Anda di halaman 1dari 14

CIRI KHUSUS TUMBUHAN PAKU TINGKAT KELAS

MAKALAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Keanekaragaman Tumbuhan


yang dibimbing oleh Dra. Sunarmi, M.Pd. dan Umi Fitriyati, S.Pd., M.Pd.

Oleh :

Kelompok 2/Offering I 2018

1. Aziza Fadhilah (180342618018)


2. Delaila Nafulani Em De Sundjie (180342618010)
3. Hamdan Fatah Ali (180342618070)
4. Thania Ayu Pramesty (180342618029)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI
Maret 2020
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Ciri Khusus
Tumbuhan Paku Tingkat Kelasdengan tepat waktu.

Dalam makalah yang berjudul Ciri Khusus Tumbuhan Paku Tingkat Kelasini
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan dan
juga untuk referensi Sivitas Akademika Universitas Negeri Malang dalam menghadapi
mata kuliah biologi yang lebih lanjut.

Dalam penyusunan makalah ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada dosen
pengampu mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan, Dra. Sunarmi, M.Pd. dan Umi
Fitriyati, S.Pd., M.Pdserta sahabat kami keluaraga besar Biologi 2018 yang selalu
memberikan dukungan serta semangatnya dalam penyusunan makalah ini.

Segala upaya telah dilakukan untuk menyusun makalah Ciri Khusus Tumbuhan
Paku Tingkat Kelasini, namun bukan mustahil dalam makalah ini masih terdapat
kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca yang dapat dijadikan masukan dalam penyempurnaan makalah ini di masa yang
akan datang.

Akhir kata, semogamakalahinidapatbermanfaatbagikitasemua dalam memahami


materi Tumbuhan Pakudengan baik dan benar.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Malang, 17 Maret 2020

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.....................................................................................................................i
KATA PENGANTAR..................................................................................................................ii
DAFTAR ISI.................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................4
1.1 Latar Belakang..................................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................................5
1.3 Tujuan................................................................................................................................5
1.4 Manfaat..............................................................................................................................5
BAB II KAJIAN PUSTAKA......................................................................................................6
2.1 Karakteristik Tumbuhan Paku atau Pteridophyta............................................................6
2.2 Ciri Khusus Tumbuhan Paku Purba (Psilopsida)............................................................7
2.3 Ciri Khusus Tumbuhan Paku Kawat (Lycopsida)...........................................................8
2.4 Ciri Khusus Tumbuhan Paku Ekor Kuda (Sphenopsida)................................................10
2.5 Ciri Khusus Tumbuhan Paku Sejati (Pteriopsida)...........................................................11
BAB III PENUTUP.....................................................................................................................13
3.1 Simpulan.........................................................................................................................13
3.2 Saran...............................................................................................................................14
DAFTAR RUJUKAN.................................................................................................................15

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tumbuhan pakumerupakansuatu divisi yang warganya telah jelas mempunyai


kormus, artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokoknya,
yaitu akar, batang, dan daun. Namun demikian, pada tumbuhan paku belum dihasilkan
biji. Seperti warga divisi-divisi yang telah dibicarakan sebelumnya, alat perkembang-
biakan tumbuhan paku yang utama adalah spora. Oleh sebab itu sementara ahli
taksonomi membagi dunia tumbuhan dalam dua kelompok saja yang diberi nama
Cryptogamae dan Phanerogamae. Cryptogamae (tumbuhan spora) meliputi yang
sekarang kita sebut di bawah nama Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, dan
Pterydophyta. Nama Cryptogamaediberikan atas dasar cara perkawinan (alat-alat
perkawinannya) yang tersembunyi (cryptos-tersembunyi, gamos kawin), berbeda
dengan Phanerogamae (tumbuhan biji) yang cara perkawinannya tampak jelas (yang
dimaksud disini sebenarnya adalah penyerbukan yang lebih dulu diketahui daripada
peristiwa-peristiwa seksual yang terjadi pada golongan tumbuhan yang tidak berbiji)
(Tjitrosoepomo, 2009).

Di dalam kehidupannya, tumbuhan paku dipengaruhi oleh factor lingkungan.Setiap


jenis tumbuhan paku memerlukan kondisi lingkungan abiotik untuk dapat
hidup.Tumbuhan ini hidup subur dan banyak dijumpai pada lingkungan yang
lembabdanberiklimtropis, (Efendi, 2013). MenurutEwusie (2010), mengatakan bahwa
jenis tumbuhan yang dapat hidup sebagai epifit mencapai 30.000 jenis yang merupakan
sekitar 10% dari seluruh jenis tumbuhan berpembuluh di muka bumi yang terbagi
dalam 850 margadan 65 suku. Jumlah terbanyak dari suku Orchidaceae yang mencakup
25 000 jenis, dari kelompok paku-pakuan terdapat 3000 jenis, dan kelas Dikotiledonae
sekitar 3000 jenis, dan banyak lagi dari suku termasuk Gymnospermae. Menurut Efendi
(2013), identifikasi jenis paku-pakuan epifit pada berbagai jenis
pohon, tingkat pertumbuhan dan bagian – bagian pohon yang menjadi inang karena
ketergantungannya pada kondisi iklim mikroteg akan hutan, menyebabkan keberadaan
sejumlah koloni paku-pakuan epifit hanya dapat dijumpai pada jenis pohon tertentu.

4
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana karakteristik dari tumbuhan paku atau Pteridophyta?
2. Bagaimana ciri khusus tumbuhan paku purba atau Psilopsida?
3. Bagaimana ciri khusus tumbuhan paku kawat atau Lycopsida?
4. Bagaimana ciri khusus tumbuhan paku ekor kuda atau Sphenopsida?
5. Bagaimana ciri khusus tumbuhan paku sejati atau Pteriopsida?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui karakteristik dari tumbuhan paku atau Pteridophyta.
2. Untuk mengetahui ciri khusus tumbuhan paku purba atau Psilopsida.
3. Untuk mengetahui ciri khusus tumbuhan paku kawat atau Lycopsida.
4. Untuk mengetahui ciri khusus tumbuhan paku ekor kuda atau Sphenopsid.
5. Untuk mengetahui ciri khusus tumbuhan paku sejati atau Pteriopsida.

1.4 Manfaat
1. Bagi mahasiswa untuk menambah pengetahuan tentang materi tumbuhan paku
(Pteridophyta)dan karakteristiknya.
2. Bagi sivitas akademika berguna untuk menambah informasi tentang macam-
macam kelas dari divisi tumbuhan paku atau Pteridophyta beserta ciri
khususnya.

5
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Tumbuhan Paku atau Pteridophyta


Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berkormus dan berspora. Hal tersebut
diartikan bahwa tumbuhan paku dapat dibedakan antara akar, batang dan daun (Ceri,
2014). Tumbuhan paku juga disebut sebagai Pteridophyta yang berasal dari bahasa
Yunani. Pteridophyta diambil dari kata pteron yang berarti sayap, bulu, sedangkan
phyta yang berarti tumbuhan (Ewusie, 2010). Di Indonesia, tumbuhan ini lebih dikenal
sebagai tumbuhan paku.
Berdasarkan artinya, Pteridophyta memiliki susunan daun yang umumnya
membentuk bangun sayap (menyirip) dan pada bagian pucuk (ujung) terdapat bulu-bulu
daun mudanya yang membentuk gulungan atau melingkar. Tumbuhan paku
memperlihatkan pergiliran keturunan yang  jelas dan menghasilkan spora seperti halnya
pada filum Bryophyta. Namun, pada  pteridophyta fase gametofitnya sangat kecil dan
masih berbentuk thallus yang disebut protalium (berupa lembaran kecil) sehingga tidak
terlihat jelas. Sifat prothallium pada tumbuhan paku tersebut tergantung pada sifat
sporanya (Tjitrosoepomo, 2009).
Selain itu pada tumbuhan paku, fase gametofitnya lebih singkat daripada fase
sporofitnya. Adapun fase sporofitnya terlihat jelas. Fase inilah yang sering kita lihat
dan kita kenal sebagai tumbuhan paku (Efendi, 2013). Tumbuhan paku terdiri dari 20
ribu jenis dengan klasifikasi dan ciri-ciri tertentu. Klasifikasi tumbuhan paku
(Pterydophyta) dibagi menjadi beberapa subdivisi tersebut yang memiliki kesamaan
ciri-ciri.
Klasifikasi tumbuhan paku dapat dilakukan melalui ciri-ciri yang pertama yaitu
ada atau tidaknya daun serta bentuk dan susunan daunnya. Ciri yang kedua yakni
melalui susuan sporangium, jenis, bentuk dan ukuran sporanya. Ciri yang ketiga yakni
dapat dilihat dari bentuk, susunan anatomi tubuh dan lain-lain. Tumbuhan paku
(Pterydophyta) dibagi menjadi empat subdivisi yaitu:
1. Tumbuhan Paku Purba (Psilopsida)
2. Tumbuhan Paku Kawat (Lycopsida)
3. Tumbuhan Paku Ekor Kuda (Sphenopsida)
4. Tumbuhan Paku Sejati (Pteriopsida)

6
Untuk uraian ciri-ciri dari ke empat subdivisi tumbuhan paku tersebut akan dijelaskan
sebagai berikut.

2.2 Ciri Khusus Tumbuhan Paku Purba (Psilopsida)


Psilopsida (Yunani, psilos = terbuka) merupakan tumbuhan paku purba (primitive)
yang sebagian besar anggotanya sudah punah dan ditemukan sebagai fosil. Tumbuhan
ini diduga hidup pada periode antara zaman Silurian dan Devonian. Hanya beberapa
spesies yang masih hidup di bumi saat ini, misalnya Psilotum nudum (Pooja, 2004).

Gambar 1. Psilotum nudum.


Sumber:Pooja (2004).
Selain itu, paku purba mempunyai struktur tubuh yang sederhana dengan ukuran
tinggi sekitar 30 cm-1 m. Sporofit (2n), umumnya tidak memiliki daun dan akar sejati.
Akan tetapi, memiliki rizom yang di sekelilingnya terdapat rizoid. Pada paku purba
yang memiliki daun, ukuran daun kecil (mikrofil) dan berbentuk seperti sisik. Batang
bercabang-cabang dikotomus, berklorofil, dan sudah memiliki sistem vaskuler
(pembuluh) untuk mengangkut air serta garam mineral (Loveless, 2009).
Sporangium dibentuk di ketiak ruas batang. Sporangium menghasilkan satu jenis
spora dengan  bentuk dan ukuran yang sama (homospora). Gametofit (n) tersusun dari
sel-sel yang tidak  berklorofil sehingga zat organik didapatkan dan simbiosis dengan
jamur (Efendi, 2013). Tumbuhan paku purba biasanya tumbuh di daerah tropis dan
subtropis.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan ciri-ciri dari tumbuhan paku purba
(Psilopsida) adalah sebagai berikut :
a. Pada umumnya memiliki daiun yang kecil (mikrofil) dan batang berklorofil
b. Merupakan tumbuhan paku yang sederhana
c. Memiliki ketinggian sekitar 30 cm- 1m
d. Pada sporofit umumnya tidak memiliki daun dan akar sejati

7
e. Akar pada tumbuhan paku purba berupa rizom yang dikelilingi oleh rizoid
f. Batang paku purba bercabang-cabang dan memiliki sistem vaskuler
g. Sporangium menghasilkan satu jenis bentuk dan ukuran yang sama
h. Hidup di daerah tropis dan subtropis.

2.3 Ciri Khusus Tumbuhan Paku Kawat (Lycopsida)


Lycopsida (paku kawat/paku rambut) disebut juga club moss (lumut gada) atau
ground pine  (pinus tanah), tetapi sebenarnya bukan merupakan lumut atau  pinus
(Tjitrosoepomo, 2009).  Lycopsida  sudah ada di bumi pada masa Devonian dan
tumbuh melimpah selama masa Karboniferus. Lycopsida yang hidup pada masa
tersebut telah menjadi fosil atau endapan batubara.
Pada masa Karboniferus, Lycopsida berukuran tubuh besar sekitar 3 m hidup di
rawa rawa selama jutaan tahun, tetapi punah ketika rawa-rawa tersebut mulai
mengering. Berbeda halnya pada Lycopsida yang berukuran kecil dapat bertahan hidup
hingga sekarang. Lycopsida banyak tumbuh di hutan-hutan daerah tropis, tumbuh di
tanah atau epifit di kulit pohon, tetapi tidak bersifat parasit (Vashishta, 2006).
Bagian tubuh Lycopsida  yang mudah dilihat merupakan generasi sporofitnya (2n).
Sporofit tersusun dari sel-sel yang mengandung klorofil dan memiliki daun berbentuk
seperti rambut atau sisik yang tersusun rapat pada batang. Batang berbentuk seperti
kawat pada ujung cabang-cabang  batang terdapat sporofil dengan struktur berbentuk
gada (strobilus) yang mengandung sporangium (Tjitrosomo, 1983). Sporangium
menghasilkan spora Lycopsida ada yang menghasilkan satu jenis spora (homospora),
misalnya Lycopodium sp. ada pula yang menghasilkan dua jenis spora (heterospora)
misalnya Selaginella sp.

A B

Gambar 2. A. Lycopodium clavatum. B. Selaginella selaginoides.


Sumber:Vashishta (2006).

8
Gametofit (n) berukuran kecil dan tidak berklorofil sehingga zat organik diperoleh
dengan cara bersimbiosis dengan jamur. Gametofit ada yang menghasilkan dua jenis
alat kelamin (bigeneratif), misalnya Lycopodium sp., ada pula yang menghasilkan satu
jenis alat kelamin (unigeneratif) misalnya Selaginella sp. (Setyawan, 2015).
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan ciri-ciri dari tumbuhan paku kawat
(Lycopsida) adalah sebagai berikut :
a. Hidup pada zaman purba.
b. Paku kawat saat ini sudah menjadi fosil atau endapan batubara.  
c. Saat zaman purba, paku kawat rata-rata berukuran 3 m dan hidup di rawa-rawa.
d. Paku kawat punah saat rawa-rawa tersebut kering  
e. Paku kawat yang berukuran kecil masih bisa bertahan hidup sampai sekarang
dan hidup di hutan-hutan tropis, di tanah atau epifit di kulit pohon, tetapi tidak
bersifat parasit.  
f. Sporofit tersusun dari sel-sel yang mengandung klorofil dan memiliki daun
seperti rambut atau sisik.  
g. Batang berbentuk seperti kawat.  
h. Gametofit berukuran kecil dan tidak berklorofil.  
i. Makanan diperoleh dari hasil bersimbiosis dengan jamur.

2.4 Ciri Khusus Tumbuhan Paku Ekor Kuda (Sphenopsida)


Sphenopsida disebut sebagai paku ekor kuda (horsetail) dikarenakan
memiliki percabangan batang yang khas berbentuk ulir atau lingkaran sehingga
menyerupai ekor kuda. Paku ekor kuda juga sering tumbuh di tempat berpasir.
Sporofitnya berdaun kecil (mikrofil) atau berbentuk sisik, warnanya agak
transparan dan tersusun melingkar pada  batang (Loveless, 2009).
Sphenopsida tumbuh melimpah pada masa Karboniferus, dengan ukuran
yang besar dan tingginya mencapai 15 m. Tumbuhan paku ini memiliki batang
yangberongga dan beruas-ruas. Batangnya tampak keras. Hal tersebut dikarena
batang paku ekor kuda tersusun oleh sel-sel dengan dinding sel yang mengandung
silika (sehingga dikenal juga sebagai scouring rushes atau ampelas, yang dapat
digunakan sebagai  bahan penggosok) (Pooja, 2004).

9
Gambar 3. Equisetum arvense.
Sumber:Pooja (2004).
Batang pada Spenopsida memiliki rizoma pada ujung beberapa batang
terdapat strobilus yang di dalamnya terdapat sporangia (Tjitrosoepomo, 2009).
Sporangium menghasilkan spora yang bentuk dan ukurannya sama. Akan tetapi,
ada yang berjenis jantan maupun betina, sehingga paku ekor kuda disebut juga
sebagai  paku peralihan. Sphenopsida tumbuh di tepian sungai yang lembap dan
daerah subtropis belahan bumi utara.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan ciri-ciri dari tumbuhan
paku ekor kuda (Lycopsida) adalah sebagai berikut :
a. Memiliki percabangan batang yang khas berbentuk ulir atau lingkaran
sehingga menyerupai ekor kuda.
b. Tumbuh di tempat berpasir.  
c. Sporofitnya berdaun kecil atau berbentuk sisik warnanya transparan dan
tersusun melingkar pada batang.  
d. Batang berongga dan beruas-ruas
e. Menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran yangsama, tetapi jenisnya
berbeda.  
f. Gametofitnya berukuran kecil dan mengandung klorofil.   
g. Pada saat zaman purba, tinggi sphenopsida tingginya mencapai 15 m..
h. Gametofit paku ekor kuda berukuran kecil (hanya beberapa milimeter)
dan mengandung klorofil sehingga dapat berfotosintesis. Gametofit ada
yang menghasilkan alat kelamin  jantan (anteridium), ada pula yang
menghasilkan alat kelamin betina (arkegonium). Gametofit jantan tumbuh
dan spora jantan sedangkan gametofit betina tumbuh dari spora  betina.

10
2.5 Ciri Khusus Tumbuhan Paku Sejati (Pteriopsida)
Pteropsida  (paku sejati) atau pakis merupakan kelompok tumbuhan paku yang
sering kita temukan di berbagai habitat, terutama di tempat yang lembap.
Pteropsida hidup di tanah, di air, atau epifit di pohon. Pteropsida yang hidup di
hutan hujan tropis sangat beraneka ragam jenisnya, namun Pteropsida juga
ditemukan di daerah beriklim sedang (subtropics). Sporofit Pteropsida memiliki
akar, batang, dan daun.Ukuran batang bervariasi ada yang kecil dan ada pula yang
besar seperti pohon. Batangnya berada di bawah permukaan tanah (rizom) (Efendi,
2013).
Daun Pteropsida berukuran lebih besar dibanding kelompok tumbuhan paku
lainnya. Pada umumnya daun berbentuk lembaran, berukuran besar (makrofil), dan
majemuk (terbagi menjadi  beberapa lembaran) dengan tulang daun bercabang-
cabang. Daun yang masih muda menggulung (circinate). Pteropsida memiliki
sporofil (daun yang menghasilkan spora) dan tropofil (daun untuk fotosintesis dan
tidak mengandung spora).
Menurut Betty (2015), pada sporofil terdapat sporangium yang terkumpul di
dalam sorus di bawah permukaan daun. Pada Pteropsida yang hidup di air,
sporangium terkumpul alam sporokarp. Gametofit Pteropsida memiliki klorofil,
dengan ukuran yang bervariasi (protalium). Gametofit bersifat bigeneratif atau
unigeneratif. Terdapat sekitar 12.000 spesies Pteropsida, antara lain Adiantum
fimbriatum, Asplenium nidus dan Marsilea crenata (Ewusie, 2010).

A B

Gambar 2. A.Adiantum fimbriatum. B. Marsilea crenata.


Sumber:Ewusie (2010).

11
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
1. Pteridophyta memiliki susunan daun yang umumnya membentuk bangun sayap
(menyirip) dan pada bagian pucuk (ujung) terdapat bulu-bulu daun mudanya
yang membentuk gulungan atau melingkar. Tumbuhan paku memperlihatkan
pergiliran keturunan yang  jelas dan menghasilkan spora seperti halnya pada
filum Bryophyta. Namun, pada  pteridophyta fase gametofitnya sangat kecil
dan masih berbentuk thallus yang disebut protalium (berupa lembaran kecil)
sehingga tidak terlihat jelas. Sifat prothallium pada tumbuhan paku tersebut
tergantung pada sifat sporanya. Fase gametofitnya juga lebih singkat daripada
fase sporofitnya. Fase sporofitnya terlihat jelas. Fase inilah dikenal sebagai
tumbuhan paku.
2. Jenis tumbuhan paku ini (Psilopsida), umumnya memiliki daiun yang kecil
(mikrofil) dan batang berklorofil. Merupakan tumbuhan paku yang sederhana.
Memiliki ketinggian sekitar 30 cm- 1m. Pada sporofit umumnya tidak memiliki
daun dan akar sejati. Akar pada tumbuhan paku purba berupa rizom yang
dikelilingi oleh rizoid. Batang paku purba bercabang-cabang dan memiliki
sistem vaskuler. Sporangium menghasilkan satu jenis bentuk dan ukuran yang
sama. Hidup di daerah tropis dan subtropis.
3. Tumbuhan ini (Lycopsida) hidup pada zaman purba. Paku kawat saat ini sudah
menjadi fosil atau endapan batubara. Saat zaman purba, paku kawat rata-rata
berukuran 3 m dan hidup di rawa-rawa. Paku kawat punah saat rawa-rawa
tersebut kering. Paku kawat yang berukuran kecil masih bisa bertahan hidup
sampai sekarang dan hidup di hutan-hutan tropis, di tanah atau epifit di kulit
pohon, tetapi tidak bersifat parasit. Sporofit tersusun dari sel-sel yang
mengandung klorofil dan memiliki daun seperti rambut atau sisik. Batang
berbentuk seperti kawat. Gametofit berukuran kecil dan tidak berklorofil.
Makanan diperoleh dari hasil bersimbiosis dengan jamur.
4. Jenis paku ekor kuda, secara umum memiliki percabangan batang yang khas
berbentuk ulir atau lingkaran sehingga menyerupai ekor kuda. Tumbuh di
tempat berpasir.   Sporofitnya berdaun kecil atau berbentuk sisik warnanya
transparan dan tersusun melingkar pada batang. Batang berongga dan beruas-

12
ruas. Menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran yangsama, tetapi jenisnya
berbeda. Gametofitnya berukuran kecil dan mengandung klorofil. Pada saat
zaman purba, tinggi sphenopsida tingginya mencapai 15 m. Gametofit paku
ekor kuda berukuran kecil (hanya beberapa milimeter) dan mengandung klorofil
sehingga dapat berfotosintesis. Gametofit ada yang menghasilkan alat kelamin
jantan (anteridium), ada pula yang menghasilkan alat kelamin betina
(arkegonium). Gametofit jantan tumbuh dan spora jantan sedangkan gametofit
betina tumbuh dari spora  betina
5. Daun Pteropsida berukuran lebih besar dibanding kelompok tumbuhan paku
lainnya. Pada umumnya daun berbentuk lembaran, berukuran besar (makrofil),
dan majemuk (terbagi menjadi  beberapa lembaran) dengan tulang daun
bercabang-cabang. Daun yang masih muda menggulung (circinate). Pteropsida
memiliki sporofil (daun yang menghasilkan spora) dan tropofil (daun untuk
fotosintesis dan tidak mengandung spora). Pada Pteropsida yang hidup di air,
sporangium terkumpul alam sporokarp. Gametofit Pteropsida memiliki klorofil,
dengan ukuran yang bervariasi (protalium). Gametofit bersifat bigeneratif atau
unigeneratif

3.2 Saran
Dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tidak menutup
kemungkinan bahwa .tumbuhan sangat dimanfaatkan dalam bidang pengobatan,
kosmetik, makanan dan lainnya termasuk tumbuhan Pteridophyta. Dengan
pengklasifikasian tumbuhan Pteridophyta diharapkan bisa mempermudah peneliti
dalam menemukan potensi yang ada di dalam tumbuhan Pteridophyta. Saran dari
penulis diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin menjaga keberagaman
Indonesia dengan mempelajari tumbuhan Pteridophyta dan memanfaatkannya pada
penelitian berikutnya.

13
DAFTAR RUJUKAN

Betty, J.,Linda, R.,Lovadi, I. 2015. Inventarisasi Jenis Paku-Pakuan (Pteridophyta)


Terestrial di hutan dusun Tauk Kecamaatan Air Besar Kabupaten
Landak.Protobiont, Vol.4 (2), 94 –102.
Ceri, B., Lovadi, I., & Riza, L. (2014). Keanekaragaman Jenis Paku-Pakuan
(Pteridophyta) Di Mangrove Muara Sungai Peniti Kecamatan Segodong
Kabupaten Pontianak.Protobiont, 3, Nomor 2, 240-246.
Efendi, W. W., Hapsari, F. N.P., Nuraini, Z.2013.Studi Inventarisasi
Keanekaragaman Tumbuhan Paku Di Kawasan Wisata Coban Rondo
Kabupaten Malang. Cogito Ergo SumVol.2 (3)Februari 2013.
Ewusie, J.Y.2010. Pengantar Ekologi Tropika. Penerjemah Usman Tanuwijaya.
Bandung : Penerbit ITB.
Loveless, A. 2009. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah
Tropik.Jakarta: PT. Gramedia.
Pooja. 2004. Pteridophyta.New Delhi: Discovery Publishing House.
Setyawan, A. D., & Sugiyarto.2015. Diversity of Selaginella in Bromo Tengger
Semeru National Park, East Java. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon. Vol.
1 (6), 1312 -1317.
Tjitrosoepomo,G.2009. Taksonomi Tumbuhan Schizophyta, Thallophyta,
Bryophyta, Pteridophyta.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Tjitrosomo, S. S.1983. Botani Umum.Bandung: Angkasa.
Vashishta, P., Sinha, A., & Kumar, A.2006. Botany For Degree Students
Pteridophyta (Vascular Cryptogamas).New Delhi: S. Chand &Compali LTD.

14