tidak
ada koordinasi antara satu sel dengan sel tubuh lainnya.Hewan bersel satu seperti
Amoeba dan Paramecium meskipun tidak memiliki urat saraf tapi protoplasmanya
dapat melakukan segala kegiatan sebagai makhluk hidup seperti iritabilitas,
bergerak dan menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kelompok Porifera ini
belum mempunyai sistem saraf, tetapi apabila mendapatkan rangsang yang berupa
sentuhan, terutama pada daerah oskulum, maka rangsang tersebut akan diteruskan
dari sel ke sel secara lambat. Porifera mempunyai ciri khusus berupa tubuh yang
berpori-pori mikroskopis. Dalam fase hidupnya, porifera mengalami 2 bentuk
kehidupan, yaitu hidup berenang bebas (polip) dan hidup menetap (sesil). Bentuk
polip terjadi pada fase larva, sedangkan bentuk sesil terjadi pada fase dewasa.
Porifera belum memiliki organ pencernaan, sistem saraf, dan sistem peredaran
darah.

10
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Sistem saraf adalah jaringan sel-sel saraf dan pada kebanyakan hewan
termasuk juga otak. Dalam vertebrata, juga termasuk sum sum tulang
belakang. Jenis sel utama yang ditemukan dalam sistem saraf adalah
neuron, yang memiliki sel tubuh, yang mengandung inti, dan ekstensi
panjang untuk membawa informasi dari satu bagian tubuh kebagian lain.
2. Sistem endokrin disebut juga sistem kelenjar buntu, yaitu kelenjar yang
tidak mempunyai saluran khusus untuk mengeluarkan sekretnya. Sekret
dari kelenjar endokrin disebut hormon. Hormon berasal dari
kata hormaein yang artinya “membangkitkan”. Hormon berperan dalam
mengatur berbagai aktivitas dalam tubuh hewan, antara lain aktivitas
pertumbuhan, reproduksi, osmoregulasi, pencernaan, dan integrasi serta
koordinasi tubuh.

B. Saran
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, wajar jika
terjadi kesalahan dari penulis. Kami sebagai penulis secara pribadi memberi saran
kepada pembuat karya tulis selanjutnya, agar dalam menulis suatu karya tulis,
perlu memperhatikan cara penulisan makalah yang baik dan benar serta meninjau
lebih banyak lagin referensi.

11
DAFTAR PUSTAKA

Sri, Fitria. 2018. Sistem Saraf Hewan Vertebrata dan Invertebrata.


https://www.sridianti. com/sistem-saraf-hewan-vertebrata-dan-
invertebrata.html. (diakses pada tanggal 1 Oktober 2018).
Sunarto, dkk. 2004. Konsep dan Penerapan Sains Biologi. Solo: Tiga Serangkai.
Suharyanto. 2018. Sistem Hormon pada Pisces.
https://dosenbiologi.com/hewan/sistem hormon-pada-pisces. . (diakses
pada tanggal 1 Oktober 2018).
Syahraini. 2012. Sistem Endokrin pada Hewan.
http://syahrainiritz.blogspot.com/2012/07/ sistem-endokrin-pada-
hewan.html (diakses pada tanggal 1 Oktober 2018)

12